Anda di halaman 1dari 11

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Tentang Cara Menggosok Gigi dengan

Kejadian Karies Gigi Anak Kelas V SDN 103 Kota Bengkulu


Inka Okta Elhusnah*), Wahyu Sudarsono*), Hamzah*),
*) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu
ABSTRAK
Latar Belakang: Gigi dan mulut merupakan aspek penting bagi manusia terutama
dalam peranannya sebagai organ untuk memakan. Masalah kesehatan gigi dan
mulut menjadi perhatian yang sangat penting dalam membangun kesehatan yang
salah satunya disebabkan oleh rentannya kelompok anak usia sekolah yang
mengalami gangguan kesehatan gigi. Prevalensi karies gigi yang tinggi pada
masyarakat di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
penting karena prevalensi karies mencapai 60-80% dari jumlah penduduk. Kasus
karies gigi yang terjadi pada masyarakat Popinsi Bengkulu sebagian besar dialami
pada anak usia Sekolah Dasar (SD) yaitu sekitar umur 612 dan siswa-siswi yang
mendapat perawatan sebanyak 71,7%. Berdasarkan data dari Dinas Kesahatan
Kota Bengkulu, jumlah siswa SDN di Kelurahan Muara Bangkahulu yang
mengalami kerusakan gigi adalah 501 orang dari 969 orang siswa. Hal ini
menunjukkan bahwa siswa SD yang berada di Kelurahan Muara Bengkahulu
termasuk SDN 103 mengalami kasus kerusakan gigi yang cukup tinggi. Melihat
tersebut, dilakukan penelitian untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang cara
menggosok gigi, sikap tentang cara menggosok gigi, kejadian karies gigi pada
siswa-siswi kelas V dan hubungan tingkat pengetahuan dan sikap tentang cara
menggok gigi dengan kejadian karies gigi pada siswa siswi kelas V SDN 103 Kota
Bengkulu.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan
menggunakan rancangan cross sectional. Subjek pada penelitian ini adalah siswa
kelas V SDN 103 Kota Bengkulu sebanyak 34 siswa. Teknik pengambilan sampel
dalam penelitian ini adalah dengan total sampling. Analisis data dilakukan dengan
analisis univariat dan bivariat, penggunaan statistik dengan menggunkan uji
ChiSquare. Dari semua data yang masuk, dilakukan pengolahan data dan disajikan
dalam bentuk tabel persentase.
Hasil: Sebanyak 84,4% responen memiliki tingkat pengetahuan tentang cara
menggosok gigi yang tinggi atau baik. Lebih dari setengah responden atau 56,3%
responden yang memiliki sikap tentang cara menggosok gigi yang mendukung
dikarenakan. Terdapat 81,3% responden mengalami karies gigi.
Simpulan: Pengetahuan tentang cara menggosok gigi pada siswa-siswi sudah
baik, sikap menganai cara menggosok gigi sudah mendukung sedangkan kejadian
karies gigi pada siswa-siswi masih tinggi disebabkan pengetahuan yang kurang
mengenai penyabab karies gigi, sarana yang kurang memadai serta perilaku dari
lingkungan.
Kata kunci: pengetahuan, sikap, karies gigi, menggosok gigi, siswa-siswi

The Relationship Between Knowledge and Attitudes About Teeth Brushing


Tecniques with Caries Incidence of 5th Grade Students of SDN 103
Bengkulu.
Inka Okta Elhusnah*), Wahyu Sudarsono*), Hamzah*),
*) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu

