Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH OLEOKIMIA

DISUSUN OLEH :
SITI SALAMAH NASUTION 130405086
ANDRE PRASETIA WINATA 130405090
KELOMPOK 14

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

I.

Pendahuluan
Oleokimia adalah bahan kimia yang berasal dari minyak/lemak pada tumbuhan

atau hewan seperti asam lemak, ester asam lemak, lemak alkohol, gliserin dan lainlain (Gunawan, dkk., 2014). Bidang keahlian teknologi oleokimia merupakan salah
satu bidang keahlian yang mempunyai prospek yang baik dan penting dalam teknik
kimia. Pada saat ini dan pada waktu yang akan datang, produk oleokimia
diperkirakan akan semakin banyak berperan menggantikan produk-produk turunan
minyak bumi (petrokimia).
Berikut ini adalah skema bahan baku oleokimia dan turunannya (Sulistyono 2008) :

Dengan begitu banyaknya bahan baku dan turunan oleokimia, maka dalam makalah
ini kami memfokuskan pada gliserol/gliserin.
I.1 Gliserin
Gliserin adalah nama komersial dari produk yang terdiri dari gliserol dan
sejumlah kecil air. Gliserol sebenarnya merupakan alcohol trihidrat C3H5(OH)3 , yang
lebih tepatnya dinamai 1,2,3-propanatriol. Gliserin adalah sebuah alkohol trihidrat
berupa cairan higroskopis, kental, bening dengan rasa manis pada suhu kamar diatas
titik lelehnya.
Gliserol pertama kali ditemukan oleh Scheele pada tahun 1779, dengan
memanaskan campuran minyak zaitun (olive oil) dan litharge, kemudian
membilasnya dengan air. Bilasan dengan air tersebut, menghasilkan suatu larutan
berasa manis, yang disebutnya sebagai the sweet principle of fats. Sejak 1784,
Scheele membuktikan bahwa substansi yang sama dapat diperoleh dari minyak
nabati dan lemak hewan seperti lard dan butter. Pada tahun 1811, Chevreul memberi
nama hasil temuan Scheele ini dengan sebutan gliserin, yang berasal dari bahasa
Yunani yaitu glyceros, yang berarti manis. Kemudian pada 1823, Chevreul
mendapatkan paten untuk pertama kalinya atas manufaktur gliserin, yang kemudian
berkembang menjadi industry lemak dan sabun. Sejarah gliserin cukup berkaitan
dengan sejarah pembuatan sabun, karena sumber komersil gliserin yang diketemukan
selanjutnya adalah berasal dari pemanfaatan ulang (recovery) sabun alkali (soap
lyes). Sampai tahun 1949, semua produk gliserol masih diproduksi dari gliserida
dalam minyak dan lemak ( Yanuarta dan Febri, 2011).
Kegunaan gliserol antara lain (Mahani, 2008) :
1.

Kosmetik
Digunakan sebagai body agent, emollient, humectant, lubricant, solven.
Biasanya dipakai untuk skin cream and lotion, shampoo and hair conditioners,
sabun dan detergen

2.

Dental Cream
Digunakan sebagai humectant.

3.

Peledak

Digunakan untuk membuat nitrogliserin sebagai bahan dasar peledak.


4.

Industri Makanan dan Minuman


Digunakan sebagai solven, emulsifier, conditioner, freeze, preventer and coating
serta dalam industri minuman anggur.

5.

Industri Logam
Digunakan untuk pickling, quenching, stripping, electroplatting, galvanizing dan
solfering.

6.

Industri Kertas
Digunakan sebagai humectant, plasticizer, dan softening agent.

7.

Industri Farmasi
Digunakan untuk antibiotik dan kapsul.

8.

Fotografi
Digunakan sebagai plasticizing.

Berikut ini adalah reaksi pembentukan gliserol :


1.

Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisis, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-asam
lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisi mengakibatkan kerusakan lemak
dan minyak. Ini terjadi karena terdapat terdapat sejumlah air dalam lemak
dan minyak tersebut. Reaksi ini dapat dilakukan secara kimiawi
menggunakan energi tinggi, dan dapat secara enzimatik.

2. Saponifikasi
Saponifikasi adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan
mereaksikan asam lemak dengan alkali yang menghasilkan sintesa dan air
serta garam karbonil (sejenis sabun). Ada dua produk yang dihasilkan dalam
proses ini, yaitu sabun dan gliserin. Secara teknik, sabun adalah hasil reaksi

kimia antara fatty acid dan alkali. Fatty acid adalah lemak yang diperoleh
dari lemak hewan dan nabati. Jenis alkali yang umum digunakan dalam
proses

saponifikasi

adalah

NaOH,

KOH,

Na2CO3,

NH4OH,

dan

ethanolimines.

