Anda di halaman 1dari 16

PERMASALAHAN DAN UPAYA

PENGEMBANGAN UMKM
TUGAS KOMPILASI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Kerakyatan


Dosen Pengampu: Dr. Sukidjo, M.Pd

Disusun Oleh:

Akhmad Makhbubi

(15719251002)

PENDIDIKAN EKONOMI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, setiap negara pasti mempunyai permasalahan, tak
terkecuali permasalahan ekonomi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau yang biasa di
singkat UMKM memiliki posisi penting dalam membangun perekonomian negara, bukan
saja dalam penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat daerah, tetapi juga dapat
menstabilkan masalah kesenjangan sosial. Contoh dari UMKM adalah pedagang kaki lima,
keberadaan PKL dapat memberikan sumbangan besar bagi perekonomian negara kita, karna
dengan adanya PKL dapat membantu mengurangi kemiskinan, keberdaan PKL sendiri
adalah wujud kemandirian masyarakat dimana mayarakat hendak bangkit dari keterbelitan
ekonomi dan mencoba berwirausaha, namun pada kenyataanya keberadaan PKL seringkali di
jadikan sumber masalah, seperti biang kemcetan jalan, atau simbol semrautan kota,
pemerintah seharusnya menyediakan lahan yang layak bagi para pedagang kaki lima agar
pedagang kaki lima tersebut mendaptkan legalitas formalnya, maka untuk itu pemerintah di
harapkan tidak hanya meprioritaskan pengembangan UMKM, tapi juga pengoptimalannya,
agar tidak ada kerugian yang di tanggung oleh satu pihak saja.
Berbagai peran strategis dimiliki sektor UMKM, namun sektor ini juga dihadapkan berbagai
permasalahan. Kendala dan permasalahan antara lain dari aspek permodalan, kemampuan
manajemen usaha, dan kualitas sumberdaya manusia pengelolanya. Kendala dan
permasalahan usaha kecil dan informal lainnya juga disebabkan karena sulitnya akses
terhadap informasi dan sumberdaya produktif seperti modal dan teknologi, yang terkait
menjadi terbatasnyakemampuan usaha kecil untuk berkembang.
Pengembangan UMKM perlu optimalkan karna keberadaan UMKM memberikan kontribusi
besar terhadap pembangunan ekonomi negara kita, UMKM juga dapat mengurangi angka
pengangguran yang ada di indonesia. Maka dari itu, pemerintah dalam upaya
mengembangkan UMKM harus di jalankan dengan benar, agar tidak ada ketimpangan atau
kerugian yang di alami oleh pihak tertentu, pemerintah juga harus mempertimbangkan
petahanan bagi usaha kecil, mikro dan menengah, pemerintah harus mengoptimlkan UMKM
pemerintah tidak hanya menyediakan kredit usaha rakyat atau yang biasa di singkat KUR,

tapi juga mempertimbangkan kelangsungan dan keamanan usaha, selama ini pertimbangan
dan keamana usaha yang di lakukan pemerintah terbilang lemah, contohnya sulitnya pkl
mendapatkan legalitas formalnya. Pengembangan usaha mikro kecil dan menengah
keseluruhan dengan cara memberi dukungan positif dan nyata terhadap pengembangan
sumber daya manusia seperti pelatihan kewirausahaan, teknologi, informasi, akses
pendanaan serta pemasaran, Perluasan pasar ekspor, hal ini semua merupakan indikator
keberhasilan membangun iklim usaha yang berbasis kerakyatan.
Pengembangan UMKM perlu optimalkan karna keberadaan UMKM memberikan kontribusi
besar terhadap pembangunan ekonomi negara kita, UMKM juga dapat mengurangi angka
pengangguran yang ada di indonesia. Maka dari itu, pemerintah dalam upaya
mengembangkan UMKM harus di jalankan dengan benar, agar tidak ada ketimpangan atau
kerugian yang di alami oleh pihak tertentu, pemerintah juga harus mempertimbangkan
petahanan bagi usaha kecil, mikro dan menengah, pemerintah harus mengoptimlkan UMKM
pemerintah tidak hanya menyediakan kredit usaha rakyat atau yang biasa di singkat KUR,
tapi juga mempertimbangkan kelangsungan dan keamanan usaha, selama ini pertimbangan
dan keamana usaha yang di lakukan pemerintah terbilang lemah, contohnya sulitnya pkl
mendapatkan legalitas formalnya. Pengembangan usaha mikro kecil dan menengah
keseluruhan

yakni

dengan

cara

memberi

dukungan

positif

dan

nyata

terhadap pengembangan sumber daya manusia seperti pelatihan kewirausahaan, teknologi,


informasi, akses pendanaan serta pemasaran, Perluasan pasar ekspor, hal ini semua
merupakan indikator keberhasilan membangun iklim usaha yang berbasis kerakyatan.