ABSTRACT
Background : Mouth and teeth play in important role in human digestive system.
Oral health is an important element in health development, and one of these are
caused by the susceptibility of school-age children to have dental health problem.
Most of the patients of dental caries in Bengkulu province are elementary school
students around 6-12 years of age 71,7% of it get treatment for dental caries.
Based on data from the health department of Bengkulu, students of elementary
school in Kelurahan Muara Bangkahulu who have dental caries are 501 students
from 969 students. It shows that elementary school students in Muara Bangkahulu
including SDN 103 have high incidence of dental caries. Therefore, the aim of this
research is to know about knowledge and attitudes of teeth brushing techniques,
incidence of dental caries in 5th grade students of SDN 103 Kota Bengkulu, and
the relationship between knowledge and attitudes about teethbrushing techniques
with caries incidence of 5th grade students of SDN 103 Bengkulu.
Metode : This research is analytical descriptive research with cross-sectional
study. Subject of this research is 34 5th grade student of SDN 103 Bengkulu.
Sampling techniques used in this research is total sampling. Data were analyzed
by univariate and bivariate analysis, with chi-square test. All of incoming data will
be processed and reported in percentage table.
Results : 84,4% students have good knowledge of teeth brushing tecniques. More
than half of the students, or about 56,3% students have positive attitudes towards
teeth brushing tecniques. Percent of respondents with dental careis is about 81,3%.
Conclusion : Knowledge and attitudes about teeth brushing techiques in 5th grade
students of SDN 103 Bengkulu is good. High incidence of dental caries in the
students due to lack of knowledge about the causes of dental caries, inadequate
facilities, and behavior of environment.
Keywords : knowlegde, attitude, dental caries, teeth brushing

PENDAHULUAN
Masalah kesehatan gigi dan mulut menjadi perhatian yang sangat penting
dalam pembangunan kesehatan yang salah satunya disebabkan oleh rentannya
kelompok anak usia sekolah dari gangguan kesehatan gigi. Usia sekolah
merupakan masa untuk meletakkan landasan kokoh bagi terwujudnya manusia
yang berkualitas dan kesehatan merupakan faktor penting yang menentukan
kualitas sumber daya manusia (Maramis et al, 2012).
Tingginya kasus karies gigi yang terjadi pada siswa SD di Kota Bengkulu
juga dialami SDN yang berada di Kelurahan Muara Bangkahulu yaitu SDN 71,
SDN 88 dan SDN 103. Berdasarkan data dari Dinas Kesahatan Kota Bengkulu,
jumlah siswa SDN di Kelurahan Muara Bangkahulu dari 3 SDN tersebut di atas
yang mengalami kerusakan gigi adalah 501 orang dari 969 orang siswa. Hal ini
menunjukkan bahwa siswa SD yang berada di Kelurahan Muara Bengkahulu
termasuk SDN 103 mengalami kasus kerusakan gigi yang cukup tinggi sedangkan
SDN 103 lokasinya berada paling dekat dengan Pusat Kesahatan Masyarakat
(Profil Kota Bengkulu, 2012).
Penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada siswa SD salah
satunya adalah faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulut.
Hal tersebut dilandasi oleh kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan
gigi dan mulut. Ketika seseorang berada pada tingkatan pengetahuan yang lebih
tinggi, maka perhatian akan kesehatan gigi semakin tinggi (Notoatmojo, 2007).
Belum adanya penelitian mengenai hubungan tingkat pengetahuan dan sikap
tentang cara menggosok gigi pada kejadian karies gigi, maka dilakukan penelitian
untuk mengetahui mengenai hubungan tingkat pengetahuan dan sikap tentang cara
menggosok gigi pada kejadian karies gigi anak kelas V SDN 103 Kota Bengkulu.
SUBJEK DAN METODE
Desain penelitian adalah deskriptif analitik dengan menggunakan
rancangan cross sectional. Variabel independent adalah pengetahuan dan sikap
sedangkan variebal dependen adalah karies gigi. Definisi operasional yaitu
pengetahuan dengan alat dan cara ukur berupa kuestioner serta skala ukur ordinal,
sikap dengan alat dan cara ukur berupa kuesioner serta skala ukur nominal dan
karies gigi alat dan cara ukur berupa rekam medis serta skala ukur nominal.
Populasi penelitian adalah semua siswa-siswi kelas V SDN 103 Kota Bengkulu.
Besar sampel adalah siswa-siswi kelas V SDN 103 Kota Bengkulu yang memenuhi
kerteria inklusi. Lokasi peneltian di SDN 103 Kota Bengkulu. Waktu peneltian

dilaksanakan bulan September Oktober 2013. Analisis data menggunakan


univariate dan bivariat.

