Anda di halaman 1dari 27

Case Report

Fraktur Kompresi a/r Thoracal 12 Lumbal 1


(frankle A) dengan Defisit Neurologis

Disusun oleh :
Siti Noor Fadhila (110.2009.269)
Husna (110.2011.120)
Ratna Murni (110.2011.223)

Dokter Pembimbing :
dr. H. Husodo DA, Sp.OT K-Spine

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS BAGIAN


ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RSUD dr. SLAMET GARUT
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Fraktur atau sering disebut patah tulang adalah terputusnya kontinuitas
jaringan tulang dan atau tulang rawan yang penyebabnya dapat dikarenakan penyakit
pengeroposan tulang diantaranya penyakit yang sering disebut osteoporosis, biasanya
dialami pada usia dewasa dan dapat juga disebabkan karena kecelakaan yang tidak
terduga (Masjoer, A, 2000). Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur
tulang. Patahan tadi mungkin terlebih dari suatu retakan, suatu pengisutan atau
primpilan korteks; biasanya patahan lengkap dan fragmen tulang bergeser. Kalau kulit
diatasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tetutup (atau sederhana) kalau kulit
atau salah satu dari rongga tubuh tertembus keadaan ini disebut fraktur terbuka (atau
compound) yang cendrung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi (A,Graham,A &
Louis, S, 2000). Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiridan
jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu
lengkap atau tidak lengkap (Price, A dan L. Wilson, 2003)
Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak
dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah
menetapkan decade ini (2000-2010) menjadi dekade tulangdan persendian. Penyebab
fraktur terbanyak adalah karena kecelakaan lalulintas. Kecelakaan lalulintas ini, selain
menyebabkan fraktur, menurut WHO, juga menyebabkan kematian 1,25 juta orang
setiap tahunnya, dimana sebagian besar korbannya adalah remaja atau dewasa muda.
Negara Indonesia merupakan Negara berkembang dan menuju industrilisasi
tentunya akan mempengaruhi peningkatan mobilisasi masyarakat yang meningkat
otomatis terjadi peningkatan penggunaan alat transportasi / kendaraan bermotor
khususnya bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan. Sehingga menmbah
kesemerautan arus lalulintas. Arus lalulintas yang tidak teratur dapat meningkatkan
kecendrungan terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor. Dan kecelakaan juga
banyak terjadi pada arus mudik dan arus balik hari raya idul fitri, kecelakaan tersebut
sering kali menyebabkan cidera tulang atau fraktur (Kompas. Com, 2008).
Dari jenis-jenis fraktur yang sering terjadi adalah fraktur femur, fraktur femur
mempunyai insiden yang cukup tinggi diantara jenis-jenis patah tulang. Umumnya
fraktur femur terjadi pada batang femur 1/3 tengah. Fraktur femur lebih sering terjadi
2

pada laki-laki dari pada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering
berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau kecelakaan (Masjoer, A, 2000).
Penderita fraktur dengan tingkat pendidikan rendah cendrung menunjukan
adanya respon cemas yang berlebihan mengingat keterbatasan mereka dalam
memahami proses penyembuhan dari kondisi fraktur yang dialaminya tetapi sebagian
besar penelitian tidak menunjukan adanya korelasi kuat antara tingkat pendidikan
dengan kecemasan penderita fraktur. Respon cemas yang terjadi pada penderita
fraktur sangat berkaitan sekali dengan mekanisme koping yang dimilikinya,
mekasnisme koping yang baik akan membentuk respon psikologis yang baik, respon
psikologis yang baik yang berperan dalam menunjang proses kesembuhan (Depkes
RI, 2008).
Penyebab dari fraktur femur terbagi menjadi dua bagian yaitu fraktur fisiologis
dan patologis. Fraktur fisiologis ini terjadi akibat kecelakaan, olahraga, benturan
benda dan trauma. Kejadian ini banyak ditemukan pada dewasa muda terutama pada
laki-laki umur 45 tahun kebawah sedangkan fraktur patologis terjadi pada daerah
tulang yang lemah oleh karena tumor, osteoporosis, osteomielitis,osteomalasia dan
rakhitis. Kejadian ini banyak ditemukan pada orang tua terutama perempuan umur 60
tahun keatas (Rasjad,C, 2007).
Fisioterapi

berperan untuk mengembalikan gerak dan fungsional

pada

kondisi di atas. Menggunakan modalitas fisioterapi diharapkan dapat membantu


dalam proses penyembuhan atau membantu pasien dapat beraktifitas secaranormal
kembali, sehingga masalah yang dialami penderita dapat ditangani. Modalitas terapi
latihan pada pasca bedah fracture femur 1/3 distal bermanfaat untuk mencegah
komplikasi yang mungkin timbul seperti yang disampaikan penulis di atas, dengan
terapi latihan mengembalikan gerak dan fungsi sehingga pasien dapat beraktifitas
kembali.

BAB II
LAPORAN KASUS
I.

II.

Identitas
Nama
Umur
Jenis kelamin
Status
Suku
Agama
No. CM
Alamat
Tanggal masuk RS
Ruangan

: Tn. E
: 62 tahun
: Laki-laki
: Menikah
: Sunda
: Islam
: 81-13-xx
: Cibiuk
: 29 Oktober 2015
: Topaz

Anamnesis (Autoanamnesis tanggal 1 November 2015)


