Anda di halaman 1dari 2

Trigliserida adalah bentuk lemak yang paling efisien untuk menyimpan kalor yang

penting untuk proses-proses yang membutuhkan energi dalam tubuh. Beberapa trigliserida
berada dalam bentuk butir-butir lipid yang kecil dalam jaringan non lemak seperti hati dan urat
daging, dimana akan digunakan untuk metabolisme energi. Sebagai jaringan lemak, trigliserida
mempunyai fungsi fisik yaitu sebagai bantalan tulang-tulang dan vital, melindungi organ-organ
vital dari guncangan atau rusak. Jantung, ginjal, epididimus dan kelenjar air susu yang
terbungkus oleh lapisan jaringan lemak. Untuk hidup dalam keadaan optimum, gliserida yang
terkonsumsi harus mengandung asam lemak esensial. Asam-asam lemak seperti linoleik
mempunyai sifat dan struktur yang tidak dapat disintesis oleh manusia (Linder, 2010).
Lipid terdapat sebagai bagian dari makanan hewan yang merupakan campuran lipid
sederhana (teroena dan steroida) dan kompleks (triasilgliserol, fosfolipida, sfingolipida dan lilin)
yang berasal dari tanaman maupun jaringan hewan. Dalam mulut dan lambung lipida belum
mengalami pemecahan yang berarti. Setelah berada dalam intestin, maka lipida kompleks
terutama triasilgliserol dihidrolisis oleh lipase menjadi asam lemak bebas dan sisa
(Martoharsono, 1990).
Pemecahan lemak makan menjadi asam lemak, monogliserida, kolin terjadi Hmpir secara
ekslusif dalam duodenum dan jejenum melalui kerjasama antara garam-garam empedu dan lipase
pankreas dalam lingkungan pH yang lebih tinggi disebabkan oleh sekresi bikorbonat (Linder,
2010).
Permukaan lipid menjadi lebih besar dan mudah dihidrolisis oleh lipase karena adanya
garam asam empedu yang mengemulsi makanan berlemak sehingga terbentuklah emulsi partikel
lipida yang sangat kecil. Enzim lipase tidak peka terhadap larutan lemak sempurna. Dengan
bantuan misel-misel garam empedu, maka asam lemak bebas, monoasil gliserol, kolestrol dan

vitamin membentuk sebuah kompleks yang akan menempel pada permukaan sel mukosal.
Senyawa-senyawa tersebut akan menembus membran sel mukosal dan masuk ke dalamnya.
Misel-misel garam empedu melepaskan diri dan meninggalkan permukaan

sel mukosal

(Martoharsono, 1990).
Dalam sel mukosal asam lemak bebas, mono-asilgliserol disintesa kembali menjadi
triasil-gliserol yang setelah bergabung dengan albumin, kolestrol dan lain-lain membentuk
siklomikron masuk ke dalam saluran limfatik. Siklomikron tersebut pada akhirnya masuk ke
dalam darah dan kemudian sampai ke hati dan jaringan yang memerlukannya. Sebelum masuk
dalam sel, maka triasilgliserol dipecah menjadi asam lemak bebas dan gliserol oleh lipoprotein
lipase (Martoharsono, 1990).