HASIL
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Siswa-Siswi Kelas V SDN 103 Kota
Bengkulu Tentang Cara Menggosok Gigi
Pengetahuan tentang cara menggosok gigi itu sendiri dikategorikan menjadi
pengetahuan rendah, pengetahuan sedang dan pengetahuan tinggi terhadap
pengetahuan tentang cara menggosok gigi pada siswa-siswi kelas V SDN 103 Kota
Bengkulu. Dapat di lihat lebih jelas pada Tabel 1.
Tabel1. Distribusi Frekunsi Pengetahuan Siswa-Siswi Kelas V SDN 103 Kota
Bengkulu Tentang Cara Menggosok Gigi
Pengetahuan

Sedang

15,
6
84,
Tinggi
27
4
Total
32
100,
0
Keterangan : n = Jumlah sampel; % = Persentase
Dari tabel dapat dilihat terdapat 27 dari 32 responden atau 84,4% yang
memiliki pengetahuan yang tinggi, serta terdapat 5 dari 32 responden atau 15,6%
yang memiliki pengetahuan yang sedang.

Distribusi Frekuensi Sikap Siswa-Siswi kelas V SDN 103 Kota Bengkulu


Tentang Cara Menggosok Gigi
Sikap seseorang tentang cara menggosok gigi dalam penelitian ini
dikategorikan menjadi sikap mendukung (favorable) dan sikap tidak mendukung
(unfavorable) dapat di lihat lebih jelas pada Tabel 2.

Tabel2. Distribusi Frekuensi Sikap Siswa-Siswi Kelas V SDN 103 Kota


Bengkulu Tentang Cara Menggosok Gigi
Sikap

Tidak Mendukung

14

43,8

Mendukung

18

56,3

Total

32

100,0

Keterangan : n = Jumlah sampel; % = Persentase


Dari tabel dapat dilihat bahwa terdapat 18 dari 32 responden atau 56,3%
yang memiliki sikap yang mendukung, serta terdapat 14 dari 32 responden atau
43,8% yang memiliki sikap yang tidak mendukung.
Distribusi Frekuensi Karies Gigi Pada Siswa-Siswi Kelas V SDN 103 Kota
Bengkulu
Karies gigi adalah suatu penyakit jaringan keras gigi yang bersifat
kronik progresif dan disebabkan aktivitas jasad renik dalam karbohidrat yang
dapat diragikan, dapat dilihat lebih jelas di Tabel 3.

Tabel3. Frekunsi Karies Gigi Pada Siswa-Siswi Kelas V SDN 103 Kota Bengkulu
Karies/Non karies gigiN

Karies gigi

26

Non karies gigi

Total

32

81,
3
18,
8
100
,0

Keterangan : n = Jumlah sampel; % = Persentase

Dari tabel dapat dilihat bahwa terdapat 26 dari 32 responden atau 81,3%
memiliki karies gigi, serta terdapat 6 dari 32 responden atau 18,8% yang tidak
memiliki karies gigi.

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Tentang Cara Menggosok Gigi Dengan


Kejadian Keries Gigi Anak Kelas V SDN 103 Kota Bengkulu
Hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap karies gigi dianalisis
secara bivariat dengan uji statistik yang digunakan adalah analisis Chisquare,hasil
penelitian dapat di lihat jelas pada Tabel 4.
Tabel 4. Hubungan Pengetahuan Tentang Cara Menggosok Gigi Dengan Kejadian
Karies Gigi Anak Kelas V SDN 103 Kota Bengkulu
Karies gigi

Non Karies gigi

(n)

(n)

Sedang
(n)

Tinggi (n)

23

0,228
*

TingkatPengetahuan
4

Keterangan : n = Jumlah sampel; p = Nilai uji statistik; * = Uji Fisher

Dari tabel terlihat tabulasi silang antara pengetahuan dengan kejadian


karies gigi. Ternyata dari 5 orang yang berpengetahuan sedang terdapat 3 orang
yang mengalami karies gigi dan 2 orang yang non karies gigi, sedangkan dari 27
orang yang berpengetahuan tinggi terdapat 23 orang yang mengalami karies gigi
dan 4 orang yang non karies gigi.
Dikarenakan terdapat sel frekuensi ekspektasi nilainya < 5 maka digunakan
uji Fishers Exact Test. Berdasarkan hasil uji Fishers Exact Test diperoleh nilai p =
0,228 > = 0,05, jadi Ho diterima, artinya tidak ada hubungan yang bermakna
antara pengetahuan dengan kejadian karies gigi.
Hasil penelitian mengenai hubungan sikap tentang cara menggosok gigi
pada kejadian karies gigi dapat anak kelas V SDN 103 Kota Bengkulu dapat di
lihat jelas pada Tabel 5.

