Anda di halaman 1dari 26

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN MIKROMERITIK
Mikromeritik biasanya diartikan sebagai ilmu dan teknologi tentang partikel
yang kecil. Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Ukuran diameter
rata-rata, ukuran luas permukaan rata-rata, volume rata-rata dan sebagainya.
Pengertian ukuran partikel adalah ukuran diameter rata-rata.
Ilmu pengetahuan dan teknologi tentang partikel-partikel kecil oleh Della Valle
yang dinamakan Mikromeritik. Dispersi koloid mempunyyai sifat karakteristik yaitu
partikel-partikelnya tidak dapat dilihat dibawah mikroskop biasa, sedangkan partikelpartikelnya dari emulsi dan suspensi farmasi serta serbuk halus ukurannya berada
dalam jarak penglihatan mikroskop. Partikel-partikel yang ukurannya sebesar serbuk
kasar, granulat tablet atau granulat garam, ukurannya berada dalam jarak
pengayakan.
Kisaran ukuran kira-kira dari partikel dalam farmasi terdapat dalam tabel
1.1

Tabel 1.1. Dimensi Partikel dalam Sistem Oispersi Farmasetik


Setiap kumpulan partikel biasanya disebut polidispersi. Karenanya perlu untuk
mengetahui tidak hanya ukuran dari suatu partikel tertentu, tapi juga berapa banyak
partikel-partikel dengan ukuran yang sama ada dalam sampel. Jadi kita perlu sutau
perkiraan kisaran ukuran tertentu yang ada dan banyaknya atau berat fraksi dari tiaptiap ukuran partikel, dari sini kita bisa menghitung ukuran partikel rata-rata untuk
sampel tersebut (1)

1.
2.
3.
4.
5.

Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan penting dalam farmasi,
sebab ukuran partikel mempunyai peranan besar dalam pembuatan sediaan obat dan
juga terhadap efek fisiologisnya. (1)
Pentingnya mempelajari mikromiretik, yaitu
Menghitung luas permukaan
kimia dan fisika dalam formulasi obat
Secara teknis mempelajari pelepasan obat yang diberikan secara per oral, suntikan dan
topikal
Pembuatan obat bentuk emulsi, suspensi dan duspensi
Stabilitas obat (tergantung dari ukuran partikel).

Pengetahuan dan pengendalian ukuran, serta kisaran ukuran partikel sangat


penting dalam farmasi. Sehingga luas permukaan dari suatu partikel dapat
dihubungkan secara berarti pada sifat fisika, kimia dan farmakologi dari suatu obat.
Secara klinik ukuran partikel suatu obat dapat mempengaruhi penglepasannya dari
bentuk-bentuk sediaan yang diberikan secara oral, parenteral, rektal dan topikal.
Formulasi yang berhasil dari suspensi, emulsi dan tablet, dari segi kestabilan fisik dan
respon farmakologis, juga bergantung pada ukuran partikel yang dicapai dalam
produk tersebut. Dalam bidang pembuatan tablet dan kapsul, pengendalian ukuran
partikel penting sekali dalam mencapai sifat aliran yang diperlukan dan pencampuran
yang benar dari granul dan serbuk. Hal ini membuat seorang farmasis kini harus
mengetahuhi pengetahuan mengenai mikromimetik yang baik .
B. UKURAN PARTIKEL DAN DISTRIBUSI UKURAN
Dalam suatu kumpulan partikel lebih dari satu ukuran (polidispers), dua sifat
penting yaitu :
a. Bentuk dan luas partikel
b. Kisaran ukuran dan banyaknya atau berat partikel-partikel yang ada dan karenanya
luas permukaan total
Ukuran dari suatu bulatan dengan segera dinyatakan dalam garis tengahnya.
Tetapi, begitu derajat ketidaksimetrisan dari partikel naik, bertambah sulit pula
menyatakan ukuran dalam garis tengah yang berrti. Dalam keadaan seperti ini, tidak
ada garis tengah yang unik untuk suatu partikel. Makanya harus dicari jalan untuk
menggunakan suatu garis tengah buatan yang ekuivalen, yang menghubungkan ukuran
partikel dan garis tengah bulatanyang mempunyai luas permukaan, volume dan garis
tengah yang sama. Jadi garis tengah permukaan / d 3 adalah garis tengah suatu bulatan
yang mempunyai luas permukaan yang sama seperti partikel yang diperiksa. Garis
tengah suatu bulatan yang mempunyai volume yang sama seperti partikel adalah garis
tengh volume / dv. (2)
Garis tengah yang diproyeksikan /dp adalah garis tengah suatu bulatan yang
mempunyai luas pengamatan yang sama seperti partikel bila dipandang tegak lurus ke
bidangnya yng paling stabil.Ukuran tersebut bisa juga dinyatakan sebagai garis
tengah Stokes, dst, yaitu garis tengah suatu bulatan yang mengalami sedimentasi pada
laju yang sama seperti partikel tidak simetris tersebut. Selalu jenis garis tengah yang
digunakan mencerminkan metode yang dipakai untuk memproleh garis tengah
tersebut. Seperti akan terlihat kemudian, garis tengah yang diproyeksikan didapatkan
dengan teknik mikroskopik, sedang garis tengah Stokes ditentukan dari penelitian
sedimentasi pada partikel-partikel tersuspensi. (2)
Setiap kumpulan partikel biasanya disebut polidispersi. Karenanya perlu untuk
mengetahui tidak hanya ukuran dari suatu partikel tertentu, tapi juga berapa banyak
partikel-partikel dengan ukuran yang sama ada di dalam sampel. Jadi kita perlu suatu
perkiraan kisaran ukuran yang ada dan banyaknya atau berat fraksi dari tiap-tiap
ukuran partikel. Ini adalah distribusi ukuran partikel, dan dari sini kita bisa
menghitung ukuran partikel rata-rata untuk sampel tersebut. (2)
Ukuran Partikel Rata-rata, Misalkan kita telah melakukan suatu pemeriksaan
mikroskopik dari suatu sampel serbuk dan mencatat banyaknya partikel yang terletak
dalam berbagai kisaran ukuran. Data penentuan seperti itu ditunjukkan dalam table 52. Untuk membandingkan harga ini dengan harga dari, katakanlah batch kedua dari

