Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

CEDERA KEPALA SEDANG (CKS)


disusun untuk memenuhi tugas profesi ners
Departemen Emergency di Ruang UGD RS. Dr. Syaiful Anwar

oleh:
Amildya Dwi Arisanti
NIM. 140070300011155

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

CEDERA KEPALA SEDANG (CKS)


1. DEFINISI
Menurut Brunner dan Suddarth (2001), cedera kepala adalah cedera yang
terjadi pada kulit kepala, tengkorak dan otak, sedangkan Doenges, (1999) cedera
kepala adalah cedera kepala terbuka dan tertutup yang terjadi karena, fraktur
tengkorak, kombusio gegar serebri, kontusio memar, laserasi dan perdarahan
serebral subarakhnoid, subdural, epidural, intraserebral, batang otak. Cedera
kepala merupakan proses dimana terjadi trauma langsung atau deselerasi
terhadap kepala yang menyebabkan kerusakan tengkorak dan otak (Pierce & Neil.
2006).
Adapun menurut Brain Injury Assosiation of America (2009), cedera kepala
adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun
degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang
dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan
kemampuan kognitif dan fungsi fisik.
Beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, bahwa cedera kepala
adalah trauma pada kulit kepala, tengkorak, dan otak yang terjadi baik secara
langsung ataupun tidak langsung pada kepala yang dapat mengakibatkan
terjadinya penurunan kesadaran bahkan dapat menyebabkan kematian.
Cedera kepala sedang (CKS) adalah kehilangan kesadaran atau amnesia
dengan nilai GCS 9-12 retrograde lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam.
Pasien dengan trauma kepala mempunyai resiko untuk terjadinya kerusakan otak
dan kematian. Risiko kematian kemungkinan meningkat karena pasien jatuh ke
dalam koma yang lama.
2. KLASIFIKASI
Menurut, Brunner dan Suddarth, (2001) cedera kepala ada 2 macam yaitu:
a. Cedera kepala terbuka
Luka kepala terbuka akibat cedera kepala dengan pecahnya tengkorak atau
luka penetrasi, besarnya cedera kepala pada tipe ini ditentukan oleh massa
dan bentuk dari benturan, kerusakan otak juga dapat terjadi jika tulang
tengkorak menusuk dan masuk kedalam jaringan otak dan melukai durameter
saraf otak, jaringan sel otak akibat benda tajam/ tembakan, cedera kepala
terbuka memungkinkan kuman pathogen memiliki abses langsung ke otak.
b. Cedera kepala tertutup
Benturan kranial pada jaringan otak didalam tengkorak ialah goncangan yang
mendadak. Dampaknya mirip dengan sesuatu yang bergerak cepat, kemudian

serentak berhenti dan bila ada cairan akan tumpah. Cedera kepala tertutup
meliputi: kombusio gagar otak, kontusio memar, dan laserasi.
Klasifikasi cedera kepala
Rosjidi (2007), trauma kepala diklasifikasikan menjadi derajat berdasarkan nilai
dari Glasgow Coma Scale ( GCS ) nya, yaitu;
a. Ringan
1) GCS = 13 15
2) Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30
menit.
3) Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral, hematoma.
b. Sedang
1) GCS = 9 12
2) Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang
dari 24 jam.
3) Dapat mengalami fraktur tengkorak.
c. Berat
1) GCS = 3 8
2) Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam.
3) Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial.
3. ETIOLOGI
Rosjidi (2007), penyebab cedera kepala antara lain:
1. Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil.
2. Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.
3. Cedera akibat kekerasan.
4. Benda tumpul, kerusakan terjadi hanya terbatas pada daerah dimana dapat
merobek otak.
5. Kerusakan menyebar karena kekuatan benturan, biasanya lebih berat sifatnya.
6. Benda tajam, kerusakan terjadi hanya terbatas pada daerah dimana dapat
merobek otak, misalnya tertembak peluru atau benda tajam.
4. PATHWAY
(terlampir)
5. MANIFESTASI KLINIK
Gejala-gejala yang ditimbulkan tergantung pada besarnya dan distribusi
cedera otak.
1. Cedera kepala ringan menurut Sylvia A (2005)
a. Kebingungan saat kejadian dan kebinggungan terus menetap setelah
cedera.
b. Pusing menetap dan sakit kepala, gangguan tidur, perasaan cemas.
c. Kesulitan berkonsentrasi, pelupa, gangguan bicara, masalah tingkah laku

