Anda di halaman 1dari 15

Laporan Kasus

Herpes Zoster Oftalmikus

Pembimbing : dr. Mahdar Johan, Sp.KK


Disusun oleh :
Belinda Orline O. S.
2013-061-124

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIKA ATMA JAYA JAKARTA
RUMAH SAKIT R. SYAMSUDIN, S.H.
21 SEPTEMBER 2015 23 OKTOBER 2015

BAB I
PENDAHULUAN
Herpes zoster merupakan infeksi akut yang disebabkan reaktivasi virus VaricellaZoster (VZV) yang menyerang kulit dan mukosa, yang bersifat localized dan unilateral.
Sinonim dari penyakit ini adalah shingles, dampa, atau cacar ular.
Penyakit ini tersebar merata di seluruh dunia dan dapat mengenai semua bangsa dan
ras. Angka kejadian pada pria dan wanita sama, 66% terjadi pada usia dewasa. Insidens
meningkat seiring bertambahnya usia. Untuk kelompok usia kurang dari 45 tahun, insidens
kurang dari 1 dari 1000, sedangkan pada usia lebih dari 75 tahun, insidens meningkat yaitu 4
kali lebih banyak. Ciri khas dari penyakit ini adalah nyeri radikuler, dan didapatkan
gerombolan vesikel yang tersebar sesuai dermatom yang diinervasi oleh suatu ganglion
sensoris.
Herpes zoster ditandai dengan gambaran vesikel yang bergerombol di atas kulit yang
eritematus, sementara kulit di antara gerombolan satu dengan yang lain normal. Juga sering
didapatkan krusta berwarna kuning kecoklatan sampai kehitaman jika perjalanan penyakit
telah sampai pada stadium krustasi.
Penyakit ini terjadi pada individu yang telah terserang infeksi varisela atau cacar air
sebelumnya. Virus varisela kemudian berpindah tempat dari lesi di kulit dan permukaan
mukosa ke ujung saraf sensorik dan ditransportasikan secara sentripetal melalui serabut saraf
sensoris ke ganglion sensoris.
Pada ganglion terjadi infeksi laten, virus tersebut tidak lagi menular dan tidak
bermultiplikasi, tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk berubah menjadi infeksius. Proses
reaktivasi virus dapat dicetuskan oleh antara lain usia lanjut dengan penurunan imunitas,
individu

dengan

imunosupresi

(HIV/AIDS),

keganasan,

radioterapi,

pengobatan

imunosupresif, dan penggunaan kortikosteroid yang lama. Setelah lebih dari 1 bulan pasca
infeksi postherpetik neuralgia dapat terjadi pada 13 35 % pasien yang berusia di atas 60
tahun.
Lokasi lesi dari Herpes zoster sering didapatkan pada wajah bagian dahi atau mata
(herpes zoster oftalmikus), pada wajah (herpes zoster fasialis), pada daerah dada (herpes
zoster torakalis), pada daerah pundak (herpes zoster brakialis) tergantung pada ganglion di
mana virus menginfeksi secara laten. Lokasi tersering adalah pada bagian torakal. Setelah itu
yang tersering adalah pada bagian kranial atau wajah sisi dahi yaitu herpes zoster oftalmikus.
Pada jenis ini yang terkena adalah ganglion gasseri pada saraf kranial V (nervus trigeminus).

Herpes zoster oftalmikus cukup berbahaya karena dapat menyebabkan penurunan visus. Bila
mengenai anak cabang nasosiliar (timbul vesikel di puncak hidung yang dikenal dengan tanda
Hutchinson) kemungkinan besar terjadi kelainan mata.
Bila cabang oftalmikus yang terkena, maka terjadi pembengkakan di kulit daerah
dahi, alis, dan kelopak mata disertai kemerahan yang dapat disertai vesikel, dapat mengalami
supurasi menjadi pustula lalu pecah menjadi krusta.
Diagnosis herpes zoster oftalmikus ditegakkan melalui anamnesis dan gejala klinis
yang dialami penderita, serta pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan
adalah pemeriksaan Tzank smear yaitu mengambil bahan dari dasar lesi dengan
menggunakan skalpel steril, dengan pewarnaan Giemsa diperiksa dibawah mikroskop
pembesaran 100x, ditemukan sel datia berinti banyak.
Pemberian terapi meliputi topikal dan sistemik. Untuk terapi sistemik diberikan obat
antivirus, kortikosteroid, analgetik, antidepresan atau antikonvulsan, sedangkan terapi topikal
dapat menggunakan kompres dan antiinflamasi nonsteroid topikal.
Pada kasus herpes zoster oftalmikus perlu untuk konsul pada ahli mata atau dapat
diberikan antivirus lokal. Penyulit pada penyakit ini adalah bila didapatkan infeksi sekunder
pada penderita antara lain keratokonjungtivitis, neuralgia pasca herpetika, otalgia, zoster
generalisata, dan sindroma Ramsay-Hunt.

