Anda di halaman 1dari 12

The Voters

The Valeox Earth


Fitri Fadhilah
Segel Pulau Suci

Saat cahaya tepi laut sebelah barat mulai menghilang, segel itu terlihat memancarkan
sinarnya jauh di dasar laut. Sinar itu terlalu terang hingga terlihat diatas langit malam,
membentuk lingkaran rune kuno kuat yang saling terhubung. Cahaya putih yg mengelilingi
pulau. Tak ada kegelapan yang bisa memasukinya. Tak ada manusia bahkan peri sekalipun
yang bisa terkecuali sang pemilih yang tak diketahui keberadaannya.
Setitik cahaya dari luar, adalah kesadaran
Setitik cahaya dari dalam, mengubah kepribadian
Setitik kegelapan dari luar, sebuah kehasutan
Setitik kegelapan dari dalam, mengubah pemikiran
Pengalaman demi pengalaman membawa keduanya
Sebuah penyesalan atau kebanggaan akan terlihat di akhirnya

- Sang Pemilih Valeox


Pesan Darurat

Pulau Ox, berupa sebuah lembah-lembah tinggi serta hutan-hutan yang berada di atasnya
dengan tebing yang curam, adalah pulau tak berpenghuni yang terdekat dengan pulau suci
yang desas-desus katakan pulau itu memiliki tempat terlarang dan bahwa hanya bisa
disinggahi oleh para petinggi sihir dan para prajurit yang terpilih karenanya. Pulau Ox adalah
pulau yang pertama kali berdiri setelah pulau suci dalam penciptaan Valeox. Cahaya yg
menyentuh tanah pulau Ox sangatlah sedikit tertutup pohon-pohon yang tumbuh besar,
lebat dan tak terawat. Pulau Ox begitu terlihat tenang akan kesunyian suara hutan di
sekelilingnya dan desiran angin laut dari beberapa bukit yang terbuka dekat lepas pantai
berupa teluk sempit yang gelap. Tak ada kota, penduduk, maupun rumah yang tinggal di
atas kepulauan Ox bahkan hanya sedikit dari binatang yg tinggal di hutan-hutan itu. Saat
pulau Ox mulai gelap perlahan-lahan ia membawa hawa yang sangat dingin dan kabut yang
tebal tak tertembus mata seorang biasa yang melihat dari luar pulau Ox.
Tengah malam pun tiba di bawah sinar rembulan, di tengah-tengah lembah pulau Ox
di dalam kabut tebal muncul sebuah danau yang hanya muncul saat rembulan memenuhi
cahayanya, memantulkan kemerlip bintang di atas langit malam, dihiasi kunang-kunang
yang bergerak kian kemari di sekitar pepohonan bagaikan bunga yang tumbuh di musim
semi dengan keemasan dedaunan musim gugur yang bahkan lebih terang di tengah
kebisingan suara jangkrik dan nyanyian angin malam. Didasar danau gemerlip batu-batu
berlian yang menyimpan kekuatan yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit, yang
hanya melihatnya saja akan membuat tenang hati dan pikiran. Sayang, tak ada yang tahu
akan fenomena indah itu. Danau yang hanya muncul di bulan purnama dimana dia
tersembunyi di balik hutan terlarang yang menyimpan kegelapan yang akan merasuki jauh
kedalam hati, jiwa maupun pikiran.
Seseorang telah menembus hutan terlarang malam itu. Ia terjebak dalam hutan dan
seketika hanya beberapa saat setelah ia masuk, dia keluar dengan pandangan yang kosong,
pikiran yang sudah tak bisa ia kendalikan, jiwa yang kini sudah menghilang di telan
kegelapan. Ia tersenyum lebar seolah-olah ia telah mendapat apa yang ia inginkan, seraya
berjalan perlahan menarik kakinya yang terlihat seolah-olah bahwa ia sedang membawa
beban berat di pundaknya. Ia menuju perahu kecil yang telah ia tambatkan di pinggir pulau
dan pergi menuju lautan. Senyumnya kini terus melebar tetapi sebuah kejanggalan
tersembunyi di balik senyuman itu. Sebuah kesedihan, kemarahan dan penyesalan yang
telah lama terpendam dihatinya.
