Anda di halaman 1dari 25

DIAGNOSIS DAN TATA LAKSANA

TERKINI DENGUE
Dr. Mulya Rahma Karyanti, MSc,
SpA(K)
Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik, Departemen Ilmu
Kesehatan Anak, RSUPN Cipto Mangunkusumo, FKUI
BATASAN DAN URAIAN UMUM
DemamDengue merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus
genus Flavivirus, famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotipe yaitu DEN-1, DEN2, DEN-3, DEN-4, dan ditularkan melalui perantara nyamuk Aedes aegypti atau
Aedes albopictus. Dari 4 serotipe dengue yang terdapat di Indonesia, DEN-3
merupakan serotipe yang dominan dan banyak berhubungan dengan kasus berat,
diikuti dengan serotipe DEN-2. World Health Organization - South-East Asia Regional
Office (WHO-SEARO) melaporkan bahwa pada tahun 2009 terdapat 156052 kasus
dengue dengan
1396 jumlah kasus kematian di Indonesia dan case-fatality rates
(CFR)0.79%.

Spektrum klinis infeksi dengue

Gambar 1. Skema kriteria diagnosis infeksi dengue menurut WHO 2011

Sumber:World Health
Organization-South East Asia Regional Office. Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and Dengue Hemorrhagic
Fever. India: WHO; 2011dengan modifikasi.

Manifestasi klinis menurut kriteria diagnosis WHO 2011, infeksi dengue dapat terjadi
asimtomatik dan simtomatik. Infeksi dengue simtomatik terbagi menjadi
undifferentiated fever (sindrom infeksi virus) dan demam dengue (DD) sebagai
infeksi dengue ringan; sedangkan infeksi dengue berat terdiri dari demam berdarah
dengue (DBD) dan expanded dengue syndrome atau isolated organopathy.
Perembesan plasma sebagai akibat plasma leakage merupakan tanda
1

patognomonik DBD, sedangkan kelainan organ lain serta manifestasi yang tidak
lazim dikelompokkan ke dalam expanded dengue syndrome atau isolated
organopathy. Secara klinis, DD dapat disertai dengan perdarahan atau tidak;
sedangkan DBD dapat disertai syok atau tidak (Gambar 1).

Perjalanan Penyakit Infeksi Dengue


Dalam perjalanan penyakit infeksi dengue, terdapat tiga fase perjalanan
infeksi dengue, yaitu
1. Fase demam: viremia menyebabkan demam tinggi
2. Fase kritis/ perembesan plasma: onset mendadak adanya perembesan

plasma dengan derajat bervariasi pada efusi pleura dan asites


3. Fase recovery/ penyembuhan/ convalescence: perembesan plasma
mendadak berhenti disertai reabsorpsi cairan dan ekstravasasi plasma.

Gambar 2. Perjalanan penyakit infeksi dengue

Sumber: Center for Disease

Control and Prevention. Clinicians case management. Dengue Clinical Guidance. Updated 2010.

Gambaran klinis
a. Undifferentiated fever (sindrom
infeksi virus)
Pada undifferentiated fever, demam sederhana yang tidak dapat dibedakan dengan
penyebab virus lain. Demam disertai kemerahan berupa makulopapular, timbul
saat demam reda. Gejala dari saluran pernapasan dan saluran cerna sering
dijumpai.
b.
Demam
dengue (DD)
Anamnesis: demam mendadak tinggi, disertai nyeri kepala, nyeri otot &
sendi/tulang, nyeri retro- orbital, photophobia, nyeri pada punggung, facial flushed,
lesu, tidak mau makan, konstipasi, nyeri perut, nyeri tenggorok, dan depresi umum.
Pemeriksaan
fisik
Demam: 39-40C, berakhir 5-7 hari
3

Pada hari sakit ke 1-3 tampak flushing pada muka (muka kemerahan), leher,
dan dada
Pada hari sakit ke 3-4 timbul ruam kulit makulopapular/rubeolliform

