Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum warahmatullahi wabbarokatu


Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
karuniaNya lah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah hasil praktikum yang
telah kami lakukan yang disusun sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan
tugas praktikum bahan alam.
Makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak oleh karena itu dengan
segenap kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih kepada pembimbing
yang telah memberikan petunjuk, koreksi serta saran dan telah memberikan
bimbingan penuh selama proses penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat Penulis harapkan.

Pontianak,

November 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian............................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................................3
2.1 Deskripsi Tanaman Sambung Nyawa.............................................................................3
2.1.1 Taksonomi...............................................................................................................3
2.1.2 Nama Lain...............................................................................................................3
2.1.3 Morfologi................................................................................................................4
2.1.4 Ekologi dan penyebaran..........................................................................................4
2.1.5 Budidaya.................................................................................................................4
2.1.6 Khasiat....................................................................................................................4
2.1.7 Kandungan..............................................................................................................5
2.2 Simplisia........................................................................................................................5
2.3 Kromatografi Lapis Tipis...............................................................................................6
2.4 Parameter Standarisasi Simplisia....................................................................................7
BAB III METODE PRAKTIKUM..........................................................................................9
3.1 Alat dan Bahan Praktikum..............................................................................................9
3.1.1 Alat Praktikum........................................................................................................9
3.1.2 Bahan Praktikum.....................................................................................................9
3.2 Prosedur Praktikum........................................................................................................9
3.2.1 Pembuatan Simplisia...............................................................................................9
3.2.2 Identifikasi KLT....................................................................................................10
3.2.3 Parameter Simplisia...............................................................................................10
3.2.4 Pembuatan Sediaan Kapsul....................................................................................11
3.2.5 Pembuatan Teh Herbal...........................................................................................11

BAB IV PEMBAHASAN.....................................................................................................13
BAB V KESIMPULAN.........................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................21
LAMPIRAN...........................................................................................................................22

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak dahulu bangsa Indonesia telah mengenal dan memanfaatkan


tumbuhan berkhasiat obat sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi masalah
kesehatan, jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-obatan modern
yang dikenal masyarakat. Pengetahuan dan pengalaman yang diwariskan secara
turun temurun hingga kegenerasi sekarang, sehingga tercipta berbagai ramuan
tumbuhan obat yang merupakan ciri khas pengobatan tradisional indonesia.

Salah satu jenis tumbuhan obat berkhasiat yang digunakan dalam


pengobatan tradisional adalah meniran ( Phyllanthus niruri L. ). Potensi herba
meniran di Indonesia untuk dijadikan obat alternatif terhadap berbagai penyakit
sangat besar. Hal ini disebabkan karena herba meniran mudah ditemukan di
indonesia( Fahri et al, 2005). Tumbuhan meniran ini memiliki banyak khasiat
antara lain dapat digunakan sebagai obat kuning, malaria, ayan, demam, batuk,
disentri, bisul, luka bakar, luka koreng, dan jerawat ( Hardiman, 2014).

Penggunaan herba meniran ini sudah tidak asing lagi di dalam dunia
pengobatan karena herba meniran ini sudah ada dibuat dalam bentuk sediaan obat
yang beredar dipasaran.

Bagian tanaman yang digunakan untuk menyembuhkan luka bernanah


adalah herbanya. Cara penggunaan nya yaitu dengan cara herba meniran dicuci
bersih dan ditumbuk halus kemudian hasil tumbukan dibalurkan pada bagian yang
luka lalu ditutup dengan perban. Selain herba segar yang diolah, herba meniran ini
biasanya juga diolah menjadi simplisia kering maupun serbuk. Adapun

pengolahan untuk menjadikannya simplisia kering maupun serbuk dapat


dilakukan dengan prosedur pengelolahan simplisia.

Hasil dari simplisia kering yang kemudian diolah menjadi serbuk biasanya
dapat diolah lagi dengan menjadikannya sebuah sediaan yang berbentuk kapsul
dan teh herbal.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang melatar belakangi praktikum ini adalah:

1. Bagaimana cara pembuatan dan identifikasi simplisia herba meniran?

2. Bagaimana prosedur pembuatan kapsul herba meniran dan evaluasi


sediaan kapsul?

3. Bagaimana

prosedur

pembuatan

teh

herbal

herba

meniran

dan

evaluasinya?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah?

1. Untuk mengetahui cara pembuatan dan identifikasi simplisia herba


meniran?

2. Untuk mengetahui

prosedur pembuatan kapsul herba meniran dan

evaluasi sediaan kapsul?

3. Untuk mengetahui prosedur pembuatan teh herbal herba meniran dan


evaluasinya?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Tanaman Sambung Nyawa


2.1.1 Taksonomi
Klasifikasi tumbuhan meniran (Phyllanthus niruri L.) :
Kingdom

: Plantae

Sub kingdom : Trachebionta


Super divisi

: Spermatophyta

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub kelas

: Rosidae

Ordo

: Euphorbiales

Famili

: Euphorbiaceae

Genus

: Phyllanthus

Spesies

: Phyllanthus niruri L.

(Plantamor, 2011 dalam Kautsar, Berlian., 2015).

Gambar.1. Meniran (Phyllanthus niruri L.)


