Anda di halaman 1dari 80
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia PERKEMBANGAN PELAKSANAAN KEBIJAKAN DEREGULASI SEPTEMBER

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia

PERKEMBANGAN PELAKSANAAN KEBIJAKAN DEREGULASI SEPTEMBER 2015

7 Oktober 2015

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN NASIONAL

Pertumbuhan Ekonomi (%) 7 6.3 6.4 6.5 6.11 5.81 5.72 6 6.17 6.02 5.5 5.22
Pertumbuhan Ekonomi (%)
7
6.3
6.4
6.5
6.11
5.81 5.72
6
6.17
6.02
5.5
5.22
5.62
5.01 5.01
5
5.12
4.72
4.5
4.67
4
Q1
Q2
Q3
Q4
Q1
Q2
Q3
Q4
Q1
Q2
Q3
Q4
Q1
Q2
2012 2012
2012
2012
2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015
Sumber: BPS
Indeks Harga Konsumen (IHK) 2014 - Juni 2015 (2012=100) 122.00 120.00 118.00 116.00 114.00 112.00
Indeks Harga Konsumen (IHK)
2014 - Juni 2015 (2012=100)
122.00
120.00
118.00
116.00
114.00
112.00
20,14%
110.00
108.00
106.00
104.00
Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), 2014 - Juni 2015 125 120 115 110 105 7%
Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen
(IKK), 2014 - Juni 2015
125
120
115
110
105
7%
100
Jan Feb Mar Apr Mei Jun
Jul
Ags Sep Okt Nov Des Jan
Feb Mar Apr Mei Jun

Ekonomi Indonesia Q-II/2015 tumbuh 4.67%, melambat dibanding capaian Q-II/2014 yang tumbuh 5.03% dan Q-

Ekonomi Indonesia Q-II/2015 tumbuh 4.67%, melambat dibanding capaian Q-II/2014 yang tumbuh 5.03% dan Q-

I/2015 yang tumbuh 4.72%.

I/2015 yang tumbuh 4.72%.

 

Konsumsi rumah tangga Q-I/2015 tumbuh 4,70% yoy, Q-II/2015 tumbuh 4,97% yoy, menurun dibandingkan dengan

Konsumsi rumah tangga Q-I/2015 tumbuh 4,70% yoy, Q-II/2015 tumbuh 4,97% yoy, menurun dibandingkan dengan

rata-rata tingkat pertumbuhan 5,3% tahun 2014. Padahal porsi kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB

rata-rata tingkat pertumbuhan 5,3% tahun 2014. Padahal porsi kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB

sebesar 55%, sehingga menjadi mesin penggerak perekonomian nasional.

sebesar 55%, sehingga menjadi mesin penggerak perekonomian nasional.

 
   
 

2

MENURUNNYA PERANAN EKSPOR TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI

MENURUNNYA PERANAN EKSPOR TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI  Ekspor menurun relatif tajam selama SI/2015 sebesar -11,86%

Ekspor menurun relatif tajam selama SI/2015 sebesar -11,86% (yoy), sehingga kenaikan surplus perdagangan pada SI/2015 sebesar USD 4,35 Milyar atau meningkat 485,34% (yoy) disebabkan oleh tingginya penurunan impor pada periode yang sama sebesar -17,81% (yoy).

Ekspor tidak berperan banyak dalam surplus perdagangan, bahkan trend neraca perdagangan non migas selama 2010-2014 adalah -21,17%. Ekspor juga tidak berperan dalam meningkatkan volume perdagangan karena trend volume perdagangan sebesar 3,53% lebih banyak dikontribusi oleh trend impor sebesar 6,14%. Share volume perdagangan Indonesia sejak dulu masih rata-rata 1% dari volume perdagangan dunia.

Rasio Ekspor Non Migas Terhadap PDB Indonesia (%) 32.10 34.10 31.00 29.40 29.80 24.58 24.14
Rasio Ekspor Non Migas Terhadap PDB Indonesia (%)
32.10
34.10
31.00
29.40
29.80
24.58
24.14
26.36
24.59
23.98
23,78
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
3
Sumber Data: BPS diolah Kemenko Perekonomian

PERTUMBUHAN KONSUMSI PEMERINTAH, RUMAH TANGGA, DAN PEMBENTUKAN MODAL TETAP BRUTO

20.0%

15.0%

10.0%

5.0%

0.0%

PEMBENTUKAN MODAL TETAP BRUTO 20.0% 15.0% 10.0% 5.0% 0.0% -5.0% Q- Q- Q- Q- Q- Q-
-5.0% Q- Q- Q- Q- Q- Q- Q- Q- Q- Q- Q- Q- Q- Q-
-5.0%
Q- Q-
Q- Q-
Q- Q-
Q-
Q- Q-
Q-
Q- Q-
Q- Q-
I/2012
II/2012
III/2012
IV/2012
I/2013
II/2013
III/2013
IV/2013
I/2014
II/2014
III/2014
IV/2014
I/2015
II/2015
Konsumsi Pemerintah
7.7%
16.8%
-2.0%
-0.1%
3.0%
3.2%
12.4%
7.9%
6.1%
-1.5%
1.3%
2.8%
2.2%
2.3%
PMTB
7.0%
10.1%
9.5%
9.8%
7.9%
5.5%
6.0%
2.1%
4.7%
3.7%
3.9%
4.3%
4.3%
3.6%
Konsumsi RT
12.0%
13.0%
12.1%
10.8%
11.8%
10.9%
12.9%
13.2%
11.9%
11.7%
8.9%
9.4%
7.9%
8.4%

Selama S-I/2015 pertumbuhan konsumsi Rumah Tangga dan PMTB mengalami penurunan.

Sumber Data: BPS diolah Kemenko Perekonomian

4
4

GAMBARAN PENURUNAN PORSI PERAN KONSUMSI RUMAH TANGGA DAN PMTB

60 7 6 50 5 RATA-RATA SHARE TERHADAP PDB 40 Konsumsi 8.8% Pemerintah 4 Konsumsi
60
7
6
50
5
RATA-RATA SHARE
TERHADAP PDB
40
Konsumsi
8.8%
Pemerintah
4
Konsumsi
Rumah Tangga 55.5%
30
PMTB
32.1%
3
RATA-RATA
PERTUMBUHAN
20
PDB
5.5%
2
10
1
0
0
Q-
Q-
Q-
Q-
Q-
Q-
Q-
Q-
Q-
Q-
Q-
Q-
Q-
Q-
I/2012
II/2012
III/2012
IV/2012
I/2013
II/2013
III/2013
IV/2013
I/2014
II/2014
III/2014
IV/2014
I/2015
II/2015
Konsumsi Pemerintah
7
9.09
8.3
11.14
6.84
8.65
9.21
11.47
6.79
8.02
9.32
11.58
6.59
8.87
PMTB
31.42
32.29
32.67
34.13
31.25
31.9
31.04
32.39
30.87
31.4
31.05
33.38
32.65
32.28
Konsumsi Rumah Tangga
PDB
54.34
53.58
54.47
56.08
55.75
55.47
55.70
56.25
56.75
55.84
55.03
56.90
56.04
54.67
6.11
6.16
6.08
6.03
5.61
5.6
5.57
5.58
5.14
5.08
5.03
5.02
4.72
4.67

Sumber Data: BPS diolah Kemenko Perekonomian

5
5

PELUANG INDONESIA DALAM PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN GLOBAL

PELUANG INDONESIA DALAM PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN GLOBAL  Pertumbuhan ekonomi global masih melambat meskipun ekonomi
PELUANG INDONESIA DALAM PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN GLOBAL  Pertumbuhan ekonomi global masih melambat meskipun ekonomi

Pertumbuhan ekonomi global masih melambat meskipun ekonomi USA telah pulih, namun beberapa maju tahun 2016 akan tumbuh mendekati rata-rata pertumbuhannya dalam 10 tahun terakhir.

Dalam Q-II/2015, pertumbuhan ekonomi Jepang mengalami peningkatan menjadi 0.7% dari sebelumnya -0.8% sedangkan untuk Tiongkok tetap senilai 7% dan Amerika Turun menjadi 2.7% dari sebelumnya 2.9%.

Unemployment rate Q-II/2015, Tiongkok dan Amerika masing – masing menurun menjadi 4.04% dan 5.3% dan Jepang tetap senilai 3.5%.

Pemulihan ekonomi global kedepan menjadi peluang bagi ekspansi ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi negara berkembang utama berada di bawah rata-rata angka pertumbuhan 10 tahun terakhir

Meskipun proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional terkoreksi sebesar 4,7% untuk tahun 2015, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,2% karena pertumbuhan output riil melambat menjadi 4,7% yoy pada Q-I/2015 dan 4,67% pada Q-II/2015, laju pertumbuhan paling lambat sejak 2009, namun diperkirakan pertumbuhan tahun 2015 dapat mencapai 4,9% - 5%, dan apabila kebijakan deregulasi cepat efektif maka pertubuhan mulai tahun 2016 akan meningkat signifikan

6
6

RESPON TERHADAP PERLAMBATAN PERTUMBUHAN EKONOMI DAN DEPRESIASI RUPIAH

I

Ditengah melemahnya perekonomian dunia yang berdampak kepada perekonomian nasional, pemerintah telah dan akan terus melakukan upaya menggerakkan ekonomi nasional melalui berbagai paket kebijakan ekonomi:

I. Mengembangkan Ekonomi Makro yang Kondusif Pemerintah bersama-sama dengan Otoritas Moneter (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

melakukan langkah-langkah dalam upaya menciptakan kondisi ekonomi makro yang kondusif, yaitu:

1. Stabilisasi Fiskal dan Moneter (Termasuk Pengendalian Inflasi)

2. Percepatan Belanja

3. Penguatan Neraca Pembayaran

II. Menggerakkan Ekonomi Nasional Pemerintah melakukan serangkaian kebijakan deregulasi, debirokratisasi dan memberikan insentif fiskal dalam rangka menggerakan perekonomian nasional (sektor riil). Pada tahap I meliputi:

1.