Mendekati akhir dari fase demam dijumpai petekie pada kaki bagian
dorsal, lengan atas, dan tangan
Convalescent rash, berupa petekie mengelilingi daerah yang pucat pada
kulit yg normal, dapat disertai rasa gatal
Manifestasi perdarahan
o Uji bendung positif dan/atau petekie
o Mimisan hebat, menstruasi yang lebih banyak, perdarahan saluran
cerna (jarang
terjadi, dapat terjadi pada DD dengan trombositopenia)

c. Demam berdarah
dengue
Terdapat tiga fase dalam perjalanan penyakit, meliputi fase demam, kritis, dan
masa penyembuhan
(convalescence,
recovery)
(Lampiran 1).
Fase
demam
Anamnesis
Demam tinggi, 2-7 hari, dapat mencapai 40C, serta terjadi kejang demam.
Dijumpai facial
flush, muntah, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri tenggorok dengan
faring hiperemis, nyeri di bawah lengkung iga kanan, dan nyeri perut.

Pemeriksaan fisik
o Manifestasi perdarahan
Uji bendung positif (10 petekie/inch2) merupakan manifestasi
perdarahan
yang paling banyak pada fase demam awal.
Mudah lebam dan berdarah pada daerah tusukan untuk jalur
vena.
Petekie pada ekstremitas, ketiak, muka, palatum lunak.
Epistaksis, perdarahan gusi
Perdarahan saluran cerna
Hematuria (jarang)
Menorrhagia
o Hepatomegali teraba 2-4 cm di bawah arcus costae kanan dan
kelainan fungsi hati
(transaminase) lebih sering ditemukan pada DBD.

Berbeda dengan DD, pada DBD terdapat hemostasis yang tidak normal,
perembesan plasma (khususnya pada rongga pleura dan rongga peritoneal),
hipovolemia, dan syok, karena terjadi peningkatan permeabilitas kapiler.
Perembesan plasma yang mengakibatkan ekstravasasi cairan ke dalam rongga
pleura dan rongga peritoneal terjadi selama 24-48 jam.
Fase
kritis
Fase kritis terjadi pada saat perembesan plasma yang berawal pada masa transisi
5

dari saat demam ke bebas demam (disebut fase time of fever defervescence)
ditandai dengan,
Peningkatan hematokrit 10%-20% di atas nilai dasar
Tanda perembesan plasma seperti efusi pleura dan asites, edema pada
dinding kandung empedu. Foto dada (dengan posisi right lateral decubitus
= RLD) dan ultrasonograf dapat mendeteksi perembesan plasma tersebut.
Terjadi penurunan kadar albumin >0.5g/dL dari nilai dasar / <3.5 g%
yang merupakan bukti tidak langsung dari tanda perembesan plasma

Tanda-tanda syok: anak gelisah sampai terjadi penurunan kesadaran,


sianosis, nafas cepat, nadi teraba lembut sampai tidak teraba. Hipotensi,
tekanan nadi 20 mmHg, dengan peningkatan tekanan diastolik. Akral
dingin, capillary refll time memanjang (>3 detik). Diuresis menurun (<
1ml/kg berat badan/jam), sampai anuria.
Komplikasi berupa asidosis metabolik, hipoksia, ketidakseimbangan
elektrolit, kegagalan multipel organ, dan perdarahan hebat apabila syok
tidak dapat segera diatasi.

Fase penyembuhan (convalescence, recovery)


Fase penyembuhan ditandai dengan diuresis membaik dan nafsu makan kembali
merupakan indikasi untuk menghentikan cairan pengganti. Gejala umum dapat
ditemukan sinus bradikardia/ aritmia dan karakteristik confluent petechial rash
seperti pada DD.

d. Expanded dengue syndrome


Manifestasi berat yang tidak umum terjadi meliputi organ seperti hati, ginjal,
otak,dan jantung. Kelainan organ tersebut berkaitan dengan infeksi penyerta,
komorbiditas, atau komplikasi dari syok yang berkepanjangan.
Diagnosis
Diagnosis DBD/DSS ditegakkan berdasarkan kriteria klinis dan laboratorium (WHO,
2011).
Kriteria klinis
Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terusmenerus selama 2-7 hari
Manifestasi perdarahan, termasuk uji bendung positif, petekie,
purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis,
dan/melena
Pembesaran hati
Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi (20
mmHg), hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, dan pasien tampak
gelisah.
Kriteria laboratorium
Trombositopenia (100.000/mikroliter)
Hemokonsentrasi, dilihat dari peningkatan hematokrit 20% dari nilai
dasar / menurut standar umur dan jenis kelamin
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan,
Dua kriteria klinis pertama ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi/
peningkatan hematokrit20%.
Dijumpai hepatomegali sebelum terjadi perembesan plasma
Dijumpai tanda perembesan plasma
o Efusi pleura (foto toraks/ultrasonografi)
o Hipoalbuminemia
Perhatian
o Pada kasus syok, hematokrit yang tinggi dan
trombositopenia yang jelas, mendukung diagnosis DSS.
7

o Nilai LED rendah (<10mm/jam) saat syok membedakan DSS dari syok
sepsis.

