Anda di halaman 1dari 39

TINDAK BAHASA DARI SUDUT PENDENGAR

TINDAK BAHASA DARI SUDUT PENDENGAR


1.Pengertian
Tindak bahasa dari sudut pendengar adalah bagaimana nilai ilokusi (nilai tindak bahasa yang
diidentifikasi dengan kalimat pelaku yang eksplisit), itu ditangkap atau difahami oleh lawan
bicara. Di dalam satu wacana peran pembicara dan pendengar itu saling berganti dan seorang
pembicara dapat menjadi pendengar dan sebaliknya. Pemikiran Searle ialah bahwa tujuan-tujuan
pembicara sukar diteliti, sedang interpretasi lawan bicara tampak dari reaksi-reaksi yang
diberikan pada ucapan-ucapan pembicara.
Searle tidak menerima konsep tindak lokusi yang digantinya dengan tindak proposisi, hal inilah
yang mendasari Searle dalam memberi makna pada ucapan atau kalimat. Pergantian istilah ini
digunakan untuk member makna yang lebih luas kepada tindak proposisi, yakni yang mencakup
rujukan pada sesuatu dan juga yang membentuk pada predikasi (pengungkapan tentang
perbuatan, keadaan atau hal dalam proposisi ). Menurut Searle, suatu ujaran terdiri dari dua
bagian, yakni: a). suatu proposisi mencakup penunjuk fungsi ujaran yang merupakan nilai
ilokusi. Penunjuk terdiri atas: urutan kata, tekanan, intonasi, tanda baca, nada, dan kata kerja
perlakuan (performatives). Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proposisi
menurut Searle adalah suatu pengungkapan tujuan sebagaimana dipahami oleh pendengar.
Searle telah meneliti bagaimana pendengar menginterpretasi kalimat-kalimat perlakuan
pembicara, kususnya kalimat-kalimat langsung. Misalnnya:
1.Apakah kamu dapat mengangkat koper ini?(merujuk pada mampu atau tidak mampu
pendengar melakukan permintaan itu)
2.Apa anda akan mengangkat koper ini? (merujuk pada perilaku pendengar pada waktu
mendatang)
3. Saya ingin kau angkatkan koper ini.(merujuk pada keinginan pembicara kepada pendengar)
4. Apa mau mengangkatkan koper ini? (merujuk pada kesediaan pendengar)
5. Kalau kau angkat koper ini, saya dapat duduk. (merujuk pada alasan permintaan kepada
pendengar)
6.Apa boleh saya minta anda untuk mengangkatkan koper ini? (merujuk pada sikap pembicara
terhadap pendengar yang terlihat dari bentuk yang dinilai sopan)
Tindak bahasa ilokusi membuahkan bentuk-bentuk yang mencerminkan keinginan dan sikap
pembicara terhadap pendengar, sedangkan tindak perlokusi mencerminkan reaksi dari atau efek
ujaranya pada pendengar. Seandainya seorang pembicara mengucapkan suatu ujaran atau kalimat
ia mengungkapkan efek ilukusi pada pendengar, dan ia mencapai efek ini dia menyebabkan
pendengar mengenal tujuan ini. Menggunakan pengetahuan aturan-aturan yang mendasari
kalimat itu.
2.Relevansi Tindak Bahasa dengan Pengajaran Bahasa
Pengajaran bahasa dengan menggunakan pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif
berasal dari tulisan Hymes (1972), yang pertama merumuskan definisi kemampuan komunikatif
(communicative competence) sebagai kemampuan berkomunikasi dengan sesama manusia.

Proses berkomunikasi tidak hanya mementingkan bentuk-bentuk bahasa bukan hanya makna
kalimat yang tersirat (ilokusi), tetapi juga makna yang tersulubung dalam suatu tindak bahasa,
yakni apa yang menjadi akibat atau efek yang ditimbulkan oleh seorang pembicara pada lawan
bicaranya (perlokusi).
Ditinjau dari pihak pembicara terjadi tindak bahasa ilokusi yakni: mengatakan sesuatu dalam arti
berkata. Dengan mengucapkan tindak bahasa ilokusi, seorang pembicara mengungkapkan
suatu nilai ilokusi setiap. Wacana antara dua pihak selalu bermaksud untuk mencapai tujuan dari
pihak pembicara dan suatu efek pada pihak pendengar. Tujuan pendekatan komunikatif dalam
pengajaran bahasa yang dirumuskan sebagai berkomunikasi secara wajar. Untuk mencapai
tujuan ini, ada beberapa faktor yang menentukan apakah tindak bahasa ilokusi yang di ucapkan
oleh pembicara itu wajar dan dapat diterima oleh lawan bicaranya atau tidak. Faktor-faktor
tersebut adalah;
1)Siapa-siapa yang mengambil bagian dalam suatu wacana itu? Teman dengan teman , ayah
dengan ibu, ayah dengan anak, guru dengan muridnya, kepala kantor dengan bawahannya, dokter
dengan pasiennya, dan sebagainya.
2)Apa waktu wacana itu terjadi? Pagi hari, siang, sore, malam hari? Waktu kerja atau waktu
senggang?
3)Apa tempat wacana itu? Di sekolah, di pasar, di rumah, di tempat ibadah, dan sebagainya.
4)Apa topik yang digunakan pada pembicara? Mengenai hal-hal yang serius , ringan, basa-basi,
keagamaan, ilmiah, nasehat, dan sebagainya.
5)Apa jalur yang digunakan para pembicara? Ragam formal atau informal, tatap muka atau
melalui telepon, lisan atau tulisan, bahasa daerah, nasianal, asing, rahasia (kode), dan
sebagainya.
Suatu tindak bahasa dapat dikatakan wajar, apabila memperhatikan konteks atau situasi tertentu
yang terdapat dalam 5 faktor di atas. Kecuali bentuk yang wajar,suatu bentuk kalimat tanya dapat
mempunyai nilai lokusi atau perintah, suatu kalimat pernyataan dapat mempunyai nilai ilokusi
suatu pentanyaan atau perintah, dan sebagainya. Prinsip-prinsip yang telah di jelaskan di atas
harus diterapkan dalam menyajikan penggunaan bahasa untuk berkomunikasi lisan atau tulisan.

Untuk itu adapun tujuan kami membuat makalah ini adalah agar para pembaca semua
bisa memahami tentang:
a. Pengertian ujaran
b. Alat-alat dan bunyi ujaran
c. Proses persepsi ujaran

d. Ujaran sebagai realitas psikologi


PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN UJARAN.
Ujaran adalah suara murni (tuturan), langsung, dari sosok yang berbicara.
Jadi ujaran itu adalah sesuatu baik berupa kata,kalimat,gagasan, yang keluar dari mulut manusia
yang

mempunyai

arti.

Dengan

adanya

ujaran

ini

maka

akan

muncullah

makna

sintaksis,semantik,dan pragmatik.1[1]
B. ALAT-ALAT DAN BUNYI UJARAN.
Sumber dari bunyi adalah paru-paru. Paru-paru kita berkembang dan berkempis untuk
menyedotkan dan mengeluarkan udara.Melalui saluran ditenggorokan, udara ini keluar melalui
mulut atau hidung.Dalam perjalanan melewati mulut dan hidung ini ada kalanya udara itu
dibendung oleh salah satu bagian dari mulut kita sebelum kemudian dilepaskan.Hasil bendungan
udara inilah yang menghasilkan bunyi.
Alat-alat dan bunyi ujaran, adalah:
0.Bibir.
Bibir atas dan bibir bawah.kedua bibir ini dapat dirapatkan untuk membentuk bunyi
yang dinamakan bilabial yang artinya dua bibir bertemu.
Contoh: bunyi P, B, dan M.
1.Gigi.
Untuk ujaran hanya gigi atas lah yang mempunyai peran.Gigi ini dapat berlekatan dengan
bibir bawah untuk membentuk bunyi yang dinamakan dengan labiodental.
1[1] http://svarajati.blogspot.com/2008/01/antara-ujaran-dan-teks.html, diakses tanggal 1
april 2010.

Contoh: untuk bunyi F dan V.


Gigi juga dapat berlekatan dengan ujung lidah untuk membentuk bunyi
dental.contoh:Bunyi T dan D dalam bahasa indonesia.
2.Alveolar.
Menurut KBBI alveolar adalah rongga dalam rahang tempat akar gigi tertanam,daerah ini
berada persis dibelakang pangkal gigi atas.Pada alveolar dapat ditempelkan ujung lidah untuk
membentuk bunyi yang dinamakan bunyi alveolar.
Contoh: bunyi T dan D dalam bahasa ingris.
3.Palatal keras
Daerah ini ada di rongga atas mulut, persis dibelakang daerah alveolar.Pada daerah ini
dapat ditempelkan bagian depan lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan alveopalatal.
Contoh: bunyi C dan J
4.Palatal lunak.
Bunyi yang dihasilkan dengan menempatkan bagian depan lidah didekat atau pada
langit-langit,daerah ini dinamakan dengan velum, ada dibagian belakang rongga mulut atas.
Pada palatal lunak dapat dilekatkan bagian belakang lidah untuk membentuk bunyi yang
dinamakan velar.
Contoh: Bunyi K dan G.
5.Uvula.
Pada ujung rahang atas terdapat tulang lunak yang dinamakan uvula.uvula dapat
digerakkan untuk menutup saluran ke hidung atau membukanya.Bila uvula tidak berlekatan
dengan bagian atas laring maka bunyi udara keluar melalui hidung.Bunyi ini lah yang

dinamakan dengan bunyi nasal.Jika uvula berlekatan dengan dinding laring maka udara
disalurkan melalui mulut dan menghasilakan bunyi yang dinamakan dengan oral.
6.Lidah.
Pada rahang bawah , disamping bibir dan gigi, terdapat pula lidah.Lidah adalah bagian
mulut yang fleksibel ia dapat digerakkan dengan lentur.
Lidah itu terdiri dari:
a. Ujung lidah, yaitu bagian yang paling depan dari lidah.
b. Mata lidah, yaitu berada persis dibelakang ujung lidah.
c. Depan lidah, yaitu bagian yang sedikit agak ketengah ttap masih tetap di depan.
d. Belakang ladah, yaitu bagian yang ada dibagian belakang dari lidah.
7.Pita suara.
Pita suara adalah sepasang selaput yang berada di jakun.Selaput ini dapat dirapatkan,
dapat direnggangkan, dan dapat dibuka lebar.
8.Faring.
Adalah saluran udara menuju ke rongga mulut atau rongga hidung.
9.Rongga hidung.
Adalah rongga untuk bunyi-bunyi nasal, seperti M dan N.
10.Rongga mulut.
Adalah untuk bunyi-bunyi oral, seperti P, B, A, dan I.2[2]
2[2] Soenjono, dardjowijojo, Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusi,
Jakarta, 2003.h.32

