Anda di halaman 1dari 42

A.

Judul: Pengaruh Independensi Dan Efektivitas Auditor Internal


Terhadap Manajemen Laba (Studi Pada PT. BPR di Kabupaten
Badung, Bali)
B. Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi ini, informasi dan teknologi sudah menjadi sesuatu yang
tidak asing bagi kita, yang berdampak pada perkembangan perekonomian di
seluruh dunia khususnya Indonesia. Hal ini membuka peluang bagi para
wirausahawan dan investor untuk meraih keuntungan yang mengakibatkan
banyaknya terdapat perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa, manufaktur, dan
perbankan. Dengan keadaan yang seperti ini tak sedikit masyarakat yang ingin
mengembangkan jiwa kewirausahaannya dengan cara meminjam modal di
berbagai tempat yang menawarkan jasa peminjaman modal dengan bunga tertentu.
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) merupakan salah satu jenis bank yang
dikenal melayani golongan pengusaha mikro, kecil dan menengah. Dengan lokasi
yang pada umumnya dekat dengan tempat masyarakat yang membutuhkan. BPR
sudah ada sejak jaman sebelum kemerdekaan yang dikenal dengan sebutan
Lumbung Desa, Bank Desa, Bank Tani dan Bank Dagang Desa atau Bank Pasar.
Usaha BPR meliputi usaha untuk menghimpun dan menyalurkan dana dengan
tujuan mendapatkan laba/keuntungan. Laba/keuntungan BPR diperoleh dari
spread effect dan pendapatan bunga.
Laba/keuntungan yaitu merupakan salah satu informasi potensial yang
terkandung di dalam laporan keuangan yang sangat penting bagi pihak internal
maupun eksternal. Informasi laba merupakan komponen laporan keuangan
perusahaan yang bertujuan untuk menilai kinerja manajemen, membantu

mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka panjang dan


menaksir resiko investasi atau meminjamkan dana (Juniarti:2005).
Namun dalam praktik pelaporan keuangannya, semua perusahaan tidak
hanya membutuhkan manajemen yang baik dan akuntan yang telaten, tetapi juga
membutuhkan beberapa komponen lain yang masuk kedalam satuan komponen
Good Corporate Governance (GCG) untuk mencegah terjadinya kasus keuangan.
Good Corporate Governance (GCG) merupakan suatu sistem, proses dan
seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang
berkepentingan (stake holder) (Zarkasyi:2008). Salah satu komponen yang
berperan penting dalam proses penerapan tata kelola perusahaan yang baik adalah
komite audit.
Komite audit merupakan salah satu komponen Good Corporate
Governance (GCG) yang berperan penting dalam sistem pelaporan keuangan.
Komite Audit adalah suatu komite yang berpandangan tentang masalah akuntansi,
laporan keuangan dan penjelasannya, sistem pengawasan internal serta auditor
independen (Zarkasyi:2008). Berdasarkan pengertian tersebut, dapat didefinisikan
komite audit merupakan suatu kelompok yang sifatnya independen atau tidak
memiliki kepentingan terhadap manajemen dan diangkat secara khusus serta
memiliki pandangan antara lain bidang akuntansi dan hal-hal lain yang terkait
dengan sistem pengawasan internal perusahaan.
Namun, keberadaan komite audit saja belum cukup untuk menghindarkan
perusahaan dari kasus-kasus keuangan terutama kasus manajemen laba. Komite

audit ternyata juga membutuhkan independensi dan efektivitas auditor internal


dan eksternal dalam mengawasi proses pelaporan keuangan.
Audit internal merupakan penilaian independen atas fungsi-fungsi
organisasi, untuk memeriksa dan mengevaluasi aktivitasnya sebagai jasa yang
diberikan kepada organisasi (Tugiman:2005).

Kini audit internal telah

berkembang dari semula profesi yang hanya memfokuskan diri pada masalah
teknis akuntansi, menjadi profesi yang memiliki orientasi memberikan jasa
bernilai tambah bagi manajemen. Audit internal telah berubah menjadi disiplin
yang berbeda, dengan pusat perhatian yang lebih luas.
Perkembangan

audit

internal

dapat

dikatakan

bersumber

dari

meningkatnya kompleksitas operasi perusahaan dan pemerintahan. Pertumbuhan


perusahaan menyebabkan keterbatasan kemampuan manajer untuk mengawasi
masalah operasional sehingga menjadikan audit internal sebuah fungsi yang
makin penting.
Audit internal modern menyediakan jasa-jasa yang mencakup pemeriksaan
dan penilaian atas pengendalian intern, kinerja, risiko, dan tata kelola perusahaan
publik maupun pribadi. Aspek keuangan hanyalah salah satu aspek saja dalam
lingkup pekerjaan audit internal. Audit internal mencoba membangun kerja sama
yang produktif dengan manajemen PT. BPR melalui aktivitas-aktivitas yang
memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Untuk dapat memberikan nilai tambah
tersebut, kriteria-kriteria yang harus dimiliki internal auditor tidak boleh
dikompromikan. Auditor internal harus obyektif, bebas, memiliki perilaku yang
mencerminkan integritas dan profesionalismenya dalam memeriksa suatu laporan

keuangan. Praktik manajemen laba merupakan topik yang menarik, baik bagi
peneliti akuntansi maupun praktisi.
Secara makro, manajemen laba merupakan salah satu tindakan seorang
manajer dengan menyajikan laporan yang menaikan atau menurukan laba periode
berjalan dari unit usaha yang menjadi tanggungjawabnya, tanpa menimbulkan
kenaikan atau penurunan profitabilitas ekonomi unit tersebut dalam jangka
panjang (Fischer dan Rosenzweig:1995). Kini, manajemen laba telah membuat
dunia usaha seolah berubah menjadi sarang pelaku korupsi, kolusi, dan berbagai
penyelewengan lain yang merugikan publik. Publik menganggap apa yang
diinformasikan dunia usaha hanya merupakan akal-akalan pelakunya untuk
memaksimalkan keuntungan pribadi dan kelompok tertentu, tanpa memperhatikan
kepentingan pihak lain. Tujuan dilakukannya manajemen laba yaitu untuk
mendapatkan harga saham yang relatif tinggi pada waktu penerbitan saham atau
juga untuk mendapatkan keuntungan terkait dengan kepemilikan saham
manajemen.
Kehadiran Bank Perkreditan Rakyat (BPR) diharapkan mampu membantu
masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Dimana BPR merupakan salah
satu tempat yang dipercayakan oleh masyarakat untuk menyimpan dananya dalam
bentuk deposito berjangka, tabungan, atau bentuk lainnya yang dipergunakan
untuk menyalurkan dana sebagai usaha.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa auditor internal berperan sangat
penting sebagai badan pengawas laporan keuangan pada PT. BPR di kabupaten
Badung, Bali. Disini peneliti mendapatkan bahwa di kabupaten Badung terdapat

