Anda di halaman 1dari 34

ANALISIS ALOKASI DANA HIBAH DI PROPINSI BANTEN

Oleh
Heni Rohaeni, Arenawati
STMIK Bina Sarana Informatika dan FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
ABSTRACT
Finance is important object in government . Finance managing is foundation to
manage a country. Finance allocation must describe citizens need ,government
need in public service and equity. Finance allocation cant describe political
interesting of the man who row the power. Grant fund is one item in budgeting. The
Allocation of grant fund in Banten provience in 2013 is Rp. 415.451.525.000,00. It is
20,1 % from total budget in Banten provience. The proportion of Indirect funding is
39%, and 107 % of direct funding. This policy describe that funding for community
development and infra strcture is less than grant fund. Fact, many organization
which receiving grant fund is not accountabel and fictive, so if the alocation of grant
fund too big its cause dis-oriented and manipulating in public budgeting.
Key words ; Budgeting , Funding, Proportionality

21

kembali

Latar Belakang Masalah


Keuangan adalah kunci dalam
penyelenggaraan

pemerintahan

pemegang

dan

dari

ketersediaan

sejauhmana

penting

memiliki

tersebut

digunakan,

dan

masyarakatnya.

bagaimana

dalam

anggaran

daerah

peruntukannya

dapat

dipertanggungjawabkan

yang bersangkutan.

dan

sesuai

dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Persoalan paling penting dalam

Sehingga anggaran tersebut memiliki

pengelolaan Keuangan Daerah adalah

dampak

akuntabilitas merupakan kata kunci

bagi

kesejahteraan,

peningkatan kualitas, pembangunan dan

yang dibutuhkan dalam pengelolaan

pengembangan sumber daya manusia.

keuangan daerah, mengingat instrumen

Berkaitan dengan akuntabilitas

keuangan daerah merupakan bagian

keuangan daerah, Provinsi Banten pada

penting yang paling menyita perhatian

saat ini banyak mendapat sorotan

publik dewasa ini. Secara moral,

berkaitan

pentingnya manajemen keuangan yang


menjadi

pada

Akuntabilitas akan lebih diarahkan

mengejawantahkan kepentingan daerah

profesional

anggaran

diharapkan

pengelolaan dan distribusi keuangan

peranan

mengacu

menghasilkan luaran dan manfaat yang

untuk selanjutnya dijadikan dasar dalam

APBD

untuk

direncanakan,

APBD keuangan Daerah dianggarkan,

Sehingga

mandat

Akuntabilitas

keuangan, dana atau anggaran. Melalui

daerah.

selaku

kesejahteraan rakyat.

dalam pemerintahan dan pembangunan


bermuara

pemerintah

menggunakannya bagi sebesar-besarnya

pembangunan. Karena semua kegiatan

akan

oleh

dengan

temuan

ICW

(Indonesia Corruption Watch) dan BPK

keniscayaan

(Badan Pemeriksa Keuangan) terkait

mengingat bahwa keuangan daerah

dengan penggunaan Dana Hibah dan

pada dasarnya bersumber dari pajak dan

Bansos (Bantuan Sosial) tahun 2011-

retribusi daerah yang dibayarkan oleh

2013. Berdasarkan temuan dari ICW ,

masyarakatnya sesuai ketentuan yang

dari 391 milyar dana Hibah dan Bansos

berlaku, sehingga harusnya digunakan

yang disalurkan pada tahun 2011, 30%


22

diantaranya

tidak

jelas

dana

hibah

pada

tahun

2012,

pertanggungjawabannya.

ditemukan sebanyak 629 penerima

Penyelewengan Dana Bansos ini diduga

hibah

merugikan keuangan negara sebesar

pertanggungjawabannya dan sebanyak

34,9.

1.284 penerima bansos yang belum

milyar

yang

belum

melengkapi

http://www.tempo.co/read/news/2013/

melengkapi

laporan

10/12/063521269/Kejanggalan-Dana-

pertanggungjawabannya.Menurut

Bansos-Ratu-Atut-Versi-ICW.

BPK, sebanyak Rp 82,414 miliar dana


hibah Provinsi Banten pada tahun

BPK

Laporan

hasil

pemeriksaan

terhadap

laporan

anggaran

keuangan

yang

bisa

pada

tahun

m/nasional/145734-dana-hibah-

2010

provinsi-banten-sebagian-besar-

terdapat 229 penerima dana bansos

mengalir-ke-dinasti-atut.html

senilai Rp. 3,87 miliar dan 197

Indonesia

penerima dana bansos tahun 2011

menemukan

senilai Rp. 3,65 miliar yang tidak


mengkonfirmasi

bahwa

terjadinya penyimpangan dan praktik


bansos

penyimpangan

1. Terdapat 10 lembaga fiktif , setelah

Langkun : Sehingga kuat dugaan

dan

lima

Watch

Bansos di Provinsi Banten :

Menurut Pemeliti ICW, Tama Satya

hibah

Corruption

dalam penyaluran dana hibah dan

telah

menerima bansos dari Provinsi Banten.

korupsi

dinilai

kewajarannya.http://www.beritasatu.co

dana hibah senilai Rp.68,3 miliar.


lagi

bisa

9,993 miliar dana bansos yang belum

belum

mempertanggungjawabkan pengunaan

Ditambah

tidak

dipertanggungjawabkan dan senilai Rp

APBD Banten tahun 2011, ada 92


lembaga

2012

diadakan

uji

petik

alamat,

keberadaan

berdasarkan
lembaga

tersebut tidak ada. Total dana hibah

yang

dan bantuan social yang disalurkan

bersumber dari APBD Banten.

adalah sebesar 4,5 milyar.

Sementara pada tahun 2012 dalam

2. Terdapat 12 lembaga yang memiliki

LHP BPK dijelaskan bahwa untuk

Nama dana Alamat yang sama, hal


23

ini merugikan keuangan Negara

pengelolaan

sebesar 28,9 milyar

sehingga akuntabilitas uang Negara

3. Terdapat 14 lembaga penerima

yang

keuangan

sebenarnya

Negara,

adalah

hak

dana hibah dipimpin oleh keluarga

masyarakat tidak tepat sasaran, dan

gubernur

hanya menumpuk pada keluarga dan

Ratu

Atut

Chosiyah

nilainya sebesar 29,5 milyar.


4. Ketidak

sesuaian

dana

organisasi yang memiliki kepentingan


yang

secara

politis

keluarga

diterima oleh lembaga dengan pagu

Berdasarkan

yang

misalnya

diatas, maka judul makalah ini adalah :

Lembaga kajian Politik dan Sosial

Akuntabilitas Dana Hibah dan Bantuan

Kabupaten Pandeglang, seharusnya

Sosial di Provinsi Banten.

ditetapkan,

uraian

gubernur.

permasalahan

menerima 500 juta, tetapi hanya


menerima 35 juta.

PEMBAHASAN

5. Penerima dana hibah tidak jelas.

1.

Tinjauan Pustaka

Dana Bansos tahun 2011 terdapat

Menurut UU Nomor 17 Tahun

51 milyar yang disalurkan kepada

2003 Keuangan Negara adalah semua

160 lembaga, hanya 30 lembaga

hak dan kewajiban negara yang dapat

saja yang dicantumkan, sementara

dinilai dengan uang, serta segala

sisanya tidak jelas, hanya tertulis

sesuatu baik berupa uang maupun

daftar terlampir tetapi daftar tidak

berupa barang yang dapat dijadikan

ada.

milik
Berdasarkan lima temuan ini

negara

pelaksanaan

berhubung
hak

dan

dengan
kewajiban

jika dihitung kerugian Negara tidak

tersebut. Berdasarkan definisi tersebut

hanya 34,9 milyar tetapi lebih dari itu,

dana hibah adalah milik Negara dalam

penyimpangan dana bansos dan hibah

rangka pelaksanaan hak dan kewajiban

sekitar 113,9 milyar. Besarnya angka

Negara, oleh karena itu penggunaan

penyimpangan dana hibah dan bansos

uang Negara haruslah sesuai dengan

tersebut tentunya tidak terlepas dari

peraturan perundangan yang berlaku.

rendahnya

pengawasan

dalam
24

Berdasarkan Kepmendagri Nomor

terdiri urusan wajib dan pilihan.

