Anda di halaman 1dari 16

PENGARUH REVALUASI AKTIVA TETAP

TERHADAP PENGHEMATAN PAJAK PADA


PT KABELINDO MURNI
Oleh : Eliston Nadeak (21207268)
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma, 2011
Email: elistonn@yahoo.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penilain kembali aktiva tetap
pada PT Kabelindo Murni Tbk serta untuk mengetahui apakah dengan melalui revaluasi
aktiva tetap PT Kabelindo Murni tbk dapat menghemat pajak.
Data yang digunakan adalah data primer yang dikumpulkan melalui dokumentasi
yang diperoleh dari perusahaan. Data yang dikumpulkan meliputi data laporan keuangan
sebelum dan sesudah revaluasi aktiva tetap.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa Penilaian kembali aktiva tetap
terhadap saldo laba perusahaan mengakibatkan atau memberikan dampak pada
penurunan laba perusahaan. Hal ini terjadi karna ada peningkatan biaya depresiasi
sebesar Rp 119.497.552 yaitu dari Rp 3.661.573.699 sebelum dilakukan revaluasi
menjadi Rp 3.781.071.251 setelah dilakukan revaluasi. Peningkatan biaya depresiasi
tersebut dapat memberikan dampak pada penurunan laba perusahaan sehingga laba
perusahaan sebagai dasar pengenaan pajak penghasilan akan semakin kecil.
Kata Kunci : Aktiva Tetap, pajak

PENDAHULUAN
Tujuan perusahaan adalah untuk mencari laba. Disamping mencari laba, tujuan
perusahaan mencakup pertumbuhan yang terus menerus (growth), kelangsungan hidup
(survival), dan kesan positif dimata public (image). Untuk hal ini perusahaan harus
berusaha memaksimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki perusahaan dan
meminimalkan seluruh beban yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk
mendukung operasi berjalan dengan baik. (Ardiantha, 2005).
Salah satu beban yang wajib dibayar oleh perusahaan setiap tahunnya adalah
beban pajak. Pajak adalah beban perusahaan menurut undang-undang yang harus

dibebankan pada perusahaan yang memperoleh penghasilan kena pajak. Dalam hal
membayar pajak biasanya perusahaan berupaya untuk meminimalkan beban pajak
perusahaan. minimalisasi beban pajak perusahaan tersebut dapat dilakukan melalui
perencanaan pajak. Perencanaan pajak adalah perencanaan pemenuhan kewajiban
perpajakan secara lengkap, benar dan tepat waktu sehingga dapat menghindari
pemborosan sumber daya. Pada umumnya perencanaan pajak merujuk pada merekayasa
usaha dan transaksi wajib pajak supaya hutang pajak berada dalam jumlah yang
minimal tetapi masih dalam koridor peraturan perpajakan. Dari definisi tersebut dapat
dilihat bahwa tujuan dari perencanaan pajak yaitu untuk mengefisiensikan jumlah pajak
terhutang melalui penghindaran pajak (tax avoidance) tanpa harus melanggar undangundang perpajakan. (Suryani, 2006).
Perencanaan pajak

dapat

dilakukan

dengan

berbagai

cara,

diantaranya:

menghitung penyusutan aktiva tetap perusahaan dengan metode tertentu, penilaian


kembali (revaluasi) aktiva tetap perusahaan, penentuan harga transfer (transfer pricing)
perusahaan, manajemen persediaan, mendefinisikan revenue dan expense perusahaan,
pembelian aktiva, pemberian tunjangan berupa natura atau non natura, menangguhkan
pendapatan dan mempercepat atau membiayakan pengeluaran. (Rian, 2009).
Revaluasi aktiva tetap adalah penilaian kembali aktiva tetap dimiliki oleh
perusahaan, tanpa melalui reorganisasi secara hukum. Nilai baru aktiva tetap setelah
revaluasi dapat meningkatkan beban penyusutan yang akan mengurangi laba
perusahaan. Laba inilah yang menjadi dasar perhitungan beban pajak yang akan dibayar
oleh perusahaan.

(Jaeni,

1996).

