Anda di halaman 1dari 33

Kata Pengantar

Konsep analisis ini dilatarbelakangi oleh banyaknya


sifat dari berbagai macam peraturan perundang-undangan
di

Indonesia

yang

membuat

masyarakat

ragu

atas

keberadaan atas berbagai macam peraturan perundangundangan yang telah terbentuk oleh akibat kepentingan
politik. Kepentingan masyarakat dan kebutuhan masyarakat
cenderung di kesampingkan dengan banyaknya konsep dan
kemauan dari politik pembentuk undang-undang.
Dalam hal ini, Undang-Undang Nomor. 20 tentang
Pendidikan Kedokteran akan diuji tentang ciri-ciri dan proses
pembentukannya.

Melihat

dari

sudut

legislasi

dan

bagaimana materi dalam aturan ini. Melihat adanya bentuk


hukum responsif, otonom dan otoriter.
Diharapkan dapat membentuk suatu kerangka konsep
yang lebih memperkuat dan memperdalam agar dapat
mengetahui peraturan-peraturan mana saja yang termasuk
dalam hukum yang responsif, otonom, dan otoriter.

1 | Page

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukum saat

ini

berada

pada

taraf

yang

memprihatinkan, yaitu ketika hukum bukan saja tidak


efektif, melainkan juga sering menimbulkan masalah
dan memperuwet masalah yang tadinya belum ruwet. 1
Pembentukan

peraturan

perundang-undangan

khususnya undang-undang di Indonesia, selama ini


sangat di tentukan oleh aturan hukum formil dan
kemauan politik pembentuk undang-undang daripada
pertimbangan-pertimbangan

yang

berpihak

kepada

masyarakat. Sebagai produk legislative, fakta hukum


menunjukan bahwa pembentukan undang-undang lebih
diarahkan pada kepentingan politik penguasa dan
pihak-pihak yang berkepentingan, yang akhirnya materi
undang-undang tidak sesuai dengan kepentingan dan
kebutuhan masyarakat. Padahal dalam Negara hukum
modern, selain adanya pembagian kekuasaan yang
bertujuan

memberikan,

mengatur,

membatasi

dan

mengawasi penyelenggaraan wewenang pemerintah,


1 Achmad Ali, Menjelajahi Kajian Empiris Terhadap Hukum, Yarsif
Watampone, Jakarta, 1987, hlm. 234

2 | Page

adanya

pengakuan

dan

perlindungan

hak

asasi

manusia, serta adanya peradilan administrasi negara


untuk

mengadili

perbuatan

pemerintah,

kita

pembentukan

peraturan

berfungsi

sebagai

juga

melawan

mutlak

hukum

memerlukan

perundang-undangan

instrument

untuk

yang

memberi,

mengatur,

membatasi

sekaligus,

mengawasi

pelaksanaan

tugas

wewenang

pemerintah,

dan

menjamin hak-hak warga masyarakat. Menurut I Gde


Panca Astawa dan Suprin Naa2, ciri hukum modern
yaitu

adanya

norma-norma

hukum

yang

tertulis,

rasional, terencana, universal, dan responsive dalam


mengadaptasi

perkembangan

kemasyarakatan

dapat menjamin kepastian hukum.


Dengan
demikian,
bahwa

suatu

dan

peraturan

perundang-undangan yang dibentuk oleh pemerintah


legislatif, harus dibentuk dan ditetapkan berdasarkan
konsep yang rasional, dengan memiliki perenaan yang
baik,

mengakomodir

keinginan

masyarakat,

tidak

bertentangan dengan peraturan yang sederajat atau


yang

lebih

tinggi,

dan

dapat

terus

mengikuti

perkembangan jaman yang dimana masyarakat selalu

2 I Gde Panca AStawa dan Suprin Naa, Dinamika Hukum dan Ilmu
Perundang-Undangan di Indonesia, Alumni, Bandung, 2008, hlm. 1

3 | Page

berkembang sesuai dengan konsep keadilan, kepastian


hukum dan kesejahteraan.
Hal tersebut sejalan dengan konsep negara hukum
rechtstaat yang lahir di Jerman akhir abad ke XVIII, yang
meletakkan dasar perlindungan hukum bagi rakyat
pada asal legalitas yaitu semua hukum harus positif,
yang berarti hukum harus dibentuk secara sadar.
Dengan

ide

rechtsstaat,

penting

karena

hukum

posisi
positif

wetgever
yang

menjadi

dibentuk

di

harapkan memberikan jaminan perlindungan hukum


bagi

rakyat.3

Dengan

cara

dan

konsep

tersebut,

undang-undang dapat mengakomodir dan merespon


kenyataan

yang

masyarakat.

