Anda di halaman 1dari 9

Peranan Sektor Industri di Indonesia

Industrialisasi merupakan suatu proses interaksi antara pengembangan teknologi, inovasi,


spesialisasi, dan perdagangan antarnegara yang pada akhirnya sejalan dengan meningkatnya
pendapatan masyarakat mendorong perubahan struktur ekonomi. Di bawah ini adalah diagram
yeng menggambarkan peran sektor industri dalamperekonomian tiga dan empat sektor:
Sesuai dengan data EPS
yang

diolah

Kementerian

Perindustrian pada triwulan III


2012

misalnya,

sektor

ini

menunjukkan pertumbuhan yang


cukup tinggi, yaitu sebesar 7,3%
yoy.

Walaupun

industri

migas

mengalami kontraksi sekitar 5%,


namun

tingginya

pertumbuhan

Industri Pengolahan Non Migas


mengakibatkan Sektor Industri Pengolahan mengalami pertumbuhan sebesar 6,4% yoy.
Pertumbuhan sebesar 6,4% tersebut Sektor Industri Pengolahan menjadi motor pertumbuhan
utama dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar pada triwulan III 2012.
Meskipun ketidakpastian perekonomian dunia masih terus berlangsung, namun kondisi
perekonomian Indonesia tetap berjalan dengan pertumbuhan yang cukup tinggi. Pada triwulan III
2012 pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 6,2% (yoy), dan merupakan pertumbuhan
tertinggi kedua di Asia setelah China, dan ke-5 tertinggi di dunia.
Dari

pertumbuhan

ekonomi

nasional sebesar 6,2% itu, Sektor Industri


Pengolahan menyumbang pertumbuhan
sebesar 1,62%. Kemudian diikuti oleh
Sektor Perdagang'an, Hotel, dan Restoran
yang menyumbang sebesar 1,22% dan
Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
menyumbang sebesar 1,02%. Sedangkan
kontribusi sektor-sektor lainnya di bawah
1%.

Dicapainya pertumbuhan Industri Non Migas sebesar 7,3% pada triwulan III 2012, tidak
saja lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan II2012 sebesar 6,1%, tetapi juga lebih tinggi dari
pertumbuhan triwulan III tahun 2011 yang mencapai 7,2% (yoy). Dengan pertqmbuhan sebesar
7,3% tersebut, fnaka pertumbuhan Industri Npn Migas kembali lebih tinggi dari pertumbuhan
ekonomi nasibnal. Dan dengan pertumbuhan tersebut, maka secara kumulatif hingga triwulan III
tahun 2012, pertumbuhan Industri Non Migas mencapai sebesar 6,5%.
Pertumbuhan industri tersebut didukung oleh tingginya tingkat konsumsi masyarakat, dan
meningkatnya investasi di sektor industri secara sangat signifikan sehingga menyebabkan tetap
terjaganya kinerja sektor industri manufaktur hingga saat ini. Beberapa investasi yang menonjol
pada Januari-September 2012 nilai investasi PMA pada Industri Non Migas mencapai sekitar
US$ 8,6 milyar, atau meningkat 65,9% terhadap nilai investasi pada periode yang sama tahun
2011.
Sementara nilai investasi PMDN pada Januari-September 2012 mencapai Rp 38,1 triliun,
atau meningkat sebesar 40,19% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Dicapainya
pertumbuhan industri non migas sebesar 6,5% hingga triwulan III 2012 didukung oleh kinerja
pertumbuhan sebagian besar kelompok Industri Non Migas, yang mengalami pertumbuhan
cukup tinggi.
Pertumbuhan tertinggi dicapai kelompok Industri Pupuk, Kimia & Barang dari karet
sebesar 8,91%. Kemudian diikuti kelompok Industri Semen dan Barang Galian Bukan Logam
sebesar 8,75%. Kelompok Industri Makanan, Minuman dan Tembakau, di ururutan berikutnya
dengan pertumbuhan 8,22%, dan kelompok Industri Alat Angkut, Mesin dan Peralatannya
sebesar 7,52%.
Urutan berikutnya kelompok Industri Logam Dasar Besi dan Baja yang tumbuh sebesar
5,70%, dan kelompok Industri Tekstil, Barang Kulit & Alas Kaki sebesar 3,64%. Hasil-hasil
yang dicapai tidak terlepas dari kebijakan dan upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah serta
didukung oleh para pelaku usaha dan masyarakat dalam rangka pengembangan dan peningkatan
daya saing industri nasional.
Program dan upaya yang dilakukan pemerintah dalam pengembangan industri yang
menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi nasional menjadi program prioritas yaitu: 1) Program
Hilirisasi Industri Berbasis Agro, Migas, dan Bahan Tambang Mineral. 2) Program Peningkatan
Daya Saing Industri Berbasis SDM, Pasar Domestik, dan Ekspor. 3) Program Pengembangan
Industri Kecil dan Menengah dan lain sebagainya.