C. PROSES PERSEPSI UJARAN.


Persepsi terhadap ujaran bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan oleh manusia karena
ujaran merupakan Suatu aktivitas verbal yang meluncur tanpa ada batas waktu yang jelas antara
satu kata dengan kata yang lain.Seperti: Bukan nangka, Buka nangka, Bukan angka.Meskipun
ketiga ujara ini berbeda maknanya satu dari yang lain, dalam pengucapannya ketiga bentuk
ujaran ini bisa sama (bukananka).
Namun demikian manusia tetap saja dapat mempersepsikan bunyi-bunyi bahasanya
dengan baik.Tentu saja persepsi seperti ini dilakukan melalui tahap-tahap tertentu. Pada dasarnya
ada tiga tahap dalam memprosesan persepsi bunyi (Clark:1977):
0. Tahap Auditori.
Pada tahap ini manusia menerima ujaran sepotong, ujaran ini kemudian ditanggapi
dari segi fitur akustiknya.Konsep-konsep seperti titik artikulasi, cara artikulasi, fitur
distingtif dan VOT sangat bermanfaat disini karena ihwal seperti inilah yang memisahkan
satu bunyi dari bunyi yang lain.
1. Tahap fonetik.
Bunyi-bunyi ini kita identifikasi.Dalam proses mental kita, kita lihat misalnya apakah
bunyi tersebut konsonan, vois, dan nasal.Begitu pula lingkungan bunyi itu: apakah bunyi
tadi diikuti oleh vokal atau oleh konsonan.Kalau oleh vokal, vokal macam apa - vokal
depan, vokal belakang, vokal tinggi, dan vokal rendah
2. Tahap Fonologis.
Pada tahap ini mental kita menerapkan aturan fonologis pada deretan bunyi yang kita
dengar untuk menentukan apakah bunyi-bunyi tadi sudah mengikuti aturan fonotaktik yang
ada pada bahasa kita.

contoh: Bunyi B, E, N, I dan S pasti akan dipersespsikan sebagai beng dan is, tidak ungkin
be dan ngis (dalam bahasa inggris).3[3]
D. UJARAN SEBAGAI REALITAS PSIKOLOGI
Otak memiliki kaitan erat dengan ujaran. Menurut Soenjono Dardjowidjojo, otak
manusia dibagi menjadi dua bagian: bagian kanan (hemisfir kanan) dan bagian kiri (hemisfir
kiri). Bentuk fisik kedua bagian sama, tetapi ada bagian-bagian fungsi yang berbeda. Pada waktu
lahir, belum ada pembagian tugas yang ketat antara keduanya. Keduanya merupakan satu
kesatuan yang plastis.
Menjelang usia puber, terjadi proses penyebelahan atau lateralisasi, yakni suatu proses
saat keplastisan kedua bagian ini berkurang, dan terjadilah semacam penumpahan tugas pada
hemisfir kiri. Pada hemisfir kiri telah ditemukan bagian-bagian yang berkaitan dengan
bahasa.Broca mengemukakan bahwa hemisfir sebelah kiri berfungsi sebagai salah satu bagian
yang mengontrol ujaran dan sekarang terkenal dengan nama daerah Broca.
Selanjutnya Broca mengatakan bahwa dasar ujaran tergantung pada empat faktor:
1. Sebuah ide.
2. Hubungan konvensional antara ide dan kata.
3. Suara penggandengan gerak artikulasi dengan kata.
4. Penggunaan alat-alat artikulasi (hasil bunyi dari proses gerakan alat ucap).
Berbeda dengan penemuan Broca, penemuan yang dilakukan oleh Wernicke berkaitan
dengan hal-hal penanggapan indera. Dalam penemuannya itu ia menemukan bahwa bagian
belakang di sebelah agak kanan otak itu bersarang tanggapan-tanggapan rasa (sensory
impressions). Sel-sel ini sebenarnya bukan motoris atau sensori, tetapi lebih tergantung pada
hubungan dengan korteks-korteks lain. Untuk selanjutnya, daerah Wernicke merupakan daerah
pertama atau paling tidak salah satu daerah pertama, yang menangdapi rangsang indera.
3[3] Ibid.,h.49

Sehubungan dengan bagian dan fungsi otak, maka timbullah suatu hipotesis yang
menghubungkan pertumbuhan biologis manusia dengan taraf-taraf penguasaan bahasa. Hipotesis
ini dikenal dengan Hipotesis Umur Kritis. Pada dasarnya hipotesis ini mengatakan bahwa: 1)
Penguasaan bahasa itu tumbuh sejajar dengan pertumbuhan biologis. Dan 2) Setelah masa puber,
penguasaan bahasa secara natural sudah tidak bisa lagi.
Bambang Kaswanti Purwo mengatakan pada usia dua belas tahunan, sering ditemui bahwa
anak sudah menguasai bahasa dengan sempurna. Namun, masih banyak kesalahan-kesalahan.
Padahal usia mereka sudah berada di ambang pintu berakhirnya masa paling peka dan paling
plastis di dalam proses pemerolehan bahasa (masa emas belajar bahasa).
Seperti yang sudah dipaparkan di atas, menurut hasil penelitian Lenneberg usia antara tiga
dan sepuluh tahun adalah masa pewnyempurnaan kekurangan-kekurangan di dalam tata bahasa.
Palermo dan Molfese mencatat bahwa usia antara lima dan tujuh tahun, serta antara dua belas
dan empat belas tahun merupakan masa transisi di dalam perkembangan bahasa.4[4]
PENUTUP
B. Kesimpulan
Dari uraian makalah diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa ujaran itu adalah suara
murni (tuturan), langsung, dari sosok yang berbicara. Jadi ujaran itu adalah sesuatu baik berupa
kata,kalimat,gagasan, yang keluar dari mulut manusia yang mempunyai arti
Ujaran tersebut dipengaruhi oleh alat ucap seseorang, dan setiap alat ucap tersebut bisa
menghasilkan huruf-huruf atau bunyi-bunyi tertentu misalnya:
1. Bibir.
Bisa menghasilkan bunyi P, B, dan M.
2. Gigi.
4[4] http://sedayugresik.multiply.com/journal/item/58/Otak_dan_Ujaran, diakses tanggal 2
april 2010

Bisa menghasilkan bunyi F dan V, Bunyi T dan D dalam bahasa indonesia


3. Alveolar.
Bisa menghasilkan bunyi T dan D dalam bahasa ingris.
4. Palatal keras
Bisa menghasilkan bunyi C dan J
5. Palatal lunak.
Bisa menghasilkan Bunyi K dan G.
6. Uvula.
Adalah bagian yang terdapat pada rahang bagian atas yang berfungsi
sebagai pengatur udara dalam kita berbicara. Kapan kita mengeluarkan udara
kehidung,dan kapan mengeluarkan udara ke mulut. Misalnya : =kehidung, =
kemulut, dan lain-lainnya.
7. Lidah.
a. Ujung lidah, yaitu bagian yang paling depan dari lidah.
b. Mata lidah, yaitu berada persis dibelakang ujung lidah.
c. Depan lidah, yaitu bagian yang sedikit agak ketengah ttap masih tetap di depan.
d. Belakang ladah, yaitu bagian yang ada dibagian belakang dari lidah.
8. Pita suara.
Pita suara adalah sepasang selaput yang berada di jakun.
9. Faring.

Adalah saluran udara menuju ke rongga mulut atau rongga hidung.


10. Rongga hidung.
Adalah rongga untuk bunyi-bunyi nasal, seperti M dan N.
11. Rongga mulut.
Adalah untuk bunyi-bunyi oral, seperti P, B, A, dan I.
B. Kritikan
Dari

isi

makalah

ini

mungkin

ada

kesalahan

baik

dari

bentuk

penyajiannya,penulisannya,bahkan isinya mungkin kurang memuaskan, kami minta kritikan


kepada para pembaca semua agar bisa membangun untuk kebaikan kita semua kedepannya.
Dan kami sebagai penulis mengakui dengan keterbatasan ilmu yang kami miliki.
C.Saran
Saran kami sebagai pemakalah muda-mudahan kita semua dapat mengerti terhadap
apa-apa yang kami jelaskan dimakalah ini, tentang topik-topik yang kami utarakan diatas.
DAFTAR PUSTAKA
http://svarajati.blogspot.com/2008/01/antara-ujaran-dan-teks.html.
Soenjono, dardjowijojo, Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusi, Jakarta,
2003.h.32
http://sedayugresik.multiply.com/journal/item/58/Otak_dan_Ujaran

didit linguist
education, English for foreign learners, linguistics, and literature

Home

About this blog

Contact Me

Privacy Policy

Academic Writing (14) Curriculum & Syllabus (1) Education/Language Research (11)
English for Specific Purpose (1) English Grammar (24) General (5) health (1) Jokes
(4) language Testing (16) Lesson Plan / RPP (syllabus) (21) Linguistics (3) Linguistics
(discourse analysis) (3) Linguistics (morphology) (5) Linguistics (phonetics
phonology) (2) Linguistics (phsycolinguistics) (7) Linguistics (pragmatics) (13)
Linguistics (Psycholinguistics) (2) Linguistics (Semantics) (3) Linguistics
(sociolinguistics) (27) Literature (10) Materi Bahasa Inggris SD (5) Materi Bahasa
Inggris SMA (kelas 10) (1) Materi Bahasa Inggris SMA (kelas 11) (2) Materi Bahasa
Inggris SMA (kelas 12) (3) Materi Bahasa Inggris SMK (kelas 12) (3) Materi Bahasa
Inggris SMP (kelas 7) (19) Materi Bahasa Inggris SMP (kelas 8) (4) Motivation (2)
Music (1) Music (L.O.T.D Band) (19) My point of view (argumentation) (1)
poetry/Poem (1) Teaching and Learning (general) (7) Teaching and Learning
(teaching language) (34) Translation (2)