Gejala-gejala ini dapat menetap selama beberapa hari, beberapa minggu atau
lebih lama setelah konkusio cedera otak akibat trauma ringan.
2. Cedera kepala sedang, Diane C (2002)
a. Kelemahan pada salah satu tubuh yang disertai dengan kebinggungan atau
hahkan koma.
b.

Gangguan

kesedaran,

abnormalitas

pupil,

awitan

tiba-tiba

defisit

neurologik, perubahan TTV, gangguan penglihatan dan pendengaran,


disfungsi sensorik, kejang otot, sakit kepala, vertigo dan gangguan
pergerakan.
3. Cedera kepala berat, Diane C (2002)
a. Amnesia tidak dapat mengingat peristiwa sesaat sebelum dan sesudah
terjadinya penurunan kesehatan.
b. Pupil tidak aktual, pemeriksaan motorik tidak aktual, adanya cedera
terbuka, fraktur tengkorak dan penurunan neurologik.
c. Nyeri, menetap atau setempat, biasanya menunjukan fraktur.
d. Fraktur pada kubah kranial menyebabkan pembengkakan pada area
tersebut.
6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. CT-Scan (dengan atau tanpa kontras) : mengidentifikasi luasnya lesi,
perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak. Catatan :
Untuk mengetahui adanya infark / iskemia jangan dilekukan pada 24 - 72 jam
setelah injuri
2. MRI : Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
3. Cerebral Angiography: Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti :
perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan trauma.
4. Serial EEG: Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis
5. X-Ray: Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur
garis(perdarahan/edema), fragmen tulang
6. BAER: Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil
7. PET: Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak
8. CSF, Lumbal Punksi :Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan
subarachnoid.
9. ABGs: Mendeteksi

keberadaan

ventilasi

atau

masalah

pernapasan

(oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial


7. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan awal cidera kepala dapat dilakukan dengan
1. Dexamethason/ kalmetason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis
sesuai dengan berat ringannya trauma.
2. Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat) untuk mengurangi vasodilatasi.
3. Pemberian analgetik.

4. Pengobatan antiedema dengan larutan hipertonis yaitu; manitol 20%, glukosa


40% atau gliserol.
5. Antibiotik yang mengandung barier darah otak (pinicilin) atau untuk infeksi
anaerob diberikan metronidazole.
6. Makanan atau caioran infus dextrose 5%, aminousin, aminofel (18 jam pertama
dari terjadinya kecelakaan) 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak.
7. Pembedahan.
Pada cedera kulit kepala, suntikan prokain melalui sub kutan membuatluka mudah
dibersihkan dan diobati. Daerah luka diirigasi untuk mengeluarkan benda asing
dan miminimalkan masuknya infeksi sebelumlaserasi ditutup.
1.

Menilai

jalan

nafas:

bersihkan

jalan

nafas

dari

debris

dan

muntahan;lepaskan gigi palsu,pertahankan tulang servikal segaris dgn


badan dgnmemasang collar cervikal,pasang guedel/mayo bila dpt ditolerir.
Jikacedera orofasial mengganggu jalan nafas,maka pasien harus diintubasi.
2.

Menilai pernafasan: tentukan apakah pasien bernafas spontan/tidak.


Jikatidak beri O2 melalui masker O2. Jika pasien bernafas spontan selidiki
dan

atasi

cedera

dada

berat

seperti

pneumotoraks

tensif,

hemopneumotoraks. Pasang oksimeter nadi untuk menjaga saturasi


3.

O2 minimum

95%.

