Anda di halaman 1dari 18

Hubungan Antara Primigravida dengan Gejala Postpartum Blues di

Kota Bengkulu Tahun 2013


The Relationship of Primigravida and Postpartum Blues Symptom at
Bengkulu City in 2013.
Denny Christian Lukas*), Sylvia Rianissa Putri*), Helmiyetti**),
*) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu,
**) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Bengkulu,
ABSTRAK
Latar Belakang: Postpartum blues adalah komplikasi pasca melahirkan yang paling
sering dialami ibu, prevalensinya mencapai 80% pada semua ibu pasca melahirkan.
Salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap munculnya gejala postpartum
blues adalah paritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gejala
postpartum blues di Kota Bengkulu tahun 2013, dan mengetahui pengaruh
primigravida terhadap gejala postpartum blues.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross
sectional. Sampel adalah ibu-ibu yang melahirkan pada tahun 2013 di wilayah kerja
seluruh Puskesmas Kota Bengkulu, dan diambil dengan menggunakan teknik simple
random sampling, selanjutnya dipilih 4-5 responden dari setiap Puskesmas. Status
gravida responden diperoleh dari pengisian kuesioner, dan gejala postpartum blues
diperoleh dengan pengisian kuesioner Edinburgh postnatal depression scale (EPDS)
dengan nilai batas (cut off point) 10. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi
square (x2) (CI=95%, =0,05), selain itu akan dicari nilai rasio prevalensi (RP).
Hasil Penelitian : Dari 88 responden, ditemukan 49 responden (55,7%) yang
mengalami gejala postpartum blues, 35 responden (71,42%) adalah primigravida, dan
14 responden (28,57%) adalah multigravida. Hasil uji Chi square (x2) menunjukkan
hubungan yang signifikan antara primigravida dengan timbulnya gejala postpartum
blues (P value = 0,000, CI = 95%, = 0,05). Rasio prevalensi primigravida terhadap
gejala postpartum blues adalah 2,08.
Simpulan: Prevalensi gejala postpartum blues di Kota Bengkulu tahun 2013 adalah
sebesar 55,7%, dan primigravida adalah salah satu faktor risiko timbulnya gejala
postpartum blues.
Kata kunci: primigravida, gejala postpartum blues, EPDS (Edinburgh postnatal
depression scale

Hubungan Antara Primigravida dengan Gejala Postpartum Blues di


Kota Bengkulu Tahun 2013
The Relationship of Primigravida and Postpartum Blues Symptom at
Bengkulu City in 2013.
Denny Christian Lukas*), Sylvia Rianissa Putri*), Helmiyetti**),
*) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu,
**) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Bengkulu,
ABSTRACT
Background: Postpartum blues is the most common postpartum complication, which
prevalence is up to 80% among all postpartum mother. Parity is considered to be one
of factors affecting postpartum blues symptom. This research is conducted to find out
postpartum blues prevalence in Bengkulu City in 2013, and influence of primigravida
on postpartum blues symptom.
Methodology: Using analytic descriptive design with cross sectional approach.
Sample was the women who gave birth in 2013 in all over Puskesmas (Pusat
Kesehatan Masyarakat) in Bengkulu City, were randomized using simple random
sampling, and 4-5 respondents were chosen from each Puskesmas. Pregnancy status
was obtained from questionnaire and postpartum blues symptom were examined
using Edinburgh postnatal depression scale (EPDS) with cut off point
10. Data were analyzed with Chi square (x2) test (CI = 95%, = 0,05), and
prevalence ratio were calculated.
Result: Among 88 respondents, 49 respondents (55,7%) had the postpartum blues
symptom, and among them 35 respondents (71,42%) were primigravida, and 14
respondents (28,57%) were multigravida. Chi square (x2) test, showed significant
association between primigravida and occurrence postpartum blues symptom
(P value = 0,000, CI = 95%, = 0,05). Prevalence ratio of primigravida to
postpartum blues symptom was 2,08.
Conclusion: The prevalence of postpartum blues symptom at Bengkulu City in 2013
was 55.7%, and primigravida is one of the risk factors for the postpartum blues
symptom.

Keywords: primigravida, postpartum blues symptom, EPDS (Edinburgh


postnatal depression scale)

PENDAHULUAN
Proses kehamilan, melahirkan, dan menjadi seorang ibu, merupakan suatu
pengalaman penting bagi semua wanita di seluruh dunia.

