Anda di halaman 1dari 24

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

PENDAHULUAN
A. ABSTRAK
Al-Qur'an dengan berbagai pluralitas makna yang terkandung di dalamnya,
memberikan daya tarik (interest side) tersendiri bagi setiap kalangan. Secara
praktis, orang awam akan merasakan keindahan Al-Qur'an dari setiap ketukan
nada akhir dari beberapa ayat. Contohnya saja,




Meskipun terkesan sederhana, namun ini merupakan permulaan yang bagus
untuk melihat prospek daya tarik Al-Qur'an di tengah-tengah arus globalisasi
yang tengah bergulir. Karena jika Al-Qur'an tidak memiliki daya tarik dan
stagnan pada sisi tektualitas serta kontekstualitasnya, maka Al-Qur'an akan
ditinggalkan, dan orang-orang akan berbondong-bondong memilih sains yang
sudah pasti dan secara pragmatis bermanfaat bagi kehidupan manusia,
ketimbang agama dengan kitab sucinya yang kuno dan tidak mampu
menyesuaikan dengan perkembangan jaman.

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

Tafsir tampil sebagai baju untuk meng-upgrade al-Qur'an di sepanjang


bergulirnya zaman. Setiap masa, selalu ada mufassir yang mencoba untuk
menghidangkan nilai-nilai wahyu yang terkandung di dalam al-Qur'an.
Namun, tipe pemahaman para ulama terhadap teks al-Quran sangat beragam
sesuai dengan keberagaman metode dan pandangan. Pandangan tersebut
sebagian besar adalah :1
1.

Pandangan Quasi-obyektivis tradisional

Yang dimaksud dengan Quasi obyektivis tradisional adalah suatu pandangan


bahwa ajaran al-Quran harus dipahami, ditafsirkan dan diaplikasikan pada
masa kini, sebagaimana dipahami dan diaplikaskan pada masa al-Quran
diturunkan kepada Nabi Muhammad dan disampaikan kepada genersi muslim
awal. Yaitu masyrakat Makkah dan Madinah pada waktu itu.
Akan tetapi dalam menafsirkan al-Quran tentunya kita tidak bisa dipisahkan
oleh keilmuan para ulamaSalaf yang memang memiliki keahlian dalam
bidang penafsiran sehingga kita mengenal ilmu Asbabunnuzul, ilmu
Asbabunnuqul, munasabatul ayat dan tentang ayat-ayat Muhkamat dan
Mutasyabihat dan lain sebagainya sehingga dengannya kita akan mengetahui
makna asli dari sebuah ayat al-Quran
2.

Pandangan Quasi-Obyektifis modernis

1 http://erlanmuliadi.blogspot.com/2011/01/tipologi-penafsiran-kontemporer.html di download pada


Sabtu, 4 Oktober 2014

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

Pandangan ini hampir sama dengan obyektifis tradisional yang tidak


melupakan cara penafsiran ulama salaf sebagai pijakan awal bagi pembacaan
al-Quran pada masa kini, akan tetapi makna literal tidak lagi dipandang
sebagai pesan utama al-Quran. Menurut Quasi sarjana-sarjana muslim saat
ini harus juga berusaha memahami makna dibalik pesan literal yang disebut
Rahman dengan ratio legis atau istilah lain disebut dengan Maqashid ( Tujuntujun ayat ) maka dibalik pesan literal ilmiyah yang harus diimplementasikan
pada masa sekarang dan akan datang.
3.

Menurut pandangan subyektivis

Aliran

subyekifis menegaskan setiap genersi mempunyai hak untuk

menafsirkan al-Quran sesuai dengan perkemmbangan ilmmu pengetahuan


dan pengalaman pada saat al-Quran ditafsirkan. Pandangan ini antara lain
dianut oleh Muhammad Syahrur ia mengatakan bahwa kebenaran interpretatif
terleak pada sebuah penafsiran dengan kebutuhan dan situasi serta
perkembangan ilmu ppada saat al-Quran ditafsirkan. Muhammad Syahrur
berpegang pada sebuah pepatah atau pribahas yang mengatakan Tsabat
Annash waharokat al- muuhtawa Bahwa sesungguhnya teks al-Quran
tetap tetapi kandungannya terus bergerak atau berkembang.
Igzaz Goldziher adalah satu dari sekian banyak para orientalis yang
mempelajari dan mendalami Al-Qur'an. Jika sebelum abad ke-19 para