hidup

Materi

dan

dari

berkembang

didalam

undang-undang

dapat

merespon kenyataan yang hidup dalam masyarakat,


dengan cara melibatkan masyarakat secara partisipatif.
Dalam Undang-Undang Nomor. 12 tahun 2011
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan,
dalam pasal 1 angka 11, disebutkan bahwa Naskah
akademik

adalah

naskah

hasil

penelitian

atau

kengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap


suatu

masalah

dipertanggungjawabkan

tertentu
secara

yang
ilmiah

dapat
mengenai

3 Philipus M. Hadjon, Ide Negara Hukum dalam Sistem


Ketatanegaraan Republik Indonesia, Makalah, 1994, hlm. 4

4 | Page

pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan


Undang-Undang, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi,
atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota
sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan
hukum masyarakat. Tata cara ini dapat membentuk
suatu rancangan undang-undang agar dapat relevan
dan dapat diaplikasikan dengan kebutuhan masyarakat.
Materi

dari

Rancangan

Undang-Undang

dapat

mengakomodir segala bentuk permasalahan realita


masyarakat yang semakin hari semakin berubah seiring
dengan perkembangan jaman.
Oleh karena itu, keberadan masyarakat sebagai
salah satu wujud aspiratif rakyat yang diberikan kepada
lembaga Legislatif untuk penyusunan suatu Rancangan
Undang-Undangan

sangat

penting

karena

untuk

menghindari adanya perbenturan materi atau tidak


sesuainya
munculnya

materi
uji

peraturan

materi

yang

(judicial

menakibatkan

review)

kepada

Mahkamah Konstitusi. Keberadaan kelembagaan atau


kewenangan

untuk

melakukan

uji

materi

(judicial

review) baik oleh Mahkamah Konstitusi maupun oleh


Mahkamah Agung sesuai dengan hierarki Peraturan

5 | Page

masing-masing4,

Perundang-Undangan

juga

menunjukan dukungan politik hukum bagi pembenahan


materi hukum nasional.
Namun secara empiris,
undang

di

Indonesia

pembentukan

undang-

memberikan

jaminan

belum

sebagai suatu undang-undang yang responsive. Banyak


perumusan norma hukum dalam undang-undang sering
menimbulkan

konflik

dengan

masyarakat

sebagai

subjek hukum. Hak ini ditandai dengan maraknya


judicial

review

yang

diajukan

pada

Mahkamah

Konstitusi untuk melakukan pengujian terhadap norma


hukum

dalam

bertentangan

undang-undang

dengan

hak-hak

yang

dianggap

konstitusinal

warga

negara. Sealin itu mekanisme dan proses pembentukan


undang-undang

yang

mempertimbangkan

sangat

formalistik

kondisi-kondisi

tanpa
sosial

kemasyarakatan yang perlu dirumuskan sebagai norma


hukum yang berpihak kepada masyarakat. Karena
menurut Prof. Mahfud M.D, menyatakan bahwa hukum
merupakan produk politik.5
4 Mahfud MD, Makalah Seminar Arah Pembangunan Hukum
Menurut UUD 1945 hasil Amandemen, Badan Pembinaan Hukum
Nasional, Departemen Hukum dan Ham RI, Jakarta, 29-31 Mei
2006, hlm. 7
5 Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta,
2001, hlm. 2

6 | Page

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan argumentasi


dengan metode analisis teori, doktrin, serta perturan
perundang-undangan tentang Undang-Undang Nomor.
20 tahun 2013 tentang pendidikan Kedokteran. Yang
dimana

dalam

rangka

melihat

hasil

perundang-

undangan yang telah dibentuk ini. Dengan hasil apakah


bentuk Undang-Undang Nomor. 20 tahun 2013 tentang
Pendidikan
hukum

Kedokteran

yang

tersebut

responsif,

apakah

otonom,

ataukan

termasuk
otoriter.

Dengan harapan dapat memunculkan hasil yang sesuai


dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat.
B. Identifikasi Masalah
Dari hal-hal tersebut, maka akan dilakukan analisis
pada peraturan perundang-undangan perihal UndangUndang nomor. 20 tahun 2013 tentang Pendidikan
Kedokteran, yaitu :
1. Apakah Undang-Undang Nomor. 20 tahun 2013
tentang

Pendidikan

Kedokteran

itu

bersifat

responsif, otonom atau otoriter?

BAB II
KAJIAN TEORITIS TENTANG PRODUK HUKUM, ASAS,
DAN PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN
A. Hukum Sebagai Bentuk Produk Politik

7 | Page

Konsep ini beranjak dari pemikiran dan asumsi


bahwa

suatu

lembaga

produk

legislative

hukum

yang

dibentuk

adalah sebuah produk

oleh

politik,

dimana perwakilan rakyat yang di bentuk dan terpilih


adalah berasal dari hasil pemilihan umum yang sarat
akan kepentingan politik. Karena, menurut Prof. Mahfud
MD, disebutkan bahwa jika ilmu hukum diibaratkan
sebagai pohon, maka filsafat merupakan akarnya,
sedangkan politik merupakan pohonnya yang kemudian
melahirkan cabang-cabang berupa berbagai bidang
hukum seperti hukum perdata, hukum pidana, hukum
tata

negara,

hukum

administrasi

negara

dan

sebagainya.6
Sedangkan hubungan kausalitas antara hukum dan
politik atau apakah hukum yang mempengaruhi politik
ataukah politik yang mempengaruhi hukum7, maka
paling

tidak

ada

tiga

macam

jawaban

dapat

menjelaskannya.8

6 Id
7 Moh. Mahfud MD, Mengefektifkan Kontrol Hukum atas
Kekuasaan, Makalah untuk Seminar Hukum dan Kekuasaan, 30
tahun Supersemar, Pusat Studi hukum Fakultas Hukum UII,
Yogyakarta, 27 Maret 1996; juga dalam Mulyana W. Kusumah,
Instrumentasi Hukum dan Reformasi Politik, dalam majalah
Prisma, No. 7, Juli 1995, hlm. 3
8 Supranote. 5, hlm. 8

8 | Page

1) Hukum determinan atas politik dalam arti


bahwa kegiatan-kegiatan politik diatur oleh
dan harus tunduk pada aturan-aturan hukum.
2) Politik determinan atas hukum, karena hukum
merupakan

hasil

atau

kehendak-kehendak

kristalisasi

politik

yang

dari
saling

beriteraksi dan (bahkan) saling bersaingan.


