Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dogma hukum atau norma merupakan jantung dari hukum itu sendiri, dikarenakan
keberlakuan hukum muncul dari norma sebagai eksplanasi teknis yuridis. Yang pada
akhirnya dogma hukum tersebut menjadi dasar atau landasan dalam praktik hukum.
Dogma itu sendiri berfokus kepada hukum positif dan sangat bercermin erat dengan teoriteori hukum. Dogma hukum sendiri bersifat mempelajari aturan hukum dari segi teknis
yuridis, berbicara tentang hukum, bicara hukum dari segi hukum dan bicara problematika
hukum yang konkrit berdasarkan norma. Dan bercermin kuat dengan teori hukum yang
merupakan ilmu eksplanasi hukum yang bersifat interdisipliner.1
Yang menjadi sangat penting dalam sebuah proses berjalannya hukum yaitu filsafat
hukum. Dimana filsafat menjadi eksplanasi reflektif dari sebuah runtutan panjang hukum,
yang dimana filsafat hukum menjadi pintu dari awalnya proses berhukum. Eksplanasi
reflektif ini akan bercabang menjadi beberapa ruang lingkup yang berkaitan dengan
ontologi hukum (hakekat dari hukum itu sendiri), axiologi hukum (isi dari nilai-nilai
mendasar seperti keadilan, kebenaran, kebebasan, kewajaran, kepastian dan kemanfaatan),
ideologi hukum (sebuah paham yang menjadikan dasar orang dan masyarakat untuk
memberikan legalitas bagi hukum itu sendiri), serta epistimologi hukum (metodologi
filsafat hukum yang akan mempertanyakan sejauh mana hakekat hukum, nilai-nilai dasar
dan ideologi itu ada).2

1 Dikutip dari tulisan Prof Hadjon rangkuman tulisan J.Gijssels.


2 Ibid.

Dalam tugas akhir skripsi yang sedang saya kerjakan berkaitan dengan perbandingan tata
cara penghittungan batas-batas laut antara negara Indonesia dan Malaysia. Hal ini
berkaitan erat dengan keberlakuan hukum nasional masing-masing negara dan konvensi
tentang hukum laut yang merupakan perjanjian internasional yang berjalan atas dasar
ratifikasi negara-negara peserta. Yang pada akhirnya dalam praktik ditemukan kesalahan
dalam penghitungan (penarikan kasus dari sengketa blok ambalat antara Indonesia dan
Malaysia). Diperlukan sebuah kajian tentang dari ranah filsafat hukum untuk menentukan
hakekat hukum, isi dari nilai-nilai dasar, ideologi hukum dan metodologi yang digunakan
untuk menciptakan keteraturan dalam praktek hukum. Sehingga diperlukannya sebuah
penelitian atas dasar bahan tugas akhir skripsi ini.
B. Rumusan Masalah
Melihat latar belakang diatas yang sudah dipaparkan, dapat ditarik beberapa permasalahan
yang akan dibahas dari ranah filsafat hukum yang terbagi menjadi beberapa bagian yaitu:
1. Bagaimanakah hakekat hukum atas dasar perbandingan norma yang berlaku untuk
menetapkan batas-batas wilayah laut negara Indonesia dan Malaysia?
2. Bagaimanakah isi dari nilai-nilai dasar yang berkenaan dengan keadilan,
kebebasan, kepastian dan kemanfaat dilihat dari negara Indonesia dan Malaysia
yang masing-masing memiliki norma yang berbeda dalam penetapan batas-batas
wilayah laut negaranya?
3. Bagaimanakah ideologi hukum mempengaruhi orang dan masyarakat Indonesia
dan Malaysia terhadap cara menetapkan batas-batas laut negaranya?
C. Tujuan Penelitian
Setelah merumuskan beberapa masalah yang akan dibahas, tujuan dari penelitian ini
adalah untuk:
1. Mengetahui bagaimanakah hakekat hukum atas dasar perbandingan norma yang
berlaku untuk menetapkan batas-batas wilayah laut negara Indonesia dan Malaysia.

2. Mengetahui bagaimanakah isi dari nilai-nilai dasar yang berkenaan dengan


keadilan, kebebasan, kepastian dan kemanfaat dilihat dari negara Indonesia dan
Malaysia yang masing-masing memiliki norma yang berbeda dalam penetapan
3.

batas-batas wilayah laut negaranya.


