Anda di halaman 1dari 13

Hubungan Usia Ibu Melahirkan dengan Kejadian Postpartum Haemorrhage

di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2012


The Correlation of Maternal Age and Incidence of Postpartum Haemorrhage at
Dr. M. Yunus Hospital Bengkulu in 2012
Fatullah Distra Sudirman1, Dessy Noermadhanningsih2, Taufiq Ramadhan3,
1
Mahasiswi S1, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Bengkulu
2
Staff Pengajar, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Bengkulu
3
Departemen Obstetri dan Ginekologi, RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
ABSTRAK
Latar Belakang: Perdarahan pasca persalinan atau postpartum haemorrhage (PPH)
adalah penyebab utama kematian pada ibu melahirkan. Data World Health
Organization (WHO) pada tahun 2010 menyatakan bahwa kejadian PPH berdasarkan
angka kelahiran total sebanyak 18%. Data dari Depkes menunjukkan bahwa angka
kejadian PPH sebesar 20,3% di Indonesia dan 16,4% di Sumatera. Jumlah ibu
melahirkan dengan PPH tahun 2012 kejadian PPH sebesar 130 kasus. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis hubungan usia ibu melahirkan dengan kejadian PPH di
RSUD Dr. M. Yunus tahun 2012.
Metode: Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional (non eksperimental)
dengan pendekatan Cross Sectional dengan total sampling sebanyak 1972 kasus yang
terdiri dari 1835 kasus dengan kejadian persalinan tanpa penyakit penyerta dan 137
kejadian PPH. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat (uji chi square (x2)).
Hasil: Berdasarkan distribusi sampel didapatkan uji statistik dengan Pearson
Correlation Chi-Square test diperoleh nilai X2 = 0,463 dan nilai p = 0,537 (p > 0,05)
maka secara statistik dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak artinya
Tidak terdapat hubungan antara usia ibu melahirkan <20 tahun dan atau >35 tahun
dengan kejadian PPH
Simpulan: Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
hubungan antara usia ibu melahirkan <20 tahun dan atau >35 tahun dengan kejadian
PPH (H0 diterima) dengan nilai X2 = 0,463 dan nilai p = 0,537 (p > 0,05). Kejadian
PPH tertinggi terjadi pada interval usia 20-35 tahun.
Kata kunci: PPH, melahirkan, kandungan, WHO

Hubungan Usia Ibu Melahirkan dengan Kejadian Postpartum Haemorrhage di


RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2012
The Correlation of Maternal Age and Incidence of Postpartum Haemorrhage at
Dr. M. Yunus Hospital Bengkulu in 2012
Fatullah Distra Sudirman1, Dessy Noermadhanningsih2, Taufiq Ramadhan3,
1
Mahasiswi S1, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Bengkulu
2
Staff Pengajar, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Bengkulu
3
Departemen Obstetri dan Ginekologi, RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
ABSTRACT
Introduction : Postpartum haemorrhage (PPH) is a major cause of maternal death in
birth. Data from the World Health Organization (WHO) in 2010 stated the incidence
of PPH based on the total birth rate about 18%. Data from the Ministry of Health
showed that the incidence of PPH about 20.3% in Indonesia and 16.4% in Sumatra.
The number of maternal age with incidence of PPH in 2012 are 130 cases. The aimed
of this study was analyzed the correlation of maternal age and the incidence of PPH at
Dr. M. Yunus Hospital Bengkulu in 2012.
Method: This study used observational analytic studies (non-experimental) with a
cross-sectional approach. It is used total sampling about 1972 cases consisted of
1835 cases insidence of giving birth without comorbid disease and 137 cases
insidence of PPH. Data were analyzed by univariate and bivariate ( chi square test
(x2)).
Result: Based of the test statistic analyzed with Pearson Correlation Chi-Square test
value obtained X2= 0.463 and p = 0.537 (p> 0.05) statistically it can be concluded that
H0 is accepted and H1 is rejected it means is there is no correlation between maternal
age <and 20 years or> 35 years with the incidence of PPH.
Conclusion: This study concluded that there is no correlation between maternal age
<20 years and or> 35 years the incidence of PPH (H0) with a value of X2 = 0.463 and
p = 0.537 (p> 0.05). The higest number of PPH incidence is age interval 20-35 years
old.
Keyword: PPH, birth, fetus, WHO