Jika jalan

nafas

pasien

tidak terlindung

bahkan

terancan/memperoleh O2 ygadekuat ( Pa O2 >95% dan Pa CO2<40%


mmHg serta saturasi O2 >95%)atau muntah maka pasien harus diintubasi
serta diventilasi oleh ahlianestesi.
4.

Menilai sirkulasi: otak yg rusak tdk mentolerir hipotensi. Hentikan


semua perdarahan dengan menekan arterinya. Perhatikan adanya cedera
intraabdomen/dada.Ukur dan catat frekuensidenyut jantung dan tekanan
darah pasang EKG.Pasang jalur intravena yg besar.Berikan larutan
koloidsedangkan larutan kristaloid menimbulkan eksaserbasi edema.

5.

Obati kejang: Kejang konvulsif dpt terjadi setelah cedera kepala dan
harusdiobati mula-mula diberikan diazepam 10mg intravena perlahan-lahan
dandpt diulangi 2x jika masih kejang. Bila tidak berhasil diberikan
fenitoin15mg/kgBB.

6.

Menilai tingkat keparahan: CKR,CKS,CKB6.Pada semua pasien dengan


cedera kepala dan/atau leher,lakukan fototulang belakang servikal ( proyeksi
A-P,lateral dan odontoid ),kolar servikal baru dilepas setelah dipastikan
bahwa seluruh keservikal C1-C7normal.Pada semua pasien dg cedera
kepala sedang dan berat :- Pasang infus dgn larutan normal salin ( Nacl
0,9% ) atau RL cairanisotonis lebih efektif mengganti volume intravaskular

daripada cairanhipotonis dan larutan ini tdk menambah edema cerebriLakukan pemeriksaan : Ht, periksa darah perifer lengkap, trombosit, kimia
darah. Lakukan CT scanPasien dgn CKR, CKS, CKB harusn dievaluasi
adanya: 1. Hematoma epidural, 2. Darah dalam sub arachnoid dan
intraventrikel, 3. Kontusio dan perdarahan jaringan otak, 4. Edema cerebri,
5. Pergeseran garis tengah, 6. Fraktur cranium, 7.Pada pasien yg koma
(skor GCS <8) atau pasien dgn tanda-tanda herniasilakukan: Elevasi kepala
30, Hiperventilasi, Berikan manitol 20% 1gr/kgBB intravena dlm 20-30 menit.
Dosis ulangan dapat diberikan 4-6 jam kemudian yaitu sebesar dosis
semula setiap 6 jam sampai maksimal 48 jam I- Pasang kateter foley-Konsul
bedah

saraf

bila

terdapat

indikasi

opoerasi

(hematom

epidural besar,hematom sub dural, cedera kepala terbuka,fraktur impresi >1


diplo).
8. KOMPLIKASI
Rosjidi (2007), kemunduran pada kondisi klien diakibatkan dari perluasan
hematoma intrakranial edema serebral progresif dan herniasi otak, komplikasi dari
cedera kepala adalah;
1. Edema pulmonal
Komplikasi yang serius adalah terjadinya edema paru, etiologi mungkin
berasal dari gangguan neurologis atau akibat sindrom distress pernafasan
dewasa. Edema paru terjadi akibat refleks cushing/perlindungan yang
berusaha mempertahankan tekanan perfusi dalam keadaan konstan. Saat
tekanan intrakranial meningkat tekanan darah sistematik meningkat untuk
memcoba mempertahankan aliran darah keotak, bila keadaan semakin kritis,
denyut nadi menurun bradikardi dan bahkan frekuensi respirasi berkurang,
tekanan darah semakin meningkat. Hipotensi akan memburuk keadan, harus
dipertahankan tekanan perfusi paling sedikit 70 mmHg, yang membutuhkan
tekanan

sistol

100-110

mmHg,

pada

penderita

kepala.

Peningkatan

vasokonstriksi tubuh secara umum menyebabkan lebih banyak darah dialirkan


ke paru, perubahan permiabilitas pembulu darah paru berperan pada proses
berpindahnya

cairan

ke

alveolus.

Kerusakan

difusi

oksigen

akan

karbondioksida dari darah akan menimbulkan peningkatan TIK lebih lanjut.