Surat

Keputusan

Menteri Keuangan Nomor

486/KMK.03/2000 tentang penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan

perpajakan menjelaskan antara lain, mengenai persyaratan suatu perusahaan dalam


melakukan revaluasi aktiva tetap. Surat Keputusan menteri keuangan tersebut memuat:
Pertama, jenis-jenis aktiva tetap yang dapat direvaluasi. Kedua, dasar penentuan
revaluasi aktiva tetap perusahaan. Ketiga, bagaimana perlakuan dari selisih lebih dari
revaluasi aktiva tetap. (Herry, 2006).
Berdasarkan bukti empiris revaluasi aktiva tetap, penulis mengetahui bahwa
perusahaan dapat berhasil menghemat beban pajak. Kegiatan revaluasi aktiva tetap,
perusahaan PT kabelindo Murni Tbk menjadi tujuan penulis mengadakan penelitian,
bagaimana perusahaan tersebut melakukan revaluasi aktiva tetap sehingga dapat
menghemat beban pajak.
Penulis memilih revaluasi aktiva tetap karena penulis menilai bahwa dengan
melakukan revaluasi aktiva tetap yang bukan merupakan aktivitas rutin suatu
perusahaan dan melibatkan tenaga profesional akan lebih efektif dalam upaya
meminimalkan beban pajak perusahaan. Revaluasi dapat dikatakan berhasil untuk
menghemat pajak jika pengurangan pajak yang ditimbulkan oleh revaluasi aktiva tetap
lebih besar dari beban yang harus dikeluarkan perusahan dalam rangka melakukan
revaluasi. (Tarko, 2008).
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Penlitian ini mengambil objek pada perusahaan PT Kabelindo Murni Tbk, yang
berlokasi di Kawasan Industri Pulogadung, Jalan Rawa Girang

NO. 2 dan 5,

Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Kotamadya Jakarta Timur, Provinsi DKI


Jakarta.

3.2 Sumber Data


Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan melalui dokumentasi yang diperoleh
penulis dari PT Kabelindo Murni, Tbk. Data yang dikumpulkan meliputi data laporan
keuangan sebelum dan sesudah revaluasi aktiva tetap. Cara ini dilakukan melalui:
3.2.1 Wawancara
Peneliti melakukan tanya jawab secara langsung kepada pihak manajemen.
Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara ringkas dan
mendapatkan data perusahaan yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini.
3.2.2 Observasi
Observasi yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan
langsung atas dokumen dan laporan yang telah dibuat perusahaan dan
konsultannya sehubungan dengan masalah yang diteliti.

3.3 Defenisi Operasional


Dalam penyusunan skripsi ini, sesuai dengan rumusan masalah yang akan
dikaji dan model yang disusun dalam tinjauan pustaka, maka operasional yang akan
dijabarkan sebagai berikut:
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2007:16,2) aktiva tetap adalah aktiva
berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang
atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain atau untuk tujuan admisitrasi dan
dihrapkan untuk digunakan selama lebih dari stu periode.
Sedangkan revaluasi aktiva tetap adalah suatu penilaian kembali aktiva tetap
yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat sesuai dengan harga pasar saat

dilakukannya revaluasi tersebut.

Revaluasi

dapat

mengakibatkan kenaikan

(appresiasi) atau penurunan (write-down) aktiva atau aktiva tetap di neraca.


Menurut Suandy (2006:6) Upaya dalam penghematan pajak secara legal
dapat dilakukan melalui manajemen pajak, namun legalitas manajemen pajak
tergantung dari instrument yang dipakai, legalitas dapat diketahui secara pasti
setelah ada putusan pengadilan.
Menurut Suandy (2006:7) manajemen pajak adalah sarana untuk memenuhi
kewajiban perpajakan dengan benar tetapi jumlah pajak yang dibayar dapat ditekan
serendah mungkin untuk memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa penghematan pajak adalah
usaha untuk meminimalisasi kewajiban pajak dengan cara memanfaatkan sarana
dan peraturan yang ada, dalam hal ini aktiva tetap dinilai kembali dengan harapan
nilai aktiva meningkat sehingga biaya penyusutan dari aktiva tersebut juga
mengalami peningkatan yang menyebabkan laba sebagai dasar penghitungan
kewajiban perpajakan menjadi menurun sehingga beban yang timbul juga akan
semakin menurun.