Peristiwa ini dapat

memiliki makna yang berbeda-beda pada setiap ibu. Hal ini dapat diakibatkan oleh
masa transisi yang cepat dari seorang wanita menjadi seorang ibu yang memiliki
anak. Pada sebagian besar wanita, peristiwa ini dapat berarti hal yang menyenangkan
dan positif, namun pada sebagian kecil lainnya peristiwa ini justru dapat juga
berakibat negatif dan menimbulkan stres secara psikologis (Sari, 2009).
Selama periode pasca melahirkan, hampir 85% wanita akan mengalami
beberapa tipe gangguan mood, salah satunya adalah postpartum blues. Gejala ini
biasanya tergolong ringan dan self limiting disease. Lebih dari 20% ibu dengan
postpartum blues dapat persisten dan menetap, bahkan berkembang menjadi depresi
berat pada tahun pertama setelah melahirkan (Dona et al., 2003; Sari, 2009).
Postpartum blues atau baby blues adalah gangguan psikologis yang paling
sering menyertai suatu persalinan.
kesepuluh pasca melahirkan.

Biasanya terjadi pada hari ketiga sampai

Gejalanya ditandai dengan menangis, mudah

tersinggung, cemas, menjadi pelupa, sedih, mudah emosi, marah, gelisah, dan
perasaan bingung.

Gejala postpartum blues dapat menjadi hal yang serius dan

memberikan efek jangka panjang terutama untuk perkembangan dan pertumbuhan

anak. Gangguan yang dialami dapat menyebabkan hubungan yang buruk antara ibu
dan anak, gangguan perkembangan kognitif, gangguan emosional, serta gangguan
perilaku anak (OHara et al., 2000; Prawirohardjo, 2010).
Postpartum blues dapat terjadi pada semua kelompok ibu, ibu dengan riwayat
primigravida merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gejala postpartum
blues dibanding ibu multigravida. Sekitar 50-80% ibu primigravida akan mengalami
gejala postpartum blues dan 25% akan berkembang menjadi depresi pasca
melahirkan. Kemampuan ibu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan
psikologis pada kehamilan pertama, sangat penting dalam mekanisme penyesuaian
diri ibu, sehingga ibu dapat terhindar dari gejala postpartum blues (Henshaw et al.,
2004; Thurgood, 2009).
Di Indonesia prevalensi postpartum blues belum dilaporkan, namun prevalensi
depresi pasca melahirkan mencapai 440 ibu dari 18.937 ibu. Prevalensi depresi pasca
melahirkan meningkat secara signifikan pada ibu-ibu primigravida, ibu yang
melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, serta ibu yang mengalami
komplikasi pasca melahirkan.

Dari 440 ibu yang mengalami depresi pasca

melahirkan, 297 ibu atau sebesar 67,5% merupakan ibu primigravida. Penelitian ini
dilakukan terhadap wanita yang menikah atau pernah menikah, yang berusia 13-49
tahun, dan melahirkan antara 1 Januari 2005 sampai 31 Agustus 2010 di seluruh
Indonesia (Idaiani dan Basuki, 2012).

Prevalensi postpartum blues di Provinsi Bengkulu belum dilaporkan, namun


prevalensi di Kota Bengkulu tahun 2011 cukup tinggi yakni sebesar 29.90% (Dewi et
al., 2011). Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka perlu untuk
dilakukan penelitian untuk meneliti tentang hubungan antara primigravida dengan
gejala postpartum blues di Kota Bengkulu tahun 2013.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi gejala
postpartum blues di Kota Bengkulu tahun 2013 dan mengetahui hubungan antara
primigravida dengan gejala postpartum blues di Kota Bengkulu tahun 2013.
SUBJEK DAN METODE
Penelitian ini merupakan jenis penelitian analisis deskriptif dengan rancangan
studi potong lintang (cross sectional study). Populasi pada penelitian ini adalah
seluruh ibu yang melahirkan di Puskesmas, bidan praktek swasta, rumah bersalin, dan
dukun bersalin di wilayah kerja seluruh Puskesmas Kota Bengkulu tahun 2013.
Setelah dihitung menggunakan rumus estimasi besar sampel, maka diperoleh
= 88 orang, dan dengan penambahan sampel 10% sebagai kriteria drop out,
maka jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebesar 88 orang. Sampel diambil
dengan menggunakan teknik simple random sampling, dan diambil 4-5 responden
dari setiap Puskesmas di Kota Bengkulu. Krtiteria inklusi pada penelitian ini adalah
ibu pasca melahirkan maksimal satu tahun terakhir sebelum diadakan penelitian, dan
alamat ibu tertera lengkap di data Puskesmas. Sedangkan kriteria ekslusi meliputi, ibu