LAPORAN KASUS

I.

II.

IDENTIFIKASI
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Masuk
Tanggal Periksa

: Tn. B
: 47 Tahun
: Laki-laki
: Islam
: Supir
: Mekar Tanjung, Curug Kembar, Sukabumi
: 01 Oktober 2015
: 01 Oktober 2015

ANAMNESIS
Diperoleh secara autoanamnesis pada tanggal 01 Oktober 2015, pukul 11.20 WIB
A. Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan timbul lenting dan korengan pada wajah, yaitu
daerah dahi, mata, dan kepala sebelah kiri
B. Keluhan Tambahan
Pasien merasa nyeri dan panas pada daerah lenting dan koreng, dan juga
keluhan disertai dengan demam
C. Riwayat Perjalanan Penyakit
7 hari SMRS pasien merasa badan panas, meriang, serta sakit kepala seperti
orang yang akan mengalami flu pada umumnya. 5 hari SMRS pasien masih demam
dan merasakan mata sebelah kiri seperti berpasir dan tidak nyaman lalu
membengkak dan kulit sekitar mata menjadi kemerahan. 4 hari SMRS timbul adanya
lentingan kecil berjumlah 3 buah pada sekitar mata dan dahi sebelah kiri yang lama
kelamaan terlihat berisi cairan bening di dalamnya, bertambah banyak, makin
membesar dan terasa nyeri. 3 hari SMRS mulai ada lenting yang berubah warna
menjadi kekuningan, ada yang menjadi pecah dan membentuk koreng. Pasien
mengeluhkan adanya rasa nyeri dan panas pada bagian tersebut. Pasien telah berobat
ke bidan terdekat 2 hari SMRS dan mendapatkan obat minum antibiotik (cefadroxil),
CTM, parasetamol, dan vitamin. Belum ada perbaikan, pasien datang ke poliklinik
kulit dan kelamin RSUD Syamsudin, SH. Hingga hari pasien berobat ke RSUD R
Syamsudin, SH, pasien mengeluhkan kesulitan dalam membuka mata kiri. Keluhan
lain seperti gangguan pendengaran, mual, pusing berputar disangkal. Riwayat kontak
terhadap bahan iritan seperti deterjen, minyak pelumas, maupun zat kimia lainnya
disangkal.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit yang sama sebelumnya disangkal.

III.

Riwayat diabetes mellitus dan hipertensi disangkal.


Riwayat cacar air saat masih kecil (pasien tidak ingat usia saat menderita cacar air)
Pasien sedang tidak dalam pengobatan jangka lama.
Riwayat atopi disangkal
Riwayat imunisasi tidak diketahui.
PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalikus
Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 130/70 mmHg

Laju nadi

: 88 kali/menit

Laju napas

: 24 kali/menit

Suhu

: 37,7 oC

Anemis

: -/-

Edema

:-

Sianosis

:-

Ikterus

:-

BB

: 60 kg

B. Status Dermatologikus
Letak Lesi
Regio oftalmik, frontal, dan scalp sinistra
Efloresensi
Primer:
Eritema

:+

Bula hemoragik

:-

Hipopigmentasi

:-

Scratch mark

:-

Papula

:-

Hipopion

:-

Nodula

:-

Planus

:-

Vesikula

:-

Urtika

:-

Bula

:-

Tumor

:-

Pustula

:+

Kista

:-

Bula purulen

:-

Sekunder :
Skuama

:-

Rhagaden : -

Likenitikasi: -

Maserasi

:-

Fisura

Erosi

:-

:-

Krusta

:+

Plak

:-

Ekskoriasi : -

Granulasi : -

Eksfoliasi : -

Fistula

:-

Spesifik : Sifat UKK


Susunan / bentuk : herpetiformis
Penyebaran dan lokalisasi : dermatomal; unilateral

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tzank smear
V.
DIAGNOSIS BANDING
- Herpes Zoster Oftalmikus
- Herpes Simpleks
- Dermatitis Kontak
VI.
DIAGNOSIS KERJA
Herpes Zoster Oftalmikus
VII. TATALAKSANA
Non medikamentosa