2.1.2 Nama Lain
1. Nama Daerah
Jawa : meniran ijo, memeniran (sunda), meniran (jawa) (Depkes RI, 1978).
2. Nama Asing
Dibeberapa negara, meniran dikenal dengan nama Kilaneli (India), Zhen chu
cao, Ye xia zhu (China), Child pick a back (Inggris) (Dalimartha, 2000 dalam
Aldi, Yufri., dkk., 2013).

2.1.3 Morfologi
Tanaman ini tingginya hanya 30-100 cm dan mempunyai daun yang
bersirip genap setiap satu tangkai daun terdiri dari daun majemuk yang
mempunyai ukuran kecil dan berbentuk lonjong (Dalimartha, 2000 dalam Aldi,
Yufri., dkk., 2013).
Terna, tumbuh tegak, tinggi 50 cm 1 meter, bercabang terpencar, cabang
mempunyai daun tunggal yang berseling yang tumbuh mendatar dari batang
pokok. Batang berwarna hijau pucat atau hijau kemerahan. Bentuk daun bundar
telur bundar memanjang, panjang daun 5 mm 10 mm, lebar 2,5 mm - 5 mm,
ujung bundar atau runcing, permukaan daun bagian bawah berbintik-bintik
kelenjar. Bunga keluar dari ketiak daun; bunga jantan dibawah ketiak daun,
berkumpul 2 bunga 4 bunga, gagang 0,5 mm - 1 mm, helaian mahkota bunga
berbentuk bundar telur terbalik, panjang 0,75 mm 1 mm, berwarna merah pucat;
bunga betina sendiri, letaknya dibagian atas ketiak daun; gagang bunga 0,75 mm
1 mm, helaian mahkota bunga berbentuk bundar telur bundar memanjang, tepi
berwarna hijau muda, panjang 1,2 mm 2,5mm. buah licin, garis tengah 2 mm
2,5 mm, panjang gagang buah 1,5 mm 2 mm (Depkes RI, 1978).
2.1.4 Ekologi dan penyebaran
Terdapat di india, cina, malaysia, filipina dan australia. Tumbuh tersebar
hampir diseluruh indonesia pada ketinggian tempat antara 1 meter 1000 meter di
atas permukaan laut. Tumbuh liar ditempat terbuka, pada tanah gembur yang
mengandung pasir, di ladang, di tepi sungai dan di pantai (Depkes RI, 1978).
2.1.5 Budidaya
Belum dibudidayakan secara teratur. Tumbuhan ini merupakan gulma
yang tumbuh secara liar pada tempat yang lembab dan berbatu (Depkes RI, 1978).
2.1.6 Khasiat
1. Penggunaan secara tradisional
Meniran secara tradisional digunakan sebagai obat sakit kuning, malaria, ayan,
demam, batuk, haid berlebihan, disentri, luka bakar terkena api atau air panas,
luka koreng dan untuk mengobati jerawat.

2. Khasiat berdasarkan penelitian


Dalam penelitian klinis selama bertahun-tahun, tumbuhan ini telah
menunjukkan aktivitas anti hepatotoksik, analgesik, hipotensi, antispasmodik,
antivirus, antibakteri, diuretik, antimutagenik, dan aktivitas hipoglikemik
(Taylor, 2003 dalam Aldi, Yufri., dkk., 2013).
2.1.7 Kandungan
Menurut Khan (2010) dalam Aldi, Yufri., dkk (2013), senyawa yang
terkandung dalam tumbuhan meniran yaitu flavonoid, filantin, kalium, damar, dan
zat penyamak.
Menurut Gunawan., dkk (2008) dan Mangunwardoyo., dkk (2009) dalam
Munfaati, P.T., dkk (2015), P. niruri L. mengandung senyawa-senyawa bioaktif
yang memiliki aktivitas antibakteri, diantaranya adalah senyawa golongan
terpenoid, alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin.
2.2 Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa
bahan yang telah dikeringkan
Bahan Alamiah:
Bahan nabati: Berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat. Eksudat
adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara
tertentu dikeluarkan dari selnya atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara
tertentu dipisahkan dari tanaman.
Bahan hewani: Berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang
dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
Bahan mineral: Berupa mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan
cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.
Sumber Simplisia

Tumbuhan Liar

Kerugian:
-

umur dan bagian tanaman

jenis (species)

lingkungan tempat tumbuh

Keuntungan :
-

ekonomis

Tanaman Budidaya (tumpangsari, TOGA, perkebunan)