Tantangan dan peluang industri tahun 2013 masih sangat tergantung pada kondisi
perekonomian Amerika Serikat dan Uni Eropa yang masih diwarnai ketidakpastian. Hal ini tentu
menimbulkan kekhawatiran banyak kalangan. Akan tetapi, dengan terus membaiknya kinerja
sektor industri non migas dan pesatnya peningkatan investasi di sektor ini, maka pada tahun
2013 pertumbuhan indutri non migas diperkirakan bisa mencapai sedikitnya 6,8%.
Bahkan jika upaya-upaya maksimal bisa dilakukan, industri non migas diperkirakan bisa
tumbuh sekitar 7,1%, dimana dalam hal ini Industri Pupuk, Kimia & Barang dari karet, Industri
Semen & Barang Galian bukan logam; Industri Makanan & Minuman, dan Industri Otomotif
diharapkan bisa menjadi motor pertumbuhan industri manufaktur.
Apabila berbagai permasalahan yang menghambat pertumbuhan sektor industri seperti
penyediaan infrastuktur, ketersediaan gas, listrik dan iklim investasi yang kondusif dapat
ditemukan solusinya, maka sektor industri di yakini dapat berperan lebih besar dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional.

B. Indikator Perkembangan Sektor Industri manufaktur


1. % NTM terhadap PDB
2. % NTM dalam total ekspor
Sector industry manufaktur di banyak Negara berkembang mengalami perkembangan
sangat pesat dalam tiga decade terakhir. Asia Timur dan Asia Tenggara dapat dikatakan sebagai
kasus istimewa. Lebih dari 25 tahun terakhir, dijuluki a miraculous economic karena kinerja
ekonominya sangat hebat. Dari 1970 hinga 1995, industry manufaktur merupakan contributor
utama. Untuk melihat sejauh mana perkembangan industry manufaktur di Indonesia selama ini,
perlu dilihat perbandingan kinerjanya dengan sector yang sama di Negara-negara lain. Dalam
kelompok ASEAN, misalnya kontribusi output dari sector industry manufaktur terhadap
pembentukan PDB di Indonesia masih relative kecil, walaupun laju pertumbuhan output rataratanya termasuk tinggi di Negara-negara ASEAN lainnya. Struktur ini menandakan Indonesia
belum merupakan Negara dengan tingkat industrialisasi yang tinggi dibandingkan Malaysia dan
Thailand.

C. Masalah yang Dihadapi Industri Manufaktur Indonesia


Permasalahan pokok yang dihadapi oleh industri manufaktur terdapat 2 macam, yakni
secara structural dan secara organisasi.
Permasalahan dalam structural sebagai berikut:

Basis Ekspor dan Pasarnya yang sempit.