Wednesday, May 8, 2013


PERSEPSI UJARAN

PERSEPSI UJARAN

A. PENGANTAR
Ketika kita mendengar orang lain bicara, kita merasakan hal itu dengan wajar
saja. Bahkan mungkin kita bisa mendengarkannya sambil mengerjakan pekerjaan
lain. Kita tidak menyadari kalau ujaran yang diwujudkan dalam bentuk bunyi itu
merupakan hal yang kompleks. Hal ini akan terasa ketika kita mendegar orang

dalam bahasa asing, kita akan mendengarkan penutur dengan perhatian yang
tinggi, bahkan mungkin kita menerjemahkan ucapannya perkata, baru kita dapat
memahami kalimat yang disampaikan.
Masalah yang dihadapi oleh pendengar adalah bahwa pendengar harus meramu
setiap bunyi yang dikeluarkan penutur sehingga menjadi kata yang memiliki makna
dan sesuai dengan konteks ketika kata itu diucapkan. Mungkin, bagi penutur asli hal
ini tidaklah menjadi masalah, tetapi lain halnya bagi jika pendengarnya adalah
orang asing. Hal ini bisa menjadi sangat rumit karena bisa menimbulkan persepsi
yang yang lain dari makna kata yang sesungguhnya.
Masalah lain juga akan muncul ketika ucapan itu dituturkan dengan tempo yang
cepat. Seperti misalnya dalam Bahasa Inggris orang rata-rata mengeluarkan 125180

kata

tiap

menit

(Dardjowidjodjo,2003:31).

Disamping

kecepatan ujaran, kadang kala bunyi-bunyian tidak diucapkan secara utuh tetapi
seperti lebur dalam bunyi yang lainnya. Kita sebagai pendengar harus bisa
menentukan mana ikut yang mana. Dengan demikian kita akan bisa memersepsi
ujaran itu dengan baik. Masalah segmentasi ini menuntut kita untuk mampu
memilih dan menggabungkan kata-kata yang tertindih itu agar pemahaman yang
kita dapatkan utuh, hal ini merupakan integrasi yang dilakukan dalam memersepsi
ujaran-ujaran tersebut.

B. PENGERTIAN PERSEPSI UJARAN


Ujaran adalah suara murni (tuturan), langsung, dari orang yang berbicara
(http:www.hanny.blogdetik.com) .Jadi ujaran itu adalah sesuatu baik berupa kata
ataupun kalimat yang keluar dari mulut manusia dan mempunyai arti. Dengan
adanya ujaran ini, maka akan munculah makna sintaksis, semantik, dan pragmatik.
Persepsi merupakan suatu proses penginderaan, stimulus yang diterima oleh
individu melalui alat indera yang kemudian diinterpretasikan sehingga individu
dapat memahami dan mengerti tentang stimulus yang diterimanya tersebut.
(http://www.duniapsikologi.com)
Persepsi ujaran adalah peristiwa ketika telinga menangkap sebuah bunyi
yang dapat berupa bunyi lepas, kata, atau kalimat (Suudi, 2011 :19). Persepsi
terhadap ujaran bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan oleh manusia karena

ujaran merupakan suatu aktivitas verbal yang meluncur tanpa ada batas waktu
yang jelas antara satu kata dengan kata yang lain.( Dardjowidjodjo,2003:49)
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi
ujaran merupakan suatu peristiwa ketika telinga menangkap bunyi, kata maupun
kalimat, yang dapat menimbulkan makna sintaksis, semantik dan pragmatik.
C. PENGELOMPOKAN PERSEPSI BUNYI:
Persepsi terhadap bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat bicara dikelompokan
menjadi dua, yakni:
1.

Persepsi terhadap bunyi yang berupa satuan struktural, yaitu vokal dan konsonan.

2.

Persepsi terhadap bunyi yang berupa cepat-lambat, kelantangan, tekanan, dan


nada.
(http://haninursyam.wordpress.com/2012/10/06/psikolinguistik-persepsiujaran/#more-336)

D. PENELITIAN TERHADAP PERSEPSI UJARAN

Penelitian terhadap perspsi ujaran sudah dimulai menjelang Perang Dunia II


tahun 1939 (Gleason dan Ratner 1998 : 109). Pada tahun 1936 1939 Homer
Dudely dari Bell Telephone Laboratory, Amerika mengembangkan mesin yang
dinamakan vocoder. Pada mulanya Vocoder diciptakan sebagai alat transmisi sinyal
suara dengan menganalisis dan merekam pidato menjadi sinyal sederhana yang
berisi sedikit informasi. Dudely dan rekannya menyatakan bahwa suara yang alami
mengandung informasi yang spesifik dan beragam, Hal ini mengandung arti bahwa
banyak faktor yang berkontribusi dalam pemahaman persepsi terhadap suara,
tetapi hanya beberapa faktor saja yang bisa diinterpretasi, baik dalam penelitian
laboratorium maupun melalui telepon.
This means that many factors may contribute to our recognition of a speech sound ;
only some of them need to be transmitted. Dudely and others quickly came to
appreciate that natural speech contains redundant (multiply specified) information.

This means that many factors may contribute to our recognition of speech sound
only some of them need to be present for speech to be interpreted, either in
laboratory experiments or over the telephone (Gleason and Ratner 1998 : 109)
Karena

kelemahan

dalam

Vocoder,

kemudian

pada

tahun

1940-an,

perusahaan telepon ini mengembangkan spektograf, yakni alat untuk merekam


suara dalam bentuk garis tebal-tipis dan panjang pendek yang dinamakan
spektogram. Alat ini menganalisis sinyal audio berdasarkan frekuensi distribusi
suara (spektrum). Dalam menganalisis suara, spektograf menampilkan frekuensi
pada ordinan (y), waktu (x) dan amplitudo melalui ketebalan tanda (darkness of
marking).
Setelah beberapa tahun, telah dikembangkan beberapa peralatan audio yang
canggih sehingga membantu peneliti dalam meneliti persepsi ujaran.
E. HAMBATAN DALAM PERSEPSI UJARAN
Menurut Su udi hambatan persepsi ujaran dijabarkan sebagai berikut
Ketidakmampuan

manusia

dalam

menangkap

bunyi

yang

didengar

bisa

disebabkan oleh berbagai sebab, antara lain disebabkan oleh ketidaksempurnaan


organ dengar dan materi yang didengar. Ketidaksempurnaan persepsi bunyi antara
lain disebabkan oleh kecepatan bunyi yang didengar. Suudi 2011 :19
Yang akan dibahas oleh klompok kami adalah yang nomor dua yaitu
hambatan persepsi ujaran yang disebabkan oleh kecepatan bunyi materi yang
didengar, contohnya akan dipragakan dalam vidio iklan yang berbicara cepat dan
acara brita.
Ketidakamampuan manusia dalam mempersepsi ujaran bisa juga dipengaruhi
oleh Tilas Neurofisiologis (Neurophysiological Trace) yaitu jejak/ tilas di otak yang
menunjukkan bahwa dia pernah mendengar bunyi tertentu (Suudi,2011:20)
contohnya :
Seseorang yang belum pernah mendengarkan bunyi-bunyian Bahasa Belanda
akan merasa kebingngan dan sukar mempersepsikan dialog ini :
a.Zegt wie is De Meneer daar ?.Kent u hem niet?
b.Nee..
a.Het is meneer De Vos. Hij werk bij de bank, hier op de hoek van de straat.
b. Is hij bediende?
a.Nee.. Hij is nu directur.
b.Directure? Ja dat is interesant. Heeft hij een dochter?
c Ja maar ze is all getrouwd.
Kita akan kesulitan jika belum memiliki tilas neuropsiologis dan diminta untuk
menirukani percakapan dari penutur jati Bahasa Spanyol dibawah ini :

A
B
A
B

: Como comes Eso? (how do you eat that?)


: Las Patas De Cangrejos? ( The crab legs ?)
: Si ( yes)
: Con Estaz Pinsas, Rompes Le do foera y sacas la carne. ( With this cracker, you

break the outside and you eat the meat )


A : Me das? ( can you give me that)
B :Mmmmmm.....( yummy...)
Masalah persepsi ujaran vberikutnya dijelaskan dalam penelitian Thomas Schovel.
(Schovel , 1998 : 51)
Menurut Thomas Scovel Listener do not accuratly record what they hear ; rather
they report what they excpected to hear from the context , even if it means they
must add a sound that was never actually spoken at the beginning of the target
word.
Hal ini di buktikan dengan penelitian , ketika subjecet diminta untuk menuliskan
enam kata berikut ini :
1.It was found that the
2.It was found that the
3.It was found that the
4.It was found that the

eel was on the exel


eel was on the shoe
eel was on the oranges
eel was on the table.

Subjek penelitian membuat persepsi pada kalimat 1 kata eel menjadi wheel,
kalimat no 2 kata eel menjadi heel, kalimat no 3 kata eel menjadi peel, kalimat no 4
kata eel menjadi meal masuknya pfonem yang berbeda dalam contoh kalimat
diatas, dinamakan phonem restoration effect.