Kerugian:
-

tanaman manja

residu pestisida

Keuntungan:
-

bibit unggul

pengolahan pascapanen

tempat tumbuh

Syarat Simplisia Nabati/Hewani


-

Harus bebas serangga, fragmen hewan, kotoran hewan

Tidak boleh menyimpang dari bau, warna

Tidak boleh mengandung lendir, cendawan, menunjukkan tanda-tanda


pengotoran lain

Tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun atau berbahaya

Kadar abu yang tidak larut dalam asam maksimal 2%

2.3 Kromatografi Lapis Tipis


Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu tehnik yang sederhana dan
banyak digunakan. Metode ini menggunakan lempeng kaca atau lembaran plastik
yang ditutupi penyerap untuk lapisan tipis dan kering bentuk silika gel, alomina,
selulosa dan polianida. Untuk menotolkan larutan cuplikan pada lempeng kaca,
pada dasarnya dgunakan mikro pipet/ pipa kapiler. Setelah itu, bagian bawah dari
lempeng dicelup dalam larutan pengulsi di dalam wadah yang tertutup (Chamber)
(Rudi, 2010)
Kromatografi lapis tipis digunakan untuk memisahkan komponenkomponen atas dasar perbedaan adsorpsi atau partisi oleh pase diam dibawah
gerakan pelarut pengembang. Pada dasarnya KLT sangat mirip dengan
kromatografi kertas , terutama pada cara pelaksanaannya. Perbedaan nyatanya

terlihat pada fase diamnya atau media pemisahnya, yakni digunakan lapisan tipis
adsorben sebagai pengganti kertas. Bahan adsorben sebagai fasa diam dapat
digunakan silika gel, alumina dan serbuk selulosa. Partikel selika gel mengandung
gugus hidroksil pada permukaannya yang akan membentuk ikatan hidrogen
dengan molekul polar air. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga
mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet.
Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.
2.4 Parameter Standarisasi Simplisia
1. Penetapan Susut Pengeringan (MMI)
Susut pngeringan adalah kadar bagian yang menguap suatu zat. Kecuali
dinyatakan lain, suhu penetapan adalah 105oC, keringkan pada suhu penetapan
hingga bobot tetap.
Jika suhu lebur zat lebih rendah dari suhu penetapan, pengeringan
dilakukan pada suhu antara 5oC dan 10oC dibawah suhu leburnya selama 1
jam sampai 2 jam, kemudian pada suhu penetapan selamawaktu yang
ditentukan atau hingga bobot tetap.

Bobot awal Bobot akhir


x 100
Bobot awal
Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut
Susut pengeringan =

organik menguap, susut pengeringan diidentikkan dengan kadar air, yaitu


kandungan air karena simplisia berada di atmoster dan ligkungan terbuka
sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.
2. Penetapan Kadar Sari yang Larut Dalam Air (MMI)
Pengujian ini dimaksutkan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat
tersari dengan air dari suatu simplisia.
Kadar Sari =

Berat Sari
100
x
100
Berat Simplisia 20

3. Penetapan Kadar Sari yang Larut Dalam Etanol


Pengujian ini dimaksutkan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat
tersari dengan etanol dari suatu simplisia.

Kadar Sari =

Berat Sari
100
x
100
Berat Simplisia 20

4. Penetapan Kadar Abu Total


Abu merupakan residu anorganik dari proses pembakaran atau oksidasi
komponen organik bahan pangan. Kadar abu dari suatu bahan pangan
menunjukkan kandungan mineral yang terdapat dalam bahan tersebut,
kemurnian, serta kebersihan suatu bahan yang dihasilkan. Analisis kadar abu
dengan metode pengabuan kering dilakukan dengan cara mendestruksi
komponen organik sampel dengan suhu tinggi di dalam suatu tanur pengabuan
(furnace), tanpa terjadi nyala api, sampai terbentuk abu berwarna putih
keabuan dan berat konstan tercapai. Oksigen yang terdapat di dalam udara
bertindak sebagai oksidator. Residu yang didapatkan merupakan total abu dari
suatu sampel.
% Kadar Abu Total

berat abu totalberat cawan kosong


x 100
berat sampel

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan Praktikum


3.1.1 Alat Praktikum
- Pisau

- Timbangan analitik

- Pingset

- Deksikator

- Oven

- Batang pengaduk

- Blender

- Erlenmeyer

- Ayakan

- Tanur

- Bangskom

- Kertas

- Plat KLT

- Cangkang kapsul

- Pipa kapiler

- Benang jahit

- Gelas ukur

- Jarum jahit

- Kertas saring

- Kasa steril

- Cawan penguap

- Tali kasur

3.1.2 Bahan Praktikum


- Simplisia herba meniran
- Etanol
- n-eksan
- Etil asetat
- Aquadest
3.2 Prosedur Praktikum
3.2.1 Pembuatan Simplisia
Sempel herba meniran sebanyak 3,5 kg disortasi basah terlebih dahulu,
kemudian sampel yang sudah disortasi basah dicuci bersih dengan air yang
mengalir, selanjutnya sampel dirajang menjadi ukuran yang lebih kecil, setelah itu