Edukasi penyakit pasien termasuk resiko

Menjaga lesi tetap bersih dan kering dan hindari iritasi

Bed rest

Rencana rawat inap, konsul bagian spesialis mata

Medikamentosa
Oral:
Asiklovir 5x800mg/hari selama 7 hari
Methyl Prednisolon 16 mg (2-0-1)
Parasetamol 3x1gram
Asam mefenamat 3x500 mg
Ranitidine 2x150 mg
Lapibal (mecobalamin) 3x500 mg
Doxepin 1x25 mg sebelum tidur
Topikal:
Kompres lesi dengan NaCl 0,9% 2 kali sehari setelah mandi pagi dan sore, selama
10 menit
Krim indometasin
Topikal pada lesi okular:
Cendo xitrol 4x sehari (1-2tetes)
Salep mata acyclovir 3% 3x sehari
VIII. RESUME
Pasien laki-laki, 47 tahun datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD R
Syamsudin, SH dengan keluhan adanya lenting dan koreng pada bagian dahi, mata,

dan kepala kiri. Keluhan diawali gejala prodromal 7 hari SMRS. 5 hari SMRS
mulai muncul eritema pada sekitar mata kiri dan dahi kiri. 4 hari SMRS papul 3
buah pada sekitar mata dan dahi sebelah kiri yang lama kelamaan terlihat berisi
cairan di dalamnya, bertambah banyak, makin membesar dan terasa nyeri. 3 hari
SMRS mulai timbul pustula dan krusta. Pasien mengeluhkan adanya rasa nyeri dan
panas pada bagian tersebut. Pasien telah berobat ke bidan terdekat 2 hari diberikan
obat oral cefadroxil, parasetamol dan vitamin, namun belum ada perbaikan.
Keluhan lain seperti gangguan pendengaran, mual, pusing berputar disangkal
Pada pemeriksaan dermatologis didapatkan UKK eritema, pustula, dan krusta
pada

regio

frontal,

oftalmik,

dan

scalp

sinistra,

(herpetiformis), distribusi unilateral, susunan dermatomal.


IX.

PROGNOSIS
Qua ad Vitam
Qua ad Fungtionam
Qua ad Sanationam

: ad Bonam
: ad Bonam
: ad Bonam

BAB II
ANALISA KASUS

bersifat

berkelompok

Pada kasus ini, dapat di diagnosis sebagai penyakit herpes zoster oftalmikus.
Diagnosis tersebut didapatkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada anamnesis
didapatkan Pasien laki-laki, 47 tahun datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD R
Syamsudin, SH dengan keluhan adanya lenting dan koreng pada bagian dahi, mata, dan
kepala kiri. Keluhan diawali gejala prodromal 7 hari SMRS. 5 hari SMRS mulai muncul
eritema pada sekitar mata kiri dan dahi kiri. 4 hari SMRS papul 3 buah pada sekitar mata dan
dahi sebelah kiri yang lama kelamaan terlihat berisi cairan di dalamnya, bertambah banyak,
makin membesar dan terasa nyeri. 3 hari SMRS mulai timbul pustula dan krusta. Pasien
mengeluhkan adanya rasa nyeri dan panas pada bagian tersebut. Pasien telah berobat ke bidan
terdekat 2 hari diberikan obat oral cefadroxil, parasetamol dan vitamin, namun belum ada
perbaikan. Keluhan lain seperti gangguan pendengaran, mual, pusing berputar disangkal
Pada pemeriksaan dermatologis didapatkan UKK eritema, pustula, dan krusta pada
regio frontal, oftalmik, dan scalp sinistra, bersifat berkelompok (herpetiformis), distribusi
unilateral, susuan dermatomal.
Epidemiologi/Etiologi

Kasus

Pasien laki-laki

Herpes zoster

Insiden meningkat

usia 47 tahun

Riw varicella
saat masih kecil

seiring bertambahnya
usia terlebih >55 tahun

sakit varicella

Riwayat

sebelumnya

imunisasi tidak
diketahui

Mempunyai riwayat

Insiden menigkat
pada pasien yang belum
diimunisasi Herpes
zoster

Gejala Klinis

Gejala

Didahului gejala

prodromal (+),

prodromal nyeri,

Parastesia (+),

parstesia, alodinia,

Alodinia (+),

malaise, sakit kepal dan

malaise(+), febris(+).

demam.

Lesi awal eritema

dengan terdapat
papul dan vesikel

Lesi biasanya
unilateral 1 dermatom

Lesi biasanya mulai

hingga berlanjut

sebagai makula eritema

menjadi krusta.

selanjutnya vesikel
menjadi pustul

Pada
pemeriksaan

kemudian menjadi

dermatologis

krusta.

didapatkan UKK

eritema, pustula, dan

Lesi berkelompok
(herpetiformis)

krusta pada regio


frontal, oftalmik, dan
scalp sinistra,
sifatnya
berkelompok
(herpetiformis),
distribusi unilateral,
susunan dermatomal

Penatalaksanaan

Non medikamentosa

Edukasi

Nonmedikamentosa

penyakit pasien
termasuk resiko

pasien termasuk resiko

kering dan hindari

Menjaga lesi tetap


bersih dan kering dan

Menjaga
lesi tetap bersih dan

Edukasi penyakit

hindari iritasi.

iritasi.