B. Rumusan Masalah
Dari adanya latar belakang tersebut diatas, maka dapat diambil sebuah rumuasan masalah
sebagai berikut :
a. Pengertian UMKM ( Usaha Mikro, Kecil )
b. Criteria dan klasifikasi UMKM
c. Permasalahan dan kendala dalam mengembangkan UMKM
d. Upaya mengembangkan UMKM

C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini sesuai dengan rumusan masalah yang terjadi diantaranya
:
a. Mengetahui pengertian UMKM
b. Mengetahui kriteria dan klasifikasi UMKM
c. Mengetahui permasalahan dan kendala dalam mengembangkan UMKM
d. Mengetahu proses upaya mengembangkan UMKM

D. Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini diharapkan akan lebih mengetahui dan memahami
usaha mikro dalam mengembangkan UMKM serta mampu ikut berperan serta
mengoptimalkan pengembangan UMKM

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian UMKM
Dalam perekonomian Indonesia UMKM merupakan kelompok usaha yang memiliki jumlah
paling besar dan terbukti tahan terhadap berbagai macam goncangan krisis ekonomi. Kriteria
usaha yang termasuk UMKM telah diatur dalam paying hukum. UMKM adalah singkatan
dari Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. UMKM di atur berdasarkan UU Nomor 20 tahun
2008 tentang usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Berikut ini adalakah pengertian UMKM
berdasarkan UU 20/2008
a. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha milik
peroranganyang memenuhi kriteria Usaha mikro sebagaimana di atur dalam UndangUndang.
b. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang di lakukan oleh
perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang
perusahaan yang dimiliki, di kuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi criteria Usaha Kecil
sebagaimana di maksud dalam undang-undang.
c. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang di lakukan
oleh perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan sebagaimana di atur dalam undang-undang.
Sedangkan menurut M. Tohar dalam bukunya Membuka Usaha Kecil (1992;2) definisi usaha
kecil dari berbagai segi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Berdasarkan asset
Pengusaha kecil adalah pengusaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak
Rp200.000.000,- tidak termasuk tanah dan bangunan tempat membuka usaha
b. Berdasarkan total penjualan bersih pertahun
Usaha kecil adalah pengusaha yang memiliki hasil total penjualan bersih pertahun Rp
1.000.000.000,- paling banyak

c. Berdasarkan status kepemilikan


Usaha kecil adalah usaha berbentuk perorangan, bisa berbadan hukum atau tidak
berbadan hukum, yang didalamnya termasuk koperasi

B. Kriteria dan klasifikasi UMKM


Kriteria Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menurut undang undang Nomor 20 tahun 2008
digolongkan berdasarkan jumlah asset dan omset yang dimiliki oleh sebuah usaha.
Kriteria
NO

Usaha
Asset

Omzet

Usaha Mikro

Maks 50juta

Maks 300 juta

Usaha Kecil

>50Juta 500 Juta

>300Juta 2,5Miliar

Usaha Menengah

>500 Juta 10 Miliar

>2,5Miliar 50Miliar

Sumber : Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah


Dari tabel di atas disebutkan bahwa untuk usaha mikro assetnya mencapai maksimal 50juta
dan omsetnya mencapai maksimal 300 juta, sedangkan untuk usaha kecil assetnya mencapai
lebih dari 50 juta 500 juta, sedangkan omsetnya mencapai lebih dari 300 juta 2,5 miliar.
Sedangkan untuk usaha menengah baik asset maupun omsetnya lebih besar dari usaha mikro
dan kecil yakni assetnya mencapai lebih dari 500 juta-10 miliar dan omsettnya mencapai
lebih dari 2,5 miliar 50 miliar. Klasifikasi UMKM adalah :
a. Livelihood Activities
Merupakan UMK yang di gunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah yang
lebih umum di kenal sebagai sektor informal. Contohnya seperti PKL atau pedagang
kaki lima.
b. Micro Enterprise
Merupakan UMK yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat-sifat dalam
wirausaha atau kewirausahaan
c. Small Dynamic Enterprise
Merupakan UMK yang telah memiliki sifat-sifat jiwa kewirausahaan dan mampu
menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor.