32 Tahun 2011 tentang Pedoman

Urusan wajib terdiri dari pendidikan,

Pengelolaan Dana Hibah dan Bansos

kesehatan,

dijelaskan

lingkungan

Dana

Hibah

adalah

pekerjaan
hidup,

umum,

pemberdayaan

pemberian uang/barang atau jasa dari

masyarakat. Sedangkan urusan pilihan

pemerintah daerah kepada pemerintah

berkaitan dengan potensi apa yang

atau

yang menjadi unggulan yang perlu

pemerintah

daerah

lainnya,

perusahaan daerah, masyarakat dan

dikembangkan di

organisasi

yang

Sehingga seharusnya belanja hibah

ditetapkan

lebih diperuntukkan untuk menunjang

peruntukannya, bersifat tidak wajib

terselenggaranya urusan wajib dan

dan tidak mengikat, serta tidak secara

urusan pilihan di daerah.

terus menerus yang bertujuan untuk

Manajemen Belanja Daerah

secara

kemasyarakatan,

spesifik

telah

menunjang penyelenggaraan urusan


pemerintah

daerah.

Bantuan

sosial

bantuan

berupa

adalah

daerah tersebut.

Manajemen

Belanja

Daerah

Sedangkan

tidak lebih merupakan instrument,

pemberian

teknik atau metode. Oleh karena itu

uang/barang

dari

manajemen

belanja

akan

pemerintah daerah kepada individu,

menyesuaiakan dengan arah kebijakan

keluarga,

anggaran,

kelompok

dan/atau

khususnya

kebijakan

masyarakat yang sifatnya tidak secara

otonomi yang ditempuh pemerintah

terus

daerah.khususnya kebijakan ekonomi

menerus

bertujuan

dan

untuk

selektif

yang

melindungi

dari

yang

kemungkinan terjadinya resiko sosial.

ditempu

Sebagai

Dari pengertian tersebut jelas

pemerintah

daerah.

alat

untuk

mengimplementasikan

kebijakan

bahwa tujuan dari dana hibah adalah

ekonomi, maka manajemen belanja

untuk

penyelenggaraan

daerah juga harus berorientasi untuk

urusan pemerintah daerah. Dalam UU

mewujudkan tiga tujuan kebijakan

nomor 32 Tahun 2004 dijelaskan

ekonomi,

bahwa

pemerataan dan stabilitas ekonomi.

menunjang

urusan

pemerintah

daerah
25

yaitu

pertumbuhan,

Untuk menjaga stabilitas ekonomi,


manajemen

belanja

daerah

1. Belanja Tidak Langsung (Indirect

harus

Cost)

difokuskan pada pelaksanaan disiplin

Adalah belanja yang tidak terkait

anggaran, sedangkan untukmencapai

dengan

pertumbuhan ekonomi dan pemerataan

kegiatan.Dalam

maka manajemen belanja harus focus

langsung manfaat belanja kurang

pada efesiensi dan efektifitas alokasi

dari

anggaran

pemeliharaan dan tidak dilaporkan

pada

pembangunan.
sejalan

dengan

berbagai
Dengan

program

kata

tujuan

lain,

satu

dalam

kebijakan

program

atau

belanja

tahun,

neraca.

tidak

bukan

Yang

obyek

termasuk

Belanja Tidak langsung adalah :

ekonomi, manajemen belanja daerah

1) Belanja Pegawai, dengan obyek

memiliki tiga tujuan pokok, yaitu :

belanja : gaji dan tunjangan,

1.

tambahan

Menjamin
fiscal

2.

3.

dilakukan

melalui

disiplin

pengendalian

belanja

penghasilan
penerimaan

PNS,
lainnya

belanja

pimpinan dan anggota DPRD,

Alokasi anggaran sesuai dengan

Biaya pemungutan pajak daerah

kebijakan dan prioritas anggaran

2) Belanja Bunga

(alokasi strategis)

3) Belanja Subsidi

Menjamin efesiensi dan efektifitas

4) Belanja Hibah

alokasi anggaran (Mahmudi, 2010

5) Belanja Bantuan Sosial

: 79-80)

6) Belanja Tak terduga


2. Belanja langsung

Klasifikasi Belanja Daerah


Dalam Struktur APBD yang

Yaitu belanja yang terkait langsung

mengacu pada PP no. 58 tahun 2005

dengan program kegiatan. Belanja

dan Permendagri Nomor 59 tahun

Langsung dirinci sebagai berikut :

2007belanja dikelompokkan menjadi

1) Belanja Pegawai, dengan obyek

Belanja Tidak langsung dan Belanja

belanja meliputi : honorarium

Langsung.

PNS, honorarium non PNS,


uang lembur, belanja Beasiswa
26

Pendidikan

PNS,

Belanja

kursus, Pelatihan, Sosialisasi


dan Bimbingan Teknis PNS.
2) Belanja

Barang

dan

Jasa,

dengan obyek belanja antara


lain :
-

Belanja bahan habis pakai


Belanja bahan/material
Belanja jasa kantor
Belanja premi asuransi
Belanja perwatan kendaraan
bermotor
- Belanja
cetak
dan
penggandaan
- Belanja
sewa
rumah/
gedung/gudang/parker
- Belanja
sewa
sarana
mobilitas
- Belanja sewa alat berat
- Belanja sewa perlengkapan
dan peralatan kantor
- Belanja makanan dan
minuman
- Belanja pakaian dinas dan
atribut
- Belanja pakaian kerja
- Belanja pakaian khusus
dan hari-hari tertentu
- Belanja perjalanan dinas
- Belanja perjalanan pindah
tugas
- Belanja
Pemulangan
pegawai
3) Belanja Modal, dengan obyek
belanja antara lain :
- Belanja modal pengadaan
tanah
- Belanja modal pengadaan
alat-alat besar

27

- Belanja modal pengadaan


alat-alat angkutan darat
bermotor
- Belanja modal pengadaan
alat-alat angkutan darat
tidak bermotor
- Belanja modal pengadaan
alat-alat angkutan laut
bermotor
- Belanja modal pengadaan
alat-alat angkutan laut
tidak bermotor
- Belanja modal pengadaan
alat-alat angkutan udara
- Belanja modal pengadaan
alat-alat bengkel
- Belanja modal pengadaan
alat-alat
pengolahan
pertanian
- Belanja modal pengadaan
peralatan kantor
- Belanja modal pengadaan
perlengkapan kantor
- Belanja modal pengadaan
computer
- Belanja modal pengadaan
mebel
- Belanja modal pengadaan
peralatan dapur
- Belanja modal pengadaan
penghias ruangan rumah
tangga
- Belanja modal pengadaan
alat-alat studio
Belanja modal pengadaan alatalat komunikasi
Belanja modal pengadaan alatalat ukur
Belanja
modal
alat-alat
kedokteran
Belanja modal pengadaan
konstruksi jalan

Belanja modal pengadaan


konstruksi jembatan
- Belanja modal pengadaan
konstruksi jaringan air.
- Belanja modal pengadaan
penerangan jalan, taman dan
Hutan Kota
- Belanja modal pengadaan
instalasi listrik dan telepon
- Belanja modal pengadaan
Konstruksi
/pembelian
bangunan
- Belanja modal pengadaan
Buku/kepustakaan
- Belanja modal pengadaan
barang bercorak kesenian,
kebudayaan
- Belanja modal pengadaan
Hewan/Ternak dan tanaman
- Belanja modal pengadaan alatalat persenjataan/keamanan
Operasionalisasi Dana Hibah

(3) Pemberian

Dalam Permendagri Nomor 32

tahun

tahun

2011

dijelaskan

untuk

pemerintah
memperhatikan
kepatutan,

(4) Pemberian

daerah

dengan

asas

keadilan,

rasionalitas,

dan

hibah

sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) memenuhi


kriteria paling sedikit:
i. peruntukannya secara spesifik
telah ditetapkan;
ii. tidak wajib, tidak mengikat dan
tidak terus menerus setiap
anggaran,

kecuali

ditentukan lain oleh peraturan

beberapa

perundang-undangan; dan
iii. memenuhi

persyaratan

penerima hibah.
daerah

dapat

hibah

sesuai

Penerima Hibah
Dalam pasal 5 Kepmendagri

kemampuan keuangan daerah.


hibah

Nomor 32 tahun 2011 disebutkan

sebagaimana

bahwa Hibah dapat diberikan kepada:

dimaksud pada ayat (1) dilakukan


setelah

pencapaian

manfaat untuk masyarakat.

berikut :