3) Politik
dan
hukum
sebagai
subsistem
kemasyarakatan berada pada posisi yang
derajak determinasinya seimbang antara satu
dengan yang lain, karena meskipun hukum
merupakan produk keputusan politik tetapi
begitu hukum ada maka semua kegiatan
politik

harus

tunduk

pada

aturan-aturan

hukum.
Dalam hal ini, dijelaskan bahwa tingkat determinan
dari hukum dan politik dapat dilihat dari sejauh mana
cara pandang yang diambil oleh para pemegang
kekuasaan.

Dalam

cara

pandang

das

sollen

(keharusan), disini yang memiliki kepentingan harus


dan menuntut konsep yang haruslah berpegang teguh
pada aturan-aturan yang ujungnya berkiblat pada
hukum, meskipun itu adalah sebuah kegiatan politik.
Tetapi tetap saja das sein (kenyataan) menyatakan
bahwa bentuk dan tindakan sebuah halnya tetap saja
9 | Page

lebih terpengaruh oleh politik. Karena yang terjadi


secara factual akan membuat sebuah kegiatan lebih
banyak

untuk

mengakomodir

kepentingan

yang

dibutuhkan, sehingga secara tidak langsung aturanaturan yang seharusnya dijadikan pijakan, lambat laun
dikesampingkan karena adanya kepentingan yang tidak
seluruhnya sejalan atau sesuai dengan aturan, atau
bahkan akan cenderung kaku.
Kegiatan legislative dalam kenyataannya memang
lebih banyak membuat keputusan-keputusan politik
dibandingkan dengan menjalankan pekerjaan hukum
yang sesungguhnya, lebih-lebih jika pekerjaan hukum
itu dikaitkan dengan masalah prosedur.9 Tampak jelas
bahwa lembaga legislative (yang menetapkan produk
hukum) sebenarnya lebih dekat dengan poltik daripada
dengan huku itu sendiri.10 Hal-hal ini menjadi dasar,
bahwa apakah hubungan antara politik dan hukum
dapat berbeda, tergantung perspektif yang digunakan
untuk mendapatkan jawaban tersebut.
B. Definisi Undang-Undang

9 Id, hlm. 9
10 Satjipto Rahardjo, Beberapa Pemikiran tentang Ancangan antar
Disiplin dalam Pembinaan Hukum Nasional, Sinar Baru, Bandung,
1985, hlm. 79

10 | P a g e

Dalam UUD 1945, tidak terang apa lingkup batasan


pengertian undang-undang. Pasal 20 UUD 1945 hanya
menyebut kewenangan DPR untuk membentuk undangundang

dengan

persetujuan

bersama

dengan

Pemerintah. Pasal 24C ayat (1) hanya menentuka


bahwa

Mahkamah

Konstitusi

berwenang

menguji

udang-undang terhadap UUD. Istilah yang dipakai


adalah

undang-undang

dengan

huruf

kecil.

Jika

dipakai istilah Undang-Undang apakah mempunyai


perbedaan

pengertian

yang

signifikan

dengan

perkataan undang-undang dengan huruf kecil?11


Yang dimaksud dengan undang-undang dalam arti
yang sempit adalah legislative act atau akta hukum
yang

dibentuk

oleh

lembaga

legislative

dengan

persetujuan bersama dengan lemabga eksekutif. Yang


membedakan sehingga naskah hukum tertulis tersebut
disebut sebagai legislative act, bukan excecutive
act

adalah

karena

dalam

proses

pembentukan

legislative act itu, peranan lembaga legislative sangat


menentukan

keabsahan

materiel

peraturan

yang

dimaksud. Dengan peranan lembaga legislative yang


sangat menentukan itu berarti peranan para wakil
rakyat yang dipilih dan mewakili kepentingan rakyat
11 Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H, Perihal Undang-Undang,
Rajawali Pers, Jakarta, 2010, hlm. 31

11 | P a g e

yang beradulat dari mana keadulatan negara berasal


sangat menentukan keabsahan dan daya ikat undangundang itu untuk umum.12
Karena pada dasarnya rakyatlah yang berdaulat
dalam negara demokrasi, maka rakyat pulalah yang
berhak

untuk

menentukak

kebijakan-kebijakan

kenegaraan yang akan mengikat bagi seluruh rakyat.