beberapa PT. BPR yang direkturnya juga merangkap sebagai auditor internal. Hal
ini dapat dikatakan tidak efektif, karena auditor internal merupakan orang dalam
di BPR yang diberikan tugas khusus untuk mengawasi dan memeriksa jalannya
kebijakan dan pengelolaan laporan keuangan. Dengan adanya auditor internal
pada setiap BPR di kabupaten Badung, diharapkan dapat meningkatkan kinerja
BPR yang bersangkutan sehingga tujuan, peran dan fungsi BPR yang
sesungguhnya dapat terwujud.
Berdasarkan uraian diatas, maka diperlukan adanya penelitian tentang
pengaruh independensi dan efektivitas auditor internal terhadap manajemen laba
pada PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali sehingga mencegah adanya kecurangan
pelaporan keuangan.
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pokok permasalahan diatas, maka yang menjadi tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui tingkat pengaruh independensi dan efektivitas
auditor internal terhadap penanganan manajemen laba pada PT. BPR di Kabupaten
Badung, Bali.
D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat baik secara teoritis
maupun praktis bagi semua pihak yang mempunyai kaitan dengan penelitian ini,
antara lain:
1) Manfaat teoritis
Berdasarkan penelitian ini diharapkan dapat menambah penguasaan ilmu
auditing, terutama internal auditor serta memperoleh pemahaman yang

lebih luas tentang independensi dan efektivitas auditor internal terhadap


penanganan manajemen laba suatu perusahaan.
2) Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan mengenai
independensi peran seorang auditor internal terhadap penaganan
manajemen laba pada BPR dan untuk lebih meningkatkan efektivitas
sebagai seorang auditor internal dalam penanganan manajemen laba pada
PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali sesuai dengan kebijakan dan prosedur
yang telah ditetapkan.
E. Kajian Pustaka
E.1.

Landasan Teori

E.1.1 Independensi dan Efektivitas


Independensi
Menurut (Mulyadi:2002) Independensi merupakan Suatu standar umum
yang mengatur sikap mental independen auditor dalam menjalankan tugasnya.
Independensi berarti sikap mental bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh
pihak lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya
kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya
pertimbangan yang objektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan
dan menyatakan pendapatnya.
Sedangkan menurut (Hery:2010) yang dimaksud dengan Independensi
seorang auditor adalah Auditor internal yang harus mandiri dan terpisah dari
berbagai kegiatan yang diperiksa. Auditor internal dianggap mandiri apabila dapat

melaksanakan pekerjaannya secara bebas dan objektif. Kemandirian auditor


internal sangat penting terutama dalam memberikan penilaian yang tidak memihak
(netral).
Kesimpulan dari pengertian diatas tentang Independensi, yaitu seorang
auditor pada saat pelaporan hasil pemeriksaan audit kepada managemen senior
dan dewan atau pada setiap periode pelaporan audit haruslah memperhatikan
tanggung jawabnya sebagai seorang auditor, yaitu dapat melaksanakan
pekerjaannya secara bebas dan objektif. Selain itu sifat utama seorang auditor
adalah tidak memihak (netral) untuk menghasilkan laporan audit yang
independen.
Indepedensi auditor internal dapat dicapai jika direktur departemen
auditing internal: (i). bertanggung jawab kepada seseorang dalam organisasi yang
memiliki kewenangan memadai untuk memastikan cangkupan audit yang luas
serta pertimbangan yang cukup, efektifnya tindakan dan rekomendasi audit, dan
(ii). Mempunyai komunikasi langsung dengan dewan komisaris atau komite audit.
Independensi dalam pelaporan (Andayani:2008) meliputi: (i). bebas dari
perasaan wajib memodifikasi dampak atau signifikasi dari fakta-fakta yang
dilaporkan, (ii). bebas dari tekanan untuk tidak melaporkan hal-hal yang
signifikan dalam pelaporan audit, dan (iii). menghindari penggunaan kata-kata
yang menyesatkan baik secara sengaja maupun tidak sengaja dalam melaporkan
fakta, opini, dan rekomendasi dalam interprestasi auditor.

Efektivitas

Menurut (Agoes:2004) efektivitas merupakan Perbandingan masukan dan


keluaran dalam berbagai kegiatan, sampai dengan pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan, baik ditinjau dari kuantitas hasil kerja, kualitas hasil kerja maupun
batas waktu yang ditargetkan.
Sedangkan pengertian efektivitas menurut (Wiludjeng:2007) merupakan
kemampuan untuk menetapkan tujuan yang tepat atau kemampuan untuk
melakukan pekerjaan yang benar (doing the right thing), yang dapat dinilai dari
pemenuhan atau realisasi tujuan dari output suatu tugas.
Dari pengertian-pengertian efektifitas tersebut dapat disimpulkan bahwa
efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,
kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut
sudah ditentukan terlebih dahulu. Konsep efektif berarti bahwa jasa yang
disediakan/dihasilkan oleh organisasi dapat melayani kebutuhan pengguna jasa
dengan tepat.
Efektivitas pengendalian internal bersumber dari diri orang yang
mendesain dan melaksanakan pengendalian tersebut. Pengendalian yang memadai
desainnya, namun di jalankan oleh orang-orang yang tidak menjunjung tinggi
integritas dan tidak memiliki etika akan mengakibatkan tidak terwujudnya tujuan
pengendalian. Nilai integritas dan etika bisnis dapat dikomunikasikan oleh
manajer seperti yang dikemukakan oleh (Mulyadi:2002) dengan cara-cara sebagai
berikut:
a. Personal Behavior

Melalui personal behavior, manajer mengkomunikasikan nilai integritas dan


etika melalui tindakan individual mereka, sehingga nilai-nilai tersebut dapat
diamati oleh karyawan entitas.
b. Operational Behavior
Melalui operational behavior, manajer mendesain sistem yang digunakan
untuk membentuk perilaku yang diinginkan, yang berdasarkan nilai
integritas dan etika. Maka dari itu, ditetapkan oleh dewan direksi dalam
bentuk kewajiban, larangan, dan sanksi yang harus dipatuhi oleh setiap
pegawai sehingga dapat menjadi pedoman bagi seluruh pegawai dalam
melaksanakan pekerjaannya.
Dengan demikian nilai integritas dan etika sangatlah penting dalam
mengatur tingkah laku karyawan. Agar setiap unit perusahaan memiliki
pekerja yang patuh akan peraturan perusahaan

E.1.2 Komite Audit


Pengertian Komite Audit
Menurut (Mulyadi:2002) mengenai dewan komisaris yaitu: Dewan
komisaris adalah wakil pemegang saham dalam perusahaan berbadan hukum
Perseroan Terbatas. Dewan ini berfungsi mengawasi pengelolaan data perusahaan
yang dilaksanakan oleh manajemen (direksi). Dengan demikian, Dewan
Komisaris yang aktif menjalankan fungsinya dapat mencegah pengendalian yang
terlalu banyak di tangan manajemen (direksi).

Sedangkan menurut (Zarkasyi:2008) menyatakan bahwa Komite audit


merupakan suatu komite yang anggotanya merupakan anggota Dekom yang
terpilih yang pertanggungjawabannya antara lain: membantu menetapkan auditor
independen terhadap usulan manajemen. Kebanyakan komite audit terdiri dari 3
sampai 5, kadang-kadang sampai 7 orang yang bukan merupakan bagian
manajemen perusahaan.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat didefinisikan komite audit
merupakan suatu kelompok yang sifatnya independen atau tidak memiliki
kepentingan terhadap manajemen dan diangkat secara khusus serta memiliki
pandangan antara lain bidang akuntansi dan hal-hal lain yang terkait dengan
sistem pengawasan internal perusahaan.
Keanggotaan komite audit berdasarkan SE Direksi BEJ No. Kep339/BEJ/07- 2001 tanggal 21 Juli 2001 mengatur bahwa:
a. Komite audit terdiri dari sekurang-kurangnya 3 orang
b. Seorang komisaris independen menjadi ketua
c. Anggota lainnya merupakan pihak eksternal yang independen
d. Sekurang-kurangnya satu orang memiliki kemampuan di bidang akuntansi
atau keuangan