(2) Pemberian

menunjang

sasaran program dan kegiatan

hibah oleh pemerintah daerah sebagai

memberikan

sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) ditujukan

ketentuan berkaitan dengan pemberian

(1) Pemerintah

hibah

a. pemerintah;

memprioritaskan

b. pemerintah daerah lainnya;

pemenuhan belanja urusan wajib.

c. perusahaan daerah;
d. masyarakat; dan/atau
28

e. organisasi kemasyarakatan.
Hibah

kepada

sebagaimana
kepada

Pemerintah

dimaksud

satuan

Hibah kepada masyarakat

dengan persyaratan paling sedikit:

diberikan

a. memiliki

dari

jelas; dan

kerja

diberikan

kementerian/lembaga pemerintah non

kepengurusan

b. berkedudukan

dalam

yang

wilayah

kementerian yang wilayah kerjanya

administrasi pemerintah daerah

berada

yang bersangkutan.

dalam

daerah

bersangkutan.

yang

Hibah

kepada

Hibah

kepada

organisasi

pemerintah daerah lainnya diberikan

kemasyarakatan

kepada daerah otonom baru hasil

persyaratan paling sedikit:

pemekaran

daerah

sebagaimana

diamanatkan

peraturan

diberikan

dengan

a. Telah terdaftar pada pemerintah

perundang-

daerah

setempat

undangan. Hibah kepada perusahaan

kurangnya

daerah diberikan kepada Badan Usaha

ditentukan lain oleh peraturan

Milik Daerah dalam rangka penerusan

perundang-undangan;

hibah yang diterima pemerintah daerah


dari

Pemerintah

ketentuan

sesuai

peraturan

sekurang-

tahun,

b. berkedudukan

dengan

kecuali

dalam

wilayah

administrasi pemerintah daerah

perundang-

yang bersangkutan; dan

undangan.Hibah kepada masyarakat

c. memiliki sekretariat tetap.

diberikan kepada kelompok orang


yang memiliki kegiatan tertentu dalam
bidang

perekonomian,

Penganggaran Dana Hibah

pendidikan,

Dalam pasal (80 Kepmendagri

kesehatan, keagamaan, kesenian, adat

Nomor 32 tahun 2011, dijelaskan

istiadat,

penganggaran dana

dan

keolahragaan

non-

hibah sebagai

profesional. Hibah kepada organisasi

berikut :

kemasyarakatan

(1) Pemerintah, pemerintah daerah

organisasi
dibentuk

diberikan

kepada

kemasyarakatan
berdasarkan

yang

lainnya,

peraturan

perusahaan

masyarakat

perundang-undangan.

kemasyarakatan
29

dan

daerah,
organisasi
dapat

menyampaikan

usulan

hibah

secara

kepada

kepala

tertulis

(1) Hibah berupa uang dicantumkan


dalam

daerah.

(2) Hibah berupa barang atau jasa

terkait untuk melakukan evaluasi


sebagaimana

dicantumkan dalam RKA-SKPD.

dimaksud

(3)

pada ayat (1).

dimaksud

RKA-PPKD

dan

RKA-SKPD

menjadi dasar penganggaran hibah

(3) Kepala SKPD terkait sebagaimana


pada

menyampaikan
berupa

(Pejabat

Pengelola Keuangan Daerah)

(2) Kepala daerah menunjuk SKPD

usulan

RKA-PPKD

ayat

dalam APBD sesuai peraturan

(2)

perundang-undangan.

hasil

evaluasi

(4) Hibah berupa uang dianggarkan

rekomendasi

kepada

dalam kelompok belanja tidak

kepala daerah melalui TAPD.

langsung, jenis belanja hibah,

(4) TAPD (Tim Anggaran Pemerintah

obyek, dan rincian obyek belanja

Daerah)

memberikan

berkenaan pada PPKD.

pertimbangan atas rekomendasi

(5) Hibah berupa barang atau jasa

sebagaimana dimaksud pada ayat

dianggarkan

(3) sesuai dengan prioritas dan

belanja

kemampuan keuangan daerah.

diformulasikan kedalam program


dan

Rekomendasi

kepala

SKPD

dalam

kelompok

langsung

kegiatan,

yang

yang

diuraikan

dan

kedalam jenis belanja barang dan

pertimbangan TAPD smenjadi dasar

jasa, obyek belanja hibah barang

pencantuman alokasi anggaran hibah

dan jasa berkenaan kepada pihak

dalam rancangan KUA dan PPAS.

ketiga/masyarakat,

Pencantuman

obyek belanja hibah barang atau

alokasi

anggaran

rincian

meliputi anggaran hibah berupa uang,

jasa

barang,

ketiga/masyarakat berkenaan pada

dan/atau

jasa.

Dengan

ketentuan :

SKPD.

30

kepada

dan

pihak

(6)

Rincian

dicantumkan

obyek

nama

belanja

penerima

e. tata

dan

cara

penyaluran/penyerahan hibah;

besaran hibah.

dan
f. tata cara pelaporan hibah.
(3) Kepala daerah dapat menunjuk

Pelaksanaan dan Penatausahaan


Pelaksanaan

dan

Penatausahaan

pejabat yang diberi wewenang

Belanja Hibah diatur sebagai berikut :

untuk menandatangani NPHD.

Pasal 12

Proses Penetapan Penerima dan

(1) Pelaksanaan anggaran hibah berupa

penyaluran Dana Hibah

uang

berdasarkan

atas

DPA-

(1) Kepala daerah menetapkan daftar

PPKD.

penerima hibah beserta besaran

(2) Pelaksanaan anggaran hibah berupa

uang atau jenis barang atau jasa

barang atau jasa berdasarkan atas

yang akan dihibahkan dengan

DPA-SKPD.

keputusan

kepala

daerah

Pasal 13

berdasarkan

peraturan

daerah

(1) Setiap pemberian hibah dituangkan

tentang

APBD

dan

peraturan

dalam NPHD (Naskah Perjanjian

kepala daerah tentang penjabaran

Hibah

APBD.

Daerah)

ditandatangani

yang

bersama

oleh

(2) Daftar

kepala daerah dan penerima hibah.

ayat

(1)

paling

hibah

sebagaimana dimaksud pada ayat

(2) NPHD sebagaimana dimaksud


pada

penerima

(1)

sedikit

menjadi

dasar

penyaluran/penyerahan hibah.

memuat ketentuan mengenai:

(3) Penyaluran/penyerahan hibah dari

a. pemberi dan penerima hibah;

pemerintah

b. tujuan pemberian hibah;

penerima hibah dilakukan setelah

c. besaran/rincian

penandatanganan NPHD.

penggunaan

hibah yang akan diterima;

daerah

kepada

(4) Pencairan hibah dalam bentuk uang

d. hak dan kewajiban;

dilakukan

dengan

mekanisme

pembayaran langsung (LS).


31

(5) Pengadaan barang dan jasa dalam


rangka

hibah

barang dan jasa dalam program

sebagaimana

dan kegiatan pada SKPD terkait.

dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)

Pertanggungjawaban

berpedoman

daerah atas pemberian hibah meliputi:

pada

peraturan

perundang-undangan.

pemerintah

a. usulan dari calon penerima hibah


kepada kepala daerah;
b. keputusan kepala daerah tentang

Pelaporan dan Pertanggungjawaban

penetapan daftar penerima hibah;

Dana Hibah
Pelaporan dan pertanggungjawaban

c. NPHD;

dana hibah diatur dalam pasal 16-18

d. pakta integritas dari penerima

Kepmendagri Nomor 32 Tahun 2011

hibah yang menyatakan bahwa

sebagai berikut :

hibah

(1) Penerima hibah berupa uang

digunakan sesuai dengan NPHD;

menyampaikan

laporan

yang

diterima

akan

dan

penggunaan hibah kepada kepala

e. bukti transfer uang atas pemberian

daerah melalui PPKD dengan

hibah berupa uang atau bukti serah

tembusan SKPD terkait.

terima barang/jasa atas pemberian

(2) Penerima hibah berupa barang atau


jasa

menyampaikan

hibah berupa barang/jasa.

laporan

Pertanggungjawaban Penerima Hibah

penggunaan hibah kepada kepala


daerah

melalui

kepala

(1) Penerima hibah bertanggungjawab

SKPD

secara formal dan material atas

terkait.

penggunaan

(3) Hibah berupa uang dicatat sebagai

dalam

tahun

yang

diterimanya.

