Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH CERAMAH PIH

ABORTUS
Disusun untuk memenuhi syarat menjalani Kepaniteraan Klinik
Senior di SMF Obstetri di RSUD Dr. Pirngadi Medan

Pembimbing:
dr. Fadjrir, M.Ked(OG), Sp.OG
Mentor:
dr. Rina Sinta Dhanu
Disusun oleh:
Grace Duma Mawarni Hutahaean
Natanael Nababan
Jane Andrea Christiano Djianzonie
Andre Agastia Hutasoit
Pavin Vikneshwaran A/L Rajapal

100100124
100100127
100100128
100100145
100100185

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSUD DR. PIRNGADI MEDAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah
melimpahkan berkatnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah
ceramah PIH yang berjudul Abortus ini dengan lancar dan tanpa halangan yang
berarti. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada pembimbing, dr. Fadjrir,
M.Ked(OG), Sp.OG dan mentor, dr. Rina Sinta Dhanu yang telah bersedia
membimbing dan memberikan masukan dalam penyusunan makalah ceramah PIH
ini.
Pada makalah ceramah PIH ini, kami memaparkan tinjauan teoritis dan
penatalaksanaan tentang abortus. Adapun tujuan penulisan makalah ceramah PIH
ini adalah untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik senior pada Bagian Obstetri
SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD dr. Pirngadi Medan.
Dalam penyusunan makalah ceramah PIH ini, penulis mendapatkan
banyak bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini
penulis berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah
ceramah PIH ini baik dari segi isi maupun sistematika penulisan karena
keterbatasan kemampuan penulis. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran dari semua pihak untuk menyempurnakan makalah ceramah PIH
ini. Semoga makalah ceramah PIH ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, September 2015,

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.........................................................................................
KATA PENGANTAR........................................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................................
TINJAUAN TEORITIS ABORTUS................................................................
1. Definisi...............................................................................................

i
ii
iii
1
1
ii

2.
3.
4
5.
6.

Epidemiologi......................................................................................
Etiologi...............................................................................................
Gejala Klinis.......................................................................................
Patogenesis.........................................................................................
Diagnosis............................................................................................
a. Anamnesis...................................................................................
b. Pemeriksaan Fisik........................................................................
c. Pemeriksaan Penunjang...............................................................
7. Diagnosis Banding..............................................................................
8. Tatalaksana.........................................................................................
9. Komplikasi..........................................................................................
10. Prognosis............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................

1
2
4
6
7
7
7
8
9
10
11
12
14

iii

TINJAUAN TEORITIS
ABORTUS
1.

Definisi
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu abortus spontan dan abortus

provokatus. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis
dan disebabkan oleh faktor-faktor alamiah. Abortus provokatus adalah abortus
yang terjadi akibat tindakan atau disengaja, baik dengan memakai obat-obatan
maupun alat-alat (Mochtar, 1998).
Pengguguran kandungan atau aborsi atau abortus menurut:
a) Medis: abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum
janin mampu bertahan hidup pada usia kehamilan sebelum 20 minggu didasarkan
pada tanggal hari pertama haid normal terakhir atau berat janin kurang dari 500
gram (Cunningham et al., 2005).
b) Kamus Besar Bahasa Indonesia: terjadi keguguran janin, melakukan abortus
(dengan sengaja karena tidak menginginkan bakal bayi yang dikandung itu).
c) Keguguran adalah pegeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan (Mochtar, 1998).
d) Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup di luar kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil, yang
dilaporkan dapat hidup di luar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram
waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat
badan di bawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai
pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari
20 minggu (Hadijanto, 2010).
2.

