Anda di halaman 1dari 18

Teori-teori Masukya Agama Islam ke Indonesia.

Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Suryanegara dalam
bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu:
1. Teori Gujarat
Teori Gujarat adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Snouck Hurgronje (18571936) yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak
benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal
masuknya Islam di Nusantara.
Dalam Larabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut
didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada
dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga
mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah
Nusantara dengan daratan India.
Namun betul memang, Teori gujarat yang dicetuskan oleh Hugronje yang juga
mengaku masuk Islam, bukanlah murni temuannya. Hugronje hanya mengambil pendapat
DR. Jan Pijnappel (1822-1901) seorang sejarawan Leiden yang menyatakan hal tersebut
terlebih dahulu.
Jan Pijnappel sendiri adalah seorang orientalis Leiden yang concern pada manuskrip
melayu. Diantaranya ia pernah menulis ulang Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan untuk
Pelajar Melayu. Dia juga mengedit naskah Maleisch-hollandsch woordenboek atau Kamus
Belanda-Melayu yang kemudian diterbitkan pada tahun 1875. Sarjana Belanda ini juga
menulis kajian tentang Pantun Melayu yang diterbitkan tahun 1883 dengan judul Over de
Maleische Pantoens.Selain menerbitkan karya sendiri, Pijnappel juga menerbitkan karya
penelitian tentang Kalimantan yang ditulis oleh Carl A.L.M. Schwaner, yang pernah
ditunjuk Kerajaan Leiden mejadi Anggota Dewan Sains di Hindia-Belanda
Orientalis yang wafat tahun 1901 itu menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara
lewat pedagang dari Gujarat. Penjelasan ini didasarkan pada seringnya kedua wilayah India
dan Nusantara ini disebut dalam sejarah Nusantara klasik.. Dalam penjelasan lebih lanjut,
Pijnapel menyampaikan logika terbalik, yaitu bahwa meskipun Islam di Nusantara dianggap
sebagai hasil kegiatan orang-orang Arab, tetapi hal ini tidak langsung datang dari Arab,
melainkan dari India, terutama dari pesisir barat, dari Gujarat dan Malabar. Jika logika ini
dibalik, maka dapat dinyatakan bahwa meskipun Islam di Nusantara berasal dari India,
sesungguhnya ia dibawa oleh orang-orang Arab.
Namun sekalipun selangkah lebih maju dari ketidak jujuran Hugronje, yang
meminorkan peran Arab atas masuknya Islam ke Nusantara, teori Pijnappel ini pun juga sarat
kritik.
Salah satu sanggahan yang mengkritik Teori Gujarat ini salah satunya datang dari
Buya Hamka. Ulama Kharismatik ini malah curiga terhadap prasangka-prasangka penulis

orientalis Barat yang cenderung memojokkan Islam di Indonesia. Penulis Barat, kata Buya
Hamka, melakukan upaya yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negerinegeri Melayu tentang hubungan rohani yang mesra antara mereka dengan tanah Arab
sebagai sumber utama Islam di Indonesia dalam menimba ilmu agama. Dalam pandangan
Buya Hamka, orang-orang Islam di Indonesia mendapatkan Islam dari orang- orang pertama
(orang Arab), bukan dari hanya sekadar perdagangan.
Bahan argumentasi yang dijadikan bahan rujukan Buya Hamka adalah sumber local
indonesia dan sumber Arab. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak
dilandasi oleh nilai-nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran
agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab
telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi
Sedangkan, Sayyed Naquib Al Attas dalam bukunya Islam dan Sejarah Kebudayaan
Melayu menyatakan bahwa sebelum abad XVII seluruh literatur Islam yang relevan tidak
mencatat satupun penulis dari India. Pengarang-pengarang yang dianggap oleh Barat
sebagai India ternyata berasal dari Arab atau Persia, bahkan apa yang disebut berasal dari
Persia ternyata berasal dari Arab, baik dari aspek etnis maupun budaya. Nama-nama dan
gelar pembawa Islam pertama ke Nusantara menunjukkan bahwa mereka orang Arab atau
Arab-Persia. Diakui, bahwa setengah mereka datang melalui India, tetapi setengahnya
langsung datang dari Arab, Persia, Cina, Asia Kecil, dan Magrib (Maroko). Meski demikian,
yang penting bahwa faham keagamaan mereka adalah faham yang berkembang di Timur
Tengah kala itu, bukan India. Sebagai contoh adalah corak huruf, nama gelaran, hari-hari
mingguan, cara pelafalan Al-Quran yang keseluruhannya menyatakan ciri tegas Arab.