realisasi jenis belanja hibah pada


PPKD

hibah

(2)

anggaran

Pertanggungjawaban

penerima

hibah meliputi:

berkenaan.

a. laporan penggunaan hibah;

(4) Hibah berupa barang atau jasa

b. surat

pernyataan

dicatat sebagai realisasi obyek

jawab

belanja hibah pada jenis belanja

bahwa hibah yang diterima


32

yang

tanggung
menyatakan

telah

digunakan

sesuai

daerah dengan tembusan kepada

NPHD; dan

SKPD yang mempunyai tugas

c. bukti-bukti pengeluaran yang


lengkap

dan

sah

peraturan
undangan
hibah

dan fungsi pengawasan.

sesuai

Pasal 41

perundangbagi

berupa

Dalam

penerima
uang

hal

hasil

monitoring

dan

evaluasi sebagaimana dimaksud dalam

atau

Pasal 40 ayat (2) terdapat penggunaan

salinan bukti serah terima

hibah atau bantuan sosial yang tidak

barang/jasa

sesuai dengan usulan yang telah

bagi

penerima

hibah berupa barang/jasa.

disetujui, penerima hibah atau bantuan

(3) Pertanggungjawaban disampaikan


kepada

kepala

daerah

sosial yang bersangkutan dikenakan

paling

sanksi

lambat tanggal 10 bulan Januari


tahun

anggaran

sesuai

dengan

peraturan

perundang-undangan.

berikutnya,

kecuali ditentukan lain sesuai

Analisis Data

peraturan perundang-undangan.

Berdasarkan Keputusan Menteri

(4) Pertanggungjawaban disimpan dan

Dalam Negeri Nomor 32 tahun 2011

dipergunakan oleh penerima hibah

Dana

selaku obyek pemeriksaan.

uang/barang atau jasa dari pemerintah

Monitoring

Dan

Evaluasi

daerah

Dana

Hibah

adalah

kepada

pemberian

pemerintah

atau

Hibah dan Bansos

pemerintah daerah lainnya, perusahaan

Pasal 40

daerah, masyarakat dan organisasi

a.

b.

SKPD

terkait

melakukan

kemasyarakatan, yang secara spesifik

monitoring dan evaluasi atas

telah

pemberian hibah dan bantuan

bersifat

sosial.

mengikat, serta tidak secara terus

Hasil monitoring dan evaluasi

menerus

sebagaimana dimaksud pada ayat

menunjang penyelenggaraan urusan

(1) disampaikan kepada kepala

pemerintah
33

ditetapkan
tidak

peruntukannya,

wajib

yang

dan

bertujuan

daerah.

tidak

untuk

Sedangkan

Bantuan

sosial

bantuan

berupa

adalah

pemberian

uang/barang

Dana Bantuan sosial menurut

dari

pengertian kepmendagri nomor 32

pemerintah daerah kepada individu,

tahun 2011 berupa uang dan barang.

keluarga,

Penerima

kelompok

dan/atau

dana

Bansos

adalah

masyarakat yang sifatnya tidak secara

individu, keluarga, kelompok atau

terus

menerus

bertujuan

dan

untuk

selektif

yang

masyarakat. Penentuan siapa penerima

melindungi

dari

bansos harus selektif, jadi harus benar-

kemungkinan terjadinya resiko sosial.

benar diterima oleh orang memiliki

Berdasarkan pengertian diatas ,

resiko sosial.

Resiko sosial adalah

maka dana hibah dapat berupa uang,

kejadian atau peristiwa yang dapat

barang ataupun jasa. Penerima dari

menimbulkan

hibah diantaranya pemerintah daerah,

kerentanan sosial yang ditanggung

perusahaan daerah, masyarakat dan

oleh individu, keluarga, kelompok

organisasi kemasyarakatan yang secara

dan/atau masyarakat sebagai dampak

spesifik

ditetapkan

krisis sosial, krisis ekonomi, krisis

peruntukannya. Dari penjelasan ini

politik, fenomena alam dan bencana

sudah jelas bahwa lembaga, organisasi

alam yang jika tidak diberikan belanja

penerima

sebelumnya

bantuan sosial akan semakin terpuruk

memberikan proposal yang secara

dan tidak dapat hidup dalam kondisi

terinci /spesifik menjelaskan untuk apa

wajar.

dana tersebut digunakan. Sehingga

Anggaran Dana Hibah di Provinsi

penyaluran dana hibah tidak asal

Banten

menunjuk,

telah

hibah

member,

tetapi

ada

Anggaran

potensi

dana

terjadinya

hibah

di

dasarnya. Bahkan dalam keputusan

Provinsi Banten termasuk 6 besar

kemendagri nomor 32 tahun 2011

provinsi

disebutkan

tersebut

Hibah..pada tahun 2013 . Berikut ini

menunjang

adalah daftar Daerah dengan Belanja

penyelenggaraan urusan pemerintah

Hibah terbesar . pada semester I tahun

daerah.

2013 :

bertujuan

dana
untuk

hibah

34

untuk

Alokasi

belanja

Tabel 1.
Alokasi APBD Provinsi Untuk Belanja Hibah Tahun 2012
No

Provinsi

Belanja Hibah

Alokasi APBD

Semester I
1

Sumatra Utara

1,22 trilyun

2,17 trilyun

2.

Jawa Timur

2,3 trilyun

4,19 trilyun

3.

Jawa Tengah

1,9 trilyun

3,97 trilyun

4..

Jawa Barat

2,3 trilyun

5,3 trilyun

5.

Banten

629 milyar

1,34 trilyun

6.

Sulawesi Selatan

552 milyar

1,2 trilyun

http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2013/10/14/pemda-dengan-belanja-hibahterbesar-598866.html
Dari tabel tersebut sangatlah wajar

Anggaran untuk Belanja Hibah

apabila Jawa Timur, Jawa Tengah dan

Provinsi

Jawa

perbaikan

Barat

dan

Sumatra

Utara

Banten
APBD

adalah

setelah

berjumlah

Rp.

mengalokasikan dana hibah cukup

415.451.525.000, (empat ratus lima

besar, karena keempat provinsi ini

belas milyar empat ratus lima puh satu

memiliki jumlah kabupaten/kota yang

juta lima ratus dua puluh lima ribu

relatif

rupiah.

banyak,

lebih

dari

20

Peruntukan

belanja

hibah

kabupaten/kota. Sementara provinsi

secara global terdiri dari Hibah kepada

Banten

Pemerintah (SKPD), hibah kepada

secara

Pemerintah Daerah lainnya, hibah

provinsi

kepada Perusahaan Daerah, hibah

hanya

kabupaten/kota.
proporsional

memiliki
Sehingga

dana

hibah

Banten lebih besar.

kepada masyarakat dan hibah kepada


organisasi kemasyarakatan.Berikut ini
35

adalah besar belanja hibah di Provinsi


Banten berdasarkan peruntukannya :

Tabel
Rincian Belanja Hibah Provinsi Banten Tahun 2013
P AP BD

APBD
NO

RINCIAN OBYEK BELANJA

PAGU ANGGARAN

PAGU

1
2
3
4
5

JUMLAH

PAGU ANGGARAN

358,500,000,000

( +/- )

JUMLAH

415,451,525,000

HIBAH KEPADA PEMERINTAH


HIBAH KEPADA PEMERINTAH
DAERAH LAINNYA
HIBAH KEPADA PERUSAHAAN
DAERAH

27,350,000,000

HIBAH KEPADA MASYARAKAT


HIBAH KEPADA ORGANISASI
KEMASYARAKATAN

255,060,500,000

319,112,025,000

64,051,525,000

76,089,500,000

70,389,500,000

(5,700,000,000)

358,500,000,000

415,451,525,000

56,951,525,000

JUMLAH

25,950,000,000

(1,400,000,000)

Sumber : Lampiran Nota Pertimbangan Pemberian Dana Hibah Tahun 2013


Berdasarkan data tersebut sebagian

pada masyarakat secara individu dan

besar dana hibah diberikan kepada

kelompok masyarakat, dana hibah

masyarakat

yaitu

sekitar

77

yang diperuntukkan pada masyarakat

selanjutnya

dana

hibah

terbesar

diberikan

kepada

%,

juga

organisasi

dipergunakan

pembangunan

untu

program

masyarakat,

seperti

kemasyarakatan yaitu sekitar 17 %.

pembangunan jalan desa, perbaikan

Data ini menunjukkan bahwa belanja

rumah dan lain sebagainya.