d. Fast Moving Enterprise


Merupakan UMK yang telah memiliki sifat-sifat jiwa kewirausahaan dan akan mampu
melakukan tranformasi menjadi Usaha Besar.

C. Permasalahan dan kendala dalam mengembangkan UMKM


Pengembangan UMKM yang terbilang baik dari segi kuantitas belum di imbangi oleh
meratanya peningkatan kualitas UMKM. Permasalahan yang dihadapi memiliki dua faktor
internal dan factor eksterna.
1. Faktor Internal
Faktor-faktor yang menghambat dalam pengembangan UMKM yang berada dalam
industry UMKM adalah
a. Kurangnya permodalan dan terbatasnya akses pembiayaan
Permodalan merupakan faktor utama yang diperlukan untuk mengembangkan suatu
unit usaha. Kurangnya permodalan UKM, oleh karena pada umumnya usaha kecil
dan menengah merupakan usaha perorangan atau perusahaan yang sifatnya tertutup,
yang mengandalkan modal dari si pemilik yang jumlahnya sangat terbatas, sedangkan
modal pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya sulit diperoleh karena
persyaratan secara administratif dan teknis yang diminta oleh bank tidak dapat
dipenuhi. Persyaratan yang menjadi hambatan terbesar bagi UKM adalah adanya
ketentuan mengenai agunan karena tidak semua UKM memiliki harta yang memadai
dan cukup untuk dijadikan agunan. Terkait dengan hal ini, UKM juga menjumpai
kesulitan dalam hal akses terhadap sumber pembiayaan. Selama ini yang cukup
familiar dengan mereka adalah mekanisme pembiayaan yang disediakan oleh bank
dimana disyaratkan adanya agunan. Terhadap akses pembiayaan lainnya seperti
investasi, sebagian besar dari mereka belum memiliki akses untuk itu. Dari sisi
investasi sendiri, masih terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila
memang gerbang investasi hendak dibuka untuk UKM, antara lain kebijakan, jangka
waktu, pajak, peraturan, perlakuan, hak atas tanah, infrastruktur, dan iklim usaha.

b. Kualitas Sumber daya manusia


Sebagian besar usaha kecil tumbuh secara tradisional dan merupakan usaha keluarga
yang turun temurun. Keterbatasan kualitas SDM usaha kecil baik dari segi
pendidikan formal maupun pengetahuan dan keterampilannya sangat berpengaruh
terhadap manajemen pengelolaan usahanya, sehingga usaha tersebut sulit untuk
berkembang dengan optimal. Disamping itu dengan keterbatasan kualitas SDM-nya,
unit usaha tersebut relatif sulit untuk mengadopsi perkembangan teknologi baru
untuk meningkatkan daya saing produk yang dihasilkannya.
a. Lemahnya jaringan usaha dan kemampuan penetrasi pasar usaha kecil yang pada
umumnya merupakan unit usaha keluarga, mempunyai jaringan usaha yang
sangat terbatas dan kemampuan penetrasi pasar yang rendah ditambah lagi
produk yang dihasilkan jumlahnya sangat terbatas dan mempunyai kualitas yang
kurang kompetitif. Berbeda denganusaha besar yang telah mempunyai jaringan
yang sudah solid serta didukung dengan teknologi yang dapat m,enjangkau
internasional dan promosi yang baik.
b. Mentalitas Pengusaha UKM
Hal penting yang seringkali pula terlupakan dalam setiap pembahasan mengenai
UKM, yaitu semangat entrepreneurship para pengusaha UKM itu sendiri.
Semangat yang dimaksud disini, antara lain kesediaan terus berinovasi, ulet tanpa
menyerah, mau berkorban serta semangat ingin mengambil risiko.[18] Suasana
pedesaan yang menjadi latar belakang dari UKM seringkali memiliki andil juga
dalam membentuk kinerja. Sebagai contoh, ritme kerja UKM di daerah berjalan
dengan santai dan kurang aktif sehingga seringkali menjadi penyebab hilangnya
kesempatan-kesempatan yang ada.
c. Kurangnya Transparansi
Kurangnya transparansi antara generasi awal pembangun UKM tersebut terhadap
generasi selanjutnya. Banyak informasi dan jaringan yang disembunyikan dan tidak
diberitahukan kepada pihak yang selanjutnya menjalankan usaha tersebut sehingga
hal ini menimbulkan kesulitan bagi generasi penerus dalam mengembangkan
usahanya.