Pendukung Teori Gujarat : J. Pijnapel, Snouck Hurgronje, Bernard H.M Vlekke,


J.P Moquetta, W.F Stutterheim

Bunyi Teori Gujarat


: "Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13
dan pembawanya adalah pada pedagang dari Cambay, India."

Dasar Teori Gujarat


:
1. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama terjalin melalui jalur Indonesia Cambay - Timur Tengah - Eropa.
2. Adanya batu nisan sultan Samodra Pasai yaitu Sultan Malik Al Saleh tahun 1297 M dan
makam Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur,
memiliki bentuk yang sama dengan batu nisan yang terdapat di Cambay, India.
3. Catatan Marco Polo bahwa di Perlak sudah banyak yang memeluk Islam dan banyak
pedagang Islam India yang menyebarkan Agama Islam.

Kekurangan Teori
:
1. Tidak dijelaskan antara masuk dan berkembangnya Islam.
2. Kerajaan Samodra Pasai menganut mahzab Syafi'i, sedangkan Gujarat adalah penganut
mahzab Hanafi.
3. Ketika islamisasi Samodra Pasai, Gujarat masih merupakan sebuah Kerajaan Hindu,
baru satu tahun kemudian Gujarat ditaklukan oleh kekuasaan Muslim.
Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya
kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai.

Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia. (Italia) yang pernah
singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak
penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan
ajaran Islam.
2. Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama
yaitu teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad
ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir).
Dasar teori ini adalah:
a. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat
perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan
perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.
b. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafii, dimana pengaruh mazhab
Syafii terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. SedangkanGujarat/India adalah
penganut mazhab Hanafi.
c. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal
dari Mesir. Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli
yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politikIslam,
jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan
besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah
atau HAMKA,salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan
pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan
Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat
yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan
argumentasi yang dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan
sumber Arab. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh
nilainilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam
pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh
sebelum tarikh masehi.
Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan sanggahan terhadap Teori Gujarat yang
banyak kelemahan. Ia malah curiga terhadap prasangka-prasangka penulis orientalis Barat
yang cenderung memojokkan Islam di Indonesia. Penulis Barat, kata HAMKA, melakukan
upaya yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang
hubungan rohani yang mesra antara mereka dengan tanah Arab
sebagai sumber utama Islam di Indonesia dalam menimba ilmu agama. Dalam
pandanganHAMKA, orang-orang Islam di Indonesia mendapatkan Islam dari orang- orang
pertama (orang Arab), bukan dari hanya sekadar perdagangan. Pandangan HAMKA ini
hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan
bahwa para musafirlah (kaum pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di
Indonesia. Kaum Sufi biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk
mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat.

Pendukung Teori Mekkah : Buya Hamka, Anthony H. Johns, T.W Arnold, Van Leur


Bunyi Teori Mekkah : "Proses masuknya Islam ke Indonesia terjadi pada abad ke7 (647M), dan langsung dibawa oleh para musafir Arab yang memiliki semangat untuk
menyebarkan Agama Islam".

Dasar Teori Mekkah :


1. Pada abad ke-7 di pantai timur Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Dinasti
Umayah).

2. Kerajaan Samudra Pasai menganut mahzab Syafi'i, dimana pengaruh mahzab Syafi'i
terbesar pada waktu itu adalah Mekkah dan Mesir.
3. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al Malik, yaitu gelar yang umumnya berasal
dari Mesir.

Kelemahan Teori : Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan Bangsa Arab


dalam penyebaran Agama Islam di Indonesia.

3. Teori Persia
Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari
daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini adalah Hoesein
Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih
menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara
masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain: tradisi merayakan 10 Muharram
atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi
Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat.
Istilah tabut (keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi.
Tradisi lain adalah ajaran mistik yang banyak kesamaan, misalnya antara ajaran Syekh Siti
Jenar dari Jawa Tengah dengan ajaran sufi Al-Hallaj dari Persia. Bukan kebetulan, keduanya
mati dihukum oleh penguasa setempat karena ajaran-ajarannya dinilai bertentangan dengan
ketauhidan Islam (murtad) dan membahayakan stabilitas politik dan sosial. Alasan lain yang
dikemukakan Hoesein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi
pahat pada batu-batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia. Kesamaan lain
adalah bahwa umat Islam Indonesia menganut mahzab Syafei, sama seperti kebanyak
muslim di Iran.
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya
berasal dari Persia (Iran). Dari teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya
masyarakat IslamIndonesia seperti:

1) Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein, cucu
Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. DiSumatra Barat
peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut.Sedangkan di pulau Jawa
ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
2) Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari
Iran yaituAl Hallaj.Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf
Arab untuk tanda-tanda bunyi Harakat.
3) Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
4) Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah
namasalah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat.