bahan yang sama, kita biasanya menghitung suatu garis tengah rata-rata sebagai dasar
untuk perbandingan. (2)
Metode-metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel:
a. Mikroskopi Optik
Menurut metode mikroskopis, suatu emulsi atau suspensi, diencerkan atau tidak
diencerkan, dinaikkan pada suatu slide dan ditempatkan pada pentas mekanik. Di
bawah mikroskop tersebut, pada tempat di mana partikel terlihat, diletakkan
mikrometer untuk memperlihatkan ukuran partikel tersebut. Pemandangan dalam
mikroskop dapat diproyeksikan ke sebuah layar di mana partikel-partikel tersebut
lebih mudah diukur, atau pemotretan bisa dilakukan dari slide yang sudah disiapkan
dan diproyeksikan ke layar untuk diukur .
Kerugian dari metode ini adalah bahwa garis tengah yang diperoleh hanya dari
dua dimensi dari partikel tersebut, yaitu dimensi panjang dan lebar. Tidak ada
perkiraan yang bisa diperoleh untuk mengetahui ketebalan dari partikel dengan
memakai metode ini. Tambahan lagi, jumlah partikel yang harus dihitung (sekitar 300500) agar mendapatkan suatu perkiraan yang baik dari distribusi , menjadikan metode
tersebut memakan waktu dan jelimet. Namun demikian pengujian mikroskopis dari
suatu sampel harus selalu dilaksanakan, bahkan jika digunakan metode analisis ukuran
partikel lainnya, karena adanya gumpalan dan partikel-partikel lebih dari satu
komponen seringkali bisa dideteksi dengan metode ini (3).
b. Pengayakan
Suatu metode yang paling sederhana, tetapi relatif lama dari penentuan ukuran
partikel adalah metode analisis ayakan. Di sini penentunya adalah pengukuran
geometrik partikel. Sampel diayak melalui sebuah susunan menurut meningginya
lebarnya jala ayakan penguji yang disusun ke atas. Bahan yang akan diayak dibawa
pada ayakan teratas dengan lebar jala paling besar. Partikel, yang ukurannya lebih
kecil daripada lebar jala yang dijumpai, berjatuhan melewatinya. Mereka membentuk
bahan halus (lolos). Partikel yang tinggal kembali pada ayakan, membentuk bahan
kasar. Setelah suatu waktu ayakan tertentu (pada penimbangan 40-150 g setelah kirakira 9 menit) ditentukan melalui penimbangan, persentase mana dari jumlah yang
telah ditimbang ditahan kembali pada setiap ayakan (3).
c.

Dengan cara sedimentasi


Cara ini pada prinsipnya menggunakan rumus sedimentasi Stocks.

Dasar untuk metode ini adalah Aturan Stokes:

d=

Metode yang digunakan dalam penentuan partikel cara sedimentasi ini adalah
metode pipet, metode hidrometer dan metode malance.(6).
Partikel dari serbuk obat mungkin berbentuk sangat kasar dengan ukuran
kurang lebih 10.000 mikron atau 10 milimikron atau mungkin juga sangat halus

mencapai ukuran koloidal, 1 mikron atau lebih kecil. Agar ukuran partikel serbuk ini
mempunyai standar, maka USP menggunakan suatu batasan dengan istilah very
coarse, coarse, moderately coarse, fine and very fine, yang dihubungkan dengan
bagian serbuk yang mempu melalui lubang-lubang ayakan yang telah distandarisasi
yang berbeda-beda ukurannya, pada suatu periode waktu tertentu ketika diadakan
pengadukan dan biasanya pada alat pengaduk ayakan secara mekanis (2).
C. BENTUK PARTIKEL DAN LUAS PERMUKAAN
Pengetahuan mengenai bentuk partikel dan luas pemukaan sangat diperlukan.
Bentuk partikel mempengaruhi aliran dan sifat-sifat pengemasan dari suatu serbuk,
juga mempunyai beberapa pengaruh terhadap luas permukaan. Luas permukaan per
satuan berat atau volume merupakan suatu karakteristik serbuk yang penting jika kita
akan mempelajari adsorpsi permukaan dan laju disolusi.
1.1 Bentuk Partikel
Suatu bola mempunyai luas permukaan minimum per satuan volume. Makin
tidak simetris suatu partikel, makin besar luas permukaan per satuan volumenya.
Seperti telah dibicarakan sebelumnya, suatu partikel berbentuk bola diberi ciri
sempurna dengan garis tengahnya. Jika partikel menjadi lebih tidak simetris,
semakain sulit untuk menetapkan garis tengah yang berarti bagi partikel tersebut. Oleh
karena itu seperti telah kita lihat, perlu sekali garis tengah bola ekuivalen dengan
partikel tersebut. Adalah suatu hal yang mudah untuk memperoleh luas permukaan
atau volume dari suatu bola, karena untuk partikel seperti itu :
luas permukaan = d2 (9) dan
volume = d3 / 6 (10)
Dimana d adalah garis tengah (diameter) partikel. Oleh karena itu luas
permukaan dan volume dari partikel bulat (berbentuk bola) berbanding lurus dengan
garis tengah kuadrat (d2) dan garis tengah pangkat tiganya (d3). Namun demikian
untuk mendapatkan suatu perkiraan dari luas permukaan atau voume suatu partikel
(atau sekumpulan partikel) yang bentuknya tidak bulat, seseorang harus memilih suatu
garis tengah yang merupakan karakteristik dari partikel tersebut dab menghubunkan
garis tengah ini dengan luas permukaan atau volumenya, dengan menggunakan suatu
faktor koreksi. Misalkan partikel-partikel tersebut dilhat di bawah mikroskop, dan
diingikan untuk menghitung luas permukaan dan voume dari garis tengah yang
diproyeksikan, dp, dari partikel tersebut. Kuadrat atau pangkat tiga dari dimensi yang
dipilih ini (dalam hal ini dp) berturut-turut sebanding dengan luas permukaan dan
volume. Dengan memakai konstanta perbandingan, maka kita dapat menuliskan :
luas permukaan = sdp2 = ds2
(11)
Dimana s adalah faktor luas permukaan dan ds adalah diameter permukaan
ekivalen (equivalent surface diameter)
Untuk volume kita tuliskan :
Volume = vdp3 =
(12)

