Anda di halaman 1dari 32

TRAUMA NEONATUS

A.

Definisi
Trauma lahir adalah trauma pada bayi yang diterima dalam atau
karena proses kelahiran.
Istilah jejas lahir atau trauma kepala digunakan untuk menunjukkan
trauma mekanik yang dapat dihindari dan tidak dapat dihindari, serta trauma
anoksik yang dialami bayi selama kelahiran dan persalinan.Jejas ini dapat
merupakan akibat dari keterampilan atau perhatian medis yang tidak tepat
atau kurang, atau jejas dapat terjadi walaupun terdapat keterampilan dan
kemampuan melakukan obstetric, tidak berganting pada suatu tindakan atau
kelalaian.(Nelson, 2000).
Insiden jejas lahir diperkirakan 2-7/1.000 kelahiran hidup.Faktor-faktor
predisposisinya meliputi makrosomia, prematuritas, disproporsi kepala
terhadap

panggul,

distosia,

kelahiran

yang

lama

dan

presentasi

bokong.Secara keseluruhan, 5-8/100.000 bayi meninggal karena trauma


lahir, dan 25/100.000 meninggal karena jejas anoksik; jejas demikian
mewakili 2-3% kematian bayi.(Nelson, 2000).
Trauma kepala dan kulit kepala dapat terjadi selama proses
persalinan yang biasanya ringan namun kadang-kadang bisa mengakibatkan
cedera yang lebih serius, seperti perdarahan intrakranial dan hematoma
subdural. Tiga jenis cedera perdarahan ekstrakranial yang paling sering
adalah kaput suksedaneum, perdarahan subgaleal, dan sefalhematoma.
(Wong, 2009)
B.

Jenis-Jenis Trauma Kepala


1. Kaput suksedaneum
Lesi kulit yang paling sering ditemukan adalah kaput suksedaneum,
suatu daerah jaringan edema dengan batas tidak jelas yang terletak di
daerah kulit kepala yang merupakan bagian terbawah pada kelahiran puncak
kepala. (Wong, 2009)
Caput suksedaneum adalah pembengkakan difus jaringan lunak
kepala yang dapat melampaui sutura garis tengah.Kelainan ini sebagai akibat
sekunder dari tekanan uterus atau dinding vagina pada kepala bayi sebatas

caput.Keadaan ini dapat pula terjadi pada kelahiran spontan dan biasanya
menghilang dalam 2-4 hari setelah lahir.

2.

Sefalhematoma
Cephal Haematome adalah perdarahan sub periosteal akibat
kerusakan jaringan periosteum karena tarikan atau tekanan jalan lahir, dan
tidak pernah melampaui batas sutura garis tengah.
Cephal

haematom

merupakan

kumpulan

darah

di

bawah

periosteum bisa singular atau bilateral, darah tidak melewati garis sutura
dari kepala bayi sehingga kepala bayi lembut atau empuk.Beberapa cephal
haematom terjadi pada garis linear tulang kepala dimana sebagian besar
sembuh dengan baik.Tanda yang jelas dari fraktur kepala adalah daerah
yang tertekan dari kepala bayi, terutama sekali melebihi tulang parietal.Tipe
perlukan terjadi pada presentasi verteks ketika disporposi cephalopelviks
menyebabkan kesulitan dalam persalinan dan biasanya berpengaruh
terhadap tulang parietal sebagai presentasi, tetapi juga bisa berpengaruh
pada kedua tulang parietal (biparietal cephal haematom) dan kadang terjadi
pada tulang oksipital.Daerah dari kepala yang tertekan meningkatkan
kemungkinan memotong dari tulang kepala yang mengalami perembesan
sampai menutupi dura otak.Hal ini berhubungan dengan benturan yang
berlebihan dari kepala bayi dengan lingkar tulang panggul selama
persalinan, jaringan yang lunak dan keras dari kepala mengalami
kerusakan, periosteum mulai terkoyak dari tulang cranial dan disana
pengeluaran

daerah

merambat

di

bawah

periosteum,

akhirnya

menyebabkan bengkak yang besar. Bengkak tidak ada saat lahir tapi hanya
berkembang kira-kira 24 jam dan tidak melewati sutura. Kelainan ini muncul
beberapa jam setelah lahir, bisa bertambah besar dan agak lama
menghilang (1-3 bulan). Pada gangguan yang luas dapat menimbulkan
anemia

dan

hiperbilirubinemia.Kadang

hematom

tetap

ada

seperti

gumpalan yang keras di atas kepala seperti kalsium yang diletakkan.


3.

Perdarahan Subgaleal
Perdarahan subgaleal adalah perdarahan ke dalam kompartemen
subgaleal.Kompartemen subgaleal adalah ruang potensial yang berisi
jaringan ikat tersusun longgar, terletak di bawah galea aponerosis, suatu

selubung tendo yang menghubungkan otot frontal dan oksipital dan


membentuk permukaan dalam kulit kepala. Cedera yang terjadi karena
gaya yang menekan, kemudian menarik kepala melalui pelvic outlet.
C.

Etiologi
Jejas dapat merupakan akibat dari ketrampilan atau perhatian
medis yang tidak tepat atau kurang, atau jejas dapat terjadi walaupun
terdapat ketrampilan dan kemampuan untuk melakukan perawatan
obstetrik, tidak bergantung pada suatu tindakan atau kelalaian.
Faktor predisposisi :
a. Faktor Ibu :

Primigravida

Disproporsi Kepala terhadap Panggul

Distosia

Kelahiran yang lama

Presentasi bokong

Oligohidramnion
b. Faktor Bayi :

Presentasi muka atau bokong

BBLSR atau sangat premature

Bayi besar (Macrosomia)

Bayi dengan kepala yang besar

Bayi dengan kelainan bawaan


c. Tindakan persalinan

Forseps atau vacuum ekstraksi

Versi dan ekstraksi

D.

Patofisiologi
Tekanan yang terjadi pada proses persalinan normal adalah pada
bagian simfisis pubis, promontorium sakaralis, atau spina iskhiadikus ibu.
Tekanan tersebut akan membuat trauma pada kepala bayi dari yang
paling ringan yaitu kaput suksedaneum sampai pada fraktur kepala, dan
bisa diperberat dengan adanya proses persalinan dengan bantuan
mekanik (misalnya forceps).

E.

Tanda Dan Gejala


Tanda dan gejala pada trauma kepala/jejas kranium berdasarkan jenis
jejas yang terjadi pada kepala bayi.Menurut Nelson, 2000, jenis jejas kranium
terdiri dari :

1.

Kaput suksedaneum adalah pembengkakan yang edematosa, kadang


ekimotik, dan difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian
yang telah dilahirkan.
Tanda dan gejala :
a.
b.
c.
d.
e.

