Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
Fraktur atau sering disebut patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan atau tulang rawan yang penyebabnya dapat dikarenakan penyakit pengeroposan tulang
diantaranya penyakit yang sering disebut osteoporosis, biasanya dialami pada usia dewasa
dan dapat juga disebabkan karena kecelakaan yang tidak terduga (Masjoer, A, 2000). Fraktur
adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin terlebih dari
suatu retakan, suatu pengisutan atau primpilan korteks; biasanya patahan lengkap dan
fragmen tulang bergeser. Kalau kulit diatasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tetutup
(atau sederhana) kalau kulit atau salah satu dari rongga tubuh tertembus keadaan ini disebut
fraktur terbuka (atau compound) yang cendrung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi
(A,Graham,A & Louis, S, 2000). Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu
sendiridan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu
lengkap atau tidak lengkap (Price, A dan L. Wilson, 2003)
Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di
pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah menetapkan decade ini
(2000-2010) menjadi dekade tulangdan persendian. Penyebab fraktur terbanyak adalah
karena kecelakaan lalulintas. Kecelakaan lalulintas ini, selain menyebabkan fraktur, menurut
WHO, juga menyebabkan kematian 1,25 juta orang setiap tahunnya, dimana sebagian besar
korbannya adalah remaja atau dewasa muda.
Negara Indonesia merupakan Negara berkembang dan menuju industrilisasi tentunya
akan mempengaruhi peningkatan mobilisasi masyarakat yang meningkat otomatis terjadi
peningkatan penggunaan alat transportasi / kendaraan bermotor khususnya bagi masyarakat
yang tinggal di perkotaan. Sehingga menmbah kesemerautan arus lalulintas. Arus
lalulintas yang tidak teratur dapat meningkatkan kecendrungan terjadinya kecelakaan
kendaraan bermotor. Dan kecelakaan juga banyak terjadi pada arus mudik dan arus balik hari
raya idul fitri, kecelakaan tersebut sering kali menyebabkan cidera tulang atau fraktur
(Kompas. Com, 2008).
Dari jenis-jenis fraktur yang sering terjadi adalah fraktur femur, fraktur femur
mempunyai insiden yang cukup tinggi diantara jenis-jenis patah tulang. Umumnya fraktur
femur terjadi pada batang femur 1/3 tengah. Fraktur femur lebih sering terjadi pada laki-laki
1

dari pada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan
olahraga, pekerjaan atau kecelakaan (Masjoer, A, 2000).
Penderita fraktur dengan tingkat pendidikan rendah cendrung menunjukan adanya
respon cemas yang berlebihan mengingat keterbatasan mereka dalam memahami proses
penyembuhan dari kondisi fraktur yang dialaminya tetapi sebagian besar penelitian tidak
menunjukan adanya korelasi kuat antara tingkat pendidikan dengan kecemasan penderita
fraktur. Respon cemas yang terjadi pada penderita fraktur sangat berkaitan sekali dengan
mekanisme koping yang dimilikinya, mekasnisme koping yang baik akan membentuk respon
psikologis yang baik, respon psikologis yang baik yang berperan dalam menunjang proses
kesembuhan (Depkes RI, 2008).
Penyebab dari fraktur femur terbagi menjadi dua bagian yaitu fraktur fisiologis dan
patologis. Fraktur fisiologis ini terjadi akibat kecelakaan, olahraga, benturan benda dan
trauma. Kejadian ini banyak ditemukan pada dewasa muda terutama pada laki-laki umur 45
tahun kebawah sedangkan fraktur patologis terjadi pada daerah tulang yang lemah oleh
karena tumor, osteoporosis, osteomielitis,osteomalasia dan rakhitis. Kejadian ini banyak
ditemukan pada orang tua terutama perempuan umur 60 tahun keatas (Rasjad,C, 2007).
Fisioterapi berperan untuk mengembalikan gerak dan fungsional pada kondisi di
atas. Menggunakan modalitas fisioterapi diharapkan dapat membantu dalam proses
penyembuhan atau membantu pasien dapat beraktifitas secaranormal kembali, sehingga
masalah yang dialami penderita dapat ditangani. Modalitas terapi latihan pada pasca bedah
fracture femur 1/3 distal bermanfaat untuk mencegah komplikasi yang mungkin timbul
seperti yang disampaikan penulis di atas, dengan terapi latihan mengembalikan gerak dan
fungsi sehingga pasien dapat beraktifitas kembali.

BAB II
LAPORAN KASUS
I.

II.

Identitas
Nama
Umur
Jenis kelamin
Status
Suku
Agama
No. CM
Alamat
Tanggal masuk RS
Tanggal pemeriksaan
Ruangan

: Tn. O
: 29 tahun
: Laki-laki
: Menikah
: Sunda
: Islam
: 738417
: Cilawu
: 26 Januari 2015
: 28 Januari 2015
: Marjan Atas

Anamnesis (Autoanamnesis tanggal 26 Januari 2015)


Keluhan utama
:
Pasien datang dengan keluhan sakit pinggang hebat dan lemah pada kaki setelah pasien
terjatuh dari pohon mangga dengan ketinggian 15 meter sepuluh jam SMRS.
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang ke IGD RSUD dr. Slamet, Garut dengan keluhan sakit pinggang hebat
setelah sebelumnya jatuh dari pohon manga setinggi 15 meter, nyeri pinggang di akui
menjalar sampai ke kedua kaki, hingga saat ini kaki tidak dapat di gunakan untuk
berjalan dan diangkat, hanya dapat sedikit di gerakkan, menurut pengakuan os jatuh
terduduk setelah sebelumnya kaki kiri menumpu badan terlebih dahulu, pada saat
kejadian os tidak pingsan, tidak ada benturan di kepala dan bagian tubuh lain,keluhan
mual muntah juga disangkal,
Riwayat penyakit dahulu
Pasien tidak pernah mengalami hal serupa seperti saat ini. Riwayat penyakit diabetes
melitus, penyakit jantung, hipertensi, penyakit paru di sangkal pasien.
Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada dalam keluarga yang menderita keluhan seperti ini

III.