Tujuan dan Fungsi Komite Audit

10

Menurut Kepmen Nomor 117 Tahun 2002, tujuan dibentuknya Komite


Audit adalah membantu Komisaris atau Dewan Pengawas dalam memastikan
efektivitas sistem pengendalian internal dan efektivitas pelaksanaan tugas auditor
ekternal dan auditor internal. Menurut Bapepam dalam Surat Edarannya ditahun
2003 mengatakan bahwa tujuan komite audit adalah membantu Dewan Komisaris
untuk:
a. Meningkatkan kualitas Laporan Keuangan
b. Menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat mengurangi
kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan perusahaan
c. Meningkatkan efektivitas fungsi audit internal maupun audit ekternal
d. Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Dewan Komisaris
Dengan demikian, sejalan dengan kapasitasnya sebagai pihak yang
menghubungkan antara dewan direksi selaku wakil dari pemegang saham dan
auditor independen, maka fungsi komite pada intinya adalah:
a. Memberikan rekomendasi dalam pemilihan auditor independen
b. Berkonsultasi untuk menentukan auditor independen
c. Berkonsultasi dengan auditor independen dalam menganalisis laporan audit
dan menyertai dalam managemen letter
d. Berkonsultasi dengan auditor independen

Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Komite Audit

11

Komite Audit mempunyai wewenang untuk menjalankan tugas-tugasnya


seperti yang diutarakan oleh (Sutojo dan Aldridge:2005), yaitu Mengaudit
kegiatan manajemen perusahaan dan auditor (intern dan ekstern). Mereka yang
berwenang meminta informasi tambahan dan memperoleh penjelasan dari
manajemen dan karyawan yang bersangkutan. Komite Audit juga mengevaluasi
seberapa jauh peraturan telah mematuhi standar akuntansi dan prinsip akuntansi
yang telah ditetapkan.
Kewenangan Komite Audit dibatasi oleh fungsi mereka sebagai alat bantu
Dewan Komisaris sehingga tidak memiliki otoritas eksekusi apapun (hanya
sebatas rekomendasi kepada Dewan Komisaris) kecuali untuk hal spesifik yang
telah memperoleh hak kuasa eksplisit dari Dewan Komisaris misalnya
mengevaluasi dan menentukan komposisi auditor eksternal dan memimpin satu
investigasi khusus. Selain itu Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep41/PM/2003 menyatakan bahwa Komite Audit memiliki wewenang mengakses
secara penuh, bebas dan tak terbatas terhadap catatan, karyawan, dana, aset, serta
sumber daya perusahaan dalam rangka tugasnya serta berwenang untuk
bekerjasama dengan auditor internal.
Menurut Forumfor Corporate Governance in Indonesia (FCGI) dan
YPPMI Institute (Surya dan Yustiavandana:2006) Komite Audit pada umumnya
mempunyai tanggung jawab pada tiga bidang, yaitu:

a. Laporan Keuangan (Financial Reporting)

12

Komite Audit bertanggungjawab untuk memastikan bahwa laporan yang


dibuat manajemen telah memberikan gambaran yang sebenarnya tentang
kondisi keuangan, hasil usaha, rencana dan komitmen perusahaan jangka
panjang.
b. Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance)
Komite Audit bertanggungjawab untuk memastikan bahwa perusahaan telah
dijalankan sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku dan etika,
melaksanakan pengawasan secara efektif terhadap benturan kepentingan dan
kecurangan yang dilakukan oleh karyawan perusahaan.
c. Pengawasan Perusahaan (Corporate Control)
Komite Audit bertanggungjawab untuk pengawasan perusahaan termasuk
didalamnya hal-hal yang berpotensi mengandung risiko dan sistem
pengendalian intern serta memonitor proses pengawasan yang dilakukan
oleh auditor internal.
E.1.3 Audit Internal
Pengertian Audit Internal
Menurut (Mulyadi:2002), audit internal adalah Auditor yang bekerja dalam
perusahaan (perusahaan negara maupun perusahaan swasta) yang tugas pokoknya
adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh
manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan
terhadap

kekayaan organisasi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur

kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh


berbagai bagian organisasi.

13

Sedangkan menurut (Agoes:2004), Internal audit (pemeriksaan intern) adalah


Pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap
laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap
kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap
peraturan pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku.
Peraturan pemerintah misalnya peraturan di bidang perpajakan, pasar modal,
lingkungan hidup, perbankan, perindustrian, investasi dan lain-lain. Ketentuanketentuan dari ikatan profesi misalnya standar akuntansi keuangan.
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa auditor internal ialah
orang atau badan yang melaksanakan aktivitas Internal Audit. Oleh sebab itu
Internal Auditor senatiasa berusaha untuk menyempurnakan dan melengkapi
setiap kegiatan dengan penilaian langsung atas setiap bentuk pengawasan untuk
dapat mengikuti perkembangan dunia usaha yang semakin kompleks.

Kode Etik Audit Internal


Bagi profesi audit internal, kode etik merupakan hal yang sangat penting
dan diperlukan dalam pelaksanaan tugas profesional terutama yang menyangkut
manajemen laba. Kode etik profesional disusun sebagai hasil dari hubungan yang
khusus antara anggota profesi dan klien mereka. Kepercayaan juga akan
meningkat jika organisasi yang membutuhkan jasa profesional yakin bahwa para
profesional yang melanggar kode etik mereka akan dikenakan sanksi oleh
rekannya.

Konsorsium

Profesi

Internal

Auditor

(2004)

dalam

www.internalauditing.or.id mengatakan bahwa Kode etik memuat standar perilaku

14

sebagai pedoman bagi seluruh auditor internal. Dalam kode etik The Institute of
Internal auditors (IIA) (Andayani:2008), terdapat dua komponen penting, yaitu:
a. Prinsip yang relevan dengan profesi maupun praktik audit internal
b. Rule Of Conduct mengatur norma perilaku yang diharapkan dari Auditor
Internal
Auditor Internal harus menjaga prinsip-prinsip kode etik sebagai berikut:
a. Integritas: Integritas dari Auditor Internal menimbulkan kepercayaan dan
memberikan basis untuk mempercayai keputusannya.
b. Objektif: Auditor Internal membuat penilaian yang berimbang atas hal-hal
yang relevan dan tidak terpengaruh kepentingan pribadi atau pihak lain
dalam pengambilan keputusan.
c. Confidential: Auditor Internal harus menghargai nilai-nilai dan kepemilikan
atas informasi yang mereka terima atau tidak menyebarkan tanpa izin
kecuali ada kewajibanprofessional.
d. Competensi: Auditor Internal menerapkan pengetahuan, keahlian dan
pengalaman yang diperlukan untuk melaksanakan jasa audit internal.

Tujuan Audit Internal


Menurut (Agoes:2004), tujuan pemeriksaan yang dilakukan oleh internal
auditor adalah Membantu semua pimpinan perusahaan (manajemen) dalam
melaksanakan tanggungjawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran
dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya. Untuk mencapai tujuan
tersebut, internal auditor harus melakukan kegiatan-kegiatan berikut:

15

a. Menelaah dan menilai kebaikan, memadai tidaknya dan penerapan dari


sistem pengendalian manajemen, pengendalian intern dan pengendalian
operasional lainnya serta mengembangkan pengendalian yang efektif
dengan biaya yang tidak terlalu mahal.
b. Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur-prosedur
yang telah ditetapkan oleh manajemen.
c. Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan
dilindungi

dari

kemungkinan

terjadinya

segala

bentuk

pencurian,

kecurangan dan penyalahgunaan


d. Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi
dapat dipercaya.
e. Menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang
diberikan oleh manajemen.
f. Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka meningkatkan
efisiensi dan efektifitas.