Tabel5. Tabulasi Silang Sikap Tentang Cara Menggosok Gigi Dengan Kejadian
Karies Gigi Anak Kelas V SDN 103 Kota Bengkulu
SIKAP

Tidak Mendukung (n)

Karies gigi (n)Non Karies gigi (n) P

12

2
0,672*

Mendukung (n)

14

Keterangan : n = Jumlah sampel; p = Nilai uji statistik; * = Uji Fisher


Dari tabel terlihat tabulasi silang antara sikap dengan kejadian karies gigi.
Ternyata dari 14 orang yang sikapnya unfavorable (tidak mendukung) terdapat 12
orang yang mengalami karies gigi dan 2 orang yang non karies gigi, sedangkan
dari 18 orang yang sikapnya favorable (mendukung) terdapat 14 orang yang
mengalami karies gigi dan 4 orang yang non karies gigi.
Berdasarkan hasil uji Fishers Exact Test diperoleh nilai p = 0,672 > =
0,05, jadi Ho diterima, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap
dengan kejadian karies gigi.

PEMBAHASAN
Pengetahuan yang tinggi disebabkan dari berbagai faktor yaitu penyuluhan
dari pihak sekolah maupun Puskesmas setempatseperti penyuluhan tentang cara
menggosok gigi yang benar, jenis-jenis makanan dan minuman yang dapat
menyebabkan karies gigi serta penyuluhan mengenai pencegahan karies gigi,
poster kesahatan di ruangan kelas atau ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah),
majalah kesehatan, makalah kesehatan maupun iklan yang ada di media cetak dan
elektronik. Penelitian pada sebuah Jurnal yang ditulis oleh Maramis JL dkk tahun
2012 dengan jenis penelitian analitik dan pendekan Cross Sectional Study bahwa
pengetahuan yang tinggi atau baik dilandasi oleh 6 tingkatan yaitu tahu, memahani,
aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.Sebuah penelitian pada Jurnal yang ditulis
oleh Kamsiah dkk tahun 2012 dengan desain penelitian menggunakan
observasionaldengan rancangan cross sectional menyatakan bahwa pengetahuan
mempunyai pengaruh yang langsung dan pengaruh yang tidak langsung.
Pengetahuan yang baik akan menyebabkan perilaku yang baik dan bertahan lama.