2. Faktor Eksterenal
Bebrapa kendala penghambat Usaha UMKM yang berasal dari luar diantaranya :
a. Iklim Usaha Belum Sepenuhnya Kondusif
Upaya pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dari tahun ke tahun selalu
dimonitor dan dievaluasi perkembangannya dalam hal kontribusinya terhadap
penciptaan produk domestik brutto (PDB), penyerapan tenaga kerja, ekspor dan
perkembangan pelaku usahanya serta keberadaan investasi usaha kecil dan menengah
melalui pembentukan modal tetap brutto (investasi). Keseluruhan indikator ekonomi
makro tersebut selalu dijadikan acuan dalam penyusunan kebijakan pemberdayaan
UKM serta menjadi indikator keberhasilan pelaksanaan kebijakan yang telah
dilaksanakan pada tahun sebelumnya.
Kebijaksanaan Pemerintah untuk menumbuhkembangkan UKM, meskipun dari tahun
ke tahun terus disempurnakan, namun dirasakan belum sepenuhnya kondusif. Hal ini
terlihat antara lain masih terjadinya persaingan yang kurang sehat antara pengusahapengusaha kecil dan menengah dengan pengusaha-pengusaha besar.
Kendala lain yang dihadapi oleh UKM adalah mendapatkan perijinan untuk
menjalankan usaha mereka. Keluhan yang seringkali terdengar mengenai banyaknya
prosedur yang harus diikuti dengan biaya yang tidak murah, ditambah lagi dengan
jangka waktu yang lama. Hal ini sedikit banyak terkait dengan kebijakan
perekonomian Pemerintah yang dinilai tidak memihak pihak kecil seperti UKM tetapi
lebih mengakomodir kepentingan dari para pengusaha besar.
b. Terbatasnya Sarana dan Prasarana Usaha
Kurangnya informasi yang berhubungan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, menyebabkan sarana dan prasarana yang mereka miliki juga tidak cepat
berkembang dan kurang mendukung kemajuan usahanya sebagaimana yang
diharapkan. Selain itu, tak jarang UKM kesulitan dalam memperoleh tempat untuk
menjalankan usahanya yang disebabkan karena mahalnya harga sewa atau tempat
yang ada kurang strategis
c. Pungutan Liar

Praktek pungutan tidak resmi atau lebih dikenal dengan pungutan liar menjadi salah
satu kendala juga bagi UKM karena menambah pengeluaran yang tidak sedikit. Hal
ini tidak hanya terjadi sekali namun dapat berulang kali secara periodik, misalnya
setiap minggu atau setiap bulan.
d. Implikasi Otonomi Daerah
Dengan berlakunya Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah yang kemudian diubah dengan UU No. 32 Tahun 2004, kewenangan daerah
mempunyai otonomi untuk mengatur dan mengurus masyarakat setempat. Perubahan
sistem ini akan mempunyai implikasi terhadap pelaku bisnis kecil dan menengah
berupa pungutan-pungutan baru yang dikenakan pada UKM. Jika kondisi ini tidak
segera dibenahi maka akan menurunkan daya saing UKM. Disamping itu, semangat
kedaerahan yang berlebihan, kadang menciptakan kondisi yang kurang menarik bagi
pengusaha luar daerah untuk mengembangkan usahanya di daerah tersebut.
e. Implikasi Perdagangan Bebas
Sebagaimana diketahui bahwa AFTA yang mulai berlaku Tahun 2003 dan APEC
Tahun 2020 berimplikasi luas terhadap usaha kecil dan menengah untuk bersaing
dalam perdagangan bebas. Dalam hal ini, mau tidak mau UKM dituntut untuk
melakukan proses produksi dengan produktif dan efisien, serta dapat menghasilkan
produk yang sesuai dengan frekuensi pasar global dengan standar kualitas seperti isu
kualitas (ISO 9000), isu lingkungan (ISO 14.000), dan isu Hak Asasi Manusia
(HAM) serta isu ketenagakerjaan. Isu ini sering digunakan secara tidak fair oleh
negara maju sebagai hambatan (Non Tariff Barrier for Trade). Untuk itu, UKM perlu
mempersiapkan diri agar mampu bersaing baik secara keunggulan komparatif
maupun keunggulan kompetitif.
f. Sifat Produk dengan Ketahanan Pendek
Sebagian besar produk industri kecil memiliki ciri atau karakteristik sebagai produkproduk dan kerajinan-kerajian dengan ketahanan yang pendek. Dengan kata lain,
produk-produk yang dihasilkan UKM Indonesia mudah rusak dan tidak tahan lama.
g. Terbatasnya Akses Pasar

