Anda di halaman 1dari 2

Heroin atau diamorfin adalah derivat dari morfin dengan nama 3.6-diasetil morfin.

Heroin dikenal dengan nama jalanan putaw, dan penggunaanya banyak memiliki istilah
tersendiri. Heroin adalah opioid semi sintetik yang ditemukan oleh C.R. Adler Wright pada
tahun 1874 yang disintesis dengan menambahkan dua gugus asetil pada molekul morfin.
Heroin dalam bentuk murni adalah berupa bubuk putih sedangkan heroin ilegal yang beredar
biasa dalam bentuk bubuk kecoklatan yang sudah dicampur dengan zat-zat lain. Penggunaan
heroin sendiri bisa dengan cara langsung dimakan, dihirup, maupun disuntikkan secara
langsung.
Heroin sendiri memiliki efek yang sama dengan morfin. Efek morfin pada susunan
saraf pusat dan saluran gastrointestinal ditimbulkan karena kerjanya yang bekerja pada
reseptor mu. Pada sistem saraf pusat efek heroin dapat menimbulkan analgesia. Pada dosis
kecil (5-10 mg) heroin dapat memberikan efek euphoria pada orang yang menderita nyeri,
sedih dan gelisah, namun akan memberikan efek disforia pada orang normal. Selain itu
heroin dapat menimbulkan eksitasi sentral dengan manifestasi klinis seperti mual dan
muntah. Heroin juga dapat mengakibatkan depresi pernapasan karena efeknya pada batang
otak. Pada dosis toksik frekuensi napas dapat turun hingga mencapai 3-4 kali permenit, hal
inilah yang sering menyebabkan kematian pada intoksikasi heroin. Pada mata, heroin dapat
menimbulkan perrangsangan pada segmen otonom inti saraf okulomotor sehingga dapat
menimbulkan miosis. Efek yang timbul pada saluran pencernaan timbul karena pengaruh
langsung heroin pada reseptor mu pada saluran gastrointestinal. Pengaruh pada usus adalah
memperlambat motilitas usus halus dan dapat mengilangkan gerakan propulsi usus besar
dengan cara menaikan tonus. Heroin menciptakan ketidakseimbangan di sistem saraf dan
hormonal. Penelitian telah menunjukkan adanya penurunan fungsi dari white matter di otak
yang mempengaruhi pengguna dalam pengambilan keputusan, kemampuan untuk
bersosialisasi, dan merespons stress.
Intoksikasi obat golongan morfin bermanifestasi dengan depresi sistem pernapasan.
Orang dengan intoksikasi heroin akan tidur, sopor koma jika intoksikasi cukup berat.
Frekuensi napas lamabat, 2-4 kali permenit, pola pernapasan dapat berupa cheyne strokes.
Pasien akan menimbulkan gejala sianotik, kulit muka merah tidak merata dan agak kebiran.
Tekanan darah juga dapat turun karena efeknya pada nervus vagus hingga menjadi syok bila
depresi napas juga terjadi. Midriasis dapat terjadi jika telah terjadi anoksia. Pembentukan urin
akan sangat berkurang karena adanya pengelpasan ADH dan turunya tekanan darah.
Adiksi heroin timbul karena adanya 2 mekanisme yaitu

1. Habituasi
2. Ketergantungan fisik, karena efek adiksi dari obat.
Toleransi timbul terhadap efek depresi, tetapi tidak timbul terhadap efek eskitasi, miosis
dan efek pada usus. Toleransi silang dapat timbul antara morfin, dihidromorfin, metopon,
kodein dan heroin. Toleransi timbul setelah 2-3 minggu. Kemungkinan toleransi lebih besar
bila digunakan dosis besar secara teratur.
Gejala putus obat timbul bila pecandu menghentikan penggunan obatnya tiba-tiba.
Menjelang saat dibutuhkanya morfin, pecandu teresbut merasa sakit, gelisah, dan iritabel,
kemudian tertidur nyebak. Sewaktu bangun ia mengeluh seperti akan mati dan lebih gelisah
lagi. Pada fase ini akan timbul gejala tremor, iritabilitas, lakrimasi, berkeringat, menguap,
bersin, mual, midriasis, demam, dan napas cepat. Gejala ini akan makin hebat disertai
timbulnya muntah, kolik dan diare. Frekuensi denyut jantung dan tekanan darah meningkat.
Pasien merasa panas dingin disertai hiperhidrosis. Akbiatnya muncul dehidrasi, ketosis,
asidosis dan berat badan pasien akan menurun. Kadang-kadang timbul kolaps kardiovaskular
yang bias berakhir dengan kematian.
Refrensi
1. Farmakologi dan terapi. Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia;
1981. 693 p.