Pendengar tidak secara akurat

merekam apa yang didengar , tetapi pendengar merekam kata-kata tersebut


berdasarkan konteks , meskipun pendengar harus menambahkan suara yang tidak
ada pada kalimat tersebut. Dalam penelitian Thomas Schovel dapat disimpulkan
bahwa, pendengar tidak mendengarkan setiap kata yang diperdengarkan , karena
persepsi bukan proses pasif recording. Pendengar bukan seperti tape recorder yang
bisa merekam sama persis bunyi yang diperdengarkan. Persepsi sangat dipengaruhi
oleh wacana yang pendengar. Pendengar tidak mendengarkan secara terpisah
tetapi pendengar mencari konsistensi dan kemungkinan yang mungkin meskipun
harus menambahakan suara atau membuat kata baru.
F. TAHAP PERSEPSI UJARAN
Persepsi terhadap ujaran bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh manusia
karena ujaran merupakan suatu aktivitas verbal yang meluncur tanpa ada batas

waktu yang jelas antara satu kata dengan kata yang lain, contohnya tiga ujaran
berikut : a) Bukan angka, b) Buka nangka c) Bukan nangka. Meskipun ketiga ujaran
ini berbeda maknanya satu dari yang lain, dalam pengucapannya ketiga bentuk
ujaran ini bisa sama [bukanaNka].
Di samping itu, suatu bunyi juga tidak diucapkan secara persis sama tiap kali
bunyi itu muncul. Bagaimana suatu bunyi diucapkan dipengaruhi oleh lingkungan di
mana bunyi itu berada. Bunyi [b] pada kata buru, misalnya, tidak persis sama
dengan bunyi

[b] pada kata biru. Pada kata buru bunyi /b/ dipengaruhi oleh

bunyi /u/ yang mengikutinya sehingga sedikit banyak ada unsur pembundaran bibir
dalam pembuatan bunyi ini. Sebaliknya, bunyi yang sama ini akan diucapkan
dengan bibir yang melebar pada kata biru karena bunyi /i/ merupakan bunyi vokal
depan dengan bibir melebar ( Dardjowidjodjo,2003:49)
Namun demikian, manusia tetap saja dapat mempersepsi bunyi-bunyi
bahasanya dengan baik. Tentu saja persepsi seperti ini dilakukan melalui tahaptahap tertentu. Pada dasarnya ada tiga tahap dalam pemrosesan persepsi bunyi
(Clack & Clark, 1977 dalam Dardjowidjodjo) :
1.

Tahap auditori:
Pada tahap ini orang mendengar bunyi dan menerima seluruhnya pada
ingatan sensorial tanpa melakukan analisis apapun. Tahap auditori sifatnya tidak
bisa menyimpan masukan dalam jangka panjang dan analisis atau pemrosesannya
terbatas pada pembedaan apakah bunyi itu bunyi manusia, barang ataupun lainnya
(Suudi, 2011:21)
Menurut Dardjowidjojo,2003 manusia menerima ujaran sepotong demi
sepotong pada tahap auditori. Ujaran ini kemudian ditanggapi dari segi fitur
akustiknya. Konsep-konsep seperti titik artikulasi, cara artikulasi, fitur distingtif, dan
Voice Onset Time (VOT) sangat bermanfaat di sini karena ihwal seperti inilah yang
memisahkan satu bunyi dari bunyi yang lain. Bunyi-bunyi dalam ujaran itu kita
simpan dalam memori auditori kita.

2.

Tahap fonetik

Tahap selanjutnya adalah tahap fonetik dimana terjadi pemilahan antara


bunyi yang tidak fonemis dan yang fonemis. Pada umumnya orang hanya
memersepsi bunyi ynag fonemis dalam bahasa ibunya atau dalam bahasa yang
dikuasainya.
Bunyi-bunyi itu kemudian kita identifikasi. Dalam proses mental kita,kita lihat,
misalnya apakah bunyi tersebut [+konsonantal], [+vois], [+nasal], dst. Begitu pula
lingkungan bunyi itu : apakah bunyi tadi diikuti oleh vokal atau oleh konsonan.
Kalau oleh vokal, vokal macam apa vokal depan, vokal belakang, vokal tinggi,
vokal rendah, dsb. Seandainya ujaran itu adalah Bukan nangka , maka mental kita
menganalisis bunyi /b/ terlebih dahulu dan menentukan bunyi apa yang kita dengar
itu dengan memperhatikan hal-hal seperti titik artikulasi, cara artikulasi, dan fitur
distingtifnya. Kemudian VOT nya juga diperhatikan karena VOT inilah yang akan
menetukan kapan getaran pada pita suara itu terjadi.
Segmen-segmen bunyi ini kemudian kita simpan di memori fonetik. Perbedaan
antara memori auditori dengan memori fonetik adalah bahwa pada memori auditori
semua variasi alofonik yang ada pada bunyi itu kita simpan sedangkan pada
memori fonetik hanya fitur-fitur yang sifatnya fonemik saja. Misalnya, bila kita
mendengar bunyi [b] dari kata buntu maka yang kita simpan pada memori auditori
bukan fonem /b/ dan bukan hanya titik artikulasi, cara artikulasi, dan fitur-fitur
distingtifnya saja tetapi juga pengaruh bunyi /u/ yang mengikutinya. Dengan
demikian maka [b] ini ssedikit banyak diikuti oleh bundaran bibir (lip rounding) .
Pada memori fonetik, hal-hal seperti ini sudah tidak diperlukan lagi karena begitu
kita tangkap bunyi itu sebagai bunyi /b/ maka detailnya sudah tidak signifikan lagi.
Artinya, apakah /b/ itu diikuti oleh bundaran bibir atau tidak, tetap saja bunyi itu
adalah bunyi /b/.
Analisis mental yang lain adalah untuk melihat bagaimana bunyi-bunyi itu diurutkan
karena urutan bunyi inilah yang nantinya menentukan kata itu kata apa. Bunyi
/a/, /k/, dan /n/ bisa membentuk kata yang berbeda bila urutannya berbeda. Bila /k/
didengar terlebih dahulu, kemudian /a/ dan /n/ maka akan terdengarlah bunyi /kan/;
bila /n/ yang lebih dahulu, maka terdengarlah bunyi /nak/ ( Dardjowidjodjo,2003:51)
3.

Tahap fonologis :

Disini orang melakukan analisis lebih lanjut dengan memilah bunyi yang
sesuai dengan fonotaktik bahasanya dan mengabaikan yang tidak sesuai. Setelah
memastikan bahwa bunyi yang didengar adalah fonem, dan gabungannya adalah
morfem, barulah pencarian makna dimulai. Dapat ditambahkan bahwa proses ini
masih terjadi di ingatan sensorial, yaitu bagian ingatan yang hanya menyimpan
masukan dalam jangka yang sangat pendek, sekitar sepersepuluh detik. (Suudi,
2011:22)
Pada tahap ini mental kita menerapkan aturan fonologis pada deretan bunyi
yang kita dengar untuk menetukan apakah bunyi-bunyi

tadi sudah mengikuti

aturan fonotaktik yang pada bahasa kita. Untuk bahasa Inggris, bunyi /

/ tidak

mungkin memulai suatu suku kata. Karena itu, penutur Inggris pasti tidak akan
menggabungkannya dengan vokal. Seandainya ada urutan bunyi ini dengan bunyi
yang berikutnya, dia pasti akan menempatkan bunyi ini dengan bunyi di mukanya,
bukan di belakangnya. Dengan demikian deretan bunyi /b/, //, / /, /i/, dan /s/ pasti
akan dipersepsi sebagai beng dan is , tidak mungkin be dan ngis.
Orang Indonesia yang mendengar deretan bunyi /m/ dan /b/ tidak mustahil
akan mempersepsikannya

sebagai /mb/ karena fonotaktik dalam bahasa kita

memungkinkan urutan seperti ini seperti pada kata mbak dan mbok meskipun
kedua-duanya pinjaman dari bahasa Jawa. Sebaliknya, penutur Inggris pasti akan
memisahkan kedua bunyi ini ke dalam dua suku yang berbeda.
Kombinasi bunyi yang tidak dimungkinkan oleh aturan fonotaktik bahasa
tersebut pastilah akan ditolak. Kombinasi /kt/, /fp/, atau /pk/ tidak mungkin memulai
suatu suku sehingga kalau terdapat deretan bunyi /anaktuhgal/ tidak mungkin akan
dipersepsi sebagai /ana/ dan /ktuhgal/ secara mental dengan melalui proses yang
sama. Kemudian bunyi /k/, dst. Sehingga akhirnya semua bunyi dalam ujaran itu
teranalisis. Yang akan membedakan antara bukan nangka, bukan angka, dan buka
nangka adalah jeda (juncture) yang terdapat antara satu kata dengan kata lainnya (
Dardjowidjodjo,2003:52)

G. KESIMPULAN

Persepsi ujaran ternyata tidaklah sesederhana yang kita pikirkan, di


dalamnya terdapat proses atau tahapan bagaimana suatu persepsi terhadap suatu
ujaran itu terjadi. Melalui tahapan-tahapan tersebut kita sebagai pendengar dapat
menafsirkan bunyi yang diujarkan oleh penutur dan memahaminya secara tepat
dan sesuai dengan maksud si penutur.

DAFTAR PUSTAKA

Scovel, Thomas. 1998. Psycholinguistics. New York: Oxford University Press.


Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik. Yayasan Obor Indonesia:
Jakarta
Gleason, Jean Berko dan Nan Bernstein Ratner, eds. 1998. Edisi kedua.
Psycholinguistics. New
York : Harcourt Brace Colege Publisher.
Suudi, Astini. 2011. Pengantar Psikolinguistik bagi Pembelajar Bahasa
Perancis.Widya
Karya: Semarang

SITOGRAFI
http://hanny.blogdetik.com/2012/10/06/psikolinguistik-persepsi-ujaran/

(http://haninursyam.wordpress.com/2012/10/06/psikolinguistik-persepsiujaran/#more-336)
Posted by didit linguist (Didit Kurniadi, S.Pd, M.Hum) at 2:15 PM
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Linguistics (phsycolinguistics)
Reaction
s:

No comments:
Post a Comment
Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Search This Blog

About Me

didit linguist (Didit Kurniadi, S.Pd, M.Hum)


I'm just an ordinary man..
View my complete profile

Blog Archive
Follow by Email

Followers
Translate
Select Language
Watermark template. Powered by Blogger.