Adanya oedema di kepala


Pada perabaan teraba lembut dan lunak.
Oedem melampaui sela-sela tulang tengkorak
Batas tidak jelas.
Biasanya menghilang dalam waktu 2-4 hari tanpa pengobatan

2. Eritema, luka lecet, ekimosis pada jaringan lunak atau kulit kepala.
3. Perdarahan subkonjungtiva atau retina dan ptekie pada kulit kepala.
4.

Sefalhematoma adalah perdarahan subperiosteum, karena terbatas pasa 1


permukaan tulang kranium. Tidak ada perubahan warna pada kulit kepala
yang menutupi dan pembengkakan biasa tidak terlihat sampai beberapa jam
sesudah lahir, keran prosesnya lambat.
Tanda dan gejala :

5.

a.

Kepala bengkak dan merah

b.

Batasnya jelas

c.

Pada perabaan mula-mula keras lambat laun lunak

d.

Menghilang pada waktu beberapa minggu.

Fraktur tengkorak.
Fraktur dapat terjadi akibat tekanan mekanis yang kuat misal pada
forseps atau pada beberapa tulang ibu yang menonjol yaitu promontorium
atau spina iskhiadika saat persalinan bokong.Fraktur linier adalah yang
paling sering terjadi.Sering fraktur tidak menimbulkan gejala kecuali disertai
jejas yang jelas pada intrakranium.

F.

Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi (Nelson, 2000) :
1.

Syok

2.

Perdarahan intrakranium

3.

Hiperbilirubinemia

4.

Protuberansia tulang (pelebaran celah diploik)

5.
G.

Kalsifikasi tulang

Penatalaksanaan
Sebagian besar jejas kranium tidak diperlukan pengobatan khusus dan dapat
menghilang pada 1 minggu-3 bulan tergantung lokasi dan beratnya kondisi.
Pada beberapa keadaan dapat diberikan fototerapi yaitu bila terjadi
hiperbilirubinemia atau transfusi bila ada perdarahan, atau penanganan
peningkatan TIK sesuai prosedur yang ada.

II. Asuhan Keperawatan


A.

Pengkajian

1.

Identitas : lengkap, termasuk orang tua bayi

2.

Riwayat kesehatan :
a. Keluhan utama: terutama pada jejas yang tampak dan sistem pernafasan :
cyanosis, grunting , RR, cuping hidung

b. Riwayat kesehatan : terutama umur kehamilan dan proses persalinan


3.

Pemeriksaan Fisik :
a. Keadaan umum : kesadaran, vital sign
b. Pemeriksaan fisik : terutama bagian kepala yang terdapat jejas atau bagian
lainnya yang mungkin terjadi.
c. Pemeriksaan persistem : terutama pada sistem yang terlibat langsung

Sistem pernafasan : kesulitan dalam respirasi normal. Refraksi


strenum dan interkosta, nafas cuping hidung, cyanosis pada udara

B.

kamar, grunting, respirasi cepat atau lambat


Sistem kardiovaskulaer : takikardia, nadi lemah/cepat, akral

dingin/hangat, cyanosis perifer


Sistem gastrointestinal : muntah,

menurun/meningkat
Sistem perkemihan : keluaran urine, warna

kembung,

peristaltik

Diagnosa keperawatan
1. Perfusi jaringan tidak efektif (spesifik serebral) berhubungan dengan aliran
arteri dan atau vena terputus.
2. PK: peningkatan TIK dengan proses desak ruang akibat penumpukan cairan/
darah di dalam otak.
3. Kebersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan fisiologis (disfungsi
neuromuskuler).
4. PK : Anemia
5. Resiko aspirasi, faktor resiko: penurunan tingkat kesadaran, penurunan
fungsi otot-otot pernafasan
6. Hipotermia berhubungan dengan berada di lingkungan yang dingin
7. Resiko infeksi

C.

Rencana Keperawatan
Diagnosa
No
1

Keperawatan

NOC

NIC

Perfusi jaringan tak NOC:

Monitor Tekanan Intra

efektif (spesifik sere-1. Status sirkulasi

Kranial

bral) b.d aliran arteri2. Perfusi jaringan1.


dan

atau

vena serebral

Catat
respon

perubahan
klien

terhadap

terputus,

dengan3. Setelah

batasan
teristik:
-

Perubahan
respon motorik

Perubahan
respon pupil

stimu-lus / rangsangan

karak dilakukan

2.

Monitor TIK klien dan

tindakan

respon

keperawatan

terhadap aktivitas

selama .x 243.

neurologis

Monitor

intake

dan

restrain,

jika

suhu

dan

jam, klien mampu output


men-capai :
Status

4.

Pasang

sirkulasi perlu

dengan indikator: 5.

Monitor

Tekanan darah angka leukosit


sis-tolik

dan6.

diastolik

dalam7.

rentang

Kaji adanya kaku kuduk


Kelola

pemberian

yang antibiotik

diharapkan
Tidak

8.

Berikan posisi dengan

ada kepala

elevasi

30-

ortostatik

40Odengan leher dalam

hipotensi

posisi netral

Tidak

ada9.

tanda-tanda PTIK
Perfusi

Minimalkan
dari lingkungan

jaringan10.

Beri jarak antar

serebral, dengan tindakan


indikator :
kesadaran

keperawatan

untuk

Tingkat

stimulus

meminimalkan

peningkatan TIK
klien11.

membaik

Kelola obat obat

untuk

mempertahankan

TIK dalam batas spesifik


Monitoring Neurologis
(2620)
1.

Monitor

ukuran,

kesimetrisan, reaksi dan


bentuk pupil
2.

Monitor

tingkat

kesadaran klien
3.

Monitor

tanda-tanda

vital
4.

Monitor muntah

5.

Monitor

respon

klien

terhadap pengobatan
6.

Hindari

aktivitas

jika

TIK meningkat
7.

Observasi kondisi fisik


klien
Terapi Oksigen (3320)

1.

Bersihkan jalan nafas


dari secret

2.

Pertahankan

jalan

nafas tetap efektif


3.

Berikan oksigen sesuai


instruksi

4.

Monitor aliran oksigen,


kanul

oksigen,

dan

humidifier
5.

Observasi tanda-tanda
hipoventilasi

6.

Monitor
terhadap

PK:

peningkatan Setelah dilakukan1.

tekan-an intrakranial tindakan


b.d

pro-ses

ruang

Kaji

....x

penumpukan cairan / jam


darah di dalam otak mencegah
(Carpenito, 1999)

klien

pemberian
tanda

dan

gejala peningkatan TIK

desak keperawatan
akibat selama

oksigen
Pantau

respon

tanda-

24 tanda vital

dapat Kaji respon pupil


atau Catat gejala dan tanda-

meminimalkan
komplikasi

perubahan

tanda: muntah, lethargi,

dari gelisah,

nafas

keras,

Batasan

peningkatan TIK, gerakan tak bertujuan.

karakteristik :

dengan kriteria : 2.