Tabel 1. Derajat DBD berdasarkan klasifikasi WHO 2011


DD/DBD Derajat
DD
gejala

Tanda dan gejala


Demam disertai minimal dengan 2

Nyeri kepala
Nyeri retro-orbital
Nyeri
otot
Nyeri sendi/ tulang
Ruam kulit makulopapular
Manifestasi perdarahan
Tidak ada tanda perembesan
plasma
DBD

DBD

II

DBD*

III

DBD*

IV

Demam
dan
manifestasi
perdarahan (uji bendung positif)
dan tanda perembesan plasma
Seperti derajat I ditambah
perdarahan spontan
Seperti derajat I atau II ditambah
kegagalan sirkulasi (nadi lemah,
tekanan nadi 20 mmHg,
hipotensi, gelisah, diuresis
menurun
Syok hebat dengan tekanan darah
dan nadi yang tidak terdeteksi

Laboratorium
Leukopenia (jumlah
3
leukosit 4000 sel/mm )
Trombositopenia
(jumlah trombosit
3
<100.000 sel/mm )
Peningkatan hematokrit
(5%-10%)
Tidak ada bukti
perembesan
plasma
Trombositopenia <100.000
3
sel/mm ; peningkatan
hematokrit
20%
Trombositopenia <100.000
3
sel/mm ; peningkatan
hematokrit
20 %
Trombositopenia <100.000
3
sel/mm ; peningkatan
hematokrit
20%
Trombositopenia <100.000
3
sel/mm ; peningkatan
hematokrit
20%

Diagnosis infeksi
dengue:
Gejala klinis + trombositopenia + hemokonsentrasi, dikonfirmasi dengan deteksi
antigen virus dengue (NS-1)
atau dan uji serologi anti
dengue positif
(IgM anti dengue atau IgM/IgG anti
dengue positif)

Komplikasi
Demam Dengue
Perdarahan dapat terjadi pada pasien dengan ulkus peptik, trombositopenia hebat,
dan trauma.
Demam Berdarah Dengue
Ensefalopati dengue dapat terjadi pada DBD dengan atau tanpa syok.
Kelainan ginjal akibat syok berkepanjangan dapat mengakibatkan gagal ginjal
akut.
Edema paru dan/ atau gagal jantung seringkali terjadi akibat overloading
pemberian cairan pada masa perembesan plasma
Syok yang berkepanjangan mengakibatkan asidosis metabolik &
9

perdarahan hebat (DIC, kegagalan organ multipel)


Hipoglikemia / hiperglikemia, hiponatremia, hipokalsemia akibat syok
berkepanjangan dan terapi cairan yang tidak sesuai

1
0

Diagnosis banding

Selama fase akut penyakit, sulit untuk membedakan DBD dari demam
dengue dan penyakit virus lain yang ditemukan di daerah tropis. Maka untuk
membedakan dengan campak, rubela, demam chikungunya, leptospirosis,
malaria, demam tifoid, perlu ditanyakan gejala penyerta lainnya yang terjadi
bersama demam. Pemeriksaan laboratorium diperlukan sesuai indikasi.
Penyakit darah seperti trombositopenia purpura idiopatik (ITP), leukemia,
atau anemia aplastik, dapat dibedakan dari pemeriksaan laboratorium
darah tepi lengkap disertai pemeriksaan pungsi sumsum tulang apabila
diperlukan.
Penyakit infeksi lain seperti sepsis, atau meningitis, perlu difikirkan
apabila anak mengalami demam disertai syok.