Keluhan Utama :
Tidak bisa berjalan
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang ke RSU dr. Slamet Garut dengan keluhan tidak bisa berjalan
sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan tidak bisa berjalan muncul akibat jatuh dari
ketinggian 5 meter di sebuah musholla di Jakarta saat pasien bekerja sebagai
kuli bangunan. Pasien mengaku bisa menggerakkan kedua kaki dan tangannya
namun saat berdiri, kedua kaki terasa lemas dan pasien langsung terjatuh. Saat
kejadian pasien terjatuh dengan posisi duduk, tidak terkena benda tajam saat
terjatuh. Pasien tidak mengeluh adanya pingsan, nyeri kepala hebat, muntah
menyembrot

dan perdarahan. Setelah terjatuh, pasien ingin bangun dari

duduknya, namun tidak bisa karena kaki terasa sangat lemas. Riwayat kepala
terbentur disangkal pasien.
Pasien juga mengeluhkan kedua kaki dan tangannya terasa baal. Bila
diberikan rangsanga berupa cubitan tidak terasa apa-apa. Nyeri pada punggung
bagian belakang disangkal pasien. Pasein juga mnegeluh tidak bisa menahan
buang air kecilnya. Keluhan nyeri saat bak, bak berpasir, bak berdarah, bak
menetes disangkal pasien. Pasien juga mengeluh tidak bisa menahan buang air
besarnya, tanpa ia sadari ia telah bab dan terdapat feses di popoknya. Riwayat
bab berdarah, menceret dan bab kecil-kecil seperti kotoran kambing disangkal
pasien.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat stroke disangkal pasien
Riwayat terjatuh dari ketinggian sebelumnya disangkal pasien
4

Riwayat penyakit keluarga


Riwayat penyakit serupa di sangkal
Riwayat pengobatan
Riwayat mengonsumsi OAT disangkal pasien
Riwayat kebiasaan
Pasien sering bekerja berat karna profesinya sebagi kuli bangunan.
Riwayat merokok diakui pasien saat pasien berusia 20 tahun.
III.

Pemeriksaan Fisik
Status generalis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Status gizi
: Baik
Vital sign : TD : 160/90 mmHg
Nadi : 72 x/menit
RR : 20 x/ menit
S
: 36,5 C
Kepala : Normocephal
Mata
: Conjunctiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, pupi bulat isokor,
refleks pupil +/+ normal
Leher : Trakea ditengah, pembesarak KGB (-)
Thoraks
Cor
: Inspeksi
: Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi
: Ictus cordis teraba pada sela iga 5 linea mid clavicula
sinistra
Perkusi
: Batas jantung normal
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo : Inspeksi
: Pergerakan hemitoraks dalam keadaan statis dan
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
Palpasi

dinamis simetris kanan dan kiri


: Fremitus vocal dan taktil hemitoraks kanan dan kiri
simetris, tidak teraba massa dan tidak ada nyeri tekan
: Sonor di seluruh lapang paru
: Vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/: Tampak datar simetris
: Supel , NT/NL/NK : -/-/- ; hepar dan lien tidak teraba

besar
Perkusi
: Tympani pada seluruh kuadran abdomen
Auskultasi : Bising usus (+ ) normal
Ekstremitas atas
: Akral hangat, edema -/-, sianosis -/Ekstremitas bawah : Akral hangat, edema -/-, sianosis -/Rectal Touche
: Ampulla collaps
IV.

Pemeriksaan Penunjang
5

Hasil Laboratorium (30/10/2015)


Hematologi
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
AST (SGOT)
ALT (SGPT)
Ureum
Kreatinin
GDS

11,8 g/dl
35%
10.330/mm3
276.000/mm3
4,01 juta/mm3
38 U/L
19 U/L
37 mg/dL
0.8 mg/dL
203 mg/dL

13.0 16.0
40 52
3.800 10. 600
150.000 440.000
3.5 6.5
s/d 37
s/d 50
15 - 50
0.7 1.2
<140

V.Resume
Seorang laki-laki 62 tahun datang ke UGD RS dr. Slamet Garut dengan
keluhan tidak bias berjalan, pada hasil rontgen di dapatkan

VI.

Diagnosis Kerja
Fraktur kompresi a/r thoracal 12 lumbal 1 (frankle A) dengan defisit
neurologis

VII.

Penatalaksanaan
Infus RL + Neurosanbe 20 gtt/menit
Inj Mecobalamin 2x1 amp IV
Inj Ketorolac 2x1 amp IV
Inj Metilprednisolon 1x125mg IV
Inj Ranitidin 2x1 amp IV
Operatif : rencana PSSW (posterior dekompresi dan stabilisasi posterior)

VIII. Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam : dubia ad malam

PENDAHULUAN
Tulang belakang manusia adalah pilar/ tiang yang berfungsi menyangga
tubuh dan melindungi medulla spinalis. Pilar tersebut terdiri dari 33 ruas tulang
belakang yang tersusun secara segmental yang terdiri atas 7 ruas tulang servikal, 12
ruas tulang torakal, 5 ruas tulang lumbal, 5 ruas tulang sacral yang menyatu dan 4
ruas tulang ekor. Setiap ruas tulang belakang dapat bergerak satu dengan yang lain
oleh karena adanya dua sendi di daerah posterolateral dan diskus intervertebralis di
anterior.
Vertebra lumbalis merupakan tulang terbesar dan terkuat dari semua tulang
yang berada pada tulang belakang. Vertebra ini dimulai dari lengkung lumbal (yaitu,
persimpangan torakolumbalis) dan meluas ke sacrum. Otot-otot yang melekat pada
vertebra lumbalis menstabilkan tulang belakang. Fraktur vertebra lumbalis disebabkan
oleh trauma berat atau keadaan patologis yang melemahkan tulang. Osteoporosis
adalah penyebab terbanyak terjadinya fraktur kompresi lumbal, terutama pada wanita
pascamenopause. Fraktur vertebra yang diakibatkan oleh osteoporosis dapat terjadi
tanpa trauma yang jelas. Fraktur di daerah kolumna vertebralis sebagai akibat

osteoporosis bisa terjadi dalam bentuk crush (pada wanita pasca menopause)
atau bentuk multiple, seperti baji (wanita/ pria akibat osteoporosis senilis). Gejala
dan tanda sering tidak khas. Kadang- kadang penderita merasa nyeri dengan
derajat ringan sampai sedang. Nyeri akan bertambah bila bergerak atau batuk dan
berkurang pada waktu istirahat. Khas adalah timbulnya bongkok akibat fraktur
daerah pungggung (Dowagers hump),

yang juga berakibat tinggi penderita

berkurang. Nyeri yang timbul bisa disertai nyeri akibat penekanan saraf sesuai
dengan dermatom, karena penekanan saraf daerah tersebut. Nyeri biasanya akan
membaik dalam waktu 2-4 minggu, sedangkan fraktur akan sembuh dalam waktu 3 4 bulan. Namun, pemeriksaan diagnostik menyeluruh selalu dibutuhkan untuk
menyingkirkan keganasan tulang belakang.

FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA


Definisi
Fraktur kompresi (wedge fractures) merupakan kompresi pada bagian
depan corpus vertebralis

yang tertekan dan membentuk patahan irisan. Fraktur

kompresi adalah fraktur tersering yang mempengaruhi kolumna vertebra.

Fraktur ini dapat disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan
posisi terduduk ataupun mendapat pukulan di kepala, osteoporosis dan adanya
metastase kanker dari tempat lain ke vertebra kemudian membuat bagian vertebra
tersebut menjadi lemah dan akhirnya mudah mengalami fraktur kompresi. Vertebra
dengan fraktur kompresi akan menjadi lebih pendek ukurannya daripada ukuran

vertebra sebenarnya. Trauma vertebra yang mengenai medula spinalis dapat


menyebabkan defisit neorologis berupa kelumpuhan.
Anatomi dan Fisiologi
Vertebra secara umum
Vertebra dimulai dari cranium sampai pada apex coccigeus, membentuk
skeleton dari leher, punggung dan bagian utama dari skeleton (tulang cranium, costa
dan sternum). Fungsi vertebra yaitu melindungi medulla spinalis dan serabut syaraf,
menyokong berat badan dan berperan dalam perubahan posisi tubuh. Vertebra terdiri
dari 33 vertebra dengan pembagian 5 regio yaitu 7 cervical, 12 thoracal, 5 lumbal, 5
sacral, 4 coccigeal.

Vertebra manusia terbentuk oleh dua jenis tulang yaitu tipe kortikal dan
kalselus. Tulang kortikal menutupi bagian luar vertebra dan mencakup sekitar 80%
masa tulang. Tulang kalselus berada pada bagian dalam dan mengisi 20% masa tulang
vertebra. Tulang kalselus memberikan bentuk arsitektur dan komponen struktural
dari vertebra. Proses remodeling tulang merupakan proses normal dari aktifitas
osteoklas (menghancurkan) dan osteoblas (pembentukan), 1020% tulang orang
dewasa normal mengalami remodeling setiap tahun.
Pada

osteoporosis, kehilangan masa tulang disebabkan oleh karena

meningkatnya aktifitas osteoklas dan menurunnya aktifitas osteoblas. Kehilangan


masa tulang merununkan keseluruhan integritas dari vertebra dengan pengurangan
densitas dari pusat tulang kalselus.

10

Begitu juga pada orang tua, pengurangan masa tulang disebabkan oleh
penipisan cakram vertebra oleh karena proses degenerasi. Penguranagan massa tulang
ini akan menyebabkan ketidakseimbangan dalam menahan beban antar vertebra end
plates. Kombinasi dari pengurangan massa tulang dan kelemahan tulang vertebra
akibat proses penuaan akan mengakibatkan kelainan bentuk dari vertebra.
Vertebra Lumbalis
Vertebra lumbalis merupakan bagian dari kolumna vertebralis yang terdiri dari
lima ruas tulang dengan ukuran ruasnya lebih besar dibandingkan dengan ruas tulang
leher (vertebra cervical) maupun tulang punggung (vertebra thorakal). Vertebra
lumbalis dapat dibedakan oleh karena tidak adanya bidang untuk persendian dengan
costa. Diantara ruas-ruas vertebra lumbalis tersebut terdapat penengah ruas tulang
yang terdiri atau tersusun dari tulang muda yang tebal dan erat, berbentuk seperti
cincin yang memungkinkan terjadinya pergerakan antara ruas-ruas tulang yang
letaknya sangat berdekatan. Bagian atas dari vertebra lumbalis berbatasan dengan
vertebra torakalis 12, yang persendiannya disebut thoracolumbal joint atau articulatio
thoracolumbalis. dan pada bagian bawahnya berbatasan dengan vertebra sakralis. dan
persendiannya disebut lumbosacral joint atau articulatio lumbosacralis.
Vertebra lumbal adalah satu dari lima rangkaian kolumna vertebralis yang
terletak pada pertengahan tubuh bagian posterior. Pada umumnya vertebra lumbalis
mempunyai bentuk melengkung ke arah depan atau disebut juga lordosis.
Dilihat dari lengkungannya vertebra lumbal termasuk ke dalam vertebra
sekunder, karena lengkungan dari vertebra lumbal tumbuh setelah lahir, yaitu pada
saat seorang anak belajar berjalan pada usia satu sampai satu setengah tahun.
Oleh karena tugasnya menyangga bagian atas tubuh, maka bentuk dari vertebra
lumbalis ini besar dan kuat.
Ciri vertebra lumbalis diantaranya:
a. Corpus besar dan berbentuk ginjal.
b. Pediculus kuat dan mengarah ke belakang.
c. Lamina tebal
d. Foramina vertebrale berbentuk segitiga.
e. Processus transversus panjang dan langsing.
f. Processus spinosus pendek, rata dan berbentuk segiempat dan mengarah ke
belakang.

11

g. Facies articularis processus articularis superior menghadap ke medial dan


facies articularis processus articularis inferior menghadap ke lateral.

