Anda di halaman 1dari 18

PRESENTASI KASUS

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

Diajukan kepada Yth :


dr. Indah Rahmawati, Sp.P
Disusun oleh :
Galuh Ajeng Parandhini
Iman Hakim Wicaksana

G4A014036
G4A014126

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
2015

LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS
PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)
Diajukan untuk memenuhi syarat
Mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior
di bagian Ilmu PenyakitDalam
RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto
telah disetujui dan dipresentasikan
pada tanggal: November 2015

Disusun oleh :
Galuh Ajeng Parandhini
Iman Hakim Wicaksana

Purwokerto,

G4A014036
G4A014126

November 2015

Pembimbing,

dr. Indah Rahmawati, Sp. P

19670316 200604 2 001BAB I


PRESENTASI KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. T

Usia

: 66 tahun

Alamat

: Berkoh, Purwokerto Selatan

Jenis kelamin

: Pria

Pekerjaan

: Pedagang

Pendidikan

: SD

Tanggal masuk

: 31 Oktober 2015 pukul 11.00

Tanggal periksa : 2 November 2015pukul 13.30


Ruang Rawat

: Cendana

Nomer RM

: 00-06-67-78

B. SUBJEKTIF
1. Keluhan utama
Sesak nafas
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke IGD RSMS dengan keluhan sesak nafas yang
dirasakan sejak 2 bulan sebelum masuk Rumah Sakit dan semakin memberat
sejak 4 hari ini. Sesak nafas dirasakan terus menerus hingga mengganggu
aktifitas. Sesak nafas dirasa seperti nafas memendek. Sesak nafas terkadang
disertai bunyi ngik-ngik. Keluhan dirasakan memberat jika lelah setelah
beraktifitas. Keluhan sesak nafas akan berkurang apabila pasien beristirahat
dan menggunakan 2-3 bantal sehingga keluhan berkurang.
Keluhan lain yang dirasakan pasien adalah batuk, batuk dirasakan
berdahak berwarna putih keruh. Pasien juga mengeluhkan sering serak karena
dahak yang susah keluar. Pasien biasa kontrol poliklinik paru setiap 1 bulan
sekali, namun sudah 2 bulan terakhir tidak lagi kontrol rutin.

3. Riwayat penyakit dahulu


a. Riwayat keluhan serupa
b. Riwayat mondok

: diakui pasien
: sebelumnya pasien pernah mondok di

RSMS pada tahun 2013 dengan diagnosis PPOK


c. Riwayat OAT
: disangkal
d. Riwayat Hipertensi
: disangkal
e. Riwayat DM
: disangkal
f. Riwayat Jantung
: disangkal
4. Riwayat penyakit keluarga
a. Riwayat keluhan serupa
: diakui pasien
b. Riwayat mondok
: disangkal
c. Riwayat Hipertensi
: disangkal
d. Riwayat DM
: disangkal
e. Riwayat Asma
: diakui pasien
f. Riwayat Jantung
: disangkal
5. Riwayat sosial ekonomi
a. Community
Pasien tinggal di lingkungan dengan jumlah penduduk yang padat
penduduk. Paien mengatakan terdapat tetangga yang memiliki keluhan
serupa dengan pasien.
b. Home
Pasien tinggal bersama Istri dan satu orang cucunya. Rumah pasien berisi
3 orang penghuni. Pasien mengaku bahwa cucunya merupakan perokok
aktif yang biasanya hampir menghabiskan satu bungkus per harinya.
Rumah berukuran cukup, lantai di plester, berdinding dan memiliki 2
kamar. Rumah memiliki jendela dan ventilasi yang kurang dan jarang
dibuka

sehingga

pencahayaan

kurang.

Untuk

memasak

pasien

menggunakan gas namun terkadang juga menggunakan tungku kayu


bakar.
c. Occupational
Pasien mengaku bekerja serabutan, terkadang pasien berjualan mainan
anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya, terkadang pasien juga
mengambil rongsok di tempat sisa pembakaran, abu sisa pembaaran
tersebut dirasa mengganggu pasien

d. Personal habit
Pasien mengaku terkadang terpapar abu sisa pembakaran apabila sedang
mengambil rongsok saat bekerja. Pasien adalah seorang perokok aktif
sejak berusia 5 tahun
C. OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
a.
b.
c.
d.
e.