Hal ini menyangkut pada produk pruduk yang di hasilkan industri ini memiliki kualitas yang
menurun sehingga standar ekspor yang ada tidak terpenuhi. Terlebih lagi pasaran yang mulai
berkurang yang menyebabkan barang produksi menumpuk tak terdistribusi.
Ketergantungan Pada Impor yang sangat tinggi.
Indonesia sangat kurang dalam segi SDMnya, sehingga banyak meg-impor tenaga kerja asing
beserta mesin mesin produksi. Dalam hal ini, membuat tenaga kerja Indonesia bukan bertambah
maju, akan tetapi semakin anjlok nilainya
Konsentrasi Regional
Pada permasalahan ini, industri tidak sepenuhnya berkaembang secara merata. Artinya di
Indonesia hanya terpusat akan satu daerah saja yang dikembangkan dalam sector industri
manufaktur ini.
Tidak adanya Industri yang Berteknologi menengah
Seperti disebutkan sebelumnya, ketergantungan terhadap teknologi juga amat sangat
mempengaruhi lajunya pertumbuhan industri ini, maka dari itu dibutuhkannya alat-alat yang
berteknologi menengah keatas agar bisa menciptakan hasil produk yang bermutu tinggi serta
mempunyai kualitas ekspor yang baik pula.
Permasalahan dalam segi organisasi. Merupakan hal yang harus diperhatikan :
Masalah Organisasi, Hukum, dan Good Corporate Governance
Dilihat dari aspek struktur organisasi perusahaan, kegiatan berproduksi pada sebagian besar
industri manufaktur di Indonesia masih dikelompokkan dibawah "kotak" yang dinamakan
Direktur Produksi. Sedangkan dengan berkembangnya informasi dan komunikasi serta dampak
dari globalisasi, industri manufaktur di negara-negara maju telah

menggunakan penamaan

Direktur Operasi yang fungsinya adalah mengelola aspek desain, kualitas, sumber daya manusia,
strategi proses, strategi lokasi, strategi lay-out, supply chain management (SCM), inventory
management, scheduling, dan maitenance sebagai kesatuan yang terpadu.
Masalah Biaya dan Pendanaan
Industri manufactur pada umumnya adalah industri padat modal dan Mempunyai operating
leverage (rasio antara biaya tetap dan biaya variabel total) yang tinggi. Sebagai industri padat
modal (pada umumnya), sebuah industri Manufaktur harus menekan biaya variabel serendahrendahnya. Oleh karena itu (mengingat biaya variabel yang antara lain mencakup biaya buruh

langsung), adalah sangat naif pendapat yang mengatakan bahwa suatu industri padat modal
sekaligus dapat menjadi industri padat karya.
Masalah Kemampuan Penguasaan Cross-Functional Area
Total Quality Management, misalnya, masih belum menjadi agenda penting dalam pertemuan
RUPS pada beberapa BUMN walaupun topik ini sangat penting bagi industri manufaktur; rapat
lebih banyak memfokuskan diri pada aspek keuangan saja, yaitu laba atau rugi. Demikian pula,
kita tahu bahwa hidup matinya sebuah perusahaan Tergantung pada empat perspektif utama,
yaitu: prespektif pemasaran, operasi/produksi, keuangan, dan learning organization &
pertumbuhan.
Masalah Suku Cadang dan Entrepreneurship
Salah satu penyebab dari kemahnya daya saing industri manufaktur di Indonesia adalah tidak
siapnya pemasok suku cadang untuk produk industri manufaktur. Oleh sebab itu
entrepreneurship berbasis teknologi (technopreneurship) sudah mutlak dikembangkan di
Indonesia. Salah satu cara meningkatkan kemampuan intrepreneurship di Indonesia adalah
dengan menciptakan inkubator bisnis di industri, tentunya dengan bekerjasama dengan penyedia
dana bagi pebisnis pemula (venture capital) seperti PT PNM(Persero), Venture Capital yang
berada di berbagai propinsi, dan lain-lain.
Masalah kepemimpinan
Dari semua industri penghasil produk dan jasa, learning process paling banyak terjadi di sektor
industri manufaktur; oleh sebab itu dari pemimpin perusahaan sektor industri ini sangat
dibutuhkan:
- Pemimpin yang mampu mengatasi konflik antar fungsi-fungsi manajemen
- Pemimpin yang visonary,
Masalah Change Management
Untuk menyehatkan BUMN, sudah banyak konsultan kelas dunia yang diminta bantuannya;
sebut saja AT Kearney, Booz Allen Hamilton, Japan Indonesian Forum, dan masih banyak lagi.
Semuanya berbicara mengenai jargon-jargon management yang mutahir, seperti restrukturisasi,
revitalisasi, reengineering, reborn, reviving dan seterusnya, semuanya bertujuan untuk
menyehatkan perusahaan
Lemahnya sumber daya manusia (SDM)
Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia masih berpendidikan rendah. Insinyur-insinyur hasil
lulusan dalam negri juga masih kurang baik dari segi kualitasnya, masih kurang dalam problemsolving serta kurang kreatif dan kurang mampu dalam melakukan riset serta pengembangannya.

