Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Renvoi adalah penunjukkan kembali atau penunjukkan lebih lanjut kaidah-kaidah HPI
dari suatu sistem hukum asing yang ditunjuk oleh kaidah HPI Lex Fori. Mengenai persoalan
renvoi dalam HPI(Hukum Perdata Internasional) Indonesia terdapat perkembangan tertentu.
Dengan nyata dapat dilihat perbedaan pendapat para sarjana / yurisprudensi di Nederland dan
parasarjana / yurisprudensi di Indonesia mengenai persoalan apakah Renvoi ini sebaiknya
diterima atau tidak dalam sistem HPI. Seperti diketahui persoalan Renvoi ini merupakan
pembawaan daripada adanya perbedaan antara pemakaian prinsip nasionalitas dan prinsip
domicilie untuk status personil seseorang dimana kaidah HPI Lex Fori dan kaidah HPI lex
Causae berbeda.
Jika dinyatakan oleh kaidah-kaidah HPI suatu Negara bahwa kaidah-kaidah HPI
Negara lain (X) akan berlaku, apakah yang diartikan dengan istilah kaidah-kaidah Negara
X ini hukum intern Negara X kah (Sachnormen penunjukannya dinamakan
Sachnormverweisung) atau hukum Negara X ini berarti hukum secara keseluruhannya (yakni
kaidah intern juga kaidah HPI nya / Kollisionsnormen penunjukkannya disebut sebagai
Gesamtverweisung). Jika yang pertama diartikan, maka kita bicara tentang penunjukkan
kepada Sachnormen-Sachnormverweisung artinya renvoi ditolak, tetapi jika yang terakhir
adalah yang tepat, maka kita bicara tentang Gesamtverweisung, artinya renvoi diterima. Jika
misalnya menurut ketentuan dari HPI Indonesia, oleh hakim Indonesia telah ditentukan,
bahwa hukum Inggris yang harus diperlakukan untuk mengadili perkara HPI yang
diperiksanya.
Renvoi akan timbul bilamana hukum asing yang ditunjuk lex fori menunjuk kembali
kepada lex fori tadi atau kepada system hukum yang lain. Dengan demikian penunjukkan
kembali dapat dibagi dua, yaitu :
Penunjukkan kembali (simple renvoi atau remmision)
Penunjukkan lebih lanjut atau penunjukkan lebih jauh (transmission atau renvoi at the
second degree)
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah proses pelaksanaan renvoi dalam suatu kasus?
2. Apakah alasan-alasan yang digunakan oleh lex fori dan lex causae dalam pelaksanaan
renvoi tersebut?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kasus Renvoi
Merujuk kepada renvoi (remission) yang di putus dengan yurisprudensi oleh Raad Van
Justitie Padang pada Tahun 1939 sebagai berikut :
Putusan RvJ Padang 26-10-1939, T. 151:
Seorang perempuan inggris yang hendak menikah kembali disini sebelum
perkawinan pertamanya diputus harus mengindahkan ketentuan yang tertera
dalam BW.
Seorang perempuan inggris hendak menikah kembali di Indonesia sebelum
perkawinan pertamanya di Inggris diputus. Dalam hal ini perempuan inggris tersebut
mengajukan permohonan untuk melakukan perkawinan kepada Raad Van Justitie Padang,
namun menurut kaidah HPI Indonesia permohonan tersebut tidak dapat diadili di Indonesia,
karena Indonesia menganut prinsip Nasionalitas dalam hal hukum perkawinan, oleh karena
itu Raad Van Justitie Padang berdasarkan kaidah HPI Indonesia menunjuk kepada hukum
Inggris, karena perempuan tersebut merupakan warga negara inggris. Kemudian hakim
inggris yang menganggap penunjukkan dari kaidah HPI Indonesia tersebut sebagai
Gesamtverweisung maka berdasarkan kaidah HPI Inggris yang menganut prinsip domicilie,
melakukan renvoi kepada hukum Indonesia sebagai domicilie dari perempuan bersangkutan.
Sehingga yang digunakan oleh Raad Van Justitie perihal permohonan ijin kawin
menggunakan kaidah intern hukum Indonesia (Sachnormverweisung) dari Indonesia yaitu
BW-lah yang berlaku.
2.2 Analisa Kasus
Proses Penyelesaian perkara:
1. Klasifikasi perkara adalah hukum perkawinan;
2. Titik Taut Primer dalam perkara adalah dalam hal permohonan ijin perkawinan
seorang warga negara Inggris dimana perkawinan sebelumnya di Inggris
belum diputus di Indonesia. Sehingga bertemu dua sistem hukum antara
hukum Inggris dan Hukum Indonesia => foreign element (hukum inggris);
3. Titik Taut Sekunder, Penunjukkan, dan Renvoi
Sesuai dengan kaidah HPI Indonesia yang menganut asas Nasionalitas maka
hakim Indonesia (Lex Fori) menunjuk kepada hukum Inggris (Lex Causae)
dimana perempuan tersebut sebagai warga negara. Oleh Karena menurut
hakim Inggris penunjukkan kaidah HPI Indonesia sebagai Gesamtverweisung
yang berdasarkan kaidah HPI Inggris menganut asas Domicilie maka hakim
Inggris me-renvoi ke Indonesia. Hal ini diartikan bahwa penunjukkan kembali
(renvoi) dari kaidah HPI Inggris ke hukum Indonesia sebagai
Sachnormverweisung;
4. Pada tahap pertama, hakim Indonesia melakukan penunjukkan ke arah hukum
Inggris sesuai dengan kaidah HPI Indonesia => (prinsip Nasionalitas);
5. Tampaknya, hakim Inggris menganggap penunjukkan itu sebagai
Gesamtverweisung. Sehingga meliputi pula kaidah-kaidah HPI Inggris;