Medulla Spinalis
Medulla spinalis terletak di dalam kanalis vertebralis yang diliputi dan luar
oleh duramater, subdural space, arachnoid, subarachnoid dan piamater. Medulla
spinalis dimulai dari atas setinggi foramen magnum sebagai lanjutan dari medulla
oblongata. Medulla spinalis daerah cervical tempat asal plexus brachialis dan di
thoracica bawah dan lumbal tempat asal plexus lumbosacralis terdapat pelebaran
fusiformis yang disebut intumescentia cervicalis dan lumbalis.
Di inferior medulla spinalis meruncing menjadi conus medullaris. Dari puncak
conus ini berjalan turun lanjutan piameter yaitu filum terminale.

Fisiologi Vertebra Lumbalis


Vertebra lumbalis merupakan bagian dari kolumna vertebralis, sehingga fungsi
dari vertebra lumbalis tidak terlepas dari fungsi kolumna vertebralis secara
keseluruhan. Sesuai dengan anatomi vertebra lumbalis yang mempunyai bentuk yang
besar dan kuat, maka fungsi vertebra lumbalis adalah :

12

a. Menyangga tubuh bagian atas dengan perantaraan tulang rawan yaitu


diskus

intervertebralis

yag

lengkungannya

dapat

memberikan

fleksibilitas yang dapat memugkinkan membungkuk ke arah depan


(fleksi) dan kearah belakang (ekstensi), miring ke kiri dan ke kanan
pada vertebra lumbalis.
b. Diskus intervertebralisnya dapat menyerap setiap goncangan yang
terjadi bila sedang menggerakkan berat badan seperti berlari dan
melompat.
c. Melindungi otak dan sumsum tulang belakang dari goncangan.
d. Melindungi saraf tulang belakang dari tekanan-tekanan akibat
melesetnya nukleus pulposus pada diskus intervertebralis. Namun
apabila annulus fibrosus mengalami kerusakan, maka nukleus
pulposusnya dapat meleset dan dapat menyebabkan penekanan pada
akar saraf disekitarnya yang menimbulkan rasa sakit dan ada kalanya
kehilangan kekuatan pada daerah distribusi dari saraf yang terkena.
Epidemiologi
Fraktur kompresi vertebra merupakan jenis fraktur yang sering terjadi dan
merupakan masalah yang serius. Setiap tahun sekitar 700.000 insidensi di Ameika
Serikat, dimana prevalensinya meningkat 25% pada wanita yang berumur diatas 50
tahun. Satu dari dua wanita dan satu dari empat laki-laki berumur lebih dari 50 tahun
menderita osteoporosis berhubungan dengan fraktur. Insidensi fraktur kompresi
vertebra meningkat secara progresif berdasarkan semakin bertambahnya usia, dan
prevalensinya sama antara laki-laki (21,5%) dan wanita (23,5%), yang diukur
berdasarkan suatu studi pemeriksaan radiologi. Meskipun hanya sekitar sepertiga
menunjukkan gejala akut, awalnya semua berhubungan dengan angka yang
signifikan meningkatkan mortalitas dan gangguan fungsional dan psikologis.
Etiologi
Penyebab terjadinya fraktur kompresi vertebra adalah sebagai berikut:
a. Trauma langsung ( direct )

13

Trauma langsung ( direct ) adalah fraktur yang disebabkan oleh adanya


benturan langsung pada jaringan tulang seperti pada kecelakaan lalu lintas, jatuh
dari ketinggian, dan benturan benda keras oleh kekuatan langsung.
b. Trauma tidak langsung ( indirect )
Trauma tidak langsung ( indirect ) adalah fraktur yang bukan disebabkan oleh
benturan langsung, tapi lebih disebabkan oleh adanya beban yang berlebihan pada
jaringan

tulang

atau

otot,

contohnya

seperti

pada

olahragawan

yang

menggunakan hanya satu tangannya untuk menumpu beban badannya.


Trauma tidak langsung bisa disebabkan oleh proses penyakit seperti
osteoporosis, penderita tumor dan infeksi.
Penyebab pokok dari fraktur kompresi lumbal adalah osteoporosis. Pada
wanita, faktor risiko utama untuk osteoporosis adalah menopause, atau defisiensi
estrogen. Faktor risiko lain yang dapat memperburuk tingkat keparahan osteoporosis
termasuk merokok, aktivitas fisik, penggunaan prednison dan obat lain, dan gizi
buruk. Pada laki-laki, semua faktor risiko non-hormon di atas juga berpengaruh.
Namun, kadar testosteron rendah juga dapat berhubungan dengan fraktur kompresi.
Gagal ginjal dan gagal hati keduanya terkait dengan osteopenia. Kekurangan gizi
dapat menurunkan remodeling tulang dan meningkatkan osteopenia. Akhirnya,
genetika juga memainkan peran dalam pengembangan fraktur kompresi, risiko
osteoporosis juga dapat dilihat dari riwayat keluarga dengan keluhan serupa.
Keganasan dapat bermanifestasi awalnya sebagai fraktur kompresi. Kanker
yang paling umum di tulang belakang adalah metastasis. Keganasan khas yang
bermetastasis ke tulang belakang sel ginjal, prostat, payudara, paru-paru dan,
meskipun jenis lainnya dapat bermetastasis ke tulang belakang. 2 hal keganasan
tulang primer paling umum adalah multipel myeloma dan limfoma.
Infeksi yang menghasilkan osteomyelitis dapat juga mengakibatkan fraktur
kompresi. Biasanya, organisme yang paling umum dalam infeksi kronis adalah
stafilokokus atau streptokokus. Tuberkulosis bisa terjadi pada tulang belakang dan
disebut penyakit Pott.
Patofisiologi
Tulang belakang merupakan satu kesatuan yang kuat yang diikat

oleh

ligamen di depan dan di belakang, serta dilengkapi diskus intervertebralis yang


14

mempunyai daya absorpsi terhadap tekanan atau trauma yang memberikan sifat
fleksibilitas dan elastis. Semua trauma tulang belakang harus dianggap suatu trauma
yang hebat, sehingga sejak awal pertolongan pertama dan transportasi ke rumah sakit
penderita harus secara hati-hati. Trauma pada tulang belakang dapat mengenai :
a. Jaringan lunak pada tulang belakang, yaitu ligamen, diskus dan faset.
b. Tulang belakang sendiri
c. Sumsum tulang belakang (medulla spinalis)