Perahunya terombang-ambing dengan tenang mengikuti arus lautan. Tanpa
mengenal arah perahu itu terus melaju dan tak lama kemudian menghilang di malam yang
sama.
Jauh di seberang pulau Ox yang terhalang oleh pulau suci. Pulau Rosa, adalah pulau
kecil berupa bukit tinggi nan luas. Terdapat sebuah istana yang tersembunyi dibalik bukit
tinggi, melewati hutan hujan lebat yang siapapun bisa tersesat didalamnya. Sebuah Istana
yang megah dengan tiga lonceng besar dari emas putih diatasnya dan 5 tiang penyimpan api
biru menyinari istana di sekelilingnya. Istana berdiri diatas padang rumput di sebelah danau
hijau yang bersih dimana tanaman teratai tumbuh diatasnya. Sebuah Runestone di tebing
tinggi menggambarkan huruf rune vunjo, mengukir sejarah dari pulau Rosa yang berarti
Kemuliaan. Istana itu hanya ditempati oleh 1 Archmage, 2 dwarf, 3 penyihir, dan 2 elf,
ditemani 500 orang prajurit, pemanah, maupun kavalerinya yang terpilih dari seluruh
penjuru pulau yang dengan gagah memakai baju bermandikan perak yang tak bisa
tertembus oleh pedang biasa.
Pemandangan yang begitu menyejukan di belakang istana, jauh di tepi timur pulau
Rosa, tampak langit mulai memutih, matahari kini muncul perlahan-lahan menghangatkan
tubuh sang Archmage yang duduk di atas batu besar seraya bermeditasi dan menenangkan
dirinya yang umurnya kini mulai tak bisa dihindari lagi.
Sang Archmage adalah salah satu petinggi penyihir yang terpilih langsung dari sang
pemilih, yaitu cahaya yang muncul dari atas pulau suci. Entah siapa atau apa yang memilih
nya tapi cahaya itu telah memilih 7 Archmage di belahan dunia Valeox pada abad ke-32 val
era Mage dengan lambang yang menggambarkan keseimbangan dunia Valeox. Keyakinan
yang dilambangkan oleh akar. Keadilan yang dilambangkan bagaikan batang. Kesuburan
bagaikan daun. Kebijaksanaan bagaikan bunga. Kekuatan dilambangkan bagai getah.
Kesabaran sebagai permata dan Sang Pemilih yang memilih Archmage lain tak pernah
diketahui lambangnya. Seiring waktu berjalan hanya 5 archmage yang telah diketahui oleh
seluruh penjuru pulau di Valeox.
Bediam diri di sebuah istana megah menempati singgahsana nya dan merasakan
keindahan alam adalah aktivitas yang selalu dirasakannya setiap hari, tak ada yang bisa
dilakukannya lagi, dia hanya perlu diam mengawasi segel pulau suci dan menjaga
keseimbangan dari sihir. Sang Archmage menikmati hari-hari nya dengan tenang dan
terjamin karena dijaga oleh prajurit-prajurit hebat yang setia melayani dan membantu nya.
Seiring berjalannya hari itu matahari kini berada tepat di atas langit biru bersih tanpa
adanya awan dia berdiri dengan tenang berjalan melewati penjaga pintu istana menuju
kamar dimana ia bekerja, untuk memastikan segel pulau suci terjaga dan seimbang. Ada
seseorang yang menunggu didepan pintu. Ia dengan tangkas menghadap sang Archmage
dan membungkuk. Tuan Archmage, saya membawa kabar, dia berkata sedikit terengah-
engah seolah-olah baru sampai ditempat itu dengan berlari.