BAB XII
PEMEROLEHAN FONOLOGI
Berikut ini akan dikemukakan beberapa teori mengenai pemerolehan fonologi oleh kanakkanak sebaagi bagian dari pemerolehan bahasa-ibu seutuhnya.
1.
Teori structural universal
Teori structural universal ini dikemukakan oleh jakobson (1968). Oleh karena iu sering juga
disebut teori jakobson. Pada intinya teori ini mencoba menjelaskan pemerolehan fonologi
berdasarkan struktur-struktur universal linguistic, yakni hokum-hukum structural yang mengatur
setiap perubaha bunyi.
Menurut jakobson, seringnya sesuatu bunyi diucapkan seorang dewasa terhadap kanak-kanak
tidak menentukan munculnya bunyi tersebut dalam ucapan kanak-kanak. Yang menetukan urutan
munculnya bunyi-bunyi adalah seringnya bunyi-bunyi itu muncul dalam bahasa-bahasa dunia.
Jika bunyi-bunyi sering muncul dalam bahasa dunia, maka bunyi-bunyi itu akan lebih dulu
muncul dalam ucapan kanak-kanak, meskipun itu jarang muncul dalam data masukan yang
didengar oleh kanak-kanak.
2.
Teori generative structural universal
Teori structural universal yang diperkenalkan oleh jakobson diatas telah diperluas oleh
moskowitz (1970,1971) dengan cara menerapkan unsure-unsur fonologi generative yang
diperkenalkan oleh Chomsky dan halle (1968) yang paling menonjol adalah penemuan
konsep daan pembentukan hipotesis berupa rumus-rumus yang dibentuk oleh kanak-kanak
berdasarkan data linguistic utama (DLU). Yaitu kata-kata dan kalimat yang didengarnya
seharihari.
3.
Reori proses fonologi alamiah
Teori ini diperkenalkan oleh david stampe (1972, 1973),yakni satu teori yang disusun
berdasarkan teori fonologi alamiah yang juga telah diperkenalkan sejak 1965. Menurut stampe
proses fonologi alamiah kanak-kanak bersifat nurani yang harus mengalami penindasan,
pembatasan, dan pengaturan sesuai dengan penuranian representasi fonemik orang dewasa.
4.
Teori prosodi-akustik
Tori ini diperkenalkan oleh waterson (1976) sesudah dia merasa tidak puas dengan pendekatan
fonemik segmental yang dikatakannya tidak memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai
pemerolehan fonologi.
Pendekatan fonemik segmental menganggap bahwa kanak-kanak memperoleh fonologi
berdasarkan fonem, sehingga banyak bahan fonetik yang berkaitan telah dikesampingkan.
Karena kelemahan tersebut maka waterson (1971) menggunakan pendekatan non segmental,
yaitu pendekatan prosodi yang dianggap lebih berhasil. Pendekatan ini diperkuat dengan analisis
akustik sebab analisis prososdi hanya melihat dari analisis artikulasi.
5.
Teori kontras dan proses
Teori ini diperkenalkan oleh ingram (1974, 1979) yakni suatu teoriyang menggabungkan bagianbagian penting dari teori jakobson dengan bagian-bagian penting dari teori stampe; kemudian

menyelaraskan hasil penggabungan dengan teori perkembangan piaget. Menurut ingram, kanakkanak memperoleh system fonologi orang dewasa dengan cara menciptakan strukturnya sendiri;
dan kemudian mengubah struktur ini jika pengetahuannya mengenai system orang dewasa
semakin baik. Perkembangan fonologi ini melalui asimilasi dan akomodasi yang terus menerus;
mengubah struktur untuk menyelaraskan dengan kenyataan.

BUNYIBAHASADANTATABUNYI
1.PENGERTIANBUNYIBAHASA
Getaranudarayangyangmasukketelingaberupabunyiatausuara,yangdapatterjadi
karena dua benda atau lebih yang bergeseran atau berbenturan. Bunyi bahasa dibuat oleh
manusiauntukmengungkapkansesuatu,dandapatterwujuddalamnyanyianataudalamtuturan.
1.1BunyiyangDihasilkanolehAlatUcapManusia
Dalam pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor yang terlibat, yaitu sumber tenaga
(pernapasan),alatucapyangmenimbulkangetaran,danronggapengubahgetaran,dimanabunyi
bahasayangdihasilkanberbedabeda.Bunyibahasayangarusudaranyakeluarmelaluimulut
disebutbunyioral(contohnya[p],[g],[f]),bunyibahasayangarusudaranyakeluardarihidung
disebutbunyisengau/nasal(contohnya[m],[n],[],[]).Sedangkanbunyibahasayangarus
udaranyasebagiankeluarmelaluimulutdansebagiankeluardarihidungdisebut bunyiyang
disengaukan/dinasalisasi.
Bunyibersuaraterjadiapabilakeduapitasuarabergantigantimerapatdanmerenggang
dalammembentukbunyibahasa,bunyibahasayangdihasilkanakanterasaberat. Bunyitak
bersuaraterjadiapabilapitasuaradirenggangkansehinggaudaratidaktersekatolehpitasuara,
bunyibahasayangdihasikanakanterasaringan.Perbedaanantarakeduanyadapatdirasakan
jikamenutupkedualubangtelingarapatrapat.Disampingitu,pitasuaradapatjugadirapatkan
sehinggaudaratersekat,bunyiyangdihasilkandisebutbunyihambatglotal[?].

Macambunyibahasayangkitahasilkanjugadipengaruhiolehadatidaknyahambatandalam
prosospembuatannya.
1.2VokaldanKonsonan
Berdasarkan ada tidaknya rintangan terhadap arus udara dalam saluran suara, bunyi
bahasadibedakanmenjadidua,yaituvokaldankonsonan.Vokaladalahbunyibahasayangarus
udaranyatidakmengalamirintangandankualitasnyaditentukanolehtigafaktor,yaitutinggi
rendahnyaposisilidah(tinggi,sedang,rendah),bagianlidahyangdinaikkan(depan,tengah,
belakang),danbentukbibirpadapembentukkanvokal(vokalbundarataubukan).
Konsonanadalahbunyibahasayangarusudaranyamengalamirintangan.Padapelafalan
konsonanadatigafaktoryangterlibat,yaitukeadaanpitasuara,penyentuhanalatucap,dancara
alat ucap bersentuhan. Alat ucap yang bergerak untuk membentuk bunyi bahasa dinamakan
artikulator:bibrbawah,gigibawah,danlidah.Sedangkandaerahyangdisentuhataudidekati
olehartikulatordinamakandaerahartikulasi:bibiratas,gigiatas,gusiatas,langilangit(keras
lunak),dananaktekak.
Bunyi konsonan dapat diperikan berdasarkan artikulator dan daerah artikulasinya.
Penamaanbunyidilakukandenganmenyebutkanartikulatoryangbekerja:labio(bibirbawah),
apiko (ujunglidah), lamino (daunlidah), dorso (belakanglidah),dan radiko (akarlidah),
diikuti oleh daerah artikulasinya : labial (bibir atas), dental (gigi atas), alveolar (gusi),
palatal(langitlangitkeras),velar(langitlangitlunak),uvular(anaktekak).
Caraartikulatormenyentuhataumendekatidaerahartikulasidanbagaimanaudarakeluar
darimulutdinamakancaraartikulasi.
Bilaudaradariparuparudihambatsecaratotal,makabunyiyangdihasilkandinamakan
bunyihambat(contohnyabunyi[p]dan[b]).Apabilaarusudaramelewatisaluranyangsempit,
makaakanterdengarbunyidesis,disebut bunyifrikatif (contohnyabunyi[f]).Apabilaujung
lidahbersentuhandengangusidanudarakeluarmelaluisampinglidah,disebut bunyilateral
(contohnyabunyi[l]).Sedangkanapabilaujunglidahmenyentuhtempatyangsamaberulang
ulang,disebutbunyigetar(contohnyabunyi[r]).

1.3Diftong
Diftong adalah vokal yang berubah kualitasnya pada saat pengucapan. Diftong biasa
dilambangkanolehduahurufvokalyangtidakdapatdipisahkan.Bunyi[aw]padakataharimau
merupakandiftong,grafem<au>padasukukata mau tidakdapatdipisahkanmenjadimau.
Diftongberbedadenganderetanvokal,karenadalamderetanvokalduavokaldapatdipisahkan
dalamduasukukatayangberbeda,contohnyamainmain.
1.4GugusKonsonan
Guguskonsonanadalahderetanduakonsonanataulebihyangtergolongdalamsatusuku
kata yang sama. Jadi, belum tentu deretan dua konsonan atau lebih yang berdampingan itu
merupakanguguskonsonan.Contohguguskonsonan,bunyi[pr]padakatapraktikpraktik.