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
1. Pemeriksaan darah perifer, yaitu hemoglobin, leukosit, hitung jenis, hematokrit, dan
trombosit.
Antigen NS1 dapat dideteksi pada hari ke-1 setelah demam dan akan menurun
sehingga tidak terdeteksi setelah hari sakit ke-5-6. Deteksi antigen virus ini dapat
digunakan untuk diagnosis awal
menentukan adanya infeksi dengue, namun tidak dapat membedakan penyakit
DD/DBD.
2. Uji serologi IgM dan IgG anti dengue
Antibodi IgM anti dengue dapat dideteksi pada hari sakit ke-5 sakit,
mencapai puncaknya
pada hari sakit ke 10-14, dan akan menurun/ menghilang pada akhir minggu
keempat sakit.
Antibodi IgG anti dengue pada infeksi primer dapat terdeteksi pada hari
sakit ke-14. dan menghilang setelah 6 bulan sampai 4 tahun. Sedangkan
pada infeksi sekunder IgG anti dengue akan terdeteksi pada hari sakit ke-2.
Rasio IgM/IgG digunakan untuk membedakan infeksi primer dari infeksi
sekunder. Apabila rasio IgM:IgG >1,2 menunjukkan infeksi primer namun
apabila IgM:IgG rasio <1,2 menunjukkan infeksi sekunder.

Tabel 2. Interpretasi uji serologi IgM dan IgG pada infeksi dengue
Diagnos
is
Infeksi primer
sekunder
Infeksi lampau
Bukan dengue
mengarah ke

Antibodi anti
dengue
IgM

IgG

positif
negatif
positif
negatif
negatif

Infeksi
positif
positif
negatif

Keterangan

Apabila

klinis

infeksi dengue, pada


fase penyembuhan:
IgM dan IgG diulang

Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan foto dada dalam posisi right lateral decubitus dilakukan atas indikasi,
Distres pernafasan/ sesak

Dalam keadaan klinis ragu-ragu, namun perlu diingat bahwa terdapat


kelainan radiologis terjadi apabilapada perembesan plasma telah
mencapai 20%-40%
Pemantauan klinis, sebagai pedoman pemberian cairan, dan untuk
menilai edema paru karena overload pemberian cairan.
Kelainan radiologi yang dapat terjadi: dilatasi pembuluh darah paru terutama
daerah hilus
kanan, hemitoraks kanan lebih radioopak dibandingkan yang kiri, kubah
diafragma kanan lebih tinggi daripada kanan, dan efusi pleura.
Pada pemeriksaan ultrasonograf dijumpai efusi pleura, kelainan dinding
vesika felea, dan dinding buli-buli.

Tata laksana
Demam + tersangka
dengue,
perdarahan, nyeri kepala, nyeri retroorbital, nyeri otot,
nyeri sendi, ruam kulit
Uji
bendung
Demam < 3
hari

Demam 3 hari

Kegawatan/syok (+)

DPL

Kegawatan/syok (-)

DP
L
Gula
darah
Pertimbangkan
resusitasi
cairan IV/koreksi
dehidrasi
DD/ penyakit lain
Monitor
tergantung diag
Demam<2hari,
jarang
kemungkinan
DSS

Pertimbangkan
DPL awal
Edukasi keluarga
Perawatan di
rumah
Follow-up tiap
hari
apabila
perlu

Leukopenia
dan/atau
trombositop
enia

Leukopenia
tanpa
trombositop
enia

Kegawat
an

Tidak ada

Tidak ada Ada


Ada
Pasi
en
risik
o
ting
gi

Monitor/rawat
Pertimbangkan cairan IV
Monitor dengue

Gambar 3. Jalur triase kasus tersangka infeksi dengue (WHO 2011)


Sumber:World Health Organization-South East Asia Regional Office. Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and
Dengue Hemorrhagic Fever. India: WHO; 2011dengan modifikasi.

Tanda kegawatan

Tanda kegawatan dapat terjadi pada setiap fase pada perjalanan penyakit infeksi
dengue, seperti berikiut.
Tidak ada perbaikan klinis/perburukan saat sebelum atau selama masa
transisi ke fase
bebas demam / sejalan dengan proses penyakit
Muntah yg menetap, tidak mau minum
Nyeri perut hebat
Letargi dan/atau gelisah, perubahan tingkah laku mendadak
Perdarahan: epistaksis, buang air besar hitam, hematemesis, menstruasi
yang hebat, warna urin gelap (hemoglobinuria)/hematuria

Giddiness (pusing/perasaan ingin terjatuh)