hibah lebih dikonsentrasikan kepada

Besarnya

peruntukan

dana

kebutuhan masyarakat, baik dalam

hibah pada masyarakat memang dapat

sebuah

Majelis

langsung pada sasarannya, peruntukan

Taklim, DKM, KSM dan Kelompok-

ini akan efektif apabila masyarakat dan

kelompok masyarakat lainnya. Selain

kelompok masyarakat untuk tujuan

kelompok,

seperti

36

produktif, bukan bersifat konsumtif.

untuk usaha tetapi dibelikan barang-

Karena berdasarkan observasi yang

barang elektronik, kebutuhan rumah

dilakukan

tangga.

pemberian

dana

hibah

kepada masyarakat seringkali tidak

Kurang bertanggung jawabnya

dimanfaatkan untuk kegiatan produksi,

masyarakat atas dana hibah yang

tetapi digunakan untuk hal-hal yang

diberikan padanya , dikarena mereka

bersifat konsumtif. Misalkan dana

menganggap bahwa dana hibah adalah

hibah untuk majelis taklim, seringkali

pemberian, hadiah, sehingga tidak

hanya

perlu

seragam

digunakan

untuk

pengajian,

meningkatkan

membeli

tidak

kapasittas

untuk

dikembalikan

dan

dipertanggungjawabkan.

organisasi

Alokasi

belanja

hibah

di

dan kualitas anggotanya. Begitupula

Provinsi Banten setiap tahunnya selalu

dalam

mengalami kenaikan, kenaikan alokasi

pemberdayaan,

program-program
dana

hibah

yang

dana hibah tersebut dapat dijelaskan

diberikan pemerintah tidakdigunakan

pada grafik di bawah ini :

Sumber : Data diolah dari berbagai sumber


Alokasi Dana Hibah dan Bansos

adalah sebesar 74 milyar rupiah terdiri

provinsi Banten pada tahun 2009

dari belanja hibah 14 milyar dan


37

bansos 60 milyar . Pada tahun 2010

sedangkan dana bansos mengalami

anggaran hibah dan bansos mengalami

penurunan sekitar 14 %. Pada tahun

peningkatan

2011

yang

sangat

drastis

alokasi

dana

untuk

Hibah

menjadi 239,2 milyar untuk hibah dan

meningkat menjadi 340,4 milyar dan

51,4

Dari

51 milyar untuk Bansos. Dana hibah

anggaran ini menjadi agak janggal,

mengalami kenaikan sebesar 42% dari

karena

tahun sebelumnya, sementara dana

milyar

untuk

belanja

bansos.

hibah

mengalami

kenaikan mencapai 17 kali lipat dari

bansos

dana

sekitar.0,8 %.

1)

hibah

tahun

sebelumnya,

Proporsi
Hibah dibandingkan
APBD Tahun 2012-2014
Proporsi

Provinsi

Banten

dengan

Dana
dengan

dana

hibah

dapat

dijelaskan

mengalami

penurunan

membandingkan

besarnya

belanja hibah dengan total keseluruhan

di

Belanja

Daerah

APBD

Banten.

Berdasarkan

olah

diperoleh

hasil sebagai berikut :

Grafik 1.
Proporsi Belanja Hibah dibandingkan dengan Belanja Daerah
Provinsi Banten Tahun 2012-2014

38

Provinsi
data

Sumber ; LAKIP, APBD diolah


Dari grafik tersebut dapat

adalah dari Pusat untuk Dana Bantuan

dijelaskan bahwa proporsi dana hibah

Operasional Sekolah..

terhadap keseluruhan Belanja APBD

tahun 2013 sebesar 20,1% dan pada

2) Proporsi
Belanja
Hibah
Terhadap
Belanja
Tidak
Langsung
Belanja Hibah dalam struktur

tahun 2014 sebesar 19,47 %.

APBD adalah termasuk dalam Belanja

pada tahun 2012 sebesar 5,6 %, pada

Dari tabel ini juga terdapat

Tidak Langsung. Proporsi Jumlah

kenaikan yang cukup drastis di tahun

Belanja Hibah terhadap Belanja Tidak

2013 sebesar Rp. 1.288..000.000 atau

Langsung pada tahun 2011 sebesar

sekitar

Berdasarkan

16,7 %, pada tahun 2012 naik menjadi

keterangan dari DPKAD Provinsi

39% dan pada tahun 2013 sebesar 29,6

Banten dari total dana Hibah tahun

%.

2012 sebesar 1.288.00.000.000

dilihat pada grafik berikut :

330

persen.

dan

tahun 2013 sebesar 1.046 milyar

39

Gambaran lebih jelasnya dapat

Grafik
Proporsi Belanja Hibah terhadap Belanja Tidak Langsung
Provinsi Banten Tahun 2011-2013

Sumber : LAKIP, APBD diolah


Berdasarkan

grafik tersebut

dijelaskan bahwa

dapat

pada tahun 2012

menunjukkan

bahwa

pemerintah

akomodatif

dalam

memenuhi

terjadi peningkatan belanja hibah,

kebutuhan masyarakat dari berbagai

sehingga perbandingan belanja hibah

segemen.

terhadap dana APBD untuk belanja

diberikan pada organisasi pemerintah,

tidak langsung mencapai 39% pada

kelompok

tahun 2013 sebesar . Ini menunjukkan

organisasi kemasyarakatan yang telah

bahwa

diberikan

mengajukan proposalnya . Sehingga

pemerintah kepada kantor pemerintah

dapat saja sebagian besar dana hibah

lain, lembaga swadaya masyarakat,

diperuntukkan

lembaga kemasyarakatan, kelompok

kebutuhan.

bantuan

yang

masyarakat, kelompok profesi dan

Karena

belanja

masyarakat,

sesuai

hibah

LSM,

dengan

Di sisi lain, meningkatnya

organisasi kemasyarakatan semakin

belanja hibah

meningkat. Di satu sisi peningkatan ini

pembangunan karena belanja hibah

40

mengurangi belanja

dipergunakan bukan untuk kegiatan

dapat

pembanguan

membuat masyarakat, LSS, Ormas,

tetapi

diberikan

bermanfaat,

bukan

berdasarkan kepentingan politis suatu

Kelompok

organisas, Pemberian belanja hibah

masyarakat dan kelompok keagamaan

seharusnya didasarkan pada penting

menjadi tidak kreatif, karena hanya

tidaknya keberadaan lembaga tersebut

mengandalkan dana dari pemerintah

bagi pembangunan , baik spiritual,

dalam rangka menjalankan kegiatan

mental maupun fisik. Pemberian dana

organisasinya.

hibah harus jelas peruntukan dan

3) Proporsi
Belanja
Hibah
Terhadap Belanja Langsung
Belanja hibah di Provinsi

pertanggungjawabannya,

sehingga

dana

memiliki

hibah

benar-benar

Banten

manfaat bagi pengembangan kapasitas

pembangunan,

meningkatkan

sangat

kelompok

besar

dan

tidak

proporsional jika dibandingkan dengan

masyarakat, meningkatkan partisi[asi


dalam

Profesi

malah

Belanja Langsung, yang dimasukkan

dan

kesejahteraan

masyarakat. Sehingga nilai rupiah

sebagi

belanja

program

alokasi

belanja

hibah

kegiatan,

proporsinya

cukup besar, hal ini dapat dijelaskan

yang sangat besar tersebut benar-benar

pada grafik berikut :

Sumber : LAKIP, APBD Provinsi Banten 2013 diolah


41

Berdasarkan

grafik

tersebut

belanja

hibah

menjadi

lebih

dapat dijelaskan bahwa pada tahun

diprioritaskan

2011 proporsi belanja hibah terhadap

belanja langsung. Dimana belanja

belanja langsung hanya sekitar 19 %,

langsung

tetapi sejak

mempengaruhi

tahun 2012 terjadi

dibandingkandengan

dapat

secara

langsung

kinerja

peningkatan belanja hibah, sehingga

kinerja

proporsi belanja hibah terhadap dana

pelayanan,seperti

APBD

sistem, pembelian alat kesehatan dan

untuk

mencapai

belanja

hamper

perbandingan

64

yang

langsung

organisasi

individu,

Maka

dan

kinerja

pengadaan

sudah

ICT

%,

suatu

lain-lain.

seharusnya

cukup

besar.

belanja langsung secara proporsi lebih

Bahkan pada tahun 2013 jumlah

besar dibandingkan belanja hibah.

belanja

4) Proporsi

hibah

melebihi

belanja

langsung, yaitu : 107 % atau 7 persen

seperti

Hibah

Terhadap Belanja Urusan Wajib

lebih besar dari total belanja langsung.