Pemerintah sebagai pihak yang mendapat mandate
kepercayaan

untuk

menjalankan

tugas-tugas

pemerintahan negara tidak boleh menetapkan sendiri


segala sesuatu yang menyangkut kebijakan bernegara
yang akan mengikat warga negara dengan bebanbeban kewajiban yang tidak disepakati oleh mereka
sendiri, baik yang menyangkut kebebasan (liberty),
prinsip

persamaan

(equality),

ataupun

pemilikan

(property) yang menyangkut kepentingan rakyat. Jika


sekiranya
akan

kebijakan-kebijakan

membebani

rakyat,

kenegaraan
maka

tersebut

rakyat

harus

menyatukan persetujuannya melalui perantaraan wakilwakil

mereka

di

kebijakan-kebijakan
dituangkan

dalam

lembaga

legislative.

kenegaraan
bentuk

Karena

tersebut

undang-undang

itu,

harus
sebagai

12 Id, hlm. 32-33

12 | P a g e

produk

legislative

(legislative

act)

sebagaimana

dimaksud di atas. 13
Menurut Mian Khurshid14, undang-undang (statute)
itu sendiri dapat di bedakan dalam 5 (lima) kelompok,
yaitu:
1. Undang-undang (statute) yang bersifat umum
(general);
2. Undang-undang

yang

statute), (locale wet);


3. Undang-undang
yang
(personal

statue)

bersifat

lokal

bersifat

ataupun

(local

personel

undang-undang

yang bersifat individual (individual statue);


4. Undang-undang yang bersifat publik (public
statute);
5. Undang-undang yang bersifat perdata (private
statute).
Pertama, undang-undang yang diklasifikasikan sebagai
general statue adalah karena undang-undang itu
berlaku bagi segenap warga (the whole community)
atau yang dalam bahasa Belanda biasa disebut sebagai
algemene verbindende voorschriften.Kedua, undangundang dapat diklasifikasikan sebagai undang-undang
yang bersifat lokal atau local statute (local wet), yaitu
hanya berlaku terbatas untuk atau di daerah tertentu
13 Id, hlm. 33
14 Mian Khurshid A. Nasim, Intrepretation of Statutes, Lahore:
Mansoor Book House, 1998, hlm. 8

13 | P a g e

saja. Ketiga, undang-undang juga dapat saja ditetapkan


berlaku untuk subjek-subjek hukum tertentu saja atau
bahkan individu tertentu saja dan ini yang disebut
sebagai

personal

statute.

Norma

hukum

yang

terkadung di dalamnya tidak bersifat umum dan


abstrak seperti yang dikemukakan oleh Hans Kelsen,
melainkan bersifat konkret dan individuil.15
C. Karakter Produk Hukum
Untuk mengkualifikasikan tentang bentuk dari produk
hukum yang dibentuk oleh lembaga legislative, maka
akan ada indicator tentang bagaimana produk hukum
yang

diciptakan

oleh

lembaga

legislatif

bersama

pemerintah. Menurut Mahfud M.D Karakter produk


hukum yaitu16 :
a. Produk hukum responsif/ populistik adalah produk
hukum yang mencerminkan rasa keadilan dan
memenuhi harapan masyarakat. Dalam proses
pembuatannya memberikan peranan besar dan
partisipasi penuh kelompok-kelompok social atau
individu di dalam masyarakat. Hasilnya bersifat

15 Supranote. 11, hlm. 37


16 Supranote. 5 hlm. 25

14 | P a g e

responsif terhadap tuntutan-tuntutan kelompok


social atau individual dalam masyarakat.
b. Produk hukum konservatif/ ortodoks/ elitis adalah
produk hukum yang isinya lebih mencerminkan
visi

social

elit

keinginan

politik,

lebih

pemerintah,

mencerminkan

bersifat

positiris-

instrumentalis, yakni menjadi alat pelaksanaan


ideologi dan program negara. Berlawanan dengan
hukum responsif, hukum ortodoks lebih tertutup
terhadap tuntutan kelompok maupun individuindividu

di

dalam

pembuatannya

masyarakat.

peranan

dan

Dalam
partisipasi

masyarakat relatif kecil.


c. Produk hukum otonom adalah, hukum terpisah
dari

politik,

secara

khas,

sistem

hukum

ini

menyatakan kemandirian kekuasaan peradilan


dan membuat garis tegas antara fungsi legislative
dan fungsi yudikatif. Tertib hukun mendukung
model peraturan (model of rules). Fokus pada
peraturan membantu menerapkan ukuran bagi
akuntabilitas para pejabat pada waktu yang
sama, ia membatasi kreativitas institusi-institusi
hukum maupun resiko campur tangan lembagalembaga hukum itu di wilayah politik. Prosedur
adalah jantung hukum. Keteraturan dan keadilan

15 | P a g e

(fairness), dan bukannya

keadilan substantif,

merupakan tujuan dan kompetensi utama dari


tertib

hukum.

Ketaatan

dipahamisebagai

kepatuhan

terhadap
Kritik

pada
yang

peraturan-peraturan

terhadap

hukum

yang

hukum
sempurna

hukum
berlaku

positif.
harus

disalurkan melalui proses politik.17


Untuk mengkualifikasi apakah suatu produk hukum
responsif, atau koservatif, indikator yang dipakai adalah
proses pembuatan hukum, sifat fungsi hukum, dan
kemungkinan penafsiran atas sebuah produk hukum.18
Produk hukum yang berkarakter responsif, proses
pembuatannya bersifat partisipatif, yakni mengundang
sebanyak-banyaknya pertisipasi masyarakat melalui
kelompok-kelompok

social

dan

individu

di

dalam

masyarakat. Sedangkan proses pembuatan hukum yang


berkarakter ortodoks bersifat sentralistik dalam arti
lebih

didominasi

oleh

lembaga

negara

terutama

pemegang kekuasaan eksekutif.19


Dilihat dari fungsinya maka hukum yang berkarakter
responsif bersifat aspiratif. Artinya memuat materi-

17 Philip Nonet dan Philip Selznick (penerjemah Raisul Muttaqie),


Hukum Responsif, Nusa Media, Bandung, 2015, hlm. 60
18 Supranote 5. hlm.26
19 Id

16 | P a g e

materi yang secara umum sesuai dengan aspirasi atau


kehendak

masyarkat

yang

dilayaninya.