Pemeriksaan Fisik
Status generalis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Status gizi
: Baik
Vital sign : TD : 140/70 mmHg
Nadi : 106 x/menit
3

RR : 20 x/ menit
S
: 36,5 C
Kepala : Normocephal
Mata
: Conjunctiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, pupi bulat isokor, refleks
pupil +/+ normal
Leher : Trakea ditengah, pembesarak KGB (-)
Thoraks
Cor
: Inspeksi
: Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi
: Ictus cordis teraba pada sela iga 5 linea mid clavicula sinistra
Perkusi
: Batas jantung normal
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo : Inspeksi
: Pergerakan hemitoraks dalam keadaan statis dan dinamis
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Ekstremitas atas
:
Ekstremitas bawah :
Status lokalis :

simetris kanan dan kiri


: Fremitus vocal dan taktil hemitoraks kanan dan kiri simetris,
tidak teraba massa dan tidak ada nyeri tekan
: Sonor di seluruh lapang paru
: Vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/: Tampak datar simetris
: Supel , NT/NL/NK : -/-/- ; hepar dan lien tidak teraba besar
: Tympani pada seluruh kuadran abdomen
: Bising usus (+ ) normal
Akral hangat, edema -/-, sianosis -/Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-

a/r Femoralis sinistra


Look

: Terlihat luka lecet terbuka di sepertiga medial os femursinistra,


kemudian dilakukan tindakan penjahitan dan luka ditutup elastic
verband.

Feel

: Nyeri tekan (+), deformitas (+), krepitasi (+), edem (-), arteri dorsalis

Move

sinistra teraba, suhu lebih tinggi dibandingkan tungkai atas sebelahnya


: Nyeri bila digerakkan (+), abduksi terbatas, adduksi terbatas, tungkai
bawah kiri dapat digerakan terbatas, dorso dan plantar fleksi (+) rasa
nyeri (-),kaki kanan dapat bebas digerakan nyeri (-)

IV.
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Nilai Normal

Hasil

Hb

13-18

11,9g/dl

Ht

40-52

32%

3.800-10.600

9.490/mm3

150.000-400.000

152.000/mm3

Eritrosit

3.5-6.5

4.58 juta/mm3

AST (SGOT)

s/d 37

84 U/L

ALT (SGPT)

s/d 40

77 U/L

Ureum

15- 50

40 mg/dl

Kreatinin

0,7-1,2

1,2 mg/dl

GDS

< 140

110 mg/dl

Leukosit
Trombosit

Foto Radiologi femur :

Curve dan alignment vertebrae thoracolumbal tampak normal

Besar dan densitas tulang thoracolumbal tampak normal

Tampak deformitas bentuk wedge pada corpus vertebrae lumbal 1

Diskus dan foramen intervertebralis tidak menyempit

Tidak tampak lesi litik atau sklerotik

Tidak tampak osteofit

Kesan : fraktur kompresi korpus vertebrae lumbal 1

V.Resume
Seorang laki-laki 29 tahun datang ke UGD RS dr. Slamet Garut dengan keluhan
sakit pinggang hebat serta lemah kaki, pada hasil rontgen di dapatkan
VI.

Diagnosis Kerja
Fraktur kompresi vertebrae lumbal 1 dengan defisit neurologis

VII.

Penatalaksanaan
Infus RL 20 gtt/menit
Na-diklofenat 2x25mg
Mecobalamin 3x1
Ranitidin 2x1
Operatif : rencana PSSW

VIII. Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam : ad bonam

PENDAHULUAN

Tulang belakang manusia adalah pilar/ tiang yang berfungsi menyangga tubuh dan
melindungi medulla spinalis. Pilar tersebut terdiri dari 33

ruas tulang belakang

yang

tersusun secara segmental yang terdiri atas 7 ruas tulang servikal, 12 ruas tulang torakal, 5
ruas tulang lumbal, 5 ruas tulang sacral yang menyatu dan 4 ruas tulang ekor. Setiap ruas
tulang belakang dapat bergerak satu dengan yang lain oleh karena adanya dua sendi di
daerah posterolateral dan diskus intervertebralis di anterior.
Vertebra lumbalis merupakan tulang terbesar dan terkuat dari semua tulang yang berada pada
tulang belakang. Vertebra ini dimulai dari lengkung lumbal (yaitu, persimpangan
torakolumbalis) dan meluas ke sacrum. Otot-otot yang melekat pada vertebra lumbalis
menstabilkan tulang belakang. Fraktur vertebra lumbalis disebabkan oleh trauma berat atau
keadaan patologis yang melemahkan tulang. Osteoporosis adalah penyebab terbanyak
terjadinya fraktur kompresi lumbal, terutama pada wanita pascamenopause. Fraktur vertebra
yang diakibatkan oleh osteoporosis dapat terjadi tanpa trauma yang jelas. Fraktur di daerah
kolumna vertebralis sebagai akibat osteoporosis bisa terjadi dalam bentuk crush (pada
wanita pasca menopause) atau bentuk multiple, seperti baji (wanita/ pria akibat
osteoporosis senilis). Gejala dan tanda sering tidak khas. Kadang- kadang penderita
merasa nyeri dengan derajat ringan sampai sedang. Nyeri akan bertambah bila bergerak atau
batuk dan berkurang pada waktu istirahat. Khas adalah timbulnya bongkok akibat
fraktur daerah pungggung (Dowagers hump),

yang juga berakibat tinggi penderita

berkurang. Nyeri yang timbul bisa disertai nyeri akibat penekanan saraf sesuai dengan
dermatom, karena penekanan saraf daerah tersebut. Nyeri biasanya akan membaik dalam
waktu 2-4 minggu, sedangkan fraktur akan sembuh dalam waktu 3 - 4 bulan. Namun,
pemeriksaan diagnostik menyeluruh selalu dibutuhkan untuk menyingkirkan keganasan
tulang belakang.

FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA


Definisi
Fraktur kompresi (wedge fractures) merupakan kompresi pada bagian depan corpus
vertebralis yang tertekan dan membentuk patahan irisan. Fraktur kompresi adalah fraktur
tersering yang mempengaruhi kolumna vertebra.

Fraktur ini dapat disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan posisi terduduk
ataupun mendapat pukulan di kepala, osteoporosis dan adanya metastase kanker dari tempat
lain ke vertebra kemudian membuat bagian vertebra tersebut menjadi lemah dan akhirnya
mudah mengalami fraktur kompresi. Vertebra dengan fraktur kompresi akan menjadi lebih
pendek ukurannya daripada ukuran vertebra sebenarnya. Trauma vertebra yang mengenai
medula spinalis dapat menyebabkan defisit neorologis berupa kelumpuhan.

Anatomi dan Fisiologi


Vertebra secara umum
Vertebra dimulai dari cranium sampai pada apex coccigeus, membentuk skeleton dari
leher, punggung dan bagian utama dari skeleton (tulang cranium, costa dan sternum). Fungsi
vertebra yaitu melindungi medulla spinalis dan serabut syaraf, menyokong berat badan dan
berperan dalam perubahan posisi tubuh. Vertebra terdiri dari 33 vertebra dengan pembagian 5
regio yaitu 7 cervical, 12 thoracal, 5 lumbal, 5 sacral, 4 coccigeal.

Vertebra manusia terbentuk oleh dua jenis tulang yaitu tipe kortikal dan kalselus.
Tulang kortikal menutupi bagian luar vertebra dan mencakup sekitar 80% masa tulang.
Tulang kalselus berada pada bagian dalam dan mengisi 20% masa tulang vertebra. Tulang
kalselus memberikan bentuk arsitektur dan komponen struktural dari vertebra. Proses
remodeling tulang merupakan proses normal dari aktifitas osteoklas (menghancurkan) dan
osteoblas (pembentukan), 1020% tulang orang dewasa normal mengalami remodeling
setiap tahun.
Pada osteoporosis, kehilangan masa tulang disebabkan oleh karena meningkatnya aktifitas
osteoklas dan menurunnya aktifitas osteoblas. Kehilangan masa tulang merununkan
keseluruhan integritas dari vertebra dengan pengurangan densitas dari pusat tulang
kalselus.
Begitu juga pada orang tua, pengurangan masa tulang disebabkan oleh penipisan cakram
vertebra oleh karena proses degenerasi. Penguranagan massa tulang ini akan menyebabkan
ketidakseimbangan dalam menahan beban antar vertebra end plates. Kombinasi dari
pengurangan massa tulang dan kelemahan tulang vertebra akibat proses penuaan akan
mengakibatkan kelainan bentuk dari vertebra.

Vertebra Lumbalis
Vertebra lumbalis merupakan bagian dari kolumna vertebralis yang terdiri dari lima ruas
tulang dengan ukuran ruasnya lebih besar dibandingkan dengan ruas tulang leher (vertebra
cervical) maupun tulang punggung (vertebra thorakal). Vertebra lumbalis dapat dibedakan
10

oleh karena tidak adanya bidang untuk persendian dengan costa. Diantara ruas-ruas vertebra
lumbalis tersebut terdapat penengah ruas tulang yang terdiri atau tersusun dari tulang muda
yang tebal dan erat, berbentuk seperti cincin yang memungkinkan terjadinya pergerakan
antara ruas-ruas tulang yang letaknya sangat berdekatan. Bagian atas dari vertebra lumbalis
berbatasan dengan vertebra torakalis 12, yang persendiannya disebut thoracolumbal joint atau
articulatio thoracolumbalis. dan pada bagian bawahnya berbatasan dengan vertebra sakralis.
dan persendiannya disebut lumbosacral joint atau articulatio lumbosacralis.
Vertebra lumbal adalah satu dari lima rangkaian kolumna vertebralis yang terletak pada
pertengahan tubuh bagian posterior. Pada umumnya vertebra lumbalis mempunyai bentuk
melengkung ke arah depan atau disebut juga lordosis.
Dilihat dari lengkungannya vertebra lumbal termasuk ke dalam vertebra sekunder, karena
lengkungan dari vertebra lumbal tumbuh setelah lahir, yaitu pada saat seorang anak belajar
berjalan pada usia satu sampai satu setengah tahun.
Oleh karena tugasnya menyangga bagian atas tubuh, maka bentuk dari vertebra lumbalis ini
besar dan kuat.
Ciri vertebra lumbalis diantaranya:
a. Corpus besar dan berbentuk ginjal.
b. Pediculus kuat dan mengarah ke belakang.
c. Lamina tebal
d. Foramina vertebrale berbentuk segitiga.
e. Processus transversus panjang dan langsing.
f. Processus spinosus pendek, rata dan berbentuk segiempat dan mengarah ke belakang.
g. Facies articularis processus articularis superior menghadap ke medial dan facies
articularis processus articularis inferior menghadap ke lateral.

11

Medulla Spinalis
Medulla spinalis terletak di dalam kanalis vertebralis yang diliputi dan luar oleh duramater,
subdural space, arachnoid, subarachnoid dan piamater. Medulla spinalis dimulai dari atas
setinggi foramen magnum sebagai lanjutan dari medulla oblongata. Medulla spinalis daerah
cervical tempat asal plexus brachialis dan di thoracica bawah dan lumbal tempat asal plexus
lumbosacralis terdapat pelebaran fusiformis yang disebut intumescentia cervicalis dan
lumbalis.
Di inferior medulla spinalis meruncing menjadi conus medullaris. Dari puncak conus ini
berjalan turun lanjutan piameter yaitu filum terminale.