Sikap yang baik tentang cara menggosok gigi didukung oleh niat atau minat
dari diri sendiri, peran keluarga terutama orang tua serta sarana dan prasarana yang
mendukung. Penelitian pada sebuah Jurnal yang ditulis oleh Isrofah, Nonik EM
tahun 2007 dengan metode preekperimentalOne Group Pretest and Posttest
Design bahwa faktor yang mempengaruhi sikap adalah pengalaman pribadi,
pengaruh orang lain yang dapat dianggap penting, pengaruh kebuadayaan dan
faktor emosional. Sebuah penelitian pada Jurnal yang ditulis oleh Aji dkk tahun
2009 dengan desain penelitian menggunakan quasi experiment dengan rancangan
nonrandomized pretest-postest control group design menyatakan bahwa sikap tidak
berhubungan langsungan dengan tindakan atau perilaku.
Karies gigi dapat terjadi karena plak yang dapat terjadi dari berbagai faktor
penyebab yaitu, makanan,bakteri, morfologi gigi dan pengetahuan yang berakhir
pada sikap dan perilaku. Menurut jurnal tahun 2003 oleh Yuwanto yang membahas
tentang faktor penyebab terjadinya karies gigi adalah umur, kerentanan permukaan
gigi, air ludah, bakteri, plak sertta frekuensi makan makanan yang menyebabkan
karies gigi (makanan kariogenik). Penelitian yang dilakukan di oleh Worotitjan dkk
tahun 2013 dengan desain penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional
menyatakan bahwa karies gigi terjadi karena pengetahuan yang kurang,
pengawasan yang kurang dalam merawat gigi serta pola makanan kariogenik .
Tingginya angka kejadian karies gigi pada responden sedangkan
pengetahuannya sudah baik disebabkan oleh jenis makanan yang sering
dikonsumsi serta frekuensi mengkonsumsi makanan yang tinggi mengandung
sukrosa.Sedangkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara sikap dengan
kejadian karies gigi salah satunya disebabkan oleh faktor kebiasaan atau prilaku
dan sarana prasarana. Metode penelitian cross sectional juga mempengaruhi
terjadinya tidak adanya hubungan yang bermakna pada penelitian ini.
Penelitian yang dilakukan di kabupaten Sleman Yogyakarta oleh Rumini E
tahun 2006 dengan desain penelitian menggunakan observasionaldengan
rancangan cross sectional menyatakan bahwa ada hubungan yang antara tingkat
pengetahuan, sikap dan praktik responden dengan karies gigi pada siswa.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan peneliti, penelitian Jean H.
Raule tahun 2008 dalam Journal dengan judul Hubungan Perilaku Siswi Dengan
Karies gigi di Sekolah Dasar Negeri 21 Manado bahwa berdasarkan analisis
bivariat diperoleh pengetahuan, sikap dan tindakan tidak berhubungan secara
signifikan dengan karies gigi. Hal ini menunjukkan bahwa memang tidak ada
hubungan yang bermakna atau signifikan mengenai hubungan pengetahuan, sikap
dan tindakan atau perilaku dengan kejadian karies gigi.
KETERBATASAN PENELITIAN
Keterbatasan penelitian dalam hal keakuratan data kuesioner, sampel dan
metode penelitian. Sehingga dibutuhkan penelitian lanjutan dengan besar sampel
yang lebih banyak, kategori usia serta lokasi yang lebih dari 1 lokasi sehingga

dapat digeneralisasikan pada tempat lain. Sampel seharusnya diukur perilaku


dalam menggosok gigi serta jenis makanan yang dikonsumsi serta pada saat
pengisian kuesioner siswa-siswi tidak sepenuhnya menjawab dengan jujur
dikarenakan posisi tempat duduk antara satu siswa dengan siswa yang lain
berdekatan.

KESIMPULAN
Sebagian besar pengetahuan tentang cara menggosok gigi pada siswasiswi
kelas V SDN 103 kota Bengkulu dalam kategori baik atau 84.4% responden yang
memiliki pengetahuan yang baik. Sikap menggosok gigi pada siswa-siswi kelas V
SDN kota Bengkulu dalam kategori baik atau 56,3% responden yang mempunyai
sikap yang baik tentang cara menggosok gigi. Angka kejadian karies gigi pada
siswa-siswi kelas V SDN 103 kota Bengkulu masih tinggi, yaitu 81,3% responden
yang masih mengalami karies gigi. Tidak ada hubungan yang bermakna antara
pengetahuan dan sikap tentang cara menggosok gigi pada kejadian karies gigi
anak kelas V SDN 103 Kota Bengkulu.
Diharapkan kepada pihak sekolah dan Puskesmas mengadakan
penyuluhan mengenai faktor yang menyababkan terjadinya karies gigi dan cara
menggosok gigi yang baik dan benar kepada para siswa.Peran orang tua
diharapkan dapat memotivasi, membimbing dan mengawasi anak saat ia
menggosok gigi sehingga anak dapat menggosok gigi dengan benar.Para siswa
sebaiknya menerapkan cara menggosok gigi yang baik dan benar.Dikarenakan
adanya kelemahan pada peneltian ini, sehingga penelitian ini harus dilanjutkan.
DAFTAR PUSTAKA
Abubakar S (2012). Pengaruh penyuluhan terhadap kebiasaan menyikat gigi pada
anak kelas V dan VI SD inpres 26 bantimurung kabupaten maros tahun
2011. Jurnal Ilmiah Media Kesehatan Gigi Edisi 6. Makassar :
POLTEKKES Makassar.
Aji R, Simbolon D, Buana C (2009). Mekanisme perubahan perilaku higiene gigi
dan mulut perorangan akibat pemberian reinforcement pada siswa sekolah
dasar di kecamatan curup kabupaten rejang lebong. Jurnal Media
Kesehatan Volume 2 Nomor 4. Bengkulu : PPNI, IBI, PERSAGI, dan
Politeknik Kesehatan Bengkulu
Ariningrum R (2002). Beberapa cara menjaga kesehatan gigi dan mulut. Jakarta:
Hipocrates

