Anda di halaman 1dari 17

Makalah Joint Venture Sony Ericsson

TUGAS MANDIRI
Joint Venture Dalam Bisnis Global
Mata Kuliah: Pengantar Manajemen

Nama

: Oktavia Darucahya Nugroho

NIM

: 140410223

Kode Kelas

: 141-MN048-M10

Dosen

: Sri Afridola, S.E., M.M.

UNIVERSITAS PUTERA BATAM


2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya, serta junjungan nabi besar kita Nabi Muhammad SAW, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas ini dengan baik. Adapun judul penulisan Makalah, yang penulis sajikan
sebagai berikut :
Joint Venture Dalam Bisnis Global
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai syarat pemenuhan tugas mata
kuliahPengantar Manajemen program S1 Tenik Industri. Sebagai bahan penulisan diambil
berdasarkan beberapa sumber literatur yang mendukung penulisan ini. Penulis menyadari bahwa
tanpa bimbingan dan dorongan dari semua pihak, maka penulisan makalah ini tidak akan lancar
dan selesai pada waktunya. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini, izinkanlah penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Sri Afridola, S.E., M.M. yang telah memberi
bimbingan berupa materi, orang tua, serta teman teman yang telah memberi saran, dan semua
pihak yang terlalu banyak untuk disebut satu per satu sehingga penulis dapat menyelesaikannya.
Akhir kata penulis mohon saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan
penulisan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca
terutama bagi penulis.

Batam, 22 November 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1. Latar Belakang Masalah....................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah.............................................................. 1
1.3. Tujuan Penulisan................................................................... 2
1.4. Manfaat Penulisan................................................................. 2
BAB 2 DASAR TEORI.............................................................................. 3
2.1. Definisi Joint Venture............................................................ 3
2.2. Anggota Joint Venture.......................................................... 4
2.3. Ciri ciri Joint Venture........................................................ 4
2.4. Jenis jenis Perjanjian Joint Venture................................. 5
2.5. Pembagian laba Joint Venture ............................................ 5
2.6. Metode Akuntansi Untuk Joint Venture............................. 6
2.7. Joint Venture yang Belum Selesai........................................ 7
BAB 3 PEMBAHASAN............................................................................ 10
3.1. Profil Perusahaan Sony Ericsson......................................... 10
3.2. Latar Belakang Terbentuknya Sony Ericsson.................... 11
3.3. Perkembangan Sony Ericsson.............................................. 13
3.4. Akhir dari Perjalanan Sony Ericsson.................................. 15
BAB 4 PENUTUP..................................................................................... 17
4.1. Kesimpulan........................................................................... 17
4.2. Saran..................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 19

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Masalah


Dalam era globalisasi sekarang ini, bisnis ekonomi pun juga ikut terpengaruh. Batasan
antarnegara menjadi semakin kabur pada saat teknologi komunikasi semakin maju. Hal ini
membuat semakin ketatnya persaingan dalam dunia bisnis yang terjadi antar perusahaan
perusahaan besar. Akibatnya, perusahaan perusahaan kecil akan tersisih dari dunia bisnis dan
terancam bangkrut. Untuk menghindari hal itu, maka pelaku bisnis harus melakukan Strategi
Bisnis Global. Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai Strategi Bisnis Global,
yang dikhususkan kepada Joint Venture.
Dalam hal ini penulis telah mengambil dasar teori dari sumber buku dan internet untuk
menambah penjelasan dan membawa kita kepada sebuah pemahaman sebuah strategi dalam
bisnis global khususnya joint venture.
Adapun dalam makalah ini akan membawa kita pada contoh kasus dari salah satu
perusahaan besar yang menerapkan serta memberi pemahaman tentang joint venture secara
singkat tetapi mudah dipahami yang akan penulis bahas di bab 3 Pembahasan. Serta menjelaskan
perjalanan perusahaan yang telah melakukan joint venture tersebut.

1.2.

