Anda di halaman 1dari 3

Aryasta, I N. 2014.

Pengaruh model problem based learning terhadap keterampilan berpikir


kritis siswa kelas X IPA SMA Negeri 1 Singaraja tahun ajaran 2013/2014.
Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Fisika. Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam. Unversitas Pendidikan Ganesha.
Diringkas oleh I Komang Indra Wibawa/1213021034
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan, pendidikan
berfungsi mengambangkan kemampuan dan membentuk watak bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa (Depdiknas, 2003). Sejalan dengan itu,
proses pembelajaran di sekolah mengarah pada optimalisasi perlibatan intelektual,
emosional, dan fisik untuk memperoleh dan memproses hasil belajarnya. Sekolah sebagai
institusi penyelenggara pendidikan memiliki tanggung jawab membantu siswanya
mengembangkan kemampuan berpikir khususnya kemampuan berpikir kritis. Namun pada
kenyataannya, masih banyak lulusan sekolah yang tidak memiliki keterampilan ini. De
Gallow (2010) menyatakan, terdapat tiga keluhan utama para pimpinan perusahaan terhadap
lulusan sarjana. Keluhan tersebut yaitu, rendahnya keterampilan menulis dan komunikasi
secara lisan, ketidakmampuan memecahkan masalah, dan kesulitan bekerja dalam tim.
Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa didukung oleh hasil penelitian Sadia, et al
(2008). Penelitian ini melibatkan 18 SMP Negeri dan 18 SMA Negeri yang tersebar pada
sembilan kabupaten/kodya di Provinsi Bali. Hasil penelitian tersebut menunjukkan
bahwapenalaran (reasoning)siswa SMA di Provinsi Bali yang mencakup keterampilan
berpikir dasar, keterampilan berpikir kritis, dan keterampilan berpikir kreatif masih tergolong
rendah. Skor rerata siswa kela IX SMP adalah 42,15 dan skor rerata siswa kelas X SMA
adalah 49,38 (dari skor standar 100). Fakta tersebut didukung oleh hasil penelitian Santyasa
et al. (2012) yang elibatkan 27 SMA Negeri di seluruh kabupaten di Bali. Hasil penelitian
tersebut menyatakan bahwa penalaran siswa SMA berada pada kategori kurang. Hal ini
dibuktikan oleh skor rata-rata siswa (M) = 40,51 (pada skala 100). Fakta ini cukup
menunjukkan bahwa pembalajaran di sekolah cenderung hanya melibatkan kemampuan
berpikir tingkat dasar.
Rendahnya penalaran siswa khususnya kemampuan berpikir kritis diduga karena
pembelajaran di sekolah belum memberdayakan potensi diri siswa secara optimal. Dugaan

ini didukung oleh analisis respon 54 orang guru terhadap angket yang disebarkan, bahwa
model-model pembelajaran yang cenderung ditetapkan oleh guru kurang memberdayakan
siswanya (Santyasa et al., 2012). Model-model tersebut adalah 1) model pemberian informasi
kepada siswa, 2) model ceramah klasiskal, 3) model ceramah yang diikuti tanya jawab, 4)
model pemberian tugas di rumah, 5) model demonstrasi oleh guru, 6) model simulasi
computer yang didemonstrasikan oleh guru. Praktik-praktik tersebut cenderung berpusat pada
guru tersebut berpotensi menghambat pencapaian target kurikulum.
Meningkatkan kemampuan berpikir kritis tidak terlepas dari upaya peningkatan kualitas
pembelajaran di sekolah. Salah satu upaya peningkatan kualitas pembelajaran adalah
mengubah paradigm pembelajaran. Pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada guru
beralih kepada siswa; metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori berganti ke
partisipatori; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi
kontekstual. Semua perubahan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki mutu pendidikan,
baik dari segi proses maupun hasil. Oleh karena itu, perlu adanya rancangan pembelajaran
yang menerapkan model-model pembelajaran inovatif sehingga mampu menggerakkan siswa
menuju kemandirian dan belajar sepanjang hayat.
Penerapan model-model SCL (Student Centered Learning) secara optimal dalam
pembelajaran dapat meningkatkan penalaran siswa (Santyasa, et al., 2012). Hal ini
disebabkan karena model-model SCL secara total memberdayakan potensi peserta didik
untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan berpikir. Kemampuan tersebut termasuk
mencakup dimensi basic thinking, critical thinking, dan creative thinking. Problem Based
Learning adalah model pembelajaran aktif yang dapat menyelesaikan permasalahan yang
telah dipaparkan sebelumnya. Kesuksesan Problem Based Learning ini tergantung pada
kemampuan guru dalam menghadapkan siswa-siswa dengan masalah realitis. Penelitian
model Problem Based Learning terhadap keterampilan berpikir kritis dilakukan untuk
mengetahui keefektifan dari model Problem Based Learning di dalam meningkatkan
keterampilan berpikir kritis siswa.
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen kuasi yang bertujuan menguji pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat. Quasi Experiment merupakan penelitian yang masih
memungkinkan variabel-variabel lain berpengaruh terhadap hubungan antara variabel bebas
dan variabel terikat. Populasi dalam penelitian siswa kelas X IPA SMA Negeri 1 Singaraja

Tahun Ajaran 2013/2014. Populasi terdistribusi dalam 6 kelas yaitu kelas X IPA 3, X IPA 4,
IPA 5, XIPA 6, X IPA 7, dan X IPA 8. Penelitian ini menggunakan desain pretest-posttest
nonequivalent control group design. Data-data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah
hasil tes keterampilan berpikir kritis awal yang diperoleh pretest dan hasil tes keterampilan
berpikir kritis siswa yang diperoleh melalui posttest.
Data penelitian harus memenuhi syarat analisis yang meliputi uji normalitas sebaran data,
uji homogenitas varians, uji linieritas, sebelum dilakukan pengujian hipotesis. Uji normalitas
sebaran data menggunakan statistic Kolmogorov Test dan Shapiro-Wilk Test, uji homogenitas
varians menggunakan statistik Levene, uji linieritas menggunakan bantuan SPSS, yaitu test
of linierity. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji F melalui kovarian satu jalur.
Taraf signifikansi yang digunakan dalam uji ini sebesar 0,05. Uji ini dianalisis dengan
bantuan program SPSS 16.0 PC for Windows.
Berdasarkan paparan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa

Komentar :
Alasan saya merangkum skripsi ini karena dalam skripsi ini membahas tentang variabel
(pemahaman konsep) yang mampu memberikan sumbangan pemikiran bagi penelitian

yang akan saya lakukan.


Adapun kelebihan skripsi yang saya rangkum ini adalah, mampu memberikan gambaran
variabel yang akan saya gunakan dan penelitian ini memberikan hasil yang nyata.