Dimana v adalah faktor volume dan dv adalah diameter volume ekivalen. Faktor
bentuk dari luas permukaan dan volume dalam kenyataannya adalah perbandingan
dari garis tengah yang satu dengan garis tengah yang lainnya.
2.1 Luas Permukaan Spesifik

Luas permukaan spesifik adalah luas permukaan per satuan volume (Sv) atau per
satuan berat (Sw) dan bisa diturunkan dari persamaan (11) dan (12).
3.1 Metode Untuk Menentukan Luas Permukaan
Luas permukaan suatu sampel serbuk dapat dihitung dari hasil distribusi ukuran
partikel yang diperoleh dengan menggunakan salah satu metode yang telah dibicarakan
diatas.Ada dua metode yang biasa digunakan untuk menghitung luas permukaan
secara langsung.
Metode pertama, didasarkan atas jumlah gas atau solut dari cairan yang
diabsorpsi pada sampel serbuk untuk membentuk lapisan tunggal (monolayer) yang
merupakan fungsi langsung dari luas permukaan.
Metode kedua berdasarkan pada kenyataan, bahwa kecepatan gas atau cairan
merembes (fermeasi) melalui suatu bentangan (bed) serbuk yang berhubungan dengan
luas permukaan serbuk tersebut.
a) Ukuran pori
Bahan-bahan yang mempunyai luas spesifik tingi bisa mempunyai retakanretakan dan pori-pori yang mengabsorpsi gas dan uap, seperti air, ke dalam selaselanya. Serbuk obat yang relatif tidak larut dalam air bisa melarut lebih atau kurang
cepat dalam medium air bergantung pada absorpsinya terhadap kelembaban atau
udara.
Cara untuk mengukur pori yakni :
Penggunaan aseton sehingga meningkatkan absorpsi air dan jumlah tempat untuk
serapan air.
Menggunakan alat Permeabilitas udara sehingga dapat diperoleh garis tengah poripori rata-rata dari tablet.
b) Sifat sifat turunan serbuk
Telah dibicarakan sebelumya tertama berhubungan dengan distribusi ukuran dan
luas permukaan serbuk, ini merupakan dua sifat dasar dari tiap kmpulan partikel.
Sebagai tambahan pada dua sifat tersebut, ada banyak sifat turunan yang
berhubungan dengan farmasi, sebagai berikut :
Porisitas
Misalkan suatu serbuk sebagai contoh zink oksid, ditempatkan dalam glas ukur
dan volume totalnya dicatat. Volume yang ditempatkan dikenal sebagai volume
bulk,Vb. Jika serbuk tidak berpori, yakni tidak mempunyai pori-pori dalam (pori-pori
internal) atau ruang kapiler, voume serbuk bulk terdiri dari volume partikel-partikel
padat sebenarnya ditambah volume ruang antara partikel-partikel tersebut. Volume
ruang tersebut dikenal sebagai volume rongga v, diberikan oleh persamaan :
v = Vb Vp
Dimana Vp adalah volume sebenarnya dari partikel-partikel tersebut.
Kerapatan Partikel
Kerapatan partikel-partikel dalam suatu keadaan tertentu dapat keras atau lunak
dan dalam keadaan ain kasar atau seperti spon, mk hendakya hati-hati dalam
menyatakan kerapatannya. Kerapatan secara universal didefinisikan sebagai bobot per
satuan volume. Kesukaran timbul jika seseorang mau menentukan volume partikel
yang mengandung microscopic cracks, pori-pori internal dan ruang-ruang kapler.
Pada umumnya dapat didefinisikan tiga tipe kerapatan yaitu :