Perumusan Masalah
Pada materi ini, penulis akan membahas mengenai sebagai berikut :
Apa yang dimaksud joint venture ?
Siapa dan apa ciri ciri joint venture ?
Apa saja macam perjanjian joint venture ?
Bagaimana pembagian laba dalam perjanjian joint venture ?
Jelaskan metode akuntansinya ?
Apa faktor yang menyebabkan perusahaan melakukan joint venture ?
Bagaimana perkembangan perusahaan setelah melakukan joint venture berdasarkan contoh
kasus ?

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

Memahami apa yang dimaksud joint venture.

Mengerti tentang anggota dan ciri ciri joint venture.

Mampu menjelaskan dan memahami macam perjanjian joint venture.

Memahami pembagian laba dalam joint venture.

Mampu menjelaskan metode akuntansi joint venture.

Memahami faktor yang menyebabkan perusahaan melakukan joint venture.

Mampu mengetahui perkembangan perusahaan setelah melakukan joint venture berdasarkan


contoh kasus.

1.4.

Manfaat Penulisan
Penulis berharap hasil dari penulisan makalah ini dapat memberi manfaat kepada pembaca untuk
:
1. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai joint venture dalam strategi
bisnis global.
2. Sebagai acuan untuk persiapan diri bagi pembaca untuk mengahadapi bisnis
global jika suatu saat nanti menjadi pengusaha.
3. Sebagai strategi bertahan dari ketatnya persaingan bisnis dalam era globalisasi.

BAB 2
DASAR TEORI
2.1. Definisi Joint Venture
Joint venture adalah suatu unit terpisah yang melibatkan dua atau lebih peserta aktif
sebagai mitra. Kadang - kadang juga disebut sebagai aliansi strategis, yang meliputi berbagai
mitra, termasuk organisasi nirlaba, sektor bisnis dan umum. Dan berikut ini adalah
beberapa definisi joint venture menurut para ahli yang telah penulis ambil dari beberapa sumber
buku dan internet. Antara lain :
Menurut Peter Mahmud, joint venture merupakan suatu kontrak antara dua perusahaan untuk
membentuk satu perusahaan baru, perusahaan baru inilah yang disebut dengan perusahaan joint
venture.
Menurut Erman Rajagukguk, joint venture ialah suatu kerja sama antara pemilik modal asing
dengan pemilik modal nasional berdasarkan perjanjian, jadi pengertian tersebut lebih condong
pada joint venture yang bersifat internasional.
Berdasarkan pengertian dari tokoh di atas maka dapat kita ketahui unsur - unsur yang terdapat
dalam joint venture ialah :
1. Kerjasama dua pihak atau lebih.
Joint venture merupakan kerjasama dua pihak atau lebih yang sepakat untuk membentuk
perusahaan baru dengan nama baru.
2. Ada modal.
Dalam joint venture masing-masing pihak memberikan modal untuk disetor dan dipakai bersama
untuk mengoperasikan perusahaan baru.

3. Ada surat perjanjian.


Sebagai bentuk adanya kerjasama antara dua belah pihak, maka dalam joint venture harus ada
surat perjanjian yang berfungsi untuk mengikat kedua belah pihak tersebut. Dalam joint venture
karena melibatkan orang lain, maka perlu diperhatikan dan diteliti apakah pihak yang akan diajak
kerjasama tersebut adalah pihak yang bisa dipertanggungjawabkan.
2.2. Anggota Joint Venture
Para anggota (pihak yang menyelenggarakan ) joint venture sering disebut dengan istilah
venture atau partner atau sekutu. Anggota joint venture dapat berupa perseorangan, persekutuan,
perseroan terbatas dan sebagainya. Pada umumnya semua partner ikut mengelola jalannya
perusahaan. Salah satu di antara para sekutu tersebut bertindak sebagai manajernya, yang disebut
managing partner.