Azwar S (2013). Sikap manusia teori dan pengukurannya. Edisi ke 2. Yogyakarta :


Pustaka Pelajar
Dinkes Kota Bengkulu (2012). Profil kesehatan Propinsi Bengkulu tahun 2012.
Bengkulu
Fitriyani (2008). Tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku mengenai menggosok
gigi pada siswa-siswi kelas IV SDN kelurahan cirendue. Jakarta : UIN
Syarif Hidayatullah
Guyton AC, Hall JE (2008). Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta :
EGC
Johnsen DC (2012). Rongga mulut. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Volume 2. Edisi
15. Jakarta : EGC
Kamsiah, Yuliantini E, Heryati K (2012). Hubungan frekuensi konsumsi makanan
kariogenik dan pengetahuan kesehatan gigi dengan karies gigi pada anak
sekolah dasar di kota bengkulu. Jurnal Media Kesehatan Volume 5 Nomor
1. Bengkulu : PPNI, IBI, PERSAGI, dan Politeknik Kesehatan Bengkulu
Kamus besar bahasa indonesia (2008). Jakarta : Balai Pustaka
Mansjoer A (2009). Kapita selekta kedokteran jilid 1. Edisi ketiga. Jakarta : Media
Aesculapius
Maramis JL, Ratuela JE, mangantibe S (2012). Hubungan perilaku memelihara
kesehatan gigi dan mulut dengan indeks DMF-T pada siswa SD inpres
lingkupang. Jurnal Ilmu Kesehatan Volume 6 Nomor 2. Manado :
POTITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO
Notoatmodjo S (2007). Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta : Rineka
Cipta
Notoatmodjo S (2012). Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Edisi Revisi
2012. Jakarta : Rineka Cipta
Papalia DE, Old SW, Feldman RD (2008). Human development (Psikologi
perkembangan). Edisi ke 9. Jakarta: Kencana
Raule, JH (2008). Hubungan perilaku siswa dengan karies gigi di sekolah dasar
negeri 21 manado. Jurnal Ilmu Kesehatan Volume 2 Nomor 2. Manado :
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES MANADO
Sastroasmoro S, Ismael S (2010). Dasar-dasar metodelogi penelitian klinis. Edisi
ke 3. Jakarta: Sagung Seto

Septa B (2012). Efek penyuluhan kesehatan gigi dan mulut terhadap penurunan
indeks plak pada murid-murid kelas IV dan V di SDN 2 maddukelleng
kabupaten wajo. Jurnal Ilmiah Media Kesehatan Gigi Edisi 5. Makassar :
POLTEKKES MAKASSAR
Sloane E (2004). Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta : EGC
Sugiyono (2007). Metode penelitian administrasi. Bandung : Alfabeta
Tanuwidjaya S (2002). Kebutuhan dasar tumbuh kembang. Buku Ajar I Tumbuh
Kembang Anak dan Remaja. Edisi Pertama Tahun 2002. Jakarta : Sagung
seto
Worotitjan I, Mintjelungan CN, Gunawan P (2013). Pengalaman kareis gigi serta
pola makan dan minum pada anak sekolah dasar desa kiawa kecamatan
kewangkoan utara. Manado : FKG Universitas Sam Ratulangi
Yuwanto (2003). Faktor penyebab tejadinya keries gigi.
http://www.ejurnal.com/2013/12/faktor-penyebab-terjadinya-kareisgigi.html
.
Diakses September 2013