Maka dari itu, peran pemerintah sangat diperlukan dalam bidang pendidikan agar kualitas
pendidikan di Indonesia ditingkatkan.

D. Kelemahan Organisasi dan Tantangan Sektor Industri


Kelemahan-kelemahan yang dihadapi sektor industry terdiri dari:
1. Industri Skala Kecil dan Menengah masih Underdeveloped
2. Konsentrasi Pasar
3. Lemahnya Kapasitas untuk Menyerap dan Mengembangkan Teknologi
4. Lemahnya sumberdaya manusia
Tantangan utama yang dihadapi oleh industri nasional saat ini adalah kecenderungan
penurunan daya saing industri di pasar internasional. Penyebabnya antara lain adalah
meningkatnya biaya energi, ekonomi biaya tinggi, penyelundupan serta belum memadainya
layanan birokrasi. Tantangan berikutnya adalah kelemahan struktural sektor industri itu sendiri,
seperti masih lemahnya keterkaitan antar industri, baik antara industri hulu dan hilir maupun
antara industri besar dengan industri kecil menengah, belum terbangunnya struktur klaster
(industrial cluster) yang saling mendukung, adanya keterbatasan berproduksi barang setengah
jadi dan komponen di dalam negeri, keterbatasan industri berteknologi tinggi, kesenjangan
kemampuan ekonomi antar daerah, serta ketergantungan ekspor pada beberapa komoditi tertentu.
Sementara itu, tingkat utilisasi kapasitas produksi industri masih rata-rata di bawah 70
persen, dan ditambah dengan masih tingginya impor bahan baku, maka kemampuan sektor
industri dalam upaya penyerapan tenaga kerja masih terbatas.
Di sisi lain, industri kecil dan menengah (IKM) yang memiliki potensi tinggi dalam
penyerapan tenaga kerja ternyata masih memiliki berbagai keterbatasan yang masih belum dapat
diatasi dengan tuntas sampai saat ini. Permasalahan utama yang dihadapi oleh IKM adalah
sulitnya mendapatkan akses permodalan, keterbatasan sumber daya manusia yang siap, kurang
dalam kemampuan manajemen dan bisnis, serta terbatasnya kemampuan akses informasi untuk
membaca peluang pasar serta mensiasati perubahan pasar yang cepat.
Dalam rangka lebih menyebarkan industri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
daerah, maka investasi di luar Pulau Jawa masih kurang menarik bagi investor karena
terbatasnya kapasitas infrastruktur ekonomi, terbatasnya sumber daya manusia, serta kecilnya
jumlah penduduk sebagai basis tenaga kerja dan sekaligus sebagai pasar produk.