Seorang dwarf membungkuk dihadapan sang magi. Sosok pendek, besar dan kuat ia
memakai baju prajurit dengan rambut yang sudah tak tumbuh diatasnya ditutupi topi kain
perak, mata yang sayu karena keriput dengan janggut yang lebat menutupi setengah dari
wajahnya tampak kemerahan dengan keringat yang keluar dari kulitnya mengambarkan
kehawatiran yang tak bisa dijelaskan. Tuan, ini harus di cegah sebelum terlambat. Katanya,
menahan dirinya untuk tetap bersikap tenang. Bahwa- kata-katanya terputus seraya
terdengar suara ledakan di dalam kamar sang magi. Dengan tangkas dan terkejut dia
membuka pintu kamar sang magi. Dwarf itu dengan gesit terkesiap memegang kampak
besar yang di bawanya. Di dalam kegelapan kamar sang magi yang luas dan tak terkena
cahaya matahari dwarf itu sudah siap mengayunkan kapaknya untuk apa yang akan datang
dan terjadi. Terlihat sepintas ada sesuatu bergerak ditengah kamar saat cahaya dari luar
tengah masuk melalui pantulan kapaknya yang mengkilat.
Sang Archmage menjentikkan jarinya. Sebuah kumparan cahaya pucat berkilau di
tengah ruangan yang menyilaukan mata setiap yang melihatnya yang kemudian redup
menyesuaikan mata penglihatnya. Dalam cahayanya, selama sesaat terlihat bentuk manusia
yang tinggi, sangat kurus hingga terlihat seperti tulang yang berdiri. Tengkorak kering yang
hanya dilapisi kulit hitam pekat seperti gumpalan tinta yang menjelma berbentuk tengkorak
manusia. Raut wajah tengkorak itu tersenyum lebar dengan mata kuning yang terlihat sedih.
Bentuk itu hanya terlihat sesaat setelah cahaya menyinarinya. Kemudian bentuk itu
melebur menjadi abu dari kematian yang telah dibakar dan terhempas angin yang kemudian
menghilang ditelannya.
Dwarf itu terpaku melihat apa yang terjadi. Tak sadar ia telah menjatuhkan kapaknya.
Sang Archmage telah melihat kerusakan yang terjadi di ruangannya. Buku-buku kuno yang
tersimpan di lemari telah berserakan di lantai. Botol-botol penelitian sang magi telah pecah
dengan cairan yang tercecer dilantai dan akar yang tersimpan dalam bola kaca kecil telah
hancur diledakkan. Bola itu yang memacu suara ledakan tadi. Bola yang telah turun temurun
di berikan dan dijaga oleh Archmage keyakinan yang terpilih, hancur lebur karena lengah
dalam beberapa detik saja. Bola kaca kecil nan padat yang menyimpan ujung akar pohon
didalamnya atau biasa disebut dengan Runeglass Root othala terlampau penting bagi
seluruh keseimbangan dari dunia Valeox. Tak ada yang tahu dimana bola itu di dapatkan
kembali selain pulau suci yang tak ada seorang pun bisa masuk.
Sang Archmage mengambil sebuah mangkuk kecil. Dengan lantang dan jelas Sang
Archmage memanggil sebuah nama Laguzta- Ingwaz!, Gebo!, Isa!, Eihwaz! Kemudian
genangan air muncul di atas mangkuk kecil itu entah dari mana asalnya. Dia mengambil
serbuk pasir yang ada di dekatnya, mengepalkan tangan dan mendekatkan nya pada
mulutnya seraya berbisik pada pasir itu. Dia bergumam menyampaikan sebuah pesan lalu
melepaskan pasirnya pada genangan air itu seraya mengukir rapalan mantra.
Pasir itu membuat genangan air berubah menjadi merah semerah darah segar dan
bergejolak hebat seperti magma yang sudah siap menyemburkan panasnya membuat
mangkuk bergetar tak karuan. Getaran dari mangkuk itu semakin lama semakin hebat dan
kemudian berhenti tak lama setelah itu. Perlahan genangan air mulai kembali pada
warnanya, semakin lama air makin surut bersamaan dengan air yang surut dan mengering
mangkuk itu perlahan ikut retak dan pecah menjadi beberapa bagian. Gumar, Sang
Archmage memanggil nama dwarf yang melihatnya terpaku dekat pintu masuk.
Dwarf itu akhirnya sadar saat sang Archmage memanggil namanya. Dengan tangkas
iya membungkuk Maafkan saya Tuan, katanya. Sang Archmage dengan cepat segera pergi
menutup pintu kamar dan mengunci ruangan itu Gumar, dengar, kejadian tadi, pastikan
kau rahasiakan dan tak ada yang mengetahuinya katanya pada dwarf yang sedang terpaku
menatap padanya Katakanlah bahwa tadi hanya sebuah ilusi.