Pendukung Teori Persia : Umar Amir Husen, Hoesein Djajadiningrat


Bunyi Teori Persia
: "Agama Islam masuk ke Indonesia dengan dibawa
oleh kaum Syi'ah yang berasal dari Persia (Iran)".
Dasar Teori Persia
:
1. Adanya kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Indonesia (peringatan 10
Muharam/Asyura, Tabut, pembuatan bubur Syura).
2. Kesamaan ajaran sufi yang dianut Syaikh Siti Jenar dengan sufi dari Iran yaitu Al Hallaj.
3. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda
bunyi.
4. Adanya kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu-batu nisan.
Kekurangan Teori
: Bila berpedoman bahwa Islam masuk pada abad ke-7,
hal ini berarti terjadi pada masa kekuasaan Khalifah Umayyah. Sedangkan saat itu
kepemimpinan Islam si bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan berada di Mekkah,
Madinah, Damaskus, dan Baghdad. Jadi, belum memungkinkan bagi Persia untuk
menduduki kepemimpinan dunia Islam saat itu.

Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia


Awal Masuknya Islam ke Nusantara

Rute masuknya Islam ke Nusantara


Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai
dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina,
Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad ke-7. (Prof. Dr. Uka
Tjandrasasmita, dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam Asia Tenggara, Kedatangan dan
Penyebaran Islam, 2002, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, hlm. 9-27).
Sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram
225H atau 12 November tahun 839M. Demikian pula Kerajaan Ternate tahun 1440. Kerajaan
Islam lain di Maluku adalah Tidore dan Kerajaan Bacan. Institusi Islam lainnya di Kalimantan
adalah Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah,
Sintang dan Kutai. Di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak,
Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang. Adapun kesultanan di Jawa antara lain:
Kesultanan Demak yang dilanjutkan oleh Kesultanan Jipang, lalu dilanjutkan Kesultanan Pajang
dan dilanjutkan oleh Kesultanan Mataram, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan
dalam institusi Kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Nusa Tenggara
penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi Kesultanan Bima. (Ensiklopedia Tematis
Dunia Islam: Khilafah dalam bagian Dunia Islam Bagian Timur, PT. Ichtiar Baru Vab Hoeve,
Jakarta. 2002).

Jejak Penerapan Syariah Islam di Nusantara

Peta Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara


Seiring perjalanan waktu, hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan
sistemik di Indonesia. A.C Milner mengatakan bahwa Aceh dan Banten adalah kerajaan Islam di
Nusantara yang paling ketat melaksanakan hukum Islam sebagai hukum negara pada abad ke17. Di Banten, hukuman terhadap pencuri dengan memotong tangan bagi pencurian senilai 1
gram emas telah dilakukan pada tahun 1651-1680 M di bawah Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan
Iskandar Muda pernah menerapkan hukum rajam terhadap putranya sendiri yang bernama
Meurah Pupok yang berzina dengan istri seorang perwira. Kerajaan Aceh Darussalam
mempunyai UUD Islam bernama Kitab Adat Mahkota Alam. Sultan Alaudin dan Iskandar Muda
memerintahkan pelaksanaan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam dan ibadah
puasa secara ketat. Hukuman dijalankan kepada mereka yang melanggar ketentuan. (Musyrifah
Sunanto, 2005).
Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa memiliki jabatan qadi di
Kesultanan yang dijabat oleh Sunan Kalijaga. De Graff dan Th Pigeaud mengakui hal ini. Di
Kerajaan Mataram pertama kali dilakukan perubahan tata hukum di bawah pengaruh hukum
Islam oleh Sultan Agung. Perkara kejahatan yang menjadi urusan peradilan dihukumi menurut
kitab Kisas, yaitu kitab undang-undang hukum Islam pada masa Sultan Agung.
Dalam bidang ekonomi Sultan Iskandar Muda mengeluarkan kebijakan pengharaman
riba. Menurut Alfian, deureuham adalah mata uang Aceh pertama. Istilah deureuham dari bahasa
Arab dirham. Selain itu Kesultanan Samudera Pasai pada masa pemerintahan Sultan
Muhammad Malik az-Zahir (1297/1326) telah mengeluarkan mata uang emas. (Ekonomi Masa
Kesultanan; Ensiklopedia Tematis Dunia Islam: Khilafah dalam bagian Dunia Islam Bagian
Timur, PT. Ichtiar Baru Vab Hoeve, Jakarta. 2002).