Terbatasnya akses pasar akan menyebabkan produk yang dihasilkan tidak dapat
dipasarkan secara kompetitif baik di pasar nasional maupun internasional.
h. Terbatasnya Akses Informasi
Selain akses pembiayaan, UKM juga menemui kesulitan dalam hal akses terhadap
informasi. Minimnya informasi yang diketahui oleh UKM, sedikit banyak
memberikan pengaruh terhadap kompetisi dari produk ataupun jasa dari unit usaha
UKM dengan produk lain dalam hal kualitas. Efek dari hal ini adalah tidak
mampunya produk dan jasa sebagai hasil dari UKM untuk menembus pasar ekspor.
Namun, di sisi lain, terdapat pula produk atau jasa yang berpotensial untuk bertarung
di pasar internasional karena tidak memiliki jalur ataupun akses terhadap pasar
tersebut, pada akhirnya hanya beredar di pasar domestik.
Sedangkan tantangan yang harus di hadapi oleh UMKM adalah pesatnya perkembangan
globalisasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan yang bersamaan dengan cepatnya tingkat
kemajuan teknologi. Adanya globalisasi yang semakin meliberalkan perdagangan, menjadi
tantangan berat bagi UMKM dimana harus mampu bersaing dengan usaha-usaha besar dari
luar, cohtohnya saja home industri batik, batik kini mulai banyak di produksi oleh Negara
asing seperti China, Thailand dan Malaysia, batik Indonesia di harapkan mampu bersaing
dengan industri pembuat batik dari Negara lain dengan tetap menunjukkan ciri khas
keindonesiaannya. UMKM harus mampu bertahan di tengah maraknya liberalisasi ekonomi,
karna UMKM dapat memberikan kontribusi besar bagi perekonomian bangsa kita, maka
untuk itu UMKM di harapkan untuk tetap bisa bertahan, selain itu UMKM dapat menjadi
tameng di tengah krisis ekonomi yang melanda Negara kita.

D. Upaya mengembangkan UMKM


Pengembangan UMKM semenjak terjadinya krisis ekonomi, sector UMKM seperti naik
daun. Kemampuan sector ini menahan goncangan krisis dibandingkan perusahaan
perusahaan besar, membuat ada keyakinan bahwa masa depan perekonomian Indonesia
berada di sector ini. Usaha mengembangkan UMKM bukan juga merupakan barang baru.
Pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia terbilang cukup baik,
namun bukan berarti UMKM lepas dari masalah dan kendala. Pengoptimalan UMKM ini