Baik Tuan, akhirnya dwarf itu menjawab Tapi saya tak bisa menjamin untuk itu.
Kabar ini pasti akan tersebar dengan cepat ke penjuru daerah di pulau Shire. Bahwa sang
Archmage keadilan dari ibukota Shire telah menghilang dan jalur perdagangan pulau lain
menuju ibukota mungkin sudah tertutup. Sang Archmage terdiam sebentar mendengarnya
Mungkin bukan waktu yang tepat, tapi panggilah seorang elf untuk saling bernegosiasi
dengan yang lain. Saya akan pergi. Jawabnya tergesa-gesa seraya keluar dari ruangan itu
membawa pecahan dari othalas.
Dibelahan dunia Valeox, Archmage lain telah menerima pesan yang disampaikan
olehnya. Angin yang dirasakan dibawah terik matahari yang menyilaukan terasa menjadi
lebih dingin dan kencang tanpa sebab seperti suasana demam di musim yang panas. Para
petinggi sihir itu segera pergi setelahnya dari tempat ia menginjakkan kaki menuju pulau
yang sudah di tunjukkan kepadanya. Pergi dengan perahu kecil berlayar di tengah lautan,
bergerak cepat menggunakan bantuan angin sihir yang menggerakan layar dan arus air. Ada
pula yang menggunakan bantuan burung garuda untuk menyebrangi lautan.
Langit sudah berubah kemerah-merahan, terlihat matahari sudah ber ada di ujung
tepi laut barat membuat laut memantulkan warna jingga yang berkilauan dari kejauhan.
Sang Archmage keyakinan telah sampai pada tempat tujuannya, tak lama ia berjalan di
pulau itu, terlihat seseorang yang telah menunggunya. Dia terbaring di bawah salah satu
pohon besar di sela-sela akar besar yang menjulur keluar dari tanah. Pohon itu tak terlalu
tinggi tapi sangat lebat akan serambut panjang yang menggantung di setiap dahannya. Dia
sudah terlebih dahulu sampai sebelum sang Archmage keyakinan tiba. Tuan Tarnga, Sang
Archmage memanggil lalu menjentikkan jarinya, membuat cahaya kecil diatas seseorang
yang sedang terbaring itu. Dia terbangun segera begitu melihat cahaya yang menyilaukan
berada didepannya lalu dengan pandangan yang tajam ia memerhatikan keadaan di
sekelilingnya yang akhirnya iapun menghampiri sang Archmage. Terlihat sosok berparas
pendek, dengan perut agak buncit. Mata besar bewarna hitam pekat. Rambut hitam gimbal
nan panjangnya hampir sedada dan wajah yang tertutup kumis juga jenggot hitam, ia
mengenakan baju tebal dari kulit binatang dengan seruling bambu putih terselip di
telinganya. Dialah sosok dari sang Archmage kesuburan.
Tarnga atau sang Archmage kesuburan itu mengerakkan tangannya secara teratur,
menatap lurus pada sang Archmage keyakinan. Dia sedang menggunakan sebuah bahasa
isyarat padanya. Kemudian dia mengeluarkan binatang kecil di sakunya. Sejenis binatang
pengerat bewarna hijau tua yang lebih dekat kepada warna hitam, bulat, dengan bulu yang
terlihat sangat halus. Dia memberikan binatang pengerat itu pada sang Archmage keyakinan
untuk dipegangnya. Dia menarik suling dari telinganya. Suling yang begitu indah, bewarna
putih dihiasi ukiran hijau muda yang selaras di setiap ujungnya dengan ukuran kecil yang
agak panjang. Dia meniup suling itu membuatnya mengeluarkan suara merdu, membentuk
sebuah melodi pendek seolah-olah alam yang membuatnya. Di tengah-tengah suara seruling
yang bernyanyi binatang pengerat itu perlahan-lahan mulai mengecil dan mengecil hingga
akhirnya mengeras membentuk sebuah bola kecil dari kaca yang menyimpan pucuk daun di
dalamnya. Itulah Runeglass Leaf Othala.