Penurunan

Tinggikan kepala 30-

Kesadaran stabil 40Ojika tidak ada kontra

kesadar-an (gelisah)
Perubahan

(orien-asi baik)

Pupil

indikasi

isokor,3.

motorik dan persepsi diameter 1mm


sensasi

Perubahan tanda

manuver sebagai berikut:

Reflek baik

Masase karotis

Tidak muntah

Fleksi dan rotasi leher

vi-tal (TD meningkat,


nadi

kuat

dan

berlebihan
4.

lambat)
Pupil melebar, re-

Hindarkan situasi atau

Pertahankan
lingkungan yang tenang

5.

flek pupil menurun

Hindarkan pelaksanaan
urutan

Muntah

aktivitas

yang

dapat meningkatkan TIK


(misal:

batuk,

penghisapan,
pengubahan

posisi,

meman-dikan)
6.

Batasi

waktu

penghisapan pada tiap


waktu hingga 10 detik
7.

Hiperoksigenasi

dan

hiperventilasi klien sebelum

dan

sesudah

penghisapan
8.

Pertahankan

ventilasi

optimal

melalui

posisi

yang

sesuai

dan

penghisapan

yang

teratur
9.

Jika
lakukan

diindikasikan,
protokol

atau

kolaborasi dengan dokter


untuk terapi obat yang
mungkin

termasuk

sebagai berikut:
Sedasi,

barbiturat

(menurunkan laju meta-

bolisme serebral)
Antikonvulsan
(mencegah kejang)
Diuretik

osmotik

(menurunkan

edema

serebral)
Diuretik

non

(mengurangi

osmotik
edema

serebral)
Steroid

(menurunkan

permeabilitas

kapiler,

membatasi

edema

serebral)
Pantau

status

hidrasi,

evaluasi cairan masuk


3

Kebersihan
nafas

jalan Setelah dilakukan1.

tak

efektif tindakan

berhubungan
dengan

Buka

keperawatan
....X24jam,

neuromuskuler),

diharapkan

dengan

nafas,

atau jaw trust bila perlu


Posisikan

klien

untuk

klien memaksimalkan ventilasi

batasan menunjukkan

karakteristik:

jalan

gunakan teknik chin lift

fisiologis selama

(disfungsi

dan keluar)
Manajemen jalan nafas

Identifikasi klien perlunya

jalan nafas yang pemasangan alat jalan

Dyspnea, penurunan paten.

nafas buatan

suara nafas

Pasang mayo bila perlu

Kelainan suara nafas NOC: respiratoryLakukan fisioterapi dada


(ronchi)
Produksi

status:

sputum patency (0410)

banyak
Perubahan

airway bila perlu


Keluarkan sekret dengan

Indikator:
frekuensiFrekuensi

dan irama nafas

suction
nafasAuskultasi suara nafas,

40-60x/menit

catat

Irama nafas teratur


Sputum
dikeluarkan

adanya

suara

berlebihan

dapatLakukan
dari mayo

suction

pada

jalan nafas
Tak

ada

Berikan

bronchodilator

suara bila perlu

nafas tambahan Berikan pelembab udara


Atur intake cairan utuk
mengoptimalkan
keseimbangan
Monitor

respirasi

dan

status oksigen
2.

Suction

jalan

nafas

(3160)
Pastikan kebutuhan oral
suctioning
Auskultasi
sebelum

suara
dan

nafas

sesudah

suctioning
Informasikan pada klien
dan

keluarga

tentang

suctioning
Berikan oksigen dengan
menggunakan
untuk

hood

memfasilitasi

suction nasotrakheal
Gunakan alat yang steril
setiap

melakukan

tindakan
Hentikan

suction

dan

berikan O2 apabila klien


menunjukkan bradikardia
dan peningkatan saturasi
4

Resiko
faktor resiko:
penurunan
kesadaran

aspirasi, Setelah dilakukan1.


tindakan
tingkat keperawatan
selama ....x24jam

O2
Suction

jalan

(3160)
Lihat diagnosa 1

nafas

penurunan

fungsi klien

otot-otot pernafasan

mampu2.

mencapai:
1.

aspirasi

(3200)

Respiratori
status:

Pencegahan

Monitor

tingkat

ventilasi kesadaran,

(pertukaran

reflek

gas menelan,

dalam

gangguan

paru) reflek, dan kemampuan

0403, indikator:

menelan

Irama nafas teraturMonitor status paru paru


RR: 40-60 x/mnt Pertahankan jalan nafas
Ekspansi

dadaJaga suction selalu siap

simetris

pakai

Bernafas spontan/Cek posisi NGT sebelum


mudah

memberikan makanan

Suara nafas bersihCek residu NGT sebelum


Tak

ada

retraksi memberikan makanan

dada
Tak

Hindari
ada

suara makanan

nafas tambahan
2.

memasukkan

Respiratori
status:

jika

residu

masih banyak
Posisikan

kepala/

gas tinggikan

exchange

bed

30-40

menit setelah pemberian

(pertukaran

gas makanan

CO2 dan O2 di
alveoli (0402)

3.

indikator:

Monitoring

Respirasi

(3350)

Bernafas mudah Monitor

rata

rata,

Tak ada dyspnea

kedalaman, irama, dan

Tak ada cyanosis

usaha respirasi

Saturasi
100%
PaO2
mmHg
PaCO2

O2

85-Catat pergerakan dada,


amati

kesimetrisan,

70-100 penggunaan

otot

otot

dan tambahan, retraksi otot


35-45 supra

klavikula,

dan

mmHg, jika klien intercostals


memakai

Monitor

suara

nafas

ventilator

seperti dengkur/ ngorok


Monitor

pola

nafas,

bradipnea,
kusmaul,

takipnea,
hiperventilasi,

cheyne stokes, biot.


Palpasi

kesamaan

ekspansi paru
Perkusi

thorak

anterior

dan posterior dari apeks


sampai basis bilateral
Catat lokasi trachea
Monitor

kelelahan

diafragma

otot

(gerakan

paradoksi)
Auskultasi suara nafas,
catat

area

penurunan

atau tak adanya ventilasi


dan suara tambahan
Tentukan

kebutuhan

suction

dengan

mengauskultasi

cracles

dan ronchi pada jalan


nafas utama
Auskultasi

suara

paru

setelah tindakan untuk


mengetahui hasilnya
Monitor

hasil

ventilasi

mekanik,

catat

peningkatan

tekanan

inspirasi dan penurunan


tidal volume (jika klien
memakai ventilator)
Catat

perkembangan

SaO2, dan tidal CO2,


perubahan

AGD

(jika

klien memakai ventilator)


Monitor kemampuan klien
untuk batuk efektif
Monitor sekret respirasi
klien
Catat onset, karakteristik,
dan durasi batuk
Monitor

dyspnea

dan

kejadian

yang

meningkatkan

atau

memperburuk respirasi
Buka jalan nafas dengan
chin lift atau jaw trust k/p
Posisikan klien pada satu
sisi

untuk

mencegah

aspirasi
Lakukan resusitasi k/p
Lakukan tindakan terapi
respiratori
4.