Sehingga

produk hukum itu dapat dipandang sebagai kristalisasi


dari kehendak masyarakat. Sedangkan hukum yang
berkarakter ortodoks bersifat positivis-instrumentalis.
Artinya memuat materi yang lebih merefleksikan visi
social dan politik pemegang kekuasaan atau memuat
materi yang lebih merupakan alat untuk mewujudkan
kehendan dan kepentingan program pemerintah.20
Jika dilihat dari segi penafsiran maka produk hukum
yang berkarakter responsif atau populistik biasanya
memberi

sedikit

peluang

bagi

pemerintah

untuk

membuat penafsiran sendiri melalui berbagai peraturan


pelksanaan dan peluang yang sempit itu pun hanya
berlaku untuk hal-hal yang betul-betul bersifat teknis.
Sedangkan produk hukum yang berkarakter ortodoks/
konservatif atau elitis memberi peluang luas kepada
pemerintah

untuk

membuat

berbagai

interpretasi

dengan berbagai peraturan lanjutan yang berdasarkan


visi sepihak dari pemerintah dan tidak sekedar masalah
teknis. Oleh sebab itu, produk hukum yang berkarakter
responsif biasanya memuat hal-hal penting secara
mencakup rinci, sehingga sulit bagi pemerintah untuk

20 Id

17 | P a g e

membaut penafsiran sendiri. Sedangkan produk yang


berkarakter
materi

ortodoks

singkat

biasanya

dan

cenderung

pokok-pokoknya

memuat

saja

untuk

kemudian memberi peluang yang luas bagi pemerintah


untuk

mengatur

berdasarkan

visi

dan

kekuatan

politiknya.21
D. Asas

Pembentukan

Undangan
Dalam membentuk

Peraturan

suatu

Perundang-

peraturan

perundang-

undangan, untuk mewujudkan suatu peraturan yang


dapat digunakan secara efektif dan bermanfaat bagi
masyarakat,

menurut

A.

Hamid.

S.

Attamimi

pembentukan peraturan perundang-undangan terdiri


dari22 :
1) Asas-asas formal, yang terdiri dari :
a) Asas tujuan yang jelas;
b) Asas perlunya pengaturan;
c) Asas organ/ lembaga yang tepat;
d) Asas materi muatan yang tepat;
e) Asas dapatnya dilaksanakan;
f) Asas dapatnya dikenali;
2) Asas-asas material, yang terdiri dari :
a) Asas sesuai dengan Cita Hukum Indonesia dan
Norma Hukum Fundamental Negara;
b) Asas sesuai dengan hukum dasar negara

21 Id
22 A. Hamid. S. Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Republik
Indonesi dalam Penyelenggaraan Pemerintah Negara, DIsertasi
Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 1990, hlm.
345-346

18 | P a g e

c) Asas

sesuai

dengan

prinsip-prinsip

negara

Negara Berdasarkan Atas Hukum; dan


d) Asas sesuai dengan prinsip-prinsip Pemerintahan
beradasarkan Sistem Konstitusi.
Undang-undang

nomor.

12

tahun

2011

tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan membedakan


antara asas pembentukan peraturan perundang-undangan
dan asas materi muatan peraturan perundang-undangan.
Berkaitan dengan asas pembentukan peraturan perundangundangan. Berkaitan dengan asas pmebentukan perundangundangan, Pasal 5 Undang-Undang nomor. 12 tahun 2011
tentang Peraturan Perundang-undangan menentukan bahwa
dalam membentuk peraturan perundang-undangan harus
berdasarkan

pada

asas

pembentukan

peratuaran

perundang-undangan yang baik yang meliputi23 :


1. Asas kejelasan tujuan. Yang dimaksud dengan asas
kejelasan tujuan adalah bahwa setiap Pembentukan
Peraturan

Perundang-undangan

harus

mempunyai

tujuan yang jelas yang hendak dicapai.


2. Asas kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat.
Yang dimaksud dengan asas kelembagaan atau
pejabat pembentuk yang tepat adalah bahwa setiap
jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat
23 Undang-Undang Nomor. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan, Pasal 5 dan penjelasan.

19 | P a g e

oleh

lembaga

Peraturan

negara

atau

pejabat

Pembentuk

yang

berwenang.

Perundang-undangan

Peraturan

Perundang-undangan

tersebut

dapat

dibatalkan atau batal demi hukum apabila dibuat oleh


lembaga negara atau pejabat yang tidak berwenang.
3. Asas kesesuaian antara jenis dan materi muatan. Yang
dimaksud dengan asas kesesuaian antara jenis,
hierarki, dan materi muatan adalah bahwa dalam
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus
benar-benar

memperhatikan

materi

muatan

yang

tepat sesuai dengan jenis dan hierarki Peraturan


Perundang-undangan.
4. Asas dapat dilaksanakan. Yang dimaksud dengan
asas

dapat

dilaksanakan

adalah

bahwa

setiap

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus


memperhitungkan efektivitas Peraturan Perundangundangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara
filosofis, sosiologis, maupun yuridis.
5. Asas
kedayagunaan
dan
kehasilgunaan.
dimaksud

dengan

kehasilgunaan

asas

adalah

kedayagunaan

bahwa

setiap

Yang
dan

Peraturan

Perundang-undangan dibuat karena memang benarbenar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
6. Asas kejelasan rumusan. Yang dimaksud dengan asas
kejelasan rumusan adalah bahwa setiap Peraturan