2.3. Ciri - ciri Joint Venture


Perusahaan joint venture memiliki ciri ciri :
1. Merupakan perusahaan baru yang secara bersama-sama didirikan oleh beberapa perusahaan lain.
2. Modalnya berupa saham yang disediakan oleh perusahaan - perusahaan pendiri dengan
perbandingan tertentu.
3. Kekuasaan dan hak suara dalam joint venture didasarkan pada banyaknya saham yang ditanam
oleh masing-masing perusahaan pendiri.
4. Perusahaan - perusahaan pendiri joint venture tetap memiliki eksistensi dan kebebasan masing masing.
5. Risiko ditanggung bersama - sama antara masing - masing partner melalui perusahaan perusahaan berlainan.

2.4. Jenis jenis Perjanjian Joint Venture


Ada 2 jenis perjanjian joint venture antara lain :
Joint venture domestik
Joint venture domestik didirikan antara perusahaan yang terdapat di dalam negeri.
Joint venture Internasional
Joint venture internasional ini didirikan di Indonesia oleh dua perusahaan dimana salah satunya
perusahaan asing.
2.5. Pembagian laba Joint Venture
Seperti halanya persekutuan, maka laba joint venture juga hak para anggota. Oleh karana
itu, laba joint venture akan dibagikan kepada para sekutu. Cara (metode) pembagian labanya
juga akan diatur di dalam perjanjian. Metode pembagian laba yang dipakai juga sama dengan
metode pembagian laba persekutuan, yaitu:
Laba dibagi sama,
Laba di bagi dengan ratio tertentu,
Laba dibagi sesuai dengan ratio modal, yaitu:
1. Modal mula-mula,
2. Modal awal periode,
3. Modal akhir periode, dan
4. Modal rata-rata.
Laba dibagi dengan memperhitungkan bunga modal dan sisanya dibagi menurut cara a,b
atau c.
Laba dibagi dengan memperhitungkan gaji dan bonus dan sisanya dibagi menurut cara
a,b atau c.

Laba dibagi dengan memperhitungkan bunga modal, gaji serta bonus dan sisanya dibagi
menurut cara a,b atau c.

2.6. Metode Akuntansi Untuk Joint Venture


Pada prinsipnya ada dua metode :
1. Buku diselenggarakan terpisah dari pembukuan masing-masing anggota.
Pembukuan masing-masing anggota diselenggarakan secara terpisah rekening pembukuan di
dalam joint venture meliputi aktiva, hutang, pendapatan, biaya - biaya dan modal yang
diselenggarakan untuk tiap anggota.
2. Rekening - rekening untuk setiap transaksi dalam joint venture ada dan dicatat
didalam buku masing-masing anggota, ( tidak diselenggarakan pembukuan secara
terpisah terhadap aktiva joint venture atau digabung ).
Masing-masing anggota harus mempunyai rekening joint venture pada buku-bukunya, meskipun
masing-masing patner mecatat transaksi-transaksi yang terjadi pada buku managing patner tetap
harus dibentuk rekening joint venture. Misal kas JV, piutang JV, Hutang JV, dll.
Dalam metode ini, joint venture tidak menyelenggarakan akuntansi secara tersendiri. Akuntansi
terhadap joint venture diselenggarakan oleh masing-masing sekutu (partner). Dalam hal ini,
akuntansinya dapat dibagi menjadi dua yaitu :
Managing Partner
Pada dasarnya managing partner akan menyelenggarakan rekening secara lengkap, yaitu
rekening - rekening aktiva, utang, modal, pendapatan, dan biaya. Oleh karena akuntansi tersebut
dicampur dengan akuntansi perusahaannya sendiri, maka untuk membedakannya setiap rekening
joint venture diberi tanda tersendiri, yaitu dengan penambahan istilah joint venture pada setiap
rekening. Rekening-rekening yang diselenggarakan managing partner meliputi :
a)
b)
c)
d)

Rekening Aktiva - Joint Venture


Rekening Utang - Joint Venture
Rekening sekutu atau partner
Rekening Joint Venture
Non - Managing Partner
Non - managing partner hanya menyelenggarakan 2 macam rekening, yaitu :
a) Rekening Joint Venture
b) Rekening Sekutu (Partner)
Rekening Managing Partner
Berikut mekanisme pendebitan dan pengkreditan rekening ini:
- Pendebitan
Pendebitan dilakkan apabila terjadi transaksi yang berakibat:
Aktiva joint ventre bertambah
Utang joint venture berkurang dan