(a) kerapatan sesungguhnya dari bahanya sendiri tidak termasuk void-void dan poripori interpartike yang lebih besar dari dimensi molekuler atau dimensi atomik di dalm
kisi-kisi kristal.
(b) Kerapatan granular seperti yang ditentukan dengan jalan pemindahan mercuri
yang tidak merembes pada tekanan-tekanan biasa didalam pori-pori yang lebih kecil
dari 10 mikron.
(c) Kerapatan bulk serbuk seperti yang ditentkan dari volume bulk dn bobr suatu
serbuk kering di dalam gelas ukur silindris.
Bilamana zat padat tidak porous, maka kerapatan sesungguhnya dan kerapatan
granulya adalah identik dan dua-duanya dapat diperoleh dengan jalan memindahkan
helium atau zat cair seperti mercuri, benzena atau air.
c) Sifat alir Serbuk
Serbuk bulk agak analog dengan cairan non-Newton yang menunjukkan aliran
plasik dan kadang-kadang aliran dilatan, diamana partikel-partikelnya dipengaruhi
daya tarik menarik sampai derajat yang bervariasi. Oleh karena itu serbuk bisa jadi
mengalir bebas (free-flowing) atau melekat. Neumann telah membicarakan faktorfaktor yang mempengaruhi sifat aliran dari serbuk. Terutama yang jelas adalah ukuran
partikel, porositas dan kerapatan, dan kehalusan permukaan. Akan halnya partikelpartikel yang relatif kecil (kurang dari 10 m), aliran partikel melalui lubang dihambat
karena gaya lekat (kohesif) antar partikel kurang lebih sama dengan gaya gravitasi.
Karena gaya gravitasi ini merupakan fungsi dari diameter pangkat tiga, maka
pengaruh gravitasi akan menjadi lebih jelas jika ukuran partikel bertambah sehingga
terjadilah aliran. Kecepatan alir maksimum dapat tercapai, kemudian berkurang jika
ukuran partikel mendekati ukuran lubang. Jika serbuk mengandung partikel-partikel
kecil yang jumlahnya cukup banyak, sifat alir serbuk itu dapat diperbaiki dengan
menghilangkan fines atau mengabsorpsinya pada partikel-partikel yang lebih besar.
Kadang-kadang aliran yang jelek disebabkan adanya kelembaban, dalam hal ini
pengeringan partikel akan mengurangi sifat kohesifnya

BAB II
KESIMPULAN
1. Mikromeritik adalah suatu ilmu dan teknologi yang mempelajari tentang partikel yang
kecil
2. Metode yang digunakan untuk menentukan ukuraan partikel adalh metode mikroskopi
optik, pengayakan,dan pengukuran volume partikel
3. Sifat sifat dari turunan serbuk diantaranya adalah porositas dan kerapatan partikel

Kelarutan
Dasar Teori
Fenomena distribusi adalah suatu fenomena dimana distribusi suatu senyawa antara
dua fase cair yang tidak saling bercampur, tergantung pada interaksi fisik dan kimia
antara pelarut dan senyawa terlarut dalam dua fase yaitu struktur molekul. (Anonim,
2013)
Faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena distribusi adalah pengaruh
sifat kelarutan bahan obat terhadap distribusi menunjukkan antara lain bahwa senyawa
yang larut baik dalam bentuk lamak terkonsentrasi dalam jaringan yang mengandung
banyak lemak sedangkan sebaliknya zat hidrofil hampir tidak diambil oleh jaringan lemak
karena itu ditentukan terutama dalam ekstrasel (Ernest, 1999 ).
Pengaruh distribusi telah disebut pengaruh obat artinya membawa bahan
obat terarah kepada tempat kerja yang diinginkan dari segi terapeutik kita
mengharapkan distribusi dapat diatur artinya konsentrasi obat pada tempat kerja lebih
besar dari pada konsentrasi di tempat lain pada organisme, walaupun demikian
kemungkinan untuk mempengaruhi pada distribusi dalam bentuk hal kecil, pada
kemoterapi tumor ganas sebagian dicoba melalui penyuntikan atau infus sitostatika ke
dalam arteri memasok tumor untuk memperoleh kerja yang terarah (Ernest, 1999).
Koefisien partisi minyak-air adalah suatu petunjuk sifat lipofilik atau
hidrofobik dari molekul obat. Lewatnya obat melalui membran lemak dan interaksi
dengan makro molekul pada reseptor kadang-kadang berhubungan baik dengan
koefisien partisi oktanol/air dari obat (Martin, 1999)
Koefisien partisi (P) menggambarkan rasio pendistribusian obat kedalam
pelarut sistem dua fase, yaitu pelarut organik dan air. Bila molekul semakin larut lemak,
maka koefisien partisinya semakin besar dan difusi trans membran terjadi lebih mudah.
Tidak boleh dilupakan bahwa organisme terdiri dari fase lemak dan air, sehingga bila
koefisien partisi sangat tinggi ataupun sangat rendah maka hal tersebut merupakan
hambatan pada proses difusi zat aktif (Ansel, 1989)
Suatu pengukuran lipofilisitas obat dari suatu indikasi dari kemampuannya
untuk melewati membran sel adalah koefisien partisi minyak/air dalam sistem-sistem
seperti oktanol/air dan kloroform/air. Koefisien partisi didefinisikan sebagai perbandingan
obat yang tidak terion antar fase organik dan fase air pada kesetimbangan.
(Lachman,L.,1986)
Koefisien partisi tergantung pada suhu, bukan merupakan fungsi konsentrasi
absolute zat atau volume kedua fase tersebut (Martin, 1990)