Hubungan Nusantara dengan Khilafah Islam

Peta perkembangan wilayah Khilafah Turki Utsmani (indonesia.faithfreedom.org)


Di samping penerapan Syariah Islam, hubungan Nusantara dengan Khilafah Islam pun
terjalin. Pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim
surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah. Sang Raja meminta
dikirimi dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M,
Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan
nama Sribuza Islam. (Ayzumardi Azra, 2005).
Sebagian pengemban dakwah Islam juga merupakan utusan langsung yang dikirim oleh
Khalifah melalui amilnya. Tahun 808H/1404M adalah awal kali ulama utusan Khalifah Muhammad
I ke Pulau Jawa (yang kelak dikenal dengan nama Walisongo). Setiap periode ada utusan yang
tetap dan ada pula yang diganti. Pengiriman ini dilakukan selama lima periode. (Rahimsyah,
Kisah Wali Songo, t.t., Karya Agung Surabaya, hlm. 6).
Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh
mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19
kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun
hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.
Hubungan ini tampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan. Abdul Qadir
dari Kesultanan Banten, misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir
Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu. Pangeran Rangsang dari
Kesultanan Mataram memperoleh gelar sultan dari Syarif Makkah tahun 1051 H (1641 M) dengan
gelar, Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. (Ensiklopedia Tematik Dunia Islam Asia
Tenggara, 2002). Bahkan Banten sejak awal memang menganggap dirinya sebagai Kerajaan
Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki

Utsmani di Istanbul. (Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Struktur Politik dan Ulama: Kesultanan
Banten, 2002).
Selain itu, Snouck Hurgrounye, sebagaimana yang dikutip oleh Deliar Noer,
mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, melihat stambol
(Istanbul, ibukota Khalifah Usmaniyah) senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang
Mukmin dan tetap (dipandang) sebagai raja dari segala raja di dunia. (Deliar Noer, 1991).
Dokumen Penting Hubungan Nusantara dengan Khilafah Islam

Peta Kesultanan Aceh Darussalam (abad ke-16)


Sejarah Islam Nusantara saat ini sangat susah mendapatkan bukti otentik bahwa benar
adanya bahwa Nusantara adalah wilayah ke Khalifahan Islam. Sangat susah menemukan bukubuku sejarah mengungkap hal ini seolah-olah sengaja menghilangkan fakta ini. Tapi sejarah yang
benar pasti akan terungkap. Berikut bukti otentik yang dapat membuktikan hal tersebut. Bukti ini
berupa surat resmi dari sultan Aceh Alauddin Mahmud Syah kepada Khalifah Abdul Aziz dari kekhalifahan Turki Usmani, berikut isi suratnya;
Sesuai dengan ketentuan adat istiadat kesultanan Aceh yang kami miliki dengan batasbatasnya yang dikenal dan sudah dipunyai oleh moyang kami sejak zaman dahulu serta sudah
mewarisi singgasana dari ayah kepada anak dalam keadaan merdeka. Sesudah itu kami
diharuskan memperoleh perlindungan Sultan Salim si penakluk dan tunduk kepada pemerintahan
Ottoman dan sejak itu kami tetap berada di bawah pemerintahan Yang Mulia dan selalu bernaung
di bawah bantuan kemuliaan Yang Mulia almarhum sultan Abdul Majid penguasa kita yang
agung, sudah menganugerahkan kepada almarhum moyang kami sultan Alaudddin Mansursyah
titah yang agung berisi perintah kekuasaan.
Kami juga mengakui bahwa penguasa Turki yang Agung merupakan penguasa dari
semua penguasa Islam dan Turki merupakan penguasa tunggal dan tertinggi bagi bangsa-