12

Fisiologi Vertebra Lumbalis


Vertebra lumbalis merupakan bagian dari kolumna vertebralis, sehingga fungsi dari vertebra
lumbalis tidak terlepas dari fungsi kolumna vertebralis secara keseluruhan. Sesuai dengan
anatomi vertebra lumbalis yang mempunyai bentuk yang besar dan kuat, maka fungsi
vertebra lumbalis adalah :
a. Menyangga tubuh bagian atas dengan perantaraan tulang rawan yaitu diskus
intervertebralis yag lengkungannya dapat memberikan fleksibilitas yang dapat
memugkinkan membungkuk ke arah depan (fleksi) dan kearah belakang
(ekstensi), miring ke kiri dan ke kanan pada vertebra lumbalis.
b. Diskus intervertebralisnya dapat menyerap setiap goncangan yang terjadi bila
sedang menggerakkan berat badan seperti berlari dan melompat.
c. Melindungi otak dan sumsum tulang belakang dari goncangan.
d. Melindungi saraf tulang belakang dari tekanan-tekanan akibat melesetnya
nukleus pulposus pada diskus intervertebralis. Namun apabila annulus fibrosus
mengalami kerusakan, maka nukleus pulposusnya dapat meleset dan dapat
menyebabkan penekanan pada akar saraf disekitarnya yang menimbulkan rasa
sakit dan ada kalanya kehilangan kekuatan pada daerah distribusi dari saraf
yang terkena.

Epidemiologi
Fraktur kompresi vertebra merupakan jenis fraktur yang sering terjadi dan merupakan
masalah yang serius. Setiap tahun sekitar 700.000 insidensi di Ameika
Serikat, dimana prevalensinya meningkat 25% pada wanita yang berumur diatas 50 tahun.
Satu dari dua wanita dan satu dari empat laki-laki berumur lebih dari 50 tahun menderita
osteoporosis berhubungan dengan fraktur. Insidensi fraktur kompresi vertebra meningkat
secara progresif berdasarkan semakin bertambahnya usia, dan prevalensinya sama antara
laki-laki (21,5%) dan wanita (23,5%), yang diukur berdasarkan suatu studi pemeriksaan
radiologi. Meskipun hanya sekitar sepertiga menunjukkan gejala akut, awalnya semua

13

berhubungan dengan angka yang signifikan meningkatkan mortalitas dan gangguan


fungsional dan psikologis.

Etiologi
Penyebab terjadinya fraktur kompresi vertebra adalah sebagai berikut:
1. Trauma langsung ( direct )
Trauma langsung ( direct ) adalah fraktur yang disebabkan oleh adanya benturan langsung
pada jaringan tulang seperti pada kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, dan benturan
benda keras oleh kekuatan langsung.
2. Trauma tidak langsung ( indirect )
Trauma tidak langsung ( indirect ) adalah fraktur yang bukan disebabkan oleh benturan
langsung, tapi lebih disebabkan oleh adanya beban yang berlebihan pada jaringan tulang
atau otot, contohnya seperti pada olahragawan yang menggunakan hanya satu tangannya
untuk menumpu beban badannya.
Trauma tidak langsung bisa disebabkan oleh proses penyakit seperti osteoporosis, penderita
tumor dan infeksi.
Penyebab pokok dari fraktur kompresi lumbal adalah osteoporosis. Pada wanita, faktor risiko
utama untuk osteoporosis adalah menopause, atau defisiensi estrogen. Faktor risiko lain yang
dapat memperburuk tingkat keparahan osteoporosis termasuk merokok, aktivitas fisik,
penggunaan prednison dan obat lain, dan gizi buruk. Pada laki-laki, semua faktor risiko nonhormon di atas juga berpengaruh. Namun, kadar testosteron rendah juga dapat berhubungan
dengan fraktur kompresi.
Gagal ginjal dan gagal hati keduanya terkait dengan osteopenia. Kekurangan gizi dapat
menurunkan remodeling tulang dan meningkatkan osteopenia. Akhirnya, genetika juga
memainkan peran dalam pengembangan fraktur kompresi, risiko osteoporosis juga dapat
dilihat dari riwayat keluarga dengan keluhan serupa.
Keganasan dapat bermanifestasi awalnya sebagai fraktur kompresi. Kanker yang paling
umum di tulang belakang adalah metastasis. Keganasan khas yang bermetastasis ke tulang
14

belakang sel ginjal, prostat, payudara, paru-paru dan, meskipun jenis lainnya dapat
bermetastasis ke tulang belakang. 2 hal keganasan tulang primer paling umum adalah
multipel myeloma dan limfoma.
Infeksi yang menghasilkan osteomyelitis dapat juga mengakibatkan fraktur kompresi.
Biasanya, organisme yang paling umum dalam infeksi kronis adalah stafilokokus atau
streptokokus. Tuberkulosis bisa terjadi pada tulang belakang dan disebut penyakit Pott.