Pelaksanaan Audit Internal


Pelaksanaan audit internal menurut Konsersium Organisasi Profesi Audit
Internal

(2004),

dalam

melaksanakan

audit,

auditor

internal

harus

Mengidentifikasi informasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mendokumentasikan


informasi yang memadai untuk mencapai tujuan penugasan.Seperti yang
dikemukakan oleh The Institute of Internal auditors (IIA) (Boynton et al: 2001).

16

Auditwork should include planning the audit, examining and evaluating


information performance of audit work should include:
a. Planning the audit
b. Examining and evaluation information
c. Communicating result
d. Following up
Yang artinya Kerja Audit harus mencakup perencanaan audit, memeriksa
dan mengevaluasi kinerja informasi kerja audit harus mencakup:
a. Perencanaan audit
b. Menguji dan mengevaluasi informasi
c. Mengkomunikasikan hasil
d. Menindak lanjuti

Standar profesional audit internal (Hery:2010) terdiri dari:


a. Independensi
Auditor internal harus mandiri dan terpisah dari berbagai kegiatan
yang

diperiksa. Auditor internal

dianggap mandiri

apabila

dapat

melaksanakan pekerjaannya secara bebas dan objektif. Kemandirian auditor


internal sangat penting terutama dalam memberikan penilaian yang tidak
memihak (netral).
Tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab bagian audit internal harus
didefinisikan dalam sebuah dokumen tertulis, sebaiknya dalam sebuah
anggaran dasar yang disetujui oleh manajemen senior dan dewan. Anggaran
dasar tersebut harus: (1) menyatakan kedudukan bagian audit internal dalam

17

organisasi, (2) memeberikan kewenangan kepada bagian audit internal untuk


mendapatkan dokumen (catatan), personel dan benda-benda berwujud yang
relevan dengan pelaksanaan audit, (3) mendefinisikan lingkungan yang
menjadi scope audit internal.
b. Kemampuan Profesional
Audit internal harus dilaksanakan secara ahli dan dengan ketelitian
profesional. Kemampuan profesional wajib dimiliki oleh setiap auditor
internal. Bagian audit internal haruslah juga memberikan kepastian bahwa
pelaksanaan pemeriksaan internal telah diawasi sebagaimana mestinya, yang
sifatnya dilakukan secara berkelanjutan. Dimulai dengan perencanaan dan
diakhiri dengan penyimpulan hasil pemeriksaan yang dilakukan. Auditor
internal juga harus memiliki kemampuan untuk menghadapi orang lain dan
berkomunikasi secara efektif.
c. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan audit internal meliputi pengujian dan evaluasi
terhadap kecukupan dan keefektifan sistem pengendalian internal yang
dimiliki oleh organisasi. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah sistem
tersebut telah berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Tujuan utama
pengendalian internal adalah meyakinkan (1) keandalan informasi, (2)
kesesuaian dengan berbagai kebijakan, rencana, prosedur dan ketentuan
perundang-undangan, (3) perlindungan terhadap aktiva organisasi, (4)
penggunaan sumber daya secara ekonomis dan efisien, (5) tercapainya
berbagai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

18

d. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan


Kegiatan pemeriksaan meliputi perencanaan pemeriksaan, pengujian
dan pengevaluasian informasi, penyampaian hasil pemeriksaan dan
menindaklanjuti hasil pemeriksaan. Auditor internal bertanggung jawab
untuk merencanakan dan melaksanakan tugas pemeriksaan.
Tujuan dan prosedur pemeriksaan haruslah ditunjukan pada berbagai
risiko yang berhubungan dengan bidang (area) yang akan diperiksa. Tujuan
pemeriksaan ini merupakan hal yang ingin dicapai dalam pelaksanaan
pemeriksaan. Tujuan dan prosedur pemeriksaan secara bersama-sama akan
menyatakan lingkup pekerjaan pemeriksaan internal.
E.1.4 Manajemen Laba
Pengertian Manajemen Laba
Manajemen laba sebagai bentuk dari manipulasi laporan keuangan, hingga
saat ini belum mempunyai batasan mengenai definisi dari manajemen laba.
Berikut pendapat beberapa ahli mengenai definisi manajemen laba. Menurut
(Sulistyanto:2008), manajemen laba merupakan Proses untuk mengambil langkah
tertentu yang disengaja dalam batas-batas prinsip akuntansi yang diterima umum
untuk menghasilkan tingkat yang diinginkan dari laba yang dilaporkan.
Sedangkan (Scott:2006) mendefinisikan manajemen laba yaitu Pemilihan
kebijakan akuntansi oleh manajer dari Standar Akuntansi Keuangan yang ada dan
secara alamiah dapat memaksimalkan utilitas mereka dan atau nilai pasar
perusahaan.

19

Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen


laba merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak manajemen yang
menaikkan atau menurunkan laba yang dilaporkan dari unit yang menjadi
tanggung jawabnya yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikkan atau
penurunan profitabilitas perusahaan untuk jangka panjang.

Faktor Pendorong Manajemen Laba


Dalam Positif Accounting Theory terdapat tiga faktor pendorong yang
melatarbelakangi terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman:1986), yaitu:
a. Bonus Plan Hypothesis
Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan
utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan
bonus besar berdasarkan laba lebih banyak menggunakan metode akuntansi
yang meningkatkan laba yang dilaporkan.
b. Debt Covenant Hypothesis
Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit
cenderung memilih metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan
laba. Hal ini untuk menjaga reputasi mereka dalam pandangan pihak
eksternal.

c. Political Cost Hypothesis

20

Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan


tersebut memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut
dikarenakan dengan laba yang tinggi pemerintah akan segera mengambil
tindakan, misalnya: mengenakan peraturan antitrust, menaikkan pajak
pendapatan perusahaan, dan lain-lain.

Pola Manajemen Laba


Manajemen laba memiliki pola-pola tertentu di dalam prakteknya.
Menurut (Scott:2003) manajemen laba dilakukan dengan pola sebagai berikut:
a. Taking a bath
Pola manajemen laba yang melaporkan laba pada periode berjalan dengan
nilai yang sangat rendah atau sangat tinggi.
b. Income minimization
Pola manajemen ini seperti taking a bath tapi tidak se-ekstrim pola taking a
bath. Menjadikan laba di periode berjalan lebih rendah dari pada laba
sesungguhnya.
c. Income maximization
Pola manajemen laba ini berkebalikan dengan income minimization.
Melaporkan laba lebih tinggi dari pada laba sesungguhnya.

d. Income smoothing

21

Pola manajemen laba yang paling menarik yaitu dengan cara melaporkan
tingkatan laba yang cenderung berfluktualisasi yang normal pada periodeperiode tertentu.

Teknik Manajemen Laba


Teknik dan pola manajemen laba menurut (Setiawati dan Na'im:2000)
dapat dilakukan dengan tiga teknik yaitu:
a. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi.
Manajemen dapat mempengaruhi laba melalui perkiraan terhadap estimasi
akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun
waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi
biaya garansi, dan lain-lain.
b. Mengubah metode akuntansi.
Manajemen laba dapat dilakukan dengan mengubah metode akuntansi yang
digunakan untuk mencatat suatu transaksi. Contohnya mengubah metode
depresiasi aktiva tetap, dari metode depresiasi angka tahun ke metode
depresiasi garis lurus.
c. Menggeser periode biaya atau pendapatan.
Manajemen laba dapat dilakukan dengan menggeser periode atau
pendapatan.