Epidemiologi
Frekuensi abortus sulit ditentukan karena abortus provokatus banyak yang

tidak dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi. Juga, karena sebagian abortus
spontan hanya disertaigejala atau tanda ringan, sehingga pertolongan medik jarang
diperlukan (Napitupulu, 2013).
Menurut HM Natsir (2001), sekitar 60% abortus spontan mengakibatkan
kematian. Angka abortus spontan di Indonesia mencapai 2 juta per tahun, atau
10% dari seluruh kehamilan. Pada tahun 2000 di Indonesia dilakukan penelitian,
disimpulkan bahwa di Indonesia terjadi 43 abortus per 100 kelahiran hidup atau

30% dari kehamilan. Budi Utomo (2001) juga menyampaikan bahwa sebagian
besar abortus adalah abortus provokatus. Ada 78% wanita di perkotaan dan 40%
di pedesaan yang melakukan abortus provokatus. RSU Dr Pirngadi Medan
mendapat angka abortus sekitar 10% dari seluruh kehamilan (Napitupulu, 2013).
Sedangkan penelitian yang dilakukan di RSUP Adam Malik Medan dari tahun
2005-2010, didapatkan kesimpulan bahwa dari total 53 wanita yang mengalami
abortus spontan, sebanyak 28 wanita (52,8%) berusia 21-34 tahun, 21 wanita
(39,6%) berusia 35 tahun ke atas, dan 4 wanita (7,6%) berusia di bawah 20 tahun.
3.

Etiologi
Abortus Secara umum, terdapat tiga faktor yang boleh menyebabkan

abortus spontan yaitu faktor fetus, faktor ibu sebagai penyebab abortus dan faktor
paternal. Lebih dari 80 persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan,
dan kira-kira setengah dari kasus abortus ini diakibatkan oleh anomali kromosom.
Setelah melewati trimester pertama, tingkat aborsi dan peluang terjadinya anomali
kromosom berkurang (Cunningham et al., 2005).
a.

Faktor Fetus.
Berdasarkan hasil studi sitogenetika yang dilakukan di seluruh dunia, sekitar
50 hingga 60 persen dari abortus spontan yang terjadi pada trimester
pertama mempunyai kelainan kariotipe. Kelainan pada kromosom ini adalah
seperti autosomal trisomy, monosomy X dan polyploidy (Lebedev et al.,
2004). Abnormalitas kromosom adalah hal yang utama pada embrio dan
janin yang mengalami abortus spontan, serta merupakan sebagian besar dari
kegagalan kehamilan dini. Kelainan dalam jumlah kromosom lebih sering
dijumpai daripada kelainan struktur kromosom. Abnormalitas kromosom
secara struktural dapat diturunkan oleh salah satu dari kedua orang tuanya

b.

yang menjadi pembawa abnormalitas tersebut (Cunningham et al., 2005).


Faktor Maternal.
Menurut Sotiriadis dan kawan-kawan (2004), ibu hamil yang mempunyai
riwayat keguguran memiliki risiko yang tinggi untuk terjadi keguguran pada
kehamilan seterusnya terutama pada ibu yang berusia lebih tua. Pada wanita
hamil yang mempunyai riwayat keguguran tiga kali berturutturut, risiko
untuk terjadinya abortus pada kehamilan seterusnya adalah sebesar 50
2

persen . Berbagai penyakit infeksi, penyakit kronis, kelainan endokrin,


kekurangan nutrisi, alkohol, tembakau, deformitas uterus ataupun serviks,
kesamaan dan ketidaksamaan immunologik kedua orang tua dan trauma
emosional maupun fisik dapat menyebabkan abortus, meskipun bukti
korelasi tersebut tidak selalu meyakinkan. Isolasi Mycoplasma hominis dan
Ureaplasma urelyticum dari traktus genitalis beberapa wanita yang
mengalami abortus, mengarahkan pada hipotesis bahwa infeksi mycoplasma
yang mengenai traktus genitalis, merupakan abortifasient. Pada kehamilan
lanjut, persalinan prematur dapat ditimbulkan oleh penyakit sistemik yang
berat pada ibu. Hipertensi jarang menyebabkan abortus, tetapi dapat
mengakibatkan kematian janin dan persalinan prematur. Abortus sering
disebabkan, mungkin tanpa alasan yang adekuat, kekurangan sekresi
progesteron yang pertama oleh korpus luteum dan kemudian oleh trofoblast.
Karena progesteron mempertahankan desidua, defisiensi relatif secara
teoritis mengganggu nutrisi konseptus dan dengan demikian mengakibatkan
kematian. Pada saat ini, tampak bahwa hanya malnutrisi umum yang berat
merupakan predisposisi meningkatnya kemungkinan abortus. Wanita yang
merokok diketahui lebih sering mengalami abortus spontan daripada wanita
yang tidak merokok. Alkohol dinyatakan meningkatkan resiko abortus
spontan, meskipun hanya digunakan dalam jumlah sedang (Cunningham et
al., 2005). Kira-kira 10 persen hingga 15 persen wanita hamil yang
mengalami keguguran berulang mempunyai kelainan pada rahim seperti
septum parsial atau lengkap. Anomali ini dapat menyebabkan keguguran
melalui implantasi yang tidak sempurna karena vaskularisasi abnormal,
distensi uterus, perkembangan plasenta yang abnormal dan peningkatan
c.

kontraktilitas uterus (Kiwi, 2006).