1.5FonemdanGrafem
Satuanbahasaterkecilberupabunyiatauaspekbunyibahasayangmembedakanbentuk
danmaknakatadinamakan fonem. Contohnyabunyi[p]dan[b] padakata pagi dan bagi.
Berdasarkankonvensi,fonemditulisdiantaratandagarismiring:/pagi/,/bagi/.Jikaduabunyi
bahasasecarafonetikmirip,tetapitidakmembedakankata,makakeduabunyiitudisebutalofon
darifonemyangsama(variasibunyi).
Fonem berbeda dengan grafem. Fonem merujuk ke bunyi bahasa, sedangkan grafem
merujuk ke huruf atau gabungan huruf sebagai satuan pelambangan fonem dalam ejaan.
Contohnya,kata pagi terdiridarifonem/p/,/a/,/g/,/i/dangrafem<p>,<a>,<g>,<i>.Kata
hangusterdiridarifonem/h/,/a/,//,/u/,/s/dangrafem<h>,<a>,<ng>,<u>,<s>.
Meskipungrafemmelambangkanfonemdalamsistemejaan,initidakberartibahwasatu
grafem hanya bisa melambangkan satu fonem atau sebaliknya. Contohnya grafem <e>,
melambangkanfonem/e/pada<bela>dan//pada<reda>.
1.6FonemSegmentaldanSuprasegmental

Fonemsegmentaladalahfonemfonemyangberupalambangbunyi.Sedangkanfonem
suprasegmentaladalahaspektambahanbunyiyangberupatekanan,panjangbunyi,dannada(ciri
suprasegmental), yang dapat membedakan kata dalam suatu bahasa. Fonem suprasegmental,
dalamtulisan,biasanyadinyatakandenganlambangdiakritik(tandabaca)yangdiletakandiatas
unsursegmental(lambang bunyi).Naikturunnya nadadapatmembedakan kata dalam suatu
bahasa,makabahasaitudisebutbahasatona.
1.7SukuKata
Sukukataadalahbagiankatayangdiucapkandalamsatuhembusannapasdanumumnya
terdiriatasbeberapafonem.Padakata datang, diucapkandenganduahembusannapas: da ,
tang(2sukukata).
SukukatadalambahasaIndonesiaselalumemilikivokalyangmenjadiintisukukata,
yang dapat didahului dan diikuti oleh satu konsonan atau lebih. Suku kata juga dibedakan
menjadisukubuka,yaitusukukatayangberakhirdenganvokal(K)Vcontohnyadiadiadan
sukututup,yaitusukukatayangberakhirdengankonsonan(K)VKcontohnya:ambil am
bil.
2.BUNYIBAHASADANTATABUNYIBAHASAINDONESIA
Sebagaiakibatmasyarakatyangmempunyaibahasadaerahyangberagam,makabahasa
Indonesiamengenaldiasistem,yaituadanyaduasistemataulebihdalamtatabunyikarenatata
bunyisebagianbahasadaerahdiIndonesiacukupbesarperbedaannyadenganbahasaIndonesia.
GejaladiasistemituterutamaterjadikarenabeberapafonemdalambahasaIndonesiamerupakan
diafonemdalambahasadaerah,atausebaliknya.
2.1VokaldalamBahasaIndonesia
DalambahasaIndonesiaadaenamfonemvokal:/a/,/i/,/e/,//,/u/,dan/o/.Dengan
adanyagejaladiasistemyangdapatmenampungsemuavarianfonetissebagaipewujudfonem
yangsamadidalamposisiyangsama,makatatabunyivokalbahasaIndonesiaakantampak
memilikivokal/a/,/i/,/e/,/u/,dan/o/.

2.1.1AlofonVokal
Tiapvokalmempunyaialofonatauvariasi.Umumnyasetiapfonemmengikutipola:
lidahyangberadapadaposisitertentubergerakkeatasataukebawahsehinggaposisinyahampir
berhimpitandenganposisiuntukvokalyangadadiatasataudibawahnya.Dibawahiniakan
diuraikanalofonfonemberdasarkansistemlafalragambahasaIndonesiayangbiasadiajarkan
disekolahsekolah!
Fonem/i/, mempunyaiduaalofon,yaitu[i]dan[I].Fonem/i/dilafalkan[i]jikaterdapatpada
sukukatabuka,atausukukatatutupyangberakhirdenganfonem/m/,/n/,atau//danjuga
mendapattekananyanglebihkerasdaripadasukukatalain.
Contoh:
Sukubuka:/gigi/[gigi]
Sukututup:/simpang/[smpa]
Fonem/i/dilafalkan/I/jikaterdapatpadasukututupdansukuinitidakmendapattekanan
yanglebihkerasdarisukuyanglain.
Contoh:
Sukubuka:banting[bantI]
Sukututup:siksa[sksa]
Jikatekanankataberpindahpada/i/,/i/yangsemuladilafalkan[I]akanberubahmenjadi[i].
Contoh:[krIm][kirman]
Fonem/e/,mempunyaiduaalofon,yaitu[e]dan[].Fonem/e/dilafalkan[e]jikaterdapatpada
sukukatabuka,dansukuitutidakdiikutiolehsukuyangmengandungalofon[].Jikasukuyang
mengikutinyamengandung[],/e/padasukukatabukaitujugamenjadi[]jikaterdapatpada
sukukatatutupakhir.
Contoh:
Sukubuka:sore[sore]
Sukututup:nenek[nn?]
Fonem//,hanyamempunyaisatualofon,yaitu[].Alofoniniterdapatpadasukukatabukadan
sukukatatutup.Contoh:enam[nam].

Fonem/u/,mempunyaiduaalofon,yaitu[u]dan[U].Fonem/u/dilafalkan[u]jikaterdapatpada
suku kata buka, atau suku kata tutup yang berakhir dengan /m/, /n/, atau // dan suku ini
mendapattekananyangkeras.
Contoh:
Sukubuka:upah[upah]
Sukututup:bungsu[bsu]
Jika/u/terdapatpadasukututupdantidakmendapattekananyangkeras,fonem/u/dilafalkan
[U](contoh:warung[wrU]).Danjikatekanankataberpindah,/u/yangsemuladilafalkan
[U]akanmenjadi[u](contoh:[smpul][kesimplan]).
Fonem/a/,hanyamempunyaisatialofon,yaitu[a].Contoh:akan[akan].
Fonem/o/,mempunyaiduaalofon,yaitu[o]dan[?].Fonem/o/dilafalkan[o]jikaterdapatpada
sukukatabukadansukuitutidakdiikutiolehsukulainyangmengandungalofon[?].Fonem/o/
dilafalkan[?]jikaterdapatpadasukukatatutupatausukukatabukayangdiikutiolehsukukata
yangmengandung[?].
Contoh:
Sukubuka:toko[toko]
Sukututup:rokok[r?k??]

2.1.2Diftong
DalambahasaIndonesiaterdapat3buahdiftong,yaitu/ay/,/aw/,dan/oy/yangmasing
masingdapatdituliskan:ai,au,danoi.Ketigadiftongtersebutbersifatfonemis,dimanakedua
huruf vokal pada diftong melambangkan satu bunyi vokal yang tidak dapat dipisahkan.
Contohnyakata harimau /aw/ /harimaw/ harimau,termasukdiftong.Berbedadengan
katamau/au//mau/mau,termasukderetanvokalbiasa.
Denganmasuknyabahasaasingmakamunculdiftong/ey/yangditulis ei. Diftongini
seringbervariasidengan/ay/padakatakatatertentu.
Contohnya:/surfey/survei~/surfay/survai.
Padaumumnya,vokaldapatmenjadiunsurpertamamaupununsurkeduaderetanvokal.
Meskipundemikian,tidaksemuavokaldapatberderetdenganvokallain.Misalnya,vokal//
hanyadapatberderetdenganvokallainmelaluiimbuhan.Vokal/e/dan/o/hanyadapatdiikuti
olehvokaltertentu.Danmelaluikaidahfonotaktik,kaidahyangmengaturderetanfonemmana
yang terdapat dalam satu bahasa dan mana yang tidak, kita dapat merasakan secara intuitif

bentukmanayangkelihatansepertikataIndonesia,meskipunbelumpernahmelihatsebelumnya,
danbentukmanayangtampaknyaasing.
2.1.3CaraPenulisanVokalBahasaIndonesia
Hurufaditulisuntukmelambangkanfonem/a/denganalofontunggalnya.
Contoh:/adik/<adik>
Hurufemewakiliduafonem,yaitu/e/dan//besertaalofonnya.
Contoh:/sore/<sore>,/bsar/<besar>
Hurufidanudipakaiuntukmenuliskanfonem/i/dan/u/tanpamemperhitungkanalofonnya.
Contoh:/kita/<kita>,/ulama/<ulama>
Hurufodipakaiuntukmenuliskanfonem/o/denganalofonnya.
Hurufai,au,danoidigunakanuntukdiftong/ay/,/aw/,dan/oy/.
Contoh:/pantay/<pantai>,/kalaw/<kalau>,/koboy/<koboi>
2.2KonsonandalamBahasaIndonesia
Sesuai dengan artikulasinya, konsonan dalam bahasa Indonesia dikategorikan
berdasarkantigafaktor,yaitukeadaanpitasuara(konsonanbersuaradantidakbersuara),daerah
artikulasi(konsonanbersifatlabial,labiodental,alveolar,palatal,velar,atauglotal),dancara
artikulasinya (konsonan hambat, frikatif, nasal, getar, atau lateral). Adapula konsonan yang

Hambat

Tak
bersuara
Bersuara

Afrikatif

Tak
bersuara
Bersuara

Frikatif

Tak
bersuara
Bersuara

p
d

t
d

Glotal

Velar

Palatal

Dental/
Alveolar

Labiodental

Daerah
Artikulasi

Bilabial

berwujudsemivokal.

k
g

c
j

f
m

s
z

Nasal

Bersuara

Getar

Bersuara

Lateral

Bersuara

Semivokal

Bersuara

r
l
w

2.2.1AlofonKonsonan
Fonem/p/mempunyaiduaalofon,yaitu[p](alofonlepas)dan[p>](alofontaklepas).
Contoh:[pintu]
pintu
[tatap>]
tatap
Fonem/b/mempunyaisatualofon,yaitu[b].Contoh:[baru]baru
Fonem/t/mempunyaiduaalofon,yaitu[t](alofonlepas)dan[t>](alofontaklepas).
Contoh:[timpa]
timpa
[lompat>] lompat
Fonem/d/mempunyaisatualofon,yaitu[d]yangposisinyaselaludiawalsukukata.Padaakhir
kata <d> dilafalkan [t>] kecuali jika diikuti oleh akhiran yang dimulai dengan huruf vokal.
Contoh:[duta]

duta
[tekat>]
tekad
[murtat>][kmurtadan]kemurtadan
Fonem/k/mempunyaitigaalofon,yaitu[k](alofonlepas),[k >](alofontaklepas),dan[?]alofon
hambatglotaltakbersuara.
Contoh:[kaki]
kaki
>
[pak sa]
paksa
[tidak>,tida?]tidak
Fonem/g/mempunyaisatualofon,yaitu[g]yangposisinyaselaludiawalsukukata.
Padaakhirkata<g>dilafalkan[k>]kecualijikadiikutiolehakhiranyangdimulaidenganhuruf
vokal.Contoh:[gula]
gula
[bedUk>]
bedug
>

[ajk ][k?ajgan]keajegan
Fonem/f/mempunyaisatualofon,yaitu[f]yangposisinyaselaludiawalataudiakhirsukukata.
Contoh:[arif]
arif
Fonem/s/mempunyaisatualofon,yaitu[s]yangposisinyaselaludiawalataudiakhirsukukata.
Contoh:[sama]
sama
Fonem/z/mempunyaisatualofon,yaitu[z]yangposisinyadiawalsukukata.
Contoh:[izIn]
izin
Fonem//mempunyaisatualofon,yaitu[]yangposisinyadiawalsukukata.