bangsa yang beragama Islam. Selain kepada Allah SWT, penguasa Turki adalah tempat kami
menaruh kepercayaan dan hanya Yang Mulialah penolong kami. Hanya kepada Yang Mulia dan
kerajaan Yang Mulialah kami meminta pertolongan rahmat Ilahi, Turkilah tongkat lambang
kekuasaan kemenangan Islam untuk hidup kembali dan akhirnya hanya dengan perantaraan
Yang Mulialah terdapat keyakinan hidup kembali di seluruh negeri-negeri tempat berkembangnya
agama Islam. Tambahan pula kepatuhan kami kepada pemerintahan Ottoman dibuktikan dengan
kenyataan, bahwa kami selalu bekerja melaksanakan perintah Yang Mulia. Bendera negeri kami,
Bulan Sabit terus bersinar dan tidak serupa dengan bendera manapun dalam kekuasaan
pemerintahan Ottoman; ia berkibar melindungi kami di laut dan di darat. Walaupun jarak kita
berjauhan dan terdapat kesukaran perhubungan antara negeri kita namun hati kami tetap dekat
sehingga kami telah menyetujui untuk mengutus seorang utusan khusus kepada Yang Mulia,
yaitu Habib Abdurrahman el Zahir dan kami telah memberitahukan kepada beliau semua rencana
dan keinginan kami untuk selamanya menjadi warga Yang Mulia, menjadi milik Yang Mulia dan
akan menyampaikan ke seluruh negeri semua peraturan Yang Mulai.
Semoga Yang Mulai dapat mengatur segala sesuatunya sesuai dengan keinginan Yang
Mulia. Selain itu kami berjanji akan menyesuaikan diri dengan keinginan siapa saja Yang Mulia
utus untuk memerintah kami.
Kami memberi kuasa penuh kepada Habib Abdurrahman untuk bertindak untuk dan atas
nama kami.
Yang Mulia dapat bermusyawarah dengan beliau karena kami telah mempercayakan
usaha perlindungan demi kepentingan kita.
Semoga harapan kami itu tercapai. Kami yakin, bahwa Pemerintah Yang Mulia
Sesungguhnya dapat melaksanakannya dan kami sendiri yakin pula,bahwa Yang Mulia akan
selalu bermurah hati.
Petikan isi surat tersebut dikutip dari Seri Informasi Aceh th.VI No.5 berjudul Surat-surat
Lepas Yang Berhubungan Dengan Politik Luar Negeri Kesultanan Aceh Menjelang Perang
Belanda di Aceh diterbitkan oleh Pusat Dokumentasi Dan Informasi Aceh tahun 1982
berdasarkan buku referensi dari A. Reid, Indonesian Diplomacy a Documentary Study of
Atjehnese Foreign Policy in The Reign of Sultan Mahmud 1870-1874, JMBRAS, vol.42,
Pt.1, No.215, hal 80-81 (Terjemahan : R. Azwad).

Poin-poin penting isi surat diatas sebagai berikut :

1. Wilayah Aceh secara resmi menjadi bagian dari ke-Khalifahan Usmani sejak
pemerintahan Sultan Salim (Khalifah Turki Usmani yang sangat ditakuti dan disegani sehingga
digelas sang Penakluk oleh Eropah abad 15 M.
2. Pengakuan penguasa semua negeri-negeri kaum Muslimin bahwa Turki Usmani adalah
penguasa tunggal dunia Islam.
3. Adanya perlindungan dan bantuan militer dari Turki Usmani terhadap Aceh di laut dan
di darat. Hal ini wajar karena fungsi Khalifah adalah laksana perisai pelindung ummat di setiap
wilayah Islam.
4. Hukum yang berlaku di Aceh adalah hukum yang sama dilaksanakan di Turki Usmani
yaitu hukum Islam.
Dari isi surat dapat disimpulkan bahwa kesultanan Aceh di Sumatera adalah bagian resmi
wilayah kekuasaan ke khalifahan Islam Turki Usmani tidak terbantahkan lagi. Hal sama juga
berlaku untuk daerah-daerah lain di Nusantara dimana kesultanan Islam berdiri.
Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Penerapan Syariah Islam di Indonesia
Pada masa penjajahan, Belanda berupaya menghapuskan penerapan syariah Islam oleh
hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan
Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye. Dia
menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama. (H. Aqib
Suminto, 1986).
Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan
menghancurkan Islam dengan 3 cara,yaitu:
Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah
kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan
Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti
dengan peraturan kolonial.
Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di
Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di
Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin
Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.
Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah.
Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor
agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi
(UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck
Hurgronye. Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar
politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang
menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang
mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923,
yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan
sebagai sekolah liar. (H. Aqib Suminto, 1986).
Demikianlah, syariah Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum
sekular. Hukum-hukum sekular ini terus berlangsung hingga sekarang. Walhasil, tidak salah jika
dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari

penjajah; sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka
dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda.
Perjuangan Tak Pernah Padam
Meski penjajah Belanda menuai sukses besar dalam menghapus syariah Islam di bumi
Nusantara, umat Islam di negeri ini tidak pernah diam. Perjuangan untuk menegakkan kembali
syariah Islam terus dilakukan. Pada tanggal 16 Oktober 1905 berdirilah Sarekat Islam, yang
sebelumnya adalah Sarekat Dagang Islam. Inilah mestinya tonggak kebangkitan Indonesia,
bukan Budi Utomo yang berdiri 1908 dengan digerakkan oleh para didikan Belanda. KH Ahmad
Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912 dengan melakukan gerakan sosial dan
pendidikan. Adapun Taman Siswa, baru didirikan Ki Hajar Dewantara pada 1922. Sejatinya, KH
Ahmad Dahlanlah sebagai bapak pendidikan. (H. Endang Saefuddin Anshari, 1983).
Pada saat Pemilu yang pertama tahun 1955, Masyumi adalah partai Islam pertama dan
terbesar yang jelas-jelas memperjuangkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Lahirnya Piagam
Jakarta tanggal 22 Juni 1945 adalah salah satu puncak dari perjuangan umat Islam dalam
menegakkan syariah Islam di Indonesia.
Lebih dari itu, sejarah perjuangan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari agenda
Khilafah Islam. Setelah institusi Khilafah Islam Ustmaniyah dibubarkan pada 3 Maret 1924, ulama
dan tokoh pergerakan Islam Indonesia meresponnya dengan pembentukan Komite Khilafah yang
didirikan di Surabaya pada 4 Oktober 1924, dengan ketua Wondosudirdjo (Sarikat Islam) dan
wakilnya KH A. Wahab Hasbullah (lihat: Bendera Islam, 16 Oktober 1924). Kongres ini
memutuskan untuk mengirim delegasi ke Kongres Khilafah ke Kairo yang terdiri dari Surjopranoto
(Sarikat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah), dan KH. A. Wahab dari kalangan tradisi.
(Hindia Baroe, 9 Januari 1925). KH A. Wahab kemudian dikenal sebagai salah satu pendiri ormas
Islam terbesar di Indonesia, Nahdhatul Ulama.
Pada abad ke 7 Masehi, agama Islam sudah masuk ke wilayah Indonesia. Daerah yang
pertama kali menerima pengaruh Islam ini adalah Samudra Pasai yang letaknya berada di pesisir
Aceh Utara. Pengaruh Islam makin meluas di kalangan masyarakat terutama di daerah pesisir.
Samudra Pasai berkembang sebagai pusat perdagangan dan kerajaan Islam pertama di
Indonesia pada tahun 1285.

Daerah lain yang banyak dikunjungi oleh para pedagang muslim adalah Malaka. Malaka
mempunyai letak yang sangat strategis dalam hubungan perdagangan dan pelayaran Asia Barat,
Asia Selatan, dan Asia Timur. Malaka berkembang menjadi pusat perdagangan terbesar di
kawasan Asia Tenggara. Akibatnya, agama Islam berkembang pesat di wilayah ini. Dari
Malaka, sejarah perkembangan Islam di Indonesia pun dimulai. Islam tersebar luas ke
berbagai wilayah antara lain Pulau Jawa, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat.
Pada tahun 1511, Malaka jatuh ke tangan Portugis. Para pedagang muslim banyak yang
mengalihkan rute perdagangan dan pelayaran. Mereka tidak lagi berdagang di Bandar Malaka.

Para pedagang muslim lebih memilih Aceh sebagai tempat persinggahan perdagangannya. Dari
Aceh mereka melakukan kegiatan perdagangan di sepanjang Pantai Barat Sumatera melewati
Selat Sunda dan akhirnya sampai di Pantai Utara Pulau Jawa. Sampai abad ke 18, agama Islam
sudah tersebar luas di berbagai wilayah di Indonesia, namun belum semua wilayah itu menerima
pengaruh

Islam.