Mekanisme trauma diantaranya :


a. Fleksi
Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada
vertebra. Vertebra mengalami tekanan terbentuk remuk yang dapat menyebabkan
kerusakan atau tanpa kerusakan ligamen posterior. Apabila terdapat kerusakan
ligamen posterior, maka fraktur bersifat tidak stabil dan dapat terjadi subluksasi.

b. Fleksi dan rotasi


Trauma jenis ini merupakan trauma fleksi yang bersama-sama dengan rotasi. Terdapat
strain dari ligamen dan kapsul, juga ditemukan fraktur faset. Pada keadaan ini
terjadi pergerakan ke depan/ dislokasi vertebra diatasnya. Semua fraktur dislokasi
bersifat tidak stabil.

c. Kompresi vertikal (aksial)

15

Suatu trauma vertikal yang secara langsung mengenai vertebra yang akan
menyebabkan kompresi aksial. Nukleus pulposus akan memecahakan permukaan
serta badan vertebra secara vertikal. Material diskus akan masuk dalam badan
vertebra dan menyebabkan vertebra menjadi rekah (pecah). Pada trauma ini
elemen posterior masih intak sehingga fraktur yang terjadi bersifat stabil.

d. Hiperekstensi atau retrofleksi


Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan
ekstensi. Keadaan ini sering ditemukan pada vertebra servikal dan jarang pada
vertebra torakolumbal. Ligamen anterior dan diskus dapat mengalami kerusakan
atau terjadi fraktur pada arkus neuralis. Fraktur ini biasanya bersifat stabil.

e. Fleksi lateral
Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan
menyebabkan fraktur pada komponen lateral yaitu pedikel, foramen vertebra dan
sendi faset.
Pembagian trauma vertebra menurut BEATSON (1963) membedakan atas 4 grade:
a. Grade I

Simple Compression Fraktur

b. Grade II

Unilateral Fraktur Dislocation

c. Grade III

Bilateral Fraktur Dislocation

d. Grade IV

Rotational Fraktur Dislocation

Dengan adanya penekanan/ kompresi yang berlangsung lama menyebabkan


jaringan terputus akibatnya daerah disekitar fraktur dapat mengalami edema atau
16

hematoma. Kompresi akibatnya sering menyebabkan iskemia otot. Gejala dan


tanda yang menyertai peningkatan tekanan kompartemental

mencakup

nyeri,

kehilangan sensasi dan paralisis. Hilangnya tonjolan tulang yang normal,


pemendekan atau pemanjangan tulang dan kedudukan yang khas untuk dislokasi
tertentu menyebabkan terjadinya perubahan bentuk (deformitas).
Trauma dapat mengakibatkan cedera pada medula spinalis secara langsung
dan tidak langsung. Fraktur pada tulang belakang yang menyebabkan instabilitas pada
tulang belakang adalah penyebab cedera pada medulla spinalis secara tidak langsung.
Apabila trauma terjadi di bawah segmen cervical dan medula spinalis tersebut
mengalami kerusakan sehingga akan berakibat terganggunya distribusi persarafan
pada otot-otot yang disarafi dengan manifestasi kelumpuhan otot-otot intercostal,
kelumpuhan pada otot-otot abdomen dan otot-otot pada kedua anggota gerak bawah
serta paralisis sfingter pada uretra dan rektum. Distribusi persarafan yang terganggu
mengakibatkan terjadinya gangguan sensoris pada regio yang disarafi oleh segmen
yang cedera tersebut.
Klasifikasi derajat kerusakan medulla spinalis :
a. Frankel A = Complete, fungsi motoris dan sensoris hilang sama sekali di
bawah level lesi.
b. Frankel B = Incomplete, fungsi motoris hilang sama sekali, sensoris masih
tersisa di bawah level lesi.
c. Frankel C = Incomplete, fungsi motris dan sensoris masih terpelihara tetapi
tidak fungsional.
d. Frankel D = Incomplete, fungsi sensorik dan motorik masih terpelihara dan
fungsional.
e. Frankel E = Normal, fungsi sensoris dan motorisnya normal tanpa deficit
neurologisnya.
Manifestasi Klinis
Fraktur kompresi biasanya bersifat insidental, menunjukkan gejala nyeri
tulang belakang ringan sampai berat. Dapat mengakibatkan perubahan postur
tubuh karena terjadinya kiposis dan skoliosis. Pasien juga menunjukkan gejalagejala pada abdomen seperti rasa perut tertekan, rasa cepat kenyang, anoreksia

17

dan penurunan berat badan. Gejala pada sistem pernafasan dapat terjadi akibat
berkurangnya kapasitas paru.
Hanya sepertiga kasus kompresi vertebra yang menunjukkan gejala. Pada
saat fraktur terasa nyeri, biasanya dirasakan seperti nyeri yang dalam pada sisi fraktur.
Jarang sekali menyebabkan

kompresi pada medulla spinalis, tampilan klinis

menunjukkan gejala nyeri radikuler yang nyata. Rasa nyeri pada fraktur
disebabkan oleh banyak gerak, dan pasien biasanya merasa lebih nyaman dengan
beristirahat. Banyak pasien yang mengalami fraktur kompresi vertebra akan
menjadi tidak aktif, dengan berbagai alasan antara lain rasa nyeri akan berkurang
dengan terlentang, takut jatuh sehingga terjadi patah tulang lagi. Sehingga kurang
aktif atau malas bergerak pada akhirnya akan mengakibatkan semakin buruknya
kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
Apabila kerusakan tulang belakang setinggi vertebra L1-L2 mengakibatkan
sindrom konus medullaris. Konus medullaris adalah ujung berbentuk kerucut dari
sumsum tulang belakang. Normalnya terletak antara ujung vertebra torakalis (T-12)
dan awal dari vertebra lumbalis (L-1), meskipun kadang-kadang konus medullaris
ditemukan antara L-1 dan L-2. Saraf yang melewati konus medullaris mengontrol
kaki, alat kelamin, kandung kemih, dan usus. Gejala umum termasuk rasa sakit di
punggung bawah, anestesi di paha bagian dalam, pangkal paha; kesulitan berjalan,
kelemahan di kaki, kurangnya kontrol kandung kemih; inkontinensia alvi, dan
impotensi.