Koefisien partisi dari obat juga tergantung pada polaritas dan ukuran dari
molekul. Obat dengan momen dipol yang tinggi, walaupun tidak terionisasi, mempunyai
kelarutan dalam lemak rendah, dan oleh karena itu sedikit terpenetrasi. Ionisasi bukan
saja mengurangi kelarutan dalam lemak sangat besar tetapi juga menghalangi
perlintasan melewati membran yang bermuatan Umumnya koefisien partisi lemak / air
dari suatu molekul merupakan indeks yang berguna dalam kecenderungan untuk
absorpsi oleh difusi pasif (Gandjar, 2007).
Pelarut secara umum dibedakan atas dua pelarut, yaitu pelarut air dan
bukan air. Salah satu ciri penting dari pelarut tetapan dielektriknya (E), yaitu gaya yang
bekerja antara dua muatan itu dalam ruang hampa dengan gaya yang bekerja pada
muatan itu dalam dua pelarut. Tetapan ini menunjukkan sampai sejauh mana tingkat
kemampuan melarutkan pelarut tersebut. Misalnya air dengan tetapan dielektriknya
yang tinggi (E = 78,5) pada suhu 25oC, merupakan pelarut yang baik untuk zat-zat yang
bersifat polar, tetapi juga merupakan pelarut yang kurang baik untuk zat-zat non polar.
Sebaliknya, pelarut yang mempunyai tetapan dielektrik yang rendah merupakan pelarut
yang baik untuk zat non polar dan merupakan pelarut yang kurang baik untuk zat
berpolar (Rifai, 1995).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi distribusi zat dalam larutan, yaitu :
1. Temperatur, kecepatan berbagai reaksi bertambah kira-kira 2 atau 3 tiap
kenaikan suhu 10oC.
2. Kekuatan Ion, semakin kecil konsentrasi suatu larutan maka laju distribusi
makin kecil.
3. Konstanta Dielektrik, efek konstanta dielektrik terhadap konstanta laju reaksi
ionik diekstrapolarkan sampai pengenceran tak terbatas, yang pengaruh
kekuatan ionnya 0. Untuk reaktan ion yang kekuatannya bermuatan
berlawanan maka laju distribusi reaktan tersebut adalah positif dan untuk
reaktan yang muatannya sama maka laju distribusinya negatif.
4. Katalisis, katalisis dapat menurunkan laju laju distribusi (Katalis negatif).
Katalis dapat juga menurunkan energi aktivitas denganss mengubah
mekanisme reaksi sehingga kecepatan bertambah.
5. Katalis Asam Basa Spesifik, laju distribusi dapat dipercepat dengan
penambahan asam atau basa. Jika laju peruraian ini terdapat bagian yang
mengandung konsentrasi ion hidrogen atau hidroksi.
6. Cahaya Energi, cahaya seperti panas dapat memberikan keaktifan yang
diperlukan untuk terjadi reaksi. Radisi dengan frekuensi yang sesuai dengan
energi yang cukup akan diabsorbsi untuk mengaktifkan molekul molekul
(Cammarata, 1995).
Beberapa pengukuran koefisien partisi dilakukan dengan menggunakan
partisi air dan n-oktanol, karena n-oktanol dalam banyak hal menyerupai membrane
biologis dna juga merupakan model yang baik pada kromatografi fase terbalik. Beberapa
obat mengandung gugus-gugus yang mudah mengalami ionisasi. Oleh Karen itu
koefisien partisi obat-obat ini pada pH tertentu sulit diprediksi terlebih jika melibatkan

lebih dari 1 gugus yang mengalami ionisasi. Meskipun demikian, sering kali, salah satu
gugus dalam satu molekul obat lebih mudah mengalami ionisasi daripada gugus yang
lain pada pH tertentu (Gholib, ibnu, 2007)
Pada umumnya obat-obat bersifat asam lemah atau basa lemah. Jika obat
tersebut dilarutkan dalam air sebagian akan terionisasi. Besarnya fraksi obat yang
terionkan tergantung pada pH larutannya. Obat-obat yang tidak terionkan lebih mudah
larut dalam lipida, sebaliknya yang dalam bentuk ion kelarutannya kecil atau bahkan
praktis tidak larut. Dengan demikian pengaruh pH sangat besar terhadap kecepatan
absorpsi obat yang bersifat asam lemah atau basa lemah (Sardjoko, 1987).

1. Mengapa fenomena kelarutan penting untuk rancangan formulasi?


Karena kelarutan setiap bahan obat tentunya berbeda-beda, ada yang
mudah melarut ada pula yang sukar larut. Menjadi permasalahan ketika bahan
obat misal ingin dibentuk sediaan cair, namun bahan obat tersebut tidak bisa
larut. Dalam keadaan ini diperlukan cara untuk dapat melarutkan bahan obat
tersebut, karena bahan obat untuk dapat mencapai efek terapetik harus terlarut
dan terdistribusi dalam partikel kecil atau halus yang nantinya akan
memudahkan absorpsi bahan aktif obat. Untuk itu dibutuhkan faktor pendukung
untuk memudahkan bahan obat tersebut untuk dilarutkan yang nantinya tujuan
akhirnya melahirkan rancangan formulasi obat hingga terbentuk sediaan obat.
Diantaranya yang dapat mempengaruhi kelarutan adalah :
1. Interaksi solut dan solven
2. pH
3. Tekanan
4. Suhu
5. Pengaruh bentuk dan ukuran partikel
6. Pengaruh konstanta dielektrik
Sehingga sangat penting untuk mengetahui fenomena kelarutan suatu
bahan obat untuk menentukan rancangan formulasi obat dalam hal ini untuk
mencapai maksimum pencapaian efek farmakologisnya.
2. Apa yang menjadi hambatan pada pembuatan sediaan larutan
farmasetika?
Beberapa hambatan dalam pembuatan sediaan larutan farmasetika adalah
salah satunya adanya interaksi antar molekul bahan obat yang memiliki
perbedaan sifat secara fisika dan kimia.
Sifat fisika misalnya kadar kelarutan yang berbeda pada suhu tertentu.
Sedangkan sifat kimia misalnya sifat kelarutan antara bahan obat dengan bahan
obat yang lainnya atau bahan obat dengan pelarut dimana bahan obat yang

