Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS KORELASI LIPATAN PADA SUNGAI BANYUMENG MRANGGEN

DEMAK DAN SUNGAI WONOSEGORO KABUPATEN BOYOLALI UNTUK


PENENTUAN ARAH GAYA UTAMA
Reza Afrizona Fauzih
21100114120029
Program Studi Teknik Geologi
Universitas Diponegoro Semarang
Abstrak
Lipatan adalah hasil perubahan bentuk atau volume dari suatu bahan yang ditunjukkan sebagai
lengkungan atau kumpulan dari lengkungan pada unsur garis atau bidang didalam bahan tersebut. Lipatan
merupakan gejala yang penting, yang mencerminkan sifat dari deformasi; terutama, gambaran geometrinya
berhubungan dengan aspek perubahan bentuk (distorsi) dan perputaran (rotasi). Analisis dari lipatan ini dapat
menentukan arah gaya utama pembentuk struktur dari suatu wilayah. Pengamatan dilakukan di daerah Sungai
Banyumeneng, Demak dan juga Sungai Wonosegoro, Kab. Boyolali. Pada daerah ini terdapat singkapan berupa
lipatan. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis dinamis dengan metode proyeksi
stereografis, sehingga akan didapatkan hasil yang lebih akurat. Dengan menggunakan metode stereografis maka
dapat diketahui pola struktur yang terbentuk serta gaya-gaya yang membentuknya.
Kata Kunci: lipatan, arah gaya, Banyumeneng, Wonosegoro

Abstract
Fold structrure is the result of changes in the shape or volume of a material shown as an arch or a
collection of curvature on the line element or field within the material. Folds is an important indication, which
reflects the characteristics of the deformation; especially, the geometric description associated with aspects of
deformation (distortion) and rotation. From the analysis of the results obtained stout will be used to determine
the direction of the main force forming the structure of a region. Observations were located at Banyumeneng,
Demak and Wonosegoro, Boyolali. In this area there are outcrops of rock in the form of bedding, and also the
fold structure founded. The analysis used is descriptive analysis and dynamic analysis with stereographic
projection method, so we will get more accurate results. By using stereographic it can be seen that the pattern
structure is formed and the forces that shape it.
Keywords : fold, direction force, Banyumeneng, Wonosegoro

PENDAHULUAN
Pulau Jawa ini memiliki beberapa gaya utama
pembentuk strukturnya. Dalam penentuan gaya
utama ini dapat dilakukan dengan pengukuran
terhadap kekar kekar yang tersingkap di
lapangan, kekar sendiri tidak hanya terjadi akibat
tenaga endogen atau tenaga tektonik saja namun
juga dapat disebabkan oleh tenaga eksogen seperti
contohnya akibat perubahan suhu yang terus
menerus. Kenampakan sesar dilapangan beragam
dan sangat susah dibedakan. Penulisan karya tulis
ini bertujuan untuk menganalisis kenampakan
lipatan yang diakibatkan oleh tenaga endogen
berupa tenaga tektonik. Gaya utama pada lipatan
ini sangat berpengaruh pada tektonik pulau jawa.
Sebelumnya telah dilakukan penelitian dan
penghitungan
lipatan
didaerah
Sungai
Banyumeneng, Demak dan Sungai Wonosegoro,
Boyolali.

GEOLOGI REGIONAL
Geomorfologi Regional

Zona Kendeng meliputi deretan pegunungan


dengan arah memanjang barat-timur yang terletak
langsung di sebelah utara sub zona Ngawi.
Pegunungan ini tersusun oleh batuan sedimen laut
dalam yang telah mengalami deformasi secara
intensif
membentuk
suatu
antiklinorium.
Pegunungan ini mempunyai panjang 250 km dan
lebar maksimum 40 km (de Genevraye & Samuel,
1972) membentang dari gunungapi Ungaran di
bagian barat ke timur melalui Ngawi hingga daerah
Mojokerto. Di bawah permukaan, kelanjutan zona
ini masih dapat diikuti hingga di bawah selatan
Madura.
Ciri morfologi Zona Kendeng berupa jajaran
perbukitan
rendah
dengan
morfologi
bergelombang, dengan ketinggian berkisar antara
50 hingga 200 meter. Proses eksogenik yang
berupa pelapukan dan erosi pada daerah ini
berjalan sangat intensif, selain karena iklim tropis
juga karena sebagian besar litologi penyusun
Mandala Kendeng adalah batulempung-napalbatupasir yang mempunyai kompaksitas rendah,