Faktor Paternal
Translokasi kromosom dalam sperma

dapat

menyebabkan

zigote

mempunyai terlalu sedikit atau terlalu banyak bahan kromosom, sehingga


mengakibatkan abortus (Cunningham et al., 2005).
4.
A.

Gejala Klinis
Abortus Iminens (Threatened abortion).
3

Vagina bercak atau perdarahan yang lebih berat umumnya terjadi


selama kehamilan awal dan dapat berlangsung selama beberapa hari atau
minggu serta dapat mempengaruhi satu dari empat atau lima wanita hamil.
Secara keseluruhan, sekitar setengah dari kehamilan ini akan berakhir
dengan abortus (Cunningham et al., 2005). Abortus iminens didiagnosa
bila seseorang wanita hamil kurang daripada 20 minggu mengeluarkan
darah sedikit pada vagina. Perdarahan dapat berlanjut beberapa hari atau
dapat berulang, dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau nyeri
punggung bawah seperti saat menstruasi. Polip serviks, ulserasi vagina,
karsinoma serviks, kehamilan ektopik, dan kelainan trofoblast harus
dibedakan dari abortus iminens karena dapat memberikan perdarahan pada
vagina. Pemeriksaan spekulum dapat membedakan polip, ulserasi vagina
atau
B.

karsinoma

serviks,

sedangkan

kelainan

lain

membutuhkan

pemeriksaan ultrasonografi (Sastrawinata et al., 2005).


Abortus Insipiens (Inevitable abortion)
Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan
perdarahan banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah yang disertai
nyeri karena kontraksi rahim kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks
sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat teraba. Kadangkadang perdarahan dapat menyebabkan kematian bagi ibu dan jaringan
yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus segera
dilakukan. Janin biasanya sudah mati dan mempertahankan kehamilan

C.

pada keadaan ini merupakan kontraindikasi (Sastrawinata et al., 2005).


Abortus Inkompletus atau Abortus Kompletus
Abortus inkompletus didiagnosis apabila sebagian dari hasil
konsepsi telah lahir atau teraba pada vagina, tetapi sebagian tertinggal
(biasanya jaringan plasenta). Perdarahan biasanya terus berlangsung,
banyak, dan membahayakan ibu. Sering serviks tetap terbuka karena
masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing
(corpus alienum). Oleh karena itu, uterus akan berusaha mengeluarkannya
dengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri, namun tidak
sehebat pada abortus insipiens. Jika hasil konsepsi lahir dengan lengkap,

maka disebut abortus komplet. Pada keadaan ini kuretasi tidak perlu
dilakukan. Pada abortus kompletus, perdarahan segera berkurang setelah
isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan
berhenti sama sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan
epitelisasi telah selesai. Serviks juga dengan segera menutup kembali.
Kalau 10 hari setelah abortus masih ada perdarahan juga, abortus
inkompletus
D.

atau

endometritis

pasca

abortus

harus

dipikirkan

(Sastrawinata et al., 2005).


Abortus Tertunda (Missed abortion)
Abortus tertunda adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi
tetap berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.
Pada abortus tertunda akan dijimpai amenorea, yaitu perdarahan sedikitsedikit yang berulang pada permulaannya, serta selama observasi fundus
tidak bertambah tinggi, malahan tambah rendah. Pada pemeriksaan dalam,

E.

serviks tertutup dan ada darah sedikit (Mochtar, 1998).


Abortus Habitualis (Recurrent abortion)
Anomali kromosom parental, gangguan trombofilik pada ibu
hamil, dan kelainan struktural uterus merupakan penyebab langsung pada
abortus habitualis (Jauniaux et al., 2006). Menurut Mochtar (1998),
abortus habitualis merupakan abortus yang terjadi tiga kali berturut-turut
atau lebih. Etiologi abortus ini adalah kelainan dari ovum atau
spermatozoa, dimana sekiranya terjadi pembuahan, hasilnya adalah
patologis. Selain itu, disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum dan
kesalahan plasenta yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan
progesterone sesudah korpus luteum atrofis juga merupakan etiologi dari
abortus habitualis.

5.

Patogenesis
Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang

kemudian diikuti dengan perdarahan ke dalam desidua basalis, lalu terjadi


perubahan-perubahan

nekrotik

pada

daerah

implantasi,

infiltrasi

sel-sel

peradangan akut, dan akhirnya perdarahan per vaginam. Buah kehamilan terlepas

seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asing dalam


rongga rahim (Sastrawinata, 2004).
Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu
terjadi pendorongan benda asing itu keluar rongga rahim (ekspulsi). Perlu
ditekankan bahwa pada abortus spontan, kematian embrio biasanya terjadi paling
lama 2 minggu sebelum perdarahan. Oleh karena itu, pengobatan untuk
mempertahankan janin tidak layak dilakukan jika telah terjadi perdarahan banyak
karena abortus tidak dapat dihindari (Sastrawinata, 2004).
Sebelum minggu ke-10, hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan
lengkap. Hal ini disebabkan sebelum minggu ke-10 vili korialis belum
menanamkan diri dengan erat ke dalam desidua hingga telur mudah terlepas
keseluruhan-nya. Antara minggu ke 10-12 korion tumbuh dengan cepat dan
hubungan vili korialis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebut
sering sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus (Sastrawinata,
2004).

6.

Diagnosis

A.

Anamnesis
Pada anamnesis didapatkan darah mengalir keluar dari vagina dan terasa

mules. Merupakan Peristiwa perdarahan rahim pada usia kehamilan sebelum 20


minggu dengan telah ada pembukaan serviks uterus tetapi jaringan fetus maupun
plasenta masih intrauterine. Pada pemeriksaan penunjang, hasil USG dapat
menunjukkan buah kehamilan masih utuh, ada tanda kehidupan janin, meragukan
atau buah kehamilan tidak baik, janin mati (Kasdu, 2005).
Didiagnosis bila seseorang wanita hamil < 20 minggu Terjadi mules yang
lebih sering, hebat, dan perdarahannya bertambah. Jika abortus terjadi pada usia
kehamilan kurang dari 12 minggu, biasanya perdarahan tidak banyak. Perdarahan
dapat berlanjut beberapa hari atau dapat berulang, biasanya mulai terjadi 2
minggu setelah kehamilan berhenti berkembang. Dapat pula disertai sedikit nyeri
perut bawah atau nyeri punggung bawah seperti saat menstruasi. Pada keadaan ini,
kehamilan memang sudah tidak dapat dipertahankan lagi (Kasdu, 2005).
6

Setengah dari abortus insipiens akan menjadi abortus komplet atau


inkomplet, sedangkan pada sisanya kehamilan akan terus berlangsung. Abortus
spontan adalah yang berlangsung tanpa tindakan sedangkan provokatus terjadi
dengan sengaja dilakukan tindakan tersebut dan bisa dibagi menjadi provokatus
medisinalis iaitu bila didasarkan pada pertimbangan dokter untuk menyelamatkan
ibu dan provokatus kriminalis apabila melakukan abortus secara tidak legal
(Kasdu, 2005).
B.

Pemeriksaan Fisik
Pertama dilakukan pemeriksaan umum normal. Kemudian, pemeriksaan

abdomen biasanya normal (lunak, tidak nyeri tekan) (Mochtar, 1998). Diperiksa
tanda-tanda vital untuk tentukan apakah pasien secara hemodinamis stabil.
Takikardi, sinkop, pusing atau berkunang-kunang menunjukkan ketidakstabilan
dan harus menerima penggantian cairan IV.
Pemeriksaan pelvis: darah forniks, vagina dan serviks normal, apakah
serviks terbuka, nyeri tekan, dan ukuran uterus, dan ada massa pada adneksa
(Reece and Hobbins, 2007). Terdapat pemeriksaan speculum, biasanya ditemui
hanya ada sedikit darah atau secret kecoklatan di dalam vagina. Ostium uteri
tertutup. Pada pemeriksaan bimanual, uterus membesar, lunak dan tidak nyeri
tekan. Besar uterus sesuai dengan riwayat haid. Serviks tertutup, tidak mendatar
dan mempunyai konsistensi hamil normal.
Adapun gejala-gejala dari abortus spontan sebagai berikut:
1.