dengan komplikasi pasca melahirkan, ibu yang tidak memiliki pasangan, ibu yang
mengalami gangguan psikiatrik berat dan tidak kooperatif, serta ibu yang pindah
alamat (Dahlan, 2010)
Data primer diperoleh dari pengisian form identitas dan pengisian kuesioner
Edinburgh postnatal depression scale (EPDS). Form identitas berisi beberapa
pertanyaan tentang responden, meliputi: nama, tempat tanggal lahir, pekerjaan,
alamat, pendidikan, status perkawinan, paritas, tanggal persalinan terakhir, berat
badan bayi saat lahir, dan jenis persalinan. Data sekunder diperoleh dari seluruh
Puskesmas Kota Bengkulu, data yang diperlukan adalah alamat lengkap ibu yang
melahirkan di wilayah kerja seluruh Puskesmas Kota Bengkulu tahun 2013.
Edinburgh postnatal depression scale dipilih sebagai instrumen dalam
penelitian ini, karena EPDS merupakan kuesioner untuk mendeteksi gejala
postpartum blues dengan validitas yang telah teruji.

Penilaian EPDS bervariasi

tergantung dari jawaban ibu, nilai minimalnya 0 dan nilai maksimalnya 30. Nilai
batas (cut off point) untuk menentukan gejala postpartum blues bervariasi di setiap
negara, tapi nilai 10 merupakan nilai standar yang dipakai terutama untuk wanita
Indonesia. Nilai ini menunjukkan sensitivitas sebesar 95% dan spesifisitas sebesar
93% (Perfetti et al., 2004; Marshall, 2006; Sari, 2009).
Analisis bivariat pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui ada atau
tidaknya hubungan antara variabel bebas (primigravida) dengan variabel terikat

(gejala postpartum blues), mengunakan uji Chi-square (x2), dengan tingkat


kepercayaan signifikan (CI) = 95%, dan daya = 0,05. Selain itu, akan dinilai rasio
prevalensi (RP) dari primigravida dengan gejala postpartum blues (Sastroasmoro dan
Ismael, 2010).
HASIL HASIL
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik.
No Variabel Klasifikasi

Frekuensi

Presentase
(Orang)

1.
2.

3.
4.

5.

6.
7.

Umur

- <20 tahun
3
3,4
- 20-30 tahu
59
67,0
- > 30 tahun
26
29,6
Pekerjaan
- Ibu Rumah Tangga 61
69,3
- Wiraswasta
18
20,5
- Karyawan
7
8,0
- Mahasiswi
2
2,3
Status
- Memiliki Pasangan 88
100
Cerai Hidup
0
0
Cerai Mati
0
0
Pendidikan - SD
1
1,1
SMP
16
18,2
- SMA
55
62,5
- D3
5
5,7
- S1
11
12,5
Jenis - Persalinan Normal 66
75,0
Persalinan - Persalinan
3
3,4
pervaginam dengan
bantuan alat
- Persalinan sectio 19 21,6
Caesarea
Paritas
- Primigravida
48
54,5
- Multigravida
40
45,5
Gejala
- Gejala postpartum 49 55,7
Blues (+)

(%)

- Gejala postpartum 39
blues (-)

43,3

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden


penelitian berada pada kelompok umur 20-30 tahun (67%), bekerja sebagai ibu rumah
tangga (69,3%), memiliki pasangan (100%), riwayat pendidikan terakhir SMA
(62,5%), riwayat jenis persalinan normal (75%), status paritas primigravida (54,5%)
dan memiliki gejala postpartum blues (55,7%).