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

orientalis barat berbondong-bondong menelaah teks-teks keislaman hanya


untuk kepentingan kolonialisasi, namun setelah masuk abad ke-19 mereka
kembali menelaah teks-teks keislaman demi kepetingan dan tujuan ilmiah,
dan tidak lagi demi kepentingan kolonialisasi. Alquran dengan sedemikian
rupa diamati dan didalami untuk mengeluarkan berbagai kemungkinan makna
yang terkandung di dalamnya. Para orientalis pada umumnya seringkali
mengkritik sejarah al-Qur'an mulai dari penurunan hingga penulisan dan
pembukuannya2. Dan meskipun saat ini sudah tidak ada kepentingan
kolonialisasi, terkadang hasil penelitian yang didapatkan terkesan subjektif
dan bias dari kebenaran yang hakiki. Sehingga dalam hal ini para pembaca
diharuskan memiliki filter khusus agar tidak terjebak dalam pembelokanpembelokan ilmiah yang dirancang oleh para orientalis yang memiliki tujuan
tertentu.
Demikianlah, dalam makalah ini akan diulas mengenai Ignaz Goldziher yang
dalam hal ini telah meneliti al-Qur'an serta mengelompokkannya dalam
tipologi-tipologi khusus. Tipologi-tipologi inilah yang banyak digunakan oleh
peneliti setelah beliau untuk meneliti dan mendalami al-Qur'an.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu Tipologi?
2 Sebut saja T. Noldeke yang menganggap al-Qur'an merupakan hasil penerapan terhadap agama
yahudi yang datang jauh sebelum islam dan berkembang di Mekkah saat itu.

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

2. Apa latar belakang kehidupan Ignaz Goldziher?


3. Apa tipologi al-Qur'an yang ditawarkan oleh Ignaz Goldziher serta
pendekatan yang digunakan?
4. Bagaimana tanggapan ulama maupun peneliti terhadap pemikiran Ignaz
Goldziher?

PEMBAHASAN
A SEJARAH SINGKAT IGNAZ GOLDZIHER
Ignaz Goldziher lahir pada 22 Juni 1850 di sebuah kota di Hongaria. Berasal
dari keluarga Yahudi yang terpandang dan memiliki pengaruh luas, tetapi tidak
seperti keluarga Yahudi Eropa yang sangat fanatik saat itu. Pendidikannya dimulai
dari Budhapes, kemudian melanjutkan ke Berlin pada tahun 1869, hanya satu
tahun ia di sana, kemudian pindah ke Universitas Leipzig. Salah satu guru besar
ahli ketimuran yang bertugas di universitas tersebut adalah Fleisser, sosok
orientalis yang sangat menonjol saat itu. Dia termasuk pakar filologi. Di bawah
asuhannya, Goldziher memperoleh gelar doktoral tingkat pertama tahun 1870
dengan topik risalah Penafsir Taurat yang berasal dari Tokoh Yahudi Abad
Tengah3.
Kemudian Goldziher kembali ke Budhapes dan ditunjuk sebagai asisten guru
besar di Universitas Budhapes pada tahun 1872, namun ia tidak lama mengajar.
3 Sumber ini diperoleh dari makalah atau karya ilmiah sdr. Helmi Nawali dengan judul Tafsir Dalam
Perspektif Ignaz Goldziher, yang diakses dari website www.academia.edu pada tanggal 2 Oktober
2014, pukul 1.31 AM

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

Sebab ia diutus oleh Kementerian Ilmu Pengetahuan ke Luar negeri untuk


meneruskan pendidikannya di Wina dan Leiden. Setelah itu ia ditugasi untuk
mengadakan ekspedisi ke kawasan Timur, dan menetap di Kairo Mesir, lalu
dilanjutkan ke Suriah dan Palestina. Selama menetap di Kairo dia sempat bertukar
kajian di Universitas al-Azhar.
Ketika diangkat sebagai pemimpin Universitas Budapes, dia sangat
menekankan kajian peradaban Arab, khususnya agama Islam. Gebrakan yang
dilakukan Goldziher telah melambungkan namanya di negeri asalnya. Oleh
karena itu, ia dipilih sebagai anggota Pertukaran Akademik Magara tahun 1871,
kemudian menjadi anggota badan pekerja tahun 1892, dan menjadi salah satu
ketua dari bagian yang dibentuknya pada tahun 1907.4
Pada tahun 1894 Goldziher menjadi profesor kajian bahasa Semit, sejak saat
itu dia hampir tidak kembali ke negerinya, tidak juga ke Budaphes, kecuali untuk
menghadiri konferensi orientalis atau member orasi pada seminar-seminar di
berbagai universitas asing yang mengundangnya. Pada tanggal 13 November
1921, akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya di Budhaphes.5
Goldziher memiliki beberapa karya tulis yang tidak sedikit. Ia terbilang
sebagai orientalis yang produktif. Diantara karya-karyanya adalah sebagai
berikut:

4 Ibid.
5 Ibid.

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

1) Kritik terhadap Azh-Zhahiriyyah: Madzhabuhum wa Tarikhuhum, yang


dikerjakan pada tahun 1884. Sebuah buku yang mengulas tentang ushul fiqih,
sejarah munculnya madzhab, khususnya madzhab Zhahiriyah, serta kaitannya
dengan madzhab-madzhab lain.6
2) Muhammedanische Studien/Dirasah Islamiyyah, juz pertama terbit pada tahun
1889, sedangkan juz kedua terbit pada tahun berikutnya. Pada juz pertama,
Goldziher membahas tentang al-Watsaniyah wa al-Islam. Di juz kedua,
Goldziher memaparkan sejarah dan perkembangan hadits, pengkultusan wali
di kalangan umat Islam dan berbagai hal yang berkaitan dengannya.7
3) Kajian terhadap al-Muammarin-nya Abi Hatim as-Sijistani pada tahun 1899.8
4) Muhadharat fi al-Islam (Heidelberg, 1910). Buku ini membahas Muhammad
dan Islam, Perkembangan Syariat, Perkembangan Ilmu Kalam, Zuhud dan
Tasawuf yang menguraikan sejarah timbulnya mistisime dalam Islam dan
perkembangannya, yaitu sejak peradaban Islam berkenalan dengan Hellenis
dan Hindu hingga timbulnya paham wahdat al-wujud pada abad ke-7
Hijriyah. Dalam bagian akhir karya ini dibahas juga berbagai aliran yang
terdapat dalam Islam, seperti Khawarij, Syiah, dan aliran-aliran yang muncul
pada masa kontemporer, seperti Wahabiyah, Bahaiyah, Babiyah, dan
Ahmadiyah.
5) Die Richtungen der Islamischen Koranauslegung/Ittijahat Tafsir al-Quran
inda al-Muslimin (Leiden, 1920).9
6 Ibid.
7 Ibid.
8 Ibid
9Ibid., Menurut Helmi dalam karya ilmiahnya, setelah ditelusuri ternyata karya Goldziher Die
Richtungen der Islamischen Koranauslegung dalam versi bahasa Arab berjudul Madzahib at-Tafsir
al-Islami, bukan Ittijahat Tafsir al-Quran inda al-Muslimin.

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

C. PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN IGNAZ GOLDZIHER


Secara umum al-Quran adalah target utama serangan misionaris dan oreintalis
Yahudi Nasrani, setelah mereka gagal menghancurkan sirah dan sunnah Nabi
saw.106. Pendekatan kajian Goldziher terhadap al-Quran tidak sebatas
mempertanyakan otentitasnya, namun isu klasik yang selalu diangkat adalah soal
pengaruh Yahudi, Nasrani, Zoroaster dan sebagainya terhadap Islam dan isi
kandungan al-Quran. Goldizher berusaha mengungkapkan apa saja yang bisa
dijadikan bukti bagi teori peminjaman dan pengaruh hal tersebut terutama dari
literatur dan tradisi Yahudi-Nasrani, dan membandingkan ajaran al-Quran dengan
adat-istiadat Jahiliyah, Romawi, dan lain sebagainya. Goldziher mengatakan
bahwa cerita-cerita dalam al-Quran banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan
versi Bible yang dianggap lebih akurat. Dengan demikian penulis simpulkan
bahwa pendekatan yang dipakai Goldziher adalah comparative religion dalam
mengkaji kitab suci, dan historical otenticity dalam mengkaji hadis10.
Secara spesifik, menurut Ignaz Goldziher, Islam adalah agama yang paling
memuaskan akal, dan Islam tidak bertolakbelakang dengan kemajuan ilmu,
karena jika bertolakbelakang, maka berarti Islam itu bertentangan dengan
semangat pembawanya. Sementara itu, Goldziher dalam memandang al-Quran
mengatakan, Tidak ada kitab perundang-undangan (tasyri) yang diakui oleh
kelompok keagamaan bahwa ia adalah teks yang diturunkan atau diwahyukan, di
10 Huyain, Musthofa dalam Kajian Orientalis Terhadap Al-Quran-Hadits (E-book PDF M. Anwar
Syarifudin-UIN Syarif Hidayatullah) Halaman 65.

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

mana pada masa awal peredaran teks tersebut datang dalam bentuk kacau dan
tidak pasti sebagaimana yang kita temukan dalam al-Quran. Demikian tanggapan
Goldziher terhadap al-Quran yang menurutnya banyak perbedaan dalam hal
qiraat dan tidak konsisten dalam hal tafsirnya dan ingin mengubah susunan ayat
dan surat dalam al-Quran secara kronologis, mengoreksi bahasa al-Quran ataupun
mengubah redaksi sebagian ayat-ayatnya.
Tentang Tafsir al-Quran, Goldziher memandang bahwa tafsir memiliki bias
kepentingan, karena memang indikasi seperti itu dalam dunia Islam dapat
ditemukan dengan mudah. Fakta tentang bagaimana masing-masing sekte atau
madzhab dalam Islam saling memperebutkan klaim kebenaran Tuhan
merupakan bukti yang tidak bisa disangkal. Di sinilah al-Quran sebagai rujukan
inti menjadi taruhan tertinggi; sebuah kewenangan mutlak, senjata perang, sumber
harapan, dan tempat suaka yang tak dapat digantikan dalam waktu-waktu
permusuhan. Dari sinilah dimulai babak penafsiran secara tekstual terhadap
tujuh huruf yang maknanya sangat membinggungkan, sebagaimana lahir
pengakuan pada empat imam madzhab dalam bidang fiqih, maka dalam disiplin
qiraat muncul pula pengakuan tujuh madzhab (madrasah) yang masing-masing
madzhab mewakili kecenderungan dalam qiraat, serta menjustifikasi qiraatnya
dengan riwayat-riwayat yang shahih.11