Patofisiologi
Tulang belakang merupakan satu kesatuan yang kuat yang diikat oleh ligamen di depan dan
di belakang,

serta

dilengkapi diskus intervertebralis

yang mempunyai daya absorpsi

terhadap tekanan atau trauma yang memberikan sifat fleksibilitas dan elastis. Semua trauma
tulang belakang harus dianggap suatu trauma yang hebat, sehingga sejak awal pertolongan
pertama dan transportasi ke rumah sakit penderita harus secara hati-hati. Trauma pada tulang
belakang dapat mengenai :
a. Jaringan lunak pada tulang belakang, yaitu ligamen, diskus dan faset.
b. Tulang belakang sendiri
c. Sumsum tulang belakang (medulla spinalis)
Mekanisme trauma diantaranya :
a. Fleksi
Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada vertebra.
Vertebra mengalami tekanan terbentuk remuk yang dapat menyebabkan kerusakan atau tanpa
kerusakan ligamen posterior. Apabila terdapat kerusakan ligamen posterior, maka fraktur
bersifat tidak stabil dan dapat terjadi subluksasi.

b. Fleksi dan rotasi


15

Trauma jenis ini merupakan trauma fleksi yang bersama-sama dengan rotasi. Terdapat strain
dari ligamen dan kapsul, juga ditemukan fraktur faset. Pada keadaan ini terjadi
pergerakan ke depan/ dislokasi vertebra diatasnya. Semua fraktur dislokasi bersifat tidak
stabil.

c. Kompresi vertikal (aksial)


Suatu trauma vertikal yang secara langsung mengenai vertebra yang akan menyebabkan
kompresi aksial. Nukleus pulposus akan memecahakan permukaan serta badan vertebra
secara vertikal. Material diskus akan masuk dalam badan vertebra dan menyebabkan
vertebra menjadi rekah (pecah). Pada trauma ini elemen posterior masih intak sehingga
fraktur yang terjadi bersifat stabil.

d. Hiperekstensi atau retrofleksi


Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan ekstensi.
Keadaan ini sering ditemukan pada vertebra servikal dan jarang pada vertebra torakolumbal.
Ligamen anterior dan diskus dapat mengalami kerusakan atau terjadi fraktur pada arkus
neuralis. Fraktur ini biasanya bersifat stabil.

16

e. Fleksi lateral
Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan menyebabkan fraktur
pada komponen lateral yaitu pedikel, foramen vertebra dan sendi faset.

Pembagian trauma vertebra menurut BEATSON (1963) membedakan atas 4 grade:


a. Grade I

Simple Compression Fraktur

b. Grade II

Unilateral Fraktur Dislocation

c. Grade III

Bilateral Fraktur Dislocation

d. Grade IV

Rotational Fraktur Dislocation

Dengan adanya penekanan/ kompresi yang berlangsung lama

menyebabkan

jaringan

terputus akibatnya daerah disekitar fraktur dapat mengalami edema atau hematoma.
Kompresi akibatnya sering menyebabkan iskemia otot. Gejala dan tanda yang menyertai
peningkatan tekanan kompartemental mencakup nyeri, kehilangan sensasi dan paralisis.
Hilangnya tonjolan tulang yang normal, pemendekan atau pemanjangan tulang dan
kedudukan yang khas untuk dislokasi tertentu menyebabkan terjadinya perubahan bentuk
(deformitas).
Trauma dapat mengakibatkan cedera pada medula spinalis secara langsung dan tidak
langsung. Fraktur pada tulang belakang yang menyebabkan instabilitas pada tulang belakang
adalah penyebab cedera pada medulla spinalis secara tidak langsung. Apabila trauma terjadi
di bawah segmen cervical dan medula spinalis tersebut mengalami kerusakan sehingga akan
berakibat terganggunya distribusi persarafan pada otot-otot yang disarafi dengan manifestasi
kelumpuhan otot-otot intercostal, kelumpuhan pada otot-otot abdomen dan otot-otot pada
kedua anggota gerak bawah serta paralisis sfingter pada uretra dan rektum. Distribusi
persarafan yang terganggu mengakibatkan terjadinya gangguan sensoris pada regio yang
disarafi oleh segmen yang cedera tersebut.

17

Klasifikasi derajat kerusakan medulla spinalis :


a. Frankel A = Complete, fungsi motoris dan sensoris hilang sama sekali di bawah level lesi.
b. Frankel B = Incomplete, fungsi motoris hilang sama sekali, sensoris masih tersisa di
bawah level lesi.
c. Frankel C = Incomplete, fungsi motris dan sensoris masih terpelihara tetapi tidak
fungsional.
d. Frankel D = Incomplete, fungsi sensorik dan motorik masih terpelihara dan fungsional.
e. Frankel E = Normal, fungsi sensoris dan motorisnya normal tanpa deficit neurologisnya.

Manifestasi Klinis
Fraktur kompresi biasanya bersifat insidental, menunjukkan gejala nyeri tulang belakang
ringan sampai berat. Dapat mengakibatkan perubahan postur tubuh karena terjadinya
kiposis dan skoliosis. Pasien juga menunjukkan gejala-gejala pada abdomen seperti rasa
perut tertekan, rasa cepat kenyang, anoreksia dan penurunan berat badan. Gejala pada
sistem pernafasan dapat terjadi akibat berkurangnya kapasitas paru.
Hanya sepertiga kasus kompresi vertebra yang menunjukkan gejala. Pada saat fraktur
terasa nyeri, biasanya dirasakan seperti nyeri yang dalam pada sisi fraktur. Jarang sekali
menyebabkan kompresi pada medulla spinalis, tampilan klinis menunjukkan gejala nyeri
radikuler yang nyata. Rasa nyeri pada fraktur disebabkan oleh banyak gerak, dan
pasien biasanya merasa lebih nyaman dengan beristirahat. Banyak pasien yang mengalami
fraktur kompresi vertebra akan menjadi tidak aktif, dengan berbagai alasan antara lain rasa
nyeri akan berkurang dengan terlentang, takut jatuh sehingga terjadi patah tulang lagi.
Sehingga kurang aktif atau malas bergerak pada akhirnya akan mengakibatkan semakin
buruknya kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
Apabila kerusakan tulang belakang setinggi vertebra L1-L2 mengakibatkan sindrom konus
medullaris. Konus medullaris adalah ujung berbentuk kerucut dari sumsum tulang belakang.
Normalnya terletak antara ujung vertebra torakalis (T-12) dan awal dari vertebra lumbalis (L1), meskipun kadang-kadang konus medullaris ditemukan antara L-1 dan L-2. Saraf yang
melewati konus medullaris mengontrol kaki, alat kelamin, kandung kemih, dan usus. Gejala
18

umum termasuk rasa sakit di punggung bawah, anestesi di paha bagian dalam, pangkal paha;
kesulitan berjalan, kelemahan di kaki, kurangnya kontrol kandung kemih; inkontinensia alvi,
dan impotensi.