Mengetahui bagaimanakah ideologi hukum mempengaruhi orang dan masyarakat

Indonesia dan Malaysia terhadap cara menetapkan batas-batas laut negaranya.


D. Metode Penelitian
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah normatif dogma hukum yang
bersumber kepada bahan-bahan hukum dan sumber buku refrensi yang berupa teori-teori
hukum untuk menunjang penelitian. Yang kemudian akan membahas secara dalam ranah
filsafat hukum untuk mencari tahu hakekat, nilai-nilai dasar dan ideologi hukum yang
berlaku sehingga bertujuan untuk menyempurnakan praktek dalam hukum yang
berdasarkan pada dogma hukum.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Hakekat Hukum Atas Dasar Perbandingan Norma Yang Berlaku Untuk
Menetapkan Batas-Batas Wilayah Laut Negara Indonesia Dan Malaysia.
Hakekat hukum pada umumnya akan berbicara tentang hubungan antara hukum dan
moralitas. Dalam praktik dogma hukum tidak mengandung moralitas didalamnya sehingga
hukum secara tegas dipisahkan dari keadilan, dan hukum tidak didasarkan kepada nilainilai yang baik dan yang buruk melainkan kekuasaan penguasa. Hukum juga terbagi
menjadi dua yaitu hukum yang dibuat oleh tuhan dan buatan manusia. 3 Yang dalam hal ini
dimaksud adalah hukum merupakan ciptaan manusia dan hukum yang diciptakan tuhan
merupakan sesuatu yang ajeg dan bukti konkrit dari sebuah titik ukur moralitas. (apakah
anda pernah bertanya bahwa mengapa tuhan menurunkan kodrat bahwa membunuh
merupakan hal yang buruk? Mengapa tuhan tidak menjadikan membunuh merupakan hal
yang baik?). Dalam hal ini terdapat sebuah gagasan yaitu Lex Naturalis yaitu undangundang kesusilaan alamiah, yang merupakan hasrat susila alami manusia yang ditunjukan
dalam kaidah-kaidah seperti lakukan yang baik dan hindari yang buruk. 4 Sehingga
kerangka moralitas yang diwujudkan dalam hukum tuhan tersebut harus dimasukkan
kedalam kerangka hukum positif atau dogma hukum yang relatif kabur dan tidak terlihat.
Agar keseimbangan hukum dan moralitas tercipta.
Dalam hal penetapan batas-batas wilayah laut negara Indonesia dan Malaysia, dilakukan
berdasarkan norma yang berlaku di masing-masing negara, akan tetapi konsepsi hukum
internasional yang berpayung diatasnya yang menganjurkan negara-negara peserta untuk
meratifikasi juga ikut andil dalam mencari hakekat dari permasalahn hukum ini. Indonesia
3 Soerjono Soekanto, Pengantar Sosiologi Hukum, Jakarta: Bhratara Karya Aksara, hlm. 34, 1977.
4 B. Arief Sidharta, Meuwissen Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan
Filsafat Hukum, Bandung: Refika Aditama, hlm. 69, 2013.

dan Malaysia menggunakan instrument hukum nasional yang diadopsi dari UNCLOS 1982
tentang hukum laut. Secara norma dibenarkan bahwa dogma hukum telah berjalan akan
tetapi permasalahan tetap terjadi di blok ambalat tentang sengketa pengukuran batas
wilayah laut yang pada akhirnya Malaysia mendapatkan hak-hak atas pulau yang
seharusnya menjadi milik Indonesia. Dibedakan dari jenis negaranya, Indonesia
merupakan negara kepulauan sedangkan, Malaysia merupakan negara pantai. Dalam teknis
pengukuran Malaysia tidak memasukkan klausul bahwa malaysia merupakan negara
pantai, sehingga apabila Malaysia menggunakan teknis pengukuran negara kepulauan akan
memberikan keuntungan yang sangat banyak. Hal ini berkaitan dengan moralitas yang
dimiliki apakah pertimbangan malaysia melakukan sesuatu hal yang buruk atau baik?
Dogma pada hal ini tidak dapat menjawab permasalahan tersebut, dikarenakan
pembentukan moralitas tadi dilihat dari aspek lain diluar hukum.
B. Nilai-Nilai Dasar Yang Berkenaan Dengan Keadilan, Kebebasan, Kepastian Dan
Kemanfaat Dilihat Dari Negara Indonesia Dan Malaysia Yang Masing-Masing
Memiliki Norma Yang Berbeda Dalam Penetapan Batas-Batas Wilayah Laut
Negaranya.
1. Keadilan
Keadilan terbagi menjadi dua yaitu keadilan menurut norma hukum dan keadilan
sebagai kebaikan. Keadilan menurut norma hukum yaitu kesesuaian dengan hukum
sebagai contoh apabila suatu norma mengatur tentang penetapan batas-batas wilayah
laut didalam perjanjian internasional berdasarkan jenis negaranya dan Indonesia serta
Malaysia mengikutanya berarti keadilan secara hukum berlaku. Berbeda halnya dengan
keadilan sebagai kebaikan yang memandang keadilan dari segi objeknya sebagai
contoh Malaysia merasa harus mengganti jenis negaranya dikarenakan dia
membutuhkan suatu keadilan sebagai kebajikan. Inti dari keadilan adalah pemikiran