Maafkan aku, Sang Archmage keyakinan menjawab. Dia mengeluarkan bungkusan
kain putih yang diikat lalu memperlihatkan pecahan dari Runeglass Root Othala. Sosok tinggi
dan kurus yang mengenakan jubah dari sutra putih, dengan rambut abu-abu yang juga
sudah memutih, wajahnya tampak pucat juga keriput, hidungnya melengkung seperti paruh
elang, matanya kecil bewarna abu-abu terlihat cemerlang tapi memperlihatkan sebuah
penyesalan dan kekhawatiran. Namun dia tetap berbicara dengan tenang. Aku lengah,
karena selalu menjalani hari-hariku dengan damai. Mengingat tak ada yang pernah terjadi
pada abad ini aku terlalu tenggelam dibuatnya. Katanya seraya membungkus kembali
pecahan Othala.
Tarnga mengangguk perlahan seolah-olah mengerti apa yang di rasakan sang
Archmage keyakinan. Iya membuat bahasa isyarat untuk mereka berdua untuk duduk dan
menunggu petinggi sihir lain di bawah pohon yang rindang.
Langit berubah hitam kebiruan, cahaya bulan purnama yang ke-5 perlahan sudah
mulai memancarkan cahayanya di barengi munculnya titik-titik cahaya bintang yang
menghiasi langit malam. Seorang misterius dari lepas pantai datang. Dia tampak sedang
berjalan menuju tempat kedua Archmage yang sudah terlebih dahulu tiba disana. Sosok
tinggi dan tegak memakai jubah panjang bertudung dari wol hitam dengan wajah yang
tampak gelap di bawah bayangan tudung hitamnya. Dia berjalan dengan tenang seraya
membawa tongkat kayu dari pohon yew yang tingginya melebihi pembawanya. Salam tuan
para petinggi sihir, katanya dihadapan kedua Archmage itu. Terlihat sorot mata seperti
mata elang yang tajam dan cemerlang di balik bayangan tudungnya. Dia mengangkat
tongkat yew itu pelan dan menghempaskannya kebumi. Dari bawah tongkat itu muncul
retakan yang dengan cepat memanjang sampai berhenti ketengah-tengah mereka bertiga
berdiam diri, retakan itu membuat lubang di ujungnya. Lubang kecil yang tiba-tiba muncul
pancuran air kecil dari dalam tanah, hingga membentuk genangan air di dalamnya. Air itu
seketika memadat, membentuk sebuah bola kecil dari kaca yang menyimpan kelopak bunga
bewarna biru sebiru langit yang biasa dinamakan Runeglass Flower Othalas. Dialah Sang
Archmage kebijaksanaan. Untuk pertama kalinya dia berada di hadapan Archmage lain dan
memperlihatkan sihirnya.
Sungguh merasa terhormat saya bisa berhadapan dengan kedua para petinggi sihir
sang Archmage kebijaksanaan itu menyapa sedikit membungkukkan badannya. Saya
merasa khawatir atas pesan yang anda sampaikan Tuan Urs Katanya memanggil Sang
Archmage keyakinan. Saya meminta izin untuk mendengarkannya. Dia berbicara dengan
suara besar yang dalam, tegas namun lembut.
Tuan Zaw, saya berterimakasih anda berada disini Tuan Urs yang lebih dikenal
dengan Archmage keyakinan membalasnya secara formal. Duduklah, mungkin aku akan
memberikan kabar buruk padamu, lebih dari satu.
Katakanlah padaku, saya sudah siap mendengarnya.
Urs melirik pada tuan Tarnga yang sedang duduk di pingginya Mungkin aku belum
memberitahumu juga tuan Tarnga, perkara selain dari Root Othalas. Katanya. Tuan Tarnga
hanya tersenyum dan mengangguk memerhatikan mereka berdua. Root Othalas telah
hancur Seraya mengeluarkan bungkusan kain di sakunya.
Apa yang menyebabkannya? Jawaban dari suara itu datang dari belakang sang
Archmage kebijaksanaan.
Aku tidak tahu, aku lengah.