Proporsi

Belanja

Urusan wajib adalah urusan

tentunya

yang sangat mendasar yang berkaitan

secara rasional tidak menggambarkan

dengan hak dan pelayanan dasar warga

efesiensi dan efektifitas anggarran..

Negara, antara lain perlindungan hal

Bagiamanapun

konstitusional,

belanja

langsung

perlindungan

seharusnya lebih besar karena dalam

kepentingan nasional, kesejahteraan

belanja langsung meliputi beragam

umum

belanja seperti : belanja pegawai di

keutuhan

luar gaji, belanja alat , barang, belanja

komitmen nasional yang berkaitan

modal dengan lebih dari 20 obyek

dengan

anggaran. Proporsi belanja tersebut

internasional.

juga

menggambarkan

dalam

kerangka

NKRI

dan

menjaga
pemenuhan

perjanjian

bahwa

Urusan

pemerintah Provinsi Banten belum

kewenangan

dapat

provinsi merupakan urusan dalam

menentukan

skala

prioritas

dalam penyusunan anggaran. Sehingga

42

wajib

yang

konvensi

pemerintahan

menjadi
daerah

skala provinsi terdapat pada pasal 13

11. Pelayanan pertanahan termasuk

Bab III UU No. 32/2004 meliputi :


1.

Perencanaan

dan

lintas kabupaten/kota;

pengendalian

12. Pelayanan

pembangunan;
2.

Perencanaan, pemanfaatan

Penyelenggaraan
umum

dan

13. Pelayanan

ketertiban

dan

administrasi

umum

pemerintahan
14. Pelayanan

ketentraman

administrasi

penanaman modal termasuk lintas

masyarakat;
4.

dan

catatan sipil

pengawasan tata ruang;


3.

kependudukan

kabupaten/kota;

Penyediaan sarana dan prasarana

15. Peneyelenggaran pelayanan dasar

umum;

lainnya

5.

Penanganan bidang kesehatan;

dilaksanakan oleh kabupaten/kota

6.

Penyelenggaraan pendidikan dan

; dan

alokasi sumber daya manusia

7.

16. Urusan

9.

wajib

belum

lainnya

potensial;

diamantkan

Penanggulangan masalah sosial

perundang-undangan

lintas kabupaten/kota;
8.

yang

Jika

oleh

dapat

yang

peraturan

dibandingkan

dengan

Pelayanan bidang ketenagakerjaan

urusan wajib yang lain, alokasi belanja

lintas kabupaten/kota;

hibah jauh lebih besar, hal ini dapat

Fasilitas pengembangan koperasi,

dijelaskan pada grafik berikut :

usaha

kecil

dan

menengah

termasuk lintas kabupaten/kota:


10. Pengendalian lingkungan hidup;
Grafik. 4
Proporsi Alokasi Dana Hibah dengan Urusan Wajib Pendidikan dan Kesehatan
Provinsi Banten Tahun 2013

43

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Berdasarkan grafik tersebut, sangatlah

anggaran

jelas

alokasi

pendidikan dan kesehatan, maka dapat

anggaran, dimana anggaran hibah jauh

meningkatkan kualitas sumber daya

melebihi anggaran untuk pendidikan

manusia, sementara besarnya dana

dan kesehatan sebagai bagian dari

hibah

urusan wajib, yang saat ini mendapat

terhadap peningkatan kualitas sumber

banyak perhatian. Dari grafik tersebut

daya manusia juga kualitas organisasi.

dijelaskan bahwa anggaran pendidikan

5) Proporsi Alokasi Belanja Hibah

di Provinsi Banten adalah 17,4 % dari

Pada SKPD Provinsi Banten 2013

total dana hibah. Anggaran kesehatan

Sebagian Alokasi belanja hibah

hanya sebesar 18,04 % dari total

dimasukkan dalam rencana anggaran

alokasi dana hibah. Urusan pendidikan

belanja hibah pada setiap SKPD.

dan kesehatan adalah kebutuhan yang

Berdasarkan RKA Provinsi Banten ,

mendasar

sudah

alokasi dana hibah dari 20 SKPD yang

seharusnya mendapatkan porsi yang

ada di Provinsi Banten dapat dilihat

besar pula dari anggaran. Dengan

pada tabel berikut :

ketimpangan

bagi

dalam

masyarakat,

44

yang

tidak

besar

banyak

di

bidang

berpengaruh

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

Tabel
Alokasi Belanja Hibah Per-SKPD Provinsi Banten Tahun 2013
SKPD
Jumlah (Rp)
Balitbangda
10.000.000
Biro Kesra
78.485.072.000
Biro Pemerintahan
3.200.000
BLHD
25.000.000
BPAD
60.000.000
BPPMD
24.137.083.000
Dinas Pendidikan
6.587.500.000
Dinkop
1.375.000.000
Dinas Sosial
605.000.000
Disbudpar
357.000.000
Dishubkominfo
3.000.000.000
Disnakertrans
20.000.000
Disperindag
100.000.000
Dispora
1.753.415.000
Distanak
2.443.525.000
DKP
617.000.000
Kesbangpol
2.890.000.000
Ketapang (Ketahanan pangan)
10.000.000
SDAP
3.532.500.000
Dinas Kesehatan
1.015.000.000
Sumber : Rekap Hibah SKP, berbagai sumber diolah

45

Berdasarkan

data

tersebut

pada

kedua

SKPD

Untuk

maka proporsi alokasi belanja hibah

menjelaskan keefektifan dana hibah ,

terbesar adalah pada Biro Kesra

dapt dilihat dari peruntukan dana

Provinsi Banten, dengan total belanja

hibah pada kedua SKPD tersebut.

Hibah sebesar

Rp.

Dari berbagai penjelasan dan

puluh

gambaran mengenai alokasi dana

delapan milyar empat ratus delapan

hibah di Provinsi Banten, dapat

puluh lima juta tujuh puluh dua ribu

disimpulkan

rupiah)

adalah

Alokasi Dana Hibah tidak realistis,

BPPMD ( Badan Pemberdayaan

pertanggungjawaban tidak akuntabel,

Perempuan dan Masyarakat Desa)

tidak

dengan jumlah Rp. 24.137.083.000 (

kebutuhan.

Dua puluh empat milyar seratus tiga

anggaran tidak memberi manfaat dan

puluh tujuh juta delapan puluh tiga

berdampak

ribu rupiah). Sebagian besar dana

daerah

hibah pada SKPD terkonsentrasi

kesejahteraan masyarakat.

Analisis Keuangan Negara Dalam

Negara, oleh karena itu penggunaan

Alokasi dana Hibah

uang Negara haruslah sesuai dengan

78.485.072.000

dan

Tujuh

selanjutnya

di Provinsi

bahwa

didasarkan

Besarnya

pada

analisis

Sehngga

besarnya

terhadap
dan

kemajuan
peningkatan

peraturan perundangan yang berlaku.

Banten
17

Berdasarkan Kepmendagri Nomor

Negara

32 Tahun 2011 tentang Pedoman

adalah semua hak dan kewajiban

Pengelolaan Dana Hibah dan Bansos

negara yang dapat dinilai dengan uang,

dijelaskan

serta segala sesuatu baik berupa uang

pemberian uang/barang atau jasa dari

maupun berupa barang yang dapat

pemerintah

dijadikan milik negara berhubung

pemerintah atau pemerintah daerah

dengan

lainnya,

Menurut
Tahun

2003,

UU

Keuangan

pelaksanaan

kewajiban

Nomor

tersebut.

hak

dan

Dana

daerah

dan

adalah

kepada

perusahaan

masyarakat

Berdasarkan

Hibah

daerah,
organisasi

definisi tersebut dana hibah adalah

kemasyarakatan, yang secara spesifik

milik

telah

Negara

pelaksanaan

hak

dalam
dan

rangka
kewajiban

bersifat

46

ditetapkan
tidak

peruntukannya,

wajib

dan

tidak

mengikat, serta tidak secara terus

urusan wajib dan urusan pilihan di

menerus

daerah.

yang

bertujuan

untuk

menunjang penyelenggaraan urusan


pemerintah

daerah.