E. Arah Kebijakan Pembangunan Industri


Persaingan internasional merupakan suatu perspektif baru bagi semua negara, sehingga
fokus dari strategi pembangunan industri di masa depan adalah membangun daya saing industri
manufaktur yang berkelanjutan di pasar internasional. Untuk membangun daya saing yang
berkelanjutan. Esensi daya saing yang berkelanjutan tersebut terletak pada upaya menggerakkan
dan mengorganisasikan seluruh potensi sumber daya produktif untuk menghasilkan produk
innovative yang lebih murah, lebih baik, lebih mudah di dapat dalam rangka pemenuhan
kebutuhan dan permintaan pasar. Strategi pembangunan industri manufaktur ke depan dengan
mengadaptasi pemikiran-pemikiran terbaru yang berkembang saat ini, yaitu pengembangan
industri melalui pendekatan klaster dalam rangka membangun daya saing industri yang
berkelanjutan.
Dalam jangka menengah, peningkatan daya saing industri dilakukan dengan membangun
dan mengembangkan klaster-klaster industri prioritas sedangkan dalam jangka panjang lebih
dititikberatkan pada pengintegrasian pendekatan klaster dengan upaya untuk mengelola
permintaan (management demand) dan membangun kompetensi inti pada setiap klaster.
Strategi pengembangan industri di masa depan menggunakan strategi pokok dan strategi
operasional. Strategi pokok, meliputi :
Memperkuat keterkaitan pada semua tingkatan rantai nilai pada klaster dari industri yang
bersangkutan,
Meningkatkan nilai tambah sepanjang rantai nilai,
Meningkatkan sumber daya yang digunakan industri,
Menumbuh-kembangkan Industri Kecil dan Menengah.
Sedangkan untuk strategi operasional terdiri dari:
Menumbuh-kembangkan lingkungan bisnis yang nyaman dan kondusif,
Penetapan prioritas industri dan penyebarannya,
Pengembangan industri dilakukan dengan pendekatan klaster,
Pengembangan kemampuan inovasi teknologi.
Strategi pengembangan industri Indonesia ke depan, mengadaptasi pemikiran terbaru
yang berkembang saat ini, yang berhubungan dengan era globalisasi dan perkembangan
teknologi abad 21, yaitu pendekatan pengembangan industri melalui konsep klaster dalam
konteks membangun daya saing industri yang berkelanjutan. Pada dasarnya klaster industri
adalah upaya pengelompokan industri inti yang saling berhubungan, baik dengan industri
pendukung (supporting industries), industri terkait (related industries), jasa penunjang,

infrastruktur ekonomi, dan lembaga terkait. Untuk menentukan industri yang prospektif,
dilakukan pengukuran daya saing, baik dari sisi penawaran maupun sisi permintaan, untuk
melihat kemampuannya bersaing di dalam negeri maupun di luar negeri.
Konsep daya saing internasional, merupakan kata kunci dalam pembangunan sektor
industri, oleh karenanya selain sinergi sektoral, sinergi dengan seluruh pelaku usaha, serta
seluruh daerah yaitu kabupaten-kabupaten/kota merupakan hal yang sangat penting.
Strategi Substitusi Import dan Promosi Ekspor dalam Pertimbangan Sektor Industri
antara lain :
1. Bahan baku dan faktor produksi lainnya tersedia
2. Potensi permintaan Dalam Negeri yang memadai
3. Pendorong perkembangan sektor industri manufaktur di dalam negeri
4. Dapat memperluas kesempatan kerja
5. Mengurangi ketergantungan impor

F. Kegagalan Indonesia Menerapkan Sistem Industri


Berikut beberapa daftar kegagalan yang di alami Indonesia dalam menerapkan Sektor
Industri, antara lain:
1. Bahan Baku dan TK bukan yang siap digunakan
2. Pasar yang dilayani adalah pasar domestik
3. Ketergantungan impor
4. Kesempatan kerja tidak berkembang
5. Nilai tambah negatif
6. Struktur pasar didominasi oleh produsen

7. Pasar besar tetapi tidak dapat dikuasai ( produksi, harga