Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KEGIATAN

PENGENDALIAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR


PENYULUHAN DIARE DAN HEPATITIS
DI KLEPU
disusun untuk memenuhi tugas dokter internship

disusun oleh:
dr. Jiemi Ardian

Pembimbing:
dr. Cosmas G P

JEPARA
2013

LEMBAR PENGESAHAN

Upaya Kesehatan Lingkungan


P2M PENYULUHAN DIARE DAN HEPATITIS DI KLEPU
Disusun Sebagai Salah Satu Tugas Dokter Internship

Disahkan oleh:

Penyusun

Dokter Pembimbing

dr. Jiemi Ardian


Dokter Internship

dr. Cosmas G P
NIP. 19791120 200604 1008

I.

Latar Belakang Masalah


Sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk serta air minum yang tidak aman
berkontribusi terhadap 88 persen kematian anak akibat diare di seluruh dunia. Bagi
anak-anak yang bertahan hidup, seringnya menderita diare berkontribusi terhadap
masalah gizi, sehingga menghalangi anak-anak untuk dapat mencapai potensi maksimal
mereka. Kondisi ini selanjutnya menimbulkan implikasi serius terhadap kualitas
sumber daya manusia dan kemampuan produktif suatu bangsa di masa yang akan
datang.
Di Indonesia, diare masih merupakan penyebab utama kematian anak berusia di
bawah lima tahun. Laporan Riskesdas 2007 menunjukkan diare sebagai penyebab 31
persen kematian anak usia antara 1 bulan hingga satu tahun, dan 25 persen kematian
anak usia antara satu sampai empat tahun. Angka diare pada anak-anak dari rumah
tangga yang menggunakan sumur terbuka untuk air minum tercatat 34 persen lebih
tinggi dibandingkan dengan anak-anak dari rumah tangga yang menggunakan air
ledeng, Selain itu, angka diare lebih tinggi sebesar 66 persen pada anak-anak dari
keluarga yang melakukan buang air besar di sungai atau selokan dibandingkan mereka
pada rumah tangga dengan fasilitas toilet pribadi dan septik tank.
Diare adalah buang air besar yang sering dan cair, biasanya paling tidak tiga kali
dalam 24 jam. Namun, lebih penting konsistensi tinja daripada daripada jumlah.
Seringkali, buang air besar yang berbentuk bukanlah diare. Hanya bayi yang diberi ASI
sering buang air besar, buang air besar yang "pucat" juga bukan diare.
Dalam kasus diare, peran penting kebersihan sering diabaikan. Kematian dan
penyakit yang disebabkan oleh diare pada umumnya dapat dicegah. Bahkan tanpa
perbaikan pada sistem pengairandan sanitasi, mencuci tangan secara tepat dengan
menggunakan sabun dapat mengurangi resiko penyakit diare sebesar 42 sampai 47
persen.
Klepu menempati urutan ketiga dalam angka kejadian diare di wilayah kerja
Puskesmas Keling 1. Beberapa mata air dan penyalurannya masih belum sesuai standar.
Oleh karena itu perlu dilakukan intervensi untuk memperbaiki mata air sebagai upaya
penurunan angka kejadian diare.

II.

Permasalahan
1. Klepu masih menempati urutan ketiga dalam angka kejadian diare di wilayah
kerja Puskesmas Keling 1
2. Mata air di Klepu masih ada beberapa yang belum sesuai standar

III.

Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


No
1

Prioritas Masalah
Angka kejadian
klepu

Rencana Kegiatan
Metode dan Pendekatan
di Penyuluhan tentang diare Penyuluhan

menempati dan hepatitis di balai desa

urutan kedua terbanyak klepu


Sumber mata air masih Penyuluhan dengan
ada yang belum sesuai pengurus mata air di balai
standar

IV.

Pelaksanaan Kegiatan

desa klepu

Penyuluhan

No
1
2

Jenis Kegiatan
Penyuluhan diare dan hepatitis
Penyuluhan

Waktu
Lokasi
19 September Balai

2013
klepu
tentang 19 September Balai

pengawasan mata air

2013

klepu

Pelaksana
desa dr. Jiemi
desa Dr.

Nur

dan

Bp.

Setyo
Wardoyo

V.

Monitoring dan Evaluasi


No

Jenis Kegiatan

Target

Monitoring

VI.

Penyuluhan

Penyuluhan

Petinggi dan

Penilaian ulang angka

pengurus mata air

kejadian diare di klepu

klepu
Petinggi dan

Penilaian ulang mata air

pengurus mata air

dan penyalurannya di

klepu

klepu

Hasil Pelaksanaan Kegiatan


No
1

Kegiatan
Penyuluhan diare dan hepatitis

Hasil Kegiatan
Peserta mengerti bahaya diare dan

hepatitis
2

Penyuluhan
mata air

VII.

tentang

berhubungan

dengan

penggunaan sumber mata air


pengawasan Peserta mengerti pengolahan mata
air yang sesuai dengan standar

Pembahasan
Terbanyak pada bulan Oktober-Januari (musim penghujan) terbanyak ketiga di
Klepu. Dicurigai banyaknya diare saat musim penghujan diakibatkan oleh pola hidup

yang kurang sehat dan sumber mata air sampai penyalurannya yang belum sesuai
standar.
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah

2012
28
18
14
19
27
20
21
9
20
30
31
48
285

2013
32
24
12
15
9
17
19
16

144

Karena tangan merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sering
melakukan kontak langsung dengan benda lain, maka sebelum makan disarankan
untuk mencuci tangan dengan sabun. Sebuah hasil studi Cochrane menemukan bahwa
dalam gerakan-gerakan sosial yang dilakukan lembaga dan masyarakat untuk
membiasakan mencuci tangan menyebabkan penurunan tingkat kejadian yang
signifikan pada diare.
Sumber mata air sampai penyalurannya juga perlu diberi perhatian. Mulai dari
memilih mata air yang jauh dari persawahan agar tidak tercemar. Air yang dihasilkan
juga harus jernih dan dijaga dalam tempat tertutup rapat, tidak ada tempat bagi
serangga masuk, tidak ada sampah dan dilakukan kaporitisasi minimal 6 bulan sekali.
Sampai di tempat penampungan hingga penyaluran terakhir juga perlu dijaga.
Baik dari serangga maupun kerusakan dan kebocoran pipa. Penampung air juga
disimpan dalam tempat tertutup dan bersih, perlu juga dilakukan penyaringan
sebelum disalurkan ke rumah rumah agar air yang disalurkan bersih.

VIII.

Kesimpulan dan Saran


a. Kesimpulan
Sumber mata air perlu dibuat sesuai dengan standar untuk mengurangi angka
kejadian diare dan penyakit menular yang disebabkan sumber mata air. Dari sumber
hingga penampungan dan penyalurannya perlu dibuat sesuai dengan standar. Angka
kejadian diare dapat diturunkan jika perilaku sehat diperbaiki dan air yang
digunakan sehat.

b. Saran
No

Kegiatan

Sudah

Petugas

Tambahan

dr. Jiemi

Evaluasi ulang mandiri

Dilaksanakan
1

Penyuluhan

mata air
Penyuluhan diare dan Sudah
hepatitis

IX.

/ Belum
sumber Sudah

LAMPIRAN

sumber air di klepu


dr. Jiemi