Posisioning/

mengatur

posisi (0840)
Atur

posisi

klien

semi

fowler, ekstensi kepala


Miringkan
5

kepala

bila

Hipotermia

muntah
Setelah dilakukan Hipotermia Treatment

berhubungan

tindakan

- Pindahkan bayi dari

di keperawatan

lingkungan yang dingin

dengan

berada

lingkungan
dingin

yang selama ..x 24 ke


jam

hipotermia lingkungan/tempat yang

Batasan karakteristik tidak


:
-

terjadi hangat

dengan kriteria :
Penurunan

tubuh

di

suhu -

dalam

suhu

bawah 36,5-37 C

inkubator

(didalam
atau

lampu

aksila sorot)
- segera ganti pakaian

rentang normal

RR

- pucat

kali/menit

- menggigil

- kulit dingin

merah muda

- dasar kuku sianosis

warna
pasien

- pengisian kapiler gelisah


lamabat

40-60 pasien yang dingin dan

pasien

letargi

basah dengan pakaian


kulit yang hangat dan kering,
berikan selimut
tidak -

monitor

gejala

hopotermia

tidak lemah,

dari

fatigue,
apatis,

perubahan warna kulit


-

monitor

status

pernafasan
-

monitor

intake

dan

output

PENANGANAN GAWAT DARURAT PADA BALITA

Dunia international sudah menetapkan rumusan dalam menangani


Penderita Gawat Darurat, yaitu : ABCDE (Air Way, Breathing and Ventilation,
Circulation, Disability, Exposure). Airway ditempatkan pada urutan pertama
karena masalah airway akan mematikan paling cepat.
A.

AIRWAY

Gangguan airway dapat timbul secara total & mendadak tetapi


sebaliknya bisa secara bertahap dan pelan-pelan. Takhipnea merupakan
tanda awal yang samar-samar akan adanya gangguan terhadap airway.
Adanya ketakutan & gelisah merupakan tanda hipoksia oleh karena itu harus
selalu secara berulang-ulang kita nilai airway ini terutama pada penderita
yang tidak sadar. Penderita dengan gangguan kesadaran oleh karena cidera
kepala obat-obatan atau alkohol, cedera toraks, aspirasi material muntah
atau tersedak mungkin sekali terjadi gangguan airway. Disini diperlukan
intubasi endotrakheal yang bertujuan :4
1.

Membuka airway

2.

Memberikan tambahan oksigen

3.

Menunjang ventilasi

4.

Mencegah aspirasi
Penanganan sumbatan airway karena pangkal lidah pada penderita

dengan kemungkinan patah tulang leher dapat dilakukan secara manual


dengan tindakan chin lift dan jaw thrust.
Tanda-tanda Obyektif Sumbata Airway
1. Look
Terlihat pasien gelisah dan perubahan kesadaran. Ini merupakan gejala
adanya hipoksia dan hipercarbia. Pasien terlihat cyanosis terutama pada kulit
sekitar mulut, ujung jari kuku. Juga terlihat adanya kontraksi dari otot
pernafasan tambahan.
2. Listen
Disini kita dengarkan apakah ada suara seperti orang ngorok, kumur-kumur,
bersiul, yang mungkin berhubungan dengan adanya sumbatan partial pada
farink/larink. 1,2,4
3. Feel
Kita bisa rasakan bila ada sumbatan udara terutama pada saat ekspirasi bila
kedudukan trackhea di linea media. 1,2,4

Gambar 1. Cara evaluasi obyektif sumbata airway

Pengenalan adanya gangguan jalan nafas & ventilasi harus bisa


dilakukan secara cepat & tepat. Bila memang ada harus secepatnya gangguan
jalan nafas dan ventilasi ini untuk segera diatasi. Hal penting ini untuk menjamin
oksigenasi ke jaringan. Haruslah diingat setiap tindakan untuk menjamin airway
yang baik harus selalu dengan penekanan untuk selalu menjaga cervical spine
terutama pada penderita dengan trauma dan cedera di atas clavikula. Pada
setiap penderita dengan gangguan saluran nafas, harus selalu secara cepat
diketahui apakah ada benda asing, cairan isi lambung, darah di saluran nafas
bagian atas. Kalau ada harus segera dicoba untuk dikeluarkan bisa dengan jari,
suction. Suatu saat bila dilapangan ada penderita dengan sumbatan jalan nafas
misal tersedak makanan abdominal trust akan sangat berguna. 1,2,4
Teknik-teknik Mempertahankan Airway :
Pada penderita dengan kehilangan kesadaran mungkin sekali lidah akan
jatuh ke belakang dan menutupi hipofarink dan menimbulkan sumbatan jalan
nafas. Ini bisa ditolong dengan jalan :
a.

Chin lift
Tindakan chin lift dilakukan dengan cara jari jemari salah satu tangan
diletakan dibawah rahang, kemudian secara hati-hati diangkat keatas
arah depan. Ibu jari tangan yang sama, dengan ringan menekan bibir
bawah untuk membuka mulut. Ibu jari dapat juga diletakan dibelakang gigi
seri bawah dan secara bersamaan mengangkat dagu dengan hati-hati.

Manuver chin lift tidak boleh menyebabkan hiperekstensi leher, terutama


pada penderita trauma dengan kemungkinan mengalami patah tulang
leher yang ditandai dengan: 1. Adanya jejas atau perlukaan diatas
klavikula. 2.Adanya trauma kepala disertai penurunan kesadaran.
3.Multiple trauma. 4.Biomekanik mendukung.

Gambar 2. Chin Lift pada bayi dan anak


b.

Jaw thrust
Tindakan jaw thrust (mendorong rahang) dilakukan dengan cara
memegang sudut rahang bawah (angulus mandibulae) dan mendorong
rahang bawah kedepan. keuntungan melakukan tindakan ini adalah dapat
sekaligus melakukan fiksasi kepala agar selalu pada posisi segaris (in
line), selain itu bila cara ini dilakukan sambil baging atau memegang bagvalve dapat dicapai kerapatan yang baik dan ventilasi yang adekuat.6
Jika ada dugaan trauma leher dan tulang belakang stabilisasi leher dan
gunakan Jaw thrust tanpa Head tilt. Letakkan jari ke 4 dan 5 di belakang
angulus mandibula dan gerakkan ke atas sehingga rahang terangkat ke
atas membentuk sudut 90o terhadap badan (lihat gambar di bawah). Lihat
rongga mulut dan keluarkan benda asing bila ada dan bersihkan sekret
dari rongga mulut.

Evaluasi jalan napas dengan melihat pergerakan

dinding dada, dengarkan suara napas dan rasakan udara napas.