3.4 Analisis Data


Langkah analisis yang dilakukan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah:
3.4.1 Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan penulis dalam menyusun skripsi ini, penulis
langsung meneliti ke lapangan untuk mendapatkan data laporan keuangan
sebelum dan sesudah revaluasi aktiva tetap

3.4.2 Memilih Aktiva yang akan Dinilai


Dalam penelitian ini, aktiva yang dipilih penulis adalah aktiva tetap, yang
terdiri dari tanah, bangunan, gedung, mesin dan peralatan

3.4.3 Persiapan yang akan Dilakukan untuk Menilai Kembali Aktiva


Dalam penelitian ini, persiapan yang dilakukan penulis untuk menilai
kembali aktiva adalah dengan cara memperoleh data laporan keuangan
sebelum dan sesudah revaluasi aktiva tetap dari PT Kabelindo Murni Tbk.

3.4.4 Mengolah atau Melakukan Penilaian Kembali Aktiva Tetap


Dalam penelitian ini, untuk mengolah atau melakukan penilaian kembali
aktiva tetap, penulis melakukannya dengan cara menganalisis data laporan
keuangan sebelum dan sesudah dilakukan revaluasi aktiva tetap.

3.4.5 Mengukur Nilai Aktiva Tetap Setelah di Revaluasi


Dalam penelitian ini, cara yang digunakan penulis untuk mengukur nilai
aktiva setelah dilakukan revaluasi yaitu dengan menggunakan fair value
(nilai wajar)

3.4.6 Menentukan Nilai Depresiasi


Dalam penelitian ini, cara yang digunakan penulis untuk menentukan nilai
depresiasi adalah dengan menggunakan metode garis lurus yaitu harga
perolehan dibagi umur ekonomis.

3.4.7 Menentukan Pengaruh Penilaian Aktiva Tetap terhadap Pajak


Dalam penelitian ini, untuk menentukan pengaruh penilaian kembali
aktiva tetap terhadap pajak, penulis meneliti pengaruh laba usaha
perusahaan sebelum dan sesudah dilakukannya revaluasi terhadap aktiva
tetap pada PT kabelindo Murni, Tbk.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Aktiva tetap yang dimiliki oleh PT Kabelindo Murni Tbk sebagai badan hukum
dan wajib pajak yang telah memenuhi kewajiban dan syarat untuk menerapkan
revaluasi aktiva tetap yaitu tanah. Luas tanah yang termasuk dalam penilaian ini
adalah lokasi 1 luas tanah 83.480 meter persegi dan lokasi 2 luas tanah 8.467 meter
persegi yang digunakan sebagai tanah bangunan dalam sebuah sertifikat tanah Hak
Guna Bangunan (HGB) No. 14. Sertifikat tanah tersebut terdaftar atas nama PT
Kabelindo Murni Tbk berkedudukan di Jakarta Timur dikeluarkan pada tanggal 22
November 1980 dan berakhir pada tanggal 29 November 2020 oleh Kepala Kantor
Pertanahan Jakarta Timur.
Dalam penelitian ini, penulis akan menyajikan ringkasan pembahasan dari bab
bab sebelumnya, ringkasan pembahasan penulis sajikan dalam bentuk bagan dan
penjelasan adalah sebagai berikut:

Kasus Perusahaan

PSAK 51

Penilaian Kelayakan terhadap Kuasi Reorganisasi

Penilaian Aktiva

Aktiva sebelum revaluasi


Aktiva setelah revaluasi

Nilai Aktiva

Pendekatan Penilaian
Aktiva Tetap

BRB
Biaya
pengganti

Pendekatan
Biaya

Pendekatan
Data Pasar

Lokasi
Kondisi pasar
Karakteristik fisik

Tanah

Aktiva tetap selain Tanah

Dampak Aktiva
Setelah Revaluasi

Laba

Pajak

Kerugian yang terus menerus akan mengakibatkan saldo laba perusahaan defisit.
Perusahaan yang mengalami saldo laba defisit akan kesulitan dalam melakukan kegiatan

