Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan

Bentos merupakan organisme perairan yang hidup di dasar permukaan (epifauna)


maupun di dalam (infauna) sedimen dasar perairan yang sebagian besar siklus hidupnya menetap
di habitatnya yang merupakan substrat dasar suatu perairan.
Dari data tersebut didapat data pada titik pengamatan 1 suhu air 37,6 0C suhu tersebut
diatas suhu normal untuk kelangsungan hidup bentos yaitu dibawah 350C (Ratnawati, 2007).
Pada titik tersebut terjadi berkurangnya keanekaragaman. Pada titik pengamatan 2 suhu air 34 0C
suhu tersebut normal untuk kelangsungan hidup bentos yaitu dibawah 35 0C (Ratnawati, 2007).
Pada titik pengamatan 3 suhu air 330C suhu tersebut normal untuk kelangsungan hidup bentos
yaitu dibawah 350C (Ratnawati, 2007). Pada titik pengamatan 4 suhu air 33,4 0C suhu tersebut
normal untuk kelangsungan hidup bentos yaitu dibawah 350C (Ratnawati, 2007). Pada titik
pengamatan 5 suhu air 36,20C suhu tersebut diatas suhu normal untuk kelangsungan hidup
bentos yaitu dibawah 350C (Ratnawati, 2007). Pada titik tersebut terjadi berkurangnya
keanekaragaman. Pada titik pengamatan 6 suhu air 36,9 0C suhu tersebut diatas suhu normal
untuk kelangsungan hidup bentos yaitu dibawah 350C (Ratnawati, 2007). Pada titik tersebut
terjadi berkurangnya keanekaragaman.
Suhu udara pada keseluruhan titik pengamatan cenderung normal dengan kisaran 3033 C yang merupakan suhu normal untuk kelangsungan hidup bentos yaitu dibawah 35 0C
(Ratnawati, 2007).
0

Intensitas cahaya tinggi yaitu diatas 900 kandela. Namun pada titik pengamatan 2
intensitas cahaya tersebut yaitu 3800C. Itu terjadi karena daerah tersebut mengambil data ketika
cahaya matahari sedang redup.
pH didapatkan data dari 6,14-8,1. pH pada kisaran tersebut. Rentang pH tersebut
merupakan rentang pH yang dapat ditoleransi untuk kelangsungan hidup makrozoobentos yaitu
dalam rentang 4,5 8,5 (Hawkes dalam Manan, 2010).
Kedalaman air hampir sama kisaran 12-15 cm. Tetapi pada titik pengamatan 2
kedalamannya hanya 2,5 cm. Pada kedalaman 2,5 cm hanya sedikit bentos yang ditemukan.
Berbeda dengan yang kedalaman 12-15 cm lebih bervariasi jenis bentos tersebut.
DO cenderung rendah pada seluruh titik pengamatan. Ini terjadi karena tingginya beban
organik yang dapat menurunkan nilai DO dan juga kecepatan aliran air yang lambat.
Kekeruhan cenderung rendah yaitu antara kisaran 11-17 NTU. Ini menyebabkan
banyaknya keanekaragaman bentos. Tetapi berbeda pada titik pengamatan 4 yaitu 32,8 NTU. Ini
terjadi karena ketika pengambilan data praktikan membuat gerakan yang menyebabkan air
tersebut keruh.
Kelembaban seluruh titik pengamatan yaitu tinggi. Ini terjadi karena karena sedikitnya
angina yang bertiup dan juga banyaknya air di pantai tersebut. Ini juga mempengaruhi terhadap
banyaknya keanekaragaman bentos didaerah tersebut.

Kania Ratnawati, (2007), Kajian Trimetrik Biologi Makroinvertebrata


bentik dalam penentuan kualitas air sungai (studi kasus : Sungai Citarum Hulu),
Tesis Pasca Sarjana Teknik Lingkungan, ITB.