Anda di halaman 1dari 10

1.

Rendra
Mahasiswa mana yang tak kena Rendra? Namanya seolah menjadi ikon sastra
Indonesia. Menyebut Rendra seperti menyebut Khairil Anwar lah, kira-kira.
Rendra adalah seorang penyair sekaligus dramawan.

Beberapa puisinya dilabeli puisi pamflet, karena isinya yang berupa kritik-kritik
sosial yang terhitung sangat berani. Film yang dibintanginya, Yang Muda Yang
Bercinta dilarang pada masa Orde Baru.

foto: http://ilhamrizqi.com/
Ada salahsatu bait puisi Rendra yang sering dikutip, namun tetap menarik.

Kesedaran adalah matahari.


Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakerawala.
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata.
(Paman Doblang, Depok, 22 April 1984)

Penyair yang dijuluki sang Buruk Merak ini adalah alumnus jurusan Sastra
Inggris, Fakultas Sastra UGM. Kumpulan puisinya antara lain Balada Orangorang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, dan Sajak-sajak
Sepatu Tua.

2. Putu Wijaya
Putu Wijaya dulunya juga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada,
angkatan 1969. Putu Wijaya terkenal dengan cerpen-cerpennya yang cerdas,
serta seringkali menampilkan aspek kejutan bagi pembacanya. Dia sering sekali
menggunakan satu kata untuk judul cerpennya, misalnya, Dor! , Gerr, Aum, dan
lain-lain.

Selain menulis cerpen, ia juga dramawan, sekaligus penulis naskah drama,


penulis skenario, juga novelis.

foto: kompas.com
Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar
seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama.

Saya sendiri suka salahsatu kutipan dalam novel Putri, karya beliau, begini
kutipannya. Seperti rumah, yang menjadi semakin rumah ketika ditinggalkan,
begitulah cinta, menjadi semakin cinta sesudah hilang. Boleh dicontek untuk
satu twit galau kalian. Hehe.

HOT: Berbagai Prospek Pekerjaan


bagi Mahasiswa Hubungan
Internasional

3. Sapardi Djoko Damono

Foto: tempo.co
Mahasiswa romantis mana yang tidak kenal bait puisi ini. Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu; Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan
isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya
tiada.

Beliau memang jago dalam meracik kata-kata, terlebih yang lirih dan romantis.
Karya-karyanya di antaranya Hujan Bulan Juni (1994), Duka-Mu
Abadi (1969), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan(1984), dan Ayat-ayat
Api (2000).

4. Kuntowijoyo

Nah, kalau pak Kuntowijoyo ini adalah sastrawan yang juga sejarawan dan
ilmuwan sosial ternama. Beliau adalah guru besar Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu
Budaya UGM. Pak Kunto menggondol gelar sarjana Sejarah pada 1969.

Pak Kunto adalah salahsatu sastrawan yang mampu menghadirkan budaya


Jawa dengan apik dan mendalam, tanpa harus melodramatik. Maklum, beliau
bisa adalah sejarawan yang dituntuk untuk detail sekaligus objektif.

Karya-karya beliau pun kebanyakan bernuansa religius nan halus. Simak


salahsatu penggalan puisi beliau berjudul Tangga ke Langit. Bagi yang
merindukan, Tuhan menyediakan kereta cahaya ke langit.

Karya sastra beliau di antaranya Pasar, Isyarat (kumpulan puisi, 1976), Dilarang
Mencintai Bunga-bunga, Mantra Penjinak Ular dan Khotbah di Atas Bukit. Selain
produktif dalam menulis sastra, beliau tentu saja sangat banyak menulis tentang
ilmu sejarah.

5. Umar Kayam

Karya lulusan Fakultas Pedagogi UGM 1955 (sekarang Fakultas Ilmu Pendidikan
UNY) ini yang paling terkenal adalah cerpennya, Seribu Kunang-Kunang di
Manhattan, Para Priyayi dan Jalan Menikung.

Beliau pun menulis kolom reguler untuk koran Kedaulatan Rakyat yang
dibukukan menjadiMangan Ora Mangan Kumpul. Umar Kayam adalah seorang
sosiolog, novelis, cerpenis, dan budayawan juga seorang guru besar di Fakultas
Sastra Universitas Gadjah Mada.

HOT: Kenangan Masa Kuliah yang


Akan Selalu Kamu Rindukan

6. Emha Ainun Najib


Kalau penyair dan budayawan satu ini memang dari sono-nya tidak betah belajar
di institusi formal yang namanya sekolah, apalagi kampus.

Bakat puisinya terasah dalam Persada Studi Klub Malioboro, tempat


nongkrongnya para sastrawan waktu itu, yang digawangi oleh Umbu Landu
Paranggi. Namun, Cak Nun pernah mengecap bangku kuliah di Fakultas
Ekonomi UGM selama satu semester. Iya, satu semester saja.

Karya-karya Emha Ainun Najib amat banyak mulai dari cerpen, puisi sampai
naskah drama. Salahsatu naskah dramanya yang fenomena adalah Lautan
Jilbab yang dipentaskan bareng Jamaah Shalahuddin UGM.

Ia juga menggagas diadakannya acara jagongan bulanan bernama Mocopat


Syafaat setiap tanggal 17 malam. Acara ini bertempat di rumahnya di desa
Kasihan, Bantul.

7. Soebagio Sastrowardoyo

Soebagio Sastrowardoyo adalah lulusan Fakultas Sastra UGM selesai tahun


1958. Beliau seorang dosen, penyair, penulis cerita pendek dan esei, sekaligus
kritikus sastra. Karya-karya seringkali bercorak filosofis.

Duh, piye kuwi? Begini misalnya, tulis beliau dalam puisinya yang berjudul Kata:

Asal mula adalah kata


Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku


bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

Karya-karya beliau antara lain Simphoni (1957), Daerah


Perbatasan (1970), Keroncong Motinggo(1975), Buku Harian (1979), Hari dan
Hara (1982), Kematian Makin Akrab (1995).

Masih banyak lagi tentu sastrawan kaliber nasional yang pernah kuliah di
kampus-kampus di Jogja, seperti Abdul Hadi WM dan Danarto. Atau dari
generasi yang lebih muda misalnya Eka Kurniawan dan Puthut EA