20 | P a g e

Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan


teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan,
sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa
hukum yang jelas dan mudah dimengerti sehingga
tidak

menimbulkan

berbagai

macam

dalam pelaksanaannya.
7. Asas keterbukaan. Yang dimaksud
keterbukaan
Peraturan

adalah

bahwa

dalam

Perundangundangan

interpretasi

dengan asas
Pembentukan
mulai

dari

perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan


atau

penetapan,

dan

pengundangan

bersifat

transparan dan terbuka. Dengan demikian, seluruh


lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang
seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Selanjutnya Jimly Asshidiqie membagi 4 (empat) bentuk
kegiatan dalam pembuatan undang-undang, yaitu24 :
1. Prakarsa

pembuata

initiation);
2. Pembahasan

undang-undang

rancangan

(legislative

undang-undanga

(law

making process);
3. Persetujuan atas pengesahan undang-undang (law
enactment approval)

24 Jimly Asshidiqie, Pengantar Hukum Tata Negara Jilid II,


Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi,
Jakarta, 2006, hlm. 34

21 | P a g e

4. Pemberian persetujuan pengikatan atau ratifikasi


atas perjanjian hukum mengikat lainnya (Binding
dicision makin on unternational agreement and
treaties or other legal binding documents).

BAB III
ANALISIS TENTANG BENTUK PRODUK HUKUM
TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR. 20 TAHUN
2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN
Melihat tataran definisi, pembentukan, hingga ciri-ciri dari
produk hukum yang tercantum dalam landasan teori pada
BAB II, maka pada BAB III ini akan memulai bentuk analisis
terhadap karakter

produk

hukum dari Undang-Undang

Nomor. 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran.


1. Karakter produk hukum yang dalam analisis ini dilihat
dari sudut teoritisnya. Menurut Menurut I Gde Panca
Astawa dan Suprin Naa25 bahwa ciri hukum modern
yaitu adanya

norma-norma

hukum yang tertulis,

rasional, terencana, universal, dan responsive dalam


mengadaptasi perkembangan kemasyarakatan dan
dapat menjamin kepastian hukum. Dalam Undang25 Supranote. 2, hlm.1

22 | P a g e

Undang Nomor. 20 tahun 2013 tentang Pendidikan


Kedokteran, tercantum didalam konsideran huruf A
Undang-Undang

Nomor.

20

tahun

2013

tentang

Pendidikan kedokteran yaitu bahwa negara menjamin


hak setiap warga negara untuk memperoleh penidikan
sebagaimana

diamanatkan

Undang-Undang

Dasar

Negara Republik Indonesia tahun 1945. Selanjutnya


dalam

huruf

disebutkan

bahwa

Pemerintah

mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem


pendidikan

nasional

dalam

kehidupan

bangsa

yang

pemerataan

kesempatan

rangka

mencerdaskan

mampu

menjamin

pendidikan

dan

meningkatkan mutu pendidikan untuk meningkatkan


kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Ini
sejalan dengan konsep I Gde Panca Astawa dengan
pendapat bahwa sebuah hukum yang modern memiliki
norma hukum yang tertulis, rasional, terencana. Pada
2 (dua) hal pokok ini, dapat diberikan kesimpulan awal
bahwa peraturan Undang-Undang Nomor. 20 tahun
2013 tentang Pendidikan Kedokteran telah sesuai
dengan ciri-ciri tersebut. Pemerintah telah melakukan
pembentukan aturan yang didasarkan dengan tujuan
dan konsep memberikan jaminan bagi setiap warga
negara

untuk

memperoleh

pendidikan

dan

juga

23 | P a g e

mengusahakan

suatu

sistem

mencerdaskan

kehidupan

bangsa

yang

dapat

yang

dimana

dengan konsep pendidikan dokter, maka diharapkan


adanya

pertumbuhan

pemanfaatan,

terhadap

penelitian,

serta

penguasaan,

pemajuan

ilmu

pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran,


sesuai tercantum dalam konsideran huruf C.
d. Melihat dari sisi lain dari sebuah produk hukum.
Undang-Undang Nomor. 20 tahun 2013 tentang
Pendidikan Kedokteran, Mahfud M.D menyatakan
bahwa hukum merupakan produk politik.26 Tidak
dapat disangkan keberadaan atas pembentukan
aturan ini terbentuk dari perwakilan rakyat yang
berasal

dari

partai

kepentingannya.

politik

Tetapi

dengan

melihat

beragam

dari

susunan

materi didalam peraturan dari Undang-Undang


Nomor.

20

tahun

2013

tentang

Pendidikan

Kedokteran, bahwa seperti tercantum dalam Pasal


1

disebutkan

adalah

usaha

bahwa,
sadar

Pendidikan
dan

Kedokteran

terencana

dalam

pendidikan formal yang terdiri atas pendidikan


akademik dan pendidikan profesi pada jenjang
pendidikan

tinggi

yang

program

studinya

26 Supranote. 5, hlm. 2

24 | P a g e

terakreditasi untuk menghasilkan lulusan yang


memiliki kompetensi di bidang kedokteran atau
kedokteran gigi. Melihat pendapat dari Mian
Khurshid27, yang menjelaskan bahwa dari 5 (lima)
kelompok undang-undang, salah satunay adalah
undang-undang

bersifat

umum.