Pendarahan mungkin hanya bercak sedikit, atau bisa cukup parah. Dokter
akan bertanya tentang berapa banyak pendarahan yang terjadi-biasanya
jumlah pembalut yang telah dipakai selama pendarahan. Anda juga akan

2.

ditanya tentang gumpalan darah atau apakah Anda melihat jaringan apapun.
Nyeri dan kram terjadi di perut bagian bawah. Mereka hanya satu sisi, kedua
sisi, atau di tengah. Rasa sakit juga dapat masuk ke punggung bawah,

3.
C.

bokong, dan alat kelamin.


Anda mungkin tidak lagi memiliki tanda-tanda kehamilan seperti mual atau
payudara bengkak / nyeri jika Anda telah mengalami keguguran.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang ditemukan adalah sangat membantu karena

kita sudah bisa melihat kelainan pada penderita setiap penyakit tersebut. Antara
7

yang diperiksan adalah hitung darah, urinalisis dan test kehamilan menggunakan
beta HCG dan USG. Pemeriksaan ultrasonografi atau Doppler dilakukan untuk
menentukan apakah janin masih hidup atau tidak, serta menentukan prognosis.
1. Pemeriksaan USG (Ultrasonografi). Hal ini membantu dokter untuk
memeriksa detak jantung janin dan menentukan apakah embrio berkembang
normal.
2. Pemeriksaan darah. Jika mengalami keguguran, pengukuran hormon

kehamilan, HCG beta, kadang-kadang bisa berguna dalam menentukan


apakah Anda telah benar-benar melewati semua jaringan plasenta.
3. Pemeriksaan jaringan. Jika telah melewati jaringan, dapat dikirim ke

laboratorium untuk mengkonfirmasi bahwa keguguran telah terjadi - dan


bahwa gejala tidak berhubungan dengan penyebab lain dari perdarahan
kehamilan.
Kaji kemampuan hidup (viabilitas) kehamilan. (lihat Tabel 1)
Tabel 1. Ukuran viabilitas janin (Kasdu, 2005).
Hcg

Positif 7 hingga 10 hari setelah ovulasi, kadar meningkat 2 kali


lipat setiap 1,6 hari selama minggu ke lima, setiap dua hari
selama minggu ke enam dan setiap 2,5 hari selama minggu ke 7.
Kadar terus meningkat dengan lebih lambat, mencapai puncak
pada minggu ke 10, mengalami masa tertinggi tanpa kemajuan

Temuan

pada minggu ke 24.


-Jika kantong kehamilan >10mm, kantong kuning telur harus

ultrasonografi selalu terlihat.


-Kantong kehamilan yang berukuran 18 mm (atau 2,5 cm) harus
berisi embrio.
-Embrio yang berukuran >5mm harus sudah memiliki aktivitas
jantung.
-Kantong kehamilan

Progesteron

harus

terlihat

melalui

ultrasonografi

transvaginal jika hCG >2000 mIU/mL.


-Kantong kehamilan harus terlihat

melalui

ultrasonografi

abdomen jika hCG >6500 mIU/mL.


>25ng/mL: kehamilan dapat berlanjut pada >95% kasus
<10ng/mL: kehamilan intrauterus, jika ada, tidak dapat berlanjut.

serum
7.
Diagnosis Banding

Meskipun gambaran klinik dari abortus pada umumnya dikenali tetapi


kadang-kadang masih terdapat kesalahan dalam mendiagnosis. Oleh karena itu
dalan mendiagnosis suatu kasus abortus, perlu pertimbangan diagnosis banding
abortus.
Adapun diagnosis banding abortus adalah sebagai berikut :
1.