operasional dan dalam pendanaan operasinya. Kreditur, investor dan pemasok akan
memandang perusahaan yang demikian adalah sebuah perusahaan yang bermasalah. Investor
akan enggan untuk menginvestasikan uangnya apabila sebuah perusahaan mengalami saldo
laba negatif karena perusahaan demikian sudah tidak menarik lagi, harga sahamnya sangat
rendah dan ada kecenderungan perusahaan tersebut segera pailit. Penjualan kredit yang
dilakukan oleh pemasok akan mendapat perhatian dari pemasok karena biasanya perusahaan
demikian akan kesulitan keuangan sehingga kewajiban yang timbul pada pemasok tersebut
akan lambat atau gagal dibayar.

Agar perusahaan dapat memulai awal yang baik (fresh start) dengan neraca yang
menunjukkan nilai sekarang tanpa dibebani dengan defisit, maka perusahaan melakukan
penilaian kembali aktiva tetap (revaluasi aktiva tetap) sebagai salah satu kebijakan
perusahaan melalui Kuasi Reorganisasi. Kuasi-reorganisasi merupakan reorganisasi, tanpa
melalui reorganisasi secara hukum yang dilakukan dengan menilai kembali akun-akun
aktiva dan kewajiban pada nilai wajar dan mengeliminasi saldo defisit. Menurut PSAK
51 paragraf 11,

syarat-syarat yang harus dipenuhi perusahaan untuk

melakukan kuasi

reorganisasi adalah sebagai berikut:

1.

Perusahaan mengalami defisit dalam jumlah yang material

2. Perusahaan harus memiliki status kelanacaran usaha dan memiliki prospek yang
baik pada saaat kuasi reorganisasi dilakukan
3. Saldo laba setelah proses kuasi reorganisasi harus nol
4. Tidak bertentangan dengan peraturan dan perundang undangan.

Dalam penelitian ini penulis hanya membahas mengenai penilain aktiva yaitu
aktiva tetap Perusahaan.
Pendekatan yang digunakan oleh perusahaan dalam penilaian Aktiva tetap tersebut
adalah
1. Pendekatan biaya, digunakan untuk menilai aktiva tetap selain tanah yaitu
Bangunan dan Sarana Pelengkap, Mesin dan Peralatan, Kendaraan dan
Inventaris Kantor
2. Pendekatan Data pasar, digunakan untuk menilai aktiva tetap tanah.
Pendekatan ini dilakukan berdasarkan nilai tanah terdekat atau properti
terdekat.

Berikut adalah ringkasan dari penilaian aktiva tetap sebelum dan sesudah di revaluasi yang
dinilai oleh PT Index Consultindo Appraisal:
Tabel
Ringkasan Penilaian Aktiva Tetap
Sebelum Dilakukan Revaluasi
Pada Tanggal 31 Mei 2007
Keterangan
Biaya
Penyusutan
Nilai Buku
perolehan
Tanah
90.898.557.232 90.898.557.232
Bangunan
41.107.113.943 24.664.268.366 16.442.845.577
Mesin & peralatan 144.543.886.005 93.631.433.209 50.912.452.796
Kendaraan
3.927.543.053
2.356.525.832
1.571.017.221
Inventaris kantor
1.120.076.178
672.045.707
448.030.471
Jumlah
281.597.176.411 121.324.273.114 160.272.903.297
Sumber: PT Kabelindo Murni Tbk.

Tabel
Ringkasan Penilaian Aktiva Tetap
Setelah Dilakukan Revaluasi
Pada Tanggal 31 Mei 2007
No

Uraian

Biaya Reproduksi
Baru

Nilai Pasar

Tanah

Rp

138.883.900.000

Rp

138.883.900.000

Bangunan

Rp

17.160.700.000

Rp

29.339.500.000

Mesin dan Peralatan

Rp

52.680.300.000

Rp

230.207.300.000

Kendaraan

Rp

1.956.000.000

Rp

1.956.000.000

Inventaris kantor

800.000.000

Rp

800.000.0000

Rp

Total

Rp

211.480.900.000

Rp

401.186.700.000

Sumber: PT. Kabelindo Murni Tbk.