Bed rest
Medikamentosa

Bed rest

Rawat

Antiviral
Asiklovir 5x800mg/hari

inap, konsul bagian

selama 7 hari, atau

spesialis mata

Valasiklovir 3x1g/hari
selama 7 hari, atau

Medikamentosa

Famsiklovir 3x250-

Asiklovir
5x800mg/hari

500mg/hari

Kortikosteroid

selama 7 hari

Prednison

Methyl
Prednisolon 16

1mg/kgBB/hari

Analgetik

mg (2-0-1)
Parasetamol

Parasetamol, NSAID

Antidepressan

3x1gram

Doxepin 10-100mg saat

Asam mefenamat

mau tidur, dosis inisiasi

3x500 mg

untuk depresi/ansietas :

Ranitidine 2x150

25mg/hari

mg
Lapibal

Topikal

(mecobalamin)

Krim indometasin

3x500 mg

(analgetik)

Doxepin 1x25 mg

Kompres lembab (air,

sebelum tidur

saline, Burows solution


(Aluminium asetat))

Topikal
Krim indometasin
Kompres NaCl

Topikal untuk lesi okular


-

0,9%

Keratitis,iridosiklitis,
skleritis :
Tetes mata steroid
4x/hari
Siklopegik

Topikal untuk lesi okular


Cendo xitrol 4x sehari

(cyclopentolate ED,

(1-2tetes)

atropine eye

Salep mata acyclovir 3%

ointment)
Topikal asiklovir

3x sehari

3% EO 5x/hari selama
2 minggu
-

Cegah infeksi
sekunder dengan

antibiotik topikal
Glaukoma sekunder :
timolol 0,5%

Neuroparalytic
corneal ulcer : lateral

tarsorrhaphy
Defek epitelial
persisten : artificial
tear drops, bandage
soft contact lens

Diagnosa Banding

Epidemiolgi/etiologi

Dermatitis Kontak

Dapat dialami semua

orang, dari berbagai

infeksi

umur, ras, jenis kelamin.

berulang.

Terutama

laten

HSV-1

dan
pada

berhubungan dengan

sekitar 90% individu

pekerjaan

berumur 20-40 tahun.

Disebabkan oleh
bahan/substansi yang
menempel pada kulit

DKI dan DKA

DKI : bahan iritan


(pelarut, deterjen,
minyak pelumas, asam,
alkali, serbuk kayu)

Herpes simplex

Merupakan

DKA : bahan kimia


sederhana dg berat mol
rendah (<1000dalton)
disebut hapten, bersifat
lipofilik, sgt reaktif, dpt
menembus stratum
korneum (deodoran,
make-up, parfum, bahan

pelembut/pewangi
pakaian, deterjen)
Gejala Klinis

Lokasi tersering : di

tangan

terutama

DKI : gambaran
beragam; lesi akibat

lesi

anogenital

kadang-kadang oral

Pada

infeksi

bahan iritan terasa perih,

primer gejala biasanya

bila akut terdapat eritema

terjadi dalam waktu 3-

edema, lalu menjadi

7hari

vesikel/bula, tepi tegas

Gejala prodormal

dan asimetris. Pada yang

malaise,

kronik berupa kulit

dan demam.

kering, eritema, skuama

yang lembat laun


menebal

Distribusi

anoreksia,

Disertai nyeri dan


rasa terbakar pada lesi

Biasa

ditemukan

(hiperkeratosis)dan

vesikel dengan dasar

likenifikasi

eritematosa

DKA : gatal, pada


stadium akut dimulai

adanya

pustul

diikuti
dan

erosi. Hingga krusta

eritema batas tegas


diikuti edema,
papulovesikel,
vesikel/bula. Pada yang
kronis : kulit kering,
berskuama,papul,
likenifikasi, berbatas
tegas

DAFTAR PUSTAKA

1. Eizen AZ, Woff K, Freedberg IM, Auten KF. Fitzpatrick


Medicine. Edisi ke-7, New York: Mc Graw Hill. 2008: 158-162

Dermatology in General

2. Djuanda A, Kosasih A, Wiryadi BE, Natahusada EC, Sjamsoe-Dalli E, Effendi EH et al.


Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-6. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2010.
3. James WD, Berger TG, dan Elston DM. Andrews Disease of the skin clinical
dermatology. 11th Ed. Canada: Elseiver; 2011.
4. Kartowigno HS. Sepuluh Besar Kelompok Penyakit Kulit.

Edisi ke-2. Cetakan 2.

Palembang: FK Unsri; 2012.


5. Khurana AK. Comprehensive Ophtalmology. Fourth edition. India; 2007:103-106