Contoh:[ukur]
syukur
Fonem/x/mempunyaisatualofon,yaitu[f]yangposisinyaterdapatdiawalataudiakhirsukukata.
Contoh:[xas]
khas
Fonem/h/mempunyaiduaalofon,yaitu[h](bersuara)dan[](takbersuara).Namunpadakata
tertentu/h/kadangdihilangkan.
Contoh:[hari]
hari
[tahu,tau] tahu
[lihat,liat] lihat
Fonem/c/mempunyaisatualofon,yaitu[c]yangposisinyadiawalsukukata.
Contoh:[cari]
cari
Fonem/j/mempunyaisatualofon,yaitu[j]yangposisinyadiawalsukukata.
Contoh:[juga]
juga
Fonem/m/,/n/,//mempunyaisatualofon,yaitu[m],[n],dan[]yangposisinyaselaludiawal
ataudiakhirsukukata.
Contoh:[makan]
makan
[nakal]
nakal
[pakal]
pangkal
Fonem//mempunyaisatualofon,yaitu[]yanghanyaterdapatdiawalsukukata.
Contoh:[aian]
nyanyian
Fonem/r/mempunyaisatualofon,yaitu[r]yangposisinyaselaludiawalataudiakhirsukukata.
Contoh:[raja,Raja] raja
Fonem/l/mempunyaisatualofon,yaitu[l]yangposisinyaselaludiawalataudiakhirsukukata.
DankonsonanrangkapllpadaAllahdilafalkansebagai[].
Contoh:[lama]
lama
Fonem/w/ mempunyaisatualofon,yaitu[w]yangposisinyadiawalsukukata,tapipadaakhir
sukukata[w]berfungsisebagaibagiandiftong.
Contoh:[wak>tu]
waktu
[kalaw]
kalau
Fonem/y/mempunyaisatualofon,yaitu[y]yangposisinyadiawalsukukata,tapipadaakhirsuku
kata[y]berfungsisebagaibagiandiftong.
Contoh:[yakIn]
yakin
[ramay]
ramai
2.2.2StrukturSukuKata,Kata,danGugusKonsonan
Kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas satu suku kata atau lebih. Betapa pun
panjangnya suatu kata, wujud suku yang membentuknya mempunyai struktur dan kaidah
pembentukanyangsederhana.Berikutiniadasebelasmacamsukukatabesertacontohnya!

1.V
2.VK
3.KV
4.KVK
5.KVKK
6.KVKKK
7.KKV
8.KKVK
9.KKKV
10.KKKVK
11.KKVKK

amal,suatu,tua
arti,berilmu,kail
pasar,warga
paksa,keperluan,pesan
tekstil,modern
korps
slogan,drama
traktor,kontrak
strategi,strata
struktur
kompleks

BahasaIndonesiatidakmemilikiguguskonsonanrangkappadaakhirsuku.Karenaitu,
bahasaasingyangmemilikiciritersebutdandipakaidalambahasaIndonesiaseringdisesuaikan
dengan kata umum bahasa Indonesia, dengan menyisipkan vokal dalam ucapannya atau
menghilangkansalahsatukonsonannya.
Jikaduakonsonanterdapatdalamsatusukukatayangsama,konsonanyangpertama
terbataspadakonsonanhambat/p,b,t,d,k,g/dankonsonanfrikatif/f,s/,sedangkankonsonan
keduaterbataspadakonsonan/r/atau/l,w,s,m,n,f,t,k/.
Jikatigakonsonanberderetdalamsatusukukata,konsonanyangpertamaselalu/s/,yang
kedua/t/,/p/,atau/k/danyangketiga/r/atau/l/.Sepertihalnyadengansistemvokalyang
mempunyaidiftongdanderetanvokalbiasa,sistemkonsonanjugamemilikideretankonsonan
biasa.
2.2.3PemenggalanKata
Pemenggalan kata berhubungan dengan kata sebagai satuan tulisan, sedangkan
penyukuankatabertaliandengankatasebagaisatuanbunyibahasa.Pemenggalantidakselalu
berpedoman pada lafal kata. Faktor lain dalam pemenggalan kata yang juga sangat penting
adalahkesatuanpernafasanpadakatatersebutyangjugamencakupurutanvokaldanimbuhan
(awalanakhiran).
Kitajugaharusmenghindaripemenggalanpadaakhirkatayanghanyaterdiriatassatu
hurufsajakarenaakanmenimbulkankesanjanggal(contohnyakata meliputi dapatdipenggal
menjadimeliputi,bukanmeliputi).
Contoh:abdimuabdimu,abdimu
berartiberarti,berarti
kebanyakankebanyakan,kebanyakan

2.3CiriSuprasegmentaldalamBahasaIndonesia
Suatu fonem biasanya terwujud bersamasama dengan ciri suprasegmental, seperti
tekanan,panjangbunyi, dan nada. Adapulacirisuprasegmentalyanglain,yaitu intonasi dan
ritme.
Suatukatadapatdiberipenonjolanpadasatusukukatanyadengancaramemperpanjang
pengucapannya, meninggikan nada, atau memperbesar tenaga atau intensitas. Gejala ini
dinamakantekanan.
Dalam bahasabahasa tertentu ciri suprasegmental ini dapat mempengaruhi arti kata
dengan cara memindahkan letaknya.berbeda dengan bahasa Indonesia, letak tekanan bahasa
Indonesiateratur,jatuhpadasukukatasebelumyangterakhir,danapabilasukukeduadariakhir
mengandungbunyi//,tekananakanditempatkanpadasukuakhir.
Dalamkalimattidaksemuakatamendapattekananyangsama,hanyayangdianggap
pentingsaja.Tekanansepertiitudisebutaksen.Aksentidakhanyaditentukanolehtekanan,
tetapijugaolehfaktorjangkadannada.Sebuahsukukatalebihmenonjol(mendapataksen)
apabiladilafalkandenganwaktuyanglebihpanjangdandengannadayangrelatiflebihtinggi
darisukukatayanglain.
Dalamtuturanadajedayangmenandakanbatasantarkataataukalimat.Adapulaintonasi
yang lebihmengacupada naik turunnya nadadalampelafalankalimat,dan ritmeyang
mengacupadapolapemberiantekananpadakatadalamkalimat.
2.3.1PerananCiriSuprasegmental
Dalambahasatulisan,tandabacamempunyaiperananyangsangatpentingkarenadapat
membedakanartidarisuatuklausayangterdiridarikatayangsama.Misalnyajikasuatuklausa
diikutidengantandatitik(.)makaakanmenyatakanpernyataan,sedangkanjikaklausadengan
katayangsamadiikutidengantandatanya(?)makaakanmenyatakanpertanyaan.
Contoh:Diadapatpergi.
Diadapatpergi?
Dalambahasalisantidakditemuitandabaca.Makadariitu,carapengucapankatadan
kalimatsangatpenting.Intonasimenurunmenyatakanpernyataan,danintonasinaikmenyatakan

pertanyaan.Adapulapenggunaanaksenyangharusdiperhatikan,karenamaknadarikalimat
tersebutakanmengandunginformasiyangberbeda.
Pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak berperan
sebagai pembeda makna. Namun, pelafalan kata yang menyimpang dalam hal tersebut akan
terasajanggal.
2.3.2IntonasidanRitme
Ritme adalah pola pemberian aksen pada kata dalam untaian tuturan (kalimat) yang
dilakukandenganselangwaktuyangsamauntukbeberapabahasadandenganselangwaktuyang
berneda untuk beberapa bahasa yang lain. Dalam bahasa Inggris, mengikuti ritme yang
berdasarkan jangka waktu. Sedangkan dalam bahasa Indonesia mengikuti ritme yang
berdasarkanjumlahsukukata.Makinbanyaksukukata,makinlamapulawaktupelafalannya.
Intonasiadalahurutanpengubahannadadalamuntaiantuturanyangadadalamsuatu
bahasa.Polapengubahannadaitumembagisuatututuran(kaliamat)dalamsatuanyangsecara
gramatikalbermakna.Dantiaptiappolaitumenyatakaninformasisintaksistersendiri.
Bagiankalimattempatberlakunyasuatupolaperubahannadatertentudisebutkelompok
tona. Pada setiap kelompok tona terdapat satu suku kata yang terdengar menonjol yang
menyebabkanterjadinyaperubahannada,sukukataitulahyangmendapatkanaksen.
Sukukatayangmendapataksendalamkelompoktonatidakdapatdiramalkankarena
sangatbergantungapayangdianggappalingpentingolehpembicara.Padaumumnyasebutan
tidakakanmenerimaaksen,aksenbiasanyadiberikanpadapokokpembicaraan(topik).
Polaintonasidapatjugamengalamitopikalisasi,yaitupengutamaanbagiankalimatyang
dikontraskandenganketerangannya.

PENGERTIAN DAN FUNGSI BAHASA


1.1. Pengertian Bahasa
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang
terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat

untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau
perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa
bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Bahasa adalah sebuah
sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat
dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa
melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap lambang bunyi itu
memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan bahwa setiap suatu
ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang berbunyi nasi melambangkan
konsep atau makna sesuatu yang biasa dimakan orang sebagai makanan pokok.
1.2. Fungsi-Fungsi Bahasa
Konsep bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran. Bahasa adalah alat untuk beriteraksi
atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep
atau perasaan. Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat atau berfungsi untuk
menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit, sebab yang menjadi persoalan sosiolinguistik
adalah who speak what language to whom, when and to what end. Oleh karena itu fungsifungsi bahasa dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, topic, kode dan amanat pembicaraan.