1. Perkembangan Islam di Sumatera


Di wilayah Sumatera, Islam mulai masuk ketika zaman kekuasaan Sriwijaya pada abad
ke 7 Masehi. Ketika Sriwijaya mengalami kemunduran pada abad ke 11, sejarah perkembangan
Islam di Indonesia melaju dengan sangat pesat. Hingga pada abad ke 18, hampir semua wilayah
di pantai Sumatera menerima pengaruh Islam termasuk daerah pedalamannya seperti Batak,
Nias, Mentawai, dan sebagian daerah Bengkulu.

2. Perkembangan Islam di Pulau Jawa


Di wilayah Pulau Jawa, Islam sudah mulai masuk pada abad ke 7 Masehi. Sejarah
perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa mengalami perkembangan pesat
saat Majapahit mulai mengalami kemunduran pada awal abad ke 15 Masehi. Seluruh wilayah di
Pulau Jawa sampai abad ke 18 telah menerima pengaruh Islam. Agama Islam pertama kali
berkembang di daerah pesisir utara Jawa. Kota-kota pelabuhan di daerah pesisisr utara
berkembang menjadi pusat pengembangan islam, antara lain Gresik, Surabaya, Tuban, Jepara,
Demak, Cirebon, dan Banten. Dari pulau Jawa, terutama dari Gresik dan Demak, agama Islam
menyebar

ke

berbagai

wilayah

seperti

Kalimantan,

Sulawesi,

dan

Maluku.

3. Perkembangan Islam di Kalimantan


Di wilayah Kalimantan, Islam mulai masuk pertama kali di Kalimantan Barat (Sukadana)
pada awal abad ke 16 yang dibawa oleh pedagang muslim dari wilayah Sumatera. Di Kalimantan
Selatan, Islam mulai masuk pada tahun 1550 dari Demak, sedangkan di wilayah Kalimantan timur
menerima pengaruh Islam dari Makasar pada tahun 1575. Daerah sepanjang pantai Pulau
Kalimantan sampai dengan abad ke 18 telah menerima pengaruh Islam, sedangkan daerah
pedalamannya belum terpengaruhi sama sekali.
4. Perkembangan Islam di Sulawesi
Di wilayah Sulawesi, pengaruh Islam mulai muncul pada abad ke 16. Wilayah pertama
yang menerima pengaruh Islam adalah Gowa. Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia,
penyebar agama Islam yang terkenal di daerah itu adalah Dato RI Bandan dan Dato Sulaiman.
Dari wilayah Gowa, Islam menyebar ke wilayah Gorontalo. Wilayah Sulawesi Tenggara
mendapat pengaruh Islam dari Ternate. Wilayah di Sulawesi sampai abad ke 18 yang mendapat
pengaruh Islam makin meluas. Hanya wilayah Sulawesi Tengah (Toraja) dan Sulawesi paling
utara-lah yang belum dipengaruhi oleh Islam.
5. Perkembangan Islam di Maluku dan Papua
Wilayah Maluku menerima pengaruh Islam dari Pulau Jawa, terutama dari Gresik pada
pertengahan abad ke 15 Masehi. Islam mulai berkembang di Ternate dan Tidore yang kemudian
menyebar ke berbagai wilayah di Maluku. Pengaruh Islam di Maluku sampai dengan abad ke 18
makin meluas ke berbagai pulau. Namun, Pulau Seram bagian timur dan pulau-pulau sebelah
timurnya belum dipengaruhi Islam.

Selain dipengaruhi Islam, wilayah Maluku juga dipengaruhi oleh agama Kristen yang
sangat kuat. Penyebaran Islam ke wilayah Papua sudah dimualai sejak abad ke 17 namun
mengalami hambatan karena kuatnya kepercayaan lama. Sampai dengan abad ke 18 wilayah
Papua belum dipengaruhi Islam.
6. Perkembangan Islam di Nusa Tenggara
Agama Islam masuk ke wilayah Nusa Tenggara karena dibawa oleh para pedagang Bugis
dari Sulawesi Selatan dan pedagang dari Jawa sejak abad ke 16. Adapun dalam sejarah
perkembangan Islam di Indonesia di daerah sekitar Nusa Tenggara yang paling pesat terjadi di

Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Di Pulau Sumbawa telah bediri kerajaan Islam yang
berpusat di Bima. Di Nusa Tenggara sampai abad ke 18 Islam masih belum banyak berpengaruh
kecuali di kedua pulau itu. Wilayah Indonesia bagian timur seperti Bali, Sumbawa, dan Flores
juga sama.