PENDAHULUAN
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator tingkat kesehatan
perempuan khususnya untuk ibu melahirkan. AKI menggambarkan jumlah perempuan
yang meninggal dari suatu penyebab kematian selama kehamilan, melahirkan, dan
dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100.000 kelahiran hidup.1
Data Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu tahun 2011 menunjukkan AKI di
Provinsi Bengkulu sebesar 120 per 100.000 kelahiran hidup.2 Hasil Survey Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2012, menggambarkan bahwa AKI di
Indonesia mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup.3 Target Indonesia pada tahun
2015 akan melakukan berbagai upaya untuk menurunkan AKI guna memenuhi target
Millenium Development Goals (MDGs) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup.4
Banyak faktor yang menjadi penyebab langsung kematian ibu melahirkan,
diantaranya adalah perdarahan (28%), eklampsia (24%), infeksi (11%), gangguan
masa puerperium (8%), Abortus (5%), Partus lama/ macet (5%), emboli obstetri (3%)
dan faktor lainnya (11%).4 Berdasarkan data tersebut, perdarahan merupakan faktor
penyebab kematian terbesar pada ibu melahirkan.
Perdarahan pasca persalinan atau postpartum haemorrhage (PPH) adalah penyebab
utama kematian pada ibu melahirkan.5,6 Data World Health Organization (WHO) pada
tahun 2010 menyatakan bahwa kejadian PPH berdasarkan angka kelahiran total
sebanyak 18%.7 Data dari Depkes menunjukkan bahwa angka kejadian PPH sebesar
20,3% di Indonesia dan 16,4% di Sumatera.8
Kejadian PPH di Bengkulu pada tahun 2010 sebesar 130 kasus. 9 Sedangkan pada
tahun 2011 terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu 161 kasus. 10 Namun pada
tahun 2012 kejadian PPH mengalami penurunan kasus sebesar 130 kasus.11
Faktor risiko terjadinya perdarahan pasca melahirkan meliputi kondisi antepartum
dan postpartum.6,12 Beberapa faktor risiko pada keadaan antepartum adalah usia lebih
dari 30 tahun, grandemultipara, anemia pada ibu, riwayat PPH sebelumnya, dll. 6,12
Namun, sekitar dua per tiga dari ibu yang mengalami PPH, tidak memiliki faktor

risiko antepartum sehingga tenaga medis harus bersiap untuk melakukan penanganan
PPH pada setiap proses kelahiran.6,12,13
Hasil dari penelitian Darmin dkk pada tahun 2013 di RSUD Majene Kabupaten
Majene menyatakan bahwa umur ibu melahirkan dibawah 20 tahun atau umur ibu
melahirkan > 35 tahun memiliki risiko 3,1 kali lebih besar dari pada ibu melahirkan
yang berumur 20-35 tahun (95% CI: 1,3-7,5), sehingga dapat dikatakan bahwa umur
merupakan salah satu faktor risiko terjadinya PPH.14 Penelitian yang dilakukan di
RSUD Majene sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mastiur pada tahun
2012 di RSU Cianjur yang menyebutkan bahwa kejadian PPH tertinggi terjadi pada
umur >35 tahun mencapai 20,31% dan terdapat hubungan yang bermakna antara usia
ibu melahirkan dengan kejadian PPH.15 Sebaliknya, hasil penelitian yang berbeda
dilaporkan oleh Meidiana pada tahun 2013 yang telah melakukan penelitian PPH di
RSUD Dr. Saiful Anwar Malang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia ibu

melahirkan <16 tahun dan atau >35 tidak mempengaruhi kejadian PPH (p=0,775;
95% CI (0,383-3,630).16
Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian yang telah dilakukan di beberapa
wilayah di Indonesia menjadi dasar untuk peneliti melakukan penelitian hubungan
usia ibu melahirkan dengan kejadian PPH di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr.
M. Yunus tahun 2012.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan usia ibu melahirkan
dengan kejadian PPH di RSUD Dr. M. Yunus tahun 2012.

SUBJEK DAN METODE


Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional (non eksperimental)
dengan dengan rancangan studi potong lintang (cross sectional study).17 Populasi
dalam penelitian ini adalah semua ibu yang melahirkan pada tahun 2012 di RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu. Penentuan populasi dengan cara cleaning data dari rekam medis
yang awalnya 4.280 kasus menjadi 1.972 kasus yang terdiri dari ibu yang melahirkan
tanpa penyakit penyerta dan PPH.