2. Peningkatan TIK
Tekanan intrakranial dinilai berbahaya jika peningkatan hingga 15 mmHg, dan
herniasi dapat terjadi pada tekanan diatas 25 mmHg. Tekanan darah yang
mengalir dalam otak disebut sebagai tekan perfusi rerebral. Yang merupakan
komplikasi serius dengan akibat herniasi dengan gagal pernafasan dan gagal
jantung serta kematian.

3. Kejang
Kejang terjadi kira-kira 10% dari klien cedera otak akut selama fase akut.
Perawat harus membuat persiapan terhadap kemungkinan kejang dengan
menyediakan spatel lidah yang diberi bantalan atau jalan nafas oral disamping
tempat tidur klien, juga peralatan penghisap. Selama kejang, perawat harus
memfokuskan pada upaya mempertahankan, jalan nafas paten dan mencegah
cedera lanjut. Salah satunya tindakan medis untuk mengatasi kejang adalah
pemberian obat, diazepam merupakan obat yang paling banyak digunakan
dan diberikan secara perlahan secara intavena. Hati-hati terhadap efek pada
system pernafasan, pantau selama pemberian diazepam, frekuensi dan irama
pernafasan.
4. Kebocoran cairan serebrospinalis
Adanya fraktur di daerah fossa anterior dekat sinus frontal atau dari fraktur
tengkorak basilar bagian petrosus dari tulangan temporal akan merobek
meninges, sehingga CSS akan keluar. Area drainase tidak boleh dibersihkan,
diirigasi atau dihisap, cukup diberi bantalan steril di bawah hidung atau telinga.
Instruksikan klien untuk tidak memanipulasi hidung atau telinga.
5. Infeksi

ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Data dasar pengkajian pasien tergantung tipe,lokasi dan keparahan cederadan
mungkin di persulit oleh cedera tambahan pada organ vitala.
1. Aktifitas dan istirahat
Gejala : merasa lemah,lelah,kaku hilang keseimbangan
Tanda :
a. Perubahan kesadaran, letargi
b. Hemiparese
c. ataksia cara berjalan tidak tegap
d. masalah dlm keseimbangan
e. cedera/trauma ortopedi
f. kehilangan tonus otot
2. Sirkulasi
Gejala : Perubahan tekanan darah atau normal, Perubahan frekuensi jantung
(bradikardia, takikardia yg diselingi bradikardia disritmiac.
3. Integritas ego
Gejala : Perubahan tingkah laku atau kepribadian
Tanda : Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresid.
4. Eliminasi
Gejala : Inkontensia kandung kemih/usus mengalami gangguanfungsie.
5. Makanan/cairan
Gejala : mual, muntah dan mengalami perubahan selera.
Tanda : muntah, gangguan menelanf.

6. Neurosensori
Gejala : Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian, vertigo,
sinkope, tinitus, kehilangan pendengaran, Perubahan dalam penglihatan
seperti

ketajamannya,

diplopia,

kehilangan

sebagain

lapang pandang,

gangguan pengecapan dan penciuman


Tanda : Perubahan kesadran bisa sampai koma, Perubahan status mental,
Perubahan pupil, Kehilangan penginderaan, Wajah tdk simetris, Genggaman
lemah tidak seimbang, Kehilangfan sensasi sebagian tubuhg.
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yg berbeda biasanya lama
Tanda : Wajah menyeringai,respon menarik pada ransangan nyeri yg hebat,
merintih.
8. Pernafasan
Tanda: Perubahan pola nafas, nafas berbunyi, stridor, tersedak, ronkhi, mengii.
9. Keamanan
Gejala : Trauma baru/trauma karena kecelakaan
Tanda : Fraktur/dislokasi,gangguan penglihatan
10. Kulit : laserasi, abrasi, perubahan warna, tanda batledi sekitar telinga, adanya
aliran cairan dari telinga atau hidung, Gangguan kognitif, Gangguan rentang
gerak, Demam
2. PRIORITAS DIAGNOSA
No.
1.
2.
3.
4.