Pucat, tangan - kaki dingin dan lembab
Diuresis kurang/tidak ada dalam 4-6 jam

Monitor perjalanan penyakit DD/DBD


Parameter yang harus dimonitor mencakup,
Keadaan umum, nafsu makan, muntah, perdarahan, dan tanda dan gejala lain
Perfusi perifer sesering mungkin karena sebagai indikator awal tanda syok,
serta mudah dan cepat utk dilakukan
Tanda vital: suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah, diperiksa minimal
setiap 2-4 jam pada pasien non syok & 1-2 jam pada pasien syok.
Pemeriksaan hematokrit serial setiap 4-6 jam pada kasus stabil dan
lebih sering pada pasien tidak stabil/ tersangka perdarahan.
Diuresis setiap 8-12 jam pada kasus tidak berat dan setiap jam pada
pasien dengan syok berkepanjangan / cairan yg berlebihan.
Jumlah urin harus 1 ml/kg berat badan/jam ( berdasarkan berat badan ideal)
Indikasi pemberian cairan intravena

Pasien tidak dapat asupan yang adekuat untuk cairan per oral ataumuntah
Hematokrit meningkat 10%-20% meskipun dengan rehidrasi oral
Ancaman syok atau dalam keadaan syok

Prinsip umum terapi cairan pada DBD

Kristaloid isotonik harus digunakan selama masa kritis.


Cairan koloid digunakan pada pasien dengan perembesan plasma hebat,
dan tidak ada respon pada minimal volume cairan kristaloid yang diberikan.
Volume cairan rumatan + dehidrasi 5% harus diberikan untuk menjaga
volume dan cairan intravaskular yang adekuat.
Pada pasien dengan obesitas, digunakan berat badan ideal sebagai acuan
untuk menghitung volume cairan.
Tabel 4. Cairan yang dibutuhkan berdasarkan
berat badan

Berat
Cairan
badan
rumatan
ideal
(ml
)
5
50
0
10
1000
15
1250
20
1500
25
1600
30
1700
Sumber: Holiday MA, Segar

Cairan
Berat
Cairan
Cairan
rumatan
badan
rumatan rumatan
+ 5% defisit
ideal
+ 5% defisit
(ml
)
75
35
1800
355
0
0
150
40
1900
390
0
0
200
45
2000
425
0
0
250
50
2100
460
0
0
285
55
2200
495
0
0
320
60
2300
530
0
WE. Maintenance need for water in parenteral fluid0therapy.

Pediatrics 1957;19:823

Tabel 5. Kecepatan cairan intravena


Keterangan
Setengah rumatan /2
Rumatan (R)
Rumatan + 5% defisit
Rumatan+ 7% defisit
Rumatan+ 10% defisit

Kecepatan cairan (ml/kg/jam)


1.5
3
5
7
10

Sumber:World Health Organization-South East Asia Regional Office. Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and
Dengue Hemorrhagic Fever. India: WHO; 2011dengan modifikasi.

Kecepatan cairan intravena harus disesuaikan dengan keadaan klinis.


Transfusi suspensi trombosit pada trombositopenia untuk profilaksis tidak
dianjurkan
Pemeriksaan laboratorium baik pada kasus syok maupun non syok saat tidak
ada perbaikan klinis walaupun penggantian volume sudah cukup, maka
perhatikan ABCS yang terdiri dari, A Acidosis: gas darah, B Bleeding:
hematokrit, C Calsium: elektrolit, Ca++ dan S Sugar: gula darah
(dekstrostik)

Tata laksana infeksi dengue berdasarkan fase perjalanan penyakit


Fase Demam
Pada fase demam, dapat diberikan antipiretik + cairan rumatan / atau cairan
oral apabila anak masih mau minum, pemantauan dilakukan setiap 12-24 jam

Medikamentosa
o Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan pemberian parasetamol bukan
aspirin.
o Diusahakan tidak memberikan obat-obat yang tidak diperlukan
(misalnya antasid, anti emetik) untuk mengurangi beban detoksifikasi
obat dalam hati.
o Kortikosteroid diberikan pada DBD ensefalopati apabila terdapat
perdarahan saluran cerna kortikosteroid tidak diberikan.
o Antibiotik diberikan untuk DBD ensefalopati.