misalnya pada formasi Pelang, Formasi Kerek dan


Napal Kalibeng yang total ketebalan ketiganya
mencapai lebih dari 2000 meter.
Stratigrafi Regional
Stratigrafi penyusun Zona Kendeng merupakan
endapan laut dalam di bagian bawah yang semakin
ke atas berubah menjadi endapan laut dangkal dan
akhirnya menjadi endapan non laut. Endapan di
Zona Kendeng merupakan endapan turbidit klastik,
karbonat dan vulkaniklastik. Stratigrafi Zona
Kendeng terdiri atas 7 formasi batuan, urut dari tua
ke muda sebagai berikut (Harsono, 1983 dalam
Rahardjo 2004) :
o Formasi Kerek
Formasi
Kerek
memiliki
kekhasan berupa perulangan perselangselingan antara lempung, napal, batupasir
tuf gampingan dan batupasir tufaan yang
menunjukkan struktur sedimen yang khas
yaitu
perlapisan
bersusun (graded
bedding). Lokasinya berada di Desa
Kerek, tepi sungai Bengawan Solo, 8 km
ke utara Ngawi. Di daerah sekitar lokasi
tipe formasi ini terbagi menjadi tiga
anggota (de Genevraye & Samuel, 1972
dalam Rahardjo, 2004), dari tua ke muda
masing-masing :
o Formasi Kalibeng
Formasi ini terbagi menjadi dua
bagian yaitu bagian bawah dan bagian
atas. Bagian bawah formasi Kalibeng
tersusun oleh napal tak berlapis setebal
600 meter, berwarna putih kekuningkuningan sampai abu-abu kebiru-biruan,
kaya akan kanndungan foraminifera
plantonik.
Struktur Geologi Regional
Deformasi pertama pada Zona Kendeng terjadi
pada akhir Pliosen (Plio Plistosen), deformasi
merupakan manifestasi dari zona konvergen pada
konsep tektonik lempeng yang diakibatkan oleh
gaya kompresi berarah relatif utara selatan
dengan tipe formasi berupa ductile yang pada fase
terakhirnya berubah menjadi deformasi brittle
berupa pergeseran blok blok dasar cekungan
Zona Kendeng. Deformasi Plio Plistosen dapat
dibagi menjadi tiga fase/ stadia, yaitu; fase pertama
berupa
perlipatan
yang
mengakibatkan
terbentuknya Geantiklin Kendeng yang memiliki
arah umum barat timur dan menunjam di bagian
Kendeng Timur, fase kedua berupa pensesaran
yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu pensesaran
akibat perlipatan dan pensesaran akibat telah
berubahnya deformasi ductile menjadi deformasi
brittle karena batuan telah melampaui batas
kedalaman plastisnya. Kedua sesar tersebut secara
umum merupakan sesar naik bahkan ada yang
merupakan sesar sungkup. Fase ketiga berupa
pergeseran blok blok dasar cekungan Zona

