Anda di halaman 1dari 4

Dibawah Tiang Bendera

Mendengar kata bendera, yang terlintas difikiran adalah bangsa, Negara, dan hal-hal lain yang merujuk ke
nasionalisme. Jangan salah persepsi dulu. Itu hanya judul. Tidak ada hubungannya dengan cerita yang
akan diriku sajikan dimari. Judul itu aku ambil dari beberapa kisah masa laluku bersama para sahabat.
Sebuah kisah yang sangat biasa, yang mungkin tidak sepatutnya dibanggakan. Tapi dari kisah itulah
pencarian jati diriku dimulai.
Sama halnya di thread-ku sebelumnya. Disini aku memakai nama asliku, Didik. Tidak ada yang special dari
nama itu, thats just a simple name, not more. Yang pasti itu namaku yang kedua setelah yang pertama
gagal membuatku jadi anak penurut, itu yang mereka katakan, aku sih udah gak ingat memori ketika
masih dibawah umur 1 tahun. Kalau ada yang tidak suka dengan nama itu, kalian bisa memanggilku
dengan nama lain. Prince misalnya
Aku bukan orang yang sempurna, aku punya sedikit kelebihan dan banyak kekurangan. Kelebihanku tidak
lain adalah kuat tidur selama 15 jam sehari, diteruskan melek pada hari berikutnya selama 24 jam.
Sedangkan kekurangan terlalu banyak jika ku-share dimari. Intinya, TS minta maaf jika ada kata atau
kalimat yang menyinggung teman-teman semua. Itu bukan hal yang disengaja, tapi memang kekurangan
diriku seutuhnya. Oleh karena itulah diriku senan tiasa minta pendapat, komentar atau caci maki dari
semuanya guna proses pendewasaan dan pembelajaran komunikasi yang umum dilakukan orang
mayoritas.
Ada banyak sekali makhluk yang secara langsung terjun dalam hari-hariku. Baik itu yang bersifat real atau
not real (dalam hal ini makhluk dunia lain) atau yang lebih ekstrim lagi makhluk jadi-jadian yang hanya
hidup di kepalaku. Kita tidak akan membahas makhluk-makhluk yang tidak ada didunia nyata. Saya akan
bercerita makhluk yang selalu ada dimanapun aku berada. Dari sinilah cerita Reza dimulai

Part 1
Gedung itu SMAku
Hari itu, tepatnya saat ramadhan tahun 2005 (basi bener ya) saat itu aku masih duduk dikelas 11 SMA,
kalau system kurikulum pendidikan lama disebut kelas 2. Ramadhan tahun itu, sekolah tetap mengadakan
kegiatan belajar mengajar seperti hari-hari biasa. Bedanya hanya situasi dikantin dan koperasi selalu sepi
pengunjung. Kalau kantin sudah dipastikan tutup, beda dengan koperasi yang tetap buka, bukan untuk
jual makanan atau cemilan, tapi lebih fokus melayani jasa fotocopy yang entah kenapa selalu ramai
mengingat kualitas bahan kertas yang tidak wajar dan hasil dari mesin usang itu justru bisa
menghilangkan tulisan pada hasil copiannya. Kenapa selalu ramai? Karena para siswa tidak diijinkan
fotocopy diluar sekolah kecuali mesin fotocopy disekolah mogok kerja karena umur dari mesin yang sudah
uzur dan pantas dipensiunkan, atau untuk menghargai eksistensinya, lebih baik dimusiumkan.
Sebelumnya, aku akan mengajak jalan-jalan keliling SMA-ku dulu.
Pertama adalah pintu yang menghubungkan dunia luar dan dunia sekolah yang serasa seperti penjara
bawah tanah yang pengap tanpa sinar matahari dan sirkulasi udara yang tidak lancar oke, itu
berlebihan. Suasana di SMA tidak seperti itu. Sama seperti sekolah pada umumnya.
Ada dua gerbang utama untuk masuk dan keluar
Gerbang pertama adalah gerbang masuk untuk manusia. Yang masuk gerbang ini harus manusia
seutuhnya. Mesin dilarang masuk kecuali mengantongi surat ijin atau orang-orang tertentu yang sebagian
bertujuan mencerdaskan anak bangsa, dan sebagian kecilnya berniat mengais nafkah tanpa peduli tugas
atau posisi. Bahkan lebih parah sebagian kecilnya lagi tidak peduli dengan nasib para siswa yang
membiayai sekolahnya dengan keringatnya sendiri. Ironis bukan? Enggak, hal ini sudah biasa dinegara
kita. Tidak perlu heran.
Kalau gerbang pertama untuk manusia, bagaimana gerbang kedua? Apakah untuk makhluk gaib?
Gerbang kedua sama. Manusia tetap bisa masuk, tapi khusus gerbang ini lebih difokuskan untuk siswa
yang menempuh perjalanan ke sekolah menggunakan motor roda dua dengan suara gabungan dari
vevezuela, simbal, tom-tom dan bass drum yang dibunyikan secara bersamaan tanpa irama
(penggambarannya lebay banget ya???) Kenapa, karena knalpot racing yang mengeluarkan bunyi mirip
gemuruh gledek sangat popular saat itu. Saking populernya, para atasan sekolah membuat 3 polisi tidur
setinggi 15cm dan jarak antara 1 dengan yang lain sekitar 30cm guna mengurangi intensitas kecepatan
para siswa dan memberi efek jera. Tapi faktanya, hal itu bukannya mengurangi suara knalpot, tapi justru
meningkatkannya. Anak-anak malah merasa polisi tidur seperti permainan jumping road. Siapa yang tidak
mengangkat roda depannya saat melewati gundukan itu, berarti dia maho. Dasar bocah labil .
Aku juga golongan itu dulunya