Contohnya

mempercepat/menunda

pengeluaran

untuk

penelitian dan pengembangan sampai pada periode akuntansi berikutnya,


mempercepat/menunda pengeluaran promosi sampai periode berikutnya,

22

mempercepat/menunda pengiriman produk ke pelanggan, mengatur saat


penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai.

Berbagai perubahan kebijakan akuntansi yang sering dijadikan alat


perekayasaan laba antara lain:
1. Perubahan metode pencatatan persediaan ke metode LIFO
2. Perubahan metode pencatatan biaya jaminan hari tua
3. Perubahan metode depresiasi aktiva tetap, amortisasi aktiva tidak berwujud
dan konsolidasi
4. Perubahan dalam penaksiran atau estimasi masa manfaat aktiva tetap
maupun aktiva tidak berwujud
5. Perubahan kebijakan terhadap pembebanan atau pengkapitalisasian.

Kesalahan penetapan harga atau akrual pilihan dalam manajemen laba


Persistensi kinerja laba ternyata bergantung pada besaran relatif dari kas
dan komponen akrual dari laba. Akan tetapi, harga saham bertindak seakan-akan
para investor gagal dalam mengidentifikasi secara benar sifat-sifat yang berbeda
dari dua komponen laba. Pasar dengan salah menilai terlalu tinggi penentuan
komponen

arus kas dari akrual laba sekaligus pula menilai terlalu rendah

persistensi dari komponen arus kas. Akrual juga menunjukkan serangkaian


hubungan negatif atau kecenderungan reversi rata-rata. Hasil akhirnya adalah
bahwa pasar merespon seakan-akan terkejut pada saat pembalikan laba yang
sepertinya dapat diramalkan terjadi di tahun berikutnya.

23

Acuan Penelitian
Acuan penelitian terdahulu mengenai independensi dan efektivitas auditor
internal terhadap manajemen laba terdapat pada penelitian Sugeng Pramudji dan
Aprillya Trihartati (2009) yang berjudul Pengaruh Indepedensi dan Efektivitas
Komite Audit Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan
Manufaktur yang Terdaftar di BEI ) dengan menggunakan Variabel terikat
(Dependent Variabel) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Discretionary
Accruals yang diproksikan sebagai manajemen laba. Sedangkan variabel bebas
(Independent Variabel) dalam penelitian ini adalah independensi anggota komite
audit, keahlian anggota komite audit di bidang keuangan, frekuensi pertemuan
antar anggota komite audit, dan komitmen waktu anggota komite audit. Kemudian
terdapat variabel kendali yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, reputasi
auditor (BIG 4) dan kebutuhan pembiayaan ekstemal.
Dan alat analisis data dengan menggunakan metode analisis regresi
berganda yang menghasilkan beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Independensi komite audit terbukti secara signifikan berpengaruh negatif
terhadap tingkat manajemen laba
2. Keahlian komite audit di bidang keuangan berpengaruh negatif dengan
manajemen laba
3. Frekuensi pertemuan komite audit ternyata tidak efektif mengurangi tingkat
Manajemen laba
4. Komitmen waktu yang dimiliki oleh komite audit berpengaruh negatif
namun tidak signifikan terhadap manajemen laba

24

5. Reputasi auditor ternyata berpengaruh positif namun tidak signifikan


terhadap manajemen laba
6. Kebutuhan pembiayaan ekstemal secara signifikan berpengaruh positif
namun tidak signifikan terhadap manajemen laba
Adapun perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang sedang
dilakukan sekarang yaitu, meneliti pengaruh peranan Auditor Internal terhadap
praktik manajemen laba dan perbedaan juga terdapat pada variabel yang
digunakan. Dimana pada penelitian ini menggunakan variabel bebasnya yaitu
Independensi Auditor Internal dan Efektivitas Auditor Internal dan variabel
terikatnya yaitu Manajemen Laba. Saat ini, peneliti melakukan penelitian studi
pada PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali. Dengan Teknik analisis yang
digunakan yaitu Metode analisis regresi linear berganda.

KERANGKA PEMIKIRAN
KERANGKA

PEMIKIRAN

PENGARUH

INDEPEDENSI

DAN

EFEKTIVITAS AUDITOR INTERNAL TERHADAP MANAJEMEN LABA


PADA PT. BPR DI KABUPATEN BADUNG, BALI.
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Independensi Auditor
Internal
MANAJEMEN
LABA

Efektivitas Auditor
Internal

25

DEFINISI OPERASIONAL
Penelitian ini menggunakan dua variabel independen yaitu Independensi
auditor internal (X1) dan Efektivitas auditor internal (X2) dan satu variabel
dependen yaitu Manajemen laba (Y).
Independensi Auditor Internal
Independensi auditor internal yaitu audit haruslah memperhatikan tanggung
jawabnya sebagai seorang auditor, yaitu dapat melaksanakan pekerjaannya secara
bebas dan objektif. Dalam pemeriksaan laporan keuangan, auditor internal juga
harus memerhatikan beberapa standar paktek yang telah ditetapkan oleh The
Institute of Internal auditors (IIA) (Andayani:2008), yaitu:
1. Independensi yaitu seorang auditor haruslah memperhatikan tanggung
jawabnya sebagai seorang auditor internal, yaitu dapat melaksanakan
pekerjaannya secara bebas dan objektif pada PT. BPR di Kabupaten Badung,
Bali.
2. Keahlian Profesional yaitu audit internal harus mencerminkan keahlian dan
ketelitian pada PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali
3. Lingkup Pekerjaan yaitu harus meliputi pengujian dan evaluasi terhadap
Independensi dan Efektivitas auditor internal yang dimiliki pada PT. BPR di
Kabupaten Badung, Bali dan kualitas pelaksanaan tanggung jawab yang
diberikan.
4. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan yaitu kegiatan pemeriksaan yang
dilakukan
perencanaan

pada PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali harus meliputi


pemeriksaan,

pengujian,

26

evaluasi

informasi

untuk

pemberitahuan hasil dan menindaklanjuti sebuah laporan keuangan pada


PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali.

Efektivitas Auditor internal


Efektivitas seorang auditor internal yaitu suatu ukuran yang menyatakan
seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh
manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu. Faktor
sekunder yang memepengaruhi efektivitas auditor internal adalah pertemuan
formal dan informal. Efektifitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi
mencapai tujuannya. Apabila suatu organisasi mencapai tujuan, maka organisasi
tersebut dapat dikatakan efektif (Mardiasmo:2002).