Lengah? Apa kau tahu betapa pentingnya Othalas itu Sosok dari suara yang
menjawabnya itu akhirnya terlihat jelas. Tampak sosok laki-laki tampan tak terlalu tinggi.
Rambutnya coklat, sangat pendek dan terpotong rapih. Kulitnya bewarna sawo matang agak
putih. Matanya bewarna coklat, cerah dengan bekas luka agak panjang oleh senjata tajam
yang sudah permanen dari pipi kiri ke pipi yang satunya melalui jalur hidungnya yang tak
terlalu mancung. Dia memakai pakaian seorang ksatria berbahan timah putih dari daerah
timur dengan sebuah pedang panjang yang biasa disebut dengan katana di sisi kirinya yang
secara keseluruhan tampak seperti seorang pangeran kerajaan timur.
Maafkan aku tapi siapa kau? kata Tuan Urs sedikit waspada.
Aku?, Itu tak penting. Apakah kalian para Archmage yang paling di hormati itu. Tak
kuduga kalian bisa berada disini Lelaki itu tertawa simpul dan duduk bersama dengan para
petinggi sihir.
Siapa kau? Dan apa yang sedang kau lakukan?
Aku hanya sedang lewat. Apa yang sedang dilakukan para Archmage di pulau Ox ini,
bukankah ini pulau terlarang?
Ini bukanlah hal yang siapapun bisa mengeta-
Oh, Aku lupa bahwa pulau ini hanya bisa disinggahi oleh para petinggi sihir dan
ksatria terpilih Dia memotong kata-katanya.
Itu hanya sebuah kabar angin yang membawanya akhirnya Tuan zaw mulai
berbicara.
Tapi buktinya aku adalah seorang ksatria terpilih, yang akan memasuki hutan
terlarang Ox! lelaki itu berdiri mengangkat tinjunya tinggi dengan senyuman yang begitu
meyakinkan.
Kau cukup percaya diri untuk apa yang belum kau ketahui kata Tuan Urs
menyuruhnya untuk duduk. Aku tidak akan menanyakan namamu kembali atau siapa kau
sebenarnya. Tapi aku ingin kau berjanji, atas nama jiwamu. menatap dalam lelaki itu
seperti sedang membaca pikirannya.
Janji? Kau bahkan tidak tau siapa diriku. Kau bahkan tidak tau dari mana aku berasal.
Kau juga tidak tau tujuanku disini. Apa yang ingin kau janjikan?
Aku hanya ingin kau berjanji untuk membantuku. Aku hanya bisa menjanjikan
keselamatanmu.
Hey-hey-hey-hey.. Kita baru saja bertemu dan kau ingin menjamin keselamatanku.
Aku adalah seorang ksatria terhebat, aku pasti akan selamat. Lekaki itu berbicara dengan
logat yang sedikit aneh.
Ya, jika kau memiliki keberuntungan yang tinggi
Apa yang- .. Baiklah, apa yang kau inginkan dari ku?
Tuan Tarnga, Tuan Zaw.. Izinkan aku katanya. Tuan Urs bergumam seraya
memegang pergelangan tangannya. Dia perlahan-lahan menarik sesuatu seperti benang dari
kumparan cahaya yang keluar dari urat nadinya, perlahan seraya menggumamkan kata-kata
menjadi sebuah rapalan mantra. Benang itu terputus dan seketika terpecah menjadi titik-
titik cahaya yang bertebaran yang menyebar di sekeliling para petinggi dan lelaki itu.
Lelaki itu seperti melihat keajaiban dan pada saat itu juga pandangannya perlahan
berubah menjadi terang dan semakin terang, jiwanya terbawa jauh kedalam hingga ia tak
sadar. Dia terbawa kepada suatu ingatan, melihat suatu kejadian, suatu pikiran yang bukan
miliknya. Kejadian yang dia lihat berlangsung dengan cepat, berpindah dari satu kejadian ke
tempat lainnya, terus dan terus berlangsung hingga nafas yang ia rasakan terengah-engah
menahan itu semua. Tapi dia melihat kejadian itu dengan sangat jelas, ia sadar sang
Archmage itu sedang menyampaikan sebuah pesan padanya. Aku melihat bayangan
kegelapan dimana-mana. Ia berkata pada hatinya sendiri. Kejadian yang belum pernah ia
lihat, sekarang ia sedang berada didalamnya.