Kendeng yang mengakibatkan terjadinya sesar


sesar geser berarah relatif utara selatan.
Deformasi kedua terjadi selama kuarter yang
berlangsung secara lambat dan mengakibatkan
terbentuknya struktur kubah di Sangiran.
Deformasi ini masih berlangsung hingga saat ini
dengan intensitas yang relatif kecil dengan bukti
berupa terbentuknya sedimen termuda di Zona
Kendeng yaitu Endapan Undak.
Lokasi penelitian berada pada daerah Demak
dan Boyolali, Jawa Tengah. Secara umum kondisi
daerah tersebut memiliki ketinggian beragam, yaitu
antara 0,75 348 m di atas permukaan laut, dengan
topografi terdiri atas daerah pantai/pesisir, dataran
dan perbukitan dengan kemiringan lahan berkisar
antara 0% 45%. Morfologi daerah Semarang
berdasarkan bentuk topografi dan kemiringan
lerengnya dibagi menjadi 7 (tujuh) satuan
morfologi
yaitu
dataran
rendah,
daerah
bergelombang, daerah dataran tinggi, daerah antara
dimana daerah antara ini biasanya berupa daerah
perbukitan dengan kelerengan yang sedang hingga
terjal. Geologi Kota Semarang berdasarkan Peta
Geologi Lembar Magelang-Semarang (RE. Thaden,
dkk ; 1996), susunan stratigrafinya berupa :
Aluvium
Merupakan endapan aluvium pantai, sungai dan
danau. Endapan pantai litologinya terdiri dari
lempung, lanau dan pasir dan campuran
diantaranya mencapai ketebalan 50 m atau lebih.
Endapan sungai dan danau terdiri dari kerikil,
kerakal, pasir dan lanau dengan tebal 1 - 3 m.
Bongkah tersusun andesit, batu lempung dan
sedikit batu pasir.
Formasi Kaligetas
Batuannya terdiri dari breksi dan lahar dengan
sisipan lava dan tuf halus sampai kasar, setempat di
bagian bawahnya ditemukan batu lempung
mengandung moluska dan batu pasir tufaan. Breksi
dan lahar berwarna coklat kehitaman, dengan
komponen berupa andesit, basalt, batuapung
dengan masa dasar tufa, komponen umumnya
menyudut - menyudut tanggung, porositas sedang
hingga tinggi, breksi bersifat keras dan kompak,
sedangkan lahar agak rapuh. Lava berwarna hitam
kelabu, keras dan kompak. Tufa berwarna kuning
keputihan, halus - kasar, porositas tinggi, getas.
Batu lempung, berwarna hijau, porositas rendah,
agak keras dalam keadaan kering dan mudah
hancur dalam keadaan basah. Batu pasir tufaan,
coklat kekuningan, halus - sedang, porositas
sedang, agak keras.
Formasi Kalibeng
Batuannya terdiri dari napal, batupasir tufaan dan
batu gamping. Napal berwarna abu-abu kehijauan
hingga kehitaman, komposisi terdiri dari mineral
lempung dan semen karbonat, porositas rendah
hingga kedap air, agak keras dalam keadaan kering
dan mudah hancur dalam keadaan basah. Pada
napal ini setempat mengandung karbon (bahan