Manajemen Laba
Manajemen laba yaitu sebuah campur tangan dalam proses pelaporan
keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri/perusahaan.
Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas
laporan keuangan, manajemen laba menambahkan angka dalam laporan keuangan
dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba
hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa (Setiawati dan
Naim:2000).
Hipotesis dan Asumsi
Independensi seorang auditor merupakan faktor yang dapat mengurangi terjadinya
kecurangan pada praktik manajemen laba. Menurut (Agoes dan Ardana: 2009)

27

menyatakan bahwa Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak


dibawah pengaruh atau tekanan pihak tertentu dalam mengambil keputusan dan
tindakan.
Auditor yang tidak independen adalah auditor yang menjalankan tugasnya
tidak sesuai dengan ketetatapn yang telah ditetapkan. Selain itu sifat utama
seorang auditor adalah tidak memihak (netral) untuk menghasilkan laporan audit
yang independen. Mempertahankan perilaku independen bagi auditor dalam
memenuhi tanggung jawab mereka adalah sangat penting, namun yang lebih
penting lagi adalah bahwa pemakai laporan keuangan memiliki kepercayaan atas
independensi itu sendiri. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat
dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1: Independensi auditor Internal berpengaruh pada manajemen laba

Efektivitas mempunyai arti yang berbeda-beda bagi setiap orang, tergantung pada
kerangka acuan yang dipakainya. Mengingat keanekaragaman pendapat mengenai
sifat dan komposisi dari efektivitas, maka tidaklah mengherankan jika terdapat
sekian banyak pertentangan pendapat sehubungan dengan cara meningkatkannya,
cara mengaturnya, bahkan cara menentukan indikator efektivitas. Efektifitas
merupakan suatu perbandingan masukan dan keluaran dalam berbagai kegiatan,
sampai dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, baik ditinjau dari
kuantitas hasil kerja, kualitas hasil kerja maupun batas waktu yang ditargetkan
(Agoes:2004).

28

Efektivitas seorang auditor internal lebih menjunjung tinggi etika dan


integritasnya sebagai seorang auditor di suatu perusahaan. Efektivitas seorang
auditor dalam penanganan praktek manajemen laba dapat menunjukan
keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkannya dengan
mengurangi adanya tindak kecurangan. Jika hasil kegiatan semakin mendekati
sasaran, berarti makin tinggi efektivitasnya. Berdasarkan pernyataan tersebut,
maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Efektifitas auditor internal berpengaruh pada manajemen laba

Metode Penelitian

F.1

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali.

F.2

Jenis dan Sumber Data

F.2.1 Jenis Data


Berdasarkan jenisnya, data dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu sebagai
berikut:
1)

Data kualitatif yaitu data yang dapat dinyatakan dalam bentuk kata,
kalimat, skema dan gambar (Sugiyono, 2008:13). Data kualitatif
pada penelitian ini yaitu mengenai gambaran umum dan struktur
organisasi dari PT. BPR di Kabupaten Badung.

2)

Data kuantitatif adalah data dalam bentuk angka yang dapat


dinyatakan dan diukur dengan satuan hitung atau data kuantitatif

29

merupakan data kualitatif yang diangkakan (Sugiyono, 2008:13).


Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah jumlah BPR dan skor
yang diberikan responden mengenai independensi dan efektivitas
auditor internal terhadap manajemen laba.

F.2.2 Sumber Data


Jenis data yang menurut sumbernya dapat dibagi menajadi dua, yaitu.
1)
Data primer adalah data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data (Sugiyono, 2009:193). Data primer dalam penelitian
ini yaitu pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh responden
mengenai independensi dan efektivitas auditor internal. Dalam hal
ini, mengenai kemahiran profesional, lingkup pekerjaan dan
pelaksanaan kegiatan pemeriksaan.
2)

Data sekunder adalah data yang tidak langsung memberikan data


kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat
dokumen (Sugiyono, 2009:193). Data sekunder pada penelitian ini
yaitu struktur organisasi dan job description.

F.3

Metode Penentuan Sampel


Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. Populasi dalam penelitian

ini adalah kepala bagian accounting dimana ialah yang mengetahui kinerja auditor
internal atau yang berperan sebagai fungsi badan pengawas laporan keuangan
pada PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali. Data yang terdaftar pada PT.
Perbarindo Bali terdapat 60 BPR di Kabupaten Badung, Bali.

30

Penelitian penilaian indepedensi dan efektivitas auditor internal terhadap


manajemen laba menggunakan kuesioner yang menyangkut penilaian indepedensi
dan efektivitas yang diukur dari segi kemampuan profesional, lingkup pekerjaan
dan pelaksanaan kegiatan pemeriksaan laporan keuangan.
Penyebaran kuesioner pada penelitian ini berdasarkan metode penentuan
sampel dengan menggunakan Metode Purposive Sampling yaitu teknik penentuan
sampel dengan pertimbangan tertentu, maka yang menjadi responden dalam
penelitian ini adalah kepala bagian accounting pada PT.BPR atau pihak-pihak
yang mengetahui pelaksanaan kegiatan audit khususnya pada laporan keuangan
pada PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali.
Tabel G.1 Sampel Penelitian
Nama PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali
NO.

NAMA BPR

1
2
3
4

PT BPR
PT BPR
PT BPR
PT BPR

5
6

PT BPR
PT BPR

PT BPR

8
9

PT BPR
PT BPR

10 PT BPR
11 PT BPR
12 PT BPR
13 PT BPR

ALAMAT

Adiartha Udiana Jl. Raya Sempidi No. 45X


Mengwi
Antenk
Jl. Selamet No. 27X Kuta
Ashi
Jl. Raya Sempidi No. 28
Mengwi
Bali Artha
Jl. Dewi Sri Komp. Pertokoan
Anugrah
BTC Toko No. 2, Kuta
Bali Sinar MenaraJl. By Pass Ngurah Rai 100
X/14
Bayudhana
Jl.
Raya Denpasar-Tabanan
No.28 Mengwi
Bukit Tanjung
Komp. Pertokoan Tragia Blok
D 18-19 Nusa Dua
Cahaya Arthabali Br. Bringkit, Mengwi
Cahaya Bina
Jl. Raya Canggu Kerobokan
Putra
Kuta Utara
Cahaya
Jl. Mertasari No. 5 Kerobokan
Binawerdi
Desa Dalung
Jl. Raya Dalung, Dalung Kuta
Utara
Desa Sangeh
Jl. Raya Sangeh
Dewangga
Jl. Dewi Sri No.18U Kuta
Baliartha

31

JUMLAH
RESPONDEN
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

14 PT BPR Dinar Jagad


15 PT BPR Gisawa
16 PT BPR Jaya Kerti

17 PT BPR Kapal Basak


Pursada

Pertokoan Anyar Kencana No.4


Jl. Raya Canggu - Kerobokan,
Kuta Utara
Jl. Kerobokan No.8 B Kuta
Jl. Raya Mengwitani Jurusan
Denpasar Tabanan No. 16
Mengwi

Jl. Raya Lukluk No. 121

18 PT BPR Karya Sari


Sedana
19 PT BPR Khrisna Darma
Adipala
20 PT BPR Kita

21
22

1
1

23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

Jl. Blambangan Pertokoan


Suca- Suci B2 Kuta
Jl. Raya Darmasaba No. 9
Abiansemal
Jl. Gatot Subroto barat No. 14
X Kuta Utara
PT BPR Kita Centradana Jl. Kalianget No. 8, Kuta
PT BPR KS Bali Agung Jl. Raya Kerobokan No. 15Z
Sedana
Kuta
PT BPR Kusemas Dana Jl. Raya Tuban No.56 Tuban
Mandiri
PT BPR Kusuma Mandala Jl. Gatot Subroto Barat No.
98x/3
PT BPR Luhur Pucaksari Bay
Pass Teuku Umar Barat
Taman Sari 2 PCP II/22 Kuta
Utara
PT BPR Maha Bhoga
Jl.
Raya Kapal No. 20 Kapal
Marga
PT BPR Mambal
Jl. Raya Mambal Abiansemal
PT BPR Mayun Utama
Jl. Raya Abianbase No. 12,
Perdana
Mengwi
PT BPR Mertha Sedana Jl. Raya Sempidi No. 28, Br.
Kangin Sempidi. Mengwi
PT BPR Mitra Bali
Jl. Raya Kapal, Mengwi
Mandiri
PT BPR Mitra
Balijaya
Jl. Raya Kesambi No. 103X
Mandiri
Kerobokan Kuta
PT BPR Nusamba MengwiJl. Raya Denpasar - Tabanan,
Kec. Mengwi
PT BPR Nusapanida Kuta Jl. Br. Anyar No. 17 Kuta
PT BPR Parasari
Desa Lukluk, Kec. Mengwi
PT BPR Parasari Sibang Desa Sibangkaja Kec.
Abiansemal
PT BPR Pasar Raya Kuta Jl.
Raya Tuban No. 62, Tuban,
PT BPR Permata Sedana Jl. Gunung Sanghyang No.
227X Kerobokan, Kuta Utara
PT BPR Prima Dewata
Jl. Gatot Subroto Barat No.
18Y, Kuta
PT BPR Saptacristy UtamaKompleks Pasar Putra Sedana
Jln. Raya Abianbase , Mengwi