Tabel 2. Analisis Chi square: Hubungan Antara Primigravida dan Gejala Postpartum
Blues.
Gejala postpartum blues
Paritas Ibu Prevalensi
Ya

Tidak

Total

( %)

Primigravida

Multigravida
Total

35

P-value
(RP)

( %)

13

48

(72,91%)

(27,09%)

(100%)

14
(35%)
49
(55,68%)

26
(65%)
39
(44,31)

40
(100%)
88
(100%)

0,000

2,08

Tabel 2. menunjukkan bahwa ibu primigravida sebagian besar atau sebanyak 35


orang (72,91%) mengalami gejala postpartum blues, dan hanya sebagian kecil atau
sebanyak 13 orang

(27,09%) yang tidak mengalami gejala postpartum blues,

sedangkan ibu multigravida hanya sebagian kecil atau sebanyak 14 orang (35%)

yang mengalami gejala postpartum blues, dan justru sebaliknya sebagian besar atau
sebanyak 26 orang (65%) tidak mengalami gejala postpartum blues.
Hasil analisis dari Tabel 2. dengan uji Chi square diketahui bahwa primigravida
memiliki hubungan signifikan dan merupakan faktor risiko timbulnya gejala
postpartum blues. Hal ini dibuktikan dengan P value = 0,000 (CI=95%, =0,05), dan
nilai rasio prevalensi (RP) = 2,08.
PEMBAHASAN
A.

Karakteristik Responden
Berdasarkan Tabel 1 didapatkan bahwa distribusi karakteristik
responden berdasarkan usia yang terbanyak adalah 59 orang atau 67% berada
pada rentang usia 20-30 tahun. Menurut Narendra et al. (2008), dan Putri
(2013), usia ideal untuk menjadi seorang ibu adalah antara umur 20-30 tahun,
karena dalam periode ini risiko menghadapi komplikasi medis paling rendah,
hal ini dikaitkan dengan kesiapan fisik, mental, finansial dan sosial perempuan
untuk menjadi seorang ibu.
Menurut Bobak et al. (2008), usia ibu akan sangat mempengaruhi
keadaan psikologis ibu setelah melahirkan. Persalinan di usia remaja dan di
atas usia 35 tahun sangat berisiko menimbulkan gangguan secara psikologis
kepada ibu. Masalah dan kekhawatiran yang timbul terkait dengan keletihan
pasca persalinan dan kebutuhan ibu untuk beristirahat, untuk itu ibu yang
berusia di atas 35 tahun sangat dianjurkan untuk berlatih senam hamil dan pasca
melahirkan. Latihan ini terbukti membantu mengatasi tingkat kecemasan dan
keletihan ibu sebelum dan setelah melahirkan.
Berdasarkan Tabel 1 didapatkan bahwa distribusi karakteristik
responden berdasarkan pekerjaan yang terbanyak adalah 61 orang atau 69,3%
sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Selain itu dari Tabel 1 didapatkan juga bahwa

distribusi karakteristik responden berdasarkan status perkawinan adalah 100%


dalam status memiliki pasangan. Menurut Astuti et al. (2000) dan Eastwood et
al. (2012), ibu yang memiliki pasangan akan lebih mudah melakukan
penyesuaian diri terhadap kehamilan dan persalinannya, hal ini akan mendorong
adanya dukungan sosial dari pasangan dan pihak keluarga. Dukungan ini akan
berpengaruh baik terhadap penyesuaian diri ibu dan akan menimbulkan
pengaruh positif.
Berdasarkan Tabel 1 didapatkan bahwa distribusi karakteristik
responden berdasarkan pendidikan terakhir yang terbanyak adalah 55 orang atau
62,5% bependidikan SMA. Menurut Rusli et al. (2011), faktor pendidikan ibu
akan berpengaruh terhadap terjadinya gangguan psikologis ibu. Pendidikan
yang tinggi justru akan memberikan tekanan secara sosial dan konflik peran
antara tuntutan ibu untuk bekerja, dan menjadi seorang ibu di dalam keluarga.
Namun berbeda menurut Jannah (2012), tingkat pendidikan ibu sangat berperan
dalam kualitas perawatan bayinya. Ibu dengan tingkat pendidikan tinggi, akan
memiliki pengetahuan yang lebih baik dalam pola asuh dan perawatan bayinya.
Berdasarkan Tabel 1 didapatkan bahwa distribusi karakteristik
responden berdasarkan jenis persalinan yang terbanyak adalah 66 orang atau
75% responden dengan persalinan normal.