11 Ibid

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

Goldziher dalam hal ini membahas panjang lebar tentang ikhtilaf al-Qiraat
(perbedaan bacaan) al-Quran, yang kemudian menghasilkan sebuah tesis Islam
tidak memiliki teks pemersatu () . Menurutnya, tidak ada
sebuah kitab suci yang tidak konsisten melebihi al-Quran. Untuk mendukung
tesisnya, ia menjelaskan bahwa sejarah mencatat perbedaan qiraat (bacaan alQuran) yang terjadi di kalangan sahabat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad
SAW yang mengatakan bahwa al-Quran diturunkan ala sabah ahruf.


:
.12
Goldziher juga memaparkan empat puluh tujuh (47) kalimat dalam al-Quran
yang memiliki perbedaan cara baca. Kalimat-kalimat tersebut dijadikan bukti
bahwa tidak ada nash (teks) pemersatu dalam al-Quran.13 Terjadinya perbedaan
qiraat ini dikarenakan karakteristik bahasa Arab sendiri, di mana beda titik saja
sudah bisa membuat perubahan yang cukup signifikan. Lebih lanjut, Goldziher
menyimpulkan ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan qiraa14t:

12 Selain riwayat di atas, masih terdapat riwayat lain yang menjelaskan bahwa al-Quran diturunkan
dengan sabah ahruf. (cek di Maktabah Syamilah sotware)
13 Muhammad Hasan Jabal, dalam karya ilmiah Helmi yang beliau kutip dari Ar-Rad ala alMustasyriq al-Yahudi Goldziher fi Mathainihi ala al-Qiraah al-Quraniyah (Tonto: Tanpa Penerbit,
cet. II, 2002), hlm. 84.
14 Goldziher, dalam karya ilmiah Helmi.

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

a) Adanya titik (tanda huruf) pada huruf-huruf resmi, di mana jumlah titik
dan letaknya mempengaruhi cara baca huruf huruf tersebut. 15 Perbedaan
dikarenakan titik ini bisa tidak berpengaruh terhadap makna yang
dikehendaki al-Quran, semisal lafadz ( )dalam QS. At-Taubah:114:



Lafadz yang ditandai warna kuning memiliki dua versi cara baca; ( )
adalah qiraat masyhurah dan ( )qiraat gharib (Hammad). Namun
perbedaan letak titik ini tidak menimbulkan perbedaan makna yang
signifikan.16
b) Perbedaan karena harakat yang dihasilkan, disatukan, dan dibentuk dari
huruf-huruf yang diam (tidak terbaca), yang bisa menyebabkan perbedaan
gramatikal. Ia memberi contoh surat ar-Rad ayat 43: .
Ayat di atas memiliki tiga kemungkinan cara baca: pertama,

. Kedua, . Ketiga, . Yang


kesemuanya memiliki sisi gramatika yang benar.
c) Penambahan tafsir oleh sebagian sahabat diklaim memiliki andil dalam
memperkeruh perbedaan cara baca tersebut. Dalam hal ini goldziher
merujuk kepada mushaf yang dimiliki oleh beberapa sahabat, di mana
dalam mushaf tersebut tercantum ayat-ayat al-Quran dan tafsirnya,

15 Ibid.
16 Ibid hlm. 7

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

dengan kata lain ia berpedoman kepada rasm. Salah satu contoh ayat 50
surat Ali Imran:

.
Kalimat yang bergaris bawah di atas merupakan penafsiran sahabat yang
ditulis tanpa ada tanda pemisah antara ayat al-Quran dan tafsirnya.
Menurut Goldziher, tafsir yang dapat dikatakan shahih adalah tafsir yang
didasarkan pada ilmu, yaitu tafsir yang ditetapkan oleh Nabi saw sendiri atau
sahabatnya yang bersentuhan langsung dalam wilayah pengajaran. Dalam hal ini
Nabi telah menjelaskan makna al-Quran dan dalalah-nya, karena sudah sangat
jelas bahwa Nabi saw sendiri sering kali ditanya tentang makna kosakata dan
ayat-ayat al-Quran, dan beliau menjelaskan hal itu semua. Demikianlah beliau
tidak menafsirkan ayat-ayat tersebut dari pendapatnya sendiri, tetapi beliau
menerima tafsirnya dari malaikat jibril yang mengajarkan kepada beliau dengan
nama Allah.
Hampir seluruh himpunan hadis yang banyak sekali jumlahnya dan tersusun
materinya pasti memuat bab tafsir al-Quran, yakni sekumpulan kabar yang keluar
dari Nabi saw dalam menafsirkan Al-quran. Selanjutnya dalam menyikapi israiliat
dalam tafsir Goldziher berpendapat bahwa dalam kitab-kitab terdahulu memiliki
berbagai macam versi kisah, yang kemudian dikumpulkan oleh Muhammad
dengan bentuk yang sangat singkat dan kadang kala campur aduk. Maka lahirlah
komunitas orang yang sangat ahli dengan kitab-kitab terdahulu, mereka berusaha