tentang kesamaan yang berarti kedailan berdasarkan persamaan mutlak antara prestasi
dan kontraprestasi.5
2. Kebebasan
Dalam berhukum diperlukan kebebasan yang sangat luas, sehingga hukum harus
berlandaskan kepada kebebasan. Akan tetapi kebebasan disini tidak diartikan sebagai
kebebasan bertindak atau alamiah, sehingga kebebasan ditentukan berdasarkan
hubungan kausal.6 Dalam hal ini Indonesia dan Malaysia mempunyai kebebasan dalam
berhukum, akan tetapi dasar kebebasan yang berdasarkan hubungan kausal adalah
bukan bebas sekehendaknya. Malaysia diberikan kebebasan untuk mengatur hukum
nasionalnya dalam menetapkan batas-batas wilayah lautnya, begitupula Indonesia.
Akan tetapi kedua negara sudah berkomitmen dan bebas dalam mengikatkan diri dalam
perjanjian internasional hukum laut yang dimana kebebasan dalam menetapkan hukum
nasionalnya akan dipertaruhkan atas dasar hubungan kausal. Dan sudah jelas tidak ada
klausul reservasi untuk Konvensi Hukum Laut 1982. Sehingga apabila Malaysia
menyalahi

aturan

konvensi

tindakan

kebebasan

dalam

hukum

Malaysia

sekehendaknya.
3. Kepastian
Mencari kepastian dalam konsep hukum internasional ini bagai mencari seseorang
yang ada didepan anda tetapi tidak jelas. Konsep kedaulatan dikorbankan untuk
melonggarkan negara masuk kedalamnya. Kepastian hukum sendiri meruapakan
hukum positif, bahwa menurut aturan dia adalah hukum, hukum yang ditetapkan itu

5 Dikutip dari buku Gustav Radbruch, Vorschule der Rechtspilosophie, hlm. 23-31.
6 B. Arief Sidharta, Meuwissen...., Op.Cit, hlm. 91-92.

adalah pasti dan ia didasarkan kepada kenyataan, bahwa kenyataan berdasarkan hukum
itu bebas dari kekeliruan dan hukum positif tidak boleh mudah berubah.7
Dalam hal ini Malaysia menyalahi aturan dari konsep hukum yang berubah dari kaidah
payungnya yaitu perjanjian internasional, sedangkan Indonesia menjalankan apa yang
seharusnya. Sehingga dapat disimpulkan Malaysia tidak memberikan cerminan
kepastian hukum. Memang diberikan kebebasan dalam berhukum akan tetapi
kebabasan yang dinilai dari hubungan kausal. Akan tetapi kepastian hukum menuntut
hukum positif berlaku, akan tetapi kebutuhan akan kepastian hukum dapat saja
menyebabkan keadaan nyata yang berbeda dan menjadi kenyataan hukum.
4. Kemanfaatan
Keadilan pada akhirnya akan membutuhkan sebuah kemanfaatan, buat apa adil akan
tetapi tidak memberikan kemanfaatan. Hal ini akan beranjak ke rancah ekonomi,
dilihat dari segi materil yang sangat berkaitan satu sama lain. Alasan Malaysia tidak
mematuhi norma yang dibentuk dalam perjanjian internasional dengan adanya keadilan
secara hukum akan tetapi tidak beberikan kemanfaatan maka proses panjang tadi akan
digugurkan

dengan

adanya

kebebasan.