Diagnosa
Gangguan Ventilasi Spontan b/d keletihan otot pernapasan
Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas b/d materi asing dalam jalan napas.
Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial b/d cedera otak
Nyeri Akut b/d agen cedera fisik

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
No
.
1.

Dx.Kep

Tujuan dan KH

Intervensi

Gangguan
ventilasi spontan

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama 1x30 menit,
masalah keperawatan gangguan
ventilasi spontan dapat diatasi melalui
:
KH
:
1. Pasien dapat bernapas dengan
adekuat.
2. TTV menunjukkan angka normal.
3. Tidak terdapat efek samping pada
pemasangan ventilator.
4. SaO2, PaO2, PCO2,
menunjukkan angka yang normal.

NIC : Mechanical Ventilation


Management : Invasive
1. Kaji kondisi klien yang
membutuhkan bantuan
ventilator (Trauma Kepala).
2. Lakukan pengaturan dan
pemasangan ventilator
secara tepat.
3. Monitor adanya kegagalan
respirasi.
4. Dapatkan data pengkajian
klien.
5. Pastikan alarm pada
ventilator menyala.
6. Jelaskan kepada pasien dan
keluarga rasional dari
pemasangan ventilator

NOC
:Mechanical Ventilation
Response : Adult

Indikator
RR
FiO2
PaO2
PaCO2
pH
SaO2

2.

Ketidakefektifan
bersihan jalan
nafas

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama 1x30 menit,
masalah keperawatan
ketidakefektifan bersihan jalan napas
dapat diatasi melalui :
KH
:
1. Tidak terdapat sekret kental.
2. Tidak terdapat suara napas
tambahan (ronkhi).

(untuk membantu klien


bernapas).
7. Cek semua konektor pada
ventilator secara regular.
8. Cek TTV klien sebelum dan
selama dipasangi ventilator.
9. Cek FiO2, PaO2, PaCo2, pH
dan SaO2 klien.
10. Monitor volum exhale dan
peningkatan tekanan
inspirasi.
11. Monitor aktivitas yang bisa
meningkatkan konsumsi O2
(kejang).
12. Kolaborasikan pemberian
antikonvulsan dengan
medis .
13. Monitor gejala yang
mengindikasikan
peningkatan usaha
pernapasan klien
(peningkatan RR,
peningkatan TD, diaforesis.)
14. Berikan perawatan untuk
menghilangkan distres pada
klien (posisi,
tracheobronchial toileting).
15. Monitor kemajuan klien
16. Monitor efek samping dari
pemasangan ventitator
(deviasi . trakea, infeksi,
barotrauma, volutrauma,
penurunan CO, distensi
lanbung, dan emfisema
subkutan.)
17. Monitor adanya kerusakan
mukosa, nasal, tekanann
cuff tinggi, atau ekstubasi
tidak terncana.
NIC : Airway Management
1. Posisikn klien untuk
memaksimalkan ventilasi.
2. Hilangkan sekret dengan
suction.
3. Auskultasi suara nafas.
4. Monitor TTV (RR, nadi, TD).
5. Kolaborasi pemberian nebul
kembali apabila jalan napas

3. TTV normal (TD,RR. dan nadi).


NOC :
Respiratory Status : Airway Patency
Indikator
1 2 3 4 5
RR

Suara nafas

tambahan
Kemampuan

mengeluarkan
sputum

Ability to clear
secreation, suara
nafas

3.

Penurunan
kapasitas adaptif
intrakranial

RR

Severe

36-40 x/

Substansial

31-35 x/

Moderate

26-30 x/

Mild

21-25 x/

Normal

16-20 x/

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama 1x30 menit,
masalah keperawatan penurunan
kapasitas adaptif intrakranial dapat
diatasi melalui :
KH :
1. Tingkat kesadaran klien
meningkat.
2. Tidak ada kejang.
3. Tekanan Intrakranial (ICP) dan
CPP menjadi normal.
4. Tekanan darah sistolik kembali
normal.
5. Tekanan darah diastolik kembali
normal.
6. Klien tidak gelisah.