Gedung sekolah dibagi menjadi 2 part. Sebelah kanan untuk kelas sebagai alibi tempat belajar mengajar,
dan part ini diberi pintu gerbang pertama untuk manusia yang telah saya jelaskan tadi. Dan sebelah kiri
terdiri dari lapangan basket, lapang volley, auditorium, lab IPA, lab Komputer, pondok pesantren yang
berkesan seperti asrama dan jalan setapak menuju ke kantin. Tidak lupa tempat parkir sepeda motor para
siswa. Untuk parkir sepeda motor guru berada di gedung part 1. Parkir gedung part 1 memiliki atap seng
dan beberapa rimbun pohon yag bertujuan membuat sepeda motor yang diparkirkan tidak terkena
dampak langsung sinar matahari. Berbeda dengan parkir gedung part 2. Hanya ada 3 pohon dan tidak ada
atap. Jadi waktu pulang, para siswa tidak perlu memanaskan mesin, karena sekujur tubuh motor sudah
mendapat panas alami dari sang surya, itu positifnya.
Bagaimana yang membawa mobil?
Siapa anak tajir yang mau bawa mobil bokapnya ke sekolah kalau hanya untuk menjemur dashboard dari
panas matahari yang langsung masuk kedalam mobil dari sela-sela kaca depan dan kaca pintu.
Membiarkan mobil bokap tetap duduk manis dirumah dan rela diantar oleh supir atau memilih naik motor
adalah pilihan yang brilian.
Tidak ada tempat yang cukup luas untuk menampung mobil para siswa. Hanya ada tempat untuk mobil
para guru. Disamping itu juga SMA-ku berlokasi dipuncak bukit dengan lebar jalan 3 meter. Tidak ada
ruang untuk mobil yang putar balik jika ada mobil diarah berlawanan. Jadi mobil yang terparkir di halaman
sekolah sangat jarang.

Bingung gak lo???


Aku aja bingung ngebayanginnya

Pembagian Tugas

Dik, dipanggil Bu Asiyah tuh


Suara yang tidak asing dari teman sekelasku. Yunita, itu namanya.
Panggilannya membuatku tersentak dari lamunan panjang tentang rasa dari mie ayam bang mamad.
Rasanya ingin banget buka puasa hari ini dengan mie deket SMA itu. Jadi gak sabar nunggu suara adzan
maghrib.
aku mau diapain Yun? tanyaku penasaran sambil ngelap iler yang tanpa kusadari sudah membentuk
pulau dimeja kelas.
di tawarin jadi menantunya mungkin, anaknya kan cakep
serius ini
kaga tau lah, tadi aku dari kantor guru nganter tugas kelas. Trus Bu Asiyah bilang suruh manggil kamu
jelas Yunita.
Ada apa lagi ini? Kalau ada tugas osis, kenapa tidak diserahkan saja pada ketua osis aja. Harusnya dia
yang lebih berkewajiban menerima titah dari atasan seperti ini.
Mau gak mau, aku harus menemui Bu Asiya, guru bahasa Indonesia yang merangkap sebagai wakasek
kesiswaan atau Pembina osis. Dengan perasaan malas karena istirahat pertama kali ini tidak kuhabiskan
didalam kantin, aku berjalan kearah kantor guru. Tidak lupa aku membawa note kecil yang selalu kubawa.
Ini sebagai antisipasi kalau tugas kali ini panjang dan kuota otakku tidak cukup untuk menyimpan data
yang akan diberikan Bu Asiyah.
Sampai dipintu kantor guru, seperti biasa aku tidak segan-segan masuk. Tidak seperti siswa lain yang
tolah-toleh dan memasang raut muka bahagia yang terlihat jelas dipaksakan. Aku sudah biasa keluar
masuk ruang guru. Bukan menerima wejangan atau omelan, tapi karena tugas dari atasan, dalam hal ini
tugas dari Pembina ekskul atau osis.
Aku langsung menghampiri Bu Asiyah yang terlihat sibuk entah mencari apa di tumpukan kertas dan buku
dimejanya.