Dan

bila

dibandingkan dengan karakter produk hukum


menurut Mahfud M.D28 adalah produk hukum
yang

responsif

mencerminkan
harapan

karena
rasa

produk

keadilan

masyarakat.

Jelas

hukum

dan

itu

memenuhi

bahwa,

sistem

pendidikan kdeokteran ini adalah usaha sadar


yang terencana untuk sistem formal yang dalam
membentuk

suatu

masyarakat

yang

dapat

memiliki kompetensi di bidang kedokteran atau


kedoktaran.

Lulusan

ini

nantinya

dihadapkan

terhadap kebutuhan masyarakat akan jaminan


kesehatan yang dicanangkan oleh pemerintah
melalui Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia 1945 dalam Pasal 28C ayat (1) yaitu
setiap

orang

berhak

mengembangkan

diri

melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak


27 Supranote. 14, hlm. 8
28 Supranote. 5 hlm. 25

25 | P a g e

mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat


dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan
budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya
dan demi kesejahteraan umat manusia. Dengan
hal tersebut, dalam Pasal 1 ayat 4 (empat)
Undang-Undang Nomor. 20 tahun 2013 dijelaskan
bahwa Pendidikan Akademik adalah pendidikan
tinggi

program

sarjana

dan/

atau

program

pascasarjana kedokteran dan kedokteran gigi


yang diarahkan terutama pada pengusaan ilmu
kedokteran dan ilmu kedokteran gigi. Dengan
adanya pendidikan akademik, maka masyarakat
dapat menjalankan haknya sebagai masyarakat
yang dapat memenuhi harapan dari keluarga
maupun masyarkat dengan mengenyam bangku
pendidikan. Dalam hal ini, pendidikan akademik
perihal

pendidikan

kedokteran

telah

mampu

mencerminkan rasa kedilan dan memenuhi harap


masyarakat. Dimana seluruh kalangan maupun
lapisan masyarakat menginginkan adanya suatu
produk hukum yang mampu menjadi paying
hukum

atas

tindakan

ataupun

perbuatan

masyarkat yang dalam hal ini adalah mengenyam


pendidikan kedokteran secara nyaman. Ini sejalan

26 | P a g e

dengan

pendapat

menjelaskan

dari

produk

M.D29

yang

responsif

yaitu

Mahfud

hukum

produk hukum yang mencerminkan rasa keadilan


dan

memenuhi

proses

harapan

pembuatannya

masyarakat.

memberikan

Dalam
peranan

besar dan partisipasi penuh kelompok-kelompok


social

atau

individu

di

dalam

masyarakat.

Hasilnya bersifat responsif terhadap tuntutantuntutan kelompok sosial atau individual dalam
masyarakat.
Disampaikan oleh Mahfud M.D bahwa produk
hukum responsif salah satunya adalah untuk
memenuhi harapan masyarakat. Tercantum di
dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor. 20 tahun
2013 tentang Pendidikan Kedokteran, dikatakan
bahwa Pendidikan Kedokteran bertujuan untuk :
a) Menghasilkan Dokter dan Dokter gigi yang
berbudi

luhur,

berkompeten,

bermartabat,
berbudaya

bermutu,
menolong,

beretika, berdedikasi tinggi, professional,


berorientasi

pada

keselamatan

pasien,

bertanggung jawab, bermoral, humanistis,


sesuai

dengan

kebutuhan

masyarakat,

29 Id

27 | P a g e

mampu

beradaptasi

dengan

lingkungan

social, dan berjiwa social tinggi;


b) Memenuhi kebutuhan Dokter dan Dokter
gigi di seluruh wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia secacara berkeadilan;
dan
c) Meningkatkan
pengetahuan

pengembangan
dan

teknologi

di

ilmu
bidang

kedokteran dan kedokteran gigi.


Ini secara jelas telah sesuai dengan keinginan
masyarakat untuk memenuhi harapan masyarakat.
Keberadaan

pendidikan

kedokteran

ini

dapat

memenuhi kebutuhan Dokter dan Dokter gigi di


seluruh wilayah di Indonesia dan meningkatkan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang kedokteran dan kedokteran gigi.
Selanjutnya produk hukum produk hukum yang
berkarakter

responsif,

proses

pembuatannya

bersifat partisipatif, yakni mengundang sebanyakbanyaknya

pertisipasi

masyarakat

melalui

kelompok-kelompok sosial dan individu di dalam


masyarakat. Sudah pasti bahwa, seluruh komponen
masyarakat, ahli kesehatan, ahli hukum dan ahli
pendidikan telah terlibat secara langsung dalam

28 | P a g e

rangka upaya pembentukan aturan

hukum ini.

Karena Undang-Undang Nomor. 20 tahun 2013


adalah peraturan yang membahas secara khusus
mengenai pendidikan kodekteran, institusi serta
program

kedokteran

selanjutnya

setelah

ditempuhnya pendidikan kedokteran hingga masa


internship

oleh

dokter.

Karenanya,

Dilihat

dari

fungsinya maka hukum yang berkarakter responsif


bersifat aspiratif. Artinya memuat materi-materi
yang secara umum sesuai dengan aspirasi atau
kehendak masyarakat yang dilayaninya. Sehingga
produk

hukum

itu

dapat

dipandang

sebagai

kristalisasi dari kehendak masyarakat.