bersifat polar akan mudah larut dalam bahan obat dan pelarut yang bersifat
polar. Sedangkan bahan obat non polar juga akan mudah berinteraksi dengan
bahan obat lain atau pelarut yang memiliki sifat non polar. Selain itu adanya
kombinasi bahan obat yang memiliki kinerja sinergis dan antagonis sehingga
dibutuhkan ilmu pengetahuan untuk memilih bahan-bahan obat untuk sediaan
farmasetika dengan melihat sifat daripada bahan-bahan obat tersebut.
3. Bagaimana dengan istilah kelarutan like dissolve like?
Like dissolve like yaitu suatu zat akan terlarut sempurna di dalam
pelarutnya jika keduanya memiliki kepolaran yang sama untuk memprediksi
kelarutan.
4. Bagaimana cara meningkatkan kelarutan obat dalam air?
Cara Meningkatkan Kelarutan
1. Pembentukan Kompleks
Gaya antar molekuler yang terlibat dalam pembentukan kompleks
adalah gaya van der waals dari dispersi, dipolar dan tipe dipolar diinduksi.
Ikatan hidrogen memberikan gaya yang bermakna dalam beberapa kompleks
molekuler dan kovalen koordinat penting dalam beberapa kompleks logam.
Salah satu faktor yang penting dalam pembentukan kompleks molekuler
adalah persyaratan ruang. Jika pendekatan dan asosiasi yang dekat dari molekul
donor dan molekul akseptor dihalangi oleh faktor ruang, kompleks akan atau
mungkin berbentuk ikatan hidrogen dan pengaruh lain harus dipertimbangkan.
Polietilen glikol, polistirena, karboksimetil-selulosa dan polimer sejenis
yang mengandung oksigen nukleofilik dapat berbentuk kompleks dengan
berbagai obat. Semakin stabil kompleks organik molekuler yang terbentuk,
makin besar reservoir obat yang tersedia untuk pelepasan. Suatu kompleks yang
stabil menghasilkan laju pelepasan awal yang lambat dan membutuhkan waktu
yang lama untuk pelepasan sempurna.
Cara ini membuat pentingnya pembuatan kompleks molekuler. Dibawah
kompleks ini diartikan senyawa yang antara lain terbentuk melalui jembatan
hidrogen atau gaya dipol-dipol, juga melalui antar aksi hidrofob antar bahan
obat yang berlainan seperti juga bahan obat dan bahan pembantu yang dipilih.
Pembentukan kompleks sering dikaitkan dengan suatu perubahan sifat
yang lebih penting dari bahan obat, seperti ketetapan dan daya resorbsinya,
sehingga dalam setiap kasus diperlukan suatu pengujian yang cermat dan cocok.
Pembentukan kompleks sekarang banyak dijumpai penggunaannya untuk
perbaikan kelarutan, akan tetapi dalam kasus lain juga dapat menyebabkan
suatu perlambatan kelarutan.
2. Penambahan Kosolven
Kosolven adalah pelarut yang ditambahkan dalam suatu sistem untuk
membantu melarutkan atau meningkatkan stabilitas dari suatu zat, cara ini
disebut kosolvensi. Cara ini cukup potensial dan sederhana dibanding beberapa
cara lain yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan stabilitas suatu

3.

bahan. Penggunaan kosolven dapat mempengaruhi polaritas sistem, yang dapat


ditunjukkan dengan pengubahan tetapan dielektrikanya.
Kosolven seperti etanol, propilen glikol, polietilen glikol dan glikofural
telah rutin digunakan sebagai zat untuk meningkatkan kelarutan obat dalam
larutan pembawa berair. Pada beberapa kasus, penggunaan kosolven yang tepat
dapat meningkatkan kelarutan obat hingga beberapa kali lipat, namun bisa juga
peningkatan kelarutannya sangat kecil, bahkan dalam beberapa kasus
penggunaan kosolven dapat menurunkan kelarutan solut dalam larutan berair.
Efek peningkatan kelarutan terutama disebabkan oleh polaritas obat terhadap
solven (air) dan kosolven. Pemilihan sistem kosolven yang tepat dapat
menjamin kelarutan semua komponen dalam formulasi dan meminimalkan
resiko pengendapan karena pendinginan atau pengenceran oleh cairan darah.
Akibatnya, hal ini akan mengurangi iritasi jaringan pada tempat administrasi
obat.
Penambahan Surfaktan
Surfaktan atau zat aktif permukaan adalah molekul yang struktur kimianya
terdiri dari dua bagian dan mempunyai perbedaan afinitas terhadap berbagai
pelarut yaitu bagian hidrofobik dan hidrofilik. Bagian hidrofobik terdiri dari
rantai panjang hidrokarbon terhalogenasi atau teroksigenasi, bagian ini
mempunyai afinitas terhadap minyak atau pelarut non polar, sedangkan bagian
hidrofilik dapat berupa ion, gugus polar, atau gugus-gugus yang larut dalam air.
Oleh karena itu surfaktan seringkali disebut ampifil karena mempunyai afinitas
tertentu baik terhadap pelarut polar maupun non polar. Surfaktan secara
dominan terhadap hidrofilik, hidrofobik atau berada di antara minyak air.
Ampifilik merupakan sifat dari surfaktan yang menyebabkan zat
terabsorpsi pada antarmuka, apakah cair/gas, atau cair/cair.
Agar surfaktan terpusat pada antarmuka, harus diimbangi dengan jumlah
gugus-gugus yang larut air dan minyak. Bila molekul terlalu hidrofilik atau
hidrofobik maka tidak akan memberikan efek pada antarmuka. Adsorpsi
molekul surfaktan di permukaan cairan akan menurunkan tegangan permukaan
dan adsorpsi di antara cairan akan menurunkan tegangan antarmuka.
Penggunaan surfaktan pada kadar yang lebih tinggi akan berkumpul
membentuk agregat yang disebut misel. Selain itu pada pemakaiannya dengan
kadar tinggi sampai Critical Micelle Concentration (CMC) surfaktan
diasumsikan mampu berinteraksi kompleks dengan obat tertentu selanjutnya
dapat pula mempengaruhi permeabilitas membran tempat absorbsi obat karena
surfaktan dan membran mengandung komponen penyusun yang sama. Sifat
terpenting misel adalah kemampuannya untuk menaikkan kelarutan zat-zat yang
biasanya sukar larut atau sedikit larut dalam pelarut yang digunakan. Proses ini
disebut solubilisasi yang terbentuk antara molekul zat yang larut berasosiasi
dengan misel surfaktan membentuk larutan yang jernih dan stabil secara
termodinamika.
Tegangan permukaan adalah gaya persatuan panjang yang harus diberikan