Malaysia

kembali

sebagai

negara

persemakmuran inggris sangat menjunjung tinggi ideologi yang diturunkan


kedalamnya. Aspek kemanfaatan akan sangat berpengaruh, sehingga Malaysia
menerapkan kebebasan terhadap hukumnya yang memberikan kemanfaatan.
C. Ideologi Hukum Mempengaruhi Orang Dan Masyarakat Indonesia Dan
Malaysia Terhadap Cara Menetapkan Batas-Batas Laut Negaranya.
Pendekatan yang dilakukan untuk menyimpulkan ideologi apa yang dianut oleh Malaysia
dan Indonesia serta keterkaitannya dengan penetapan batas-batas wilayah laut negaranya
7 Dikutip dari buku Gustav Radbruch, Vorschule der Rechtspilosophie, hlm. 23-31.

berdasarkan historis jajahan negara sebelumnya. Meskipun adanya perubahan mendasar


dari ideologi dengan nama yang baru serta pengaruh-pengaruh agama dan kebudayaan
akan membentuk sebuah persepsi baru tentang ideologinya. Akan tetapi secara garis besar
pengaruh historis negara pengkoloni Malaysia dan Indonesia masih meninggalkan ide
dasar dari ideologi.
1. Kapitalisme sebagai dasar ideologi Malaysia
Inggris merupakan negara pengkoloni Malaysia secara jelas tertulis didalam sejarah
dunia. Dengan lahirnya revolusi industri oleh Inggris pada abad ke 17, maka memaksa
mesin-mesin bekerja yang dijalankan oleh orang yang tidak memiliki harta.
Kapitalisme sendiri meruapakan sistem produksi komoditi berdasarkan kerja berupah
untuk dijual dan diperdagangkan guna mencari keuntungan.8 Terdapat 3 asumsi dasar
kapitalisme yaitu, kebebasan individu, kepentingan diri dan pasar bebas. 9 Dalam hal ini
Malaysia sebagai negara sepermakmuran inggris tidak akan dilepaskan oleh Inggris
lari dari ideologi tersebut. Akan tetapi Inggris memberikan peluang bagi budaya dan
agama untuk masuk agar tidak membuat negara persemakmurannya ingkar.
Kata kunci pasar bebas tadi lah yang menjadi alasan akan penetapan batas-batas
wilayah Malaysia tidak menyesuaikan dengan KHL 1982. Daerah seputar ambalat
memiliki kekayaan minyak yang melimpah, sehingga dengan dimilikinya pulau-pulau
kecil di ambalat maka Malaysia dapat mengeksploitasi minyak yang ada, hal ini akan
membuka jalan bagi investor masuk membangun instalasi dan menjalankan kegiatan
perekonomian. Sebagaimana jelas esensi dari kapitalisme yaitu kekayaan yang
diinvestasikan kembali untuk mencari keuntungan.
8 Nur Sayyid Santoso Kristeva, Sejarah Ideologi Dunia, Yogyakarta: Lentera Kreasindo, hlm.21,
2015.
9 Ibid, hlm.16.

2. Ideologi Pancasila Indonesia yang memiliki dasar Ideologi Sosialisme


Sosialisme pada hakekatnya berpangkal kepada kepecayaan diri manusia bahwa segala
penderitaan dan kemelaratan dapat dihilangkan.10 Sistem ekonomi yang dianut dalam
ideologi ini menekankan penghapusan terhadap kepemilikan hak pribadi agar status
kepemilikan swasta dihapuskan terhadap komoditi penting kepada masyarakat banyak
seperti air, listrik, minyak dan bahan pangan. 11 Contoh konkrit yang dapat ditemukan
yaitu pemberian kesempatan kerja, menghapus diskriminasi, memperjuangkan
kesamaan hak, memperjuangkan hak-hak pekerja, kerjasama serta menghapuskan
persaingan dan mengatur ekonomi untuk kepentingan seluruh rakyat.
Hal ini diakumulasikan kedalam Pancasila sebagai Ideologi bangsa Indonesia. Citahukum bangsa Indonesia berakar dalam Pancasila yang oleh para Bapak Pendiri
Negara Republik Indonesia ditetapkan sebagai landasan kefilsafatan dalam menata
kerangka dan struktur dasar organisasi negara sebagaimana dirumuskan dalam Undang
Undang Dasar 1945. Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia yang
mengungkapkan pandangan bangsa Indonesia tentang hubungan antara manusia dan
Tuhan, manusia dan sesama manusia, serta manusia dan alam semesta, yang berintikan
keyakinan tentang tempat manusia individual di dalam masyarakat dan alam semesta.
Dalam dinamika kehidupan, pandangan hidup yang dianut akan memberikan koherensi
dan direksi (arah) pada pikiran dan tindakan. Cita-hukum Pancasila yang berakar
dalam pandangan hidup Pancasila dengan sendiri akan mencerminkan tujuan menegara
dan nilai-nilai dasar yang tercantum dalam Pembukaan, Batang Tubuh serta Penjelasan
Undang Undang Dasar 1945.12