Kehamilan ektopik terganggu


Pada kehamilan ektopik ditemukan

amenorea

disertai

perdarahan

pervaginam, rasa nyeri dibagian perut bawah, tumor/benjolan dibelakang


uterus dan tes kehamilan selalu bereaksi positif kuat karena kadar HCG yang
2.

tinggi (Slava, 2014).


Mola hidatidosa
Pada Mola hidaridosa tinggi fundus uteri umumnya lebihnya lebih besar dari
lama kehamilan. Amenorea dan perdarahannya bisa lebih banyak dan kadangkadang ada erdarahn yang keluar terdapat gelembung mola didalamnya dan

3.
4.

reaksi kehamilan negative (Slava, 2014).


Kehamilan dengan kelainan serviks
Polip uteri, mioma uteri dan karsinoma servisis uteri (Slava, 2014).
Perdarahan implantasi
Dapat timbul sekitar saat haid yang diperkirakan. Biasanya jumlahnya lebih
dari darah haid dari hari pertama siklus normal, tidak ada nyeri pinggang
penyerta (Slava, 2014).

8.
1.

2.

Tatalaksana
Abortus imminens
a. Tirah baring
b. Anagesik untuk meredakan nyeri
c. Pemeriksaan kadar -HCG dan progesterone bila memungkinkan
d. Evakuasi kehamilan apabila perdarahan berat dengan anemia dan
hypovolemia (Tanto dkk, 2014)
Abortus insipient dan abortus inkomplit
a. Evakuasi sisa hasil konsepsi dengan kuretase tajam atau aspirasi vakum
manual. Kuretase dapat dilakukan dengan menggunakan blok paraservikal
dan infuse 10-20 U oksitosin dalam NaCl 0.9%.
b. Pada pasien dengan perdarahan yang tidak terkontrol, hasil konsepsi harus

3.

segera dievakuasi (Tanto dkk, 2014).


Abortus komplit

10

a. Apabila diagnosis sudah dipastikan, abortus komplit tidak memerlukan


terapi apapun.
b. Jika belum dipastikan dapat dilakukan pemeriksaan USG untuk konfirmasi
4.

(Tanto dkk, 2014).


Missed abortion
a. Pada trimester kedua, uterus dikosongkan dengan metode dilatasi dan
evakuasi. Serviks dipersiapkan dengan menggunakan misoprostol dan/atau
dilatasi pasif dengan laminaria. Setelah itu dilakukan evakuasi secara
mekanis.
b. Pilihan lain evakuasi dengan induksi kelahiran menggunakan PGE2 per

5.

vaginam (Tanto dkk, 2014).


Abortus septic
a. Prinsip terapi : evakuasi uterus dan antibiotic parenteral (sebelum, selama,
dan sesudah pembersihan jaringan nekrosis dengan kuretase). Pilihan
antibiotic :
i. Ampisilin oral 500mg/6 jam atau 1 g IV/4 jam.
ii. Gentamisin 1.5 mg/kgBB/8 jam diberikan IV atau IM.
iii. Metronidazol oral 500 mg/6 jam atau 1 g IV/12 jam.
b. Terapi suportif : infuse cairan (NaCl, ringer laktat), pemasangan kateter
urin, pemberian tetanus toksoid 0,5 mL IM.
c. Pemeriksaan tambahan : pemeriksaan Gram, kultur bakteri dari
endoserviks, darah, dan produk konsepsi, Roentgen abdomen (Tanto dkk,
2014).

9.
1.

Komplikasi
Perdarahan
Perdarahan yang berlebihan selama atau setelah aborsi mungkin menandakan
atonia uteri, laserasi serviks, perforasi uterus atau koagulopati. Perdarahan
dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika
perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan yang terjadi

2.

tidak diberikan pertolongan pada waktunya yang jatuh ke syok hemoragik.


Perforasi
Sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga yang
tidak ahli seperti bidan dan dukun. Perforasi uterus kerokan dapat terjadi
terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini,
penderita perlu diatami dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera
10

11

dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi,


penjahitan luka perforasi atau peril histeroktomi. Perforasi uterus oada
abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat
karena perlukan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaam pada
kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya
perforasi, laparatomi harus segera dilalukan untuk menentukan luasnya
cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya untuk
3.

mengatasi komplikasi.
Hematometra
Juga dikenal sebagai sindrom pasca aborsi, ini adalah hasil dari hasil konsepsi
yang atau atonia uteri penyebab lain. Endometrium yang buncit dengan darah,
dan rahim tidak mampu berkontraksi untuk mengusir isi. Pasien biasanya
hadir dengan peningkatan rendah garis tengah sakit perut, tidak ada atau
menurun perdarahan vagina, dan, di kali, kompromi hemodinamik. Ini dapat
berkembang segera setelah keguguran atau aborsi, atau mungkin berkembang
secara diam-diam.