10

sampel dijemur dibawah sinar matahari, setelah kering sampel dilakukan sortasi
kering, dan setelah disortasi kering sampel di haluskan menggunakan blender
untuk mendapatkan serbuk herba meniran.
3.2.2 Identifikasi KLT
Setelah mendapatkan serbuk herba meniran, lalu ditimbang dan dimasukkan
ke dalam bejana maserasi. Kemudian ditambahkan etanol 96% sampai terendam
merata. Dan diaduk dan ditutup dengan menggunakan aluminium foil selama 30
menit. Maserat diambil dan disaring.
Setelah itu dilakukan Identifikasi KLT. Yang pertama Penyiapan Plat KLT.
Disiapkan plat KLT aluminium berlapis silika gel 60 GF 254 Merek ukuran 2x4 cm
(lebar x tinggi) sebanyak 4 buah. Diaktifkan plat dengan cara dipanaskan plat
dalam oven pada suhu 100oC, selama 5 menit. Ambil plat KLT dan didinginkan.
Dibuat garis batas pada bawah dan atas plat KLT masing-masing dengan jarak 0,5
cm. Yang kedua Penyiapan Chember. Dimasukkan pelarut fase gerak yaitu nheksan : etil asetat (4:1). Dimasukkan kertas saring sesuai dengan ukuran plat
KLT dan tempatkan sedimikian rupa. Dibiarkan chember jenuh dengan uap eluen
yang ditandai dengan basahnya kertas saring. Selanjutnya yang ketiga Penotolan
Pada Plat KLT. Dibersihkan pipa kapiler dengan pelarut etanol dan dikeringkan
dengan tisu. Diambil larutan sampel dengan menggunakan pipa kapiler bersih dan
ditotolkan di titik pertama pada plat KLT, dikeringkan. Diulangi penotolan hingga
titik pertama cukup pekat. Yang keempat Pengelusian. Dimasukkan plat KLT yang
sudah pekat kedalam chember yang sudah jenuh dengan posisi tegak. Usahakan
garis batas bawah tidak terendam oleh eluen. Ditutup chember dengan cepat dan
ditunggu sampai eluen mencapai tanda batas atas. Diambil plat KLT dengan pinset
dan dikeringkankan. Dan yang terakhir Pendeteksi Noda. Diamati plat KLT
dibawah lampu UV. Ditandai noda yang berpendar dengan pensil. Dicatat
nodanya. Dihitung harga Rf.
3.2.3 Parameter Simplisia
1. Susut Pengeringan
Diambil 2 gram sampel, dikeringkan pada suhu 105oC dioven selama 15
menit, kemudian didinginkan didalam deksikator, setelah itu lakukan

11

penimbangan, setelah ditimbang sampel kembali dimasukan ke dalam oven,


lakukan perlakuan ini hingga bobot sampel konstan , kemudian dicatat berat
konstan dan dihitung susut pengeringannyan (susut pengeringan tidak lebih
dari 0,25%), didapatkan berat konstan.
2. Penetapan Kadar Sari Larut Air
Diambil 5g sampel kemudian ditambahkan 100ml aquadest dalam gelas
beker, , setelah itu didiamkan selama 1 jam sesekali dikocok, sampel disaring
diambil filtrat 20 ml lalu diuapkan hingga kering diatas penangas air, setelah
itu dipanaskan sisa filtrat dalam oven pada suhu 105OC sampai kering dan
berat konstan ,dihitung kadar sari larut air, didapatkan kadar sari larut air.
3. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol
Diambil 5g sampel kemudian ditambahkan 100ml etanol 96% dalam gelas
beker, , setelah itu didiamkan selama 1 jam sesekali dikocok, sampel disaring
diambil filtrat 20 ml lalu diuapkan diudara terbuka hingga kering, setelah itu
dipanaskan sisa filtrat dalam oven pada suhu 105OC sampai kering dan berat
konstan ,dihitung kadar sari larut air, didapatkan kadar sari larut air.
4. Penetapan Kadar Abu Total (daun sirsak)
Pertama-tama cawan pengabuan dimasukkan kedalam oven 105oC selama
30 menit. Didinginkan dalam deksikator selama 30 menit hingga berat
konstan. Cawan pengabuan yang sudah konstan dimasukkan 2 gram serbuk
simplisia herba meniran. Lalu dipanaskan dalam tanur 600oC 800OC antara
2-8 jam (pengabuan dianggap selesai apabila diperoleh sisa pembakaran
berwarna putih abu-abu). Setelah itu didinginkan dalam deksikator sampai
dingin. Ditimbang hingga berat konstan. Dihitung kadar abu total. Dapatlah
kadar abu totalnya.
3.2.4 Pembuatan Sediaan Kapsul
Disiapkan serbuk simplisia herba. Ditimbang bahan sebanyak 27.000 mg.
Dan dimasukan ke dalam cangkang kapsul no 0. Lalu dipadatkan kapsul dengan
menggunakan sumpit. Dibersihkan kapsul dari kotoran yang menempel dengan
tisu. Setelah itu dilakukan Evaluasi terhadap kapsul. Dikemas dan dimasukan ke
dalam kemasan.

12

3.2.5 Pembuatan Teh Herbal


Ditimbang serbuk simplisia herba meniran sebanyak 20 g dibagi dalam 10
bagian. Masing-masing bagian dibagi dengan cara:
Kain kasa steril/ kertas saring dibuat pola sesuai dengan karya masing-masing.
Setelah itu dimasukkan 2 gram serbuk simplisia herba meniran untuk 1 kantong
teh kemudian dijahit. Setelah jadi, dikemas dalam bentuk teh pada umumnya.
Adapun evaluasi yang dilakukan dalam pembuatan teh herbal ini adalah
uji kadar sari dengan cara 3 kantong teh masing-masing dicelupkan kedalam air
panas dan lihat perubahan warna yang terjadi pada air. Setelah itu angkat teh yang
telah dicelup kemudian dijemur hingga kering. Setelah itu ditimbang dan dihitung
persentase kadar sari yang hilang.