Kepalanya terasa pusing, terlalu berat kelopak matanya untuk terbuka, tapi ia
memaksakan dirinya untuk sadar dan bangun. Penglihatannya berkunang-kunang begitu
pula perutnya, rasa itu membuatnya mual. Dia tak bisa menahan rasa mualnya dan segera
berlari ke belakang pohon yang ia duduki.
Aku kira kau lelaki yang cukup kuat Tuan Urs berkata seraya tertawa simpul.
Diamlah! Aku hanya kebanyakan ma- jawabnya masih berusaha menahan mualnya
Kita menunggu lama untuk kau sadar
Lagipula hanya kau yang tak sadarkan diri ksatria timur Tuan Zaw mulai berkata.
Tch!, aku sudah selesai.. Lelaki itu kembali duduk dan melihat langit. Bulan
sepertinya sudah berada di tengah langit, aku harus cepat pergi.
Tunggu, apa kau sudah mengerti yang harus kau lakukan. Selain itu aku sebagai
sang Archmage Kepercayaan akan mempercayakan gelarku padamu Tuan Ren. Aku ingin kau
menemukan sendiri Othalasmu di dalam sana. Sebenarnya kamipun tak pernah memasuki
hutan terlarang Ox ini, kami mendapakannya dari leluhur kami. Katanya. Tuan Urs
memberikan bungkusan pecahan Othalas pada lekaki itu.
Ah.. aku mengerti, walaupun begitu aku mempercayakan keselamatanku padamu,
Master. Lelaki itu yang sekarang sudah diketahui namanya berdiri dan dengan tegas
menyilangkan tangan kanan didadanya lalu membungkuk Suatu kehormatan bagiku untuk
membantu menggantikanmu.
Maaf, tapi tuan Urs jadi menurutmu keberadaannya sudah tak bisa kau rasakan
lagi? sela Tuan Zaw.
Tuan Urs mengangguk seraya memperbolehkannya untuk berkata Pesan yang aku
sampaikan terputus padanya dia sudah tiada, Jelasnya seraya mengepal tangan. sang
Archmage kekuatan telah terbunuh.
Tuan Tarnga menghentikan pembicaraan sementara, ia mengeluarkan serulingnya
dan memainkan sebuah lantunan melodi sedih. Angin membuat dedaunan di pohon
berdesir dengan lembut bersatu dengan melodi seolah-olah alam pun sedang berkabung
atas apa yang telah terjadi. Sungguh melodi yang indah Tuan Zaw menutup matanya,
menyimak lantunan melodi sedih yang disampaikan tuan Tarnga .
Wajahnya memang seram, tapi.. Tuan Ren berkata dengan matanya yang berkaca-
kaca. Tapi aku pikir dia tak akan pernah berbicara maupun bersuara sedikitpun
Ren, mungkin dia tak bisa berbicara tapi dia mempunyai kelebihan yang hanya
sedikit orang punya bahkan alam pun bersatu dengannya. Tuan Urs berkata.
Lelaki itu mengangguk, mengerti apa yang Tuan Urs katakan. Tak terasa melodi itu
telah selesai dimainkan, membuat semuanya merenung sejenak bahkan angin pun berhenti
bertiup.
Bagaimana dengan petinggi keadilan? Saya masih bisa merasakan keberadaannya
Tuan Zaw melanjutkan pembicaraan.
Entahlah tuan Zaw, begitu pula pesan yang aku sampaikan padanya terputus tapi
mungkin ini sedikit berbeda atas apa yang terjadi dengannya. Jelas tuan Urs
memperlihatkan kebingungan dimatanya Aku pun masih merasakan keberadaannya seperti
dengan sang Archmage Kesabaran ataupun sang Pemilih, aku tidak tau dimana dia, nama
sejati ataupun asalnya. Hanya saja walau aku mengetahui dan telah memanggil nama
sejatinya, sang Archmage keadilan tak berada di dunia ini, aku merasakan hal yang sama
seperti jelmaan kegelapan yang aku lihat sebelumnya.