sejajar dengan permukaan cairan untuk mengimbangi tarikan ke dalam.


Tegangan antarmuka adalah gaya persatuan panjang yang terdapat antarmuka
dua fase cair yang tidak bercampur, dan seperti tegangan permukaan
mempunyai satuan dyne/cm. Tegangan antarmuka selalu lebih kecil daripada
tegangan permukaan karena gaya adhesif antar dua fase cair yang membentuk
suatu antarmuka adalah lebih besar daripada bila suatu fase cair dan suatu fase
gas berada bersama-sama. Apabila dua cairan bercampur dengan sempurna,
tidak ada tegangan antarmuka yang terjadi. Surfaktan terbagi menjadi :
a. surfaktan Anionik
Surfaktan yang larut dalam air dan berionisasi menjadi ion negatif dan ion
positif. Ion negatif bertindak sebagai surfaktan misalnya Natrium lauril sulfat.
b. Surfaktan Kationik
Surfaktan yang larut dalam air, berionisasi menjadi ion negatif dan ion
positif. Ion postif bertindak sebagai surfaktan, misalnya N-setil n-etil morfolium
etosulfat.
c. Surfaktan Amfoter
Surfaktan yang molekulnya bersifat amfoter, misalnya : Asil
aminopropiona, Imidazolinum betaine.
d. Surfaktan Nonionik
Surfaktan non ionik adalah surfaktan yang larut dalam air tetapi tidak
berionisasi, misalnya : tween dan span.
5. Bagaimana pengaruh pH terhadap distribusi (partisi) molekul obat
(preserfatif) dalam sistem emulsi atau solubilisasi misel?
Zat organik yang bersifat asam lemah, dimana kelarutannya sangat
dipengaruhi oleh pH pelarutnya. Kelarutan asam-asam organik lemah seperti
barbiturat dan sulfonamida dalam air akan bertambah dengan naiknya pH
karena terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan basa-basa
organik lemah seperti alkoholida dan anastetika lokal pada umumnya sukar larut
dalam air.
Bila pH larutan diturunkan dengan
penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air.
Jadi pada pH asam, distribusi obat akan merata apabila molekul obat juga
bersifat asam, sedangkan apabila molekul obat bersifat basa, molekul akan
mengendap dan tidak terdistribusi merata. Pada pH basa, distribusi obat akan
merata apabila molekul obat bersifat basa, sedangkan molekut yang bersifat
asam akan mengendap dan tidak terdistribusi secara merata.
6. Apa itu tetapan dielektrik?
Tetapan dielektrik suatu campuran pelarut merupakan hasil penjumlahan
dari tetapan dielektrik masing-masing yang sudah dikalikan dengan % volume
masing-masing komponen pelarut. Adakalanya suatu zat lebih mudah larut
dalam pelarut campuran dibandingkan pelarut tunggalny. Fenomena ini dikenal

7.
1.
2.
3.

dengan istilah co-solvency dan pelarut yang mana dalam bentuk campuran
dapat menaikkan kelarutan suatu zat disebut co-solvent. Etanol, gliserin dan
propilen glikol adalah co-solvent yang umum digunakan dalam bidang farmasi
untuk pembuatan eliksir.
Kenaikan konstanta elektrik mengakibatkan menurunnya konstanta laju
reaksi untuk reaksi antar ion yang berlawanan. Sedang bagi ion yang uatannya
sama, terjadi sebaliknya. Yaitu konstanta elektrik menurun, sedang konstanta
laju reaksi meningkat.
Jelaskan mekanisme larutnya solut dalam solven campuran!
Menurut Langmuir proses kelarutan ada tiga tahap:
Pelepasan molekul dari fase solut pada suhu tertentu
Pembentukan rongga dalam solven yang cukup besar untuk menerima molekul
solut
Akomodasi molekul solut dalam rongga solven