Supportif
o Cairan: cairan pe oral + cairan intravena rumatan per hari + 5% defisit
o Diberikan untuk 48 jam atau lebih
o Kecepatan cairan IV disesuaikan dengan kecepatan kehilangan
plasma, sesuai keadaan klinis, tanda vital, diuresis, dan hematokrit

Fase Kritis

Pada fase kritis pemberian cairan sangat diperlukan yaitu kebutuhan rumatan +
deficit, disertai monitor keadaan klinis dan laboratorium setiap 4-6 jam.

Tanda vital tidak


stabil Volume urin
berkurang Tanda
syok (DBD der III)*
Berikan oksigen via
masker/kateter
Penggantian volume cairan segera, kristaloid
10ml/kgBB/jam, 1-2 jam

Perbaika
n

Pada syok lama (DBD der IV) volume


20ml/kgBB/jam,
10-15 menit. Apabila membaik
kurangi menjadi
10ml/kgBB/j
am

Kurangi volume
cairan
berturut-turut 10ml, 7ml,
5ml, 3ml,
1,5ml/kgBB/jam sebelum
selanjutnya dikurangi
untuk mempertahankan
aksesvena tetap terbuka

Perbaik
an

Tidak ada
perbaikan
Periksa ABCS
koreksi

Hct meningkat

Hct menurun

Transfusi darah
10ml/kgBB/jam
Whole blood
10ml/kgBB/jam atau
PRC 5ml/kgBB/jam

Koloid
IV
(dextran
40)

Stop
pemberian
cairan 24-48
jam

dan

Perbaik
an
Kurangi volume cairan
berturut-turut 10ml, 7ml,
5ml, 3ml,
1,5ml/kgBB/jam sebelum
selanjutnya dikurangi
untuk mempertahankan
aksesvena tetap terbuka

Gambar 4. Tata laksana DBD dengan


syok (DSS)
Sumber:World Health Organization-South East Asia Regional Office. Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and
Dengue Hemorrhagic Fever. India: WHO; 2011dengan modifikasi.

DBD dengan syok berkepanjangan


(DBD derajat IV)

Cairan: 20 ml/kg cairan bolus dalam 10-15 menit, bila tekanan darah sudah
didapat cairan selanjutnya sesuai algoritma pada derajat III
Bila syok belum teratasi: setelah 10ml/kg pertama diulang 10 ml/kg,
dapat diberikan bersama koloid 10-30ml/kgBB secepatnya dalam 1 jam
dan koreksi hasil laboratorium yang tidak normal
Transfusi darah segera dipertimbangkan sebagai langkah selanjutnya
(setelah review hematokrit sebelum resusitasi)
Monitor ketat (pemasangan katerisasi urin, katerisasi pembuluh darah vena
pusat / jalur arteri)
Inotropik dapat digunakan untuk mendukung tekanan darah

Apabila jalur intravena tidak didapatkan segera, coba cairan elektrolit per oral
bila pasien sadar atau jalur intraoseus. Jalur intraoseus dilakukan dalam keadaan
darurat atau setelah dua kali kegagalan mendapatkan jalur vena perifer atau
setelah gagal pemberian cairan melalui oral. Cairan intraosesus harus dikerjakan
secara cepat dalam 2-5 menit

Perdarahan
hebat

Apabila sumber perdarahan dapat diidentifikasi, segera hentikan. Transfusi


darah segera adalah darurat tidak dapat ditunda sampai hematokrit turun
terlalu rendah. Bila darah yang hilang dapat dihitung, harus diganti. Apabila
tidak dapat diukur, 10 ml/kg darah segar atau
5 ml/kg PRC harus diberikan dan dievaluasi.

Pada perdarahan saluran cerna, H2 antagonis dan penghambat pompa


proton dapat digunakan.
Tidak ada bukti yang mendukung penggunaan komponen darah seperti
suspense trombosit, plasma darah segar/cryoprecipitate. Penggunaan larutan
tersebut ini dapat menyebabkan kelebihan cairan.

DBD ensefalopati
DBD ensefalopati dapat terjadi bersamaan dengan syok atau tidak.