Akibat dari meningkatnya nilai aktiva tetap dan beban penyusutan akibat
revaluasi aktiva tetap yang penyesuaiannya dilakukan pada tanggal 31 Mei 2007
maka dapat diproyeksikan penghematan pajak yang akan didapat oleh perusahaan
setelah satu tahun dilakukannya revaluasi dengan asumsi posisi laporan keuangan
tidak berubah adalah sebagai berikut:
1. Jika tidak dilakukan revaluasi
Laba perusahaan sebagai dasar pengenaan pajak penghasilan adalah sebesar
Rp 10.661.113.653 maka perhitungan beban pajak penghasilan adalah:
10 % x Rp

50.000.000

= Rp

5.000.000

15 % x Rp

50.000.000

= Rp

7.500.000

30 % x Rp

10.561.113.653

Total beban pajak

= Rp 3.168.334.096
= Rp 3.180.834.096

2. Jika dilakukan revaluasi


Laba perusahaan berkurang sebesar Rp 119.497.552 (Lihat tabel IV-9 dan
IV-10) yang berasal dari peningkatan biaya penyusutan setelah dilakukan

revaluasi aktiva tetap sehingga laba perusahaan sebagai dasar pengenaan pajak
menjadi Rp 10.661.113.653 Rp 1.619.497.552 = Rp 9.041.616.099, maka
perhitungan beban pajak penghasilan adalah:
10 % x Rp

50.000.000

= Rp

5.000.000

15 % x Rp

50.000.000

= Rp

7.500.000

30 % x Rp

8.941.616.099

Total beban pajak

= Rp

2.682.484.830
= Rp

2.694.984.830

Terdapat pengurangan pajak sebesar Rp 485.849.266 (Rp 3.180.834.096 Rp


2.694.984.830).
Terlihat jelas bahwa biaya yang harus dikeluarkan perusahaan dapat
mengurangi beban pajak yang harus dibayar, sehingga disimpulkan bahwa penilaian
kembali aktiva tetap yang dilakukan oleh perusahaan berhasil memberikan
penghematan pajak bagi perusahaan. Revaluasi ini juga dilakukan dalam rangka
kuasi reorganisasi, karena merupakan salah satu prosedur yang harus dilakukan
ketika perusahaan melakukan kuasi reorganisasi atau merestrukturisasi seluruh
aktiva dan kewajibannya.

KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang mendasari penilaian kembali aktiva tetap yang
telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya, maka dalam penyusunan skripsi ini,
penulis merumuskan masalah yang akan dikaji dan dalam tinjauan pustaka, maka
operasional yang akan dijabarkan sebagai berikut:
1.

Penilaian kembali aktiva tetap mengakibatkan atau memberikan dampak


pada penurunan laba perusahaan. Hal ini terjadi karena ada peningkatan

biaya depresiasi. Peningkatan biaya depresiasi disebabkan oleh penilain


kembali aktiva tetap yang secara hasil dapat memeberikan dampak pada
perusahaan.
2.

Revaluasi aktiva tetap berpengaruh pada penghematan pajak. Hal ini


terjadi karena adanya peningkatan biaya penyusutan yang mengakibatkan
laba perusahaan menurun sehingga berdampak pada pembiayaan pajak.

2. Saran
Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, saran yang dapat penulis
ajukan mengenai penilaian kembali aktiva tetap kepada perusahaan adalah:
1. Perusahaan sebaiknya tidak merevaluasi aktiva tetap yang masa
manfaatnya akan segera habis karena tidak akan memberikan keuntungan
kepada perusahaan. Penulis menyarankan hal ini karena terlihat jelas
bahwa semua aktiva tetap yang ada didaftar aktiva dilakukan revaluasi
termasuk aktiva yang masa manfaatnya akan segera habis pada tahun
berikutnya bahkan ada beberapa aktiva yang direvaluasi pada 31 Mei
2007 telah dihapuskan pada tahun 2008 dan ini akan mengalami kesulitan
dalam hal penghitungan nilai buku pada saat penghapusan dan
pencatatannya.
2. Karena penilaian kembali aktiva tetap bersifat pilihan bukan suatu
keharusan,

maka

manajemen

PT

Kabelindo

Murni

Tbk

perlu

mempertimbangkan dengan matang mengenai keuntungan maupun


kerugian dalam melakukan penilaian kembali aktiva tetap sebelum
memutuskan

untuk

menilai

kembali

aktiva

tetapnya.