organik). Batupasir tufaan kuning kehitaman, halus


- kasar, porositas sedang, agak keras, Batu gamping
merupakan lensa dalam napal, berwarna putih
kelabu, keras dan kompak.
Formasi Kerek
Perselingan batu lempung, napal, batu pasir tufaan,
konglomerat, breksi volkanik dan batu gamping.
Batu lempung kelabu muda - tua, gampingan,
sebagian bersisipan dengan batu lanau atau batu
pasir, mengandung fosil foram, moluska dan koralkoral koloni. Lapisan tipis konglomerat terdapat
dalam batu lempung di K. Kripik dan di dalam
batupasir. Batu gamping umumnya berlapis,
kristallin dan pasiran, mempunyai ketebalan total
lebih dari 400 m.
Struktur Geologi yang terdapat di daerah Semarang
umumnya berupa sesar yang terdiri dari sesar
normal, sesar geser dan sesar naik. Sesar normal
relative bearah barat-timur sebagian agak cembung
ke arah utara, sesar geser berarah utara selatan
hingga barat laut-tenggara, sedangkan sesar naik
berarah barat-timur. Sesar-sesar tersebut umumnya
terjadi pada batuan Formasi Kerek, Formasi
Kalibeng dan Formasi Damar yang berumur
kuarter dan tersier. Geseran-geseran intensif sering
terlihat pada batuan napal dan batulempung, yang
terlihat jelas pada Formasi Kalibiuk di daerah
Manyaran dan Tinjomoyo. Struktur sesar ini
merupakan salah satu penyebab daerah tersebut
mempunyai jalur lemah, sehingga daerahnya
mudah tererosi dan terjadi gerakan tanah.
Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari
dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke
waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa
memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi
pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah
penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan
vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang
berbeda-beda dari waktu ke waktu.
Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur
yaitu arah Timur Laut Barat Daya (NE-SW) yang
disebut pola Meratus, arah Utara Selatan (N-S)
atau pola Sunda dan arah Timur Barat (E-W).
Perubahan jalur penunjaman berumur kapur yang
berarah Timur Laut Barat Daya (NE-SW)
menjadi relatif Timur Barat (E-W) sejak kala
Oligosen sampai sekarang telah menghasilkan
tatanan geologi Tersier di Pulau Jawa yang sangat
rumit
disamping
mengundang
pertanyaan
bagaimanakah mekanisme perubahan tersebut.
Kerumitan tersebut dapat terlihat pada unsur
struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya.
Pola Meratus di bagian barat terekspresikan pada
Sesar Cimandiri, di bagian tengah terekspresikan

dari pola penyebarab singkapan batuan pra-Tersier


di daerah Karang Sambung. Sedangkan di bagian
timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan
Pati, Florence timur, Central Deep. Cekungan
Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi
Tinggian Karimunjawa, Tinggian Bawean dan
Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih
dominan terekspresikan di bagian timur.
Pola Sunda berarah Utara-Selatan, di bagian barat
tampak lebih dominan sementara perkembangan ke
arah timur tidak terekspresikan. Ekspresi yang
mencerminkan pola ini adalah pola sesar-sesar
pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan
Cekungan Arjuna. Pola Sunda pada Umumnya
berupa struktur regangan.
Pola Jawa di bagian barat pola ini diwakili oleh
sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sear-sear
dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak
pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona
Serayu Utara dan Serayu Selatan. Di bagian Timur
ditunjukkan oleh arah Sesar Pegunungan Kendeng
yang berupa sesar naik.
Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa
pola Meratus merupakan pola yang paling tua.
Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur
Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur
Tinggian Karimunjawa menerus melalui Karang
Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat.
Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik
yang lebih muda. Pola Sunda lebih muda dari pola
Meratus. Data seismik menunjukkan Pola Sunda
telah mengaktifkan kembali sesar-sesar yang
berpola Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen
Akhir.
Pola Jawa menunjukkan pola termuda dan
mengaktifkan kembali seluruh pola yang telah ada
sebelumnya (Pulunggono, 1994). Data seismik
menunjukkan bahwa pola sesar naik dengan arah
barat-timur masih aktif hingga sekarang.

METODOLOGI
Praktikum geologi struktur yang dilakukan dengan
cara mengukur lipatan yang tersingkap untuk
mengetahui arah gaya utama. Observasi yang
dilakukan di lapangan meliputi orientasi medan,
pengamatan morfologi, pengamatan singkapan dan
batuan, pengukuran.