Sampel penelitian yang digunakan adalah ibu yang melahirkan tanpa penyakit
penyerta dan PPH untuk semua umur yang terdapat di data rekam medis tahun 2012
setelah melalui proses pembersihan data. Sampel yang termasuk dalam kategori ibu
melahirkan tanpa penyakit penyerta meliputi Aterm, Aterm Ketuban Pecah Sebelum
Waktunya (KPSW), Aterm PPT, Aterm Presentasi Bokong (Presbo), Aterm Presbo
KPSW, Aterm Janin Tunggal Mati (JTM), Aterm JTM KPSW, Post Term, Post Term
Presbo, dan Post Term KPSW. Sampel yang termasuk dalam kategori PPH meliputi
PPH dan Retensio Plasenta.
Setelah dilakukan pembersihan data dilakukan penentuan sampling. Jumlah kasus
persalinan per bulan berkisar antara 126-216. Data persalinan tanpa penyakit penyerta
berkisar antara 119-197 kasus sementara untuk persalinan PPH berkisar antara 7-20
kasus. Mempertimbangkan jumlah populasi tidak terlalu besar dan untuk
meningkatkan validitas hasil penelitian maka digunakan total sampling. Alasan
penggunaan total sampling adalah semakin besar jumlah sampel (semakin mendekati
populasi) maka semakin kecil peluang kesalahan generalisasi dan sebaliknya semakin
kecil jumlah sampel (menjauhi jumlah populasi) semakin besar peluang kesalahan
generalisasi.18
Krtiteria inklusi pada penelitian ini adalah Ibu melahirkan per vaginum dan operasi
SC dan Memiliki data rekam medis yang lengkap. Kriteria ekslusi pada peneltian ini
adalah Ibu melahirkan dengan penyakit penyerta (Preeklamsia, infeksi, anemia).
Teknik analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan
antara variabel independen (usia) dengan variabel dependen (PPH) diuji dengan
chisqure test (X2) menggunakan program SPSS pada tingkat kepercayaan 95% atau
nilai p = 0,05.17
HASIL
Hasil yang didapatkan dari penelitian data sekunder bagian kebidanan RSUD Dr.
M. Yunus dari bulan Januari sampai Desember 2102 telah diolah dan didapatkan
sampel 1972 pasien. Hasil penelitian ditunjukkan pada Tabel berikut :

Tabel 1 Validasi data

usia ordinal *
Persalinan

Valid
N
Percent
1967
99.8%

N
5

Cases
Missing
Percent
0.2%

N
1972

Total
Presentase
100.0%

Berdasarkan tabel 1, data yang dianalisis sebanyak 1972 kasus dengan tingkat
validitas 99,8%. 5 data dilakukan missing data untuk menguji Chi Square (X2).

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Usia Ibu Melahirkan sebagai sampel penelitian


Usia
Jumlah
Presentse
<20 tahun
129
6.54
20-35 tahun
1604
81.34
>35 tahun
239
12.12
Total
1972
100.00
Berdasarkan distribusi frekuensi usia ibu melahirkan sebagai sampel penelitian
maka jumlah subyek yang diteliti sebanyak 1972 subyek, terdiri dari usia <20 tahun
sebanyak 129 pasien (6.54%), 20-35 tahun sebanyak 1604 pasien (8134%), dan >35
tahun
Jumlah ibu melahirkan berdasarkan rekam medis RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
tahun 2012 yang sudah melalui proses pembersihan sebanyak 1972 kasus.

Data

diagnosis PPH sebanyak 137 kasus persalinan dan diagnosis persalinan tanpa penyakit
penyerta sebanyak 1835 kasus. Berdasarkan distribusi usia melahirkan dibagi menjadi
tiga interval usia, untuk kasus PPH usia <20 tahun sebanyak 9 kasus (6,57%), 20-35
tahun sebanyak 108 kasus (78,83%), dan >35 tahun sebanyak 20 kasus (14,60%).

Kasus persalinan tanpa penyakit penyerta terdiri dari usia <20 tahun sebanyak 120
kasus (6,54%), 20-35 tahun sebanyak 1496 kasus (81,53%), dan >35 tahun sebanyak
219 kasus (11.93) (Tabel 3).

Gambar 1. Kurva Hubungan antara Bulan dengan kejadian PPH


Hasil analisis data menggunakan Best curve fit analysis terhadap kejadian PPH
selama 12 bulan pada tahun 2012, menghasilkan model kurva Gaussian Model
(y=1.54*exp((-(7.31-x)^2)/(2*4.23^2)), dengan standart error 4.10 dan nilai koefsien
korelasi model (r) sebesar 0.76 (Gambar 1).
Beradasarkan hubungan antara interval usia dan PPH menghasilkan model kurva
Rational Function: y=(9.59+2.34x)/(1-x+2.62x^2). dengan standart error nol (0) dan
nilai koefsien korelasi model (r) sebesar 1 (Gambar 2).

