Anda di halaman 1dari 11

EBM BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

Diagnosis Ca Ovarium

Disusun Oleh:
Puspa Oktaviani (1102012214)
KELOMPOK B-2

Dosen Pembimbing:
Dr Linda Armelia, SpPD, KGH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2015

EBM
1

Nama : Puspa Oktaviani


NPM : 1102012214

TUGAS EVIDENCE BASED MEDICINE


Skenario
Seorang wanita usia 35 tahun dating kepada dokter X dengan keluhan haid tidak teratur,
dan disertai nyeri perut. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter X menegakkan diagnosis bahwa
pasien merupakan suspek ovarian cancer. Dokter X kemudian menyarankan pasien untuk
melakukan pemeriksaan laboratorium Ca-125. Untuk meyakinkan diagnosisnya Dokter X
mencari tahu apakah ada pemeriksaan yang lebih sensitive dan spesifik selain Ca-125 untuk
mendiagnosis Ca ovarian. Hasil pemeriksaan Dokter X menemukan HE-4 dapat menjadi opsi
lain sebagai bahan penegakkan diagnosis untuk ovarian cancer.
Pertanyaan (foreground question)
Apakah HE-4 lebih baik dalam mendiagnosis pasien dengan ovarian cancer dibandingkan
dengan menggunakan CA-125?
PICO

Population
: wanita dewasa dengan suspek ovarian cancer
Intervention
: Melakukan pemeriksaan HE-4
Comparison
: Melakukan pemeriksaan CA-125
Outcomes
: Tingkat keefektivitasan dalam mendiagnosis ovarian cancer lebih baik
menggunakan kombinasi HE-4 dan CA-125

Pencarian bukti ilmiah


Alamat website
Kata kunci

: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/
: HE-4 AND ca-125 AND ovarian cancer

Dipilih artikel berjudul:


Significance of HE4 estimation in comparison with CA125 in diagnosis of ovarian cancer and
assessment of treatment response

REVIEW JURNAL
Pendahuluan
Detection of hypertensive retinopathy (HR) with direct ophthalmoscopy is part of the assessment
of hypertensive patients. Its use has been questioned because of its subjectivity and high
interobserver variability.
Metoda
An observational, analytical and cross-sectional evaluation of 99 patients. Direct
ophthalmoscopy and angiography performed by two investigators independently. Classification
of RH, as described by Keith, Wagener and Barker.
Hasil
The prevalence of HR of any grade was higher than 90.0% by both methods. On
ophthalmoscopy, we observed grade I abnormalities in 51.0%, grade II in 43.0%, with one
patient with grade III HR. On angiography, we observed grade I abnormalities in 42.0% and
grade II in 52.0%. We detected three patients with grade III HR, two of which were not detected
by ophthalmoscopy. Observers agreement for the presence and severity of HR was poor with
direct ophthalmoscopy and good with angiography. Renal dysfunction, ECG abnormalities
(ventricular hypertrophy, pathological Q wave, repolarization abnormalities), and history of
stroke were observed in 70.0%, 27.0% and 10.0% of patients, respectively. There was no
relationship between the severity of HR and other target organ damages.
Kesimpulan
We observed a high prevalence of HR using both methods. Observers agreement for the
diagnosis and determination of the severity of HR was better with angiography. In our sample,
there was no association of the severity of HR with other target organ damages. (Arq Bras
Cardiol 2010; 95(2): 215-222)

I. APAKAH HASIL DALAM ARTIKEL INI VALID?


A. Petunjuk Primer
1. Adakah perbandingan yang dilakukan secara independent dan blind terhadap suatu
standar rujukan?
Dependent

Blind

2. Apakah sampel pasien mencakup seluruh spektrum yang sesuai dengan setting praktek
klinis dimana uji diagnostik tersebut akan diaplikasikan?

B. Petunjuk sekunder
4

1. Apakah hasil tes yang sedang dievaluasi mempengaruhi keputusan untuk menjalankan
standar rujukan?

2. Apakah metoda untuk melaksanakan tes tersebut dideskripsikan cukup rinci untuk dapat
dilakukan replikasi?

II.

APA HASILNYA?

1. Apakah likelihood ratio hasil tes atau data yang dibutuhkan untuk penghitungannya
ditampilkan?

a) Oftalmoskop
Berdasarkan Observer 1
YA
YA
TIDAK
TOTAL

Sensitivitas =

TIDAK TOTAL
0
22
22
11
73
84
11
95
106

a
0
0
=
= =0
a+c 0+10 10

d
73
73
=
= =0,81
Spesifisitas = b+d 22+ 73 95
a
1
a+c
1+10 0,09
=
=
=0,41
LR positif =
b
21
0,22
b+ d 21+74

LR negatif =

c
10
a+c
1+10 0,91
=
=
=1,17
d
74
0,78
b+ d 21+74

Positive Predictive Value (PPV) =

a
1
1
=
= =0,05
a+b 1+21 22

d
74
74
=
= =0,88
Negative Predictive Value (NPV) = c+ d 10+74 84

Pretest Probablity (PP) =

a+ c
1+10
11
=
=
=0,10
a+b+ c+ d 1+21+10+74 106

Berdasarkan Observer II
YA
YA
TIDAK
TOTAL

Sensitivitas =

TIDA
K
TOTAL
1
21
22
10
74
84
11
95
106

a
1
1
=
= =0,09
a+c 1+10 11

d
74
74
=
= =0,81
Spesifisitas = b+d 21+ 74 95
a
1
a+c
1+10 0,09
=
=
=0,41
LR positif =
b
21
0,22
b+ d 21+74

LR negatif =

c
10
a+c
1+10 0,91
=
=
=1,17
d
74
0,78
b+ d 21+74

Positive Predictive Value (PPV) =

a
1
1
=
= =0,05
a+b 1+21 22

d
74
74
=
= =0,88
Negative Predictive Value (NPV) = c+ d 10+74 84

Pretest Probablity (PP) =

a+ c
1+10
11
=
=
=0,10
a+b+ c+ d 1+21+10+74 106

b) Angiografi
Berdasarkan Observer I
YA
YA
TIDAK
TOTAL

Sensitivitas =

TIDA
K
TOTAL
1
21
22
10
74
84
11
95
106

a
1
1
=
= =0,09
a+c 1+10 11

d
74
74
=
= =0,81
Spesifisitas = b+d 21+ 74 95
a
1
a+c
1+10 0,09
=
=
=0,41
LR positif =
b
21
0,22
b+ d 21+74

LR negatif =

c
10
a+c
1+10 0,91
=
=
=1,17
d
74
0,78
b+ d 21+74

Positive Predictive Value (PPV) =

a
1
1
=
= =0,05
a+b 1+21 22

d
74
74
=
= =0,88
Negative Predictive Value (NPV) = c+ d 10+74 84

Pretest Probablity (PP) =

a+ c
1+10
11
=
=
=0,10
a+b+ c+ d 1+21+10+74 106

Berdasarkan Observer II
YA
YA
TIDAK
TOTAL

Sensitivitas =

TIDA
K
TOTAL
1
21
22
10
74
84
11
95
106

a
1
1
=
= =0,09
a+c 1+10 11

d
74
74
=
= =0,81
Spesifisitas = b+d 21+ 74 95
a
1
a+c
1+10 0,09
=
=
=0,41
LR positif =
b
21
0,22
b+ d 21+74

LR negatif =

c
10
a+c
1+10 0,91
=
=
=1,17
d
74
0,78
b+ d 21+74

Positive Predictive Value (PPV) =

a
1
1
=
= =0,05
a+b 1+21 22

d
74
74
=
= =0,88
Negative Predictive Value (NPV) = c+ d 10+74 84

10

Pretest Probablity (PP) =

a+ c
1+10
11
=
=
=0,10
a+b+ c+ d 1+21+10+74 106

APAKAH HASIL PENELITIAN INI DAPAT DIAPLIKASIKAN?


1. Apakah pasien dalam penelitian tersebut serupa dengan pasien saya?
Ya, karena pada pasien saya tidak ada 4 karakteristik yang dihilangkan dalam penelitian ini.
2. Apakah hasil tersebut membantu memilih atau menghindari terapi tertentu?
Ya, dengan ini kita akan bisa lebih mengutamakan angiografi untuk mendeteksi daripada
direk oftalmoskop.
3. Apakah hasilnya membantu dalam memberikan konseling kepada pasien saya?
Ya, dengan penelitian ini kita bisa tahu keefektivitasan angiografi dalam mendeteksi HR.

11