18

a. Gangguan motorik
Cedera medula spinalis yang baru saja terjadi, bersifat komplit dan terjadi kerusakan
sel-sel saraf pada medulla spinalisnya menyebabkan gangguan arcus reflek dan flacid
paralisis dari otot-otot yang disarafi sesuai dengan segmen-segmen medulla spinalis
yang cedera. Pada awal kejadian akan mengalami spinal shock yang berlangsung
sesaat setelah kejadian sampai beberapa hari bahkan sampai enam minggu. Spinal
shock ini ditandai dengan hilangnya reflek dan flacid. Lesi yang terjadi di lumbal
menyebabkan beberapa otot-otot anggota gerak bawah mengalami flacid paralisis.
b. Gangguan sensorik
Pada kondisi paraplegi salah satu gangguan sensoris yaitu adanya paraplegic pain
dimana nyeri tersebut merupakan gangguan saraf tepi atau sistem saraf pusat yaitu
sel-sel yang ada di saraf pusat mengalami gangguan. Selain itu kulit dibawah level
kerusakan akan mengalami anaestesi, karena terputusnya serabut-serabut saraf
sensoris.
c. Gangguan bladder dan bowel
Pada defekasi, kegiatan susunan parasimpatetik membangkitkan kontraksi otot polos
sigmoid dan rectum serta relaksasi otot spincter internus. Kontraksi otot polos
sigmoid dan rectum itu berjalan secara reflektorik. Impuls afferentnya dicetuskan oleh
ganglion yang berada di dalam dinding sigmoid dan rectum akibat peregangan, karena
penuhnya sigmoid dan rectum dengan tinja. Defekasi adalah kegiatan volunter untuk
mengosongkan sigmoid dan rectum. Mekanisme defekasi dapat dibagi dalam dua
tahap. Pada tahap pertama, tinja didorong ke bawah sampai tiba di rectum kesadaran
ingin buang air besar secara volunter, karena penuhnya rectum kesadaran ingin buang
air besar timbul. Pada tahap kedua semua kegiatan berjalan secara volunter. Spincter
ani dilonggarkan dan sekaligus dinding perut dikontraksikan, sehingga tekanan intra
abdominal yang meningkat mempermudah dikeluarkannya tinja. Jika terjadi
inkontinensia maka defekasi tak terkontrol oleh keinginan.
d. Gangguan fungsi seksual
Pasien pria dengan lesi tingkat tinggi untuk beberapa jam atau beberapa hari setelah
cidera. Seluruh bagian dari fungsi seksual mengalami gangguan pada fase spinal
shock. Kembalinya fungsi sexual tergantung pada level cidera dan komplit/tidaknya
lesi. Untuk dengan lesi komplet diatas pusat reflek pada konus, otomatisasi ereksi
19

terjadi akibat respon lokal, tetapi akan terjadi gangguan sensasi selama aktivitas
seksual. Pasien dengan level cidera rendah pusat reflek sakral masih mempunyai
reflex ereksi dan ereksi psikogenik jika jalur simpatis tidak mengalami kerusakan,
biasanya pasien mampu untuk ejakulasi, cairan akan melalui uretra yang kemudian
keluarnya cairan diatur oleh kontraksi dari internal bladder sphincter. Kemampuan
fungsi seksual sangat bervariasi pada pasien dengan lesi tidak komplit, tergantung
seberapa berat kerusakan pada medula spinalisnya. Gangguan sensasi pada penis
sering terjadi dalam hal ini. Masalah yang terjadi berhubungan dengan lokomotor dan
aktivitas otot secara volunter.

Diagnosis
1. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan dengan cara pasien berdiri, sehingga tandatanda

osteoporosis

seperti

kiposkoliosis

akan

lebih

tampak.

Kemudian

pemeriksaan dilakukan dengan menekan vertebra dengan ibu jari mulai dari atas
sampai kebawah yaitu pada prosesus spinosus. Fraktur kompresi vertebra dapat
terjadi mulai dari oksiput sampai dengan sacrum, biasanya terjadi pada region
pertengahan torak (T7-T8) dan pada thorakolumbal junction. Ulangi lagi
pemeriksaan sampai benar-benar ditemukan lokasi nyeri yang tepat. Nyeri yang
berhubungan dengan pemeriksaan palpasi vertebra mungkin disebabkan oleh adanya
fraktur kompresi vertebra.
Adanya deformitas pada tulang belakang tidak mengindikasikan adanya fraktur.
Jika tidak ditemukan nyeri yang tajam, kemungkinan hal tersebut merupakan suatu
kelainan tulang belakang yang berkaitan dengan umur. Pemeriksaan selanjutnya
dilakukan dengan membantu pasien melakukan gerakan fleksi dan ekstensi pada
tulang belakang, gerakan ini akan menyebabkan rasa nyeri yang disebabkan oleh
adanya fraktur kompresi vertebra. Spasme otot atau kekakuan otot dapat terjadi
sebagai akibat dari kekuatan otot melawan gravitasi pada bagian anterior dari
vertebra. Pemeriksaan neurologis perlu dilakukan. Tidak jarang pada kasus
osteomielitis mempunyai gejala yang mirip dengan fraktur kompresi vertebra.
2. Pemeriksaan penunjang