Modal atau managing partner berkurang


-

Pengkreditan
Pengkreditan dilakukan apabila terjadi transaksi yang berakibat:
Aktiva joint venture berkurang
Utang joint venture bertambah dan
Modal atau managing partner bertambah
Rekening Sekutu non - Managing Partner yang lain.
2.7. Joint Venture yang Belum Selesai
Dalam hubungannya dengan joint venture yang belum selesai tersebut timbul masalah
akuntansi, yaitu mengenai pengakuan laba atau rugi joint venture yaitu apakah perlu mengakui
rugi - laba atas joint venture yang belum selesai. Perlu tidaknya mengakui rugi - laba joint
venture yang belum selesai harus memperhatikan prinsip-prinsip yang mendasari pengakuan rugi
laba ( pendapatan dan biaya ).
Dalam hal anggota joint venture mengakui laba atas joint venture yang belum selesai ini
menimbulkan 2 masalah, yaitu penentuan besarnya laba atau rugi yang diakui dan pencatatannya
akan tergantung pada metode akuntansi yang digunakan.

Metode Akuntansi Terpisah


Apabila joint venture menyelenggarakan akuntansi dengan metode ini maka besarnya laba
adalah selisih antara pendapatan dan biaya. Apabila diperlukan maka untuk menghitung laba atau
rugi tersebut diperlukan penyesuaian. Laba atau rugi tersebut akan dibagi sesuai dengan rasio
atau metode pembagian laba yang disepakati. Dengan metode ini maka masing-masing sekutu
hanya akan mencatat bagian laba atau rugi yang menjadi haknya.

Metode Akuntansi Tidak Terpisah

Apabila joint venture menggunakan metode akuntansi tidak terpisah maka besarnya laba / rugi
dapat diketahui dari saldo rekening joint venture, yaitu :
Laba, apabila rekening Joint venture bersaldo kredit dan
Rugi, apabila rekening Joint venture bersaldo debit.
Seperti yang dijelaskan bahwa joint Venture hanya bisa dihitung laba / ruginya apabila telah
berakhir usaha yang menjadi obyeknya maka dalam pembukuan ini mengalami hal -hal yang
perlu dilakukan karena pembukuan secara tidak terpisah sedikit berbeda dari pembukuan secara
terpisah, yang membedakan adalah hak - hak para anggota di dalam joint venture dapat
ditentukan pada setiap saat yang menyangkut aktivitas joint venture.
Hak-hak para anggota adalah selisih antara jumlah komutatif semua rekening yang
mempunyai saldo debit dengan jumlah komulatif semua rekening yang mempunyai saldo kredit
dari pembukuan yang diselenggarakan oleh anggota yang bersangkutan.

Rekening - rekening dengan saldo debet menunjukkan aktiva joint venture (termasuk biaya
yang dibayar dimuka). Sedangkan rekening -rekening yang mempunyai saldo kredit adalah
rekening yang menunjukkan kewajiban - kewajiban joint venture kepada pihak ketiga dan hak hak anggota di dalam joint venture.

BAB 3
PEMBAHASAN
Berikut ini adalah contoh kasus perusahaan besar yang memiliki perbedaan budaya,
bidang pemasaran dan wilayah pemasaran yang melakukan joint venture.
3.1.

Profil Perusahaan Sony Ericsson


Nama Perusahaan
: Sony Ericsson Mobile Comunication AB
Jenis Perusahaan
: Joint Venture
Berdiri
: 1 Oktober 2001 16 Februari 2012
Markas besar
: Hammersmith, London, Inggris
Member
: 1. Sony Corporation (50%)
2. Ericsson AB (50%)
Produk
: Ponsel
Perangkat mobile musik
Wireless sistem
Wireless perangkat suara
Hi-tech aksesoris
Perangkat data nirkabel
Jumlah karyawan
: 7.500 ( Desember 2010 )
Sony Ericsson (nama lengkap : Sony Ericsson Mobile Communications AB) adalah
perusahaan pembuat telepon genggam yang merupakan perusahaan yang didirikan pada 1
Oktober 2001 hasil gabungan dari dua perusahaan besar dalam dua bidang yang berbeda antara
perusahaan Jepang, Sony (elektronik) dan perusahaan Swedia, Ericsson (telekomunikasi selular).
Perusahaan induk mereka berada di Hammersmith, London, Inggris dan juga memiliki tim riset
dan pengembangan di Swedia, Jepang, Cina, Jerman, Amerika Serikat, India, Pakistan dan
Inggris.