Gambar 3. Jaw Thrust

Airway Definitif
Disini ada pipa dalam trakhea dengan balon yang dikembangkan,
dimana pipa ini dihubungkan dengan alat bantu pernafasan yang diperkaya
dengan oksigen. Cara : oratracheal, nasotracheal & surgical (krikotiroidotomi
atau trakheotomi). Indikasi pemasangan airway definitif bila ditemukan
adanya temuan klinis :
a. Apnue
b. Ketidakmampuan mempertahankan airway yang bebas dengan cara yang
lain
c. Untuk melindungi airway bagian bawah dari aspirasi darah atau
muntahan
d. Adanya ancaman segera sumbatan airway oleh karena cidera inhalasi
patah tulang wajah hematoma retropharingeal.
Cidera kepala tertutup yang memrlukan bantuan nafas (GCS 8). Dari
ketiga

cara

ini

(naso/orotrakheal).

yang

terbanyak

Pemilihan

dipakai

naso/orotrakheal

adalah
intubation

endotrakheal
tergantung

pengalaman dokter. Kedua teknik ini aman dan efektif bila dilakukan dengan
tepat. Haruslah diingat pada pemasangan endotrakheal tube ini harus selalu
dijaga aligment dari columna vertebralis dengan cervikal.4,5
Airway Definitif Surgical
Ini dikerjakan bila ada kesukaran atau kegagalan didalam memasang
endotrakheal intubasi. Pada keadaan yang membutuhkan kecepatan lebih
dipilih krikotireodektomi dari pada tracheostomi.4,5
a. Needle cricothyroidoktomi

Cara dengan menusukkan jarum lewat membran krikotiroid, ini hanya


bisa memberikan oksigen dalam waktu yang pendek (30-45 menit). Disini
dipakai jarum no 12-14 (anak 16-18 tahun)
b. Surgical cricothyroidoktomi
Penderita tidur posisi supinasi sesudah dilakukan anestesi lokal buat
irisan kulit tranversal sampai membran cricothyroid lubang ini bisa
dilebarkan dengan gagang pisau dengan cara memutar 90 derajad. Disini
bisa dipakai tracheostomi tube atau endotracheal tube. Hati-hati dengan
cartilago cricoid terutama pada anak-anak (teknik ini tidak dianjurkan
pada anak dibawah 12 tahun), hal ini dikarenakan cartilago cricoid
merupakan penyangga trachea bagian atas.
Ketidakmampuan untuk memberikan oksigenasi ke jaringan tubuh
terutama ke otak dan organ vital yang lain merupakan pembunuh tercepat
pada pasien. Oleh karena itu airway yang baik merupakan prioritas
pertama pada setiap penderita gawat darurat.
Kematian-kematian dini karena masalah airway :
1.

Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan airway

2.

Ketidakmampuan untuk membuka airway

3.

Kegagalan mengetahui adanya airway yang dipasang secara keliru

4.

Perubahan letak airway yang sebelumnya telah dipasang

5.

Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan ventilasi

6.

Aspirasi isi lambung, darah

B. BREATHING
Jenis-jenis suara nafas tambahan karena hambatan sebagian
jalan nafas: a.Snoring: suara seperti ngorok, kondisi ini menandakan
adanya kebuntuan jalan napas bagian atas olehbenda padat, jika
terdengar suara ini maka lakukanlah pengecekan langsung dengan cara
cross-finger untuk membuka mulut (menggunakan 2 jari, yaitu ibu jari dan
jari telunjuk tangan yang digunakan untukchin lift tadi, ibu jari mendorong
rahang atas ke atas, telunjuk menekan rahang bawah ke bawah). Lihatlah
apakah ada benda yang menyangkut di tenggorokan korban (eg: gigi

palsu dll). Pindahkan benda tersebut. b. Gargling : suara seperti


berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebuntuan yang disebabkan
olehcairan (eg: darah), maka lakukanlah cross-finger(seperti di atas), lalu
lakukanlah finger-sweep (sesuainamanya, menggunakan 2 jari yang
sudah dibalut dengan kain untuk menyapu rongga mulut dari cairancairan). c.Crowing : suara dengan nada tinggi, biasanya disebakan
karena pembengkakan (edema) pada trakea,untuk pertolongan pertama
tetap lakukan maneuver head tilt and chin lift atau jaw thrust saja.4,5
Pada anak-anak, masalah airway yang sering muncul adalah
obstruksi yang diakibatkan oleh aspirasi benda asing yang di makan.
Sekitar 70% kejadian aspirasi benda asing terjadi pada anak berumur
kurang dari 3 tahun. Hal ini terjadi karena anak seumur itu sering tidak
terawasi, lebih aktif, dan cenderung memasukkan benda apapun ke
dalam mulutnya.
Aspirasi benda asing ke dalam saluran napas akan menimbulkan
gejala sumbatan jalan napas. Gejala klinik yang timbul tergantung pada
jenis benda asing, ukuran, sifat iritasinya terhadap mukosa, lokasi, lama
benda asing di saluran napas, dan ada atau tidaknya komplikasi.
Penderita umumnya datang ke rumah sakit pada fase asimptomatik. Pada
fase ini keadaan umum penderita masih baik dan foto toraks belum
memperlihatkan kelainan. Pada fase pulmonum, benda asing di bronkus
utama atau cabang-cabangnya akan menimbulkan gejala batuk, sesak
napas yang makin lama semakin bertambah berat, pada auskultasi
terdengar ekspirasi memanjang dengan mengi, dan dapat disertai
demam.3,4
Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan terjadinya aspirasi
benda asing adalah: usia yaitu pada anak-anak, dimana mereka sering
memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut, gigi geligi yang belum
lengkap dan refleks menelan yang belum sempurna. Kedua, jenis
kelamin, lebih sering pada laki-laki. Ketiga, lingkungan dan kondisi sosial.
Empat, kegagalan mekanisme proteksi, misalnya penurunan kesadaran,
keadaan umum buruk, penyakit serebrovaskuler, dan kelainan neurologik.

Kelima, faktor kecerobohan, misalnya kebiasaan menaruh benda di


mulut, makan dan minum tergesa-gesa.4,5
Faktor fisiologik dan sosiologik lain yang juga merupakan faktor
predisposisi antara lain: pertumbuhan gigi belum lengkap, belum
terbentuk gigi molar, belum dapat menelan makanan padat secara baik,
kemampuan anak membedakan makanan yang dapat dimakan dan tidak
dapat dimakan belum sempurna. Benda tersangkut pada saat makan
sambil tertawa, bicara menangis, dan berlari. Pada orang tua, terutama
yang mempunyai gangguan neurologis dan berkurangnya refleks
menelan dapat disebabkan oleh pengaruh alkohol, stroke, parkinson,
trauma, dementia juga mempunyai risiko yang besar untuk terjadinya
aspirasi.4,5
Pada anak adanya riwayat teraspirasi benda asing sangat
membantu dalam menegakkan diagnosis pada banyak kasus. Kecurigaan
adanya aspirasi benda asing muncul bila terdapat gejala batuk yang
paroksisimal (paroxysmal coughing) yang timbul tiba-tiba, rasa tercekik
(choking) pada waktu makan atau choking/coughing yang timbul bila
diketahui adanya objek yang kecil atau partikel makanan terutama kacang
di dalam jangkauan si anak. Anak yang telah mendapat terapi sebagai
asma, bronkitis atau pneumonia dan tidak respon dengan pengobatan
medik yang sesuai atau adanya gangguan napas yang tidak dapat
dijelaskan penyebabnya, kemungkinan akan adanya aspirasi benda asing
musti dipertimbangkan terutama dengan mengi unilateral walaupun tidak
ada riwayat aspirasi.4,5
Gejala awal aspirasi akut dapat ditandai dengan episode yang
khas yaitu choking (rasa tercekik), gagging (tersumbat), sputtering
(gagap), wheezing (napas berbunyi), paroxysmal coughing, serak,
disfonia sampai afonia dan sesak napas tergantung dari derajat
sumbatan. Choking atau coughing timbul pada hampir 95% anak dengan
aspirasi benda asing dan 50% diantaranya mempunyai gejala stridor
inspirasi atau wheezing ekspirasi, dengan pemanjangan ekspirasi dan
ronki.4,5,6

Benda asing yang tersangkut di trakea akan menyebabkan stridor,


dapat ditemukan dengan auskultasi (audible stridor) dan palpasi di daerah
leher (palpatory thud). Jika benda asing menyumbat total trakea akan
timbul sumbatan jalan napas akut yang memerlukan tindakan segera
untuk membebaskan jalan napas. Gejala pada dewasa umumnya sama
dengan gejala pada anak tetapi gejala paru termasuk edema paru banyak
ditemukan.6
Bila anak batuk atau dengan wheezing yang dicurigai terjadi
aspirasi benda asing di saluran napas tetapi dengan saluran napas yang
masih bebas, jangan melakukan intervensi apapun, segera kirim ke
rumah sakit terdekat yang diperkirakan mempunyai fasilitas yang cukup
untuk melakukan tindakan ekstraksi benda asing. Bronkoskop kaku
dengan kontrol pernapasan merupakan pilihan utama untuk kasus benda
asing di traktus trakeobronkial. Kebanyakan pasien yang datang ke
pelayanan tertier telah melewati fase darurat akut. Bila terdapat gangguan
jalan napas berat atau adanya obstruksi total dan benda asing tidak tajam
lakukanlah back blows, abdominal thrusts atau Heimlich. Metode ini
tergantung umur penderita.6
Pada bayi yang berumur kurang dari 1 tahun: Letakkan bayi pada
lengan atau paha dengan posisi kepala lebih rendah. Berikan 5 pukulan
dengan mengunakan tumit dari telapak tangan pada bagian belakang
bayi (interskapula). Tindakan ini disebut Back blows. Bila obstruksi masih
tetap, balikkan bayi menjadi terlentang dan berikan 5 pijatan dada dengan
menggunakan 2 jari, satu jari di bawah garis yang menghubungkan kedua
papila mamae (sama seperti melakukan pijat jantung). Tindakan ini
disebut Chest thrusts. Bila obstruksi masih tetap, evaluasi mulut bayi
apakah ada bahan obstruksi yang bisa dikeluarkan. Bila diperlukan, bisa
diulang dengan kembali melakukan pukulan pada bagian
bayi.6

belakang

Gambar 4. Penanganan pada obstruksi benda padat pada bayi


Pada

anak

yang

berumur

lebih

dari

tahun,

maka

penanganannya adalah: Letakkan anak dengan posisi tengkurap dengan


kepala lebih rendah. Berikan 5 pukulan dengan menggunakan tumit dari
telapak tangan pada bagian belakang anak (interskapula) Bila obstruksi
masih tetap, berbaliklah ke belakang anak dan lingkarkan kedua lengan
mengelilingi badan anak. Pertemukan kedua tangan dengan salah satu
mengepal dan letakkan pada perut bagian atas (di bawah sternum) anak,
kemudian lakukan hentakan ke arah belakang atas (lihat gambar).
Lakukan perasat Heimlich tersebut sebanyak 5 kali. Bila obstruksi masih

tetap, evaluasi mulut anak apakah ada bahan obstruksi yang bisa
dikeluarkan.

Bila diperlukan bisa diulang dengan kembali melakukan

pukulan pada bagian belakang anak.6

Gambar 5. Penanganan obstruksi benda padat pada anak


Persiapan ekstraksi benda asing harus dilakukan sebaik-baiknya
dengan tenaga medis/operator, kesiapan alat yang lengkap. Besar dan
bentuk benda asing harus diketahui dan mengusahakan duplikat benda
asing serta cunam yang sesuai benda asing yang akan dikeluarkan.
Benda asing yang tajam harus dilindungi dengan memasukkan benda
tersebut ke dalam lumen bronkoskop. Bila benda asing tidak dapat masuk
ke lumen alat maka benda asing kita tarik secara bersamaan dengan
bronkoskop.6
Di Instalasi Gawat Darurat, terapi suportif awal termasuk
pemberian oksigen, monitor jantung dan pulse oxymetri dan pemasangan
IV dapat dilakukan. Bronkoskopi merupakan terapi pilihan untuk kasus
aspirasi. Pemberian steroid dan antibiotik preoperatif dapat mengurangi
komplikasi seperti edema saluran napas dan infeksi. Metilprednisolon 2
mg/kg

IV

dan

antibiotik

spektrum

luas

yang

cukup

mencakup

Streptokokus

hemolitik

dan

Staphylococcus

aureus

dapat

dipertimbangkan sebelum tindakan bronkoskopi. 6,7


Riwayat, pemeriksaan fisik dan radiologi sering menunjukkan
dugaan benda asing saluran napas tanpa diagnosis pasti. Pada keadaan
ini harus dibuktikan adanya benda asing secara endoskopi untuk
menyingkirkan dari diagnosis diferensial. Keterlambatan mengeluarkan
benda asing akan menambah tingkat kesulitan terutama pada anak, tetapi
ahli endoskopi menyatakan walaupun bronkoskopi harus dilakukan pada
waktu yang tepat dan cepat untuk mengurangi risiko komplikasi terapi
tidak harus dilakukan terburu-buru tanpa persiapan yang baik dan hatihati. Penatalaksanaan dan teknik ekstraksi benda asing harus dinilai
kasus per kasus sebelum tindakan ekstraksi.6,7
C.

Sirkulasi
Penyebab terbesar pasien yang mengalami shook dan berakhir
dengan kematian adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak.
Oleh karenanya pasien dengan trauma dan hipotensi, harus segera
ditangani sebagai pasien hipovolemi sampai bisa dibuktikan bahwa
hipotensinya disebabkan oleh sebab yang lain. Seperti diketahui, volume
darah manusia dewasa adalah 7% dari berat badan, anak 8-9% dari BB.
Terapi resusitasi cairan yang agresif harus segera dimulai begitu ada
tanda dan gejala klinis adanya kehilangan darah muncul. Sangatlah
berbahaya bila menunggu sampai tekanan darah menurun.3,4,5
Periksa tanda kegawatdaruratan dalam 2 tahap:4

Tahap 1: Periksa jalan napas dan pernapasan, bila terdapat masalah,


segera berikan tindakan untuk memperbaiki jalan napas dan berikan

napas bantuan.
Tahap 2: Segera tentukan apakah anak dalam keadaan syok, tidak
sadar, kejang, atau diare dengan dehidrasi berat.

Bila didapatkan tanda kegawatdaruratan:


Panggil tenaga kesehatan profesional terlatih bila memungkinkan,
tetapi jangan menunda penanganan. Tetap tenang dan kerjakan dengan
tenaga kesehatan lain yang mungkin diperlukan untuk membantu
memberikan pertolongan, karena pada anak yang sakit berat seringkali

memerlukan beberapa tindakan pada waktu yang bersamaan. Tenaga


kesehatan profesional yang berpengalaman harus melanjutkan penilaian
untuk menentukan masalah yang mendasarinya dan membuat rencana
penatalaksanaannya.

Lakukan

pemeriksaan

laboratorium

kegawatdaruratan (darah lengkap, gula darah, malaria). Kirimkan sampel


darah untuk pemeriksaan golongan darah dan

cross-match bila anak

mengalami syok, anemia berat, atau perdarahan yang cukup banyak.


Setelah memberikan pertolongan kegawatdaruratan,

lanjutkan segera

dengan penilaian, diagnosis dan penatalaksanaan terhadap masalah


yang mendasarinya.5
Anak

dengan

tanda

prioritas

harus

didahulukan

untuk

mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut dengan segera


(tanpa menunggu giliran). Pindahkan anak ke depan antrean. Bila ada
trauma atau masalah bedah yang lain, segera cari pertolongan bedah.5
D.

DISABILITY
Evaluasi secara cepat dilakukan dan dikerjakan pada tahap akhir
dan primary survey dengan menilai kesadaran dan pupil penderita.
A : Alert
V : Respon to vokal stimulation
P : respon only to painful stimulation
U : Unresponsive
Glasgow coma scale merupakan penilaian yang lebih rinci, bila ini
tidak dikerjakan di primary survey bisa dikerjakan di secondary survey.

E.

EXPOSURE
Disini semua pakaian pasien dibuka. Hal ini akan sangat membantu

pemeriksaan lebih lanjut. Harus diingat disini pasien dijaga agar tidak jatuh ke
hipotermia dengan jalan diberikan selimut.5
F.

SECONDARY SURVEY
Dikerjakan bila primary survey dan resusitasi selesai dilakukan.
Disini dilakukan evaluasi yang lebih teliti mulai dari kepala sampai ujung
kaki penderita, juga GCS bisa dikerjakan lebih teliti bila pada primary
survey belum sempat dikerjakan.

Kejang
Sebelum kejang biasanya anak akan menderita demam yang
tinggi sekitar 38 - 40 derajat Celcius. Pada saat demam ini, kekejangan
yang terjadi, tergantung kekuatan tubuh si anak. Banyak anak demam
tinggi dan kejang setelah melakukan imunisasi. Biasanya setelah
imunisasi, dokter memberi resep obat penurun panas untuk segera
diminumkan ke si kecil.9
Faktor resiko pertama yang penting pada kejang demam adalah
demam. Selain itu juga terdapat faktor riwayat kejang demam pada orang
tua atau saudara kandung, perkembangan terlambat, problem pada masa
neonatus, anak dalam pengawasan khusus, dan kadar natrium rendah.
Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu
kali rekurensi atau lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali
rekurensi atau lebih. Resiko rekurensi meningkat pada usia dini, cepatnya
anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperature yang sangat
rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat
keluarga epilepsi.9
Dua puluh sampai 25% penderita kejang demam mempunyai
keluarga dekat (orang-tua dan saudara kandung) yang juga pernah
menderita kejang demam. Tsuboi mendapatkan bahwa insiden kejang
demam pada orang tua penderita kejang demam ialah 17% dan pada
saudara kandungnya 22%. Delapan-puluh persen dari kembar monosigot
dengan kejang demam adalah konkordans untuk kejang demam.
Kebanyakan peneliti mendapat kesan bahwa kejang demam diturunkan
secara dominan dengan penetrasi yang mengurang dan ekspresi yang
bervariasi, atau melalui modus poligenik. 9
Pada penderita kejang demam risiko saudara kandung berikutnya
untuk mendapat kejang demam ialah 10%. Namun bila satu dari orangtuanya dan satu saudara pernah pula mengalami KD, kemungkinan ini
meningkat menjadi 50%.
Kejang yang sering terjadi pada anak adalah kejang kontraksi otot
yang berlebihan di luar kehendak. Kejang semacam itu terjadi saat suhu
tubuh meningkat. Kejang ini disebut kejang demam atau mengejangnya

otot-otot pangkal tenggorok sebagai akibat menyempitnya jalan napas


yang disebut kejang laring. Penyakit yang di manifestasikan kejang yaitu
penyakit kejang demam, epilepsi atau tuberkolusis intrakranial atau orang
awam menyebutnya TBC otak.9
Kejang demam dapat berjalan singkat dan tidak berbahaya. Tapi
bila kejang mencapai 15 menit dapat membahayakan si kecil, karena bisa
menyebabkan kerusakan otak sehingga dapat menyebabkan epilepsi,
kelumpuhan bahkan bisa menyebabkan retardasi atau keterbelakangan
mental. Kejang demam dialami 2-3 persen anak-anak.
Kejang demam terbagi dua, yaitu kejang demam yang sederhana
dan kejang demam yang akibat penyakit lain atau gangguan dalam
tengkorak kepala. Kejang sederhana dengan ciri-ciri menyerang anak
usia 4 bulan sampai 4 tahun, kejang berlangsung tidak lebih dari 15
menit, kejang timbul dalam 16 jam demam pertama, frekuensi demam
kurang dari 4 kali dalam setahun.
Kejang dapat timbul pula ketika si kecil menderita muntah dan
diare. Kejang bisa pula timbul tanpa demam, yaitu disebabkan gangguan
elektrolit darah akibat muntah dan diare, sakit lama yang menyebabkan
gula darah rendah, asupan makan yang kurang, atau menderita kejang
yang sudah lama dialami akibat epilepsi. Kejang akibat kelainan
neurologis atau gangguan perkembangan, berlangsung lebih dari 15
menit.
Penanganan kejang demam yang bisa dilakukan di rumah yaitu
menangani demam sebelum anak menjadi kejang. Segera beri obat
penurun panas begitu suhu tubuh anak melewati angka 37,5 C. Kompres
dengan lap hangat (yang suhunya kurang lebih sama dengan suhu badan
si kecil). Jangan kompres dengan air dingin, karena dapat menyebabkan
bangkitan kuat di otak antara suhu panas tubuh si kecil dengan kompres
dingin tadi. Agar si kecil tidak cedera, pindahkan benda-benda keras atau
tajam yang berada dekat anak. . Tak perlu menahan mulut si kecil agar
tetap terbuka dengan mengganjal/menggigitkan sesuatu di antara giginya.
.