20

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu :


a. Rontgenography : pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat tulang
vertebra untuk melihat fraktur dan pergeseran tulang vertebra

Fraktur Kompresi Vertebra Lumbal 1


b. Magnetic Resonance Imaging : pemeriksaan ini memberi informasi detail
mengenai jaringan lunak di daerah vertebra. Gambaran yang akan dihasilkan
adalah 3 dimensi. MRI sering digunakan untuk mengetahui kerusakn jaringan
lunak pada ligament dan diskus intervertebralis dan menilai cedera medulla
spinalis

MRI Fraktur Kompresi Lumbal 1


c. CT- Scan
CT scan sangat berguna dalam menggambarkan adanya fraktur dan dapat
memberikan informasi jika tentang adanya kelainan densitas tulang. CT scan dan MRI
juga sangat penting dalam menentukan diferensial diagnosis karena adanya
penyempitan kanalis spinal, dan komposisi spesifik vertebra dapat digambarkan.
d. Single-Photon Emission Computed Tomography (SPECT)
21

Dapat juga digunakan dalam menentukan adanya fraktur dan tingkat adanya
osteoporosis karena kemampuannya dalam menggambarkan densitas tulang.
e. cintigraphy
Merupakan suatu metode diagnostik yang menggunakan deteksi radiasi sinar
gamma untuk menggambarkan kondisi dari jaringan atau organ, juga merupakan
metode yang penting untuk memprediksikan hasil (outcome) dari beberapa teknik
operasi.

Penatalaksanaan
a. Nyeri akut fraktur kompresi vertebra
Jika pada pasien tidak ditemukan kelainan neurologis, pengobatan pada pasien dengan
akut fraktur harus menekankan pada pengurangan rasa nyeri, dengan pembatasan
bedrest, penggunaan analgetik, brancing dan latihan fisik.
1) Menghindari bedrest terlalu lama
Bahaya dari bedrest yang terlalu lama pada orang tua adalah,
meningkatkan kehilangan densitas tulang, deconditioning, thrombosis,
pneumonia, ulkus dekubitus, disorientasi dan depresi.
2) Analgetik
Analgetik digunakan untuk mengurangi rasa nyeri, biasa diberikan
sebagai terapi awal untuk menghindari dari bedrest yang terlalu lama.
3) Calcitonin, diberikan secara subkutan, intranasal, atau perrektal mempunyai
efek analgetik pada fraktur kompresi yang disebabkan oleh osteoporosis dan
pasien dengan nyeri tulang akibat metastasis.
4) Bracing
Bracing merupakan terapi yang biasa dilakukan pada manegemen akut
non dengan operatif. Ortose membantu dalam mengontrol rasa nyeri dan
membantu

penyembuhan

menstabilkan

tulang

belakang.

Dengan

mengistirahatkan pada posisi fleksi, maka akan mengurangi takanan pada


kolumna anterior dan rangka tulang belakang.Bracing dapat digunakan segera,

22

tetapi hanya dapat digunakan untuk dua sampai tiga bulan. Terdapat beberapa
tipe ortose yang tersedia untuk pengobatan.
5) Vertebroplasty
Vertebroplasty dilakukan dengan menempatkan jarum biopsy tulang
belakang kedalam vertebra yang mengalami kompresi dengan bimbingan
fluoroscopy

atau

computed

tomography.

Kemudian

diinjeksikan

Methylmethacrylate kedalam tulang yang mengalami kompresi. Prosedur ini


dapat menstabilkan fraktur dan megurangi rasa nyeri dengan cepat yaitu pada
90% 100% pasien. Tetapi prosedur ini tidak dapat memperbaiki deformitas
yang terjadi pada tulang belakang.

Teknik Vertebroplasty
6) Kypoplasty
Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan jarum yang berisikan
tampon kedalam tulang yang mengalami fraktur. Insersi jarum tersebut akan
membentuk suatu kavitas pada tulang vertebra. Kemudian kavitas tersebut
diisi dengan campuran methylmetacrylate dibawah tekanan rendah.

Teknik Kypoplasty
b. Penatalaksanaan nyeri kronis
Nyeri kronis umumnya biasa dialami oleh pasien dengan multipel
fraktur, penurun tinggi badan, dan kehilangan densitas tulang. Pada pasienpasien ini, sangat dianjurkan untuk tetap aktif melakukan pelemasan otot dan

23

program peregangan, seperti program yang berdampak ringan seperti berjalan dan
berenang. Sebagai

tambahan obat penghilang

rasa

sakit,

pemeriksaan

nonfarmakologis seperti stimulasi saraf listrik transkutaneus, aplikasi panas dan


dingin, atau penggunaan bracing, dapat menghilangkan rasa sakit sementara. Aspek
psikologis dari rasa nyeri yang kronis dan kehilangan fungsi fisiologis harus
diterangkan dalam konseling, jika perlu, dapat diberikan antidepresan.
c. Pencegahan fraktur tambahan
1) Sebagian besar pasien dengan fraktur akibat osteoporosis akut harus
diberikan terapi osteoporosis secara agresif.
2) Pemeriksaan bone densitometry sebaiknya dilakukan pada pasien dengan
fraktur kompresi dan sebelumnya diduga mengalami kehilangan massa tulang.
3) National Osteoporosis Foundation menganjurkan semua wanita

yang

mengalami fraktur spiral dan densitas mineral tulang harus diberikan


terapi seperti osteoporosis.
4) Diet suplemen vitamin D dan kalsium harus optimal. Bisphosponates
(alendronate, risendronate) mengurangi insidensi terjadinya fraktur vertebra
baru sampai lebih dari 50%.
5) Raloxifene, merupakan modulator estrogen selektif, menunjukkan dapat
mengurangi terjadi fraktur vertebra 65% pada tahun pertama dan sekitar
50% pada tahun ketiga.
6) Kalsitonin menunjukkan penurunan resiko terjadinya fraktur vertebra baru
sekitar 1 dari 3 wanita yang mengalami fraktur vetebra.
7) Teriparatide (fortoe), merupakan preparat hormon paratiroid rekombinan
diberikan secara subkutan. Obat ini juga menunjukkan rendahnya resiko
terjadinya fraktur vertebra dan meningkatkan densitas tulang pada wanita
postmenopause dengan osteoporosis. Obat ini bekerja pada osteoblast
untuk menstimulasi pembentukan tulang baru.
Komplikasi