Ensefalopati yang terjadi bersamaan dengan syok hipovolemik, maka


penilaian ensefalopati harus diulang setelah syok teratasi.
o Apabila kesadaran membaik setelah syok teratasi, maka kesadaran
menurun atau kejang disebabkan karena hipoksia yang terjadi pada
syok
o Pertahankan oksigenasi jalan napas yg adekuat dengan terapi oksigen.
Jika ensefalopati terjadi pada DBD tanpa syok dan masa krisis sudah
dilewati maka,
o

Cegah / turunkan peningkatan tekanan intrakranial dengan,


Memberikan cairan intravena minimal untuk
mempertahankan volume
intravaskular, total cairan intravena tidak boleh >80%
cairan rumatan
Ganti
ke cairan kristaloid dengan koloid segera apabila
hematokrit terus meningkat dan volume cairan intravena
dibutuhkan pada kasus dengan perembesan plasma yang hebat.
Diuretik diberikan apabila ada indikasi tanda dan gejala kelebihan
cairan
Posisikan pasien dengan kepala lebih tinggi 30 derajat.
Intubasi segera untuk mencegah hiperkarbia dan melindungi
jalan napas.

Dipertimbangkan steroid untuk menurunkan tekanan


intrakranial, dengan pemberian deksametasone 0,15mg/kg
berat badan/dosis intravena setiap
6-8 jam.
o Menurunkan produksi amonia
Berikan laktulosa 5-10 ml setiap 6 jam untuk menginduksi diare
osmotik.
Antibiotik
lokal
akan
mengganggu
fora
usus
maka
tidak diperlukan pemberian
o Pertahankan gula darah 80-100 mg/dl, kecepatan infus glukosa yang
dianjurkan 4-6
mg/kg/jam.
o Perbaiki asam basa dan ketidakseimbangan elektrolit
o Vitamin K1 IV dengan dosis:umur < 1tahun: 3mg, <5 tahun: 5mg, >5
tahun:10mg.

o
o

Anti kejang phenobarbital, dilantin, atau diazepam IV sesuai indikasi.


Transfusi darah, lebih baik PRC segar sesuai indikasi. Komponen
darah lain seperti suspense trombosit dan plasma segar beku tidak
diberikan karena kelebihan cairan dapat meningkatkan tekanan
intrakranial.
Terapi antibiotik empirik apabila disertai infeksi bakterial.

Pemberian H2 antagonis dan penghambat pompa proton


untuk mencegah perdarahan saluran cerna.
o Hindari obat yang tidak diperlukan karena sebagai besar obat
dimetabolisme di hati.
Hemodialisis pada kasus perburukan klinis dapat dipertimbangkan.
o

Fase Recovery
Pada fase penyembuhan diperlukan cairan rumatan atau cairan oral, serta monitor
tiap 12-24 jam.
Indikasi untuk pulang
Pasien dapat dipulangkan apabila telah terjadi perbaikan klinis sebagai berikut.
Bebas demam minimal 24 jam tanpa menggunakan antipiretik
Nafsu makan telah kembali
Perbaikan klinis, tidak ada demam, tidak ada distres pernafasan, dan
nadi teratur
Diuresis baik
Minimum 2-3 hari setelah sembuh dari syok
Tidak ada kegawatan napas karena efusi pleura, tidak ada asites
Trombosit >50.000 /mm3. Pada kasus DBD tanpa komplikasi,
pada umumnya jumlah trombosit akan meningkat ke nilai normal
dalam 3-5 hari.

Daftar Pustaka
1. World Health Organization-South East Asia Regional Ofice. Comprehensive Guidelines
for Prevention and
Control of Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever. India: WHO; 2011.p.1-67.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Dengue Clinical Guidance. Updated
2010 sept 1. Available from: http://www.cdc.gov/dengue/clinicallab/clinical.html .
3. Dengue Hemorrhagic Fever. Diagnosis, treatment prevention and control. Edisi
kedua. WHO, Geneva,
1997.
4. WHO. Dengue for Diagnosis, treatment, prevention and control. 2009:1-146
5. Holiday MA, Segar WE. Maintenance need for water in parenteral fluid therapy.
Pediatrics 1957;19:823
6. Demam Berdarah Dengue. Naskah lengkap Pelatihan bagi Pelatih Dokter Spesialis
Anak & Dokter Spesialis Penyakit Dalam dalam Tata laksana Kasus DBD. Hadinegoro
SR, Satari HI, penyunting. Balai Penerbit, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta 2005.