3.2.

Latar Belakang Terbentuknya Sony Ericsson


Ericsson adalah salah satu perusahaan penyedia telekomunikasi terkemuka dan sistem
komunikasi data, dan layanan terkait yang meliputi berbagai teknologi, termasuk khususnya
jaringan seluler terbesar di Swedia. Awalnya, Ericsson adalah perusahaan yang didirikan oleh
Lars Magnus Ericsson sebagai toko perbaikan telegram di Swedia pada tahun 1876.
Sedangkan Sony adalah perusahaan yang berdiri pada 7 Mei 1946 dengan nama
Perusahaan Telekomunikasi Tokyo dengan sekitar 20 karyawan. Seiring dengan berkembangnya
Sony sebagai perusahaan internasional yang besar, ia membeli perusahaan lain yang mempunyai

sejarah yang lebih lama termasuk Columbia Records (perusahaan rekaman tertua yang masih
ada, didirikan pada tahun 1888). Sony juga memproduksi ponsel.
Pada tahun 2000, beberapa masalah besar sedang dialami kedua perusahaan tersebut.
Untuk mengurangi kerugian, Ericsson berfikir untuk merger dengan perusahaan asia yang dapat
menghasilkan biaya yang lebih rendah untuk produksi handset. Spekulasi ini dimulai dari
kemungkinan penjualan divisi ponsel Ericsson namun presiden director mereka mengatakan
bahwa ia tidak memiliki rencana untuk melakukan itu. "Mobile phones benar - benar sebuah
bisnis inti untuk Ericsson. Kami tidak akan berhasil (dalam jaringan) jika kami tidak memiliki
telepon," katanya. Dan akhirnya terpilihlah Sony untuk menjadi joint partner kerjanya.
Berikut ini adalah alasan utama perusahaan melakukan joint venture :
1. Kerugian yang sangat besar dialami oleh Ericsson
Ericsson memutuskan untuk membuat chips ponsel mereka pada satu sumber, Philips Facility di
New Mexico. Bulan Maret 2000, kebakaran pada pabrik Philips telah mencemari fasilitas yang
steril. Keadaan tersebut membuat produksi ponsel Ericsson dan Nokia (yang juga merupakan
konsumen dari fasilitas tersebut) menjadi tertunda. Ketika menjadi jelas bahwa produksi akan
benar - benar terpaksa dikompromikan untuk beberapa bulan, Ericsson telah dihadapi masalah
serius. Tetapi, Ericsson posisinya jauh lebih buruk karena kedua perusahaan ini tengah
memproduksi ponsel baru dengan tanggal peluncuran yang semakin dekat. Jelas, akibat
kebakaran tersebut, Ericsson menderita kerugian yang sangat besar.
2. Keterbatasan kemampuan untuk memproduksi barang
Ketidakmampuan Ericsson dalam memproduksi ponsel murah seperti punya Nokia turut
memperparah keadaan ini. Berbeda dengan saingannya, yaitu Nokia. Masalah Nokia tidak terlalu
serius karena telah membangun sumber alternatif produksi chip mereka.
3. Persaingan bisnis yang semakin ketat
Toshiba dan Siemens talah mengumumkan rencana melakukan kerjasama pada handset 3G untuk
jaringan selular pada bulan November 2000. Tentunya hal ini akan merepotkan Ericsson karena
disamping harus bersaing dengan Nokia, Ericsson juga harus waspada terhadap Toshiba dan
Siemens mengenai strategi mereka setelah melakukan kerjasama. Sementara Ericsson sedang
berada dalam kondisi terburuknya.
4. Kecilnya penjualan yang dialami Sony
Sony yang bermain bisnis di pasar ponsel di seluruh dunia dengan persentase penjualan kurang
dari 1 persen pada tahun 2000, juga mengalami kerugian pada kawasan ini tetapi memiliki
keinginan untuk lebih fokus pada pasar dunia.
Dan akhirnya pada bulan April 2001, Sony mengkonfirmasikan bahwa ia berbicara
dengan Ericsson untuk kemungkinan kerjasama dalam bisnis handset. Kemudian pada Agustus
2001, dua perusahaan telah menyelesaikan syarat - syarat penggabungan yang diumumkan pada
bulan April. Sony Ericsson memiliki tenaga kerja awal 3.500 karyawan.

3.3.

Perkembangan Sony Ericsson


Setelah melakukan joint venture dengan Sony, Ericsson mengalami perkembangan sedikit
demi sedikit yang sempat juga mengalami masalah pada awal kerjasama mereka. Dan
perkembangan tersebut akan dijelaskan pada uraian berikut :
Pada bulan Agustus Sony Ericsson mengalami down membuat Ericsson berpikir ulang
hubungan kemitraan mereka dengan Sony. Akan tetapi pada Januari 2003, kedua
perusahaan ini mengemukakan bahwa mereka akan lebih berkonsentrasi memajukan
Sony Ericsson.
Target peraihan keuntungan pertama tahun 2002 hingga 2003 untuk paruh kedua 2003
telah tercapai dengan merilis ponsel dengan kemampuan fotografi digital terintegrasi dan
multimedia P800.
Bulan Juni 2003, Sony Ericsson menyatakan bahwa akan menghentikan cellphones
CDMA untuk pasar Amerika dan fokus pada GSM. Ia juga slashed pekerjaan dalam
penelitian dan pengembangan di Amerika dan Jerman.
Setelah sukses dengan telepon P800, Sony Ericsson memperkenal kan P900 di acara
serentak di Las Vegas dan Beijing pada bulan Oktober 2003.
Pada tahun 2004, pasar saham Sony Ericsson meningkat dari 5,6 persen pada kuartal
pertama hingga 7 persen di kuartal kedua. Pada bulan Juli 2004, Sony Ericsson
memperkenalkan P910 communicator dengan thumb board terintegrasi, dukungan e-mail,
slot memori tambahan dan peningkatan kinerja layar.
Bulan Februari 2005, Presiden Sony Ericsson Miles Flint mengumumkan di 3GSM
World Congress bahwa Sony Ericsson akan menyingkap ponsel pemutar musik digital
pada bulan berikutnya dengan istilah WALKMAN dan mendukung banyak format file
musik.
Pada tanggal 1 Maret 2005, Sony Ericsson memperkenalkan K750i dengan kamera 2
megapiksel, W800i sebagai ponsel WALKMAN pertama yang sangat sukses di pasaran
dan 2 posel baru lainnya.
Pada 1 Mei 2005, Sony Ericsson setuju untuk menjadi sponsor global WTA Tour dengan
kontrak senilai 88 juta dolar AS lebih dari 6 tahun. The Women's Pro Tennis diubah
namanya menjadi Sony Ericsson WTA Tour.
Pada 7 Juni, Sony Ericsson mengumumkan sponsor di India Barat, Chris Gayle dan
Ramnaresh Sarwan.
Pada bulan Oktober 2005, Sony Ericsson merilis ponsel pertama bersistem operasi
Symbian UIQ 3 yaitu P990.
Pada tanggal 2 Januari 2007, Sony Ericsson mengumumkan di Stockholm yang akan
memiliki beberapa ponsel yang diproduksi di India. Ia mengumumkan bahwa dua mitra
outsourcing, Lextronic dan Foxconn akan menghasilkan 10 juta per tahun cellphones
sampai tahun 2009. CEO Miles Flint mengumumkan di konferensi pers yang diadakan

3.4.

dengan India menteri komunikasi Dayanidhi Maran di Chennai India yang merupakan
salah satu pasar dengan pertumbuhan paling cepat di dunia dan prioritas untuk pasar
Sony Ericsson dengan 105 juta pengguna telepon selular GSM.
Pada tanggal 15 Oktober 2007, Sony Ericsson mengumumkan pada Symbian Smartphone
Show bahwa mereka akan menjual setengah dari UIQ berbagi untuk Motorola.
Tahun 2007 diumukan CyberShot pertama kamera 5 megapixel Sony Ericsson, K850,
yang sangat sukses di pasaran. Mereka juga mengumumkan C905 yang akan diluncurkan
kuartal 4 2008. C905 sangat penting karena merupakan ponsel 8 megapiksel pertama di
dunia yang diumukan.

Akhir dari Perjalanan Sony Ericsson


Sony membeli 50 persen saham yang dimiliki Ericsson dalam usaha patungan Sony
Ericsson tanggal 16 Februari 2012. Lewat pembelian tersebut, Sony resmi "bercerai" dengan
Ericsson dalam bidang pengembangan ponsel.
Meski berpisah, "perceraian" ini sepertinya membuka jalan bagi Sony untuk lebih fokus
mengembangkan produknya. Beberapa petinggi Sony bahkan menganggap perpisahan ini suatu
kesempatan yang menguntungkan. Hal ini terlihat dari komentar -komentar para petinggi Sony
dalam rangkaian acara Mobile World Congress di Barcelona.
Pada konferensi pers hari Minggu (26/2/2012), Executive Deputy President, President
dan CEO Sony Corporation yang baru, Kazuo Hirai, menekankan bahwa pesan yang dia bawa ke
Barcelona adalah bahwa Sony kembali ke bisnis telepon. Hirai mengatakan bahwa Sony Mobile
Communications akan diintegrasikan dalam Sony secara keseluruhan.
"Sony Mobile Communications perlu berjalan bersama Sony Corp. Meski ini barangkali
sebuah entitas perusahaan yang terpisah, namun dalam operasi dan kerja sama akan dilakukan
secara erat dan terbuka sebagai satu organisasi," katanya.
Sementara, pada kesempatan yang sama, Presiden dan CEO Sony Mobile
Communications, Bert Nordberg, menyambut para tamu dengan mengatakan bahwa ini adalah
pertama kalinya konferensi pers sebagai Sony Mobile Communications.
"Akuisisi dari Sony Ericsson telah selesai 10 hari yang lalu, dan saat ini kami merupakan
100 persen bagian dari Sony, ujarnya. "Dan malam ini kami akan memulai halaman baru untuk
perusahaan kami yang akan menginspirasi konsumen dan menguntungkan pelanggan kami di
seluruh dunia."
Baik Hirai maupun Nordberg sepakat bahwa Sony Ericsson mengalami kesulitan karena
merupakan mitra yang setara. Kondisi itu memperlambat pengambilan keputusan dan berujung
pada lambatnya produk sampai ke pasar.
"50:50 terbukti bermasalah. Saya tidak akan mengambil pekerjaan 50:50 lagi," kata
Nordberg.

Yang menjadi prioritas saat ini, menurut Hirai adalah memiliki portofolio produk dan
bekerja sama dengan operator untuk memastikan produk Sony "sampai ke tangan pengguna
secepat mungkin."
Kembalinya Sony Mobile ke pangkuan Sony Corp juga disambut layaknya kembalinya
seorang anak yang hilang.
Dalam pidato Kazuo Hirai mengatakan, "Seperti sudah disampaikan oleh Bert, bahwa per
tanggal 15 Februari, Sony Mobile Communications telah menjadi 100 persen anak perusahaan
dari Sony dan saya ingin menyambut mereka sebagai pemain penting dalam tim One Sony.
Dalam produk-produk baru Sony Mobile yang diluncurkan, yakni Xperia seri S, P, dan U,
nama yang tertera adalah Sony make.believe. Namun logo bulatan serupa yin dan yang yang
dulu dipakai Sony Ericsson masih ditemukan di bagian belakang ponsel. Meski begitu, beberapa
sumber menyebutkan bahwa logo itu mungkin tidak akan dipakai lagi di masa mendatang.
( sumber : tekno.kompas.com )

BAB 4
PENUTUP
4.1.
1.
2.
3.
4.
5.