Fungsi Personal atau Pribadi

Dilihat dari sudut penutur, bahasa berfungsi personal. Maksudnya, si penutur menyatakan sikap
terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa,
tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak
pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedang sedih, marah atau gembira.

Fungsi Direktif

Dilihat dari sudut pendengar atau lawan bicara, bahasa berfungsi direktif, yaitu mengatuf tingkah
laku pendengar. Di sini bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi
melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dikehendaki pembicara.

Fungsi Fatik

Bila dilihat segi kontak antara penutur dan pendengar, maka bahasa bersifat fatik. Artinya bahasa
berfungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas
sosial. Ungkapan-ungkapan yang digunakan biasanya sudah berpola tetap, seperti pada waktu
pamit, berjumpa atau menanyakan keadaan. Oleh karena itu, ungkapan-ungkapan ini tidak dapat
diterjemahkan secara harfiah. Ungkapan-ungkapan fatik ini biasanya juga disertai dengan unsur
paralinguistik, seperti senyuman, gelengan kepala, gerak gerik tangan, air muka atau kedipan
mata. Ungkapan-ungkapan tersebut jika tidak disertai unsure paralinguistik tidak mempunyai
makna.

Fungsi Referensial

Dilihat dari topik ujaran bahasa berfungsi referensial, yaitu berfungsi untuk membicarakan objek
atau peristiwa yang ada disekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya. Fungsi
referensial ini yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu adalah alat untuk
menyatakan pikiran, untuk menyatakan bagaimana si penutur tentang dunia di sekelilingnya.

Fungsi Metalingual atau Metalinguistik

Dilihat dari segi kode yang digunakan, bahasa berfungsi metalingual atau metalinguistik.
Artinya, bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Biasanya bahasa
digunakan untuk membicarakan masalah lain seperti ekonomi, pengetahuan dan lain-lain. Tetapi
dalam fungsinya di sini bahasa itu digunakan untuk membicarakan atau menjelaskan bahasa. Hal
ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran bahasa di mana kaidah-kaidah bahasa dijelaskan
dengan bahasa.

Fungsi Imajinatif

Jika dilihat dari segi amanat (message) yang disampaikan maka bahasa itu berfungsi imajinatif.
Bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan; baik yang
sebenarnya maupun yang hanya imajinasi (khayalan) saja. Fungsi imaginasi ini biasanya berupa
karya seni (puisi, cerita, dongeng dan sebagainya) yang digunakan untuk kesenangan penutur
maupun para pendengarnya.
1.3. Pengaruh Bahasa Terhadap Perilaku Manusia
Manusia sebagai makhluk sosial tentunya harus dapat berinteraksi dengan manusia di sekitarnya,
untuk dapat berinteraksi dengan makhluk sekitarnya diperlukan sarana atau media yang
menunjangnya, komunikasi adalah salah satu sarana penunjang untuk berinterkasi dengan
makhluk sekitar, Komunikasi itu dapat di bagi menjadi beberapa bagian , salah satunya dengan
komunikasi lisan dengan media bahasa, bahasa dapat menunjukan identitas suatu bangsa.
Tak hanya lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku manusia bahasa juga mempunyai andil
besar dalam perilaku manusia, Bahasa sendiri ternyata secara tidak langsung dapat
mempengaruhi perilaku manusia, contohnya saja seseorang menceritakan tentang kisah hidup
seorang usahawan yang sukses, maka orang yang mendengarnya akan menjadi termotivasi untuk
menjadi sama seperti usahawan tersebut.
Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus alat untuk menunjukkan
identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas
suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi
cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri. Maka dari itu kita dituntut
untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena bahasa Indonesia merupakan
kepribadian bangsa Indonesia.
Penggunaan bahasa dengan baik menekankan aspek komunikatif bahasa. Hal itu berarti bahwa
kita harus memperhatikan sasaran bahasa kita. Kita harus memperhatikan kepada siapa kita akan
menyampaikan bahasa kita. Oleh sebab itu, unsur umur, pendidikan, agama, status sosial,

lingkungan sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran kita tidak boleh kita abaikan. Cara kita
berbahasa kepada anak kecil dengan cara kita berbahasa kepada orang dewasa tentu berbeda.
Penggunaan bahasa untuk lingkungan yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah tentu
tidak dapat disamakan.
Bahasa yang benar berkaitan dengan aspek kaidah, yakni peraturan bahasa. Berkaitan dengan
peraturan bahasa, ada empat hal yang harus diperhatikan, yaitu masalah tata bahasa, pilihan kata,
tanda baca, dan ejaan. Pengetahuan atas tata bahasa dan pilihan kata, harus dimiliki dalam
penggunaan bahasa lisan dan tulis. Pengetahuan atas tanda baca dan ejaan harus dimiliki dalam
penggunaan bahasa tulis. Tanpa pengetahuan tata bahasa yang memadai, kita akan mengalami
kesulitan dalam bermain dengan bahasa.
Namun, kita tidak usah takut jika kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
dalam pergaulan kita, maka kita akan terkesan aneh bahkan mungkin ditertawakan oleh mereka.
Justru, dari sinilah kita mulai mengajarkan kepada mereka bahwa kita harus bangga
menggunakan bahasa Indonesia, seperti negara-negara lainnya. Sehingga nantinya akan
terbentuk komunikasi yang ilmiah. Komunikasi yang ilmiah adalah komunikasi yang bersifat
pengetahuan, baik itu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari maupun pengetahuan dalam hal
yang formal. Dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka maksud yang
akan kita sampaikan kepada seseorang akan semakin jelas ditangkap oleh mereka. Karena bahasa
Indonesia merupakan bahasa persatuan yang bisa diterima dimanapun.
Dari penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa bahasa sangat berperan penting dalam
mempengaruhi perilaku manusia, bila seseorang menggunakan bahasa baik dan benar, maka
perilaku seseorang itu baik dan bila seseorang mempunyai bahasa yang kasar maka dapat di
pastikan perilakunya kurang baik, tapi itu bagaimana kita menyikapi seseorang itu, sebab bahasa
itu makanan otak kenapa dapat dikatakan demikian karena hal hal diatas, bila seseorang
berbahasa dengan baik maka dia mudah bergaul dan dari pergaulan itu seseorang dapat bertemu
orang yang baik juga, dan bukan tidak mungkin dengan bahasa yang baik kita dapat
mendapatkan ilmu baru dari orang di sekitar kita, berbahasalah dengan baik.

RAGAM DAN LARAS BAHASA

2.1. Pengertian Ragam dan Laras Bahasa


Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik
yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta
menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap
sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan
terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi,
atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam
bahasa resmi.

Laras bahasa adalah ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial
tertentu. Banyak sekali laras bahasa yang dapat diidentifikasi tanpa batasan yang jelas di antara
mereka. Laras dan ragam bahasa merupakan suatu kesatuan dalam kehidupan sehari-hari, jika
kita menggunakan laras dan ragam bahasa yang baik dan benar, maka orang akan mengerti,
contoh, jika kita berbicara dengan orang yang lebih tua dengan bahasa yang sopan, namun laras
yang digunakan tidak baik, maka tutur bahasanya pun akan berantakan. jadi kita harus bisa
memadukan dengan baik laras dan ragam bahasa yang baik dan benar.
2.2. Contoh Ragam dan Laras Bahasa Di Lingkungan Sekitar
Penggunaan kata sapaan dan kata ganti merupakan ciri pembeda ragam standar dan ragam
nonstandar yang sangat menonjol. Kepada orang yang kita hormati, kita akan cenderung
menyapa dengan menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda. Jika kita menyebut diri kita,
dalam ragam standar kita akan menggunakan kata saya atau aku. Dalam ragam nonstandar, kita
akan menggunakan kata gue. Penggunaan kata tertentu merupakan ciri lain yang sangat
menandai perbedaan ragam standar dan ragam nonstandar. Dalam ragam standar, digunakan 6
kata-kata yang merupakan bentuk baku atau istilah dan bidang ilmu tertentu. Penggunaan
imbuhan adalah ciri lain. Dalam ragam standar kita harus menggunakan imbuhan secara jelas
dan teliti. Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) merupakan ciri
pembeda lain. Dalam ragam nonstandar, sering kali kata sambung dan kata depan dihilangkan.
Kadang kala, kenyataan ini mengganggu kejelasan kalimat.
Contoh (1)
a) Ibu mengatakan, kita akan pergi besok
b) Ibu mengatakan bahwa kita akan pergi besok
Pada contoh 1 merupakan ragam semi standar dan diperbaiki contoh (1a) yang merupakan
ragam standar.
Contoh (2)
a) Mereka bekerja keras menyelesaikan pekerjaan itu.
b) Mereka bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan itu.
Kalimat (1) kehilangan kata sambung (bahwa), sedangkan kalimat (2) kehilangan kata depan
(untuk). Dalam laras jurnalistik kedua kata ini sering dihilangkan. Hal ini menunjukkan bahwa
laras jurnalistik termasuk ragam semi standar. Kelengkapan fungsi merupakan ciri terakhir yang
membedakan ragam standar dan nonstandar. Artinya, ada bagian dalam kalimat yang dihilangkan
karena situasi sudah dianggap cukup mendukung pengertian. Dalam kalimat-kalimat yang
nonstandar itu, predikat kalimat dihilangkan. Seringkali pelesapan fungsi terjadi jika kita
menjawab pertanyaan orang. Misalnya, Hai, Ida, mau ke mana? Pulang. Sering kali juga kita
menjawab Tau. untuk menyatakan tidak tahu. Sebenarnya, pmbedaan lain, yang juga

muncul, tetapi tidak disebutkan di atas adalah Intonasi. Masalahnya, pembeda intonasi ini hanya
ditemukan dalam ragam lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis.