Anda di halaman 1dari 16

Nama

: Desta Vena

Nim

: 342013050

Kelas

: V.B

Dosen Pengasuh

: Dra. Hj. Aseptianova, M.Pd.

GAMETOGENESIS
Tujuan Pembelajaran

A. Agar mahasiswa dapat mendefiniskan asal dan migrasi bakal sel kelamin
B. Agar mahasiswa dapat menjelakan spermatogenesis
C. Agar

mahasiswa

dapat

membedakan

antara

meosis,

metosis,

spermatogenesis, dan oogenesis

A.

Pengertian Gametogenesis
Gametogenesis merupakan proses perubahan bakal sel kelamin
menjadi sel kelamin (gamet) yang terjadi di dalam kelenjar kelamin (gonad).
Bakal sel kelamin maupun gamet merupakan plasma germinal (germ plasm)
suatu individu yang berfungsi sebagai pembawa sifat berediter, sedangkan
kelompok sel-sel tubuh atau somatoplasma (somatoplasm) dengan fungsi
sangat bervariasi dianggap sebagai pelindung dan pemberi nutrisi bagi
plasma germinal. Bakal sel kelamin atau dalam bahasa Inggris disebut pgc
(primordial germ cell) berasal dari luar gonad, melalui proses migrasi bakal
sel kelamin memasuki gonad.

B. Asal dan Migrasi Bakal Sel Kelamin


Bakal sel kelamin dari daerah kutub vegetal zigot, dan embrionya
yang kemudian kemudian melalui proses gastrulasi berada dilapisan
endoderm, akhirnya bermigrasi secara amuboid ke dalam gonad. ( Lihat
Gambar 2.1 )

Gambar 2.1 Asal BSK dan Migrasinya Pada Anuara


( Symber : Balinsky, 1981 )

Bakal sel kelamin aves berasal dari endoderm diwilayah anterior, di


perbatasan acara pelusida dengan area opeka. Hasil penelitian Niewkoop dan
Sutasurya, 1979 ) menunjukan bahwa pada embrio ayam umur 4 jam bsk
belum tampak, bsk pertama kali tampak sesudah primitive streak terbentuk,
pada umur 18 dan 23 jam tampak bsk berakumulasi secara pasif. Pada umur
33 jam sewaktu pembuluh darah sudah terbentuk,secara aktif bsk menembus
pembuluh darah dan melalui pembuluh darah bsk berimigrasi menuju ke
dalam gonad. Cara migrasi melalui pembuluh darah disebut secara diapedesis.
Pada umur 72 jam bsk mulai menduduki gonad. ( Lihat Gambar 2.2 )

Gambar 2.2 Asal dan Migrasi BSK ( Bulatan hitam ) Pada Embrio Ayam
Bakal sel kelamin Mamalia berasal dari endoderm kantong yolk di
wilayah posterior dekat Allantois, yang bermigrasi ke gonad secara amuboid.

C. Proliferasi Bakal Sel Kelamin Secara Mitosis


Mitosis yaitu pembelahan sel dari induk menjadi 2 anakan tetapi tidak
terjadi reduksi kromosom contoh apabila ada sel tubuh kita yang rusak maka
akan terjadi proses penggantian dengan sel baru melalui proses pembelahan
mitosis
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bsk bermigrasi,
mereka membelah secara mitosis, tetapi laju proliferasi bsk lebih cepet
terjadi sewaktu mereka telah berada di dalam gonad sehingga jumlahnya
bertambah banyak. Bsk yang aktif bermitosis ini di dalam gonad betina
disebut oogania, sedangkan yang di dalam gonad jantan disebut
spermatogonia. Pola aktivitas mitosis antara oogania dan spermatogonia
ada perbedaan.

Gambar 2.3 Tempat Asal BSK Pada Embrio Manusia Umur 24 Hari

D. Meiosis
Meiosis yaitu pembelahan sel dari induk menjadi 2 anakan dengan
adanya reduksi kromosom, contohnya pembelahan sel kelamin atau gamet
sebagai agen utama dalam proses reproduksi manusia. Dari pengertian di atas

dapat kita lihat terdapat dua gamet diantaranya yaitu spermatogenesis dan
oogenesis.
Proses ini terjadi dua tahap, yaitu meiosis I dan dilanjutkan meiosis II,
dikenal dengan pembelajan reduksi, sebab hasilnya adalah gamet yang
haploid. Profase I terdiri dari lima tahap, yaitu:
Dituliskan ciri khas setiap tahap yaitu sebagai berikut :
a. Leptoten pada awal tahap ini di dalam ini masih tampak yang diad.
b. Zygoten pada tahap ini sudah tampak kromosom, dan yang homolog
mulai saling mendekat.
c. Pachyten pada tahap

ini

sudah

tampak

kromosom

tetrad,

memungkinkan terjadi pindah silang.


d. Diploten pada tahap ini pindah silang sudah selesai, gelendong
pembelaan mulai tampak, dan selaput inti mulai terurai.

Gambar 2.4 Skematis Proses Meiosis


e. Diakines pada tahap ini gelendong pembelahan
Tidak tampak lagi dalam sitoplasma, dan kromosom tetraed mulai
ditarik ke bidang ekuator.
Metafase I berciri khas yaitu kromosom tetred bejajar dibidang akuator.
Metafase II kromosom diad terjajar di bidang akuator.
Anafase I berciri khas yaitu kromosom tetred berpisah menjadi kromosom
diad. Bergerak menjuju ke arah kutub.

Anafase II kromosom diad berpisah menjadi kromosom monad, bergerak

menuju ke arah kutub


Telofase I berciri khas yaitu kromosom diad sudah berada dikutub, terjadi
pembagian sitoplasma, terbentuk dua sel yang masing-masing haploid tetapi
krematin dalam keadaan diad, gelendong pembelahan tidak tampak lagi,
selaput dirangkai kembali.
Telofase II kromosom sudah menjadi kromatin kembali, gelendong lenyap,
selaput inti dirangkai kembali, bila pembagian sitoplasma merata, akhirnya
terbentuklah empat sel yang masing-masing haploid ( kromatin dalam
keadaan monad ).
Profase II kromosom diad dan gelendong pembelahan sudah tampak kembali
selaput inti diurai lagi, kromosom diad mulai ditarik ke bidang ekuator.

E. Spermatogenesis
Merupakan proses peralihan dari bakal sel kelamin yang aktif
bermitosis melalui proses reduksi kromatin dan perubahan struktur menjadi
sperma yang fungsional.
Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel spermatozoa (tunggal :
spermatozoon) yang terjadi di organ kelamin (gonad) jantan yaitu testis
tepatnya di tubulus seminiferus. Sel spermatozoa, disingkat sperma yang
bersifat haploid (n) dibentuk di dalam testis melewati sebuah proses
kompleks. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan
melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel. Pematangan sel terjadi di
tubulus seminiferus yang kemudian disimpan dalam epididimis. Tubulus
seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel germinal yang disebut
spermatogonia (jamak). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapis luar
sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia berdiferensiasi melalui
tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.
Pada proses spermatogenesis terjadi proses-proses dalam istilah sebagai
berikut :

a. Spermatositogenesis (spermatocytogenesis)
adalah tahap awal dari spermatogenesis yaitu peristiwa pembelahan
spermatogonium menjadi spermatosit primer (mitosis), selanjutnya
spermatosit melanjutkan pembelahan secara meiosis menjadi spermatosit
sekunder dan spermatid. Istilah ini biasa disingkat proses pembelahan sel
dari spermatogonium menjadi spermatid.
b. Spermiogenesis (spermiogensis)
adalah peristiwa perubahan spermatid

menjadi

sperma

yang

dewasa.Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan


waktu selama 2 hari. Terbagi menjadi tahap 1) Pembentukan golgi,
axonema dan kondensasi DNA, 2) Pembentukan cap akrosom, 3)
pembentukan bagian ekor, 4) Maturasi, reduksi sitoplasma difagosit oleh
sel Sertoli.
c. Spermiasi (Spermiation)
adalah peristiwa pelepasan sperma matur dari sel sertoli ke lumen tubulus
seminiferus selanjutnya ke epididimidis. Sperma belum memiliki
kemampuan bergerak sendiri (non-motil). Sperma non motil ini ditranspor
dalam cairan testicular hasil sekresi sel Sertoli dan bergerak menuju
epididimis karena kontraksi otot peritubuler. Sperma baru mampu bergerak
dalam saluran epidimis namun pergerakan sperma dalam saluran
reproduksi pria bukan karena motilitas sperma sendiri melainkan karena
kontraksi peristaltik otot saluran.
Spermatogenesis di bagi dalam tiga tahap yaitu spermatositogenesis,
meiosis, dan spermiogenesis:
1.
Spermatositogenesis
Merupakan proses perbanyakan (proliferasi) spermatogonia
secara mitosis. Proses ini dimulai pada masa embrio sampai mencapai
jumlah tertentu, sehingga sewaktu individu jantan itu menets/lahir akan
membawa sejumlah spermatogonia.
Setelah bsk sampai di pematang genital (bakal testis) embrio
jantan, bsk berada di dalam pita-pita seks. Kemudian bsk membelah
secara mitosis menjadi spermatoginia tipe AI , sel ini lebih kecil dari bsk
dengan cirri khas bentuk nucleus ovoid (lonjong) mengandung kromatin

yang berasosiasi dengan selaput nucleus. Sejumlah spermatogonia AI


tetap dipertahankan sebelum memasuki masa reproduksi.
Sejak masa reproduksi dimulai pita-pita seks baru mulai berumen
lalu disebut tubulus seminiferus dan empitelium tubulus berdiferensiasi
menjadi sel sertoli. Sejak saat ini pu;a spermatogonia AI mulai aktif
bermitosis menghasilkan spermatogonia A1 dan A2

Gambar 2.5 Diagram Ringkasan Tahap Spermatogenesis Pada Manusia


Spermatogonia A1 tampak lebih gelap yang berfungsi sebagai
stem cell atau sel cadangan yang tetap mampu bermitosis untuk
menghasilkan tipe A1 maupun tipe A2.
Selanjutnya spermatogonia A2 bermitosis menghasilkan tipe A3,
kemudian

tipe

A4,

mitosis

terus

dilanjutkan

dan

dihasilkan

spermatogonia intermediet. Tipe intermediet ini juga bermitosis untuk


menghasilkan spermatogonia tipe B dan tipe B bermitosis pula untuk
memproduksi spermatosit primer. Sejak spermatogonia tipe A1 sampai
dengan spermatosit primer (spermatosit I) kandungan kromatin adalah
diploid.
2.

Meiosis

Setelah spermatosit I melalui tahap interfase maka sel yang dipoid


itu siap memasuk tahap meiosis I. Setelah menyelesaikan meiosis I setiap
spermatoist I menghasilkan dua spermatosit sekunder ( spermatosit II )
yang haploid (setiap kromatin sebagai diad). Kemudian setiap
spermatosit II pada akhir meiosis II menghasilkan dua spermatid yang
haploid (setiap kromatin sebagai monad). Berarti setiap spermatosis I
yang bermeiosis akan menghasilkan empat spermatid.

Gambar 2.6 Diagram Yang Menjelaskan Pembentukan Sperma Secara Serentak


Spermiogenesis / Metamorfosa / Spermateleosis.
Selanjutnya spermatid mengalami perubahan-perubahan bentuk selama
proses transformasi. Semula kromatin dalam inti spermatid tampak sebagai
benang-benang halus yang tersebar merata, kemudian cairan inti mulai berkurang.
Maka ukuran inti mengecilkan dan kromatin dan kromatin memadat, bentuk inti
dari bulat menjadi oval, hal ini berlangsung secara bertahap sampai terbentuk
kepala sperma.

