Anda di halaman 1dari 6

A.

Latar Belakang
Salah satu strategi untuk mencapai misi Indonesia Sehat 2010 adalah dengan
meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayan kesehatan yang berkualitas dengan
sasaran utamanya adalah tersedianya sumber daya manusia yang kompeten di setiap
desa, pelayanan kesehatan di rumah sakit, puskesmas dan jaringan memenuhi mutu.
(Saputra, 2010).
Pelayanan kesehatan mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan kesehatan dan
mencegah penyakit dengan masyarakat sebagai sasaran utamanya. Berdasarkan undangundang dasar 1945 pasal 28 H menetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan
pelayanan kesehatan. Undang-Undang kesehatan nomor 36 tahun 2009 yang merupakan
pembaharuan dari Undang-Undang kesehatan nomor 23 tahun 1992, juga menekankan
pentingnya upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan. (Depkes RI, 2009).
Mutu pelayanan dapat dipersepsikan baik dan memuaskan pasien, adalah jika jasa
yang diterima sesuai atau melebihi dari yang diharapkan dan sebaliknya mutu pelayanan
dipersepsikan jelek atau tidak memuaskan jika pelayanan yang diterima lebih rendah dari
yang diharapkan (Kotler, 2000 Supranto, 2001). Kepuasan pasien merupakan salah satu
indikator mutu pelayanan kesehatan. Sebagian besar masyarakat baik di daerah
perkotaan maupun di pedesaan kurang puas atas pelayanan rumah sakit pemerintah,
puskesmas dan puskesmas pembantu. Persepsi masyarakat terhadap ketidakpuasan
pelayanan merupakan indikasi keterampilan dan kualifikasi yang menghasilkan
pelayanan tidak memenuhi standar (Siswono, 2003). Kenyataan menunjukkan bahwa
pasien yang tidak puas akan memberikan rekomendasi dari mulut ke mulut, sehingga
mempengaruhi sikap dan keyakinan orang lain untuk tidak berkunjung ke sarana tersebut
(Tjiptono & Diana, 2001). Oleh sebab itu, manajemen suatu pelayanan kesehatan perlu
menganalisis sejauh mana mutu pelayanan yang diberikan. Menurut Tjiptono (2006)
menyatakan ada lima dimensi untuk mengukur mutu pelayanan kesehatan, yaitu reability
(kehandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), empathy (empati) dan
tangible (bukti fisik).
Hasil survei kepuasan pasien yang telah dilakukan puskesmas kartasura II di
Surakarta pada tahun 2007 adalah 40% menyatakan puas dan 10 % menyatakan cukup
puas dari 50 org responden. Kemudian hasil survei pada tahun 2008 adalah 74%
menyatakan puas dan 26% cukup puas dari 100 orang responden. Berdasarkan hasil

survei bahwa aspek kesembuhan, aspek kebersihan, aspek mendapat informasi yang
menyeluruh, memberi kesempatan bertanya, aspek waktu tunggu dan aspek
kesinambungan pelayanan, merupakan aspek yang bagi pasien belum memuaskan
(Hertiana,2009).
Saat ini dengan diberlakukan UndangUndang No.40 tahun 2004 tentang sistem
jaminan sosial nasional, pemerintah sedang memantapkan pemeliharaan kesehatan bagi
masyarakat miskin dengan prinsip jaminan kesehatan melalui mekanisme asuransi sosial
sebagai awal dari pengembangan sistem jaminan kesehatan sosial secara menyeluruh
yang bersifat wajib bagi seluruh masyarakat. Berdasarkan pengalaman masa lalu dan
belajar dari pengalaman berbagai negara lain yang telah lebih dahulu mengembangkan
jaminan kesehatan, sistem ini dirasakan merupakan suatu pilihan yang tepat untuk dapat
menata subsistem pelayanan kesehatan yang searah dengan subsistem pembiayaan
kesehatan. Sistem jaminan pemeliharaan ini akan dapat mendorong perubahanperubahan mendasar seperti penataan standarisasi pelayanan, standarisasi tarif pelayanan
yang didasari perhitungan yang benar, penataan formularium dan penggunaan obat yang
rasional, yang berdampak pada kendali mutu dan kendali biaya (Depkes RI, 2006).
Sekitar 63,5% penduduk Indonesia atau 151,5 juta jiwa pada tahun 2012 telah
memiliki jaminan kesehatan dengan berbagai cara penjaminan. Jumlah ini termasuk para
peserta Jamkesmas, Jamkesda, Askes, Pensiunan PNS dan Veteran, TNI POLRI aktif,
Jamsostek, jaminan oleh perusahaan dan peserta asuransi kesehatan swasta. Artinya,
masih terdapat 37% penduduk atau 87 juta jiwa yang belum tercakup dalam jaminan
kesehatan (http://www.depkes.go.id, 2012).
Pembentukan program Jaminan Kesehatan Daerah (JAMKESDA) dilatarbelakangi
oleh berbagai faktor dalam masyarakat miskin lain yang tidak termasuk dalam kuota
Jamkesmas, hal ini diatur dalam UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, dan menjadikannya lebih
efisien, efektif serta terjangkau oleh masyarakat. Sistem Jaminan Kesehatan Daerah ini
dilakukan dalam rangka mewujudkan dan meningkatkan derajat kesehatan seluruh
masyarakat dan penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dengan mengutamakan upaya
peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit (Wiku Adisasmito, 2007).
Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu dari sekian banyak kabupaten yang
telah menerapkan Jamkesda untuk memberikan jaminan kesehatan bagi penduduknya.

Jaminan kesehatan Kabupaten Purbalingga telah dilaksanakan sejak tahun 2001 dengan
nama JPKM (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat). Lalu berganti nama
menjadi Jamkesda pada tahun 2010. Pergantian nama dari JPKM menjadi Jamkesda
tidak merubah sistem pengelolaan jaminan kesehatan di Kabupaten Purbalingga.
(Pamungkas dan Prayitno, 2010). Data dari UPTD Jamkesda Kabupaten Purbalingga
jumlah peserta Jamkesda pada tahun 2012 adalah 26.156.
Askes (Asuransi Kesehatan) merupakan jenis usaha jasa keuangan yang sangat
kompleks yang melibatkan tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan yaitu peserta
(enrollee/insured), pemberi pelayanan (provider) dan badan asuransi (insurer). Sebagai
suatu perusahaan jasa keuangan, efisiensi dan profit merupakan tuntutan utama.
Sedangkan sebagai suatu usaha dalam bidang jasa pelayanan kesehatan, menuntut art
tersendiri, untuk dapat memberi kepuasan terhadap setiap individu terkait, baik peserta
maupun pemberi pelayanan kesehatan. Jumlah peserta ASKES di kabupaten Purbalingga
adalah 54.143. (PT. ASKES, 2011)
Askes pada umumnya digunakan oleh masyarakat golongan menengah ke
atas,sedangkan pada umumnya Jamkesda digunakan masyarakat golongan menengah ke
bawah, karena adanya perbedaan status sosial maka dikhawatirkan pelayanan yang
diberikan oleh penyedia layanan kesehatan akan berbeda pada kedua kelompok tersebut
yang kemudian lebih jauh lagi mempengaruhi tingkat kepuasan pasien. Sehingga peneliti
tertarik untuk mengetahui apakah ada perbedaan tingkat kepuasaan pasien yang
menggunakan Jamkesda dan pasien yang menggunakan Askes.

B. Rumusan Masalah :
Bagaimana perbandingan tingkat kepuasaan pasien Jamkesda dan pasien ASKES
terhadap kualitas pelayanan rawat inap di RSUD Purbalingga ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien yang mempunyai
Jamkesda dengan pasien yang mempunyai Askes terhadap kualitas pelayanan rawat
inap di RSUD Purbalingga
2. Tujuan khusus :
a. Mengetahui kepuasan pasien Jamkesda di ruang rawat inap RSUD Purbalingga
b. Mengetahui kepuasan pasien Askes di ruang rawat inap RSUD Purbalingga

c. Membandingkan tingkat kepuasaan pasien Jamkesda dan pasien Askes di ruang


rawat inap RSUD Purbalingga
Dosen Konsul dengan : Akhmadi.S.Kp.M.Kes.M.Kep.,Sp.Kom

PERBANDINGAN TINGKAT KEPUASAAN PASIEN JAMKESDA DAN PASIEN ASKES


TERHADAP KUALITAS PELAYANAN RAWAT INAP DI RSUD PURBALINGGA

Nama

: Nova Nur Kusumastuti

NIM

: 11/317208/KU/14458

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2013

DAFTAR PUSTAKA
Bata,Y. W., Arifin,M. A., Darmawansyah. 2013. Hubungan Kualitas Pelayanan Kesehatan
Dengan Kepuasan Pasien Pengguna Askes Sosial Pada Pelayanan Rawat Inap di
RSUD Lakipadada Kabupaten Tana Toraja Tahun 2013. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanudin:Makassar
Departemen Kesehatan R.I., 2006. Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat

Miskin. Jakarta.
________, 2009.Undang-Undang Tentang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009. Jakarta.
Fatima, D. 2012. Perbandingan Kepuasan antara Pasien Askes dan Pasien Jamkesmas di
Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr.Kariadi Semarang. Laporan Karya Tulis
Ilmiah. Program Pendidikan Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas
Dipenogoro. Semarang.
Hardi, Jon. 2010. Analisis Tingkat Kepuasaan Pasien Umum dan Pasien Jamkesmas Terhadap
Mutu Pelayanan Rawat Inap di RSUD Pasaman Barat Tahun 2010. Thesis. Program
Pascasarjana. Universitas Andalas. Padang.
Heatubun,E. M., Kapalawi,I., Maidin,A. 2012. Studi Kalitas Pelayanan Jamkesda Ditinjau
Dari Segi Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap RSUD Daya Makassar Tahun 2012.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin:Makassar
Hertiana, Siska. 2009. Analisis Harapan dan Kepuasan Pasien Terhadap Mutu pelayanan
Kesehatan di Puskesmas Kartasura II Tahun 2009. Skripsi. FKM.Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Surakarta
http://www.depkes.go.id. 2012. Jaminan Kesehatan untuk Semua. Diakses tanggal 1
Desember 2013
http://www.ppjk.depkes.co.id/ diakses pada tanggal 1 Desember 2013
http:/www.ptaskes.com diakses pada tanggal 1 Desember 2013
Pamungkas, E. dan Prayitno. 2010. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga Badan Pelaksana JPKM. Purbalingga.
Saputra, Tri Agus. 2010. Pengaruh Kinerja Perawat Terhadap Kepuasan Pasien Pengguna
Kartu Jamkesmas Dalam Pelayanan Keperawatan di RSUD Cenkareng Jakarta
Barat.Skripsi. Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,
Universitas Indonusa Esa Unggul. Jakarta
Tjiptono, F. 2006. Manajemen Pelayanan Jasa. Penerbit Andi. Yogyakarta.