II. Data Real Pabrik/Contoh Industri Penghasil Gliserol


Kami mengambil contoh pabrik/industri yang menghasilkan gliserol adalah PT.
Flora Sawita Chemindo
II.1 Gambaran Umum PT. Flora Sawita Chemindo
PT. Flora Sawita Chemindo merupakan pabrik oleokimia yang didirikan
pada tahun 1995 oleh dua penghasil minyak kelapa sawit di Indonesia, yaitu
PARASAWITA GROUP dan BUMI FLORA. Kedua perusahaan tersebut
memiliki perkebunan kelapa sawit yang luas, terdapat dibeberapa daerah di
Propinsi Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.
Mengingat persediaan bahan baku yang selalu melimpah maka gabungan
kedua perusahaan ini memutuskan untuk meningkatkan kegunaan kelapa sawit
menjadi produk yang bernilai tinggi. Produk yang bernilai tinggi tersebut antara
lain Fatty Acid dan Glycerine. Pengolahan minyak kelapa sawit menjadi produk
yang bernilai tinggi tersebut diolah dengan menggunakan teknologi canggih
yang berasal dari Jerman.
Lokasi pabrik dan pengolahan produk PT. Flora Sawita Chemindo dijalan
Medan Lubuk Pakam Km. 20, desa Tanjung Baru, Kecamatan Tanjung
Morawa, kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Lahan tempat berdirinya
pabrik berukuran 265 x 245 meter yang dibagi tiga bagian, yaitu lahan yang
tertutup bangunan/material kedap air yang digunakan untuk bangunan pabrik

seperti Main Processing, Workshop (Bengkel Pemeliharaan), Utility (genset dan


boiler), luasnya sekitar 864 meter persegi. Bangunan lain seperti laboratorium,
gudang (Warehouse), pengepakan, masjid (Al Hidayah), kantin dan lain-lain,
serta sarana jalan sebagai lalulintas pengangkutan dan saluran pembuangan
limbah. Secara keseluruhan pabrik PT. Flora Sawita Chemindo memiliki luas
area 10 hektar (Herawati, 2008).
PT. Flora Sawita Chemindo memproduksi asam lemak (fatty acid) dan
glycerine yang bahan bakunya berasal dari minyak sawit (CPO) dan minyak inti
sawit (PKO), dengan kapasitas sekitar 54.000 ton per tahun (Panggabean, 2009).

II.2 Proses Produksi Gliserin di PT. Flora Sawita Chemindo


Adapun proses produksi yang dilakukan untuk menghasilkan gliserin dan
asam lemak yaitu melalui proses sebagai berikut. CPO dan PKO terlebih dahulu
dipompakan ke tangki Degumming untuk memisahkan minyak dari gum dan
kotoran lainnya kemudian dipompakan ke Fat Splitting. Dalam reaktor ini terjadi
hidrolisa antara minyak dan air hingga menghasilkan gliserin dan asam lemak.
Gliserin yang terpisah dari ikatannya disebut gliserol. Gliserol ini biasanya
mengandung gliserin kira-kira 15 18 %, maka untuk mendapatkan gliserin
dengan konsentrasi yang lebih tinggi dilakukan evaporasi.
Gliserin yang dihasilkan setelah evaporasi yaitu gliserin yang masih kotor
atau disebut dengan Crude Glycerine dimana gliserin ini masih banyak
mengandung kotoran diantaranya adalah minyak, posphoric acid, air sehingga
mengakibatkan warna pada gliserin ini tidak bening melainkan berwarna kuning
kemerahan. Selanjutnya gliserin ditambahkan NaOH untuk menaikkan pH
menjadi 11,5 12,5 yang digunakan untuk menyabunkan agar mengurangi kadar
minyak yang terdestilasi. Namun kualitas gliserin hasil dari destilasi ini masih
belum memenuhi standar nilai jual di pasar (Aufari, dkk., 2013).
III. Produk Hilir dari Gliserin
Pabrik Kelapa Sawit (PKS) pada umumnya hanya mengolah minyak kelapa
sawit menjadi produk hulu atau bahan mentah yang masih bisa diolah menjadi
produk lain (produk hilir). Seperti gliserin yang merupakan produk hulu yang masih