Sebelum melakukan observasi ke lapangan,


terlebih dahulu melakukan analisis data sekunder
yang didapatkan dari pustaka dan sumber yang lain
yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
sebelum melakukan observasi lapangan secara
detail. Setelah mendapatkan data dari hasil
observasi lapangan, langkah selanjutnya adalah
melakukan analisis data tersebut yang kemudian
disusun sebagai paper. Adapun beberapa
metodologi yang dipergunakan dalam penelitian
dan pembuatan paper geologi struktur ini adalah
sebagai berikut :
1. Studi pustaka
Studi pustaka mempelajari geologi regional daerah
Semarang dan daerah penelitian berdasarkan
publikasipublikasi dan literaturliteratur yang
telah dibuat oleh peneliti terdahulu. Hal ini sangat
penting untuk mengetahui geologi dan aspekaspek
teoritis dalam ilmu geologi yang berguna sebagai
dasar pemikiran dalam penyelesaian masalah
geologi yang dihadapi di lapangan. Tahapan ini
dilakukan
sebelum
penelitian
lapangan
dilaksanakan.
2. Praktikum Lapangan
Praktikum lapangan ini meliputi: Pengamatan jenis
batuan, pengamatan morfologi daerah sekitar, dan
struktur geologi.
Apabila mendapatkan kesulitankesulitan dalam
tahapantahapan ini, maka diadakan diskusi
bersama dengan kelompok dan asisten dalam
mencari penyelesaian masalahnya.
3. Analisa
Tahapan analisa ini meliputi berbagai macam
kegiatankegiatan pasca praktikum, yaitu analisis
struktur geologi dengan cara melakukan analisis
data struktur geologi dengan bantuan metodemetode yang ada (stereonet) dan merekonstruksi
struktur geologi dengan mengacu pada teori dan
model yang sudah ada. Untuk dapat menentukan
arah gaya utama yang terjadi pada kedua stasiun
pengamatan
4. Pembuatan Paper
Pembuatan laporan merupakan kegiatan paling
akhir setelah tahapantahapan tersebut di atas
dilakukan dan selanjutnya akan dikumpulkan untuk
memenuhi tugas praktikum geologi struktur.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis pembentuk arah gaya utama
pembentuk lipatan pada daerah Banyumeneng ini
dilakukan dengan cara proyeksi berdasarkan data
lapangan yang datanya terdapat pada lampiran
yang

didapatkan hasil

1= 17o/N158oE,

2= 46o/ N123oE, dan 3= 54o/N66oE.


Analisis pembentuk arah gaya utama
pembentuk lipatan pada daerah Wonosegoro I ini
dilakukan dengan cara proyeksi berdasarkan data
lapangan yang datanya terdapat pada lampiran

yang didapatkan hasil


2= 24o/ N128oE, dan

1= 3o/N141oE,

3= 66o/N48oE.

Analisis pembentuk arah gaya utama


pembentuk lipatan pada daerah Wonosegoro II ini
dilakukan dengan cara proyeksi berdasarkan data
lapangan yang datanya terdapat pada lampiran
yang didapatkan hasil
2=28o/ N210oE, dan

1= 62o/43oE,

3= 3o/N303oE.

Sebuah struktur geologi berupa lipatan akan


terbentuk akibat gaya kompresi dari aktivitas
tektonik yang bekerja pada suatu lapisan yang
bersifat elastic. Lapisan idealnya terbentuk secara
horizontal mengikuti morfologi daerah, kemudian
karena keterdapatan gaya, lapisan tersebut akan
berubah melengkung. Lipatan yang ditemui di
lapangan ini merupakan salah satu dari lipatan
minor yang terdapat pada zona Kendeng. Lipatan
minor ini merupakan bagian dari lipatan lipatan
mayor yang terdapat pada zona Kendeng yang
memiliki arah relatif barat timur. Zona Kendeng
diketahui telah mengalami dua kali tahapan
deformasi. Deformasi pertama pada zona Kendeng
terjadi pada akhir Pliosen, deformasi tersebut
merupakan manifestasi dari zona konvergen pada
konsep tektonik lempeng yang diakibatkan oleh
gaya kompresi berarah relatif utara selatan.
Deformasi pada zona Kendeng sendiri dibagi
menjadi tiga fase atau stadia. Fase yang pertama
berupa perlipatan yang memiliki arah yang
dominan barat timur. Fase yang kedua berupa
pensesaran yang secara umum berupa sesar naik.
Fase yang ketiga berupa berupa pergeseran blok
blok dasar cekungan zona Kendeng atau sesar yang
memiliki arah relatif utara selatan.
Ketika suatu lapisan batuan dalam skala yang
luas terkena gaya dari arah barat timur maka
batuan tersebut akan membentuk sebuah lipatan
dengan syarat kondisi litologi batuannya tersebut
bersifat elastic, tetapi apabila litologi batuan
tersebut bersifat ductile atau brittle maka struktur
yang terbentuk berupa sesar ataupun kekar. Sifat
batuan yang terkena gaya dan besar gaya yang
diterima berbeda beda. Sehingga mengakibatkan
terbentuknya struktur yang terbentuk akan berbeda
tetapi masih memiliki sifat dominan yang sama.
Terbentuknya lipatan yang merupakan struktur
mayor ini diikuti oleh pembentukan struktur minor
yang menyertai dengan skala lebih kecil.
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan analisis lipatan yang terdapat pada
Sungai Banyumeneng, Demak dan Sungai
Wonosegoro, Boyolali dijumpai singkapan.
Setelah dilakukan pengukuran terhadap lipatan
tersebut dan menganalisis secara stereografis,