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

menutupi celah-celah yang ada dalam al-Quran dengan apa yang mereka pelajari
dari hasil interaksinya dengan penganut Yahudi dan Nasrani. Mereka berusaha
menyempurnakan kisah-kisah yang diterimanya dari penganut kedua agama
tersebut, yakni sering kali mereka ulang-ulang karena buruknya hafalan mereka
dan selanjutnya dirangkai dengan hasil imajinasi mereka sendiri, hingga akhirnya
mereka mengklaim bahwa semua itu adalah tafsir al-Quran.
Tanpa ilmu dunia Islam tidak dapat mengenal sama sekali produk pemikiran
yang spesifik dan bahkan berita-berita yang diterima dari sumber yang tidak
spesifik, namun hanya mengenal ajaran-ajaran yang berpedoman pada sumbersumber ilmu yang dapat diperhitungkan keberadaannya, yakni yang disandarkan
pada riwayat yang bersambung pada Nabi saw sendiri atau kepada sahabatnya.
Barang siapa yang menyandarkan pendapatnya pada sumber-sumber ini maka
dialah yang memiliki ilmu dan segala sesuatu yang selain itu adalah rasio (ray)
atau hawa nafsu, perkiraan atau spekulasi terkaan, yang kesemua itu tidak berhak
dinamakan ilmu. Bahkan telah diriwayatkan dalam hadis --meskipun dicela--yang menyatakan bahwa panafsiran dengan ray adalah keliru meskipun benar.
Siapa yang menafsirkan al-Quran dengan nalar (ray)-nya meskipun benar, maka
dia sebenarnya salah.17

17 Ibid

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

D. PENGERTIAN TIPOLOGI AL-QUR'AN


Tipologi berasal dari dua akar kata yaitu typos dan logos. typos atau type adalah
bentuk, macam, jenis dan golongan. Logos atau logy dikenal luas dalam banyak
susunan seperti sosiologi, biologi, dan lain-lain yang berarti ilmu, teori atau
aliran. Obyektifitas dan subyektifitas.mardan.Menurut kamus besar bahasa
Indonesia, tipologi adalah ilmu watak tentang bagian manusia dalam golongangolongan menurut corak wataknya masing-masing18. Menurut sumber lain,
Tipologi adalah ilmu yang mempelajari tentang pengelompokan berdasarkan tipe
atau jenis.19
Tipologi Al-Qur'an adalah pengistilahan terhadap macam-macam, jenis-jenis,
maupun bentuk-bentuk pendekatan secara umum terhadap al-Qur'an. Perlu untuk
mengenali terlebih dahulu adanya ragam pendekatan tersebut, agar dalam
penerapannya nanti terhadap penafsiran teks-teks suci al-Quran tidak tercampurbaur satu sama lainnya.

E. TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER


1. Tafsir bil Matsur
Pada masa awal Islam hingga abad kedua Hijriyah, sahabat enggan
menyibukkan diri mereka dengan tafsir (bi ad-dirayah). Diriwayatkan bahwa
Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar dan Salim ibn Abdillah ibn Umar
18 http://www.referensimakalah.com/2011/08/tipologi-pendekatan-penelitian-tafsir_4764.html di
download pada Sabtu, 4 Oktober 2014
19 http://id.wikipedia.org/wiki/Tipologi di download pada Sabtu, 4 Oktober 2014

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

enggan menafsirkan al-Quran. Lebih lanjut, Ibnu Masud secara tegas


memproklamirkan dirinya sebagai penentang mufassir yang mengandalkan
akal (bi al-rayi). Tafsir bi al-rayi dipandang sebagai hal yang tabu di
kalangan sahabat, karena mereka berprinsip bahwa penafsiran al-Quran harus
didasarkan pada al-ilmu, bukan dzann. Ilmu di sini dimaksudkan sebagai
riwayat yang datang dari Nabi secara yakin. Sementara penafsiran
berdasarkan akal semata bersifat dzann (tidak pasti). Bahkan, tafsir bi al-rayi
dianggap keliru sekalipun benar. 20
Kecenderungan sahabat dan tabiin yang berpegang teguh pada
otentisitas riwayat merupakan suatu hal yang sangat berperan dalam usaha
memelihara al-Quran, yang di kemudian hari riwayat dilegitimasi dengan
adanya jalur isnad. Penafsiran dengan kecenderungan inilah yang dinamakan
dengan tafsir bi al-matsur. 21
Tafsir bi al-Matsur, secara sederhana, adalah penjelasan ayat alQuran yang didasarkan pada riwayat shahih baik dari Nabi Muhammad SAW
maupun dari sahabatnya. Dr. Anshori menambahkan bahwa tafsir bi alMatsur adalah penafsiran al-Quran dengan al-Quran, penafsiran al-Quran
dengan hadits Nabi saw, penafsiran al-Quran dengan perkataan sahabat, dan
penafsiran al-Quran dengan tabiin.22
20 Helmi, E-book tentang Tafsir Perpektif Goldziher Hal 11
21 Ibid
22 Anshori, dalam karya ilmiah Helmi yang dikutip dari karya beliau yang berjudul Tafsir bil Rayi:
Menafsirkan al-Quran dengan Ijtihad (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 2.