Menurut

Machmudah (2010),

dibandingkan persalinan dengan bantuan alat dan persalinan dengan sectio


caesarea, jenis persalinan normal tidak akan membuat kecemasan yang
berlebihan pada ibu.

B.

Status Paritas Responden


Berdasarkan Tabel 1 didapatkan bahwa distribusi karakteristik
responden berdasarkan status paritas yang terbanyak adalah 48 orang atau
54,5% adalah ibu dengan riwayat primigravida dan sisanya sebanyak 40 orang
atau 45,5 adalah ibu dengan riwayat multigravida. Menurut Astuti et al.

10

(2000), Manuaba et al. (2007), dan Rusli et al. (2011), dibandingkan ibu-ibu
multigravida, ibu-ibu

primigravida jauh lebih rentan mengalami gangguan

psikologis. Untuk itu dibutuhkan penyesuaian diri yang lebih besar agar ibu-ibu
tidak mengalami gejala postpartum blues.

C.

Gejala Postpartum Blues


Pada penelitian ini juga menemukan bahwa dari total sampel sebanyak
88 orang, ada 49 orang atau 55,7% responden yang mengalami gejala
postpartum blues (Tabel 1). Hasil ini hampir sama dengan yang ditemukan
Sinabang (2012), di Puskesmas Anggut Atas Kota Bengkulu, dari total sampel
sebanyak 74 orang, ditemukan bahwa 38 orang atau 51,35% responden
mengalami gejala postpartum blues. Hasil ini sedikit berbeda dengan penelitian
yang dilakukan Machmudah (2010), di Kota Semarang, dari total sampel
sebanyak 80 orang, ditemukan bahwa 54 orang atau 67,5% responden
mengalami gejala postpartum blues.
Hasil penelitian ini berbeda jauh dengan penelitian yang dilakukan
Dewi et al. (2011), di Kota Bengkulu, dari total sampel sebanyak 97 orang,
ditemukan bahwa 29 orang atau 29,8% responden mengalami gejala postpartum
blues. Perbedaan nilai ini dapat disebabkan karena Dewi et al. (2011), pada
metodologi penelitiannya menggunakan kuesioner Edinburgh postnatal
depression scale (EPDS) dengan nilai batas (cut off point) gejala postpartum
blues sebesar 12. Berbeda dengan nilai batas (cut off point) gejala postpartum
blues yang digunakan di penelitian ini sebesar 10.

11

D.

Hubungan Antara Primigravida dengan Gejala Postpartum Blues


Pada penelitian ini ibu primigravida sebagian besar atau sebanyak 35
orang atau 72,91% responden mengalami gejala postpartum blues, sedangkan
pada ibu multigravida, yang mengalami gejala postpartum blues hanya
sebanyak 14 orang atau 35% responden (Tabel 2). Hasil penelitian ini sesuai
dengan Ling dan Duff (2000), dan Thurgood et al. (2009), yang mengatakan
bahwa gejala postpartum blues akan meningkat pada ibu primigravida,
prevalensinya mencapai 50-80%.

Prevalensi gejala postpartum blues akan

berkurang pada ibu multigravida.


Hasil penelitian ini menunjukkan pola yang hampir sama dengan
penelitian yang dilakukan Machmudah pada tahun 2010 di Kota Semarang.
Penelitian ini dilakukan pada ibu primigravida dengan sampel sebanyak 65
orang, dan hasilnya sebanyak 48 orang atau 88,9% responden mengalami gejala
postpartum blues.

Selain itu penelitian ini juga dilakukan

pada ibu-ibu

multigravida dengan sampel sebanyak 28 orang, dan hasilnya sebanyak 6 orang


atau 11,1% responden yang mengalami gejala postpartum blues.
Hasil penelitian ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan
Rosdiana pada tahun 2012 di RS Panti Waluya Kota Malang. Penelitian ini
dilakukan pada ibu-ibu primigravida dengan sampel sebanyak 24 orang,
hasilnya ditemukan terdapat 14 orang atau 60% responden yang mengalami
gejala postpartum blues. Menurut Sulistyawati (2009) gejala postpartum blues
dapat memiliki presentase yang berbeda-beda pada masing-masing daerah, hal
ini dapat disebabkan karena perbedaan sosial budaya dan adat istiadat yang
berbeda pada masing-masing daerah, sehingga dapat berpengaruh secara
langsung kepada keadaan psikologis ibu. Adanya pengaruh budaya dan adat
istiadat di lingkungan keluarga yang tertutup akan mempengaruhi terjadinya
gejala postpartum blues.

12

Ibu primigravida lebih rentan mengalami gejala postpartum blues.


Banyak fase kehidupan yang baru dialami oleh ibu, salah satunya adalah
kehamilan dan persalinan. Proses kehamilan di satu sisi dapat merupakan hal
yang menyenangkan dan menggembirakan, dan di satu sisi lagi dapat
merupakan peristiwa yang penuh dengan tantangan khususnya pada kehamilan
pertama.

Banyak hal yang akan menjadi masalah di antaranya perubahan

tanggung jawab barunya sebagai seorang ibu, kebutuhan akan pekerjaan/karier


dan tugas pokok sebagai seorang istri (Prawirohardjo, 2010).
Hasil analisis dari Tabel 2 dengan uji Chi square (x2) diketahui bahwa
primigravida memiliki hubungan signifikan dengan gejala postpartum blues.
Hal ini dibuktikan dengan p value = 0,000 (CI=95%, =0,05). Selain itu
ditemukan nilai rasio prevalensi (RP) = 2,08, nilai ini membuktikan bahwa
primigravida adalah salah satu faktor risiko timbulnya gejala postpartum blues.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Dewi et al. (2011)
dan Machmudah (2010), yang mengatakan bahwa paritas terutama primigravida
memiliki hubungan secara signifikan dengan gejala postpartum blues. Hal ini
dibuktikan dengan nilai p value = 0,000 (CI=95%, =0,05).
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Nazara (2009), yang menyatakan bahwa paritas tidak berhubungan dengan
timbulnya gejala postpartum blues, dengan uji Chi square (x2) didapatkan
bahwa nilai P value = 1,000, (CI=95%, =0,05). Hal ini dapat disebabkan
karena Nazara (2009), menggunakan desain penelitian yang berbeda, yakni
desain penelitian post test only design. Nazara (2009), melakukan pengambilan
data berupa pengisian kuesioner EPDS setelah kelompok ibu-ibu pasca
melahirkan di intervensi dengan psikoedukasi pada hari pertama atau kedua
pasca melahirkan, sehingga hasil yang didapatkan pun berbeda.

13

Kehamilan dan masa nifas adalah suatu periode yang penuh dengan
tekanan secara emosional. Hal ini merupakan dasar terjadinya kelainan
psikologis pada saat kehamilan, dan masa nifas (Prawirohardjo, 2010). Menurut
Nazara (2009), periode pasca melahirkan pada ibu-ibu primigravida, merupakan
masa transisi di mana terjadi perubahan yang sangat besar secara fisik dan
psikologis. Perubahan tersebut memerlukan proses penyesuaian diri sehingga
ibu tidak terganggu secara emosional dan psikologis. Penyesuaian ini bisa
berlangsung beberapa hari, minggu, atau bahkan beberapa bulan pasca
melahirkan. Biasanya akan terjadi perubahan peran, pola hidup, dan interaksi
sosial di dalam keluarga sebagai orang tua, bahkan pada sebagian besar orang
tua hal ini akan menjadi krisis dan masalah baru di dalam keluarga.
Ibu-ibu primigravida akan lebih rentan mengalami gejala postpartum
blues, selain dapat disebabkan perubahan perannya sebagai orang tua baru,
dapat juga disebabkan keadaan sosial ekonomi yang akan dihadapinya. Hal ini
akan terjadi pada masyarakat dengan keadaan sosial ekonomi menengah ke
bawah. Keadaan ini bukan hanya menganggu keadaan psikologis ibu melainkan
juga keadaan psikologis pasangannya. Selain itu, kekhawatiran akan perubahan
fisik atau berat badan yang dialami ibu primigravida, juga menjadi faktor
pemberat munculnya gejala ini

(Astuti et al., 2000, Bobak et al., 2004;

Manuaba et al., 2007; Eastwood et al., 2012).


Berdasarkan uraian di atas, masa kehamilan dan persalinan merupakan
terutama bagi ibu primigravida merupakan masa yang penuh dengan gejolak
secara psikologis dan emosional. Periode ini membutuhkan proses adaptasi dan
penyesuaian diri yang besar. Apabila seorang ibu tidak berhasil menyesuaikan
diri dengan keadaan tersebut, maka akan memicu terjadinya gangguan
psikologis, seperti gejala postpartum blues.

14

E.

Kelemahan Penelitian
Pada penelitian ini masih terdapat kelemahan pada pemilihan sampel.
Sampel yang dipakai adalah ibu-ibu yang pernah melahirkan di tahun 2013,
jarak antara ibu bersalin dengan diadakanya penelitian cukup jauh.
Dikhawatirkan gejala yang dialami ibu saat melahirkan berkurang atau hilang.
Upaya yang dilakukan peneliti adalah dengan memberikan inform consent
dengan jelas dan tepat. Diharapkan gejala postpartum blues yang dialami ibu
dapat terdeteksi dan kelemahan ini dapat dikoreksi.

F.

Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, serta sesuai dengan
tujuan penelitian ini, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Prevalensi gejala postpartum blues di Kota Bengkulu tahun 2013 adalah
55,7%.
2. Primigravida memiliki hubungan signifikan dan merupakan faktor risiko
timbulnya gejala postpartum blues (p value = 0,000, Rasio Prevalensi/ RP=
2,08).

G.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka beberapa hal yang
disarankan adalah sebagai berikut:
1. Diharapkan bagi pemberi layanan kesehatan, untuk dapat meningkatkan
pemberian informasi dan pengetahuan tentang gejala postpartum blues,
mengenai bagaimana cara mencegah, dan mengatasinya terutama kepada
ibu primigravida pada saat kunjungan antenatal care. Hal ini diharapkan
dapat menjadi upaya preventif, dan meminimalkan timbulnya gejala
postpartum blues.

15

2. Diharapkan bagi pemberi layanan kesehatan, untuk dapat mendeteksi dini


(screening) gejala postpartum blues bagi ibu postpartum yang berisiko,
sehingga gejala ini dapat ditemukan, dan ditangani dengan segera sehingga
dapat mengurangi dampak negatif yang dapat ditimbulkannya.
3. Diharapkan bagi masyarakat terutama ibu primigravida, untuk senantiasa
mempersiapkan diri secara fisik dan psikologis selama masa kehamilan,
persalinan, dan pasca melahirkan. Melakukan perencanaan program
kehamilan terlebih dahulu akan sangat membantu.
4. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat menjadi bahan
masukan dan perbandingan mengenai hubungan primigravida dengan gejala
postpartum blues, serta mengembangkan hasil penelitian ini, dengan
variabel, desain penelitian, dan cara pengambilan sampel yang berbeda.
Pengambilan sampel akan lebih baik jika dilakukan pada ibu pasca
melahirkan di rumah sakit, sehingga gejala yang dialami ibu akan lebih
muda terdeteksi.

DAFTAR PUSTAKA
Astuti AB, Santoso SW, Utami MS (2000). Hubungan antara dukungan keluarga
dengan penyesuaian diri perempuan pada kehamilan pertama. Jurnal
Psikologi Universitas Gajah Mada, 2: 84-95.
Bobak IM, Lowdermilk DL, Jensen MD, Perry SE (2004). Buku ajar keperawatan
maternitas (Maternity nursing). Jakarta: EGC, pp. 516-517.
Dahlan MS (2010). Besar sampel dan cara pegambilan sampel dalam penelitiaan
kedokteran dan kesehatan. Jakarta: Salemba Medika, pp: 36-38, 135-138.
Dewi R, Mariati, Wahyuni E (2011). Hubungan pemberian ASI pada bayi <10
hari dengan gejala postpartum blues di Kota Bengkulu tahun 2011. Laporan
hasil penelitian. Riset pembinaan tenaga kesehatan (Risbinakes). Politeknik
kesehatan Bengkulu. Kementerian kesehatan Republik Indonesia, pp. 43, 47.
Dona ES, Robertson, Cindy LG, Sherry LG, Tamara W (2003). Postpartum
depression literature review of risk factor and interventions. University
Health Network Womens Health Program. Toronto Public Health, p. 18-20.

