Anda di halaman 1dari 2

Analisis Resin Komposit

Setelah melakukan penyinaran dengan visible blue light, didapatkan bahwa


resin komposit tidak terpolimerisasi dengan sempurna, yakni bagian dasar resin
yang terletak jauh dari sumber cahaya tidak terpolimerisasi. Hal ini menandakan
bahwa daya tembus cahaya atau depth of cure dari visible blue light terbatas.
Menurut teori yang terdapat di dalam buku karangan Richard van Noort yang
berjudul Introduction to Dental Materials, depth of cure dipengaruhi oleh faktorfaktor berikut.
1. Tipe komposit. Komposit yang memiliki shade yang gelap cenderung akan
memiliki depth of cure yang rendah, sebab, semakin gelap warna suatu
benda maka semakin sedikit kemungkinan benda tersebut menyerap cahaya
(dalam hal ini visible blue light), sehingga semakin sedikit pula resin yang
dapat terpolimerisasi.
2. Kualitas sumber cahaya. Depth of cure tidak hanya dipengaruhi oleh
intensitas cahaya, namun juga dipengaruhi oleh panjang gelombang cahaya
yang ditransmisikan oleh light-curing unit. Untuk memperoleh reaksi
polimerisasi resin komposit yang optimum, pastikan panjang gelombang
cahaya yang ditransmisikan oleh sumber cahaya berkisar di antara 460480nm. Sebab, cahaya dengan panjang gelombang tersebutlah yang dapat
diserap secara optimum oleh champhoroquinone (photo-inisiatior) di dalam
resin.
3. Metode/cara yang digunakan. Makin jauh light-curing unit dari permukaan
resin, maka makin sedikit resin komposit yang terpolimerisasi.
Oleh karena itu, sebaiknya penumpatan menggunakan resin komposit light
cured dilakukan dengan cara melakukan penyinaran setiap penambahan 2mm
pasta resin. Cara ini disebut dengan teknik incremental.
Kesimpulan: teknik penumpatan dengan menggunakan light-cured resin
composite yang baik ialah dengan teknik incremental. Karena, dengan melakukan
teknik incremental, resin komposit dapat terpolimerisasi secara sempurna dan
menghasilkan tumpatan yang optimal.

Analisis GIC

Pada GIC tipe I, perbandingan antara powder dan liquidnya adalah 1:2 dan
ukuran partikelnya lebih halus (20 m). Sebaliknya, GIC tipe II memiliki
perbandingan antara powder dan liquid sebesar 1:1 serta memiliki ukuran
partikel yang lebih besar (50 m). Perbedaan inilah yang menyebabkan GIC
tipe I bersifat lebih encer daripada tipe II.

Sifat encer yang dimiliki GIC tipe I menyebabkannya memiliki setting time
yang lebih lama dibandingkan GIC tipe II. Hal ini dapat dijelaskan
menggunakan teori yang terdapat di dalam buku Restorative Dental Materials
karangan Sakaguchi dan Powers. Semakin encer GIC, maka setting time
semakin lama karena terbentuk sisa asam dalam jumlah banyak. Akibat yang
ditimbulkan dari banyaknya sisa asam adalah terbentuknya salt gel matrix.

Keenceran GIC tipe I ini menjadikannya cocok untuk digunakan sebagai luting
cement (karena lebih mudah untuk memanipulasinya), sedangkan GIC tipe II
baik digunakan untuk restorasi gigi.

Kesimpulan: GIC tipe I dan II memiliki perbedaan dalam hal rasio liquid dan
powder, kekentalan/viskositas, setting time, dan juga perbedaan kegunaan dimana
masing-masing
tipe
memiliki
keunggulan
tersendiri,
tergantung
dari
pengaplikasiannya.
*yang kuning2 masih nyontek punya ayuna, hehehe.