berdayaguna tinggi, dan apabila gliserin ini kita dayagunakan dengan baik, nilai
jualnya juga akan bertambah semakin tinggi.
III.1 Pembuatan Gliserol Monooleat dari Gliserol dan Asam Oleat dengan
Katalis Zeolite Na-Y
Gliserol monooleat merupakan produk yang dikembangkan dari jenis
monogliserida yang berfungsi sebagai bahan emulsifier pada produk-produk
kosmetika dan pangan. Gliserol Monooleat dibuat dari reaksi antara gliserol dan
asam oleat. Mengingat besarnya potensi CPO yang dimiliki Indonesia dan masih
sedikitnya yang diolah lebih lanjut di dalam negeri, maka bahan baku pembuatan
GMO bisa didapat dari hasil pengolahan CPO yang berupa gliserol. Gliserol
Monooleate merupakan salah satu monogliserida yang termasuk derivative
gliserol atau gliserin berbentuk ester. Berat molekulnya 356, dengan rumus
empiris C21H40O4 (Arwani dan Waluyo, 2010).
Berikut ini adalah kegunaan gliserol Monooleat (Arwani dan Waluyo,
2010) :
1. Emulsifier
Gliserol Monooleate banyak digunakan sebagai emulsifier dalam industri
makanan , kosmetik, farmasi dan tekstil. Khususnya dalam industri makanan
misalnya pada pembuatan es krim, dimana didalamnya mengandung lemak
yang bersifat nonpolar dan air yang bersifat polar sehingga keduanya sangat
sulit menyatu. Dengan penambahan gliserol monooleate dimana senyawa ini
mempunyai dua sisi yaitu hydrophilic dan lipophilic sehingga senyawa ini
akan berada di daerah interface antara lemak dan air, kemudian akan
mengurangi ketegangan diantara kedua sisi tersebut dan menciptakan suatu
campuran yang lebih baik atau homogen.
2. Antifoam
Sebagai anti foam, gliserol monooleate sering dipakai dalam juice processing
dimana dihasilkan foam akibat proses blending. Jika anti foam tidak
digunakan maka kelebihan udara dalam foam akan menghalangi proses
perpindahan panas pada saat proses pasteurisasi. GMO dengan harga HLB
(hydrophilic lypophilic balance) antara 2-8 larut dalam minyak dan HLB

number 14-18 larut dalam air. Penggunaan GMO yang mempunyai karakter
seperti diatas dapat memecah tegangan permukaan foam sehingga dapat
menghilangkan kehilangan transfer panas.
3. Flavouring agent
GMO dapat memperkuat rasa pada makanan.
III.2 Mekanisme Pembentukan Gliserol Monooleat
Gilserol Monooleat dapat diproduksi dengan 2 cara yaitu melalui proses
sebagai berikut:
1. Transesterifikasi
Reaksi pembentukan gliserol trigliserida dari gliserol dan asam lemak

2. Esterifikasi
Reaksi pembentukan gliserol monooleat dari gliserol dan asam oleat

III.3 Flowchart Uraian Proses

Secara teoritis gliserol monooleat dapat dibuat dengan cara reaksi kimia dan dengan
cara reaksi menggunakan enzim (enzimatik). Reaksi secara kimia memerlukan
temperatur operasi relatif lebih tinggi, sehingga energy yang dibutuhkan akan lebih
tinggi juga. Namun dengan menggunakan enzim, hanya memerlukan temperatur
42oC. Maka dari itu kami menawarkan teknologi baru yaitu pembuatan gliserol
monooleat secara enzimatik.

Daftar Pustaka
Arwani, Ahmad Ilham dan Budhi Waluyo. 2010. Pra Desain Pabrik Gliserol
Monooleat Dari Gliserol Dan Asam Oleat Dengan Proses Esterifikasi.
Program Studi DIII Teknik Kimia. Fakultas Teknologi Industri

Institut

Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya


Aufari, M. Afif., Sia Robianto., Renita Manurung. 2013. Pemurnian Crude
Glycerine Melalui Proses Bleaching Dengan Menggunakan Karbon Aktif.
Jurnal Teknik Kimia USU, Vol. 2, No. 1
Gunawan, Erin Ryantin., Dedy Suhendra., Dina Asnawati., I Made Sudarma., Isma
Zulpiani. 2014. Sintesis Asam-Asam Lemak Amida Dari Ekstrak Minyak
Iinti Buah Nyamplung ( Calophyllum Inophyllum ) Melalui Reaksi
Enzimatik. Prosiding Seminar Nasional Kimia. Jurusan Kimia. Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Surabaya.
Herawati, Efi. 2008. Analisis Pengaruh Faktor Produksi Modal, Bahan Baku,
Tenaga Kerja dan Mesin Terhadap Produksi Glycerine pada PT. Flora
Sawita Chemindo. Sekolah Pasca Sarjana. Universitas Sumatera Utara.
Medan
Mahani. 2008. Pra Rancangan Pabrik Gliserol Dari Crude Palm Oil (CPO) Dan Air
Dengan Proses Continuous Fat Splitting Kapasitas 44.000 Ton/Tahun.
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah
Surakarta. Surakarta
Panggabean, Reika. 2009. Fungsi Anggaran sebagai Alat Pengawasan Biaya
Produksi pada PT. Flora Sawita Chemindo Medan. Fakultas Ekonomi.
Universitas Sumatera Utara. Medan
Sulistyono I. 2008. Prarancangan Pabrik Asam Lemak dari Minyak Sawit.
Surakarta: Universitas Muhamadiyah Surakarta.
Yanuarta S., Galuh dan Fajar Eko Febri S. 2011. Pabrik Gliserol dari CPO dengan
Proses Continuous Fat Splitting. Program Studi D III Teknik Kimia.
Fakultas Teknologi Industri. Institut Sepuluh Nopember. Surabaya.