Gambar 2.7 Skema Proses Spermiogenesis


Pada akhir spermiogenesis, terbentuklah sperma yang mempunyai
bentuk sangt spesifik, dan sisa sitoplasma (sitosol, dan organela yang tidak
diperlukan oleh sperma) dilepaskan/ditinggalkan sebagai badan residu:

a. Kepala, mengandung inti dan akrosoma


b. Bagian tengah, mengandung flagel bagian proksimal, sentriol,
mitokondria.
c. Ekor, mengandung flagel bagian distal.

Gambar 2.8 Skemats Sayatan Transversal Tubulus Seminiferus


Perhatikan : Posisi Spermatogonia, Spermatosit I, Spermatosit II, Spermatid, Dan Sperma Serta
Hubungannya Dengan Sel Sertoli.

Didalam tubulus seminiferus terdapat kumpulan sel dengan jembatan


antar sel, selama proses spermatogenesis sampai spermatid memasuki pross
spermiogenesis. Dengan adanya jemabatan sitoplasma ini, diproses pembelahan
sel dan transfomasi spermatid menjadi sperma dapat dikendalikan secara serentak.

Gambar 2.9 Bentuk Skematis Beberapa Sperma Vertebrata


F. Oogenesis
Oogenesis adalah proses pembentukan ovum, berasal dari oogonia
yang diploid menjadi ovum yang haploid. Pada hewan mamalia, bakal ovum
berada di dalam perlindungan sel-sel folikel, bakal ovum dengan sel-sel
folikel tersebut dinamakan folikel telur atau folikel ovaria.
Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) di dalam
ovarium. Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel-sel telur yang
disebut oogonia (tunggal: oogonium). Pembentukan sel telur pada manusia
dimulai sejak di dalam kandungan, yaitu di dalam ovari fetus perempuan.
Pada akhir bulan ketiga usia fetus, semua oogonia yang bersifat diploid telah
selesai dibentuk dan siap memasuki tahap pembelahan. Semula oogonia
membelah secara mitosis menghasilkan oosit primer. Pada perkembangan
fetus selanjutnya, semua oosit primer membelah secara miosis, tetapi hanya
sampai fase profase. Pembelahan miosis tersebut berhenti hingga bayi
perempuan dilahirkan, ovariumnya mampu menghasilkan sekitar 2 juta oosit
primer mengalami kematian setiap hari sampai masa pubertas. Memasuki
masa pubertas, oosit melanjutkan pembelahan miosis I. hasil pembelahan

tersebut berupa dua sel haploid, satu sel yang besar disebut oosit sekunder
dan satu sel berukuran lebih kecil disebut badan kutub primer.
Organ reproduksi hewan betina yang utama adalah ovarium. Pada organ
ini terjadi pembentukan sel telur atau oogenesis . Sel telur atau ovum
berkembang dari sel induk telur atau oogonium yang diploid, mirip
spermatogonium pada spermatogenesis. Namun, pada oogonium, proses
mitosisnya telah terjadi sebelum individu dilahirkan. Setelah lahir, pada
ovarium terdapat sekitar 400.000 oosit primer yang siap memasuki tahap
meiosis.
Oosit primer (2n) akan mengalami meiosis I menghasilkan oosit sekunder
yang haploid (n) dan sel yang lebih kecil yang disebut badan polar I. Saat
oosit sekunder memasuki profase II pada meiosis II, oosit tersebut dilepaskan
dari ovarium. Peristiwa pelepasan ini disebut ovulasi.
Oosit sekunder yang dilepaskan bergerak secara pasif dengan bantuan
pergerakan cairan dan silia tuba Fallopii menuju uterus. Meiosis II yang
menghasilkan satu ovum matang dan badan polar II tidak akan terjadi
sebelum oosit sekunder dibuahi oleh sel sperma (Levine Miller, 1991: 730).
Pada saat sel sperma melakukan penetrasi menembus permukaan sel telur,
meiosis II berlangsung menghasilkan sel ovum matang dan badan polar II.
Pada individu betina, oogenesis hanya menghasilkan satu ovum
fungsional. Selain itu, pengeluaran sel ovum tidak terjadi secara serentak dan
banyak seperti halnya sel sperma.
Gametogenesis pada Hewan Betina (Oogenesis)
Gametogenesis pada hewan betina disebut oogenesis. Umumnya tahap-tahap
oogenesis serupa dengan spermatogenesis. Sel induk telur (oogonium)
menjad besar sebelum membelah secara meiosis. Sel yang menjadi besar ini
disebut oosit primer. Akan tetapi, dibandingkan spermatogenesis, ada dua