Keadaan Umum
Kesadaran
BB
TB
Vital sign
1)
2)
3)
4)

Tekanan Darah
Nadi
RR
Suhu

: Sedang
: Compos mentis
: 54 kg
: 155 cm
: 110/80 mmHg
: 87 x/menit
: 22 x/menit
: 36,2 oC

f. Status Generalis
1) Kepala
- Bentuk
- Rambut

: Mesochepal, simetris
: Warna putih campur hitam, tidak mudah
dicabut,distribusi merata, tidak rontok
: (-)

- Nyeri tekan
2) Mata
- Palpebra
: Edema (-/-) ptosis (-/-)
- Konjungtiva
: Anemis (-/-)
- Sclera
: Ikterik (-/-)
- Pupil
: Reflek cahaya (+/+), Pupil bulat isokor
3) Telinga
- Discharge (-/-)
- Deformitas (-/-)
- Nyeri tekan (-/-)
4) Hidung
- Nafas cuping hidung (-/-)
- Deformitas (-/-)
- Discharge (-/-)
5) Mulut
- Bibir sianosis (-)
- Bibir kering (-)
- Lidah kotor (-)
6) Leher
- Trakhea
: Deviasi trakhea (-/-)
- Kelenjar lymphoid
: Tidak membesar, nyeri (-)
- Kelenjar thyroid
: Tidak membesar

7) Dada
a) Paru
1) Inspeksi :

Bentuk dada simetris,ketinggalan

gerak (-),
retraksi (-), jejas (-), sela iga melebar.
2) Palpasi :
Vocal fremitus lobus superior
kanan = kiri
Vocal fremitus lobus inferior kanan = kiri
3) Perkusi :
Sonor pada semua lapang paru,
Batas paru
hepar SIC V LMCD
4) Auskultasi
:
Suara dasar vesikuler +/+,
ronki basah kasar
(+/+), Wheezing(+/+), ronkhi basah halus(-/-)
b) Jantung
- Inspeksi
: Ictus cordis di SIC V 2 jari medial LMCS
- Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V 2 jari medialLMCS,
kuatangkat (-)
- Perkusi : Batas jantung kanan atas
: SIC II LPSD
Batas jantung kiri atas
: SIC II LPSS
Batas jantung kanan bawah
: SIC V LPSD
Batas jantung kiri bawah
: SIC V 2 jari
medial LMCS
- Auskultasi : S1>S2, reguler, murmur (-), gallop (-)
8) Abdomen
1. Inspeksi : Datar
2. Auskultasi : Bising usus (+) normal
3. Perkusi : Timpani, pekak sisi (-), pekak alih (-)
4. Palpasi : Nyeri tekan (-), undulasi (-)
9) Hepar dan lien
: Tidak teraba
10) Ekstrimitas
1) Superior : deformitas (-), edema (-/-)
2) Inferior : deformitas (-), edema (-/-)

2. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium (dilakukan di RSMS) 22 September 2015
Darah lengkap
Hemoglobin

: 14.8 g/dl

Normal : 12-16 gr/dl

Leukosit

: 8400/uL

Hematokrit

: 49%

Normal : 37 %-47 %

Eritrosit

: 5.5 ^6/uL

Normal : 4,2-5,4 juta/ uL

Trombosit

: 284.000 /uL

Normal : 150000-450000/uL

MCV

: 87.9 fL

Normal : 79-99 fL

MCH

: 26.7 pg

Normal : 27-31 pg

MCHC

: 30.4 %

Normal : 33-37 gr/dl

RDW

: 14.3 %

Normal : 11,5-14,5

MPV

: 10.1 fL

(H)

Normal : 4800-10800 /uL

Normal : 7,2-11,1

Hitung Jenis
Basofil

: 1.1 %

Eosinofil

: 5.0 %

(L)

Normal : 2-4 %

Batang

: 0,4 %

(L)

Normal : 2-5 %

Segmen

: 55.3 %

(H)

Normal : 40-70 %

Limfosit

: 29.3 %

(L)

Normal : 25-40 %

Monosit

: 8.9 %

D. ASSESSMENT
Diagnosis Klinis:
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Normal : 0,0-1,0 %

Normal : 2-8 %

E. PLANNING
1. Terapi
a. Farmakologi
1) IVFD RL tiap 20 tpm
2) Seretide 2x100
3) Spiriva 1x1 puff
4) Therasma 3x 1cth
5) Nebulisasi jika perlu
b. Non Farmakologi
1) Edukasi pasien dan keluarga tentang PPOK. Serta edukasi mengenai
cara dan waktu pemakaian obat.
2) Makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh,
serta diberikan vitamin tambahan.
3) Edukasi tentang kebersihan lingkungan rumah, seperti buka ventilasi
sesering mungkin agar sinar matahari dan udara masuk, serta tidak
melakukan aktivitas yang terlalu melelahkan yang dapat memacu
serangan memicu terjadinya PPOK
4) Edukasi mengenai faktor penyebab PPOK, yakni pajanan rokok
sehingga disarankan pasien berhenti merokok secara total.
c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan foto Thorax
Pemeriksaan Spirometri
d. Monitoring & Evaluasi
1) Keadaan umum dan kesadaran (per hari)
2) Tanda vital (per hari)
3) Evaluasi klinis
- Pasien dievaluasi perkembangannya tiap hari, terutama mengenai
keluhan utamanya yang berupa sesak sehingga didapatkan PPOK
-

stabil.
Evaluasi gejala, spirometrik, risiko eksaserbasi, dan komorbiditas.
Evaluasi tingkat keparahan penyakit dan respon terhadap terapi
menurut penilaian risiko eksaserbasi dan gejala.

F. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanationam

: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

BAB II
PEMBAHASAN
A. Penegakan Diagnosis
Penyakit Paru Obstruktif Kronik
a. Anamnesis
1) Keluhan utama : Sesak nafas.
Sesak nafas pada pasien bersifat progresif. Awalnya pasien merasa sesak
bila sudah kelelahan. Namun, lama kelamaan pasien merasa sesak saat
melakukan aktivitas sehari-hari.
2) RPS
a) Onset
: Sudah sejak 2 bulan yang lalu
b) Kualitas
: Sesak nafas terus menerus dan
mengganggu aktifitas
c) Kuantitas
:d) Faktor memperberat
: lelah, terkena debu, asap
e) Faktor memperingan
: istirahat
f) Gejala penyerta
- Sesak nafas disertai bunyi ngik-ngik.
- Sering merasa lelah jika beraktifitas
- Keluhan bertambah ringan apabila pasien istirahat dengan 2-3
bantal
3) RPD
Memiliki riwayat keluhan yang sama sebelumnya sejak tahun 2013
kemudian rutin kontrol di Poli Paru RSMS
4) Riwayat penyakit keluarga
Orang tua memiliki riwayat asma.
5) Riw Sos-Ek
Pasien merupakan seorang perokok aktif sejak kecil. Pasien sering
bekerja mengambil rongsok di tempat bekas pembakaran sehingga sering
terkena abu bekas pembakaran. Cucu pasien yang tinggal serumah juga
merupakan perokok aktif
b. Pemeriksaan Fisik
1) Vital sign
a) Tekanan Darah
b) Nadi
c) RR
d) Suhu

: 110/80 mmHg
: 87 x/menit
: 22 x/menit
: 36,2 oC

2) Pemeriksaan fisik paru didapatkan wheezing yang diakibatkan oleh


obstruksi jalan nafas.
c. PemeriksaanPenunjang
Pemeriksaan darah lengkap : dalam batas normal
B. Tindak Lanjut Penanganan Pasien
PPOK mendapatkan terapi bronkodilator tunggal atau kombinasi dari
ketiga jenis bronkodilator. Bentuk obat utama adalah inhalasi, sedangkan
nebuliser tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang. Pemberian obat
lepas lambat (slow release) atau obat berefek panjang (long acting) digunakan
pada kasus PPOK derajat berat. Macam - macam bronkodilator (Wedzicha,
2011):
a) Golongan antikolinergik
Golongan ini dipakai pada derajat ringan sampai berat, selain sebagai
bronkodilator juga berfungsi sebagai pengurang sekresi lendir (maksimal 4
kali perhari), di antaranya yaitu atrovent. Efek samping obat ini yaitu sifatnya
yang mengentalkan dahak, takikardi, mulut kering, obstipasi, sukar berkemih,
dan penglihatan buram akibat gangguan akomodasi. Penggunaanya sebagai
inhalasi meringankan efek samping ini.
b) Golongan agonis beta -2 (adrenergik)
Mekanisme kerjanya obat golongan ini adalah menstimulasi reseptor b 2
di trakea dan bronkus yang mengaktivasi enzim adenilsiklase. Enzim ini
memperkuat pengubahan adenosintrifosat (ATP) yang kaya energi menjadi
cyclic-adenosin monophosphat (cAMP) dengan pembebasan energi untuk
proses-proses dalam sel. Meningkatnya cAMP intrasel menghasilkan efek
bronkodilator dan menghambat pelepasan mediator oleh sel mast. Bentuk
inhaler digunakan untuk mengatasi sesak, peningkatan jumlah penggunaan
dapat sebagai monitor timbulnya eksaserbasi. Sebagai obat pemeliharaan
sebaiknya digunakan bentuk tablet yang berefek panjang. Bentuk nebuliser
dapat digunakan untuk mengatasi eksaserbasi akut dan tidak dianjurkan untuk
penggunaan jangka panjang. Bentuk injeksi subkutan atau drip untuk

mengatasi eksaserbasi berat. Contoh obat yang termasuk golongan ini yaitu
salbutamol.
c) Golongan Xantin
Golongan ini digunakan sebagai pengobatan pemeliharaan jangka
panjang, terutama pada derajat sedang dan berat. Contoh obat yang termasuk
golongan ini adalah aminofilin dan teofilin. Bentuk tablet biasa atau puyer
untuk mengatasi sesak (pelega napas), bentuk suntikan bolus atau drip untuk
mengatasi eksaserbasi akut. Penggunaan jangka panjang diperlukan
pemeriksaan kadar aminofilin darah.
Obat tambahan yang dapat diberikan dengan indikasi tertentu pada
pasien PPOK yaitu antiinflamasi. Obat antiinflamasi diberikan jika terjadi
eksaserbasi akut yang berfungsi untuk menekan peradangan yang terjadi,
dipilih golongan metilprednisolon atau prednison. Antibiotik juga dapat
diberikan hanya bila terdapat infeksi. Mukolitik digunakan jika dahak terlalu
kental, sedangkan antitusif digunakan bila batuk sangat sering dan tidak
berdahak.
Nutrisi pada pasien PPOK juga harus dipertimbangkan. Penggunaan otot
bantu respirasi menyebabkan peningkatan metabolism. Malnutrisi dapat
dievaluasi dengan mengukur berat badan, kadar albumin darah, antopometri,
kekuatan otot dan hasil metabolism. Malnutrisi diatasi dengan pemberian diit
kalori seimbang, antara yang masuk dan keluar, bila perlu nutrisi dapat
diberikan terus menerus atau nocturnal feedings, dengan pipa nasogaster.
Komposisi nutrisi berimbang dapat berupa tinggi lemak rendah karbohidrat.
Pemberian karbohidrat yang berlebih menimbulkan penumpukan CO2 sebagai
produk metabolism karbohidrat. Hal ini akan menambah keparahan PPOK
karena pada pasien PPOK terdapat kesulitan untuk mengeluarkan karbohidrat.
Kebutuhan protein seperti pada umumnya, protein dapat meningkatkan
ventilasi semenit konsumsi oksigen dan respon ventilasi terhadap hipoksia dan
hiperkapni.

Ganguan

elektrolit

seperti

hipofosfatemi,

hiperkalemi,

hipokalsemi dan hipomagnesemi kerap terjadi. Gangguan ini dapat

mengurangi fungsi diafragma. Dianjurkan pemberian komposisi berimbang,


porsi kecil tapi sering (PDPI, 2006).
Edukasi pada PPOK juga diberikan dan sifatnya berbeda dengan edukasi
pada asma karena PPOK adalah penyakit kronik yang ireversibel dan
progresif, inti dari edukasi adalah menyesuaikan keterbatasan aktivitas dan
mencegah kecepatan perburukan fungsi paru. Berbeda dengan asma yang
masih bersifat reversibel, menghindari pencetus dan memperbaiki derajat
adalah inti dari edukasi atau tujuan pengobatan dari asma. Tujuan edukasi
pada pasien PPOK :
a) Mengenal perjalanan penyakit dan pengobatan
b) Melaksanakan pengobatan yang maksimal
c) Mencapai aktivitas optimal
d) Meningkatkan kualitas hidup
Pemberian edukasi berdasarkan derajat penyakit :
Ringan
1) Penyebab dan pola penyakit PPOK yang ireversibel
2) Mencegah penyakit menjadi berat dengan menghindari pencetus, antara
lain berhenti merokok
3) Segera berobat bila timbul gejala
Sedang
1) Menggunakan obat dengan tepat
2) Mengenal dan mengatasi eksaserbasi dini
3) Program latihan fisik dan pernapasan
Berat
1) Informasi tentang komplikasi yang dapat terjadi
2) Penyesuaian aktivitas dengan keterbatasan
3) Penggunaan oksigen di rumah

Tabel 2.1. Penatalaksanaan PPOK (PDPI, 2010)

Gambar 2.1. Algoritma PPOK (PDPI, 2011)

Edukasi kepada pasien PPOK sangat penting agar ia mengetahui penyakitnya


dan berpartisipasi aktif dalam menangani penyakit tersebut. Biasanya edukasi

yang paling penting yakni berhenti merokok, Pasien dan keluarga juga harus di
edukasi mengenai penyakit, terapi farmakologis maupun non farmakologis yang
dilakukan.. Keteraturan penggunaan obat dapat menentukan baiknya kualitas
hidup.
Evaluasi dan monitoring perlu dilakukan. Evaluasi klinis yang perlu
dilakukan meliputi keluhan, antropometri, dan pemeriksaan fisik. Evaluasi
radiologi juga sangat perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi paru pasien.
Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan adalah foto thoraks PA. Sedangkan
pada kasus PPOK, pemeriksaan-pemeriksaan yang telah dilakukan kemudian
diukur dalam suatu penilaian meliputi aspek gejala (menggunakan kuesioner
CAT atau MMRC), spirometrik, risiko eksaserbasi (eksaserbasi dikatakan sering
bila >2x/tahun), dan komorbiditas (seperti penyakit kardiovaskular, osteoporosis,
kanker paru, dsb)
Beberapa hal dapat dilakukan untuk screening dan deteksi dini pada
pasien PPOK, terutama keluarga pasien dalam hal ini sebagai langkah preventif.
Sedangkan untuk pencegahan dapat dilakukan edukasi mengenai cara mencuci
tangan yang benar dan menggunakan masker.
Salah satu hal yang perlu dilakukan untuk pasien PPOK adalah
melakukan diet agar mencegah malnutrisi. Komposisi nutrisi seimbang berupa
diet tinggi lemak rendah karbohidrat menjadi diet bagi pasien PPOK. Pada pasien
PPOK, dianjurkan untuk diet rendah karbohidrat dikarenakan pada PPOK
terdapat gangguan ventilasi udara yang disebabkan gangguan metabolisme
karbohidrat.
Malnutrisi pada pasien PPOK dapat terjadi karena peningkatan kebutuhan
energi akibat kerja muskulus respirasi meningkat karena hipoksemia kronik dan
hiperkapni sehingga menyebabkan hipermetabolisme. Evaluasi malnutrisi pada
pasien PPOK dapat dilakukan dengan melihat beberapa aspek meliputi
penurunan berat badan, kadar albumin darah, antropometri, pengukuran kekuatan
otot (MVV, tekanan diafragma, kekuatan otot pipi), dan hasil metabolisme
(hiperkapni dan hipoksia).

BAB III
KESIMPULAN

1. PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di
saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK
terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan keduanya.
2. Penegakan diagnosis PPOK didasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang faal paru dengan spirometri.
3. Pengobatan utama menggunakan bronkodilator. Dapat ditambahkan antiinflamasi dan
antibiotik jika terdapat indikasi infeksi.
4.

DAFTAR PUSTAKA
Abidin A. 2010. Management of Community Acquired Pneumonia. Dalam :Naskah
lengkap 11 Annual Scientific meeting Internal Medicine 2010. Semarang.
Badan penerbit USU press; 132-42
Antonio et al 2007. Global Strategy For The Diagnosis, Management, And
Prevention Of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. USA, p. 16-19
Didapat dari : http://www.goldcopd.com/Guidelineitem.asp
Depkes RI, 2008. Pedoman Pengendalian Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK),
Jakarta: Kemenkes RI.
Drummond MB, Dasenbrook EC, Pitz MW, et al. 2011. Inhaled Corticosteroids in
Patients With Stable Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Journal of
American Medical Association, p. 2408-2416.
DahlanZ.2009..Pneumonia.Dalam:SudoyoAW,SetyohadiB,AlwiI,Simadibrata
M,SetiatiS(editors). BukuAjarIlmuPenyakitDalam:InternaPublishing;
2196206
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2011. Penyakit Paru Obstruktif Kronik,
pedoman diagnosis & penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: PDPI.
Slamet H. 2006. PPOK Pedoman Praktis Diagnosis Dan Penatalaksanaan di
Indonesia. Jakarta: p. 1-18
Wedzicha JA, 2011. Bronchodilator Therapy For COPD. New England Journal
Medicine. Diakses tgl 29 Oktober 2013.