6. Diketahui bahwa kaidah-kaidah HPI Inggris yang menyangkut hukum


perkawinan bahwa hukum yang harus digunakan adalah hukum tempat
domisili (habitual residence) dari pihak bersangkutan; jadi kaidah HPI Inggris
me-renvoi ke arah hukum Indonesia. Pada tahap inilah barudapat dikatakan
adanya renvoi;
7. Berdasarkan itu, hakim Indonesia menganggap bahwa penunjukkan kembali
(renvoi) oleh kaidah HPI Inggris sebagai suatu Sachnormverweisung;
8. Atas dasar anggapan tersebut, hakim Indonesia dalam hal ini hakim Raad Van
Justitie Padang kemudian memberlakukan kaidah perkawinan Indonesia Intern
(Burgerlijk Wetboek / BW) untuk memutus perkara tersebut.
Perbedaan antara pemberlakuan hukum Indonesia atau hukum Inggrisuntuk memutus
perkara bukanlah sekedar masalah teoritis saja, tetapi juga dapat menghasilkan keputusan
yang mungkin berbeda.
2.3 Alasan-alasan Terjadinya Renvoi
Berdasarkan uraian pada kasus tersebut diatas, dapat diuraikan alasan-alasan dalam
pelaksanaan renvoi tersebut:
Dalam pengambilan keputusan yuridis, klasifikasi dapat dikatakan sebagai
penerjemahan fakta sehari-hari ke dalam kategori hukum tertentu (translated into
legal term), sehingga dapat diketahui arti yuridisnya (legal significance).
Penerapannya dalam kasus di atas,dilihat dari fakta yang terjadi sehari-hari maka
peristiwa tersebut diklasifikasikan ke dalam hukum perkawinan.
Titik taut primer merupakan faktor-faktor atau keadaan yang menciptakan dan
menimbulkan hubungan HATAH yang lebih dikenal sebagai titik taut pembeda.
Dalam kasus ini dapat dilihat bahwa unsur asing (Foreign Element) adalah kaidah
hukum Inggris.
Titik taut sekunder merupakan faktor-faktor dan keadaan-keadaan yang
menentukan berlakunya suatu sistem hukum tertentu atau disebut juga titik taut
penentu. Dalam hal ini dapat dilihat dari kaidah-kaidah HPI dari masing-masing
Negara untuk menentukan hukum mana yang berlaku yang dalam hal ini hingga
terjadinya renvoi.
Perbedaan asas HPI dalam klasifikasi antara lex fori dengan lex causae. Indonesia
menganut asas Nasionalitas, sedangkan Inggris menganut asas Domisili.
Perbedaan inilah yang mengakibatkan adanya penunjukan dan penunjukan
kembali.
Penerjemahan dari hakim atas penunjukan dan penunjukan kembali.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan yang penyusun kemukakan dalam kedua BAB tersebut diatas, maka
simpulan atas permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah proses penyelesaian
perkara dalam kasus di atas digambarkan dalam skema sebagai berikut :

3.2 Daftar Pustaka


Sudargo Gautama, Hukum Antar Tata Hukum, cet.5, Bandung: PT Alumni, 2010
Sudargo Gautama. 1977. Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia. Jakarta:
Bina Cipta.

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

PENUNJUKAN KEMBALI (RENVOI)

Disusun oleh:
FARIS AUZAN GHIFFARI
110110130334

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JALAN DIPATIUKUR NO. 35
BANDUNG