Salah satu pertimbangan yang harus diutamakan adalah bahwa penilaian


kembali aktiva tetap jangan sampai merusak profitabilitas/rentabilitas
perusahaan yang bersangkutan, karena salah satu tujuan perusahaan
adalah untuk menjaga profitabilitas/rentabilitas perusahaan.
3. Setelah revaluasi aktiva tetap sebaiknya daftar aktiva tetap yang
berfungsi sebagai alat manajemen untuk mengontrol aktivanya segera di
update sesuai dengan nilai baru yang telah disepakati dengan pihak
penilai agar ada kesinambungan antara daftar aktiva dengan laporan
keuangan dan juga mempermudah manajemen dalam mengontrol
aktivanya. Hal ini disarankan oleh penulis karena sampai dengan 31
Desember 2007 daftar aktiva tetap masih dalam posisi sebelum
direvaluasi jadi setiap ada pemeriksaan terhadap laporan keuangan, jurnal
pada saat revaluasi harus diposting kembali.

DAFTAR PUSTAKA
Ardiantha. 2005. Metode Penusutan Aktiva Tetap dan Dampaknya
Terhadap Pajak Jurnal Ekonomi Pembangunan. Vol. 5, No.6:
213-254.
Belkoui, Ahmed Riahi. 2007. Accounting Theory (Teori Akuntansi), Edisi
Kelima. Jakarta: Salemba Empat.
Early Suandy. 2006. Perencanaan Pajak. Edisi ketiga, Jakarta: Salemba
Empat,

Fitria, Wahyu Kusuma Wardhani, 2006. Revaluasi Aktiva Tetap dan


Pengaruhnya pada Pajak Penghasilan yang Terhutang, Jurnal
Akuntansi. Vol.3, No.9: 25-152.
Harahap, Sofyan Syahfri. 1999. Akuntansi Aktiva Tetap. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2004. Standar Akuntansi. Jakarta: Salemba
empat.
Jaeni, 2005. Pengaruh Revaluasi Aktiva Tetap Terhadap Kinerja
Keuangan Bank, Jurnal Akuntansi, Vol. 3, No.1: 198-813.
Mei, Rida Dwi. 2006. Analisis Penerapan Metode Penyusutan Aktiva
Tetap Ditinjau dari sudut Standar Akuntansi Keuangan dan
Perpajakan. Jurnal Akuntansi dan Perpajakan. Vol. 5, No.4: 215438.
Primandita, Firtiandi. 2007. Kompilasi Undang Undang Terlengkap.
Jakarta: Salemba Empat.
Rian, Ardhi Radhite. 2009. Penerapan PSAK 16 Tentang Aset Tetap
dan Dampaknya Terhadap Perpajakan, Jurnal Revaluasi Aset.
Vol. 8, No.7: 12-35.

Sophar Lumbantoruan. 1999. Akuntansi Pajak. Jakarta: Grasindo.


Suryani, Dwi Kuswardhini. 2002. Analisa Revaluasi Aktiva Tetap
Terhadap Besarnya Pajak Penghasilan dalam Kaitannya dengan

Laporan Keuangan, Jurnal Ekonomi Pembangunan. Vol. 12,


No.5: 1-20.
Surat

Keputusan

Menteri

486/KMK.03/2002

Keuangan

tentang

Republik

penilaian

Indonesia

kembali

aktiva

Nomor
tetap

perusahaan untuk tujuan perpajakan. Ditetapkan pada tanggal 22


November 2002.
Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP519/PJ.2002
tentang tatacara dan prosedur pelaksanaan dan penilaian kembali
aktiva tetap perusahaan dengan tujuan perpajakan.
Tarko, Sunaryo. 2008. Revaluasi Aset Tetap Suatu Tinjauan dar Aspek
Akuntansi dan
Aspek Peraturan Perpajakan, Jurnal Akuntansi. Vol.7, N0.8: 18212.
Tuanakotta, Theodoras M. 2000. Teori Akuntansi. Buku dua, Jakarta:
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi.