Anda di halaman 1dari 4

HATE SPEECH terhadap agama dan keyakinan sebagai kejahatan

terhadap HAM
( tanggapan atas rencana tema Tesis Pertanggung jawaban Pidana bagi pelaku hate
speech di Media Sosial dalam perspektif HAM )
Oleh : Ahmad Naufal Kawakib SH

Kata kunci : kebencian(hatred), diskriminasi, kekerasan, permusuhan.

Pembicaraan tentang hate speech cukup ramai beberapa waktu terakhir ini, salah
satunya di picu oleh munculnya Surat Edaaran (SE) Kepala Kepolisian Republik Indonesia
tentang Hate Speech. SE Kapolri tersebut di peruntukkan internal kepolisian untuk menindak
tegas setiap perbuatan yang di kategorikan sebaga hate Speech. Ragam pro dan kontra
dalam pelbagai perpektif atas munculnya SE Kapolri tersebut.
Lepas dari persoalan pro dan kontra atas terbitnya SE Kapolri (baca: SE hate
speech)tersebut , pengungkapan rasa kebencian atau lazim di sebut hate speech menjadi
persoalan tersendiri dalam kehidupan social di Masyarakat. Suburnya penggunaan media
social

sebagai

media

komunikasi

massa

memudahkan

bagi

siapapun

untuk

mengungkapkan perasaannya atas kesukaan maupun kebenciannya atas hal-hal tertentu,


pengungkapan perasaan tersebut menjadi persoalan hukum ketika ungkapan rasa yang di
sampaikan dan atau di tuliskan sebagai ungkapan rasa kebencian (hate speech) terhadap
seseorang, kelompok atau golongan tertentu. timbulnya kerugian baik secara moril maupun
materil bagi obyek maupun sasaran dari perilaku hate speech menjadi dasar dari kajian atas
perlunya regulasi yang khusus menangani persoalan tersebut.
Kebebasan menyampaikan pendapat di jamin oleh undang-undang, bahkan dalam
konstitusi UUD 1945 pasal 28e (3) menyebutkan bahwa setiap orang berhak berserikat,
berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Kebebasan yang diamanatkan oleh UUD 1945
juga di berikan kepada warga negara Indonesia dalam hal beragama dan berkeyakinan
sebagaimana di sebutkan dalam pasal 28e ayat (1) tersebutkan bahwa Setiap orang bebas
memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Dan pasal 28e ayat (2) yang
menyatakan Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan
pikiran, dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.. dapat di maknai bahwa kebebasan
berpendapat terutama pendapat mengenai basis agama dan keyakinan seseorang,
kelompok maupun golongan di batasi oleh kebebasan lain yakni kebebasan beragama dan
berkeyakinan.

Dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM), kebebasan menganut suatu keyakinan,
kepercayan, agama, dan kebebasan berpendapat merupakan hak yang tidak dapat di batasi
dalam situasi apapun dan bersifat absolut, sebab isi pikiran maupun benak(baca:perasaan)
Manusia tidak mungkin bisa diintervensi dari luar tanpa kesuka relaan dari Manusia itu
sendiri.
Suatu ekspresi sebagai manifestasi eksternal dalam bentuk penyampaian pendapat,
tindakan, tulisan, gambar, pidato dari suatu keyakinan, pendapat, pikiran, kepercayan dan
agama bisa dibatasi atau tidak bersifat absolut. Kebebasan berekspresi, berpendapat,
berkeyakinan dan beragama harus diiringi oleh kewajiban, tanggung jawab dan bisa di
batasi berdasarkan suatu syarat tertentu. Yakni dengan syarat tidak melanggar kebebasan
yang lainnya yang di jamin oleh undang-undang.
Perspektif HAM sangat menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan berpendapat
sebagai fundamen utama dalam masyarakat Demokratis. Namun tak dapat dibenarkan jika
hak fundamen tersebut digunakan untuk mengobarkan rasa kebencian atas agama dan
keyakinan tertentu, sehingga istilah hate speech bermetamorfosa menjadi hate crime dan
berujung pada suatu kejahatan
Larangan atas perilaku hate speech terdapat dalam UU nomor 40 tahun 2008
tentang penghapusan diskriminasi Ras dan etnis pasal 4 (b) di sebutkan bahwa
menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis
berupa perbuatan perbuatan yang di maksud adalah :
1. Membuat tulisan atau gambar untuk di tempatkan, di tempelkan atau di sebarluaskan
di tempat umum atau tempat lainnya, yang dapat di lihat atau di baca orang lain.
2. Berpidato mengungkapkan, atau melontarkan kata-kata tertentu ditempat umum atau
tempat lainnya, yang dapat di dengar orang lain;
3. Mengenakan sesuatu pada dirinya berupa benda, kata-kata, gambar ditempat umum
atau tempat lainnya, yang dapat didengar orang lain
Akan tetapi di sayangkan untuk ketentuan terkait larangan perilaku hate speech berbasis
agama dan keyakinan sebagaimana yang diatur dalam pasal 20 kovenan internasional Hakhak sipil dan politik yang diratifikasi dalam UU nomor 12 tahun 2005 tidak tersedia ketentuan
yg serupa sebagaimana di UU nomor 40 tahun 2008.
Ketentuan yang paling mendekati dengan UU nomor 40 tahun 2008 terkait
pelarangan hate speech justru terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP). Pada pasal 156 KUHP tersebutkan barang siapa di muka umum menyatakan

perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa


golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah dan pada Pasal 156a KUHP;
Dipidana dengan penjara selama-lamanya lima tahun, Barang siapa dengan sengaja di
muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan : a. yang pokoknya bersifat
permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di
Indonesia; b. Dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang
bersendikan Ketuhanan yang Maha Esa. ketentuan serupa juga tertuang dalam pasal 157
ayat (1) dan pasal 160 KUHP.
Kajian-kajian konseptual tentang HAM oleh para ilmuwan akhir-akhir ini berkembang
kearah konsepsi penodaan agama (defamation of religion) yang secara kurang tepat di
kaitkan dengan perilaku hate speech. Dalam perspektif HAM hate speech di kenakan pada
konsep pencemaran reputasi dan nama baik individu, nama baik dan reputasi seseorang
dapat diukur secara obyektif, namun beda halnya dengan mengukur pencemaran reputasi
berbasis agama dan keyakinan yang bersifat abstrak dan rumit. Fenomena kafir
mengkafirkan, sesat menyesatkan antar umat beragama dan berkeyakinan sulit untuk
diberikan penjelasan yang memuaskan serta obyektif, keragaman tafsir teologis dalam
beragama mendorong terjadinya pengelompokan-pengelompokan sektarian dalam agama.
Apapun bentuknya, segala Ungkapan kebencian terhadap agama dan keyakinan apapun
melalui media apapun tetaplah melanggar hak konstitusional warga negara atas
kebebasannya dalam beragama dan berkeyakinan.
Jaminan kebebasan dalam beragama dan berkeyakinan di Indonesia termaktub jelas
dan tegas dalam dokumen resmi kenegaraan. Dalam Konstitusi UUD 1945 Pasal 29 ayat (2)
tersebutkan bahwa : Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Selain itu, dalam Pasal 22 UU nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang
merupakan Ratifikasi dari Konvensi Declaration of Human Right (DUHAM) yang
menyebutkan bahwa setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Kebebasan beragama dan
berkeyakinan merupakan salah satu bagian terpenting dalam Hak Asasi Manusia (HAM),
hak ini bahkan tergolong dalam kategori hak yang harus dilindungi dan tidak dapat
dikurangi, dibatasi atau bahkan dilanggar dalam kondisi apapun yang dikenal sebagai nonderogable Right yakni hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan atau dibatasi(dikurangi)
pemenuhannya oleh negara, meskipun dalam kondisi darurat sekalipun.

DAFTAR PUSTAKA
-

UUD 1945 Amandemen I IV

Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), R. Soesilo, Politeia Bogor

Undang-undang nomor 40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi Ras dan


etnis (TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4919)

Undang-undang nomor 12 tahun 2005 tentang pengesahan international covenant


on civil and political rights (kovenan internasional tentang hak-hak sipil dan politik).
(TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4558)

Undang-undang nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia ( LEMBARAN


NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 165 )

Agama, Negara dan Hak asasi Manusia, LBH Jakarta 2012

Panduan Pemolisian & Hak berkeyakinan, beragama, dan Beribadah. KONTRAS


komisi untuk orang hilang dan korban tindak kekerasan