Miringkan posisi tubuh si kecil agar penderita tidak menelan

cairan muntahnya sendiri yang bisa mengganggu pernapasannya.


Jangan memberi minuman/makanan segera setelah berhenti kejang
karena hanya akan berpeluang membuat anak tersedak.

Saat menghadapi si kecil yang sedang kejang demam, sedapat


mungkin cobalah bersikap tenang. Sikap panik hanya akan membuat kita
tak tahu harus berbuat apa yang mungkin saja akan membuat
penderitaan anak tambah parah.
Jangan gunakan alkohol atau air dingin untuk menurunkan suhu
tubuh anak yang sedang demam. Penggunaan alkohol amat berpeluang
menyebabkan iritasi pada mata dan intoksikasi/keracunan. Lebih aman
gunakan kompres air biasa yang diletakkan di dahi, ketiak, dan lipatan
paha. Kompres ini bertujuan menurunkan suhu di permukaan tubuh.
Turunnya suhu ini diharapkan terjadi karena panas tubuh digunakan
untuk menguapkan air pada kain kompres. Penurunan suhu yang drastis
justru tidak disarankan.
Jangan coba-coba memberikan aspirin atau jenis obat lainnya
yang mengandung salisilat karena diduga dapat memicu sindroma Reye,
sejenis penyakit yang tergolong langka dan mempengaruhi kerja lever,
darah, dan otak. Setelah anak benar-benar sadar, bujuklah ia untuk
banyak minum dan makan makanan berkuah atau buah-buahan yang
banyak mengandung air. Bisa berupa jus, susu, teh, dan minuman
lainnya. Dengan demikian, cairan tubuh yang menguap akibat suhu tinggi
bisa cepat tergantikan.
Jangan selimuti si kecil dengan selimut tebal. Selimut dan pakaian
tebal dan tertutup justru akan meningkatkan suhu tubuh dan menghalangi
penguapan. Pakaian ketat atau yang mengikat terlalu kencang sebaiknya
ditanggalkan saja.
Orang tua harus waspada bila anak sering kejang tanpa demam,
terutama di bawah usia 6 bulan, Karena kemungkinannya untuk
menderita epilepsi besar. Masalahnya, kejang pada anak di bawah 6
bulan, terutama pada masa neonatal itu bersifat khas. Bukan hanya
seperti toniklonik yang selama ini dikenal, tapi juga dalam bentuk
gerakan-gerakan lain. Misal, matanya juling ke atas lalu bergerak-gerak,
bibirnya kedutan atau tangannya seperti tremor.
Saat menolong anak yang mengalami kejang jangan panik,
segera longgarkan pakaiannya dan lepas atau buang semua yang
menghambat saluran pernapasannya. Jika saat sedang makan tiba-tiba
anak kejang, atau ada sesuatu di mulutnya saat kejang, segera

keluarkan. Miringkan tubuh anak karena umumnya anak yang sedang


kejang mengeluarkan cairan-cairan dari mulutnya.

Guna memiringkan

tubuh adalah supaya cairan-cairan ini langsung keluar, tidak menetap di


mulut yang berisiko menyumbat saluran napas dan memperparah
keadaan. Jangan mudah percaya bahwa meminumkan kopi pada anak
yang sedang kejang bisa langsung menghentikan kejang tersebut. Secara
medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat
menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak
mengalami kejang, yang bisa menyebabkan kematian. Segera bawa anak
ke rumah sakit terdekat, jangan sampai otak kelamaan tak mendapat
oksigen. Usahakan lama kejang tak lebih dari tiga menit. Siapkan obat
antikejang yang disarankan dokter bila anak memang pernah kejang atau
punya riwayat kejang.
Mereka yang berisiko menderita epilepsi adalah anak-anak yang
lahir dari keluarga yang mempunyai riwayat epilepsi. Selain juga anakanak dengan kelainan neurologis sebelum kejang pertama datang, baik
dengan atau tanpa demam. Anak yang sering kejang memang berpotensi
menderita epilepsi. Tapi jangan khawatir, anak yang menderita epilepsi,
kecuali yang lahir dengan kelainan atau gangguan pertumbuhan, bisa
tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Prestasi belajar
mereka tidak kalah dengan anak yang normal.
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh ( suhu rectal diatas 38C ) yang disebabkan oleh
suatu proses ekstrakranium. Kejang demam merupakan kelainan
neurologis yang paling sering dijumpai pada anak-anak, terutama pada
golongan umur 3 bulan sampai 5 tahun. Menurut Consensus statement
on febrile seizures (1980), kejang demam adalah kejadian pada bayi atau
anak yang berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti
adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah
kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak
termasuk dalam kejang demam. Kejang demam harus dibedakan dengan
epilepsi,yaitu yang ditandai denagn kejang berulang tanpa demam.
Definisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf
seperti meningitis, ensefatitis atau ensefalopati. Kejang pada keadaan ini
mempunyai prognosis berbeda dengan kejang demam karena keadaan

yang mendasarinya mengenai sistem susunan saraf pusat. Dahulu


Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan, yaitu kejang
demam sederhana (simple febrile convulsion) dan epilepsi yang
diprovokasi oleh demam (epilepsi triggered of by fever).
Hampir 3% daripada anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah
menderitanya (Millichap, 1968). Wegman (1939) dan Millichap (1959) dari
percobaan binatang berkesimpulan bahwa suhu yang tinggi dapat
menyebabkan terjadinya bangkitan kejang.
Terjadinya bangkitan kejang demam bergantung kepada umur,
tinggi serta cepatnya suhu meningkat (Wegman, 1939; Prichard dan
McGreal, 1958). Faktor hereditas juga mempunyai peranan. LennoxBuchthal (1971) berpendapat bahwa kepekaan terhadap bangkitan
kejang demam diturunkan oleh sebuah gen dominan dengan penetrasi
yang tidak sempurna. Lennox (1949) berpendapat bahwa 41,2% anggota
keluarga penderita mempunyai riwayat kejang sedangkan pada anak
normal hanya 3%.