Anda di halaman 1dari 20

USULAN PERBAIKAN RANTAI PASOK KOMODITAS

DAGING AYAM DI KECAMATAN CIKAMPEK

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan


Mata Kuliah Supply Chain Management

Disusun Oleh :
Moh Rizki Munggaran
10070211019

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2015 M/1437 H

A. Pendahuluan
Meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk dari tahun ke tahun
menjadikan kebutuhan pangan juga semakin meningkat. Pemenuhan kebutuhan
pangan tersebut tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan pangan pokok
seperti karbohidrat, akan tetapi juga pemenuhan komponen pangan lain seperti
protein. Pemenuhan kebutuhan protein masyarakat dapat dipenuhi dengan
meningkatkan konsumsi protein nabati maupun protein hewani. Protein hewani
tersebut dapat dipenuhi salah satunya dari konsumsi unggas yang termasuk dalam
sub sektor peternakan. Perunggasan merupakan komoditas yang secara riil dapat
berkontribusi dalam pembangunan nasional dan sebagai penyedia protein hewani
untuk menunjang kecerdasan bangsa. Salah satu produk perunggasan yang
dihasilkan adalah ayam broiler/ras pedaging. Ayam broiler merupakan produk
perunggasan yang dominan dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan protein hewani. Daging ayam broiler banyak dipilih karena
harganya yang lebih rendah dibanding sumber protein hewani lainnya seperti
daging sapi. Oleh karena itu kebutuhan daging ayam broiler cenderung meningkat
setiap tahunnya.
Ayam broiler atau yang disebut juga ayam ras pedaging (broiler) adalah
jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya
produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Ayam broiler
yang merupakan hasil perkawinan silang dan sistem berkelanjutan sehingga mutu
genetiknya bisa dikatakan baik. Mutu genetik yang baik akan muncul secara
maksimal apabila ayam tersebut diberi faktor lingkungan yang mendukung,
misalnya pakan yang berkualitas tinggi, sistem perkandangan yang baik, serta
perawatan

kesehatan

dan

pencegahan

penyakit.

Ayam

broiler

merupakan ternak yang paling ekonomis bila dibandingkan dengan ternak lain,
kelebihan yang dimiliki adalah kecepatan pertambahan/produksi daging dalam
waktu yang relatif cepat dan singkat atau sekitar 4 - 5 minggu produksi daging
sudah dapat dipasarkan atau dikonsumsi. Keunggulan ayam broiler antara lain
pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi dalam waktu
yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia muda serta
menghasilkan kualitas daging berserat lunak. Perkembangan yang pesat dari ayam

ras pedaging ini juga merupakan upaya penanganan untuk mengimbangi


kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam.
Supply Chain Management (SCM) merupakan pendekatan yang dilakukan
untuk mengintegrasikan komponen rantai pasok yang terdiri dari pemasok,
industri, dan konsumen secara efisien. Dengan SCM diharapkan produk dapat
didistribusikan dengan kuantitas, waktu, serta lokasi yang tepat sehingga tercapai
biaya distribusi yang optimal dan mampu memenuhi kepuasan konsumen.
Rantai pasok ayam broiler di Cikampek melibatkan banyak pihak
mengingat banyaknya produsen, konsumen, dan distributor di wilayah tersebut.
Integrasi yang baik antara setiap tier akan mampu menjamin ketersediaan daging
ayam broiler. Fenomena dinamika ketersediaan daging ayam yang kerap terjadi
diharapkan dapat diminimalisasi dengan mengggunakan pendekatan Supply Chain
Management (SCM). Sistem rantai pasok yang baik mampu menjamin kepuasan
setiap komponen rantai pasok dari hulu hingga ke hilir. Tujuan dari pendekatan
SCM adalah untuk melakukan pengelolaan serta pengawasan saluran distribusi
secara kooperatif demi menciptakan efisiensi penggunaan sumber daya dalam
kegiatan rantai pasok daging ayam. Salah satu aspek penting dalam SCM adalah
persediaan. Diharapkan dengan adanya pengendalian persediaan dalam rantai
pasok mampu menjamin ketersediaan ayam broiler untuk masyarakat.
B. Studi Literatur
Rantai Pasok
Rantai pasok merupakan suatu proses proses yang dimulai dari
pengumpulan sumber daya yang ada dilanjutkan dengan pengelolaan menjadi
produk jadi untuk selanjutnya didistribusikan dan dipasarkan sampai pelanggan
akhir dengan memperhatikan biaya, kualitas, ketersediaan, pelayanan purna jual,
dan factor reputasi. Rantai pasok melibatkan supplier, manufacturer, dan retailer
yang saling bersinergis dan bekerja sama satu sama lain secara langsung maupun
tidak langsung. (Wisner, Tan, dan Leong, 2012, p. 6)
Sebuah rantai pasok terdiri dari semua pihak yang terlibat, baik langsung
maupun tidak langsung, dalam memenuhi permintaan pelanggan. Rantai pasok
meliputi tidak hanya produsen dan pemasok, tetapi juga pengangkut, gudang,