4.

Infeksi.
Aborsi triad: Nyeri, perdarahan, dan kelas rendah demam adalah keluhan
presentasi yang paling umum. Aborsi triad biasanya disebabkan oleh hasil
konsepsi.

Jaringan-jaringan

yang

tersisa

disebabkan

abortus

yang

menyebabkan sumber infeksi didalam rahim, sehingga menyebabkan


bakteremia yang meyebabkan Pelvic Inflammatory Disease (PID). Selain itu,
endometritis terjadi dan pasien sering datang dengan demam, menggigil, sakit
5.

10.

perut, keputihan, perdarahan vagina, dan riwayat kehamilan baru-baru ini.


Syok pada abortus dapat disebabkan oleh :
i. perdarahan yang banyak disebutkan syok hemoragik.
ii. infeksi berat atau sepsis disebutkan syok endosptik.
Prognosis
Prognosis keberhasilan kehamilan tergantung dari etiologi aborsi

sebelumnya (Manuaba, 1998).


1. Perbaikan endokrin yang abnormal pada wanita dengan abotus yang rekuren
mempunyai prognosis yang baik sekitar >90 %.

11

12

2.

Pada wanita keguguran dengan etiologi yang tidak diketahui, kemungkinan

3.

keberhasilan kehamilan sekitar 40-80 %.


Sekitar 77 % angka kelahiran hidup setelah pemeriksaan aktivitas jantung
janin pada kehamilan 5 sampai 6 minggu pada wanita dengan 2 atau lebih
aborsi spontan yang tidak jelas.
Umumnya, pasien dengan

abortus

insipient

akan

kehilangan

kehamilannya, persentase kecil lahir premature dan lainnya berlanjut ke kelahiran


cukup bulan. Pengawasan lanjutan penting untuk mengevaluasi gejala yang
menetap, tanda kehidupan janin dan pertumbuhan uterus (Mochtar, 1998).

DAFTAR PUSTAKA
Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap L, and Wenstrom
KD, 2005. Williams Obstetrics 22nd ed. NewYork, USA: McGraw-Hill
Companies, Inc.
Hadijanto B, 2010. Perdarahan pada Kehamilan Muda. Dalam: Saifuddin AB,
Rachihadhi

T,

Wiknjosastro

GH,

ed.

Ilmu

Kebidanan

Sarwono

Prawirohardjo. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 4: 460-474.


Kasdu D, 2005. Solusi Problem Persalinan. Jakarta: Puspaswara, 3-10.

12

13

Kiwi R, 2006. Recurrent Pregnancy Loss: Evaluation and Discussion of the


Causes and Their Management. Cleveland Clinic Journal of Medicine, 73
(10): 913-921.
Lebedev IN, Ostroverkhova NV, Nikitina TV, Sukhanova NN, and Nazarenko SA,
2004. Features of Chromosomal Abnormalities In Spontaneous Abortion
Cell Culture Failures Detected by Interphase FISH Analysis. European
Journal of Human Genetics, 12: 513-520.
Mochtar R, 1998. Abortus dan Kelainan dalam Tua Kehamilan. Dalam: Lutan, D.,
ed. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran, 2: 209-215.
Reece EA, Hobbins J, 2007. Normal and Abnormal placentation. In: Clinical
Obstetrics : The Fetus and Mother. Massachusetts: Blackwell Publishers.
Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, and Wirakusumah FF, 2005. Obstetri
Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. 2nd ed. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 1-6.
Slava
VG,
2014.

Abortion

Complications. Available

from :http://emedicine.medscape.com/article/795001-clinical (Accessed at


01 September 2015).
Tanto, C. Liwang, F. Hanifati, 2014. S. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Balai
Penerbit FK UI.

13