13

BAB IV
PEMBAHASAN

Tabel 1.1 Data Pengamatan


NO.
1.
2.
3.
4.
5.

PARAMETER
Rendemen Simplisia
Identifikasi KLT
Susut Pengeringan
Kadar Sari Larut Air
Kadar Sari Larut

HASIL
27,14%
0,102%
-

RANGE
0,25%
16,0%
8,0%

6.
7.

Etanol
Kadar Abu Total
Sediaan Kapsul

4,5%
Memenuhi syarat

7,2%
Keseragaman bobot
untuk 20 kapsul, tdk
lbh 2 kapsul yg
menyimpang dari
Kolom A dan tidak
satupun yg
menyimpang dari
Kolom B

8.

Sediaan Teh Herbal

Memenuhi syarat

10%

Pada pratikum yang telah dilakukan ini bertujuan agar mahasiswa


mengetahui prosedur pengolahan bahan alam dari mulai pasca panen sampai
menjadi produk herbal (jamu) yang standarnya dapat menuju pada produk Obat
Herbal Terstandar (OHT).

1. Pembuatan Simplisia

14

Penanganan paska panen tumbuhan pada intinya adalah membuat


simplisia yang baik, benar dan memenuhi syarat. Untuk itu perlu penanganan
yang teliti pada setiap tahap teknologi paska panen. Tahapan yang dilakukan
yaitu ada 6 tahap meliputi, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan,
sortasi kering dan penghalusan.
Pada tahap pertama yang dilakukan, yaitu sortasi basah dengan cara
simplisia harus dipisahkan dari kotoran-kotoran seperti rumput, tanah, krikil,
bagian herba yang rusak dan bahan tanaman lain atau jenis herba lain.
Tahapan yang kedua, yaitu pencucian. Tujuan dilakukan pencucian yaitu
untuk menghilangkan tanah dan kotoran lainnya yang melekat pada simplisia.
Tahapan yang ketiga, yaitu dilakukan perajangan menjadi ukuran yang lebih
kecil. Tujuan dari perajangan ini adalah untuk memperluas permukaan bahan
baku, sehingga pada waktu pengeringan lebih cepat. Tahapan keempat,
dilakukan pengeringan dengan cara herba meniran yang telah dirajang dijemur
dibawah sinar matahari secara langsung. Pengeringan bertujuan untuk
mencegah kerusakan kandungan zat aktif yang ada dalam tanaman sehingga
dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Setelah simplisia kering, tahapan selanjutnya yang dilakukan yaitu sortasi
kering. Tujuan dari sortasi ini ntuk memisahkan benda-benda asing seperti
bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain
yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering. Proses ini dilakukan
sebelum simplisia dihaluskan. Setelah dilakukan sortasi kering tadi, simplisia
kering tersebut ditimbang. Adapun berat yang diperoleh setelah proses
pengeringan sebesar 1,4 kg.
Tahapan yang terakhir yaitu penghalusan. Hasil dari pengeringan yang
telah ditimbang tersebut dilakukan penghalusan dengan cara diblender
sehinggga menjadi serbuk kering halus. Kemudian serbuk kering yang telah
halus dilakukan pengayakan, tujuan dari pengayakan ini yaitu untuk
memperoleh hasil serbuk simplisia yang halus dan bersih. Ada pun berat
serbuk kering yang didapatkan sebesar 421,39 mg dan Rendemen Simplisia
sebesar 27,14%.
2. Identifikasi Simplisia

15

Selanjutnya adalah mempelajari teknik maserasi pada serbuk simplisia


sampai simplisia diidentifikasi dengan metode KLT. Berat serbuk simplisia
yang digunakan pada percobaan ini sebanyak 2 gram dan pelarut etanol 96%
sebanyak 10 ml.
Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu
sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen-komponen
sampel berdasarkan perbedaan kepolaran.
Prinsip pemisahan noda adalah berdasarkan kepolarannya sehingga
menghasilkan kecepatan yang berbeda-beda saat terpartisi dan terjadilah
pemisahan. Untuk memisahkan noda dengan sebaik-baiknya maka digunakan
kombinasi eluen non polar dengan polar. Apabila noda yang diperoleh terlalu
tinggi, maka kecepatannya dapat dikurangi dengan mengurangi kepolaran.
Namun apabila nodanya lambat bergerak atau hanya ditempat, maka
kepolaran dapat ditambah.
Pada UV 254 nm, lempeng akan berflouresensi sedangkan sampel akan
tampak berwarna gelap. Sebelum dilakukan pengujian KLT, lempeng KLT
harus diaktifkan terlebih dahulu. Pengaktifan dilakukan dengan cara plat silika
dioven selama 5 meenit dalam suhu 100 oC, dan harus disimpan dalam kotak
kering atau desikator besar sampai dipakai.
Adapun tahapan dari pengerjaan kromatografi lapis tipis adalah mula-mula
sampel dilarutkan dengan pelarut yang sesuai. Kemudian sampel yang telah
dilarutkan ditotolkan pada lempeng KLT dengan menggunakan pipa kapiler.
Lempeng kemudian diangin-anginkan sedikit. Lalu lempeng dimasukkan
ke dalam chamber yang berisi eluen (n-heksan:etil asetat, 4:1), dimana
sebelumnya chamber dijenuhkan dengan cara memasukkan kertas saring
kedalam chamber yang telah berisi eluen dan ditunggu hingga kertas saring
terelusi seluruhnya oleh eluen. Kemudian lempeng KLT yang berada di dalam
chamber dibiarkan terelusi oleh eluen hingga tanda batas eluen. Bila lempeng
KLT telah terelusi, maka lempeng KLT kemudian diangkat dan dikeringkan.
Proses berikutnya adalah visualisasi, dimana noda pada lempeng KLT diamati
dibawah lampu UV 254 nm.