a. Gangguan motorik
Cedera medula spinalis yang baru saja terjadi, bersifat komplit dan terjadi kerusakan sel-sel
saraf pada medulla spinalisnya menyebabkan gangguan arcus reflek dan flacid paralisis dari
otot-otot yang disarafi sesuai dengan segmen-segmen medulla spinalis yang cedera. Pada
awal kejadian akan mengalami spinal shock yang berlangsung sesaat setelah kejadian sampai
beberapa hari bahkan sampai enam minggu. Spinal shock ini ditandai dengan hilangnya
reflek dan flacid. Lesi yang terjadi di lumbal menyebabkan beberapa otot-otot anggota gerak
bawah mengalami flacid paralisis.
b. Gangguan sensorik
Pada kondisi paraplegi salah satu gangguan sensoris yaitu adanya paraplegic pain dimana
nyeri tersebut merupakan gangguan saraf tepi atau sistem saraf pusat yaitu sel-sel yang ada di
saraf pusat mengalami gangguan. Selain itu kulit dibawah level kerusakan akan mengalami
anaestesi, karena terputusnya serabut-serabut saraf sensoris.
c. Gangguan bladder dan bowel
19

Pada defekasi, kegiatan susunan parasimpatetik membangkitkan kontraksi otot polos sigmoid
dan rectum serta relaksasi otot spincter internus. Kontraksi otot polos sigmoid dan rectum itu
berjalan secara reflektorik. Impuls afferentnya dicetuskan oleh ganglion yang berada di dalam
dinding sigmoid dan rectum akibat peregangan, karena penuhnya sigmoid dan rectum dengan
tinja. Defekasi adalah kegiatan volunter untuk mengosongkan sigmoid dan rectum.
Mekanisme defekasi dapat dibagi dalam dua tahap. Pada tahap pertama, tinja didorong ke
bawah sampai tiba di rectum kesadaran ingin buang air besar secara volunter, karena
penuhnya rectum kesadaran ingin buang air besar timbul. Pada tahap kedua semua kegiatan
berjalan secara volunter. Spincter ani dilonggarkan dan sekaligus dinding perut
dikontraksikan, sehingga tekanan intra abdominal yang meningkat mempermudah
dikeluarkannya tinja. Jika terjadi inkontinensia maka defekasi tak terkontrol oleh keinginan.
d. Gangguan fungsi seksual
Pasien pria dengan lesi tingkat tinggi untuk beberapa jam atau beberapa hari setelah cidera.
Seluruh bagian dari fungsi seksual mengalami gangguan pada fase spinal shock. Kembalinya
fungsi sexual tergantung pada level cidera dan komplit/tidaknya lesi. Untuk dengan lesi
komplet diatas pusat reflek pada konus, otomatisasi ereksi terjadi akibat respon lokal, tetapi
akan terjadi gangguan sensasi selama aktivitas seksual. Pasien dengan level cidera rendah
pusat reflek sakral masih mempunyai reflex ereksi dan ereksi psikogenik jika jalur simpatis
tidak mengalami kerusakan, biasanya pasien mampu untuk ejakulasi, cairan akan melalui
uretra yang kemudian keluarnya cairan diatur oleh kontraksi dari internal bladder sphincter.
Kemampuan fungsi seksual sangat bervariasi pada pasien dengan lesi tidak komplit,
tergantung seberapa berat kerusakan pada medula spinalisnya. Gangguan sensasi pada penis
sering terjadi dalam hal ini. Masalah yang terjadi berhubungan dengan lokomotor dan
aktivitas otot secara volunter.

Diagnosis
1. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan dengan cara pasien berdiri, sehingga tanda-tanda
osteoporosis seperti kiposkoliosis akan lebih tampak. Kemudian pemeriksaan dilakukan
dengan menekan vertebra dengan ibu jari mulai dari atas sampai kebawah yaitu pada
prosesus spinosus. Fraktur kompresi vertebra dapat terjadi mulai dari oksiput sampai
20

dengan sacrum, biasanya terjadi pada region pertengahan torak (T7-T8) dan pada
thorakolumbal junction. Ulangi lagi pemeriksaan sampai benar-benar ditemukan lokasi
nyeri yang tepat. Nyeri yang berhubungan dengan pemeriksaan palpasi vertebra mungkin
disebabkan oleh adanya fraktur kompresi vertebra.
Adanya deformitas pada tulang belakang tidak mengindikasikan adanya fraktur. Jika
tidak ditemukan nyeri yang tajam, kemungkinan hal tersebut merupakan suatu kelainan
tulang belakang yang berkaitan dengan umur. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan
dengan membantu pasien melakukan gerakan fleksi dan ekstensi pada tulang belakang,
gerakan ini akan menyebabkan rasa nyeri yang disebabkan oleh adanya fraktur kompresi
vertebra. Spasme otot atau kekakuan otot dapat terjadi sebagai akibat dari kekuatan otot
melawan gravitasi pada bagian anterior dari vertebra. Pemeriksaan neurologis perlu
dilakukan. Tidak jarang pada kasus osteomielitis mempunyai gejala yang mirip dengan
fraktur kompresi vertebra.

2. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu :
a. Rontgenography : pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat tulang vertebra
untuk melihat fraktur dan pergeseran tulang vertebra

Fraktur Kompresi Vertebra Lumbal 1

b. Magnetic Resonance Imaging : pemeriksaan ini memberi informasi detail mengenai


jaringan lunak di daerah vertebra. Gambaran yang akan dihasilkan adalah 3 dimensi.
21

MRI sering digunakan untuk mengetahui kerusakn jaringan lunak pada ligament dan
diskus intervertebralis dan menilai cedera medulla spinalis

MRI Fraktur Kompresi Lumbal 1


c. CT- Scan
CT scan sangat berguna dalam menggambarkan adanya fraktur dan dapat memberikan
informasi jika tentang adanya kelainan densitas tulang. CT scan dan MRI juga sangat penting
dalam menentukan diferensial diagnosis karena adanya penyempitan kanalis spinal, dan
komposisi spesifik vertebra dapat digambarkan.
d. Single-Photon Emission Computed Tomography (SPECT)
Dapat juga digunakan dalam menentukan adanya fraktur dan tingkat adanya osteoporosis
karena kemampuannya dalam menggambarkan densitas tulang.
e. Scintigraphy
Merupakan suatu metode diagnostik yang menggunakan deteksi radiasi sinar gamma untuk
menggambarkan kondisi dari jaringan atau organ, juga merupakan metode yang penting
untuk memprediksikan hasil (outcome) dari beberapa teknik operasi.

Penatalaksanaan

22

a. Nyeri akut fraktur kompresi vertebra


Jika pada pasien tidak ditemukan kelainan neurologis, pengobatan pada pasien dengan akut
fraktur harus menekankan pada pengurangan rasa nyeri, dengan pembatasan bedrest,
penggunaan analgetik, brancing dan latihan fisik.
1) Menghindari bedrest terlalu lama
Bahaya dari bedrest yang terlalu lama pada orang tua adalah, meningkatkan kehilangan
densitas tulang, deconditioning, thrombosis, pneumonia, ulkus dekubitus, disorientasi dan
depresi.
2) Analgetik
Analgetik digunakan untuk mengurangi rasa nyeri, biasa diberikan sebagai terapi awal untuk
menghindari dari bedrest yang terlalu lama.
3) Calcitonin, diberikan secara subkutan, intranasal, atau perrektal mempunyai efek
analgetik pada fraktur kompresi yang disebabkan oleh osteoporosis dan pasien dengan
nyeri tulang akibat metastasis.
4) Bracing
Bracing merupakan terapi yang biasa dilakukan pada manegemen akut non operatif. Ortose
membantu dalam mengontrol rasa nyeri dan membantu penyembuhan dengan menstabilkan
tulang belakang. Dengan mengistirahatkan pada posisi fleksi, maka akan mengurangi takanan
pada kolumna anterior dan rangka tulang belakang.Bracing dapat digunakan segera, tetapi
hanya dapat digunakan untuk dua sampai tiga bulan. Terdapat
beberapa tipe ortose yang tersedia untuk pengobatan.
5) Vertebroplasty
Vertebroplasty dilakukan dengan menempatkan jarum biopsy tulang belakang kedalam
vertebra yang mengalami kompresi dengan bimbingan fluoroscopy atau computed
tomography. Kemudian diinjeksikan Methylmethacrylate kedalam tulang yang mengalami
kompresi. Prosedur ini dapat menstabilkan fraktur dan megurangi rasa nyeri dengan cepat
yaitu pada 90% 100% pasien. Tetapi prosedur ini tidak dapat memperbaiki deformitas yang
terjadi pada tulang belakang.
23

Teknik Vertebroplasty
6) Kypoplasty
Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan jarum yang berisikan tampon kedalam tulang
yang mengalami fraktur. Insersi jarum tersebut akan membentuk suatu kavitas pada tulang
vertebra. Kemudian kavitas tersebut diisi dengan campuran methylmetacrylate dibawah
tekanan rendah.

Teknik Kypoplasty

b. Penatalaksanaan nyeri kronis


Nyeri kronis umumnya biasa dialami oleh pasien dengan multipel fraktur, penurun
tinggi badan, dan kehilangan densitas tulang. Pada pasien-pasien ini, sangat dianjurkan
untuk tetap aktif melakukan pelemasan otot dan program peregangan, seperti program yang
berdampak ringan seperti berjalan dan berenang. Sebagai tambahan obat penghilang rasa
sakit, pemeriksaan nonfarmakologis seperti stimulasi saraf listrik transkutaneus, aplikasi
panas dan dingin, atau penggunaan bracing, dapat menghilangkan rasa sakit sementara.
Aspek psikologis dari rasa nyeri yang kronis dan kehilangan fungsi fisiologis harus
diterangkan dalam konseling, jika perlu, dapat diberikan antidepresan.
c. Pencegahan fraktur tambahan

24

1) Sebagian besar pasien dengan fraktur akibat osteoporosis akut harus diberikan
terapi osteoporosis secara agresif.
2) Pemeriksaan bone densitometry sebaiknya dilakukan pada pasien dengan fraktur
kompresi dan sebelumnya diduga mengalami kehilangan massa tulang.
3) National Osteoporosis Foundation menganjurkan semua wanita

yang mengalami

fraktur spiral dan densitas mineral tulang harus diberikan terapi seperti
osteoporosis.
4) Diet

suplemen

vitamin

dan

kalsium

harus

optimal.