Gambar 2. Kurva Hubungan antara Interval Usia dengan Kejadian PPH


Analsis chi square (X2) digunakan untuk mengetahui hubungan antara usia ibu
melahirkan dengan kejadian PPH yang terjadi pada tahun 2012 di RSUD. Dr. M.
Yunus Bengkulu.
Tabel 4. Pearson Correlation Chi-Square Tests
Value
df
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
N of Valid Cases

1.244a
1.208
1967

Asymp. Sig. (2-sided)

2
2

.537
.547

Hasil uji statistik dengan Pearson Correlation Chi-Square test diperoleh nilai X2 =
0,463 dan nilai p = 0,537 (p > 0,05) maka secara statistik dapat disimpulkan bahwa H0
diterima dan H1 ditolak artinya tidak terdapat hubungan antara usia ibu melahirkan
dengan kejadian PPH (Tabel 4).

PEMBAHASAN
Gambaran umum hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2012 di RSUD Dr.
M. Yunus menunjukkan bahwa data penelitian yang diambil dari rekam medis setelah
dilakukan pembersihan hanya sebanyak 1972 kasus (46,07%) dari total data sebanyak
4280 kasus. Data 4280 kasus tersebut terdiri dari berbagai macam kasus yang terdiri
melahirkan, visum, kontrol, dan lainnya sehingga harus di lakukan pembersihan data
sehingga menjadi kasus PPH dan Persalinan Tanpa Penyakit Penyerta.
Kejadian PPH berdasarkan kasus yang terjadi pada RSUD Dr. M. Yunus tahun
2012 sebanyak 137 kasus (6,95%) dari total sampling 1972 kasus. Kejadian PPH pada
tahun 2012 mengikuti model kurva Gaussian Model (y=1.54*exp((-(7.31-

x)^2)/(2*4.23^2)), dengan standart error 4.10 dan nilai koefsien korelasi model (r)
sebesar 0.76. Kejadian PPH tertinggi pada bulan Agustus mencapai 20 kasus (14,6%)
(Gambar 1) .
Interval usia ibu melahirkan antara 20-35 tahun merupakan rentang kejadian PPH
tertinggi yaitu sebanyak 108 kasus (78,83%) dari 137 kasus PPH. Uji chi square (X2)
menunjukkan hasil nilai p >0,05 (0,537) maka secara statistik H 0 diterima berarti
tidak terdapat hubungan antara usia ibu melahirkan dengan kejadian PPH (Tabel 3).
Kurva hubungan interval usia dengan kejadian PPH mengikuti model Rational
Function: (y=(9.59+2.34x)/(1-x+2.62x^2)), dengan standart error 0 dan nilai koefsien
korelasi model (r) sebesar 1.00. (Gambar 2).
Kejadian PPH pada penelitian ini berbeda dari beberapa literatur yang menyatakan
bahwa umumnya rentang usia >35 tahun dan atau <20 tahun merupakan rentang
kejadian PPH tertinggi. Sementara hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian PPH
justru terjadi pada rentang usia ibu melahirkan 20-35 tahun yang merupakan usia
beresiko kecil untuk terjadinya PPH. Diduga kejadian PPH pada rentang usia ibu
melahirkan 20-35 tahun disebabkan oleh: (1) para ibu hamil tidak terlalu
memperhatikan kejadian PPH yang mungkin terjadi pada usia tersebut, (2) kurangnya
edukasi dari paramedis tentang resiko kejadian PPH pada usia 20-35 tahun, (3) tidak
teraturnya pemeriksaan berkala untuk ibu hamil sehingga paramedis kurang
mengantsipasi kejadian PPH pada usia 20-35 tahun, dan (4) interval usia 20-35
merupakan usia reproduktif yang dianggap aman sehingga sebagian ibu hamil kurang
memperhatikan status gizi dalam kehamilannya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Meidiana tahun 2013 di RSUD Dr.
Saiful Anwar Malang yang menunjukkan bahwa usia ibu melahirkan <16 tahun dan
atau >35 tahun tidak mempengaruhi kejadian PPH (p=0,775; 95% CI (0,383-3,630). 16
Namun hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Darmin dkk
pada tahun 2013 di RSUD Majene yang menyatakan usia ibu melahirkan <20 tahun
atau

>35 tahun memiliki risiko 3,1 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu

melahirkan pada usia 20-35 tahun (95% CI: 1,3-7,5), sehingga dapat disimpulkan usia

merupakan salah satu faktor risiko terjadinya PPH.14

Didukung pula oleh hasil

penelitian Mastiur pada tahun 2012 di RSU Cianjur yang melaporkan bahwa kejadian
PPH tertinggi terjadi pada usia >35 tahun mencapai 20,31% dan terdapat hubungan
yang bermakna antara usia ibu melahirkan dengan kejadian PPH.15
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUD. Dr. M.Yunus tahun
2012 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut ;
1.