16

Dari hasil praktikum identifikasi KLT, Setelah dilihat dilampu UV tidak


nampak bercak, hal ini mungkin disebabkan karena sampel terlalu encer.
Pekatkan sampel, atau tambahkan volume sampel yang ditotolkan.
3. Susut Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga simplisia
tidak mudah rusak dan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Air yang
masih tersisa dalam simplisia herba meniran pada farmakope herbal kadarnya
lebih dari 14% dapat menjadi media pertumbuhan mikroba. Selain itu, dengan
adanya air, akan terjadi reaksi enzimatis yang dapat menguraikan zat aktif
sehingga mengakibatkan penurunan mutu atau perusakan simplisa. Simplisia
yang dikeringkan dengan oven, kemudian dimasukkan kedalam deksikator
untuk didinginkan agar ketika dilakukan penimbangan tidak merusak
timbangan.
Susut pengeringan simplisia yang didapat adalah 0,102 %. Nilai ini
menyatakan jumlah maksimal senyawa yang mudah menguap atau hilang pada
proses pengeringan.
4. Kadar Sari Larut Air Dan Kadar Sari Larut Etanol
Untuk penetapan kadar sari larut air, pada praktikum kami sampel
dilarutkan didalam aquadest 100mL Yang mana menurut teori seharusnya
simplisia dimasukkan kedalam 100 mL air jenuh kloroform. Penjenuhan
tersebut bertujuan agar pelarut tidak menarik kembali senyawa lain yang
semipolar. Simplisia dalam pelarut kemudian dikocok dalam gelas beker yang
ditutup dengan aluminium foil sesekali dan didiamkan selama 1 jam. Hal
tersebut bertujuan untuk mempercepat tingkat kelarutan, sehingga kadar yang
tersari dalam pelarut semakin banyak.
Dari hasil penyaringan, diambil sebanyak 20 mL filtrat diuapkan diatas
penangas. Hasil pemanasan dalam cawan kemudian didinginkan, jika perlu
dapat digunakan desikator. Pendinginan dilakukan dengan seksama karena
dapat mempengaruhi massa filtrat yang telah dipanaskan dalam cawan.
Setelah cawan dingin, kemudian dilakukan penimbangan dan perhitungan
kadar sari larut air dapat dilakukan. Selanjutnya sisa dari filtrat sari larut air
dimasukkan kedalam oven hingga kering.

17

Pada penetapan kadar sari larut etanol, prosedur yang dilakukan serupa
dengan penetapan kadar sari larut air, tetapi pelarut yang digunakan adalah
etanol 96% digunakannya pelarut etanol karena etanol merupakan pelarut
organik universal yang dapat menyari secara baik senyawa dalam simplisia.
Pada proses penyaringan, terdapat perbedaan yang signifikan antara
pembentukan filtrat pada sari larut air dan sari larut etanol. Simplisia lebih
cepat terlarut dalam etanol dan filtrat lebih cepat terbentuk. Untuk proses
penguapan selanjutya, dapat digunakan 20 mL filtrat sari larut etanol yang
kemudian diuapkan diudara terbuka dan dibiarkan hingga kering. Selanjutnya
pemanasan sisa filtrat dengan etanol dilakukan menggunakan oven. Setelah
didapat ekstrak kering, kemudian dilakukan prosedur seperti pada penetapan
kadar sari larut air.
Tetapi dalam praktikum yang telah kami lakukan tidak diperoleh hasil
untuk penetapan kadar sari larut air dan larut etanol dikarenakan adanya
beberapa kendala dalam praktikum sehingga praktikum dihentikan. Sesuai
dengan literatur seharusnya kadar sari larut air dan larut etanol herba meniran
dapat diperoleh kadar sebesar tidak kurang dari 16,0% untuk larut air dan
tidak kurang dari 8,0%.untuk larut etanol.
5. Kadar Abu Total
Selanjutnya dilakukan penetapan Kadar Abu Total simplisa Daun Sirsak.
Penetapan Kadar Abu Total dilakukan untuk mengetahui persentase senyawa
Bahan-bahan organik yang hilang dalam pembakaran dengan suhu tinggi.
Residu yang tertinggal adalah mineral dalam bentuk abu putih.
Penetapan kadar abu total dilakukan dengan pengabuan simplisia dalam
krus di dalam tanur pada suhu 600-800oC. Disini terjadi pemanasan bahan
pada temperatur dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan
menguap, sehingga yang tertinggal hanya unsur mineral dan anorganik.
Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal
dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya simplisia.
Selain itu penetapan kadar abu juga dimaksudkan untuk mengontrol jumlah
pencemar benda-benda organik seperti tanah, pasir yang seringkali terikut
dalam sediaan nabati.