perbedaan utama pada oogenesis. Pertama, sel oosit primer jauh lebih besar
karena mengandung komponen sitoplasmik lebih banyak. Kedua, dua oosit
sekunder (hasil pembelahan meiosis I) berbeda ukuran dan fungsi. Salah satu
sel oosit sekunder memiliki ukuran lebih besar. Sel oosit sekunder yang
berukuran lebih besar ini akan melakukan meiosis II yang hanya akan
menghasilkan satu uvum (sel telur) yang sehat dan fungsional dan satu badan
kutub yang akan mengalami degenerasi. Sedangkan sel oosit sekunder yang
berukuran lebih kecil (badan kutub pertama) juga mengalami degenerasi
(mati). Dengan demikian, dari total empat sel haploid hanya satu sel haploid
saja yang fungsional menjadi sel ovum, sedangkan tiga sel lainnya mengalami
degenerasi.

G. Susunan Sel Telur


Cleavage atau pembelahan berbeda antara satu spesies dengan spesies
lainnya. Perbedaan tersebut tergantung pada jenis telur dari spesiesnya
masing-masing, karena dengan perbedaan jenis telurnya berbeda juga tipe
atau jenis pembelahan yang berlangsung dan berbeda juga pada hasil
pembelahannya. Tipe telur dibedakan berdasarkan jumlah dan letak yolk atau
cadangan makanannya dan dibedakan menjadi 4 jenis yaitu:
1. Isolesithal

Gambar 1. Tipe Telur Isolesital


Sumber: studentreader.com
Tipe telur ini disebut juga Homolesital. Tipe telur ini, penyebaran yolk
atau cadangan makanannya tersebar merata diseluruh ovum dan jumlahnya
sedikit dengan nukleus atau intiselnya berada ditengah. Jadi inti selnya
dikelilingi oleh cadangan makanannya. Tipe telur ini terdapat pada
Amphioxus, Echinodermata, Mollusca, Annelida dan Mamalia.

2. Telolesithal/Mesolesital

Gambar 2. Mesolesital
Sumber: studentreader.com
Tipe telur dengan letak dari yolk dan inti sel berada di dua kutub yang
berlawanan dengan jumlah yolk yang sedikit. Kutub dengan konsentrasi
yolk disebut kutub vegetatif sedangkan kutub dengan inti sel disebut kutub
animalia. Jenis telur ini terdapat pada Amphibia, Lamprey dan Lungfish.
3. Telo-ekstrimlesithal (Megalesithal)

Gambar 3. Megalesithal
Sumber: www.uoguelph.ca
Yolk banyak sekali yang tersebar hampir semua bagian telur, sehingga inti
sel berada terdesak dibagian ujung/atas dari ovum dan sitoplasmanya
sedikit. Kutub vegetatifnya besar sedangkan kutub animalnya sangat kecil.
Tipe telur ini terdapat pada Reptilia dan Aves.
4. Centrolesithal

Gambar 4. Centrolesital
Sumber: studentreader.com
Merupakan tipe telur dengan yolk dan inti sel berada di tengah-tengah
telur. Tipe telur ini terdapat pada Insecta.