Mendorong Daya Saing Industri Nasional (Deregulasi, Debirokratisasi, Insentif Fiskal)

2.

Mempercepat Proyek Strategis Nasional

3.

Meningkatkan Investasi di Sektor Properti

III. Melindungi Masyarakat Berpendapatan Rendah dan Menggerakan Ekonomi Pedesaan Pemerintah melakukan langkah-langkah untuk melindungi masyarakat berpendapatan rendah dan masyarakat pedesaan dari dampak melemahnya ekonomi nasional:

1. Stabilisasi Harga Pangan

2. Percepatan Pencairan Dana Desa* )

3. Penambahan Rastera 13 dan 14* )

* ) Dikoordinasikan oleh Menko PMK

7
7

MENDORONG DAYA SAING INDUSTRI NASIONAL

Perlunya deregulasi untuk melepas tambahan beban bagi industri, percepatan penyelesaian kesenjangan daya saing industri, dan inisiatif baru untuk mendorong keunggulan industri nasional di pasar domestik maupun pasar global.

MENURUNNYA PORSI PERAN INDUSTRI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI

MENURUNNYA PORSI PERAN INDUSTRI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI 1.63 3.36 1.04 1.63 2.85 3.8 14.33 3.82 8.06
1.63 3.36 1.04 1.63 2.85 3.8 14.33 3.82 8.06 3.48 3.11 4.69 20.91 13.26 9.86
1.63
3.36 1.04
1.63
2.85
3.8
14.33
3.82
8.06
3.48
3.11
4.69
20.91
13.26
9.86
1.16

0.07

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan3.82 8.06 3.48 3.11 4.69 20.91 13.26 9.86 1.16 0.07 Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan

Pertambangan dan Penggalian13.26 9.86 1.16 0.07 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air,

Industri PengolahanKehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Pengadaan Listrik dan GasPerikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulangdan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan

KonstruksiGas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda MotorAir, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Konstruksi Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan

Transportasi dan PergudanganBesar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan

Penyediaan Akomodasi dan Makan MinumReparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real

Informasi dan Komunikasidan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Jasa Perusahaan

Jasa Keuangan dan AsuransiAkomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi Real Estate Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan,

Real EstateMinum Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan

Jasa Perusahaandan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial WajibJasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Jasa Perusahaan Jasa Pendidikan *) Preliminary; **) Very Preliminary Source:

Jasa PendidikanPemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib *) Preliminary; **) Very Preliminary Source: Indonesian

*) Preliminary; **) Very Preliminary

Source: Indonesian Statistics Bureau (BPS);

http://www.bps.go.id/li

nkTabelStatis/view/id/1

202

(accessed 04 October

2015)

1. Industri pengolahan memilki peran terbesar pada pembentukan PDB nasional di setiap tahunnya namun terus menurun dimana pada tahun 2005 porsi peran Industri sebesar 28,09% sedangkan pada bulan Mei 2015 menjadi 20.91%.

2. Subsektor Industri yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB selama 5 tahun terakhir (2011-2015) secara berurutan adalah: Industri Makanan dan Minuman, Industri Barang Logam, Industri Alat Angkutan, Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional dan Industri Tekstil dan Pakaian Jadi.

9

TREND PERTUMBUHAN INDUSTRI PENGOLAHAN NON-MIGAS UTAMA RELATIF MENURUN

20.00

15.00

10.00

5.00

0.00

-5.00

-10.00

2011

2012

2013

2014

Semester I 2014

Semester I 2015

Industri Barang Logam; Komputer, Barang Elektronik, Optik; dan Peralatan Listrik

8.79

11.64

9.22

2.92

0.06

8.91

Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional

8.66

12.78

5.10

3.89

4.43

7.78

Industri Alat Angkutan

6.37

4.26

14.95

3.94

3.01

2.65

Industri Makanan dan Minuman Industri Tekstil dan Pakaian Jadi

10.98

10.33

4.07

9.54

10.17

8.45

6.49

6.04

6.58

1.53

2.83

-4.09

Sumber : BPS diolah Kemenperin

10
10

PENURUNAN PERTUMBUHAN INDUSTRI PENGOLAHAN NON MIGAS SEMESTER I TAHUN 2015

10 8.91 8.46 7.78 7.54 8 6.55 6.18 6 4.6 3.99 4 2.69 2.65 2.55
10
8.91
8.46
7.78
7.54
8
6.55
6.18
6
4.6
3.99
4
2.69
2.65
2.55
1.81
2
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
-0.4
-2
-2.04
-4
-4.09
-6
Nilai

Sumber : BPS diolah Kemenperin

1 Industri Makanan dan Minuman 2 Industri Pengolahan Tembakau 3 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi
1 Industri Makanan dan Minuman
2 Industri Pengolahan Tembakau
3 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi
4 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki
5 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang
Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya
6 Industri Kertas dan Barang dari Kertas; Percetakan dan
Reproduksi Media Rekaman
7 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional
8 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik
9 Industri Barang Galian bukan Logam
10 Industri Logam Dasar
11 Industri Barang Logam; Komputer, Barang Elektronik,
Optik; dan Peralatan Listrik
12 Industri Mesin dan Perlengkapan
13 Industri Alat Angkutan
14 Industri Furnitur
15 Industri Pengolahan Lainnya; Jasa Reparasi dan
Pemasangan Mesin dan Peralatan

Pertumbuhan sektor industri non-migas Indonesia pada SM-I/2015 sebesar 5,26% menurun 0,29% jika dibandingkan dengan semester yang sama pada tahun 2014, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai oleh industri Barang logam sebesar 8.91%, industri makanan dan minuman sebesar 8.45%, industri kimia farmasi sebsar 7.78% serta industri logam dasar sebesar 7.54%. Sedangkan cabang yang mengalami penurunan adalah Industri Furniture, Kertas, dan Tekstil dan Pakaian Jadi.

7.54%. Sedangkan cabang yang mengalami penurunan adalah Industri Furniture, Kertas, dan Tekstil dan Pakaian Jadi .
7.54%. Sedangkan cabang yang mengalami penurunan adalah Industri Furniture, Kertas, dan Tekstil dan Pakaian Jadi .
7.54%. Sedangkan cabang yang mengalami penurunan adalah Industri Furniture, Kertas, dan Tekstil dan Pakaian Jadi .
7.54%. Sedangkan cabang yang mengalami penurunan adalah Industri Furniture, Kertas, dan Tekstil dan Pakaian Jadi .
11

11

PERKEMBANGAN UTILISASI INDUSTRI 2010-2013

     

KAPASITAS

UTILISASI

NO

LAPANGAN USAHA

NILAI PRODUKSI

TERPASANG

(%)

1

INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN

769,992,617,135

1,052,790,707,858

73.14

2

INDUSTRI PENGOLAHAN TEMBAKAU

164,160,209,682

244,335,564,311

67.19

3

INDUSTRI TEKSTIL DAN PAKAIAN JADI

185,634,515,084

230,003,083,675

80.71

4

INDUSTRI KULIT, BARANG DARI KULIT DAN ALAS KAKI

45,927,707,561

55,727,737,990

82.41

 

INDUSTRI KAYU, BARANG DARI KAYU

     

5

DAN GABUS (TIDAK TERMASUK FURNITUR)

39,996,495,087

58,013,503,150

68.94

6

INDUSTRI KERTAS DAN BARANG DARI KERTAS

104,519,302,570

122,925,559,578

85.03

7

INDUSTRI KIMIA, FARMASI DAN OBAT TRADISIONAL

375,702,504,646

469,359,938,196

80.05

8

INDUSTRI KARET, BARANG DAIRI KARET DAN PLASTIK

128,526,367,503

170,674,079,703

75.31

9

INDUSTRI BARANG GALIAN BUKAN LOGAM

84,524,266,808

105,120,678,560

80.41

10

INDUSTRI LOGAM DASAR

101,653,758,571

158,876,529,557

63.98

11

INDUSTRI BARANG LOGAM, KOMPUTER DAN PERALATAN LISTRIK

202,275,016,960

268,652,870,776

75.29

12

INDUSTRI MESIN DAN PERLENGKAPAN

25,695,212,555

29,883,269,438

85.99

13

INDUSTRI ALAT ANGKUTAN LAINNYA

208,306,528,994

261,447,931,295

79.67

14

INDUSTRI FURNITUR

15,570,236,156

21,427,680,361

72.66

15

INDUSTRI PENGOLAHAN LAINNYA

23,170,502,656

33,787,940,233

68.58

Sumber : Kemenperin

Sampai dengan tahun 2013 umumnya utilisasi kapasitas industri relatif baik (diatas 60%), dimana cabang industri yang tinggi utilisasinya adalah:

• Industri Mesin dan Perlengkapan dengan tingkat utilisasi 85,99%;

• Industri kertas dan barang dari kertas, tetapi pada semester I 2015 pertumbuhannya menurun -2,04;

• Industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki dengan tingkat utilisasi mencapai

82,41%;

• Industri tekstil dan pakaian jadi dengan utilisasi sebesar 80,71%, tetapi pertumbuhannya menurun -

4,09%.

Dengan menurunnya impor bahan baku dan barang modal sampai dengan S-I/2015 masing-masing sebesar -18,69% dan -16,24%, maka diperkirakan utilisasi kapasitas industri akan jauh menurun.

12
12

KETIMPANGAN SEBARAN INDUSTRI

Jumlah Industri Besar dan Sedang di Jawa dan Luar Jawa Tahun 2001-2013*

40,000 30,000 20,000 Luar Luar 10,000 Jawa: 0 (17,41%) (17,41%) 2001 2002 2003 2004 2005
40,000
30,000
20,000
Luar
Luar
10,000
Jawa:
0
(17,41%)
(17,41%)
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013*
Luar Jawa
3989
4028
3717
3717
3734
5120
4931
4487
4071
3816
3930
4038
4168
Jawa:
Jawa
17413
17118
16607
16901
16995
24348
23067
21207
20397
19529
19440
19554
19773
(82,59%)
Total
21396
21146
20234
20685
20729
29468
27998
25694
24468
23345
23370
23592
23941
Jumlah Industri

*) Angka Sementara Sumber Data: BPS

Industri Sedang dan Besar Tahun 2014:

• Jenis industri terbanyak: makanan (5.793 unit), tekstil (2.304 unit), pakaian jadi (2.034 unit), karet dan plastik (1.750 unit), barang galian non logam (1.584 unit), furniture (1.290 unit), kayu, gabus, bambu, rotan (1.066 unit), logam non mesin (969 unit), kimia (976 unit), dst.

• Jenis industri yang menyerap banyak tenaga kerja:

makanan (823,4 ribu), pakaian jadi (473,6 ribu), tekstil (427,1 ribu), karet dan plastik (357,5 ribu), pengolahan tembakau (278,9 ribu), kulit alas kaki (220,7 ribu), dst

• Jenis industri yang mengalami penurunan index produksi: kimia, kertas, pakaian jadi, alas kaki, karet dan plastik.

Industri Mikro Kecil Tahun 2014:

• Industri Mikro sebanyak 3,2 juta unit dengan serapan tenaga kerja 6 juta orang, terbanyak di Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, NTT, Bali, dan Sulawesi Selatan.

• Industri Kecil sebanyak 284,5 ribu unit dengan serapan tenaga kerja sebanyak 2,3 juta orang, terbanyak di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan NTB.

• Industri Mikro Kecil yang mengalami pertumbuhan negatif pada Q-II/2015 adalah Sumatera Selatan, NTB, Kalimantan Timur, Riau, Sulawesi Utara, dan Bangka Belitung.

13
13

FENOMENA PENYEBAB MENURUNNYA KINERJA INDUSTRI

Struktur Industri yang tergantung impor
Struktur Industri yang tergantung impor
Ketertinggalan teknologi
Ketertinggalan teknologi
Kelemahan infrastruktur, listrik, energi, air, dan kepastian ketersediaan lahan
Kelemahan infrastruktur, listrik, energi, air, dan kepastian ketersediaan lahan
Ketidakterhubungan antara kegiatan industri dan bahan baku
Ketidakterhubungan antara kegiatan industri dan bahan baku
Inefisiensi biaya logistik dan biaya administrasi (selling and general administration expenses)
Inefisiensi biaya logistik dan biaya administrasi (selling and general administration expenses)
Kapasitas, produktivitas, dan hubungan industrial ketenagakerjaan
Kapasitas, produktivitas, dan hubungan industrial ketenagakerjaan
Beban regulasi, birokrasi, dan penegakan hukum yang menjadi penghambat pengembangan investasi, efisiensi produksi,
Beban regulasi, birokrasi, dan penegakan hukum yang menjadi penghambat pengembangan
investasi, efisiensi produksi, kelancaran distribusi, dan kepastian bahan baku
Masalah akses dan beban pembiayaan
Gangguan impor
14

PERANAN INDUSTRI TERHADAP EKSPOR

Deregulasi mendorong pengembangan produk dan pasar baru bagi ekspor hasil industri yang berdaya saing dengan memberikan kelancaran dan efisiensi pengadaan bahan baku dan distribusi ekspor.

KOMPOSISI PRODUK EKSPOR NON MIGAS INDONESIA

Juta USD

Jan-Jul Trend(%) Perub.(%) Peran.( NO Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 2010-2014 2015/2014 %) 2015
Jan-Jul
Trend(%)
Perub.(%)
Peran.(
NO
Sektor
2010 2011
2012
2013 2014
2010-2014
2015/2014
%) 2015
2014
2015
I. PERTANIAN
5.001,90
5.165,80
5.569,20
5.713,00
5.770,60
3,94
3.131,20
3.131,80
0,02
3,99
II. INDUSTRY
98.010,60
122.187,70
116.123,30
113.029,70
117.329,50
2,86
68.506,30
63.316,70
-7,58
80,73
III. MINING
26.712,60
34.652,00
31.329,90
31.159,50
22.850,00
-4,1
13.122,50
11.966,10
-8,81
15,26
OTHERS
9,9
13 18,7
16,3
10,3
3,02
7 11,3
61,14
0,01
TOTAL EKSPOR NON-MIGAS
129.739,50
162.019,60
153.043,00
149.918,80
145.960,80
1,59
84.767,20
78.426,30
-7,48
100

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Kementerian Perdagangan

Rata-rata ekspor produk industri selama 5 tahun (2010-2014) adalah 113 Miliar USD atau 76,5% dari total ekspor non migas Indonesia selama periode tersebut, dengan trend 2,86% tetapi selama Januari-Juli 2015 ekspor produk industri menurun -7,58% (yoy).

16
16

PERKEMBANGAN PRODUK EKSPOR UTAMA NON MIGAS INDONESIA

Juta USD

Trend(%) Jan-Jul Perub.(%) Peran.( NO HS/SEKTOR 2010 2011 2012 2013 2014 2010-2014 2014 2015 2015/2014
Trend(%)
Jan-Jul
Perub.(%)
Peran.(
NO
HS/SEKTOR
2010
2011
2012
2013
2014
2010-2014
2014
2015
2015/2014
%) 2015
1
15
LEMAK & MINYAK HEWAN/NABATI
16.286,40
21.607,20
21.229,60
19.181,40
21.037,00
4,01
12.166,30
11.210,60
-7,86
14,29
2
27
BAHAN BAKAR MINERAL
18.499,90
27.230,70
26.184,20
24.519,00
20.843,70
1,35
12.752,00
9.967,60
-21,84
12,71
3
85
MESIN/PERLATAN LISTRIK
10.373,20
11.145,40
10.764,80
10.438,40
9.745,70
-1,89
5.620,50
4.939,00
-12,12
6,3
4
71
PERHIAASAN/PERMATA
1.425,10
2.561,70
3.204,90
2.725,50
4.619,40
27,3
2.905,60
3.609,70
24,23
4,6
5
40
KARET DAN BARANG DARI KARET
9.339,70
14.321,10
10.456,00
9.381,10
7.088,30
-9,29
4.435,30
3.500,40
-21,08
4,46
6
87
KENDARAAN DAN BAGIANNYA
2.899,90
3.328,60
4.856,90
4.567,20
5.213,70
16,06
2.790,60
3.153,90
13,02
4,02
7
84
MESIN-MESIN/PESAWAT MEKANIK
4.986,70
5.749,50
6.103,10
5.968,50
5.969,10
4,05
3.476,30
2.995,00
-13,85
3,82
8
64
ALAS KAKI
2.501,80
3.301,90
3.524,60
3.860,40
4.108,40
12,17
2.359,70
2.623,00
11,16
3,34
9
44
KAYU, BARANG DARI KAYU
2.935,40
3.374,70
3.448,50
3.633,00
4.070,50
7,55
2.367,30
2.330,60
-1,55
2,97
10
62
PAKAIAN JADI BUKAN RAJUTAN
3.611,00
4.149,70
3.749,20
3.906,20
3.932,40
1,11
2.399,30
2.329,90
-2,89
2,97
11
48
KERTAS/KARTON
4.186,20
4.169,40
3.937,20
3.756,60
3.743,80
-3,22
2.166,50
2.112,50
-2,49
2,69
12
26
BIJIH, KERAK, DAN ABU LOGAM
8.139,70
7.330,90
5.054,80
6.526,30
1.906,00
-26,06
325,2
1.944,80
498,02
2,48
13
61
BARANG-BARANG RAJUTAN
2.889,90
3.541,10
3.439,80
3.481,40
3.428,30
3,3
2.075,40
1.925,70
-7,22
2,46
14
38
BERBAGAI PRODUK KIMIA
1.806,50
3.577,40
3.751,90
3.710,60
4.060,60
18,02
2.491,00
1.575,80
-36,74
2,01
15
39
PLASTIK DAN BARANG DARI
2.150,10
2.513,70
2.487,30
2.602,80
2.760,30
5,49
1.595,60
1.367,30
-14,31
1,74
PLASTIK
16
55
SERAT STAFEL BUATAN
2.075,20
2.545,90
2.260,90
2.327,80
2.331,50
1,44
1.340,60
1.338,80
-0,13
1,71
17
29
BAHAN KIMIA ORGANIK
2.690,10
3.815,90
2.811,50
2.760,20
3.158,20
-0,03
2.034,30
1.324,00
-34,92
1,69
18
03
IKAN DAN UDANG
1.687,20
2.045,20
2.201,80
2.389,80
2.620,20
10,92
1.452,20
1.231,00
-15,23
1,57
19
73
BENDA-BENDA DARI BESI DAN
1.468,00
1.905,80
2.042,40
2.152,00
2.232,90
10,08
1.335,90
1.129,10
-15,48
1,44
BAJA
20
94
PERABOT, PENERANGAN RUMAH
2.021,90
1.822,20
1.899,40
1.873,60
1.902,10
-0,94
1.129,00
1.078,30
-4,49
1,37
LAIN-LAIN
27.761,20
31.980,40
29.632,00
30.157,00
31.188,30
12,34
17.547,80
16.739,40
-8,08
21,34
TOTAL EKSPOR NON MIGAS
129.739,50
162.019,60
153.043,00
149.918,80
145.960,80
1,59
84.767,20
78.426,30
-7,48
100

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Kementerian Perdagangan

Tidak ada perkembangan produk ekspor baru Indonesia selama 5 tahun dalam komposisi produk

utama ekspor Indonesia.

17

KINERJA NEGATIF EKSPOR PRODUK INDUSTRI

Juta USD

Jan-Jul Trend(%) Perub.(%) Peran.(%) NO HS/KOMODITAS 2010 2011 2012 2013 2014 2010-2014 2015/2014 2015 2014
Jan-Jul
Trend(%)
Perub.(%)
Peran.(%)
NO
HS/KOMODITAS
2010
2011
2012
2013
2014
2010-2014
2015/2014
2015
2014
2015
1
15
LEMAK & MINYAK HEWAN/NABATI
16.286,40
21.607,20
21.229,60
19.181,40
21.037,00
4,01
12.166,30
11.210,60
-7,86
17,71
2
85
MESIN/PERLATAN LISTRIK
10.373,20
11.145,40
10.764,80
10.438,40
9.745,70
-1,89
5.620,50
4.939,00
-12,12
7,80
3
71
PERHIAASAN/PERMATA
1.425,10
2.561,70
3.204,90
2.725,50
4.619,40
27,3
2.905,60
3.609,70
24,23
5,70
4
40
KARET DAN BARANG DARI KARET
9.339,70
14.321,10
10.456,00
9.381,10
7.088,30
-9,29
4.435,30
3.500,40
-21,08
5,53
5
87
KENDARAAN DAN BAGIANNYA
2.899,90
3.328,60
4.856,90
4.567,20
5.213,70
16,06
2.790,60
3.153,90
13,02
4,98
6
84
MESIN-MESIN/PESAWAT MEKANIK
4.986,70
5.749,50
6.103,10
5.968,50
5.969,10
4,05
3.476,30
2.995,00
-13,85
4,73
7
64
ALAS KAKI
2.501,80
3.301,90
3.524,60
3.860,40
4.108,40
12,17
2.359,70
2.623,00
11,16
4,14
8
44
KAYU, BARANG DARI KAYU
2.935,40
3.374,70
3.448,50
3.633,00
4.070,50
7,55
2.367,30
2.330,60
-1,55
3,68
9
62
PAKAIAN JADI BUKAN RAJUTAN
3.611,00
4.149,70
3.749,20
3.906,20
3.932,40
1,11
2.399,30
2.329,90
-2,89
3,68
10
48
KERTAS/KARTON
4.186,20
4.169,40
3.937,20
3.756,60
3.743,80
-3,22
2.166,50
2.112,50
-2,49
3,34
LAIN-LAIN
39.465,40
48.478,40
44.848,40
45.611,60
47.801,30
21,12
27.818,40
24.512,60
-11,88
38,71
INDUSTRY
98.010,60
122.187,70
116.123,30
113.029,70
117.329,50
2,86
68.506,30
63.316,70
-7,58
80,73

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Kementerian Perdagangan

Umumnya ekspor produk utama industri mengalami penurunan selama Januari-Juli 2015 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014, kecuali alas kaki dan kendaraan bermotor.

18
18

PERBANDINGAN PERAN EKSPOR INDONESIA

10.0%

9.0%

8.0%

7.0%

6.0%

5.0%

4.0%

3.0%

2.0%

1.0%

0.0%

 

3.4%

3.9%

3.9%

4.0%

4.0%

2.6%

       
 

2.2%

2.2%

2.2%

2.2%

 

1.9%

1.5%

0.5%

0.5%

0.5%

 

0.4%

0.5%

     

0.6%

1.1%

1.5%

2.0%

1.8%

1.8%

1.7%

2009

2010

2011

2012

2013

2014

1.7% 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Indonesia Philippina Thailand Singapura Sumber : Trademap

Indonesia

2009 2010 2011 2012 2013 2014 Indonesia Philippina Thailand Singapura Sumber : Trademap Gambaran

Philippina

2010 2011 2012 2013 2014 Indonesia Philippina Thailand Singapura Sumber : Trademap Gambaran Peran Sektor

Thailand

2011 2012 2013 2014 Indonesia Philippina Thailand Singapura Sumber : Trademap Gambaran Peran Sektor Manufaktur

Singapura

Sumber : Trademap

Gambaran Peran Sektor Manufaktur terhadap Kinerja Ekspor Indonesia Keterangan 2010 2011 2012 2013 2014 Ekspor
Gambaran Peran Sektor Manufaktur terhadap Kinerja Ekspor Indonesia
Keterangan
2010
2011
2012
2013
2014
Ekspor manufaktur Indonesia
58.420
68.418
67.645
67.871 70.951
Total eskpor Indonesia
157.779 203.497
190.032
182.552 176.293
Share ekspor manufaktur
37%
34%
36%
37%
40%
Share Manufaktur Indonesia Terhadap Impor Manufaktur Dunia Keterangan 2010 2011 2012 2013 2014 Ekspor manufaktur
Share Manufaktur Indonesia Terhadap Impor Manufaktur Dunia
Keterangan
2010 2011
2012
2013
2014
Ekspor manufaktur Indonesia
58.420
68.418
67.645
67.871 70.951
Impor Manufaktur Dunia
10.353.577
11.978.791
11.999.173 12.399.604
12.788.420
Share Manufaktur Indonesia
1%
1%
1%
1%
1%

Sumber: WTO

(Juta USD)

Peran sektor industri terlihat kecil, karena perbedaan definisi antara klasifikasi WTO tentang produk manufaktur dengan BPS untuk produk industri. Namun demikian, pangsa ekspor manufaktur Indonesia tidak berkembang di kisaran 1% dari total impor dunia terhadap produk manufaktur.

19
19

KECILNYA PERAN PRODUK UNGGULAN INDONESIA TERHADAP IMPOR DUNIA

Share ekspor Indonesia relatif kecil terhadap impor dunia.

Beberapa komoditi utama Indonesia sangat sensitif terhadap harga komoditi tersebut di pasaran Internasional, seperti komoditi pertanian dan pertambangan sehingga diperlukan peningkatan peran lembaga lindung nilai (hedging) dan bursa komoditi untuk menjamin kepastian harga yang diterima petani dan penambang.

     

2014

EKSPOR

 

SHARE EKSPOR INDONESIA TERHADAP IMPOR DUNIA

KODE HS

DESKRIPSI

INDONESIA

(RIBU USD)

IMPOR DUNIA

(RIBU USD)

'2701

Coal; briquettes, ovoids & similar solid fuels manufactured from coal

18.697.800

113.234.229

17%

'1511

Palm oil & its fraction

17.464.905

35.398.365

49%

'2711

Petroleum gases

17.180.283

447.067.462

4%

'2709

Crude petroleum oils

9.271.214

1.502.034.440

1%

'4001

Natural rubber,balata,gutta-percha etc

4.744.753

18.124.040

26%

'8703

Cars (incl. station wagon)

2.641.590

698.781.623

0%

'1513

Coconut (copra),palm kernel/babassu oil & their fractions

2.484.350

6.234.379

40%

'4412

Plywood, veneered panels and similar laminated wood

2.372.471

14.777.695

16%

'3823

Binders for foundry molds or cores; chemical products and residuals

2.367.121

9.284.953

25%

'2713

Petroleum coke, petroleum bitumen & other residues of petroleum oils

2.309.578

20.974.846

11%

Sumber : Trademap

20
20

BELUM BERKEMBANGNYA JENIS PRODUK EKSPOR INDONESIA DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN IMPOR DUNIA

Jumlah Komoditi Ekspor Indonesia di pasar dunia sekitar 88%

Jumlah Komoditi (HS Code 4 Digit) Di dunia yang Diekspor Indonesia Thn 2010

HS Code yang Tidak Diekspor Indonesia 10% HS Code yang Diekspor Indonesia 90%
HS Code
yang Tidak
Diekspor
Indonesia
10%
HS Code
yang
Diekspor
Indonesia
90%
Jumlah Komoditi (HS Code 4 Digit) Di dunia yang Diekspor Indonesia Thn 2014 HS Code
Jumlah Komoditi (HS Code 4 Digit) Di
dunia yang Diekspor Indonesia Thn 2014
HS Code
yang Tidak
Diekspor
Indonesia
12%
HS Code
yang
Diekspor
Indonesia
88%

Sumber : Trademap

21
21

MENURUNNYA KONTRIBUSI DAERAH UTAMA TERHADAP EKSPOR NON MIGAS NASIONAL (dalam juta USD)

UTAMA TERHADAP EKSPOR NON MIGAS NASIONAL (dalam juta USD) Sumber : BPS yang telah diolah oleh

Sumber : BPS yang telah diolah oleh Kementerian Perdagangan

22
22

PERANAN INDUSTRI TERHADAP INVESTASI

Deregulasi bertujuan untuk mempermudah investasi sektor industri baik untuk pengembangan cabang-cabang industri maupun untuk meningkatkan ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

INVESTASI ASING SEKTOR INDUSTRI MENURUN

     

PMDN

 

PMA

NO

SEKTOR

Mei 2014

Mei 2015

% (I)

Mei 2014

Mei 2015

% (I)

P

I

P

I

P

I

P

I

1.

Industri Makanan

120

4.928,9

292

7.972,8

61,76

271

1.287,1

304

201,2

-84,37

2.

Industri Tekstil

17

190,4

64

1.688,7

786,78

89

81,9

195

70,6

-13,76

3.

Ind. Barang Dari Kulit & Alas Kaki

1

-

6

5,4

100

37

17,5

55

55,4

-215,67

4.

Industri Kayu

2

2,7

25

28,7

952,11

23

2,7

27

12,3

360,47

5.

Ind. Kertas & Percetakan

12

1.446,6

32

655,8

-54,67

31

21,4

54

134,3

528

6.

Ind. Kimia dan Farmasi

26

2.510,9

95

7.043,6

180,53

170

468,1

193

412,8

-11,83

7.

Ind. Karet dan Plastik

41

1.171,3

89

1.333,6

13,86

89

239,6

158

174,4

-27,23

8.

Ind. Mineral Non Logam

14

1.436,0

50

2.772,5

93,07

47

164,3

62

456,0

177,50

9.

Ind. Logam, Mesin & Elektronik

26

366,8

110

3.337,3

809,95

275

460,4

541

609,9

32,47

10.

Ind. Instru. Kedokteran, Presisi & Optik dan Jam

2

2,6

3

-

-100

3

-

1

-

-

11.

Ind. Kendaraan Bermotor & Alat Transportasi Lain

3

11,4

27

701,7

6063,92

126

421,6

206

373,4

-11,44

12.

Industri Lainnya

-

4.928,9

18

22,6

100

70

53,9

90

8,7

-83,85

 

Jumlah

264

12.067,6

811

25.562,8

111,83

1,231

3.218,6

1.886

2.508,9

-22,05

P : Jumlah Izin Usaha;

I : Nilai Realisasi Investasi

Sumber : BKPM diolah Kemenperin

Nilai investasi PMDN sektor industri s.d Mei 2015 sebesar Rp 25,56 triliun atau tumbuh sebesar 111,83% dibanding Mei Tahun 2014 sebesar Rp 12,06 triliun. Investasi sektor industri memberikan kontribusi sebesar 59,54% dari total investasi PMDN s.d Mei 2015 sebesar Rp 42,93 triliun. Tetapi nilai investasi PMA sektor industri s.d Mei 2015 mencapai USD 2,50 milyar atau menurun sebesar - 22,05% dibandingkan Mei 2014 sebesar USD 3,21 milyar. Investasi PMA sektor industri memberikan kontribusi sebesar 34,03% dari

total investasi PMA s.d Mei 2015 sebesar USD 7,37 milyar.

24

PENYERAPAN TENAGA KERJA MENURUN DALAM INVESTASI SEKTOR INDUSTRI

Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia Untuk Sektor Industri 600,000 500,000 400,000 300,000 200,000 100,000
Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia Untuk Sektor Industri
600,000
500,000
400,000
300,000
200,000
100,000
-
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
Industri PMDN
Industri PMA

Sumber: BKPM

• PMDN, terjadi penurunan penyerapan TKI dari sebesar 279.099 tahun 2012 menjadi hanya 124.135 tahun

2014 (turun sebesar 56%).

• PMA, terjadi penurunan penyerapan TKI dari sebesar 510.540 tahun 2012 menjadi hanya 222.345 tahun

2014 (turun sebesar 56%).

25
25

KEBIJAKAN DEREGULASI TAHAP I

Mendorong Daya Saing Industri Nasional (Deregulasi, Debirokratisasi, Insentif Fiskal)

KEBIJAKAN DEREGULASI I – 9 SEPTEMBER 2015: MENGGERAKKAN EKONOMI NASIONAL

Mendorong Daya Saing Industri Nasional (Deregulasi, Debirokratisasi, Insentif Fiskal)

I.1

1. Tujuan: Kebijakan Deregulasi ini diarahkan untuk mendorong daya saing industri, dengan

a. Pemulihan Efisiensi: Memulihkan dan meningkatkan kegiatan industri/utilisasi kapasitas industri, dan menghilangkan distorsi industri yang membebani konsumen, dengan melepas tambahan beban regulasi dan birokrasi bagi industri, seperti: mempermudah pengadaan bahan baku hasil pertanian, perikanan, perkebunan, dan pertambangan; menghilangkan kewajiban pendaftaran produk jadi; uji teknik produkjadi; mendorong perluasan kegiatan industri baru melalui pengembangan kawasan industri; kemudahan investasi sektor industri; memperlancar pengadaan impor komponen/kelengkapan untuk keperluan ekspor industri; menghilangkan duplikasi pemeriksaan fisik untuk kelancaran ekspor dan distribusi produk industri, dsb;

b. Penyelesaian Kesenjangan Daya Saing: Mempercepat penyelesaian kesenjangan daya saing industri dibandingkan dengan kondisi daya saing negara lain, seperti mempermudah birokrasi pengadaan lahan, memperkuat sistem pembiayaan usaha, memperkuat fungsi ekonomi koperasi, meningkatkan kegiatan wisata, membenahi sistem pengupahan, penurunan harga gas, konversi BBM ke BBG untuk nelayan, percepatan izin investasi listrik 35.000 MW, dsb;

c. Mendorong Keunggulan: Menciptakan inisiatif baru untuk mendorong keunggulan daya saing industri, seperti: fasilitas perpajakan untuk mendorong sektor angkutan, pengembangan pusat logistik berikat, inland FTA, dsb, sehingga industri nasional mampu bertahan di pasar domestik dan berekspansi ke pasar ekspor.

27
27

KEBIJAKAN DEREGULASI I – 9 SEPTEMBER 2015: MENGGERAKKAN EKONOMI NASIONAL

Mendorong Daya Saing Industri Nasional (Deregulasi, Debirokratisasi, Insentif Fiskal)

2. Bentuk Kebijakan Deregulasi:

a. Mengurangi Peraturan (Deregulasi):

Merasionalisasi peraturan dengan menghilangkan duplikasi/redundansi/irrelevant regulations.

Melakukan keselarasan antar peraturan.

Melakukan konsistensi peraturan.

b. Mempermudah Pelayanan Birokrasi (Debirokratisasi):

Simplifikasi perizinan seperti satu identitas pelaku usaha/profile sharing, sedikit persyaratan perizinan, dan sebagainya.

Adanya SOP dan SLA yang jelas dan tegas dalam mekanisme dan prosedur perizinan serta penyediaan help desk dan pengawasan internal yang berkelanjutan.

Menganut sistem pelimpahan kewenangan kepada PTSP (tempat, bentuk, waktu, biaya).

Penerapan Risk Management yang selaras dalam proses perizinan.

Pelayanan perizinan dan non perizinan melalui sistem elektronik.

c. Meningkatkan Penegakan Hukum dan Kepastian Usaha:

Adanya saluran penyelesaian permasalahan regulasi dan birokrasi (damage control channel).

Pengawasan, pengamanan dan kenyamanan, serta pemberantasan pemerasan dan pungli.

Membangun ketentuan sanksi yang tegas dan tuntas dalam setiap peraturan.

3. Cakupan Kegiatan Industri yang Direlaksasi:

a. Kemudahan Investasi;

b. Efisiensi Industri;

c. Kelancaran Perdagangan dan Logistik;

RINGKASAN DEREGULASI TAHAP I

PP : 10 RPP : 1 Inpres : 1 Permen : 31 Perka : 4
PP : 10
RPP : 1
Inpres : 1
Permen : 31
Perka : 4
TOTAL 52 PERATURAN
KEMUDAHAN INVESTASI
KEMUDAHAN
INVESTASI
PP : 1 RPP : 2 Perpres : 3 Inpres : 2 Permen : 21
PP : 1
RPP : 2
Perpres : 3
Inpres : 2
Permen : 21
Perdirjen : 1
TOTAL 30 PERATURAN
EFISIENSI INDUSTRI
EFISIENSI
INDUSTRI
PP : 5 RPP : 1 Perpres : 3 Permen : 36 Perke : 2
PP : 5
RPP : 1
Perpres : 3
Permen : 36
Perke : 2
Perdirjen : 1
SE : 1
TOTAL 49 PERATURAN
KELANCARAN PERDAGANGAN DAN LOGISTIK
KELANCARAN
PERDAGANGAN
DAN LOGISTIK
PP : 1 RPP : 1 Perpres : 1 Permen : 5 TOTAL 8 PERATURAN
PP : 1
RPP : 1
Perpres : 1
Permen : 5
TOTAL 8 PERATURAN
KEPASTIAN BAHAN BAKU SUMBER DALAM NEGERI
KEPASTIAN
BAHAN BAKU
SUMBER
DALAM
NEGERI
29
29
PENYEDIAAN TANAH: - Persyaratan HGU, HGB, HPAT - Pengaturan Kepemilikan Tanah - Persyaratan dan Perluasan
PENYEDIAAN TANAH:
- Persyaratan HGU, HGB, HPAT
- Pengaturan Kepemilikan Tanah
- Persyaratan dan Perluasan Lingkup Kerja
PPAT
- Pengaturan Penggunaan Tanah Terlantar
SEKTOR ENERGI:
- Penyediaan penjualan solar
eceran, BBG bagi nelayan,
penurunan harga gas untuk
industri tertentu
- Persyaratan Izin Memiliki Rumah Tinggal
oleh Orang Asing
- Efisiensi Biaya Pengurusan Tanah
- Pengadaan Tanah untuk Umum
- Petunjuk Pengadaan Tanah
KEMUDAHAN SEKTOR
KEHUTANAN:
- Penggunaan APBN untuk
Kilang Minyak Dalam Negeri
oleh Pertamina
- Tata Cara Peruntukan Hutan
- Penggunaan Kawasan Hutan
- Pinjam Pakai Kawasan Hutan
- Perizinan Invetasi Listrik
- Tanggap Darurat Krisis
Energi
- Pembatasan Luas Izin Usaha
- Pemanfaatan Hasil Hutan
KEMUDAHAN INVESTASI
KEMUDAHAN
INVESTASI
Penguatan fungsi PTSP dalam pelayanan perizinan dan non perizinan serta percepatan proyek strategis nasional
Penguatan fungsi
PTSP dalam
pelayanan
perizinan dan non
perizinan serta
percepatan proyek
strategis nasional
KEPASTIAN USAHA HORTIKULTURA: - Grandfather Clause untuk Investasi Hortikultura - Wisata Agro Hortikultura -
KEPASTIAN USAHA
HORTIKULTURA:
- Grandfather Clause
untuk Investasi
Hortikultura
- Wisata Agro
Hortikultura
- Kewajiban Divestasi
Usaha Perkebunan
30
PENGEMBANGAN UMKM DAN PENGUATAN FUNGSI EKONOMI KOPERASI: - Pengembangan Inkubator - Wirausaha dan Peningkatan peran
PENGEMBANGAN UMKM DAN
PENGUATAN FUNGSI EKONOMI
KOPERASI:
- Pengembangan Inkubator
- Wirausaha dan Peningkatan peran
dan skala koperasi sebagai badan
usaha ekonomi
Insentif fiskal untuk sektor angkutan/transportasi REVITALISASI BUMN PENINGKATAN PERAN PERUMNAS; DAN Penggabungan
Insentif fiskal untuk
sektor
angkutan/transportasi
REVITALISASI BUMN
PENINGKATAN PERAN
PERUMNAS; DAN
Penggabungan PT.Reasuransi
Umum Indonesia ke Dalam PT.
Reasuransi Indonesia Utama
PERIZINAN:
- Penghilangan Rekomendasi,
IP, LS, Wajib SNI barang
tertentu
- API sebagai identitas Importir
- Penegasan Penghilangan
IUOP bagi Kegiatan cut and fill
Penegasan Harga
Gas Bumi oleh
Pemerintah
EFISIENSI
INDUSTRI
Pengaturan
Sumber Daya Air
Pengaturan Sistem
Pengkajian atau
Pengupahan
Besaran Rasio
Hutang dan
Modal untuk
Perhitungan PPh
Inland FTA
Reformasi
kawasan industri
31
KEMUDAHAN WISATA: - Penghapusan CAIT - Perubahan Ketentuan Bebas Visa Kunjungan Pusat Logistik Berikat
KEMUDAHAN
WISATA:
- Penghapusan CAIT
- Perubahan
Ketentuan Bebas
Visa Kunjungan
Pusat Logistik
Berikat
API sebagai Identitas tunggal Importir dan SIUP sebagai indentitas eskportir
API sebagai
Identitas tunggal
Importir dan SIUP
sebagai indentitas
eskportir
Kelancaran ekspor produk industri dengan menghilangkan perizinan, persyaratan dan duplikasi pemeriksaan
Kelancaran ekspor
produk industri dengan
menghilangkan
perizinan, persyaratan
dan duplikasi
pemeriksaan
KELANCARAN PERDAGANGAN DAN LOGISTIK
KELANCARAN
PERDAGANGAN
DAN LOGISTIK
Kemudahan impor bahan baku untuk industri dan pengawasan impor barang konsumsi Distribusi Dalam Negeri: Pengawasan
Kemudahan impor
bahan baku untuk
industri dan
pengawasan impor
barang konsumsi
Distribusi Dalam Negeri:
Pengawasan Peredaran
Barang yang ber-SNI dan
Label Berbahasa Indonesia
serta Toko Modern
32
Fasilitas KITE untuk IKM Otomasi Pengawasan Peredaran Obat dan Makanan
Fasilitas KITE untuk
IKM
Otomasi
Pengawasan
Peredaran Obat
dan Makanan
Perikanan dan Kelautan: garam, efisiensi usaha nelayan
Perikanan dan
Kelautan: garam,
efisiensi usaha
nelayan
KEPASTIAN BAHAN BAKU SUMBER DALAM NEGERI
KEPASTIAN
BAHAN BAKU
SUMBER
DALAM
NEGERI
usaha nelayan KEPASTIAN BAHAN BAKU SUMBER DALAM NEGERI PERTAMBANGAN: PERTANIAN: Kemudahan pengadaan scrap
PERTAMBANGAN: PERTANIAN: Kemudahan pengadaan scrap Pengadaan langsung benih holtikultura 33
PERTAMBANGAN:
PERTANIAN:
Kemudahan
pengadaan scrap
Pengadaan langsung
benih holtikultura
33

PAKET KEBIJAKAN I – 9 September 2015: Menggerakkan Ekonomi Nasional Mendorong Daya Saing Industri Nasional (Deregulasi, Debirokratisasi, Insentif Fiskal)

I.2

Rekapitulasi Deregulasi Berdasarkan K/L

JUMLAH REGULASI

TOTAL

NO

KEMENTERIAN/LEMBAGA

PP

Perpres

Inpres

Permen

Lainnya

REGULASI

1.

Kemenko Perekonomian

   

2

   

2

2.

Kementerian Perindustrian

1

 

14

15

 

3.

Kementerian Perdagangan

 

30

2

32

4.

Kementerian Keuangan

4

 

6

10

 

5.

Kementerian Pertanian

1

1

5

7

6.

Kementerian ESDM

2

7

1

1

11

 

7.

Kementerian Agraria dan Tata Ruang

6

1

3

10

8.

Kementerian Lingkungan dan Kehutanan

 

2

2

 

9.

Kementerian Ketenagakerjaan

2

   

1

3

10.

Kementerian Perhubungan

 

5

5

 

11.

Kementerian PU PR

1

   

1

12.

Kementerian Kesehatan

 

1

1

 

13.

Kementerian Pariwisata

2

 

2

14.

Kementerian KUKM

 

29

29

 

15.

BKPM

   

2

2

16.

BPOM

   

2

2

 
 

Total Regulasi

17

11

2

96

8

134

 

34

KEBIJAKAN DEREGULASI TAHAP II

Kemudahan Perizinan Investasi dan Devisa Hasil Ekspor

POKOK – POKOK KEBIJAKAN DEREGULASI II - 29 SEPTEMBER 2015

1. Kemudahan Layanan Investasi 3 Jam

• Memberikan layanan cepat dalam bentuk pemberian izin investasi dalam waktu tiga jam

• Pemegang Izin Investasi sudah bisa langsung melakukan kegiatan investasi di Kawasan Industri.

2. Pengurusan Tax Allowance dan Tax Holiday Lebih Cepat

Tax Allowance

Pemerintah memberikan atau menolak tax allowance kepada investor, setelah 25 hari syarat dan aplikasi dipenuhi.

Tax Holiday

Pemerintah mengesahkan pemberian tax holiday, semua persyaratan dipenuhi.

maksimun 45 hari setelah

3. Pemerintah Tak Pungut PPN Untuk Alat Transportasi

• Tidak memungut PPN untuk beberapa alat transportasi, terutama adalah galangan kapal, kereta api, pesawat, dan termasuk suku cadangnya

• Kebijakan ini telah tertuang dalam PP No. 69/ 2015 tentang impor dan penyerahan alat angkutan tertentu dan penyerahan jasa kena pajak, terkait angkutan tertentu yang tidak dipungut PPN.

36
36

POKOK – POKOK KEBIJAKAN DEREGULASI II - 29 SEPTEMBER 2015

4. Insentif fasilitas di Kawasan Pusat Logistik Berikat

Pembangunan dua pusat logistik berikat, di Cikarang terkait sektor manufaktur dan di Merak terkait BBM, yang direncanakan siap beroperasi menjelang akhir tahun.

Manfaat: perusahaan manufaktur tidak perlu impor dan tidak perlu mengambil barang dari luar negeri, cukup mengambil dari gudang berikat.

5. Insentif pengurangan pajak bunga deposito

Pengurangan pajak bunga deposito diberikan kepada Eksportir yang berkewajiban melaporkan devisa hasil ekspor (DHE) ke BI.

DHE yang disimpan dalam bentuk deposito: (i) 1 bulan diturunkan 10 persen, (ii) 3 bulan menjadi 7,5 persen, (iii) 6 bulan menjadi 2,5 persen dan (iv) di atas 6 bulan 0 persen.

Jika dikonversi ke rupiah: (i) 1 bulan 7,5 persen, (ii) 3 bulan 5 persen, dan (iii) 6 bulan langsung 0 persen.

6. Perampingan Izin Sektor Kehutanan

Mempercepat Izin investasi dan produksi sektor kehutanan dengan mengurangi dari 14 izin menjadi 6 izin

37
37

KEMUDAHAN LAYANAN INVESTASI 3 JAM DI KAWASAN INDUSTRI

Pokok – Pokok Kebijakan;

Kriteria untuk mendapatkan layanan cepat investasi 3 jam adalah para investor memiliki rencana investasi minimal Rp 100 miliar dan atau rencana penyerapan tenaga kerja Indonesia di atas 1,000 (seribu) orang.

Permohonan disampaikan langsung oleh calon pemegang saham ke PTSP Pusat di BKPM. Satu calon pemegang saham boleh mewakili calon pemegang saham lainnya sepanjang membawa lampiran surat kuasa.

Layanan cepat Pendirian Badan Hukum Investasi melalui PTSP Pusat di BKPM ini meliputi izin penanaman modal (investasi), akta pendirian perusahaan, dan pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM sebagai badan hukum Indonesia, serta NPWP.

Izin investasi yang diberikan sekaligus akan berfungsi sebagai izin konstruksi untuk memulai kegiatan investasi di Kawasan Industri. Tapi sebelumnya, perusahaan tersebut harus memenuhi norma/standar dalam berinvestasi yang harus dipenuhi sesuai ketentuan Kawasan Industri, antara lain pajak, TDP, Izin Gangguan/SITU, IMB, Izin Lokasi, Pertimbangan Teknis Pertanahan, HGB, Izin Lingkungan dan Amdal, Amdal Lalin, ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, dan lain-lain.

Regulasi yang telah diterbitkan:

1. Peraturan Kepala BKPM Nomor 14 tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Izin Prinsip Penanaman Modal.

2. Peraturan Kepala BKPM Nomor 15 tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Perizinan dan Nonperizinan Penanaman Modal.

3. Peraturan Kepala BKPM Nomor 16 tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Pelayanan Fasilitas Penanaman Modal.

4. Peraturan Kepala BKPM Nomor 17 tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal.

38
38

KEBIJAKAN DEREGULASI TAHAP III

Kemudahan Usaha Jasa Keuangan, Pembiayaan Ekspor, dan Pengurangan Beban Usaha

POKOK-POKOK PAKET KEBIJAKAN TAHAP III – 7 OKTOBER 2015

I. Paket Kebijakan Otoritas Jasa Keuangan

1. Relaksasi ketentuan persyaratan kegiatan usaha dan penitipan valuta asing dan pengelolaan (trust)

bank.

2. Rancangan skema asuransi pertanian.

3. Rmodal ventura.

4. Pembentukan konsorsium pembiayaan industri berorientqsi ekspor dan ekonomi kreatif serta usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi.

5. Pemberdayaan lembaga pembiayaan ekspor Indonesia.

6. Penegasan implementasi one project concept dalam penetapan kualitas kredit.

II. Penurunan Harga BBM, Listrik Dan Gas

1 Harga BBM

• Harga Avtur, LPG 12 kg, Pertamax, dan Pertalite efektif turun sejak 1 Oktober 2015.

• Harga BBM jenis solar diturunkan sebesar Rp 200 per liter, sehingga harga eceran BBM jenis solar bersubsidi akan menjadi Rp 6.700 per liter. Penurunan harga BBM jenis solar juga akan berlaku untuk BBM jenis solar non-subsidi. Keputusan ini berlaku 3 hari sejak pengumuman ini.

• Harga BBM jenis premium tetap, yakni Rp 7.400 per liter (Jamali) dan Rp 7.300 (di luar Jamali).

40
40

POKOK-POKOK PAKET KEBIJAKAN TAHAP III – 7 OKTOBER 2015

III. PENURUNAN HARGA BBM, LISTRIK DAN GAS

2 Harga Gas

• Harga gas untuk pabrik dari lapangan gas baru ditetapkan sesuai dengan kemampuan daya beli industri pupuk, yakni sebesar US$ 7 mmbtu (Million British Thermal Unit). Sedangkan harga gas untuk industri lainnya (seperti petrokimia, keramik, dsb) akan diturunkan sesuai dengan kemampuan industri masing-masing. Penurunan harga gas dimungkinkan dengan melakukan efisiensi pada sistem distribusi gas serta pengurangan penerimaan negara atau PNBP gas. Meski demikian, penurunan harga gas ini tidak akan mempengaruhi besaran penerimaan yang menjadi bagian perusahaan gas Kontrak Kerja Sama.

• Penurunan harga gas untuk industri tersebut akan efektif berlaku mulai 1 Januari 2016. “Karena masih harus mengubah aturan tentang PNBP-nya,” ujar Darmin .

3 Harga Listrik

• Tarif listrik untuk pelanggan industri I 3 dan I 4 akan mengalami penurunan tarif mengikuti turunnya harga minyak bumi (Automatic Tariff Adjustment).

• Diskon tarif hingga 30% untuk pemakaian listrik mulai tengah malam pukul 23:00 hingga pagi hari pukul 08:00, pada saat beban sistem ketenagalistrikan rendah.

• Penundaan pembayaran tagihan rekening listrik hingga 60% dari tagihan selama setahun dan melunasi 40% sisanya secara angsuran pada bulan ke-13, khusus untuk industri padat karya

41
41

POKOK-POKOK PAKET KEBIJAKAN TAHAP III – 7 OKTOBER 2015

IV. PERLUASAN WIRAUSAHAWAN PENERIMA KUR

• Dalam rangka meningkatkan akses wirausahawan kepada kredit perbankan, melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), pemerintah telah menurunkan tingkat bunga KUR dari sekitar 22% menjadi 12% persen. Pada paket kebijakan ini, para keluarga yang memiliki penghasilan tetap atau pegawai, dipertegas dapat menerima KUR untuk sektor usaha produktif. Menurut Darmin Nasution, “Melalui perluasan penerima KUR ini, pemerintah berharap akan muncul para wirausahawan baru.”

V. PENYEDERHANAAN IZIN PERTANAHAN DALAM KEGIATAN PENANAMAN MODAL

1. Untuk menunjang perekonomian di bidang pertanahan, Kementerian ATR/BPN merevisi Permen Nomor 2 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan dan Pengaturan Agraria, Tata Ruang dan Pertanahan dalam Kegiatan Penanaman Modal.

2. Beberapa substansi pengaturan baru yang mencakup beberapa hal seperti:

a) Pemohon mendapatkan informasi tentang ketersediaan lahan (semula 7 hari menjadi 3 jam);

b) Seluruh permohonan didaftarkan sebagai bentuk kepastian bagi pemohon terhadap ketersediaan dan rencana penggunaan lahan. Surat akan dikeluarkan dalam waktu 3 jam

42
42

POKOK-POKOK PAKET KEBIJAKAN TAHAP III – 7 OKTOBER 2015

c)

Kelengkapan perijinan prinsip

• Proposal, pendirian perusahaan, alas Hak Tanah menjadi persyaratan awal untuk dimulainya kegiatan lapangan;

• Ada persyaratan yang dapat menyusul sampai dengan sebelum diterbitkannya Keputusan tentang Hak Penggunaan Lahan

c)

Jangka Waktu pengurusan (Persyaratan harus lengkap):

• Hak Guna Usaha (HGU) dari 30 – 90 hari 20 hari kerja (s/d 200 ha) atau 45 hari kerja (> 200 ha)

• Perpanjangan/ pembaruan HGU dari 20 – 50 hari 7 hari kerja (s/d 200 ha) atau 14 hari kerja (> 200 ha)

• Permohonan Hak Guna Bangunan/ Hak Pakai dari 20 – 50 hari kerja 20 hari kerja (s/d 15 ha) atau 30 hari kerja (>15 ha)

• Perpanjangan/ pembaruan Hak Guna Bangunan/ Hak Pakai dari 20 – 50 hari kerja 5 hari kerja (s.d 15 ha) atau 7 hari kerja (>15 ha)

• Hak Atas Tanah dari 5 hari kerja 1 hari kerja

• Penyelesaian pengaduan dari 5 hari kerja 2 hari kerja

e)

Dalam perpanjangan hak penggunaan lahan yang didasarkan pada evaluasi tentang pengelolaan dan penggunaan lahan, termasuk audit luas lahan, oleh yang bersangkutan tidak lagi memakai persyaratan seperti awal permohonan.

43
43

REKAPITULASI PERIZINAN DEREGULASI

   

YANG DIHILANGKAN

SISA IZIN (per 6 Okt 2015)

JENIS REGULASI

JUMLAH IZIN

RENCANA

REALISASI

Peraturan Pemerintah

41

19

 

22

Peraturan Presiden

4

   

4

Instruksi Presiden

       

Peraturan Menteri Perindustrian

38

17

13

25

Peraturan Menteri Perdagangan

125

47

28

97

Peraturan Menteri Keuangan

6

   

6

Peraturan Menteri Pertanian

11

3

 

8

Peraturan Menteri ESDM

       

Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang

       

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan

4

   

4

Peraturan Menteri Perhubungan

7

   

7

Peraturan Menteri Kesehatan

1

   

1

Peraturan Menteri Koperasi dan UKM

14

   

14

Peraturan Kepala BKPM

5

   

5

Peraturan Kepala BPOM

       
 

256

86

41

215

44
44

REKAPITULASI PERIZINAN DEREGULASI

   

YANG DIHILANGKAN

SISA IZIN (per 6 Okt 2015)

KLASIFIKASI REGULASI

JUM49H IZIN

RENCANA

REALISASI

Kemudahan Investasi

44

5

0

44

Efisiensi Industri

49

22

16

33

Kelancaran Perdagangan dan Logistik

150

52

22

128

Kepastian Bahan Baku Sumber Dalam Negeri

13

7

3

10

TOTAL REGULASI

256

86

41

215

45
45

LAMPIRAN

KEMUDAHAN INVESTASI

KEMUDAHAN INVESTASI NO REGULASI JUMLAH IZIN IZIN YANG DIHILANGKAN SISA KLASIFIKASI 1. PP Kawasan

NO

REGULASI

JUMLAH IZIN

IZIN YANG DIHILANGKAN

SISA

KLASIFIKASI

1.

PP Kawasan Industri

19

14

5

Mendorong keunggulan

2

PP yang melaksanakan UU Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Hortikultura, untuk memberikan grandfather clause bagi investasi perkebunan hortikultura

     

Pemulihan efisiensi

3

PP yang merevisi PP Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah

1

-

1

Penyelesaian kesenjangan daya saing

Izin peralihan Hak Pakai atas tanah negara

Izin peralihan Hak Pakai atas tanah negara

4

PP yang merevisi PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah

-

-

-

Pemulihan efisiensi

5

PP yang merevisi PP Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan PPAT

-

-

-

Pemulihan efisiensi

6

PP yang merevisi PP Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar

1

-

1

Pemulihan efisiensi

Izin Peruntukan penguasaan, pemilikan,

Izin Peruntukan penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah negara

 

penggunaan, dan pemanfaatan tanah negara bekas tanah terlantar

7

PP yang merevisi PP Nomor 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tinggal Atau Hunian Oleh Orang Asing Yang Berkedudukan di Indonesia-

-

-

-

Mendorong keunggulan

47
47

KEMUDAHAN INVESTASI

KEMUDAHAN INVESTASI NO REGULASI JUMLAH IZIN IZIN YANG DIHILANGKAN SISA KLASIFIKASI 8 PP yang

NO

REGULASI

JUMLAH IZIN

IZIN YANG DIHILANGKAN

SISA

KLASIFIKASI

8

PP yang merevisi PP Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional

-

-

-

Pemulihan efisiensi

9

PP perubahan keempat PP No. 23/2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, untuk debirokratisasi dengan memperpendek jangka waktu proses pengajuan perpanjangan IUP, IUPK, KK, dan PKP2B

6

-

6

Pemulihan efisiensi

- Ijin Usaha Pertambangan (IUP)

- Ijin Usaha Pertambangan (IUP)

- IUP Eksplorasi

- IUP Eksplorasi

- IUP Operasi Produksi

- IUP Operasi Produksi

- Izin Usaha

- Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK)

 

Pertambangan

Khusus (IUPK)

- IUPK Eksplorasi

- IUPK Eksplorasi

- IUPK Operasi

- IUPK Operasi Produksi

Produksi

10

PP tentang PPN Jasa Kepelabuhanan, untuk memberikan insentif PPN bagi angkutan laut luar negeri

     

Mendorong keunggulan

11

PP yang merevisi PP No 146 Tahun 2000 tentang Impor dan/ atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu dan/atau Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN, untuk insentif, PPN dibebaskan bagi alat angkut tertentu (Kapal Laut, Kereta Api, Pesawat)

     

Mendorong keunggulan

12

RPP Usaha Wisata Agro Hortikultura

     

Mendorong keunggulan

48
48

KEMUDAHAN INVESTASI

KEMUDAHAN INVESTASI NO REGULASI JUMLAH IZIN IZIN YANG DIHILANGKAN SISA KLASIFIKASI 13 PP tentang

NO

REGULASI

JUMLAH IZIN

IZIN YANG DIHILANGKAN

SISA

KLASIFIKASI

13

PP tentang Impor dan Penyerahan Alat Angkut Tertentu dan Penyerahan Jasa Kena Pajak Terkait Alat Angkutan Tertentu yang Tidak Dipungut PPN, untuk insentif, PPN tidak dipungut bagi alat angkut tertentu (Kapal Laut, Kereta Api, Pesawat)

     

Mendorong keunggulan

14

Perpres Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional

     

Penyelesaian kesenjangan daya saing

15

Perpres yang merevisi Perpres Nomor 30 Tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

-

-

-

Penyelesaian kesenjangan daya saing

16

Peraturan Presiden tentang Pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak di Dalam Negeri, sebagai pedoman akselerasi pembangunan kilang minyak (termasuk produk turunannya) melalui dana APBN dan penugasan kepada Pertamina

     

Pemulihan efisiensi

49
49

KEMUDAHAN INVESTASI

KEMUDAHAN INVESTASI NO REGULASI JUMLAH IZIN IZIN YANG DIHILANGKAN SISA KLASIFIKASI 17 Peraturan

NO

REGULASI

JUMLAH IZIN

IZIN YANG DIHILANGKAN

SISA

KLASIFIKASI

17

Peraturan Presiden tentang percepatan pembangunan infratstruktur ketenaga listrikan, untuk deregulasi dan debirokratisasi proses perizinan investasi listrik

     

Penyelesaian kesenjangan daya saing

18

Perpres Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis

     

Pemulihan efisiensi

19

Inpres Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis

     

Pemulihan efisiensi

20

Revisi Perka BKPM Nomor 5 Tahun 2003 jo Perka BKPM Nomor 12 Tahun 2013 tentang Pedoman dan Tata Cara Perizinan dan Non Perizinan untuk menyesuaikan seluruh jenis izin usaha harus disamakan nomenklatur dengan peraturan perundang-undangan sektor.