menjadi penting ketika isu pasar mulai beredar, dimana keberadaan UMKM harus mampu
menyesuaikan dengan kebutuhan pasar, namun pengoptimalan ini harus dilakukan secara
efektif dan efesien dimana tidak ada kerugian yan di derita oleh pihak tertentu,
pengoptimalan ini untuk mengecilkan angka permasalah yang ada di UMKM, maka dari itu
pengoptimalan ini harus di lakukan dengan langkah yang sistematis dan serempak baik oleh
pemerintah maupun oleh wirausaha nya sendiri, sehingga tidak ada kerugian yang di
tanggung oleh satu pihak saja. Jika kita hanya mengembangkan usaha mikro, kecil dan
menengah, maka hal ini menjadi chaos ketika permasalahan mulai muncul dalam proses
pengenmbangan tersebut, sebut saja aspek perlindungan dan pertahanan bagi wirausaha nya,
atau bisa di contohkan dengan pedagang kaki lima, perlindungan terhadap pedagang kaki
lima ini terbilang lemah, pemerintah belum memberikan lahan yang layak bagi pedagang
kaki lima, sehingga pedagang kaki lima seringkali di jadikan alasan kemacetan jalan, atau
serabutan kota, pemerintah hanya memberikan peminjaman dana untuk modal usahanya,
tanpa memperhitungkan aspek perlindungan dan pertahanan bagi si wirausaha. Padahal
sebenarnya pedagang kaki lima merupakan cerminan dari masyarakat mandiri, yang
mencoba mengangkat perekonomiannya ke arah yang lebih baik, namun tekad pedagang
kaki lima ini harus berlawanan dengan ketakutannya ketika sewaktu-waktu mendapatkan
gusuran dari pemerintah.
Pemerintah harus mampu mengoptimalkan pengembangan usaha mikro, kecil dan
menengah, agar angka permasalahan dalam proses pengembangan menjadi kecil dan mudah
diatasi, serta tidak menimbulkan kerugian oleh salah satu pihak, sejatinya pengoptimalan
untuk menjawab permasalahn yang ada di UMKM langkah pengoptimalan yang harus di
lakukan pemerintah adalah:
a. Memaksimalkan potensi yang ada dalam masyarakat, sehingga produktivtas dapat
meningkat, hal ini bisa di lakukan pemerintah dengan memberikan pelatihan terhadap
wirausahawannya.
b. Memudahkan akses terhadap pasar, sehingga UMKM dapat menyesuaikan dengan
kebutuhan pasar, Oleh karena itulah, mulai saat ini baik pemerintah maupun UMKM
harus mulai berbenah guna menghadapi perilaku pasar yang semakin terbuka di masa
mendatang.

c. Bekerjasama dengan bank baik negeri maupun swasta, hal ini dapat menjadi jalan keluar
ketika biaya transaksi mulai tinggi. Peningkatan kontribusi pembiayaan perbankan
kepada UMKM memerlukan sinergi yang terarah dengan mengoptimalkan sumberdaya
dari masyarakat atau wirausaha nya.
d. Kemudahan dalam mendapatkan legalitas formal, pemerintah di harapkan tidak hanya
memberikan peminjaman modal begitu saja, tanpa memperhitungkan kelangsungan
pertahanan wirausaha, namun juga memberikan legalitas terhadap usaha masyarakat,
contoh PKL di berikan lahan untuk usahanya, karna ketika PKL berada di tempat yang
layak barulah PKL tersebut dapat di katakana memperoleh legalitas formalnya.
e. Penjaminan terhadap perlindungan dan kelangsungan usaha
f. Memanfaatkan teknologi untuk pengembangan UMKM. Di era ini teknologi semakin
berkembang pesat, pengembanngan UMKM dengan menggunakan teknologi di harapkan
menguntungkan bagi UMKM karna bisa memperluas pasar
Adanya liberarisasi ekonomi menjadi tantangan serius bagi kelangsungan UMKM, dimana
usaha mikro kecil dan menengah harus mampu bersaing dengan pelaku usaha dari luar
negeri. Peranan pemerintah tentu menjadi penting terutama untuk mengantarkan mereka agar
mampu bersaing dengan pelaku usaha lainnya. Beberapa upaya yang perlu dilakukan
pemerintah untuk memperkuat daya saing UMKM menghadapi pasar global adalah:
1. Meningkatkan kualitas dan standar produk,
Guna dapat memanfaatkan peluang dan potensi pasar di kawasan asia tenggara dan pasar
global, maka produk yang dihasilkan UMKM haruslah memenuhi kualitas dan standar
yang sesuai dengan kesepakatan asia tenggara dan negara tujuan.
2. Meningkatkan akses finansial;
Seperti terhadap aspek formalitas, karena banyak UMKM yang tidak memiliki legal
status, aspek skala usaha, dimana sering sekali skema kredit yang disiapkan perbankan
tidak sejalan dengan skala usaha UMKM, dan aspek informasi, dimana perbankan tidak
tahu UMKM mana yang harus dibiayai, sementara itu UMKM juga tidak tahu skema
pembiayaan apa yang tersedia di perbankan. Oleh karena itu, maka ketiga aspek ini harus
diatasi, diantaranya dengan peningkatan kemampuan bagi SDM yang dimiliki UMKM,
perbankan, serta pendamping UMKM.