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

Di antara tokoh mufassir bi al-Matsuri adalah empat khalifah


rasyidin, Aisyah berikut istrei-isteri Rasul yang lain, dan sahabat-sahabat
lainnya. Mufassir dari kalangan sahabat yang ternama adalah Abdullah ibn
Abbas yang mendapat julukan mujizat al-Quran, bahr al-ilm, dan turjuman
al-Quran. Julukan-julukan tersebut merupakan sikap apresiatif terhadap
usaha dan upaya Ibnu Abbas dalam menafsirkan al-Quran berdasarkan alQuran itu sendiri atau hadits Nabi. Di samping terdapat riwayat yang
menyebutkan bahwa Nabi mendoakan Ibnu Abbas agar diberi pemahaman
tentang tafsir al-Quran: allahumma faqqihhu fi ad-din wa allimhu attawil.
Namun bukan berarti tafsir bi al-Matsur tidak mengalami kendala,
justru dalam pandangan Goldziher kendala penafsiran yang bertitik tolak dari
riwayat semakin besar. Maka, kemudian muncul istilah israiliyat dan
nashraniyat dalam studi tafsir, yaitu riwayat yang merujuk kepada Israil dan
Nashrani, dengan tokoh sentralnya Kaab al-Ahbar. Di samping kendala lain
yaitu, belum terkodifikasinya tafsir23.
Tafsir memasuki babak baru, masa kodifikasi, pada abad kedua
Hijriyah, namun manuskrip-manuskrip tafsir tersebut tidak bisa dijumpai
sampai saat ini.24 Baru pada awal abad ketiga Hijriyah mulai bemunculan

23 Ibid
24 Ibid

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

kitab-kitab tafsir yang dikodifikasi dan bisa kita nikmati sampai saat ini,
semisal tafsir at-Thabari (251-310 H).25
Menurut Ignaz Goldziher, disyaratkannya bagan (sanad) Hadits
merupakan poin yang cukup diperhitungkan dalam wilayah ilmu-ilmu
keagamaan dan secara khusus untuk memberikan parameter dalam bidang
tafsir. Tafsir bi al-Matsur adalah tafsir yang dapat disaksikan keshahihannya,
yakni tafsir yang didasarkan pada ilmu atau tafsir yang dapat ditetapkan
bahwa nabi sendiri atau para sahabatnya bersentuhan langsung dalam wilayah
pengajaran hal itu dan telah menjelaskannya dengan penjelasan makna alQuran dan dalalahnya. Karena sudah sangat jelas, nabi sendiri sering ditanya
tentang makna kosakata dan ayat al-Quran, lantas beliau menjelaskan itu
semua. Demikianlah beliau tidak menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan
pendapatnya sendiri, tetapi beliau menerima tafsirnya dari malaikat Jibril yang
mengajarkan kepada beliau dengan nama Allah (dengan riwayat dari Allah)26.
Disini Ignaz Goldziher secara eksplisit membatasi Tafsir bi al-Matsur
hanyalah tafsir pada masa nabi dan masa sahabat.27
Perbedaan bacaan dan berbagai ragam tafsir yang kemudian
bermunculan, dianggap sebagai usaha untuk melestarikan otentisitas al-Qur'an
melalui validasi riwayat atau sanad-sanad yang sampai kepada mereka. Selain
25 Ibid., hlm. 107.
26 http://andromedazone.blogspot.com/2009/01/mazhab-tafsir-ignaz-goldziher_1164.html yang di
download pada Sabtu, 4 Oktober 2014
27 Ibid

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

itu, menurut Goldziher perbedaan qiroah akan menuntun kepada pemahaman


yang berbeda antara satu dengan yang lain, sehingga terlihat inkonsistensi dari
al-Qur'an.