-

-

-

Pemulihan efisiensi

21

Perka BKPM yang merevisi Perka BKPM No 3 Tahun 2012, agar dalam pengendalian pelaksanaan penanaman modal, pengawasan terutama perubahan investasi dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga K/L terkait dan asosiasi industri mendapatkan informasi perubahan.

5

-

5

Pemulihan efisiensi

- Pendaftaran penanaman modal

- Pendaftaran penanaman

modal

- Izin prinsip

- Izin prinsip

- Izin usaha

- Izin usaha

- Izin usaha perwakilan perusahaan perdagangan asing

- Izin usaha perwakilan perusahaan perdagangan asing

 

- Izin kantor perwakilan perusahaan asing

- Izin kantor perwakilan perusahaan asing

50
50

KEMUDAHAN INVESTASI

KEMUDAHAN INVESTASI NO REGULASI JUMLAH IZIN IZIN YANG DIHILANGKAN SISA KLASIFIKASI 22 Perka BKPM

NO

REGULASI

JUMLAH IZIN

IZIN YANG DIHILANGKAN

SISA

KLASIFIKASI

22

Perka BKPM tentang Izin Prinsip Penanaman Modal

     

Pemulihan efisiensi

23

Perka BKPM tentang Fasilitas Penanaman Modal

     

Pemulihan efisiensi

24

Permentan yang merevisi Permentan Nomor 98 Tahun 2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan, untuk merubah pasal 14 yang mewajibkan divestasi kepada koperasi pekebun setempat

-

-

 

- Pemulihan efisiensi

25

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang merevisi Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.16/Menhut-II/2014 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan.

1

-

 

1 Pemulihan efisiensi

Izin pinjam pakai kawasan hutan

Izin pinjam pakai kawasan

hutan

51
51

KEMUDAHAN INVESTASI

KEMUDAHAN INVESTASI NO REGULASI JUMLAH IZIN IZIN YANG DIHILANGKAN SISA KLASIFIKASI   26

NO

REGULASI

JUMLAH IZIN

IZIN YANG DIHILANGKAN

SISA

KLASIFIKASI

 

26

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mengubah Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.8/Menhut-II2014 tentang Pembatasan Luas Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) Dalam Hutan Alam, IUPHHK Hutan Tanaman Industri atau IUPHHK Restorasi Ekosistem pada Hutan Produksi.

3

-

3

Pemulihan efisiensi

- Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Industri

- Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Industri

- Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan dalam Hutan Alam

- Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan dalam Hutan Alam

 

- Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem dalam Hutan Alam

- Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem dalam Hutan Alam

27

Permen ATR/Kep. BPN Nomor 6 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Permen Kepala BPN Nomor 5 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah

-

-

-

Pemulihan efisiensi

28

Permen ATR/Kep. BPN yang merevisi Peraturan Kepala BPN Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan dan Pengaturan Pertanahan.

     

Pemulihan efisiensi

29

Permen ATR/Kep. BPN yang merevisi Peraturan Kepala BPN Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan.

     

Pemulihan efisiensi

30

Kepmen Koperasi dan UKM yang merevisi Kepmen Koperasi dan UKM Nomor 145/KEP/M/1998 tentang Petunjuk Penanaman Modal Penyertaan Pada Koperasi, agar Koperasi dapat membangun modal penyertaan sebagai instrumen modal yang sebagai surat berharga yang dapat diperjualbelikan sehingga dapat mengembangkan pemupukan modal Koperasi yang berasal dari luar

     

Penyelesaian kesenjangan daya saing

     
 

52

KEMUDAHAN INVESTASI

KEMUDAHAN INVESTASI NO REGULASI JUMLAH IZIN IZIN YANG DIHILANGKAN SISA KLASIFIKASI 31 Kepmen

NO

REGULASI

JUMLAH IZIN

IZIN YANG DIHILANGKAN

SISA

KLASIFIKASI

31

Kepmen Koperasi dan UKM yang merevisi Kepmen Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah Nomor 19/KEP/M/III/1998 tentang Pedoman Kelembagaan dan Usaha Kecil, untuk mendukung koperasi berani masuk ke sektor lain

     

Penyelesaian kesenjangan daya saing

32

Kepmen Koperasi dan UKM yang merevisi Kepmen Koperasi dan UKM Nomor 91/KEP/M.KUM/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Usaha Koperasi Jasa

5

 

5

Penyelesaian

- Permohonan pengesahan akta pendirian Koperasi Jasa

Keuangan Syariah

- Permohonan pengesahan akta pendirian Koperasi Jasa Keuangan Syariah

kesenjangan daya saing

Keuangan Syariah, agar selaras dengan UU No 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah serta meningkatkan kepatuhan KSP dan pembiayaan syariah

- Permohonan Pendirian Koperasi Jasa Keuangan Syariah

- Permohonan pengesahan Unit Jasa Keuangan Syariah

- Permohonan persetujuan pembukaan Kantor Cabang

- Permohonan ijin perubahan pola operasional menjadi sistem syariah untuk konversi data keuangan

- Permohonan Pendirian Koperasi Jasa Keuangan Syariah

- Permohonan pengesahan Unit Jasa Keuangan Syariah

- Permohonan persetujuan pembukaan Kantor Cabang

- Permohonan ijin perubahan pola operasional menjadi sistem syariah untuk konversi data keuangan

33

Permen Koperasi dan UKM yang merevisi Permen Koperasi dan UKM Nomor 118/PER/M.KUKM/X/2004 tentang Pedoman Pendidikan dan Pelatihan Bagi Koperasi dan UKM, untuk mengakomodir UU No 20 tahun 2008 tentang UMKM dan diklat pengembangan kompetesi usaha mikro

     

Penyelesaian kesenjangan daya saing

53
53

KEMUDAHAN INVESTASI

KEMUDAHAN INVESTASI       IZIN YANG     NO REGULASI JUMLAH IZIN DIHILANGKAN SISA
     

IZIN YANG

   

NO

REGULASI

JUMLAH IZIN

DIHILANGKAN

SISA

KLASIFIKASI

34

Kepmen Koperasi dan UKM yang merevisi Kepmen Negara Urusan Koperasi dan UKM Nomor 123/Kep/M.KUKM/X/2004 tentang Penyelenggaraaan Tugas Pembanguan Dalam Rangka Pengesahan Akta Pendirian, Perubahan Anggaran Dasar dan Pembubaran Koperasi Pada Provinsi dan Kabupaten/Kota, untuk

menyelaraskan dengan UU No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan mendukung pembentukan Koperasi

2

-

2

Penyelesaian kesenjangan daya saing

- Menunjuk gubernur sebagai pejabat untuk dan atas nama Menteri Koperasi dan UKM dlm pengesahan akta pendirian, perubahan anggaran dasar, dan

pembubaran koperasi yang anggotanya berdomisili lebih dari 1 kab/kota dalam propinsi

Merevisi ketentuan yang memberi wewenang gubernur dan bupati dalam dlm pengesahan akta pendirian, perubahan

anggaran dasar, dan pembubaran koperasi

pengesahan akta

pendirian, perubahan

anggaran dasar, dan pembubaran koperasi adalah wewenang pemerintah pusat

 
 

- Menunjuk bupati untuk dan atas nama Menteri Koperasi dan UKM dlm pengesahan akta sebagai pejabat dlm pengesahan akta pendirian, perubahan anggaran dasar, dan pembubaran koperasi yang anggotanya berdomisili di wilayah bersangkutan

 

35

Kepmen Koperasi dan UKM yang merevisi Kepmen Koperasi dan UKM Nomor 124/Kep/M.UKM/X/2004 tentang Penugasan Pejabat Yang Berwenang untuk memberikan Pengesahan Akta Pendirian, Perubahan Anggaran Dasar dan Pembubaran Koperasi di Tingkat Nasional, untuk menyelaraskan dengan UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan mendukung pembentukan Koperasi

1

-

1

 

Menugaskan Deputi Kelembagaan Kemen Koperasi dan UKM sebagai pejabat untuk dan atas nama Menteri Koperasi dan UKM dlm pengesahan akta pendirian, perubahan anggaran dasar, dan pembubaran koperasi yang anggotanya berdomisili lebih dari 1 propinsi

Merevisi ketentuan yang Menugaskan Deputi Kelembagaan Kemen Koperasi dan UKM dalam dlm pengesahan akta pendirian, perubahan anggaran dasar, dan pembubaran koperasi

pengesahan akta pendirian, perubahan anggaran dasar, dan pembubaran koperasi adalah wewenang pemerintah pusat

Penyelesaian kesenjangan daya saing

54
54

KEMUDAHAN INVESTASI

KEMUDAHAN INVESTASI       IZIN YANG     NO REGULASI JUMLAH IZIN DIHILANGKAN SISA
     

IZIN YANG

   

NO

REGULASI

JUMLAH IZIN

DIHILANGKAN

SISA

KLASIFIKASI