pengecer, dan bahkan pelanggan sendiri. Dari masing-masing organisasi, seperti


produsen, rantai pasok mencakup semua fungsi yang terlibat dalam menerima dan
memenuhi permintaan pelanggan. Fungsi ini menyeluruh namun tidak terbatas
pada pengembangan produk baru, pemasaran, operasi, distribusi, keuangan, dan
layanan pelanggan (Chopra, Meindl, 2010, p.20). Terdapat hubungan erat antara
desain dan manajemen aliran rantai pasokan (produk, informasi, dan dana)
(Chopra, Meindl, 2010, p.23).

Manajemen Rantai Pasok


Istilah manajemen rantai pasokan pertama kali dikemukakan oleh Oliver

dan Weber pada tahun 1982. jika rantai pasokan (supply chain) adalah jaringan
fisiknya, yakni perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku,
memproduksi barang, maupun mengirimkannya ke pemakai akhir.

Terdapat

beberapa pengertian mengenai rantai pasok yang terdapat pada literatur dan
menurut berbagai asosiasi profesional. Beberapa definisi yang dikemukakan dari
tiga organisasi praktisi dari manajemen rantai pasok yang dikutip pada buku
Principles of Supply Chain Management (Wisner, Tan, Leong, 2012, p. 7-8).
Menurut lembaga The Council of Supply Chain Management Professional
(CSCMP) mendefinisikan manajemen rantai pasok sebagai: Perencanaan dan
manajemen dari seluruh aktivitas yang terkait dalam sumber daya dan pengadaan,
pengkonversian dan seluruh aktivitas manajemen logistik. Sebagai bagian yang
lebih penting, rantai pasok meliputi koordinasi dan kolaborasi dengan rekanan
seperti pemasok, perantara, atau jasa orang ketiga, serta pelanggan. Menurut
lembaga The Institute for Supply Chain Management (ISM) mendefinisikan
manajemen rantai pasok sebagai: Desain dan manajemen dari seamless, sebuah
proses proses terkait dengan usaha pemberian nilai tambah dalam dan antar
batas organisasional untuk menemukan kebutuhan pelanggan akhir yang
sebenarnya.

Tahap-tahap Perkembangan Manajemen Logistik ke Manajemen


Rantai Pasokan
Christopher (1998) membagi perkembangan manajemen logistik menjadi

manajemen rantai pasokan ke dalam empat tahap perkembangan, yaitu tahap

pertama dengan adanya ketidak-saling-ketergantungan fungsi, Tahap kedua,


perusahaan sudah mulai menyadari pentingnya integrasi perencanaan walaupun
dalam bidang yang masih terbatas Tahap ketiga sudah terjadi integrasi
perencanaan dan pengawasan atas semua fungsi yang terkait dalam satu
perusahaan. Tahap keempat menggambarkan tahap sebenarnya dari integrasi
rantai pasokan, yaitu integrasi total dalam konsep, perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan (manajemen) yang telah dicapai

Gambar 1 Tahapan Perkembangan Manajemen Logistik ke Manajemen Rantai Pasokan


(Christopher, 1998)

Area Cakupan Manajemen Rantai Pasokan


Kegiatan-kegiatan utama yang tercakup dalam klasifikasi manajemen

rantai pasokan adalah bagian pengembangan produk, bagian pengadaan, bagian


perencanaan dan pengendalian, bagian produksi, dan bagian distribusi.

Tabel 1 Bagian utama dalam perusahaan manufaktur yang terkait dengan fungsi utama
rantai pasokan

Strategi Rantai Pasokan


Strategi rantai pasokan adalah kumpulan kegiatan dan aksi strategis di

sepanjang rantai pasokan yang menciptakan rekonsiliasi antara apa yang


dibutuhkan pelanggan akhir dengan kemampuan sumber daya yang ada pada
rantai pasokan tersebut (Pujawan, 2005).
Strategi rantai pasokan lebih menyangkut keputusan tentang pemasok mana yang
akan dipilih, pemasok mana yang akan diajak sebagai mitra jangka panjang,
dimana saja lokasi gudang dan pusat distribusi didirikan, apakah akan melakukan
sendiri kegiatan distribusi, dan sebagainya.
Strategi pada rantai pasokan memiliki tiga tujuan, yaitu cost reduction,
maksudnya strategi yang dijalankan harus dapat meminimalkan biaya logistik
yang terjadi, Tujuan berikutnya adalah capital reduction, strategi yang ditujukan
untuk meminimalkan tingkat investasi di dalam strategi rantai pasokan. Dan
tujuan yang terakhir adalah service improvement, yang diartikan sebagai
pelayanan harus selalu diperbaiki.

Pemilihan Pemasok dalam Rantai Pasokan


Memilih pemasok baru biasanya lebih sulit daripada menilai pemasok

lama. Oleh karena itu dalam memilih pemasok baru selalu ada resiko yang
dihadapi. Besar kecilnya resiko tidak hanya tergantung dari pemasok saja, tetapi
juga dari besar kecilnya harga pembelian.

Teknik Pemilihan Pemasok


Dalam proses pemilihan ini perusahaan mungkin harus melakukan

perangkingan untuk menentukan mana pemasok yang akan dipilih atau mana yang
akan dijadikan pemasok utama dan mana yang akan dijadikan pemasok cadangan.
Salah satu metode yang cukup lumrah digunakan dalam merangking alternatif
berdasarkan beberapa kriteria yang ada adalah metode Analytical Hierarchy
Process (AHP) (Pujawan, 2005).
Langkah-langkah pemilihan pemasok berdasarkan metode AHP secara
ringkas adalah tentukan kriteria-kriteria pemilihan, tentukan bobot masing-masing
kriteria, identifikasi alternatif pemasok yang akan dievaluasi, evaluasi masingmasing alternatif pemasok dengan kriteria yang telah ditetapkan, hitung nilai

berbobot masing-masing pemasok, urutkan pemasok berdasarkan nilai berbobot


tersebut.

Langkah-langkah dalam Pengembangan Pemasok


Berikut adalah tujuh langkah yang diformulasikan untuk pengembangan

pemasok: Identifikasi komoditi yang kritis Identifikasi pemasok yang kritis,


Bentuk tim lintas fungsi, Lakukan pertemuan dengan pimpinan puncak dari
pemasok. Identifikasi proyek perbaikan. Definisikan alat ukur, target, milestone,
dan deadline. Monitor perkembangan dan lakukan perubahan strategi bila perlu.

Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan


Sistem pengukuran kinerja diperlukan untuk melakukan monitoring dan

pengendalian, mengkomunikasikan tujuan organisasi ke fungsi-fungsi pada rantai


pasokan, mengetahui dimana posisi suatu organisasi relatif terhadap pesaing
maupun terhadap tujuan yang hendak dicapai, dan menentukan arah perbaikan
untuk menciptakan keunggulan dalam bersaing.

Model SCOR (Supply Chain Operations Reference)


SCOR adalah suatu model acuan dari operasi rantai pasokan. Model ini

didesain untuk membantu dari dalam maupun luar perusahaan mereka, selain itu
model ini memiliki kerangka yang kokoh dan juga fleksibel sehingga
memungkinkan untuk digunakan dalam segala macam industri yang memiliki
rantai pasokan.

Batasan SCOR

Ruang lingkup dalam penerapan model SCOR adalah seluruh interaksi pemasok
atau konsumen dari masuknya pesanan sampai adanya faktur pembayaran, seluruh
transaksi produk dari pemasoknya pemasok sampai konsumennya konsumen,
seluruh interaksi pasar dari permintaan agregat sampai pemenuhan kebutuhan satu
sama lain, yang terakhir adalah pengembalian.

Peta Kerja SCOR

Gambar 2 Peta Kerja SCOR


Terdapat empat tingkatan pada peta kerja SCOR, yang pertama adalah
menganalisis basis kompetisi perusahaan, difokuskan pada matriks rantai pasokan.
Kedua,

mengkonfigurasikan

aliran

material

rantai

pasokan.

Ketiga,

menyelaraskan performa dan sistem dengan aliran material dan informasi. Dan
terakhir adalah menerapkan perbaikan rantai pasokan untuk meningkatkan
performa.

Hirarki Proses Model SCOR


Model ini memiliki tiga hirarki proses yang menunjukkan bahwa SCOR

melakukan dekomposisi proses dari yang umum ke yang detail. Tingkat pertama,
mendefinisikan jumlah, ruang lingkup, dan kandungan rantai pasokan dan
bagaimana performanya diukur. Tingkat kedua dimana tiap proses diatas
digambarkan lebih lanjut dengan tipe prosesnya. Tingkat ketiga mengandung
definisi proses bisnis yang digunakan untuk transaksi order penjualan, order
pembelian, order pekerjaan, hak pengembalian dan peramalan.

Keuntungan dari Rantai Pasokan


Keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari manajemen rantai

pasokan (Indrajit dan Djokopranoto, 2002) antara lain adalah mengurangi


persediaan barang dengan berbagai cara, menjamin kelancaran penyediaan
barang, mulai dari barang asal (pabrik pembuat), pemasok, perusahaan sendiri,
pedagang besar, pengecer, sampai konsumen terakhir.

Tahap-tahap Optimalisasi Rantai Pasokan

Tahap pertama, logistik dan sumber pembelian, umumnya menyangkut


dan terfokus pada sumber pembelian barang keperluan perusahaan dan logistik.
Tahap kedua, keunggulan optimal, fokus tidak lagi mengenai logistik, tetapi lebih
kepada mendesain kembali proses kerja dan sistem kerja. Tahap ketiga adalah
konstruksi jaringan. Tahap terakhir yaitu kepemimpinan dalam industri.
Tabel 2 Tahapan Optimalisasi Rantai Pasokan

C. Pengamatan Terhadap Komoditas


Pengamatan ini dilakukan di daerah Cikampek, tepatnya rumah potong
ayam di Jalan Bayur No 35, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang.
Pengamatan dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2015.

Gambar 3 Tempat Pemotongan hewan

Gambar 4 Mobil Pengangkut

Gambar 5 Tempat Penyimpanan Ayam

D. Aktifitas Proses Bisnis


Rantai Pasokan Distribusi Daging Ayam
Pola rantai pasokan distribusi daging Ayam saat ini melibatkan empat rantai
pelaku, yaitu:
a. Rantai pertama Peternak,
b. Rantai kedua Rumah Potong,
c. Rantai ketiga Restoran dan Pasar,
d. Rantai Keempat konsumen.
Pola rantai pasokan distribusi Daging ayam ini dipetakan seperti pada
Gambar 6. Pada rantai pertama Ayam diambil oleh pihak pemotong dengan
menggunakan mobil anngkut. Kemudian setelah sampai, ayam disimpan didekat
tempat pomotongan dan kemudian langsung dipotong dan dibersihkan. Setelah itu

ayam yang sudah bersih siap didistribusikan ke beberapa wilayah di sekitar


Cikampek maupun luar Cikampek seperti Karawang, Subang, dan Purwakarta.
Ayam di distribusikan ke rumah-rumah makan maupun ke Pasar. Setiap harinya
dilakukan pemotongan sebanyak 300-450 ekor dan kemudian langsung di
distribusikan.

Gambar 6 Jaringan Rantai Pasokan Distribusi Daging Ayam Kawasan Cikampek

Aktifitas Pemotongan Hewan


Gambaran pola rantai pasokan distribusi daging ayam dapat dipetakan melalui
model IDEF. Pada Gambar 7. menjelaskan pendistribusian daging ayam level
diagram Parent Diagram (Level A0) atau context diagram. Sedangkan pada
Gambar 8 memperlihatkan pendistribusian daging ayam level child diagram
(Level A1).

Gambar 7 Diagram IDEF Level 0 Proses Pendistribusian Daging Ayam

Gambar 8 Diagram IDEF Level A1 Proses Pendistribusian Daging Ayam

Pada jalur tiap rantai pasokan distribusi susu ini seperti digambarkan pada
Gambar 7. Dan Gambar 8. masing-masing tingkatan rantai melakukan aktifitas

baik sifatnya pengolahan maupun hanya melakukan distribusi. Hal tersebut akan
dijelaskan dalam uraian berikut:
1) Proses Memelihara Ayam Pedaging
Berdasarkan hasil pengamatan pada Tempat Pemotongan Ayam Pedaging yang
berada di Cikampek hanya melakukan pengelolaan hewan ternak skala kecil,
sedangkan untuk di distribusikan skala besar mengambil dari kandang yang
berada di beberapa daerah di jawabarat ataupun membelinya dari peternakpeternak langganan.
2) Membawa Ayam Ternak Ke Tempat Pemotongan
Karyawan tempat pemotongan melakukan pengambilan ayam pedaging dengan
menggunakan mobil angkut yang berisi beberapa tempat penyimpanan unutk
ayam hidup. Untuk jumlah ayam yang dibawa rata-rata 70-80 ekor per mobil
untuk satu tempat peternakan.
3) Menampung Ayam Sebelum Dilakukan Pemotongan
Ayam yang sudah dibawa dari peternakan ditampung dulu untuk di cek kesehatan
dan berat dari ayam tersebut. Karena pada saat perjalanan dari peternak ke tempat
pemotongan, ayam mengalami penyusutan 5% hingga 10% setiap satu ekornya.
4) Melakukan Pemotongan
Setelah dilakukan pengukuran berat ayam, kemudian ayam di potong. Setiap
harinya dilakukan pemotongan sebanyak 300-450 ekor. Waktu pemotongan
dilakukan dari jam 3 pagi hingga jam 10 pagi.
5) Membersihkan Ayam
Aktifitas ini dilakukan oleh karyawan setelah memotong ayam. Pembersihan
dilakukan dengan membersihkan bulu-bulu dari ayam, pembersihan bagian tubuh
dari ayam hingga jeroan dari ayam tersebut. Untuk pembersihan bagian bulu,
biasanya dilakukan dengan mencelupkan ayam yang telah di potong ke air panas
agar bulu-bulu dari ayam tersebut lepas.
6) Medistribusikan Daging Ayam
Pihak dari tempat pemotongan ayam biasanya mendistribusikan ayam ke pasarpasar sesuai dengan permintaan penjual pasar. Pendistribusian biasanya ke kotakota di dekat Cikampek seperti Karawang, Purwakarta, dan Subang. Ada juga
pendistribusian ke rumah makan maupun penjual olahan ayam. Tetapi pelanggan
dapat langsung mengambil pesanan tersebut ketempat pemotongan.

Harga Jual ayam pada Tingkat Rantai Distribusi

Harga satu kilo ayam dari peternak yang dijual kepada tempat pemotongan ayam
sebesar Rp 19.600/kilo. Dari tempat pemotongan ke pedangan di pasar maupun
pedagang di rumah makan yaitu Rp 22.000/kilo daging ayam. Di pasar, ayam di
jual oleh pedagang pasar yaitu sebesar Rp 34.000/kilo daging ayam. Rata-rata
berat daging ayam satu ekor sebesar 1.3 hingga 1.5 kilo per ekor. Sedangkan di
restoran-restoran maupun penjual ayam olahan menjual 1 potong ayam sebesar Rp
7000 - Rp. 8000 perpotong.
E. Diagnosis
Kondisi Rantai Pasokan Ditribusi Daging Ayam
Pengelolaan pendistribusian daging ayam di kawasan Cikampek ini langsung
dilakukan oleh pihak pemotongan ayam tanpa perantara. Distribusi ini diawali
dengan pendistribusian dari tempat pemotongan ayam kepada konsumenkonsumen seperti pedagang-pedagang dipasar, restoran-restoran hingga penjual
ayam olahan. Peternak kepada koperasi dalam bentuk ayam hidup, kemudian
distribusi dilakukan dari tempat pemotongan ke pasar-pasar dan ke rumah makan
disekitar kawasan Cikampek maupun di luar Cikampek. Melihat dari harga jual,
masing-masing tingkatan distribusi memiliki harga jual berbeda dijelaskan dalam
uraian berikut:
- Peternak ke Tempat Pemotongan = Rp 19.600/kilo
- Tempat Pemotongan ke Penjual = Rp 22.000/kilo
- Penjual daging ayam ke Konsumen = Rp 34.000/kilo
Dengan demikian kebanyakan konsumen mendapatkan produk daging ayam ini
sebagian besar dari hasil pengolahan ayam maupun dari pasar. Rantai distribusi
untuk sampai ke konsumen cukup panjang. Apabila dilihat dari nilai harga jual
dengan harga jual Tempat Potong ke Penjual dipasar dihargai 22.000/ekor.
Kemudian setelah ayam sampai hingga penjual daging ayam ke konsumen harga
ayam tersebut menjadi Rp 34.000/kilo, dengan demikian konsumen untuk dapat
menikmati ayam ini harus mengeluarkan uang sebesar Rp 34.000,-. Melihat

kondisi seperti nilai harga jual sebesar ini menjadi kendala dari masyarakat untuk
dapat mengkonsumsi daging ayam, sehingga kondisi ini perlu dilakukan
perbaikan dari sistem rantai pasokan distribusi ini.

Usulan Perbaikan
Pengembangan rantai pasok distribusi daging ayam dapat dilakukan

dengan cara mendistribusikan kepada konsumen sehingga distribusi bisa langsung


kepada konsumen. Karena jika melalui penjual akan menambah biaya-biaya
seperti biaya sewa tempat dipasar sehingga penjual pasar menjual daging ayam
megambil keuntungan lebih besar untuk menutupi biaya-biaya yang lain. Usulan
juga dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kapasitas produksi sehingga
distribusi daging untuk dapat langsung sampai kepada konsumen akan lebih cepat
dan harga jual akan lebih rendah dari biasanya. Oleh karenanya perlu adanya
strategi pemasaran tempat pemotongan ayam agar dapat melakukan penjualan
langsung produknya kepada konsumen langsung. Tentunya tempat pemotongan
dapat melakukan pengembangan patnership dengan organisasi yang secara khusus
dengan masyarakat didalam pemasaran daging ayam ini. Pemerintah daerah juga
dapat berperan untuk menentukan harga daging dipasaran agar masyarakat lebih
mudah dalam mendapatkan daging ayam dengan harga rendah.

Gambar 9 Pendistribusian Langsung

F. Rekomendasi Dan Kesimpulan


Terdapat beragam jalur rantai pasok komoditas daging ayam dari hulu
hingga hilir. Dari berbagai jalur rantai pasok posisi tempat pemotongan
adalah yang paling strategis, karena pelaku inilah yang memiliki akses ke
peternak dan akses ke berbagai tujuan pasar dengan baik. Pemberdayaan
penjual daging ayam direalisasikan dalam upaya meminimalisirkan biayabiaya untuk merendahkan harga jual daging ayam tersebut agar minat

masyarakat mengkonsumsi daging ayam meningkat. Pengembangan


jaringan rantai pasokan distribusi menjadi fokus utama upaya ini, dimana
dalam melakukan pendistribusian langsung kepada konsumen diharapkan
dapat terjadinya peningkatan permintaan terhadap daging ayam setiap
harinya.
Upaya pemerintah dalam mengontrol harga daging pun perlu agar harga
daging tidak terlalu melonjak tinggi setelah daging sampai ke penjual di
pasar-pasar. harga daging pun berpengaruh terhadap harga daging ayam
olahan yang menjual daging dengan harga yang cukup tinggi untuk
perpotong daging. selain itu dengan pemendekan jalur distribusi untuk
sampai kepada konsumen telah mengurangi nilai harga jual sehingga
menjadi lebih terjangkau oleh konsumen. Peningkatan konsumsi ayam
sebagai salah satu sumber protein pun terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA
Hilda Syaidatul U, Jefri K, dan Saeful R.F. 2014. Upaya Gerakan Ayo Bandung
Minum Susu Segar di Sekolah untuk Meningkatkan Kinerja Agribisnis
Koperasi

Susu

Peternakan

Bandung

Utara

(KSPBU)

melalui

Pengembangan Rantai Pasokan Distribusi Produk Susu. Jurnal


Penelitian, Bandung.
Saptana, Daryanto A. 2012. Manajemen Rantai Pasok (Supply Chains
Management) Melalui Strategi Kemitraan Pada Industri Broiler. Dalam:
Bunga Rampai Rantai Pasok Komoditas Pertanian Indonesia. Eds. Erna
Maria Lokollo. Bogor: IPB Press.
Saptana dan Tike Sartika. 2014. Manajemen Rantai Pasok Komoditas Telur Ayam
Kampung. Jurnal Penelitian. Bogor.
Christopher, Martin. Logistics and Supply Chain Management, Strategy for
Reducing Cost and Improving Service. 1998. London: Prentice Hall Inc.

Beri Nilai