Indikasi

Sedangkan

keberhasilan

otonomi daerah dan desentralisasi

Bantuan sosial adalah pemberian

adalah

bantuan berupa uang/barang dari

pelayanan

pemerintah daerah kepada individu,

masyarakat (social welfare) yang

keluarga,

kelompok

semakin baik, kehidupan demokrasi

masyarakat

yang

dan/atau

sifatnya

tidak

terjadinya

peningkatan

dan

kesejahteraan

yang semakin maju , keadilan,

secara terus menerus dan selektif

pemerataan

yang bertujuan untuk melindungi

Keadaan

dari kemungkinan terjadinya resiko

tercapai

sosial.

public

Dari pengertian tersebut jelas

serta

antar

tersebut
apabila

daerah.

hanya

akan

lembaga

sektor

dikelola

dengan

memperhatikan konsep value for

bahwa tujuan dari dana hibah adalah

money.

untuk menunjang penyelenggaraan

Dalam

konteks

otonomi

urusan pemerintah daerah. Dalam

daerah, value for money merupakan

UU nomor 32 Tahun 2004 dijelaskan

jembatan

bahwa urusan pemerintah daerah

pemerintah derah mencapai good

terdiri urusan wajib dan pilihan.

governance.

Urusan wajib terdiri dari pendidikan,

tersebut harus dioperasionalisasikan

kesehatan,

dalam

lingkungan
masyarakat.

pekerjaan
hidup,

umum,

pemberdayaan

Sedangkan

untuk

menghantarkan

Value

pengelolaan

for

dana

money

public

(public money) yang mendasarkan

urusan

konsep value for money , maka

pilihan berkaitan dengan potensi apa

diperlukan

yang yang menjadi unggulan yang

Keuangan Daerah dan Anggaran

perlu

Daerah

dikembangkan

tersebut.

Sehingga

di

daerah

seharusnya

Sistem

yang

baik

Pengelolaan

(Mardiasmo,

2004:29)

belanja hibah lebih diperuntukkan

Laporan

untuk menunjang terselenggaranya

keuangan

untuk

mendukung pembuatan keputusan


ekonomi, social dan politik tersebut

47

meliputi informasi yang digunakan

investasi

untuk

untuk :

sistem

informasi

a. Membandingkan

kinerja

akuntansi

pemerintah daerah.

keuangan actual dengan yang

Salah

dianggarkan

satu

alat

memfasilitasi

b. Menilai kondisi keuangan dan

untuk

terciptanya

transparansi dan akuntabilitas public

hasil-hasil operasi

adalah melalui penyajian Laporan

c. Membantu menentukan tingkat


kepatuhan

pengembangan

terhadap

Keuangan Pemerintah Daerah yang

peraturan

komprehensif. Dalam era otonomi

perundangan yang terkait dengan

daerah dan desentralisasi anggaran

masalah keuangan dan ketentuan

(Perhitungan APBD), laporan aliran

lainnya

kas dan neraca. (hal 37).

d. Membantu dalam mengevaluasi

Tujuan penyajian laporan

tingkat efesiensi dan efektivitas.

keuangan oleh pemerintah daerah

(Mardiasmo, 2004: 31).

secara umum (37-38) :

Pemerintah daerah selaku

a. Untuk

memberikan

informasi

pengelola dana public harus mampu

yang digunakan dalam pembuatan

menyediakan

keputusan ekonomi, social dan

yang

informasi

diperlukan

keuangan

secara

akurat,

politik

serta

sebagai

bukti

relevan, tepat waktu dan dapat

pertanggungjawaban

dipercaya. Untuk itu, pemerintah

(accountability0 dan pengelolaan

daerah

(stewardship)

dituntut

untuk

memiliki

sistem informasi akuntansi yang


handal.

Jika

sistem

b. Untuk

informasi

yang

memberikan

informasi

digunakan

untuk

akuntansi yang dimiliki masih lemah,

mengevaluasi kinerja manajerial

maka

yang

dan organisasional

tersebut

Tujuan secara khusus

kualitas

dihasilkan

informasi

dari

sistem

kurang handal. Oki dalam rangka

a. Memberikan informasi keuangan

memantapkan otonomi daerah dan

untuk

desentralisasi

daerah

memprediksi aliran kas, saldo

hendaknya sudah mulai memikirkan

neraca, kebutuhan sumber daya

pemerintah

48

menentukan

dan

financial

jangka

pendek

unit

aktivitas

pemerintah.

menentukan

memprediksi
suatu

unit

kondisi

perlu

dan

harus

pemerintahan

adanya

berbagai

penyempurnaan , perubahan dan

ekonomi

perubahan

perubahan

penambahan

dan

pada

instrument

pengelolaan Keuangan Daerah pada

yang

umumnya,

terjadi di dalamnya.

dan

Anggaran

pada

khususnya. Setidaknya terdapat dua

c. Memberikan informasi keuangan


untuk

yang

diberikan pada masyarakat. Untuk itu

b. Memberikan informasi keuangan


untuk

pelayanan

mendasar

yang

kinerja,

dibutuhkan, yaitu : Perlunya Standar

kesesuaiannya dengan peraturan

Analisa Belanja (SAB) dan perlunya

perundang-undangan,

reformasi

yang

memonitor

perubahan

telah

kontrak

disepakati

dan

daerah

ketentuan lain yang diisyaratkan.


d. Memberikan

informasi

pengelolaan
dan

keuangan

anggaran

daerah.

(Mardiasmo, 2004 175).

untuk

1. Standar

Analisa

Belanja

perencanaan dan penganggaran,

Standard

serta

(SSA) sebagai dasar penetuan

untuk

pengaruh
pembelanjaan
ekonomi

memprediksi

Assesment

pemilikan

dan

alokasi dana untuk tiap kegiatan

sumber

daya

pemerintah daerah. SAB adalah

terhadap

pencapaian

perkiraan

tujuan operasional
e. Memberikan

Spending

atau

pengeluaran

(alokasi dana) untuk setiap unit


untuk

kerja Pemerintah Daerah, program

mengevaluasi kinerja manajerial

kerja dan atau unit kegiatan

dan organisasional.

Pemerintah

Implikasi

informasi

jumlah

dan

yang

dibutuhkan untuk menghasilkan

Strategi

suatu tingkat pelayanan public

Pemecahannya
Berbagai

Daerah

kelemahan

dan

tertentu sesuai dengan tuntutan

permasalahan yang ditemui dalam

dan

perencanaan pengeluran Pemda akan

Dengan

berimplikasi pada rendahnya kinerja

dimungkinkan

Pemda dalam melaksanakan berbagai

identifikasi kebutuhan dana yang

49

kebutuhan
SAB

masyarakat.
itu,

akan

munculnya

ukuran

lebih akurat, baik untuk kegiatan

menghasilkan

rutin,

pembangunan.

kinerja untuk mengetahui how

Identifikasi input, teknik produksi

do we know if we are on the right

pelayanan

track

maupun

kualitas

public
minimal

dan

tingkat

Dengan

demikian,

harus

Anggaran Daerah adalah desain

dihasilkan oleh suatu unit kerja

teknis atau cetak biru (blue print)

menjadi syarat untuk menentukan

pelaksanaan

alokasi dana yang optimal untuk

mencapai visi daerah dengan cara-

setiap unit kerja pelayanan public.

cara yang benar. Karenanya bila

Dari identifikasi ketiga hal ini

kualitas Anggaran Daerah rendah,

akan diketahui jumlah kebutuhan

maka kualitas pelaksaan fungsi-

riil setiap unit aktivitas pelayanan

fungsi Pemerintah Daerah juga

dan terukurnya standar kinerja,

cenderung lemah. Bila hal ini

yang dapat dijadikan acuan untuk

terjadi, maka wujud daerah dan

mempermudah

langkah

Pemerintah Daerah di masa yang

evaluasi

akan dating sulit untuk dicapai.

pengendalian

yang

?.

ukuran

dan

kebijakan Pemerintah Daerah.

strategi

(Mardiasmo, 2004:176).

2. Reformasi Pengelolaan Keuangan

Sebagai instrument kebijakan ,

Daerah dan Anggaran Daerah

Anggaran

Salah satu aspek Pemerintahan

posisi

Daerah yang harus diatur secara

pengembangan

hati-hati

efektifitas

adalah

untuk

pengelolaan

daerah

sentral

menduduki

dalam

upaya

kapabilitas

Pemerintah

dan

Daerah.