4.2.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah :
Joint venture Sony Ericsson adalah suatu unit terpisah yang melibatkan dua peserta aktif sebagai
mitra yaitu Sony dengan Ericsson.
Setelah melakukan joint venture, perusahaan tersebut mengalami peningkatan produksi dan
pendapatannya.
Selain pembagian saham 50 : 50, penulis tidak dapat menemukan dari sumber manapun
mengenai metode akuntansi yang mereka gunakan.
Karena pembagian saham mereka 50 : 50, maka mereka cenderung lambat dalam mengambil
keputusan.
Jika joint venture mengalami masalah, salah satu pihak bisa melakukan akuisisi sperti yang
dilakukan Sony terhadap Ericsson dalam bisnis ponsel.

Saran
Ketika perusahaan melakukan kerjasama joint venture, perlu memperhatikan beberapa
masalah yang timbul. Diantaranya adalah :
1. Perbedaan bahasa yang dapat mengganggu kelancaran komunikasi antara pihak lokal dengan
pihak asing.
Maka dari itu perlu adanya seseorang yang menguasai bahasa asing atau bahasa internasional
demi menjaga kelancaran komunikasi dan mencegah terjadinya kesalah pahaman dari masing
masing pihak.
2. Perbedaan manajemen perusahaan dalam mengatur dan menjalankan perusahaan masing
masing.
Dalam hal ini, setiap anggota joint venture pasti ingin menerapkan manajemen masing masing
pada perusahaan joint venture tersebut. Sehingga perlu adanya diskusi yang benar benar
matang supaya tidak menimbulkan masalah yang mengakibatkan gagalnya joint venture.
3. Pembagian saham yang akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan
Maksud dari point ini adalah ketika perusahaan memiliki saham yang sama besar, pengambilan
keputusan untuk menyelesaikan masalah harus dilakukan bersama sama. Sehingga
pengambilan keputusan menjadi lambat. Berdasarkan hal ini beberapa perusahaan membaginya
dengan tidak sama besar dan disesuaikan dengan kemampuan setiap perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
Aang, 2014. Joint Venture. (http://aangkuro.blogspot.in/2014/01/jointventure.html?m=1) diakses pada 22 November 2014 pukul 22.15.
Kira, Ackmad, 2009. Sejarah Sony Ericsson.
(http://kiratheone.blogspot.com/2010/01/sejarah-sony-ericsson.html) diakses
pada 22 November 2014 pukul 22.15.
Anggun, 2012. Kerjasama, Penggabungan dan Ekspansi/Metode Ekspansi Bisnis.
(http://dewianggun49.blogspot.in/2012/10/kerjasama-penggabungandan.html?m=1) diakses pada 22 November 2014 pukul 22.15.
Nisa, Khairun, 2014. Akuntansi Joint Venture.
(http://knnisaa.blogspot.in/2014/03/akuntansi-joint-venture.html?m=1) diakses
pada 22 November 2014 pukul 22.20.
Cristianto, Awan, 2010. Asal Usul Sejarah Ponsel / Handphone Ericsson / Sony
Ericsson. (http://asal-usul-motivasi.blogspot.com/2010/11/asal-usul-sejarah-ponselhandphone.html?m=1) diakses pada 22 November 2014 pukul 22.45.

Pramudya, Kelik, 2009. Joint Venture. (http://click-gtg.blogspot.com/2009/04/jointventure.html) diakses pada 24 November 2014 pukul 22.30.

W, Hari, Laksono. 2014. Perpisahan yang Membawa Peluang,


(http://tekno.kompas.com/read/2012/02/29/0653493/perpisahan.yang.memb
awa.peluang) diakses pada 24 November 2014 pukul 22.30.

Diposkan oleh Ndaru Cahya di 07.01