emak tidak akan menemukan diriku ditumpukan buku seperti itu sapaku ke Bu Asiyah
Mari kita analisis sebentar. Emak, siapa yang kupanggil emak?
Emak atau make adalah panggilan akrab Bu Asiyah dari semua murid dan guru juga. Itu panggilan karena
begitu akrabnya guru satu ini pada siswanya.
Trus, kenapa sapaanku seperti nyapa teman seumuran. Tidak seperti nyapa guru atau orang yang merasa
dituakan? Itu karena kedekatan kita yang lebih mirip seperti ibu dan anak.
Pernah aku nyapa dan ngobrol dengan bahasa baku, tapi langsung diralat. Beliau lebih senang jika para
anak didiknya bicara dengan bahasa keseharian non formal tapi tetap dengan kaidah kesopanan.

sssttt aku lagi cari coklat yang kubawa dari rumah tadi. Sekarang aku lagi dapet, jadi gak puasa bisik
emak yang mengangkat pembahasan cukup tabu di bulan puasa. Guru yang menyenangkan.
jadi aku disuruh kemari cuma untuk dipamerin coklat aja?
lho, kamu puasa? Kirain kamu juga lagi dapet
Plis deh. Emang aku kelihatan seperti cewek ABG yang centil dan childis saat lagi dateng bulan? Aku
cowok mak!
Aku Cuma diam dengan wajah sepet saat emak memberi penjelasan garing dengan hiasan melet pada
akhir kalimat

tadi di suruh pak kepala sekolah. Mulai nanti malam, beberapa dewan guru dan anak osis sebagai wakil
siswa haru mengikuti tarawih keliling. Nanti malam jadwalnya di masjid pendopo kabupaten. Pulang
sekolah temenmu yang lain kasih tau semua. Sekalian kamu minta surat pemberitahuan dari pak kepala
mepet amat, kenapa pemberitahuannya tidak dari kemarin aja?

aslinya dari kemarin, tapi aku baru inget. Udah, gak usah kebanyakan protes, Heri kasih tau dan nanti
yang lain dikumpulin
entar ada snacknya gak mak? tanyaku antusias
kalau dari masjid pendopo sih gak tau. Tapi dari sekolah ada kok. Lagian itu satu-satunya umpan agar
kalian pada ikut
mantabh, aku pasti datang mak. Okelah, tar yang lain kukumpulin pulang sekolah
Entah kenapa diriku langsung melting dapat iming-iming snack. Padahal kalau melihat materinya gak
sebanding dengan akomodasi dari rumah ke sekolah trus dilanjutkan ke masjid pendopo.
Tidak apa-apa, itung-itung sodaqoh.

Aku langsung ke kelas 11 bahasa 2, kelasnya Heri sang ketua osis untuk memberitahukan informasi ini.
Ini bukan bertujuan sebagai system pemerintahan organisasi, dimana pimpinan paling tinggi harus
mengetahui program kerja organisasinya. Tapi ini cenderung ke tugas yang diberikan. Kusuruh saja si Heri
yang mengambil surat pemberitahuan tarling (tarawih keliling) dari pak kepsek sekaligus yang
memberitahu anak osis yang lain. walau akulah yang mendapat mandat ini secara langsung, tapi tidak
ada salahnya mencari orang yang lebih berkompeten dibidangnya, dalam hal ini Heri sang ketua osis.

her, tadi kamu disuruh emak ngambil surat pemberitahuan tarling ke pak kepala. Sekalian yang lain kasih
tau, pulang sekolah rapat bentar bahas tarling entar malam

kan kamu yang dapat tugas

sapa yang bilang? Aku Cuma disuruh nyampein. Kalau kamu gak mau ya sudah, tar kalo emak ngamuk
kamu secara otomatis berada di garis depan

bantuin lah. Kamu nulis pengumuman sana. Entar biar aku dan Jemblung yang nyebar

itu gampang. Yang penting surat pemberitahuannya kamu ambil sekarang. Tar kamu balik langsung
kukasih pengumumannya

Sesimpel itu negosiasi sepihak kita. Tanpa nunggu waktu lama, Heri sudah meluncur ke kantor kepsek.
Dan aku tinggal cari kertas A4 dan diberi ornament pengumuman. Selesai, langsung dikasihkan ke Heri,
biar dia yang foto copy dan menempel di mading.
Usai semua, sekarang diriku bisa melanjutkan lamunan betapa nikmatnya mie ayam bang mamad yang
terkenal harumnya. Mie buatan tangan dengan kuah kaldu ayam bercampur rempah. Daging ayam
terpotong kecil dan terkadang masih mengandung tulang. Nikmatnya berbuka.