1
1

32

1
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

40
41
42
43
44
45

PT BPR
PT BPR
PT BPR
PT BPR
PT BPR
PT BPR

Saraswati
Ekabumi
Sari Wira Tama
Siaga Dana Kuta
Sinar Kuta
Sinar Kuta Mulia
Siwi Sedana

Jl. By Pass Ngurah Rai 12X


Kuta
Jl. Raya Kuta 99X Kuta
Jl. Raya Kesambi 99XX Kuta
Jl. Raya Tuban No. 35 A
Jl. Raya Kuta No. 61X Kuta
Jl. Raya Padang Luwih No. 14
A, Dalung Kuta Utara
46 PT BPR Sripartha Bali
Jl. Selamet No. 27X Kuta
47 PT BPR Suar Artha
Jl. Sunset Road Pertokoan
Dharma
Sunset Road No. 3 Seminyak
Kuta
48 PT BPR Tapa
Jl. Raya Kuta No.27 Abianbase,
Kuta
49 PT BPR Tulus Dadi
Br. Delodpasar Blahkiuh
Abiansemal
50 PT BPR Urip Kalantas
Jl. Cokroaminoto Br. Sebite No.
7 Sempidi, Mengwi
51 PT BPR Varis Mandiri
Jl. Mengwitani No. 2X,
52 PT BPR Wahyu Nirmala Mengwi
Pertokoan Dalung Permai No.
12, Desa Dalung
Sumber: PT. Perbarindo Bali, 2012 (data diolah)

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Dari 60 PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali, peneliti hanya melakukan


penelitian di 52 PT. BPR karena diketahui memiliki auditor internal. Jadi,
responden yang diharapkan untuk mengisi kuesioner nantinya adalah berjumlah
52 orang.

F.4

Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1)

Kuesioner
Yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada
responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2009:199). Dalam hal ini,

33

peneliti mengharapkan responden yang akan menjawab kuesioner


adalah orang yang mengetahui tentang independensi dan efektivitas
auditor internal terhadap manajemen laba.
2)

Observasi
Observasi sering diartikan pengamatan. Metode observasi adalah
suatu metode pengumpulan data dengan cara menyelidiki baik
langsung maupun tidak langsung artinya peneliti bisa mengamati
dari jauh dan bisa langsung terjun kedalam apa yang diselidiki.
Observasi yang digunakan di sini adalah observasi partisipan,
maksudnya di sini peneliti hanya melakukan satu fungsi, yaitu
mengadakan pengamatan dan pendalaman. Dengan observasi
peneliti akan melihat dan mengamati fenomena-fenomena yang
nantinya akan djadikan sebagai sumber informasi.

F.5

Teknik Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif yaitu

teknik analisis data dengan menggunakan perhitungan-perhitungan tertentu


sehubungan dengan penilaian terhadap independensi dan efektivitas auditor
internal terhadap manajemen laba. Jenis penelitian yang diperolehmelalui
prosedur statistik atau prosedur hitungan lainnya. Dalam melakukan penelitian,
peneliti menilai bagaimana indepedensi dan efektivitas auditor internal terdapat di
PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali terhadap manajemen laba sehingga
mencegah adanya kecurangan pelaporan keuangan.
Menurut (Sugiyono: 2010) skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,
pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.

34

Sehingga untuk mengetahui pengukuran jawaban responden pada penelitian ini


menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner, penulis menggunakan
metode skala Likert (Likerts Summated Ratings).
Dalam pengukuran pengaruh Independensi dan Efektivitas Auditor Internal
Terhadap Manajemen Laba, digunakan 5 skala tingkat (Likert), yang terdiri dari 5
tingkatan sebagai berikut:
1. Jawaban sangat setuju diberi bobot 5
2. Jawaban setuju diberi bobot 4
3. Jawaban ragu-ragu diberi bobot 3
4. Jawaban kurang setuju diberi bobot 2
5. Jawaban tidak setuju diberi bobot 1

F.5.1 Uji Instrumen


Instrumen penelitian atau disebut juga kuesioner yang baik harus valid dan
reliabel. Untuk mengetahui validitas reliabilitas kuesioner perlu dilakukan
pengujian atas kuesioner dengan menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas.
Karena validitas dan reliabilitas ini bertujuan untuk menguji apakah kuesioner
yang disebarkan untukmendapatkan data penelitian adalah valid dan reliabel,
maka untuk itu, penulis juga akan melakukan kedua uji ini pada kuesioner. Pada
penelitian ini, uji validitas dan uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan
program pengolahan data SPSS
1)

Uji Validitas
Uji validitas adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur sah
atau tidaknya suatu kuesioner. Menurut (Sugiyono:2011), item

35

pernyataan disebut valid jika butir pernyataan memiliki rhitung >


rstandar = 0,30. Dalam hal ini, yang dimaksudkan rhitung untuk
setiap item pernyataan, adalah koefisien korelasi product moment
antara skor masing-masing item tersebut dengan total skor seluruh
item yang dinotasikan dengan Corrected Item Total Correlatian pada
hasil perhitungan program SPSS untuk setiap item pernyataan dari
2)

sebuah variabel (Santoso: 2005).


Uji Reliabilitas
Reliabilitas (reliability) adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner
yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu
kuesioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang
terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke
waktu. Pengukuran reliabilitas yang digunakan adalah One Shot atau
pengukuran sekali saja, pengukurannya hanya sekali dan kemudian
hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur
korelasi antar jawaban pertanyaan. Pengujian reliabilitas dilakukan
dengan menggunakan uji statistikCronbach Alpha (). Koefisien
cronbach alpha >0,70 menunjukkan keandalan (reliabilitas)
instrumen. Selain itu, cronbach alpha yang semakin mendekati 1
menunjukkan semakin tinggi konsistensi internal reliabilitasnya
(Ghozali:2013).

F.5.2 Uji Asumsi Klasik

36

Sebelum model regresi digunakan untuk menguji hipotesis, terlebih dahulu


dilakukan pengujian asumsi klasik yang meliputi:
1)

Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi,
variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Pada
prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran
data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Dasar pengambilan
keputusan (Ghozali:2013):
a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti
arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi
normalitas.
b. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan tidak mengikuti
arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi

2)

asumsi normalitas.
Uji Multikolinearitas
Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
yang ditemukan terdapat korelasi antar variabel independen. Model
regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel
independen (tidak terjadi multikolonieritas), hal ini dilihat dari nilai
tolerancedan variance inflation factor (VIF). Dari suatu model
regresi yang bebas dari multikolonieritas adalah mempunyai nilai
VIF kurang dari 10 dan mempunyai tolerance lebih dari 0,10

3)

(Ghozali: 2005).
Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan lain.jika variance dari residual satu pengamatan ke

37

pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika


berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Dasat
analisis (Ghozali: 2013):
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk
pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian
menyempit),

maka

mengindikasikan

telah

terjadi

heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas
dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka terjadi
homoskedastisitas.