masih tersumbat.
6. Monitor status resprasi dan
oksigenasi
NIC : Airway Suctioning
1. Tentukan
kebutuhan
terhadap
suction
oral
dan/atau tracheal
2. Auskultasi
suara
napas
sebelum
dan
sesudah
suction
3. Gunakan peralatan steril
sekali pakai untuk tiap
prosedur tracheal suction
4. Pilih selang suction setengah
diameter tracheostomi tube
pasien
5. Monitor
status
oksigen
pasien (tingkat SaO2 dan
SvO2)
dan
status
hemodinamik (level MAP dan
ritme
jantung)
segera
sebelum, selama dan setelah
suction
6. Hentikan tracheal suction
dan
berikan
oksigen
tambahan
jika
pasien
mengalami
bradikardi,
peningkatan
venticular
ectopy,
dan/atau
desaturation
7. Catat tipe dan jumlah sekret
NIC : Intracranial Presssure
Monitoring
1. Monitor status neurologis
secara ketat dan bandingkan
dengan baseline.
2. Monitor TTV
3. Monitor ICP dan CPP
4. Analisis gelombang ICP.
5. Cegah perubahan posisi alat.
6. Pelihara sterilitas sistem
monitoring.
7. Monitor selang tekanan
terhadap adanya bekuan
darah, debris, atau
gelembung udara.
8. Monitor tempratur dan

7. Alat pemantau ICP berfungsi


dengan baik.
8.
Indi Tidak
1 ada
2 leukositosis.
3
4
5
9.
Tidak
terdapat
sumbatan
pada
kato
selang ICP.
r
NOC
Ekspresi: Neurological status

Indikator
1
2
3
4
nonverbal nyeri
Tingkat

RR

kesadaran
Gelisah

TDKejang

NOC : Tissue perfussion : cerebral


Indikator
1 2 3 4
ICP dan CPP

Tekanan darah

sistol
Tekanan darah

diastol
Gelisah

Demam

4.

Nyeri akut

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama 1x30 menit,
masalah keperawatan nyeri akut
dapat diatasi melalui :
KH :
Tidak terdapat tanda nonverbal yang
menunjukkan nyeri (ekspresi
grimace).
Tidak terjadi peningkatan RR.
TD dalam batas normal.
Klien tidak gelisah.

jumlah leukosit.
9. Posisikan klien dengan
kepala dan leher pada posisi
netral, hindari extreme hip
flexion.
10. Sesuaikan kepala tempat
tidur untuk mengoptimalkan
5
perfusi cerebri.
11. Monitor level CO2.
12. Jaga TD sistemik
13. Kolaborasikan pemberian
agen farmakologis untuk
menjaga kenormalan ICP.
5

NIC : Pain management


1. Observasi tanda nonverbal
klien terhadap nyeri.
2. Batasi jam berkunjung.
3. Kontrol faktor lingkungan
yang bisa menstimulus nyeri.
4. Kolaborasikan pemberian
analgesik untuk mengurangi
nyeri klien.
5. Tingkatkan istirahat/tidur
klien.
6. Monitor TTV.
7. Monitor keberhasilan terapi
farmakologis.

DAFTAR PUSTAKA
Batticaca Fransisca B, 2008, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Persarafan, Jakarta : Salemba Medika

Brunner & Suddart, 2001. Buku Ajar Medikal Keperawatan vol 3. EGC, Jakarta
Doengoes, M. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Heller, J. L., dkk,Subdural Hematoma , MedlinePlus Medical Encyclopedia, 2012.
Hudak & Gallo. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Volume II. Jakarta: EGC;
1996
Pierce A. Grace & Neil R. Borley, 2006, Ilmu Bedah, Jakarta : Erlangga
Sastrodiningrat,

A.

G.

2006.

Memahami

Fakta-Fakta

pada

Perdarahan

Subdural Akut . Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39, No.3 Halaman


297- 306.FK USU: Medan.
Smeltzer, Suzanne C, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC, Jakarta
Tom, S., dkk,Subdural Hematoma in Emergency Medicine, Medscape Reference,2011.