Anda di halaman 1dari 1

II.4.

Sejarah Geologi Regional

Menurut van Bemmelen (1949, hal. 596), Pegunungan Kulonprogo dilukiskan


sebagai dome besar dengan bagian puncak datar dan sayap curam, yang dikenal
sebagai Oblong Dome.
Inti dari dome ini terdiri dari 3 gunung api Andesit Tua yang sekarang telah
tererosi cukup dalam, sehingga dibeberapa bagian jejak dari dapur magma
gunung api tersebut telah tersingkap. Gunung Gajah yang terletak di bagian
tengah dome tersebut, merupakan gunung api tertua yang menghasilkan
Andesit Hipersetein Augit Basaltic. Gunung api yang kemudian terbentuk yaitu
gunung api Ijo yang terletak di bagian selatan. Kegiatan dari gunung api Ijo
menghasilkan Andesit Piroksen Basaltic, kemudian Andesit Augit Hornblende,
sedangkan pada tahap akhir adalah intrusi dasit pada bagian inti. Setelah
kegiatan gunung Gajah berhenti dan mengalami denudasi, di bagian utara
terbentuk gunung Menoreh yang merupakan gunung terakhir pada komplek
pegunungan Kulonprogo. Kegiatan gunung Menoreh ini menghasilkan Andesit
Augit Hornblede pada mulanya, kemudina menghasilkan Dasit dan Andesit.
Pada kaki gunung Menoreh dijumpai adanya sinklinal dan sebuah sesar dengan
arah barat-timur, yang memisahkan gunung Menoreh dengan gunung Ijo.
Pannekoek (1939) dan Vide (Van Bemellen, 1949, hal. 601) mengatakan bahwa
sisi utara dari pegunungan Kulonprogo tersebut telah terpotong oleh gawir-gawir.
Sehingga pada bagian tersebut banyak yang hancur yang pada akhirnya
tertimbun di bawah alluvial Magelang.