Keuangan Daerah dan Anggaran

Pengembangan

Daerah.

diartikan sebagai upaya untuk

Anggaran

daerah

kapabilitas

memainkan peranan yang sangat

memperbaiki

penting dalam mendukung siklus

pemerintah Daerah menjalankan

perencaan

fungsi

startegik

daerah.

kemampuan

dan

perannya

secara

Anggaran Daerah dalam kaitan ini

efesien, sedangkan peningkatan

merupakan jawaban what is our

efektivitas

blueprint

upaya

for

Setelahnggaran

action
Daerah

?.
akan

diartikan

untuk

sebagai

menyelaraskan

kapabilitasnya dengan tuntutan

50

dan kebutuhan public (World

Pemerintah

Bank, 1997) dalam Mardiasmo

dengan preferensi dan prioritas di

(2004:177). Dalam kaitan ini,

daerah

Anggaran Daerah harus mampu

(Mardiasmo, 2004:177).

secara

optimal

Daerah

yang

sejalan

bersangkutan

difungsikan

sebagai alat untuk menentukan

Manajemen Biaya Strategik Untuk

besar

Mengendalikan

pendapatan

pengeluaran,
pengambilan

dan
membantu

keputusan

perencanaan

Pengeluaran

Daerah

dan

Penggunaan

pembangunan,

Daerah

yang

Anggaran

berorientasi

pada

otorisasi pengeluaran di masa

kinerja memberikan implikasi bagi

yang

sumber

Pemerintah Daerah untuk melakukan

ukuran-ukuran

efesiensi dalam pengeluaran Daerah.

akan

dating,

pengembangan

standar untuk evaluasi kinerja,

Untuk

alat

dituntut

untuk

memotivasi

para

itu

Pemerintah

menerapkan

Daerah

manajemen

pegawai dan alat koordinasi bagi

biaya strategic dengan memfokuskan

semua aktivitas dari berbagai unit

pengurangan biaya secara signifikan.

kerja (Jones & Pendlebury, 1996).

Pengurangan biaya pelayanan public

Dengan perubahan ini diharapkan

merupakan

penentuan strategi, prioritas serta

kinerja

kebijakan alokasi anggaran akan

Kegagalan Pemerintah Daerah dalam

lebih berorientasi pada tuntutan

program

dan kebutuhan public. Mekanisme

Daerah di masa lalu disebabkan oleh

perencanaan pembangunan dan

beberapa

juga

Mardiasmo, 2004:178) :

karenanya

Anggaran

perencanaan

Daerah

hasil

dari

perbaikan

Pemerintah

efesiensi

faktor,

Daerah.

pengeluaran

antara

lain

harus

a. Pengeluaran belum berorientasi

merupakan proses yang mengakar

pada kinerja dan kepentingan

(bottom up planning). Dengan

publik

sistem bottom up planning ini

b.

Pengeluaran

daerah

yang

diharapkan berbagai jenis barang

dilakukan berorientasi jangka

dan jasa public yang disediakan

pendek

51

c.

d.

Pemerintah

Daerah

bersifat

penentu

efektivitas

program

reaktif, tidak proaktif untuk

pengurangan biaya karena pada

mengeliminasi

dasarnya

sumber

manajemen

biaya

pemborosan keuangan daerah.

startegik merupakan tone from

Tidak adanya pengetahuan yang

the top.

memadai mengenai sifat biaya.


Pendekatan

Strategik

pengurangan
biaya

Penurunan biaya pemerintah Daerah

dalam

dapat dilakukan melalui perencanaan

biaya

(manajemen

dan pengendalian aktivitas . yaitu

strategic)

memiliki

karakteristik

sebagai

dengan cara :

berikut

a.

Pilihan Aktivitas. Strategi yang

(Mardiasmo, 2004:178) :

berbeda memerlukan aktivitas

1.

Berjangka panjang, manajemen

yang berbeda. Aktivitas yang

biaya strategic merupakan usaha

berbeda

jangka panjang yang membentuk

yang

kultur organisasi agar penurunan

Daerah

biaya

strategi yang memerlukan biaya

2.

menjadi

budaya

yang

menyebabkan
berbeda.

biaya

Pemerintah

hendaknya

memilih

mampu bertahan lama.

terendah untuk mencapai tujuan

Berdasarkan kultur perbaikan

Pemerintah Daerah.

berkelanjutan

(continuous

b.

Pengurangan

Aktivitas,

improvement) dan berfokus pada

Pengurangan biaya dapat dicapai

pelayanan

dengan mengurangi aktivitas.

masyarakat.

Manajemen biaya strategic harus


dilandasi oleh semangat untuk
melakukan

perbaikan

secara

1. Kebijakan Belanja Hibah dan

atas

kinerja

Bansos di Provinsi Banten

Daerah

dalam

tidak didasarkan pada analisis

berkelanjutan
Pemerintah

3.

4.

II. Kesimpulan

melakukan pelayanan public.

kebutuhan

Pemerintah

ditujukan untuk menunjang

Daerah

harus

dan

bersifat pro-aktif

penyelenggaraan

Keseriusan manajemen puncak

pembangunan

(kepala

dikarenakan

daerah)

merupakan

52

tetapi

bukan

lebih

kepentingan

politis penguasa. Besarnya

Pengelolaan

kewenangan Kepala Daerah

dan

dalam menentukan penerima

memperhatikan

dana Hibah

prinsip manajemen belanja,

yang tertuang

belanja

bansos

yaitu :

32

a. Perencaan belanja

2011

Tentang

belum
prinsip-

dalam Kepmendagri Nomor


Tahun

hibah

Pedoman Pemberian Hibah

b. Pengendalian Belanja

dan Bansos yang bersumber

c. Akuntabilitas Belanja

Dari APBD, menyebabkan

d. Auditibilitas Belanja

peluang

Dengan menerapkan prinsip-

terjadinya

penyimpangan dalam alokasi

prinsip

Hibah.

belanja

2. Proporsi belanja hibah tahun

dalam

terjadi

manajemen

diharapkan
kesalahan

sasaran

2013 atas Belanja APBD

penerima

Provinsi Banten Tahun 2013

penyimpangan dalam alokasi,

sebesar

20,1%.

Proporsi

pertanggungjawaban

belanja

hibah

terhadap

jelas

Belanja

Langsung

APBD

belanja

langsung

transparan

yang
atas

bansos.

sebesar 29,6 %, Proporsi


hibah

peruntukan,

penggunaan dana hibah dan

Provinsi Banten Tahun 2013

belanja

dan

dan

tidak

4. Alternatif pemecahan untuk

terhadap

permasalahan belanja Hibah

APBD

di provinsi Banten adalah

Provinsi Banten Tahun 2013

dengan :

sebesar 107%.

a. Standar Analisa Belanja

3. Besarnya

Belanja

Hibah

atau Standard Spending

dan

Assesment (SSA) sebagai

peruntukannya tidak efesien

dasar penetuan alokasi

dan

dana untuk tiap kegiatan

berdasarkan

jumlah

efektif

karena

manajemen Belanja Hibah di


Provinsi
dilakukan

Banten
dengan

pemerintah daerah.

belum
baik.

53

b. Reformasi
Keuangan

Pengelolaan
Daerah

Mahmudi, 2010, Manajemen

dan

Keuangan Daerah,Jakarta,

Anggaran Daerah
perencanaan

Erlangga

Anggaran

Mardiasmo , 2004, Otonomi dan

Daerah harus merupakan

Manajemen Keuangan

proses yang mengakar

Daerah, Yogyakarta, Andi

(bottom up planning).

Rochmansyah, Sholeh,

c. Menerapkan manajemen
biaya

strategik

untuk

UU Nomor 32 tahun 2004 tentang

mengendalikan

Pemerintahan Daerah

pengeluaran.

Dalam

management

biaya

Keuangan Negara

dapat

Keputusan Menteri Dalam Negeri

startegik

dilakukan

UU Nomor 17 Tahun 2003 Tentang

pengurangan

Nomor 32 tahun 2011 tentang

pengeluaran apabila pos

pengelolaan Dana Hibah dan

belanja

Bansos

tersebut

tidak

efesien.

http://www.beritasatu.com/nasional/
145734-dana-hibah-provinsi-banten-

DAFTAR PUSTAKA

sebagian-besar-mengalir-ke-dinasti-

Harahap , Sofyan Syafri , 2009,

atut.html

Analisis Kritis Atas Laporan


Keuangan, Jakarta: PT.
RajaGrafindo

54