Bisphosponates

(alendronate, risendronate) mengurangi insidensi terjadinya fraktur vertebra baru


sampai lebih dari 50%.
5) Raloxifene,

merupakan

modulator

estrogen

selektif,

menunjukkan

dapat

mengurangi terjadi fraktur vertebra 65% pada tahun pertama dan sekitar 50%
pada tahun ketiga.
6) Kalsitonin menunjukkan penurunan resiko terjadinya fraktur vertebra baru sekitar 1
dari 3 wanita yang mengalami fraktur vetebra.
7) Teriparatide (fortoe), merupakan preparat hormon paratiroid rekombinan diberikan
secara subkutan. Obat ini juga menunjukkan rendahnya resiko terjadinya fraktur
vertebra dan meningkatkan densitas tulang pada wanita postmenopause dengan
osteoporosis. Obat ini bekerja pada osteoblast untuk menstimulasi pembentukan
tulang baru.

Komplikasi
Apakah fraktur kompresi vertebra menunjukkan gejala atau tidak, komplikasi jangka
panjangnya sangat penting. Konsekuensinya dapat dikategorikan sebagai biomekanik,
fungsional, dan psikologis.
a. Biomekanik
Pada beberapa pasien yang mengalami pemendekan segmen torakolumbal yang signifikan,
costa bagian terbawah akan bersandar pada pevis, menyebabkan terjadinya abdominal
25

discomfort. Gejala-gejala pada gangguan abdomen dapat berupa anoreksia yang dapat
mengakibatkan penurunan berat badan, terutama

pada

pasien

yang berusia lanjut.

Konsekuensi pada paru akibat adanya fraktur kompresi pada vertebra dan kyposis umumnya
ditandai dengan penyakit paru restriktif dengan penurunan kapasitas vital paru. Dalam
persamaan, setiap fraktur menurunkan kapasitas vital 9%. Meningkatkan resiko terjadinya
fraktur. Karena terjadinya kyposis,

maka

beban berlebih akan

ditopang

oleh tulang

disekitarnya, ditambah lagi dengan adanya osteoporosis semakin meningkatkan resiko


terjadinya fraktur. Adanya satu atau lebih vertebra mengalami fraktur kompresi semakin
meningkatkan adanya fraktur tambahan lima kali lipat dalam satu tahun.
b. Fungsional
Pasien yang mengalami fraktur kompresi memiliki level yang lebih rendah dalam performa
fungsional

dibandingkan

dengan

kontrol,

lebih

banyak membutuhkan pembantu,

pengalaman lebih sering mengalami sakit saat bekerja, dan mengalami kesulitan dalam
menjalani aktivitas sehari-hari. Penelitian terbaru pada pasien-pasien ini memiliki nilai
yang

rendah

pada

indeks

kulalitas

hidup

yang berhubungan dengan kesehatan

berdasarkan fungsi fisik, status emosi, gejala klinis dan keseluruhan performa fungsional.
Oleh karena itu, banyak pasien yang mengalami fraktur kompresi vertebra akan
menjadi tidak aktif, dengan berbagai alasan antara lain rasa nyeri akan berkurang dengan
terlentang, takut jatuh sehingga terjadi patah tulang lagi. Sehingga kurang aktif atau malas
bergerak pada akhirnya akan mengakibatkan semakin buruknya kemampuan dalam
melakukan aktifitas sehari-hari.
c. Psikologis
Kejadian depresi meningkat sampai 40% pada pasien yang menderita fraktur kompresi
vertebra, akibat nyeri kronis, perubahan bentuk tubuh, detorientasi dalam kemampuan untuk
merawat diri sendiri, dan akibat bedrest yang lama. Pasien yang mengalami depresi biasanya
yang mengalami lebih dari satu fraktur dan akan menjadi cepat tua dan terisolasi secara
sosial

26

Prognosis
Nyeri dan fraktur yang dialami akan membaik dengan dukungan terapi
farmakologis dan farmakologis, namun dengan semakin bertambahnya usia, fungsi dan
struktur fisiologi tulang akan semakin menurun, diperlukan upaya kewaspadaan agar tetap
menjaga stabilitas tulang belakang dan pencegahan trauma pada usia lanjut.

Pencegahan
a. Hindari aktifitas fisik berat
b. Olah raga seperti jogging dan berjalan cepat
c. Jaga asupan kalsium (sayuran hijau, susu tinggi kalsium dll)
d. Hindari defisiensi vitamin D
e. Nutrisi dengan diet tinggi protein
f. Berjemur pada pagi dan sore hari
g. Memperhatikan

lingkungan

dan

berbagai

penyebab

untuk

menghindari berulangnya jatuh

27

DAFTAR PUSTAKA
1. Andrew L Sherman, MD, MS; Chief Editor: Rene Cailliet, MD. Lumbar Compression
Fracture.

(diakses

tanggal

17

Juli

2014).

Diunduh

dari

http://emedicine.medscape.com/article/309615-overview
2. Apley graham and Solomon Louis. Ortopedi Fraktur System Apley; edisi ketujuh.
Jakarta: Widya medika, 1995.
3. Aron B, Walter CO. Vertebral compreesion fractures : treatment and evaluation
(serial

online)

2006

diakses

10

April

2012);

Diunduh

dari:

URL:

http://bjr.birjournals.org/cgi/reprint/75/891/207.pdf.
4. Hanna J, Letizia M. Kyphoplasty: A treatment for osteoporotic vertebral
compression fractures. nursing journal center (serial online) 2007 ( diakses 10 April
2012); Dunduh dari: URL: http://www.nursingcenter.com/library/journalarticle.asp?
article_id=755899.
5. Pearce, Evelyn C., Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama. 2006. Hal 89
6. Philips W. Ballinger, M.S., R.T.(R). (1995), Merrills Atlas of Radiographic Positions
and Radiologic Prosedures. Ohio : Mosby-Year Book.
7. Rasjad, C. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. Jakarta : PT. Yarsif Watampone. 2007.
8. Young W. Spinal cord injury level and classification (serial online) 2000 (diakses 10
April

2012);

Diunduh

dari:

URL:

http://www.neurosurgery.ufl.edu/Patients/fracture.shtml

28