18

Proses pengabuan dianggap selesai apabila diperoleh sisa pembakaran


berwarna putih abu-abu. Setelah itu hasil pengabuan tadi didinginkan didalam
deksikator agar ketika melakukann penimbangan tidak merusak timbangan.
Adapun Kadar abu total yang diperbolehkan dalam simplisia daun sirsak
tidak lebih dari 6%. Dari hasil praktikum yang diperoleh diketahui bahwa
kadar abu total simplisia daun sirsak adalah 4,5%.
6. Sediaan Kapsul
Pada praktikum yang telah dilakukan, yaitu membuat formulasi kapsul
herbal dari herba meniran dan melakukan evaluasi kapsul. Adapun evaluasi
yang telah dilakukan adalah uji keseragaman bobot kapsul.
Uji keseragaman bobot dilakukan untuk memastikan bahwa bobot yang
terdapat didalam kapsul pada suatu formula memiliki jumlah yang sama dan
zat aktif yang sama dengan anggapan serbuk formula terdistribusi homogen.
Adapun faktor yang mempengaruhi keseragaman bobot sediaan adalah
sifat aliran massa serbuk. Berdasarkan persyaratan farmakope Indonesia edisi
4 bahwa perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata-rata
tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan kolom A dan untuk setiap
2 kapsul tidak lebih dari yang ditetapkan kolom B.
Adapun uji keseragaman bobot yang telah dilakukan terhadap 20 kapsul
dengan menimbang satu persatu kapsul dan dihitung persentase terhadap
kolom A dengan 7,5 % dan kolom B 15% maka hasil yang diperoleh, yaitu
pada kolom A tidak ada satu pun bobot kapsul yang menyimpang, begitu juga
pada kolom B tidak lebih dari 2 kapsul yang menyimpang, sehingga kapsul
memenuhi syarat.
7. Sediaan Teh Herbal
Pada praktikum pembuatan teh celup herbal dengan komposisi Herba
Meniran. Pada pembuatan teh ini, kami melakukan dua percobaan bungkus teh
celup. Yang pertama dengan menggunakan kain kasa steril yang kemudian
dijahit dengan bentuk tertentu. Yang kedua dengan menggunakan kertas saring
yang kemudian dijahit dengan bentuk tertentu.
Dari hasil percobaan keduanya, pada air seduhan teh pertama dengan
bungkus kasa steril masih banyak serbuk-serbuk simplisia yang keluar, tetapi

19

warna yang dihasilkan lebih cepat. Hal ini dikarenakan pori-pori dari kasa
steril lebih besar besar dari kertas saring. Sedangkan air seduhan teh kedua
yang dengan bungkus kertas saring serbuk-serbuk simplisia masih ada yang
keluar, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dari air seduhan teh pertama. Hal
ini mungkin terjadi karena penjahitan yang kurang rapat dan rapi. Selain itu,
warna yang dihasilkan agak sedikit lebih lama dibanding seduhan air teh
pertama.
Dari hasil perbandingan antara bungkus teh kertas saring dan kasa steril.
Kami memilih sediaan yang menggunakan kertas saring. Setelah itu sediaan
tersebut dilakukan uji kadar sari untuk menentukan seberapa besar sari yang
larut setelah diseduh dengan tiga replikasi kantong the. .Adapun hasil yang
diperoleh dari tiga kantong teh, hanya satu kantong yang memenuhi syarat,
dimana syarat kadar sari teh 10%. Hal ini dikarenakan serbuk teh terlalu
halus dan penjahitan kantong yang kurang rapat dan rapi.

20

BAB V
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari hasil praktikum yang telah kami lakukan, yaitu:
1. Tahapan pembuatan simplisia terdiri dari, pengumpulan bahan, sortasi basah,
pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering, penghalusan simplisia,
penyimpanan.
2. Hasil penetapan susut pengeringan sebesar 0,102% yang mana hasil yang
diperoleh sesuai dengan literatur

susut pengeringan herba meniran yaitu

sebesar tidak lebih dari 14%.


3. Hasil penetapan kadar abu total sebesar 4,5 %

yang mana hasil yang

diperoleh sesuai dengan literatur kadar abu total daun sirsak yaitu sebesar
tidak lebih dari 6 %.
4. Formula kapsul herba meniran pada uji evaluasi keseragaman bobot, kapsul
herba meniran memenuhi persyaratan kapsul.
5. Teh celup herbal dengan komposisi Herba Meniran sebanyak 2g/kantong
bahwa kantong terbaik menggunakan kantong berbahan dasar kertas saring.
Namun kadar sari yang didapat dari tiga replikasi kantong teh hanya salah satu
yang memenuhi syarat hal ini dikarenakan serbuk teh terlalu halus dan
penjahitan kantong yang kurang rapat dan rapi.