3. Meningkatkan kualitas SDM dan jiwa kewirausahaan UMKM;


Secara umum kualitas SDM pelaku UKM di Indonesia masih rendah. Terlebih lagi spirit
kewirausahaannya. Pemerintah harus melakukan langkah kongkrit dan tepat sasaran,
seperti penyusunan grand strategy pengembangan kewirausahaan serta pelaksanaan
dilapangan yang dilakukan dalam kaitannya dan bertanggung jawab. Hal penting yang
juga perlu diperhatikan adalah perlunya dukungan modal awal terutama bagi wirausaha
pemula.
4. Memfasilitasi UKM berkaitan akses informasi dan promosi di luar negeri;
Bagian terpenting dari proses produksi adalah masalah pasar. Oleh karena itu maka
pemberian

informasi

dan promosi produk-produk

UMKM,

khususnya

untuk

memperkenalkan di pasar asia tenggara harus ditingkatkan lagi. Promosi produk, bisa
dilakukan melalui dunia maya atau mengikuti kegiatan-kegiatan pameran di luar negeri.

BAB III
KESIMPULAN
UMKM adalah singkatan dari Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. UMKM di atur
berdasarkan UU Nomor 20 tahun 2008 tentang usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Berikut ini
adalakah pengertian UMKM berdasarkan UU 20/2008
Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha milik
peroranganyang memenuhi criteria Usaha mikro sebagaimana di atur dalam UndangUndang.
Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang di lakukan oleh
perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang
perusahaan yang dimiliki, di kuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi criteria Usaha Kecil
sebagaimana di maksud dalam undang-undang.
Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang di lakukan oleh
perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan sebagaimana di atur dalam undang-undang
Keberadaan UMKM dapat membantu ketahanan ekonomi bangsa kita maka dari itu,
pemerintah harus mengoptimalkan pengembangan UMKM. Langkah pengoptimalan yang
harus di lakukan pemerintah adalah:
o Memaksimalkan potensi yang ada dalam masyarakat.
o Memudahkan akses terhadap pasar.
o Bekerjasama dengan bank baik negeri maupun swasta.
o Kemudahan dalam mendapatkan legalitas formal.
o Penjaminan terhadap perlindungan dan kelangsungan usaha
o Memanfaatkan teknologi untuk pengembangan UMKM.
Di era modern ini liberalisasi perdagangan mulai memasuki pasar Indonesia, tugas
UMKM menadi lebih sulit, UMKM harus mampu bersaing dengan usaha luar negri. Beberapa

upaya yang perlu dilakukan pemerintah untuk memperkuat daya saing UMKM menghadapi pasar
global adalah:
Meningkatkan kualitas dan standar produk
Meningkatkan akses financial
Meningkatkan kualitas SDM dan jiwa kewirausahaan UMKM
Memfasilitasi UKM berkaitan akses informasi dan promosi di luar negeri

DAFTAR PUSTAKA
Radhi, fahmi.2008.Kebijakan Ekonomi Pro rakyat.Jakarta.Republika
Bappenas.2006.Pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan mengenah.
Republik Indonesia, 2008. Undang Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah. Jakarta. Sekretariat Negara
Tohar, M. 1999. Membuka Usaha Kecil. Yogyakarta, Kanisius
Sriyana, Jaka. Jurnal Strategi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah; Studi kasus di
kabupaten bantul. FE UII. Yogyakarta
http://usahamodalkecil31.blogspot.co.id/2012/08/kendala-usaha-kecil-menengah-dan-solusi.html
diakses 14 Desember 2015

www.bappenas.go.id/index.php/download_file/view/8163/1665 diakses 16 Desember 20 15