24

Apakah fraktur kompresi vertebra menunjukkan gejala atau tidak, komplikasi


jangka panjangnya sangat penting. Konsekuensinya dapat dikategorikan sebagai
biomekanik, fungsional, dan psikologis.
a. Biomekanik
Pada beberapa pasien yang mengalami pemendekan segmen torakolumbal
yang signifikan, costa bagian terbawah akan bersandar pada pevis, menyebabkan
terjadinya abdominal discomfort. Gejala-gejala pada gangguan abdomen dapat berupa
anoreksia yang dapat mengakibatkan penurunan berat badan, terutama pada pasien
yang berusia lanjut. Konsekuensi pada paru akibat adanya fraktur kompresi pada
vertebra dan kyposis umumnya ditandai dengan penyakit paru restriktif dengan
penurunan kapasitas vital paru. Dalam persamaan, setiap fraktur menurunkan
kapasitas vital 9%. Meningkatkan resiko terjadinya fraktur. Karena terjadinya
kyposis, maka beban berlebih akan ditopang oleh tulang disekitarnya, ditambah lagi
dengan adanya osteoporosis semakin meningkatkan resiko terjadinya fraktur. Adanya
satu atau lebih vertebra mengalami fraktur kompresi semakin meningkatkan
adanya fraktur tambahan lima kali lipat dalam satu tahun.
b. Fungsional
Pasien yang mengalami fraktur kompresi memiliki level yang lebih rendah
dalam

performa

fungsional

dibandingkan

dengan

kontrol,

lebih

banyak

membutuhkan pembantu, pengalaman lebih sering mengalami sakit saat bekerja, dan
mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Penelitian terbaru pada
pasien-pasien ini memiliki nilai yang rendah pada indeks kulalitas hidup yang
berhubungan dengan kesehatan berdasarkan fungsi fisik, status emosi, gejala klinis
dan keseluruhan performa fungsional. Oleh karena itu, banyak pasien yang
mengalami fraktur kompresi vertebra akan menjadi tidak aktif, dengan berbagai
alasan antara lain rasa nyeri akan berkurang dengan terlentang, takut jatuh sehingga
terjadi patah tulang lagi. Sehingga kurang aktif atau malas bergerak pada akhirnya
akan mengakibatkan semakin buruknya kemampuan dalam melakukan aktifitas
sehari-hari.
c. Psikologis
Kejadian depresi meningkat sampai 40% pada pasien yang menderita fraktur
kompresi vertebra, akibat nyeri kronis, perubahan bentuk tubuh, detorientasi dalam
kemampuan untuk merawat diri sendiri, dan akibat bedrest yang lama. Pasien yang

25

mengalami depresi biasanya yang mengalami lebih dari satu fraktur dan akan
menjadi cepat tua dan terisolasi secara sosial
Prognosis
Nyeri dan fraktur yang dialami akan membaik dengan dukungan terapi
farmakologis dan farmakologis, namun dengan semakin bertambahnya usia,
fungsi

dan struktur fisiologi tulang akan semakin menurun, diperlukan upaya

kewaspadaan agar tetap menjaga stabilitas tulang belakang dan pencegahan trauma
pada usia lanjut.
Pencegahan
a. Hindari aktifitas fisik berat
b. Olah raga seperti jogging dan berjalan cepat
c. Jaga asupan kalsium (sayuran hijau, susu tinggi kalsium dll)
d. Hindari defisiensi vitamin D
e. Nutrisi dengan diet tinggi protein
f. Berjemur pada pagi dan sore hari
g. Memperhatikan lingkungan dan berbagai penyebab untuk menghindari
berulangnya jatuh

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Andrew L Sherman, MD, MS; Chief Editor: Rene Cailliet, MD. Lumbar
Compression Fracture. (diakses tanggal

17 Juli 2014). Diunduh dari

http://emedicine.medscape.com/article/309615-overview
2. Apley graham and Solomon Louis. Ortopedi Fraktur System Apley; edisi
ketujuh. Jakarta: Widya medika, 1995.
3. Aron B, Walter CO. Vertebral compreesion fractures : treatment and
evaluation (serial online) 2006 ( diakses 10 April 2012); Diunduh dari: URL:
http://bjr.birjournals.org/cgi/reprint/75/891/207.pdf.
4. Hanna J, Letizia M. Kyphoplasty: A treatment for osteoporotic vertebral
compression fractures. nursing journal center (serial online) 2007 ( diakses 10
April

2012);

Dunduh

dari:

URL:

http://www.nursingcenter.com/library/journalarticle.asp?article_id=755899.
5. Pearce, Evelyn C., Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama. 2006. Hal 89
6. Philips W. Ballinger, M.S., R.T.(R). (1995), Merrills Atlas of Radiographic
Positions and Radiologic Prosedures. Ohio : Mosby-Year Book.
7. Rasjad, C. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. Jakarta : PT. Yarsif Watampone.
2007.
8. Young W. Spinal cord injury level and classification (serial online) 2000
(diakses

10

April

2012);

Diunduh

dari:

URL:

http://www.neurosurgery.ufl.edu/Patients/fracture.shtml

27