Anda di halaman 1dari 3

Resume Kuliah Tamu Prof.

Dorodjatun
Perkiraan Isu- Isu Stategis Pembangunan Indonesia sampai dengan tahun 2045
(100 tahun NKRI)
Poin Pembahasan :
Tingkat ketergantungan dependency ratio di Indonesia mengalami penurunan sejak
tahun 2000 sampai sekarang. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) adalah
perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah
penduduk 65 tahun keatas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun.
Rasio ketergantungan dapat dilihat menurut usia yakni Rasio Ketergantungan Muda dan
Rasio Ketergantungan Tua. Kedepan Indonesia masih sebagai penyedia tenaga kerja
(working age) dimana terdapat pasar yang besar yaitu di Asia bahkan dunia.
Diperkirakan pada tahun 2050 60% jumlah penduduk Indonesia berada di kondisi
working age. Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai
indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah
tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang. Dependency
ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya
persentasedependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus
ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum
produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang
semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk
yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif
lagi. Working age ini nantinya akan memiliki dampak pada perekonomian negara kita
ke depan karena sejatinya untuk dapat maju maka kita harus dapat meningkatkan
pembangunan ekonomi. Prof. Dorodjatun menyatakan bahwa Indonesia sekarang dalam
proses menuju tinggal landas dan hal ini dimulai dari pembangunan ekonomi kemudian
sektor lainnya. Pertanyaan selanjutnya adalah 50 tahun kedepan tepat 100 tahun hari
lahir Indonesia apakah tiga presiden(tiga periode selanjutnya) nantinya akan mampu
mambawa Indonesia tinggal landas ataukah sebaliknya. Ketika Indonesia tidak mampu
mencapai tinggal landas maka selamanya negara kita akan mengalami ketertinggalan
dan kemunduran.
Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 berada di peringkat ke 4 dunia dibawah
Cina, India, dan Amerika dan pada tahun 2050 diperkirakan Indonesia berada di
peringkat ketiga dunia dibawah India dan China. Prof. Dorodjatun menyoroti peran
pemerintah terutama pemerintah daerah dalam program kependudukan yaitu program
keluarga berencana (KB) dimana pemerintah dianggap telah gagal mengendalikan
jumlah penduduk saat ini dan kurangnya keperdulian pelaksanaan program KB secara
terencana. Hal ini terkait dengan carrying capacity dalam sebuah negara yang berbeda
tergantung kondisi demografis dan geografisnya. Carrying capacity yaitu jumlah
maksimum individu yang dapat didukung atau dilayani oleh sumber daya yang ada di
dalam suatu ekosistem. Dengan kata lain, carrying capacity dapat disebut juga
sebagai kemampuan lingkungan (ekosistem) dalam mendukung kehidupan semua

makhluk yang ada di dalamnya secara berkelanjutan. Setiap individu di dalam satu area
yang sama memiliki carrying capacity yang berbeda dimana hal ini dipengaruhi oleh
sumber daya dan jumlah populasi dalam daerah tersebut. Indonesia menuruf Prof.
Dorodjatunbisa dinaungi kurang lebih 500 juta jiwa. Melihat kondisi sekarang dan
perkiraan 50 tahun ke depan maka akan terjadi peningkatan jumlah penduduk yang
signifikan sehingga Pemerintah dituntut agar dapat mengendalikan jumlah penduduk
sehingga dimasa mendatang Indonesia tidak mengalami over capacity.

Isu global warming juga mendapat perhatian yang serius dimana menurut Prof.
Dorodjatun akan terjadi pertemuan dari berbagai negara di Paris beberapa hari lagi
untuk membahas perkembangan global warming. Pertemuan ini nantinya diharapkan
akan membahas upaya-upaya pencegahan pemanasan global seluruh negara di dunia.
Menurut berbagai penelitian, pada saat ini suhu di permukaan bumi sudah menunjukkan
peningkatan yang sangat drastis yaitu sekitar 0,6C yang terjadi dalam satu abad
terakhir. Peningkatan yang terbilang dan terlihat kecil, namun dampak pemanasan
global sangat besar bagi Bumi dan kehidupan di Bumi. Dalam gejala-gejala atau tandatanda terjadinya pemanasan global dapat kita amati dan rasakan. Gejala-gejala
pemanasan global adalah pergantian musim yang sulit kita prediksi, sering terjadinya
angin puting beliung, terumbu karang yang memutih, dan banjir dan kekeringan di
wilayah yang tidak biasa mengalaminya. Menurut perkiraan para ahli dalam 50 tahun
kedepan jumlah volume air laut akan meningkat sebesar 1 meter karena akibat
pemanasan global. Menurut Prof. Dorodjatun, Indonesia adalah negara tropis kepulauan
terbesar di dunia yang akan merasakan dampaknya. Karena banyaknya kota besar di
pesisir maka diperkirakan kota-kota ini akan terkena imbasnya seperti Cirebon,
Semarang dan Surabaya serta kota lainnya yang akan tergenang dengan kenaikan air
laut ini.
Dari sisi geografis Prof. Dorodjatun berpendapat bahwa Indonesia memiliki posisi
strategis dalam percaturan di Dunia karena setiap kapal baik armada perang maupun
pelayaran pasti akan melewati Indonesia, Indonesia menjadi tempat persandaran bagi
banyak pelayaran dan hal ini memberi keuntungan tersendiri. Indonesia perlu
diperhatikan oleh dunia karena selain potensi jumlah penduduk dan demografi juga
posisi angkatan bersenjata kita yang termasuk terbesar di dunia dan juga sumber daya
alam yang melimpah dari sabang sampai merauke membuat Indonesia menjadi negara
yang berpotensi. Lebih lanjut Prof Dorodjatun menekankan bahwa dengan potensi
seperti ini kita seharusnya bisa untuk lebih maju dan membawa berkah ini untuk
mencapai masyarakat yang adil, berdaulat dan maju.
Dari segi sejarah Indonesia memiliki sejarah yang hebat yang tertuang di UUD 1945
dan pancasila. Politik luar negeri Indonesia adalah bebas dan aktif, Indonesia tidak ikut
pakta militer yang ada dan Indonesia tidak berpihak pada siapapun karena nantinya
akan berpotensi menjadi target. Politik bebas aktif yang ada dalam konstitusi kita
menuntuk ketidak berpihakan dan juga kita harus dapat menjada perdamaian dunia.

Prof Dorodjatun berpendapat bahwa rancangan dasar negara kita sangat hebat dimana
hal ini tertuang dalam preambule UUD 1945 dan juga dasar negara yaitu pancasila.
Pasal-pasal dalam UUD bisa saja diamandemen tetapi secara fundamental dalam
preambule atau pembukaan dijelaskan tentang dasar negara kita dimana salah satunya
politik bebas aktif dan mendukung perdamaian dunia. Ini adalah modal besar yang
dimiliki oleh bangsa ini.