Karena dari hal tersebut, menurut Bagir Manan
mengemukakan

beberapa

cara

partisipasi

masyarakat dapat dilakukan dengan30 :


1) Mengikutsertakan

dalam

tim

ahli

atau

kelompok-kelompok kerja;
2) Melakukan public hearing atau mengundang
dalam rapat-rapat;
3) Melakukan uji sahih kepada pihak-pihak
tertentu untuk mendapatkan tanggapan;

30 Bagir Manan, Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi


Hukum (PSH) FAkultas Hukum UII, Yogyakarta, 2004, hlm. 85-86

29 | P a g e

4) Melakukan lokakarya (workshop) sebelum


resmi dibahas di dewan;
5) Mempublikasikan
peraturan

agar

mendapatkan tanggap publik.


Konsep-konsep ini semakin menguatkan bahwa
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2013 tentang
Pendidikan

Kedokteran

mendapatkan

hasil

telah
materi

berupaya

untuk

peraturan

yang

melibatkan struktur masyarakat maupun pihak dan


instansi terkait terhadap pembuatan aturan ini serta
adanya publikasi atas terciptanya aturan ini agar
masyarakat

mengetahui

satuan

materi

dalam

Undang-Undang Nomor. 20 tahun 2013 tentang


Pendidikan Kedokteran.

30 | P a g e

BAB IV
KESIMPULAN
Maka, dengan beragam macam teori, pendapat serta
dasar

peraturan

tentang

terbentuknya

dan

masuknya

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2013 tentang Pendidikan


Kedokteran kedalam jenis hukum yang responsif. Maka
diharapkan masyarakat tetap dapat melakukan proses
check and balances karena dimana ada hukum disitu ada
masyarakat

dan

dibandingkan
mewaspadai

hukum

selalu

masyarkaat.
adanya

berjalan

Masyarakat

perubahan

dari

lebih

lambat

tetap

harus

masyarakat

dan

mengamati apakah aturan yang ada tetap dapat digunakan


atau harus dirubah sebagian atau bahkan lebih radikalnya
yaitu

di

ganti

secara

keseluruhan.

Tentunya

dengan

menggunakan pengujian terhadap Undang-Undang Dasar


1945 atau melihat apakah adanya perbenturan hukum
dimasa yang akan datang.
Dengan hal tersebut, maka diharapkan lebih banyak
lagi

peraturan

yang

berbentuk

responsif

demi

lebih

mengakomodir dan merespon dengan cepat kebutuhan dan


keinginan

dari

founding

fathers

Indonesia

yang

menginginkan masyarkaatnya mencapai keadilan secara


substansial dan pemenuhan kewajiban yang seimbang
tentunya.

31 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
1. Achmad

Ali,

Menjelajahi

Kajian Empiris

Terhadap

Hukum, Yarsif Watampone, Jakarta, 1987.


2. I Gde Panca AStawa dan Suprin Naa, Dinamika Hukum
dan Ilmu Perundang-Undangan di Indonesia, Alumni,
Bandung, 2008.
3. Philipus M. Hadjon, Ide Negara Hukum dalam Sistem
Ketatanegaraan Republik Indonesia, Makalah, 1994.
4. Mahfud MD, Makalah Seminar Arah Pembangunan
Hukum Menurut UUD 1945 hasil Amandemen, Badan
Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Hukum dan
Ham RI, Jakarta, 29-31 Mei 2006.
5. Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES,
Jakarta, 2001.
6. Moh. Mahfud MD, Mengefektifkan Kontrol Hukum atas
Kekuasaan,

Makalah

untuk

Seminar

Hukum

dan

Kekuasaan, 30 tahun Supersemar, Pusat Studi hukum


Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, 27 Maret 1996; juga
dalam Mulyana W. Kusumah, Instrumentasi Hukum dan
Reformasi Politik, dalam majalah Prisma, No. 7, Juli
1995.

32 | P a g e

7. Satjipto

Rahardjo,

Beberapa

Pemikiran

tentang

Ancangan antar Disiplin dalam Pembinaan Hukum


Nasional, Sinar Baru, Bandung, 1985.
8. Prof. Dr. Jimly

Asshiddiqie, S.H, Perihal

Undang-

Undang, Rajawali Pers, Jakarta, 2010.


9. Mian Khurshid A. Nasim, Intrepretation of Statutes,
Lahore: Mansoor Book House, 1998,
10.
Raisul

Philip Nonet dan Philip Selznick (penerjemah


Muttaqie),

Hukum

Responsif,

Nusa

Media,

Bandung, 2015.
11.

Hamid. S. Attamimi, Peranan Keputusan Presiden

Republik Indonesi dalam Penyelenggaraan Pemerintah


Negara, DIsertasi Fakultas Pascasarjana Universitas
Indonesia, Jakarta, 1990.
12.

Undang-Undang Nomor. 12 tahun 2011 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Pasal 5


dan penjelasan.
13.
Jilid

Jimly Asshidiqie, Pengantar Hukum Tata Negara


II,

Sekretariat

Jenderal

dan

Kepaniteraan

Mahkamah Konstitusi, Jakarta, 2006.


14.

Bagir

Manan,

Menyongsong

Fajar

Otonomi

Daerah, Pusat Studi Hukum (PSH) FAkultas Hukum UII,


Yogyakarta, 2004.

33 | P a g e