2. Tafsir bil-Rayi
Pada fase ini orientasinya tidak lagi untuk menjaga keotentikan dan penafsiran
yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan al-Quran, tetapi lebih berorientasi
pada bagaimana penafsiran al-Quran ini dapat melegitimasi kelompokkelompok tertentu, seperti aliran akidah (teologis), aliran tasawuf, bahkan
penafsiran al-Quran ini menjadi tunggangan aliran politik keagamaan
tertentu.28
Dalam pandangan Ignaz Goldziher, pada generasi terdahulu telah terjadi
perpecahan dalam tafsir al-Quran bi al-Matsur. Perpecahan ini pada awalnya
tidak dimaksudkan agar penafsiran mereka menyimpang dari karakter riwayat
dan naql. Tendensi-tendensi yang kemudian muncul untuk mencari justifikasi
pemahaman suatu kelompok di dalam al-Qur'an menjamur dan menimbulkan
perpecahan di tengah-tengah umat islam. Perpecahan ini pertama kali terjadi
dari kaum rasionalis (baca:Mutazilah) yang bermaksud menafsirkan alQur'an menggunakan rasionalitas serta menghilangkan aspek-aspek serta
metode-metode penafsiran yang mengkerdilkan akal atau menafikan fungsi
akal. Inilah yang kemudian disebut dengan Tafsir bi Rayi. Tafsir bi Rayi
28 Ibid

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

adalah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya atau maksudnya, mufassir


hanya berpegang pada pemahamannya sendiri, pengambilan kesimpulan
(istinbath) pun didasarkan pada logikanya semata.
Dalam mencontohkan penggunaan tafsir model ini, serta tendensitendensi yang kemudian mencuat ke permukaan adalah salah satu contohnya
tafsir al-Kasyaf karya Zamakhsyari, yang merupakan salah satu tokoh
terkemuka dari aliran Mutazilah. Dalam tafsir ini, terlihat dengan jelas
tendensi Zamakhsyari dalam menafsirkan al-Quran sesuai dengan selera
sektenya29. Misalnya, ketika ia menafsirkan ayat 105 Surat Ali Imran: Dan
janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih
sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.. Ia menafsirkan
kata orang-orang yang bercerai berai dan berselisih dengan golongan
Musyabbihah, Hasyawiyah, dan sebagainya, di mana term-term itu adalah
sebutan Zamakhsyari untuk golongan Ahlus Sunnah.30
Di antara ayat yang diperselisihkan antara Mutazilah dan Ahlus
Sunnah adalah ayat-ayat tentang iman terhadap khurafat dan hal-hal yang
menakjubkan, percaya terhadap adanya jin, karomah para wali, dan
sebagainya. Di mana Mutazilah dalam hal ini menjadi kubu penentang,
sementara Ahlus Sunnah meyakini eksistensi dari hal-hal tersebut.

29 Helmi, E-book tentang Tafsir Perpektif Goldziher Hal 12


30 Ibid

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

3. Tafsir fi Dhaui at-Tashawwuf al-Islami (Tafsir Sufi)


Gerakan tasawuf mengalami beberapa tahapan, dimulai dari sikap zuhudi
terhadap dunia, hingga akhirnya bermuara pada hakikat Allah sebagaimana
ajaran hulul. Gerakan ini juga berusaha mencari dasar legitimasi dari alQuran, walaupun memang diakui bahwa menemukan legitimasi secara nyata
dari al-Quran bukan merupakan hal yang mudah bagi para sufi. Sebab,
mereka tidak berkutat pada makna lahiriah al-Quran, akan tetapi berusaha
menemukan makna tersirat di balik lafadz-lafadznya.31 Dengan asumsi bahwa
al-Quran memiliki makna tersirat inilah, para sufi berusaha menafsirkan alQuran sesuai dengan selera dan frame work mereka, yang kemudian
penafsiran dengan tendensi ini disebut dengan tafsir sufi.
Gerakan penafsiran ini dimulai oleh gerakan Ikhwanus Shafa di Bashrah
pada abad sepuluh Masehi, walaupun pada hakikatnya Ikhwanus Shafa tidak
bergerak dalam bidang tasawuf, namun benih-benih munculnya tafsir ala sufi
ini dimulai dari gerakan tersebut. Ihkwanus Shafa adalah sebuah gerakan yang
membidangi permasalahan politik di masa Khilafah Abbasiyah, namun
kemudian beralih haluan menjadi gerakan keagamaan yang bersikap
asketisme layaknya para sufi. Dalam menafsirkan al-Quran, terutama
menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan ketuhanan, zat, sifat ataupun
perbuatan Tuhan. Para sufi Islam senantiasa melihat sifat-sifat ketuhanan yang

31 Ibid

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

ada dalam al-Quran dengan perhatian penuh, untuk memeliharanya dalam satu
integralitas atau beberapa hal lain dari dua hal berbeda.