16

Eastwood JG, Jalaludin BB, Kemp LA, Phung HN, Barnett EW (2012).
Relationship of postnatal depressive symptoms to infant temperament,
maternal expectations, social support and other potential risk factors;
findings from a large Australian cross sectional study. British Medical
Journals, 12 (1488): 1-11.
Henshaw C, Foreman D, Cox J (2004). Postnatal blues : A risk factor for postnatal
depression. Journal of Psychosomatic Obstetrics and Gynecology, 25 (3-4):
267-272.
Idaiani S, Basuki B (2012). Postpartum depression in Indonesian women : A
national study. Journal Badan Penelitiaan dan Pengembangan Kesehatan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 3 (1): 3-8.
Jannah N (2012). Buku ajar asuhan kebidanan. Edisi ke 1. Yogyakarta: Andi, p:
143.
Ling FW, Duff P (2000). Obstetrics & gynecology. Principles for practice. Edisi
ke 1. New York: McGraw Hill, pp. 565-567.
Machmudah (2010). Pengaruh persalinan dengan komplikasi terhadap
kemungkinan terjadinya postpartum blues di Kota Semarang. Universitas
Indonesia. Thesis. pp. 69-70, 74-75.
Manuaba IBG, Manuaba IAC, Manuaba IBGF (2007). Pengantar kuliah obstetri.
Jakarta: EGC, pp: 43, 401-420.
Marshall J (2006). Using the edinburgh postnatal depression scale (epds)
translated into languages other than English. Department of health.
Government of Western Australia, pp. 1-6, 14, 230-233.
Narendra MB, Sularyo TS, Soetjiningsih, Suyitno H, Ranuh IGN, Wiradisuria S
(2008). Ilmu tumbuh kembang anak. Jakarta: Sagung Seto, pp: 48-50.
Nazara Y (2009). Efektivitas psikoedukasi terhadap pencegahan depresi
pascasalin (Penelitian di pelayanan kesehatan Kabupaten Nias, Sumatera
Utara). Majalah Obtetri dan Gynecology Indonesia, 33 (4): 216-223.
OHara MW, Stuart S, Gorman LL, Wenzel A (2000). Efficasy of interpersonal
psychotherapy for postpartum depression. Archives of General Psychiatry,
57. 1039-1045.
Perfetti J, Clark L, Fillmore CM (2004). Postpartum depression: identification,
screening, and treatment. Wilconsin Medical Journal, 103 (6): 56-63.
Prawirohardjo S (2010). Ilmu kebidanan. Edisi ke 4. Cetakan ke 3. Jakarta: PT.
Bina Pustaka, pp: 861-862.
Putri N (2013). Panduan klinis kehamilan dan persalinan. Yogyakarta:
DMedika. pp: 65-68.
Rosdiana Y, (2012). Hubungan antara dukungan keluarga dengan kejadian depresi
(postpartum blues) pada ibu postpartum primipara yang telah melahirkan di
ruang Agnes Paviliun RS Panti Waluya Malang. Universitas Brawijaya.
Skripsi, p.61-62.

17

Rusli RA, Meiyuntariningsih T, Warni WE (2011). Perbedaan depresi pasca


melahirkan pada ibu primipara ditinjau dari usia ibu hamil. Insan, 13 (1):
2131.
Sari LS (2009). Sindroma depresi pasca persalinan di Rumah Sakit Umum Pusat
Haji Adam Malik Medan. Universitas Sumatera Utara. Thesis, p.11.
Sastroasmoro S. Ismael S (2010). Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Edisi
ke 3. Cetakan ke 2. Jakarta: Sagung Seto, pp: 79-80, 113, 188-189.
Semiun Y (2006). Kesehatan mental. Edisi ke 2. Yogyakarta: Penerbit Kanisius,
pp: 408-411.
Sinabang ED (2012). Hubungan pendidikan tentang persiapan persalinan pada ibu
hamil trimester III dengan gejala postpartum blues di BPS wilayah kerja
Puskesmas Anggut Atas, Kota Bengkulu tahun 2012. Politeknik Kesehatan
Bengkulu. Skripsi, p. 46-48.
Sulistyawati A (2009). Buku ajar asuhan kebidanan pada ibu nifas. Yogyakarta:
Andi, p:87-91.
Thurgood S, Avery DM, Williamson L (2009). Postpartum depression (PPD).
American Journal of Clinical Medicine, 6 (2): 17-22.

18