10 Deliar Noer, Pemikiran Politik di Negara Barat, Bandung: Mizan, hlm. 188, 1999.
11 Nur Sayyid Santoso Kristeva, Sejarah Id....., Op.Cit, hlm.43.

Yang pada akhirnya cita-cita hukum Pancasila berintikan:


a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Ketuhanan Yang Maha Esa;


Penghormatan atas martabat manusia;
Wawasan Kebangsaan dan Wawasan Nusantara;
Persamaan dan kelayakan;
Keadilan sosial;
Moral dan budi pekerti yang luhur;
Partisipasi dan transparansi dalam proses pengambilan putusan publik.13

Dan seluruh cita-cita bangsa Indonesia dalam Pancasila memperjuangkan nasib


kesetaraan dan kesejahteraan rakyat secara adil.
Pada akhirnya pulau-pulau di blok ambalat yang menjadi salah satu ciri komoditi
penting menjadi urgensi untuk dipertahankan mengingat dalam pemenuhan keadilan
sosial kepada masyarakat, hal-hal yang berhubungan dengan hajat orang banyak harus
diselamatkan.

12 Dikutip dari tulisan B. Arief Sidharta, Hukum Progresif dari Sisi Filosofis: Persepsi
Epistimologi,Heremeneutis, dan Metafisika.
13 Ibid.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan penelitian diatas dapat disimpulkan kedalam tiga hal penting yaitu:
1. Hakekat hukum atas dasar perbandingan norma yang berlaku untuk menetapkan
batas-batas wilayah laut negara Indonesia dan Malaysia sangat berkenaan dengan
norma masing-masing negara yang berlaku dan moralitas. Sudah dijelaskan diatas
bahwa hukum dan moral terpisah, sehingga tujuan dilakukannya perbandingan
adalah untuk menentukan tolak ukur moralitas dan hukum yang digunakan kedua
negara.
2. Isi dari nilai-nilai dasar yang berkenaan dengan keadilan, kebebasan, kepastian dan
kemanfaat dilihat dari negara Indonesia dan Malaysia yang masing-masing
memiliki norma yang berbeda dalam penetapan batas-batas wilayah laut negaranya.
Setiap nilai dasar memiliki karakteristik masing-masing yang pada akhirnya tidak
ada salah dan benar dalam penarikan analisis tentang penerapan batas-batas
wilayah laut dua negara.
3. Ideologi hukum mempengaruhi orang dan masyarakat Indonesia dan Malaysia
terhadap cara menetapkan batas-batas laut negaranya dilihat dari negara
pengkoloninya, yang dimana Malaysia cenderung kapitalis dan Indonesia lebih
Sosialisme sebagaimana dapat ditemukan dari kenyataan empirik bahwa malaysia
menjunjung investasi dan Indonesia penguasaan komoditi penting oleh negara dan
digunakan untuk kemakmuran rakyat secara adil.

Daftar Pustaka

Soerjono Soekanto, Pengantar Sosiologi Hukum, Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1977.
B. Arief Sidharta, Meuwissen Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum
dan Filsafat Hukum, Bandung: Refika Aditama, 2013.
Gustav Radbruch, Vorschule der Rechtspilosophie.
Nur Sayyid Santoso Kristeva, Sejarah Ideologi Dunia, Yogyakarta: Lentera Kreasindo,
2015.
Deliar Noer, Pemikiran Politik di Negara Barat, Bandung: Mizan, 1999.
B. Arief Sidharta, Hukum Progresif dari Sisi Filosofis: Persepsi
Epistimologi,Heremeneutis, dan Metafisika.