F. ISLAM : PERTARUNGAN ANTARA TEKSTUALITAS DAN


PERKEMBANGAN ZAMAN
Menurut kacamata Ignaz Goldziher, permasalahan antara kebudayaan dan
Islam merupakan permasalahan yang bertolak belakang, dan jawaban dari
keduanya sudah diupayakan sejak lama oleh kebanyakan tradisi keilmuan yang
beragam dalam dunia Islam, baik secara teoritis maupan ilmiah. Islam selama ini
tidak dianggap sebagai ajaran yang mengabaikan tujuan dasar untuk kemajuan
rasional dan kemajuan sosial, kecuali disebabkan karena adanya pengaruh
keagamaan yang keliru dan bentuk-bentuk penafsiran yang salah dari para ulama
mutakhir.32
Penyelewengan ajaran Islam itulah yang selama ini menjadi penyebab utama
adanya paradoks bagi makna dan hakikat Islam berupa tidak adanya mobilisasi
Islam ke arah paradigma kebudayaan modern. Nilai-nilai etis secara final
ditetapkan bagi segala urusan yang tidak memiliki relevansi kecuali hanya sebatas
temporal-relatif; sementara kewajiban-kewajiban dicanangkan, dengan kebenaran
syariat (legitimasi agama) yang tidak bisa menerima perubahan dan pergantian.
Inilah yang menyebabkan kejumudan kehidupan dalam Islam, dan kekhurafatan
(mitos) menampakkan diri hadapan dunia nyata yang asing, yaitu bahwa klaim
32 http://andromedazone.blogspot.com/2009/01/mazhab-tafsir-ignaz-goldziher_1164.html yang di
download pada Sabtu, 4 Oktober 2014

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

tentang kesempurnaan Islam barangkali menyerupai sebuah wilayah empat


persegi (terbatas). Seandainya masalah-masalah yang memiliki nilai relatiftemporal di dalam Islam itu dipahami secara proporsional, artinya didasarkan
pada nilai-nilai relatif-temporalnya begitu juga segala sesuatu itu tidak harus
selalu dikembalikan kepada akidah dan moralitas, tetapi kepada prinsip-prinsip
dasar sosial, ekonomi dan konstitusional, sebagaimana ia dikembalikan kepada
pengetahuan ilimiah tentu umat Islam tidak akan menjadi batu sandungan bagi
sistem sosial yang selalu menuntut adanya dinamisasi dan kesinambungan zaman
yang selalu berubah, bukan sekedar menawarkan produk-produk pemikiran
belaka.
Secara spesifik, menurut Ignaz Goldziher, Islam tidak bertolak belakang dengan
kemajuan ilmu, karena jika bertolak belakang maka berarti Islam itu bertentangan
dengan semangat pembawanya. Padahal Muhammad adalah nabi yang sangat
menghargai pentingnya pola pemikiran dengan akal, sebagai karya manusia yang
paling tinggi dan mulia. Ignaz Goldziher berpendapat bahwa zaman baru
menuntut adanya sebuah sistem baru dan pembebasan dari sistem dan pola-pola
pengajaran yang telah ditetapkan oleh generasi klasik. Tidak mungkin
mempersiapkan generasi muda Islam kecuali dengan membimbing pola pikir
mereka secara wajar, melalui gagasan-gagasan pemikiran setiap generasi sebagai
sebuah kebutuhan (tuntutan) pada masanya dan sejalan dengan ukuran (standar)
serta kaidah yang terus berkembang dan tidak statis. Agama Islam bukanlah

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

remukan bangkai yang tidak memiliki ruh kehidupan lagi, tetapi Islam adalah
penggerak sejarah dan pola kehidupan, yang spirit kehidupannya tidak boleh
dibekukan dalm permasalahan-permasalahan para ulama klasik semenjak zaman
dahulu kala.

PENUTUP
G. KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan yang telah dijelaskan di atas, kesimpulan yang dapat kami
berikan ada 3 poin :

1. Goldziher menganggap bacaan/qiroah yang bervariasi dan tafsir yang


beragam sebagai gerbang perbedaan-perbedaan pemahaman yang ada di
tengah-tengah umat islam.
2. Tipologi penafsiran terbagi menjadi 3
a. Tafsir bi matsur
b. Tafsir bi rayi
c. Tafsir sufi
3. Islam secara umum atau al-Qur'an secara khusus membuka selebar-lebarnya
pintu untuk menyesuaikan makna ajaran islam sesuai dengan konteks zaman.

H. DAFTAR PUSTAKA
Nawali, Helmi. E-book Tafsir Dalam Perspektif Ignaz Goldziher. yang diakses
dari website www.academia.edu pada tanggal 2 Oktober 2014, pukul 1.31 AM

TIPOLOGI ALQURAN MENURUT IGNAZ GOLDZIHER

Huyain, Musthofa. E-book Kajian Orientalis Terhadap Al-Quran-Hadits (Ebook PDF M. Anwar Syarifudin-UIN Syarif Hidayatullah)
Software Maktabah Syamilah
http://www.referensimakalah.com/2011/08/tipologi-pendekatan-penelitiantafsir_4764.html di download pada Sabtu, 4 Oktober 2014
http://id.wikipedia.org/wiki/Tipologi di download pada Sabtu, 4 Oktober 2014
http://erlanmuliadi.blogspot.com/2011/01/tipologi-penafsiran-kontemporer.html