F.5.3 Analisis Regresi Linier Berganda


Analisis regresi linier berganda dilakukan oleh peneliti, untuk meramalkan
bagaimana keadaan (naik tutunnya) variabel dependen, bila dua atau lebih variabel
variabel independen dengan factor predictor dimanipulasi (dinaik turunkan
nilainya) (Sugiyono:2010).
Analisis regresi berganda dipakai untuk menghitung besarnya pengaruh
secara kuantitatif dari suatu perubahan kejadian (variabel X) terhadap kejadian
lainnya (variabel Y). Dalam penelitian ini analisis regresi berganda berperan
sebagai teknik statistik yang digunakan untuk menguji ada tidaknya pengaruh
Independensi dan Efektifitas Auditor Internal Terhadap Manajemen Laba (Studi
Kasus pada PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali).

38

Analisis regresi menggunakan rumus persamaan regresi berganda seperti


yang dikutip dalam (Sugiyono:2010), yaitu:
Y = + 1X1 + 2X2 + 3X3 + ....(1)
Keterangan:
Y : Manajemen Laba pada PT. BPR di Kabupaten Badung, Bali.
: Konstanta Intersepsi
1-3 : Koefisien Regresi Variabel X1,X2 dan X3
X1 : Independensi Auditor Internal
X2 : Efektivitas Auditor Internal
X3 : pengalaman kerja

: standar error

1) Analisis Koefisien Determinasi (R2)


Nilai koefisien determinasi (R2) menunjukan prosentase pengaruh semua
variabel independen terhadap variabel antara dan variabel antara terhadap variabel
dependen. Nilai koefisien determinasi berbeda antara 0 (nol) sampai dengan 1
(satu). Nilai R

yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen

dalam menjelaskan variabel-variabel dependen amat terbatas. Nilai yang


mendekati satu berarti variabel-variabel independen memeberikan hampir semua
informasi yang dibutuhkan untuk mempredikasi variasi variabel dependen
(Ghozali:2013).

39

F.5.4 Uji Hipotesis


Teknik uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan:
1) Uji t (Uji Parsial)
Dimana uji ini digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu
variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan
variabel dependen (Ghozali:2013). Berikut adalah langkah-langkah untuk
menentukan Uji t:
a. Perumusan Hipotesis
Ho: Tidak ada pengaruh secara signifikan antara Independensi dan
Efektivitas Auditor Internal terhadap Manajemen laba
Ha: Ada pengaruh secara signifikan antara Independensi dan
Efektivitas Auditor Internal terhadap Manajemen laba

b. Kriteria Penerimaan
1. Jika sig > (0,05), maka Ho diterima Ha ditolak.
2. Jika sig < (0,05), maka Ho ditolak Ha diterima.
c. Penarikan Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka, jika nilai sig berada di daerah
penolakan, maka Ho ditolak atau diterima dan Ha diterima atau
ditolak, artinya koefisien signifikan atau tidak signifikan.
Kesimpulannya, Independensi dan Efektivitas Auditor Internal
berhubungan atau tidak berhubungan dengan Manajemen Laba.
Tingkat signifikannya yaitu 5% ( = 0,05), artinya jika hipotesis nol

40

ditolak atau diterima dengan taraf kepercayaan 95%, maka


kemungkinan bahwa hasil dari penarikan kesimpulan mempunyai
kebenaran 95 % dan hal ini menunjukan adanya atau tidak adanya
hubungan yang meyakinkan atau signifikan antara dua variabel
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Sukrisno. 2004.Auditing, Edisi ketiga. Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Jakarta.
Agoes, Sukrisno dan I Cenik Ardana. 2009. Etika Bisnis Dan Profesi Tantangan
Membangun Manusia Seutuhnya. Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Andayani, Wuryan. 2008. Audit Internal. BPFE, Yogyakarta.
Azwar, Saifuddin. 2006. Reliabilitas dan Validitas. Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Boynton, Johnson, Kell. 2001. Modern Auditing, 7th edition, John Wiley &
sons, Inc.
Bursa Efek Jakarta. 2001. No. Kep-339/BEJ/07-2001. Keanggotaan Komite Audit.
Jakarta.
Fischer, Marily, and Kenneth Rosenzweig. 1995. Attitude of Students
andAccountingPractitioners Concerning the Ethical Acceptability of
Earnings Management. Journal of Business Ethics. Vol. 14. p. 433444.
Hery. 2010. Potret Profesi Audit Internal (Diperusahaan Swasta & BUMN
Terkemuka). Alfabeta, Bandung.
Ghozali Imam, 2002. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

41

Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.


Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS
21 Update PLS Regresi. Badan Penerbit Universitas Diponegoro,
Semarang.
Indra Surya, S.H., LLM., dan Ivan Yustiavandana, S.H., LLM. 2006.Penerapan
Good Corporate Governance: Mengesampingkan Hak Istimewa Demi
Kelangsungan Usaha. Kencana, Jakarta.
Juniarti. 2005. Analisa Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perataan
Laba (Income Smoothing) Pada PerusahaanPerusahaan Go Public.
Univ. Kristen Petra. (dalam Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 7 No. 2
2005).
Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal. Surat Edaran tahun 2003.
Tujuan KomiteAudit. Jakarta.
Konsorsium Profesi Auditor Internal. 2004. Standar Profesi Audit Internal.
Ditetapkan tanggal 12 Mei 2004. Berlaku mulai 1 Januari 2005.
www.internalauditing.or.id
Mardiasmo, 2002. Akuntansi Sektor Publik. Andi. Yogyakarta.
Mulyadi. 2002. Auditing, Edisi Ke Enam, Cetakan Kesatu. PT. Salemba Empat
Patria, Jakarta. Santoso, Singgih. 2005. Buku Latihan SPSS Statistik
Parametrik. Elek Media Komputindo,Jakarta.
Scott, William R. 2003. Financial Accounting Theory. Prentice Hall Inc.,New
Jersey.
Scott William R. 2006. Financial Accounting Theory. Edisi Keempat. Prentice
Hall, USA.
Setiawati, L. dan A. Na.im. 2000. Manajemen Laba. Journal Ekonomi dan Bisnis.
Mei: 159-176.
Siswanto Sutojo dan E. John Aldridge. 2005.Good Corporate Governance (Tata
Kelola Perusahaan Yang Sehat), cetakan pertama. PT. Damar Mulia
Pustaka.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Alfabeta,
Bandung.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Alfabeta, Bandung.
Sulistyanto, H. Sri. 2008. Manajemen Laba: Teori dan Model Empiris.
PT.Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Tugiman, Hiro. (2005). Pandangan Baru Internal Auditing. Jilid 5. Kanisius,
Yogyakarta.
Watts, R and Zimmerman. 1986. Towards a Positive Theory of The Determination
of Accounting Standards. The Accounting Review 53, 112-134.
Wiludjeng, Sri. 2007. Pengantar Manajemen. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Zarkasyi, M. Wahyudin. 2008. Good Corporate Governance: Pada Badan Usaha
Manufaktur, Perbankan, dan Jasa Keuangan Lainnya. Alfabeta, Bandung.

42