21

DAFTAR PUSTAKA
Aldi, Yufri., dkk., 2013, Uji Aktivitas Beberapa Subfraksi Ekstrak Etil Asetat dari
Herba Meniran (Phyllanthus niruri Linn.) terhadap Titer Antibodi dan
Jumlah Sel Eukosit pada Mencit Putih Jantan, Universitas Andalas,
Fakultas Farmasi.
Aldi, Yufri., dkk., 2013, Uji Aktivitas Beberapa Subfraksi Ekstrak Etil Asetat dari
Herba

Meniran

(Phyllanthus

niruri

Linn.)

terhadap

Reaksi

Hipersensitivitas Kutan Aktif, Universitas Andalas, Fakultas Farmasi.


Depkes RI. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. BPOM. Jakarta
Depkes RI. 1978. Materia Medika Indonesia. Jilid 2. Menkes. Jakarta
Depkes RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia. Edisi 1. Menkes. Jakarta
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Menkes. Jakarta
Kautsar, Berlian. 2015. Uji Antimikroba Ekstrak Etanol Herba Meniran
(Phyllanthus niruri L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus
aureus. Akademi Farmasi Yarsi. Pontianak
Krisyanella., dkk. Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Serta Isolasi Senyawa Aktif
Antibakteri dari Daun Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (W.Ait)
Hassk). Universitas Andalas.
Munfaati, P.N., dkk., 2015, Aktivitas Senyawa Antibakteri Ekstrak Herba Meniran
(Phyllanthus niruri) terhadap Pertumbuhan Bakteri Shigella dysenteriae
Secara in Vitro, Universitas Negeri Surabaya, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam.

22

LAMPIRAN
PERHITUNGAN
A. Pembuatan Simplisia
Berat basah simplisia

: 3,5 kg

Berat kering simplisia

: 950 gram = 0,95 kg

Berat serbuk simplisia

: 421,39 gram

Rendemen simplisia kering

= 0,95 kg/3,5 kg x 100% = 27,14%

B. Identifikasi Klt
Ekstrak cair
o Serbuk simplisia = 2 gram
o Etanol 96%

= 10 ml

Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


o Plat KLT 1 cm x 7 cm = 4 bh
o Eluen N-Heksan : Etil Asetat (4:1)
N-Heksan = 4 ml
Etil Asetat = 1 ml
C. Susut Pengeringan
Berat Sampel

: 2 gram

Berat Cawan Penguap + Aluminium Foil

: 36,88gram

Berat Cawan Penguap + Aluminum Foil + Sampel

: 38,88gram

Susut Pengeringan 1 : 38,86 gram


Susut Pengeringan 2 : 38,84 gram
Susut Pengeringan 3 : 38,84 gram
Susut Pengeringan

Bobot awalbobot ak hir


bobot awal

38,8838,84
38,88

0,04
x 100
38,88
23

x 100%

x 100%

= 0.102 %
D. Penetapan Kadar Sari Larut Air
Berat Sampel

: 5 gram

Berat Cawan Penguap

: 36,61gram

Berat Cawan Penguap + Sampel

: 41,61gram

E. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol


Berat Sampel

: 5 gram

Berat Cawan Penguap

: 36,63gram

Berat Cawan Penguap + Sampel

: 41,63gram

F. Penetapan Kadar Abu Total


Simplisia

= 2 gram

Cawan pengabuan kosong

= 30,49 gram

Berat Abu total

= 30,58

% Kadar Abu Total

berat abu totalberat cawan kosong


x 100
berat sampel
=

30,5830,49 gram
x 100
2 gram
= 4,5 %

G. Sediaan Kapsul
Uji Keseragaman Bobot Kapsul
1. 500 mg

11. 520 mg

2. 480 mg

12. 510 mg

3. 530 mg

13. 510 mg

4. 500 mg

14. 500 mg

5. 480 mg

15. 510 mg

6. 510 mg

16. 510 mg

7. 520 mg

17. 500 mg

8. 480 mg

18. 480 mg

Syarat Kapsul:
Keseragaman bobot untuk 20
kapsul, tdk lbh 2 kapsul yg
menyimpang dari Kolom A dan
tidak satupun yg menyimpang dari
Kolom B

24

9. 530 mg

19. 510 mg

10. 480 mg

20. 480 mg

Rata-rata:

10.040
20

Kolom A: 7,5 %

= 502
=

7,5
100

x 502 = 37,65mg

= 502 + 37,65 = 539,65 mg


= 502 37,65 = 464,35 mg
Kolom B: 15%

15
100

Range

x 502 = 75,3 mg

= 502 + 75,3 = 577,3 mg


= 502 75,3 = 426,7 mg

Range

Jadi, bobot pada kolom A tidak ada satu pun bobot kapsul yang
menyimpang, begitu juga pada kolom B tidak lebih dari 2 kapsul yang
menyimpang, sehingga kapsul memenuhi syarat.
H. Sediaan Teh Herbal
Kadar sari larut air
2,392,15 x 100
2,30
2,382,26 x 100
2,38
2,381,25 x 100
2,38

= 10, 48 %
= 5,04 %
= 47, 47 %

Sampel Segar Herba Meniran

25

Pencucian dengan air mengalir

Perajangan

Susut Pengeringan

Kadar Sari Larut Air

Kadar Sari Larut Etanol

26

Kapsul Herba Meniran

Teh Herbal Herba Meniran

27