Dapat disimpulkan bahwa arah gaya utama


lipatan
yang
terdapat
pada
Sungai
Banyumeneng, Demak dan Sungai Wonosegoro
Boyolali ini memiliki arah yang sama dan
dipengaruhi oleh aktifitas zona kendeng,
arahmya yaitu Timur Laut Barat Daya ( NE
SW ).
Saran
Teliti dalam melakukan pengukuran lipatan
di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Fachrudin, Tim Asisten Geologi Struktur. 2015.
Buku Panduan Praktikum Geologi
Struktur.
Semarang:
Universitas
Diponegoro.
Sapiie, Benyamin dan Agus H. Harsolumakso.
2008. Prinsip Dasar Geologi Struktur.
Bandung:Institute Teknologi Bandung.

Gambar 1. Pola Penyebaran Zona di Pulau


Jawa
(modifikasi dari van Bemmelen, 1949)

LAMPIRAN

S
T
A
1
S
T
A
2
S
T
A
3

ST
A1
ST
A2
ST
A3

Analisis Stereografis Manual


Pengukuran sayap kanan lipatan STA 1-2
Wonosegoro, STA 3 Banyumeneng yaitu :
I

II

III

IV

N6
00E
/
66

N5
70E
/
66

N6
20E
/
66

N6
80E
/
66

N6
80E
/
66

Ax
ial
pla
ne
N6
00
E/
66

N1
900
E/5
2

N1
910
E/6
2

N1
780
E/4
3

N1
730
E/3
9

N1
600
E/3
9

N3
00
E/
65

N9
60E
/51

N1
000
E/5
7

N1
100
E/6
5

N1
100
E/5
6

N1
060
E/6
9

Gambar 2. Jalur Antiklinorium Zona Kendeng

Gambar 3. Pola Struktur Jawa


(Sribudiyani dkk., 2003)

N9
60
E/
55

N9
50E
/
50

Pengukuran sayap kiri lipatan STA 1-2


Wonosegoro, STA 3 Banyumeneng yaitu :
I

II

III

IV

N600E
/ 66
N600E
/ 66
N2340
E/ 46
N2450
E/ 45

N600E
/ 66
N600E
/ 66
N2400
E/ 49

N600E
/ 66
N600E
/ 66
N2400
E/ 48

N600E
/ 66
N600E
/ 66
N2350
E/ 47

N600E
/ 66
N600E
/ 66
N2200
E/ 45

Axial
plane
N600E
/ 66
N600E
/ 66
N2250
E/ 47

Gambar 4. Kolom Stratigrafi Zona Kendeng


(Harsono, 1983)

u
Sayap kiri

Sayap
kanan

Gambar 6. Lipatan Antiklin Wonosegoro

u
Sayap kiri

Sayap
kanan

Gambar 5. Perlapisan pada Lipatan


Wonosegoro

Gambar 7. Lipatan Sungai Banyumeneng