Terdapat perbedaan yang signifikan antara interval umur dengan kejadian PPH.
Kejadian PPH tertinggi pada interval usia 20-35 tahun sebanyak 108 kasus
(78,83%) kasus, diikuti oleh interval usia >35 tahun sebanyak 20 kasus (14,60%),
dan terendah pada interval usia <20 tahun sebanyak 9 kasus (6,57%).

2.

Tidak terdapat hubungan antara usia ibu dengan kejadian PPH (H 0 diterima) dengan
nilai X2 = 0,463 dan nilai p = 0,537 (p > 0,05).

SARAN
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam mengenai status gizi dan
kejadian PPH.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara PPH dengan jumlah
paritas dan riwayat pph sebelumnya.
3. Perlu dilakukan penelitian PPH dengan time series tahunan.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2010.


Jakarta: Kemenkes RI; 2011. p. 35-8.

2.

Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI). [Internet]. 2009 [cited 2013 Juli 31].
Available
from: http://Menegpp.go.id/V2/index.php/
datadaninformasi/kesehatan?download=23%3Aangka-kematian-ibumelahirkanaki.

3.

Pendataan AKI Perlu Disempurnakan. [homepage on the internet]. Jakarta: Portal


Berita Info Publik; c2013 [updated 2013 September 26; cited 2013 Oktober 17].
Available from: http://infopublik.kominfo.go.id.

4.

Serius, Kematian Ibu dan Anak di Indonesia. [Internet]. 2012 [cited 2013
Oktober 17]. Available from: http://kliping.depkes.go.id/file/ 7841_12-112012%20Serius,%20Kematian%20Ibu%20dan%20 Anak%20di%20Indonesia,
%20kompas%20com.docx.

5.

World Health Organization. WHO recommendations for the prevention and treatment
of postpartum haemorrhage. Italy: WHO; 2012. p. 3-18.

6.

Ann E. Janice A. Postpartum Haemorrhage: Third Stage Pregnancy. ALSO. 2013: 120.
Dongol et al. Postpartum haemorrhage prevalence, morbidity, and management
pattern in Dhulikhel. Katmandu Unive Med J [serial on internet]. 2010 [cited 2014
May 25];8(30):[about
4
p].
Available
from:
http://www.ncbi.nih.gov/pubmed/21209538.

7.

8.

Upaya Percepatan Pencapaian MDGS. or [homepage on the internet]. Jakarta:


Departemen Kesehatan.; c2013 [updated 2013 Maret 18; cited 2014 May 25].
Available
from:
http://www.depkes.go.id/downloads/RAKERKESNAS/KOMISI%20A/PENGA
NTAR%20SIDANG%20KOMISI%20A.pdf .

9.

RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Rekam Medis RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu 2010.
Bengkulu: RSUD Dr. M. Yunus; 2010. p. 9.

10. RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Rekam Medis RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu 2011.
Bengkulu: RSUD Dr. M. Yunus; 2011. p. 9.
11. RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Rekam Medis RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu 2012.
Bengkulu: RSUD Dr. M. Yunus; 2012. p. 9
12. Nicole V. Liz D. Prevention and Management of Postpartum Haemorrhage. AOM.
2006;9:1-12.
13. Elizabeth B, Jennifer C, Erin B, Suellen M, Stacie G, Oladosu O, et al. Prevention,
Recognition, and Management of Postpartum
Haemorrhage.Watertown MA: Pathfinder International; 2010. p. 46.
14. Darmin D, Arifin S, Mappeaty N. Faktor determinan kejadian postpartum di RSUD
Majene Kabupaten Majene. 2013:1-12.
15. Mastiur J. Hubungan antara umur, paritas ibu, dan berat badan lahir dengan kejadian
perdarahan postpatum di RSU Cianjur periode 2004-2009 [skripsi]. Cianjur:
Universitas Galuh; 2012.

16. Meidiana P. Faktor risiko maternal Perdarahan Postpartum di RSUD Dr. Saiful Anwar
Malang [skripsi]. Malang: Universitas Brawijaya; 2013.
17. Sudigdo, S. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi Ketiga. Jakarta: Sagung
Seto; 2010. p. 92-7.
18. Uma S. Resarch Methods for Bussiness. 4th ed. USA: John Wiley and Sons; 2003. p.
467