8. Jelaskan mekanisme ikatan hidrogen larut dalam air!


H O
H
HO

H-C-C-OH + H-O
H

H-C-C-O-H------H-O

9. Apa itu intermediet solven?


Intermediet solven merupakan suatu pelarut semi polar yang berfungsi
untuk meningkatkan interaksi gugus solut non polar dalam pelarut polar dengan
cara menginduksi senyawa non polar dengan derajat kebebasan polaritas
tertentu.
Fenomena distribusi

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Fenomena distribusi dan kelarutan sangat penting dipelajari dalam bidang
farmasi karena kelarutan dapat membantu kita untuk memilih medium pelarut yang
cocok untuk obat dan dapat digunakan sebagai uji kemurnian dari obat.Selain itu

kelarutan dapat memberi penjelasan atau informasi mengenai struktur obat dan
gaya antar molekul obat.
Pada dasarnya kelarutan suatu zat bias dipengaruhi oleh jenis pelarut yang
ada dalam larutan, pengaruh pH, temperatur, konstanta dielektrik, bentuk dan
ukuran partikel dan penampang zat-zat lain, disamping itu faktor yang aling penting
dalam kelarutan suatu zat adalah polaritas pelarut, penambahan polar akan
melarutkan lebih baik zat-zat polar, ionik dan begitu pula sebaliknya.
Aplikasi dalam bidang farmasi yaitu obat-obat yang digunakan dalam jangka
panjang dan pendek.Dalam percobaan ini minyak dimisalkan sebagai lemak dalam
tubuh dan air suling sebagai cairan tubuh.Obat yang efeknya panjang akan
tersimpan di dalam lemak yang memiliki durasi dan onset yang lama.Seangkan obat
yang efeknya pendek akan diserap langsung dalam cairan tubuh memiliki durasi dan
onset yang cepat di dalam tubuh.

2. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan koefisien
distribusisuatu zat di dalam minyak dan air..

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Teori Umum
Air adalah pelarut yang baik untuk garam, gula dan senyawa sejeis, sedang
minyak mineral dan benzene biasanya merupakan pelarut untuk zat yang biasanya
hanya sedikit larut dalam air. Penemuan empiris ini disimpulkan dalam pernyataan
like dissolve like. Kelaruta bergantung pada pengaruh kimia, listrik, struktur yang
menyebabkan interaksi timbalm balik zat pelarut dan zat terlarut (Martin, 1999).
Suatu zat dapat larut dalam dua macam pelarut yang keduanya tidak saling
bercampur. Jika ada kelebihan cairan atau suatu zat padat ditambahkan kedalam
campuran dari dua cairan tidak bercampur, zat itu akan mendistribusikan diri
diantara dua fase sehingga masing-masing menjadi jenuh. Jika zat itu ditambahkan
kedalam

pelarut

tidak

bercampur dalam

jumlah

yang

tidak

cukup

untuk

menjenuhkan larutan, maka zat tersebut akan didistribusikan diantara kedua lapisan
dengan konsentrasi tertentu (Mirawati, 2011).
Zat terlarut dapat berada sebagian atau keseluruhan sebagai molekul
terdisolusi dalam ion-ion salah satu fase tersebut. Hukum distribusi ini diginakan
untuk konsentrasi zat yang umum pada kedua fase, yaitu monomer atau molekul
sederhana dari zat tersebut(Martin, 1999 LIAT TAHUNNYA BAE2 DE).
Apabila ditinjau suatu zat tunggal yang terlarut dalam 2 maacm poelarut
cairan yang tidak saling bercampur, maka dalam sistem tersebut tidak akan terjadi
keseimbangan (equilibrium) sebagai berikut :
Zat terlarut
Fase bawah

Zat terlarut luar


Fase atas

Menurut hukum termodinamika, pada keadaan seimbang ini nisbih (ratio)


aktivitas species terlarut dalam kedua fase tersebut disebut hukum distribusi Nerst.
Biasanya aktivitas dapat diganti dengan konsentrasi, sehingga hukum itu dapat
ditulis sebagai berikut : (LITERATUR APA INI DE)
K = Cu
Cl
Dimana : K = Koefisien distribusi
Cu = Koefisien dalam fase atas
Cl = Koefisian dalam fase bawah
Koefisien partisi tergantung pada suhu, bukan merupakan fungsi konsentrasi
absolute zat atau volume kedua fase tersebut (Martin, 1999).
Kelarutan suatu senyawa bergantung pada siat fisika dan kimia zat terlarut
dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH, larutan dan
untuk jumlah yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut (Martin,
1999).
Jika kelebihan cairan atau zat pelarut ditambahkan ke dalma campuran dari
dua cairan tidak bercampur, zat itu akan mendistribusi diri diantara kedua fase
sehingga masing-masing menjadi jenuh. Jika zat itu ditambahkan ke dalam pelarut
tidak tercampur dalam jumlah yang tidak cukup untuk menjenuhkan larutan, maka
zat tersebut tetap berdistribusi di antara kedua lapisan dengan perbandingan
konsentrasi tertentu (Martin, 1999).

Untuk memproduksi suatu respon biologis, molekul obat pertama-tama harus


menyeberangi suatu membran biologis beraksi sebagai suatu pembatas lemak untuk
kebanyakan obat-obat dan mengizinkan absorbsi zat-zat yang larut dalam lemak
dengan difusi pasif sedangkan zat-zat yang tidak larut dalam lemak dapat mendifusi
menyeberangi pembatasan hanya dengan kesulitan yang besar, jika tidak sama
sekali. Hubungan antara konstanta disolusi, kelarutan dalam lemak, dan pH pada
tempat absorbsi serta karakteristik absorbsi dari berbagai obat merupakan dasar
dari teori pH-partisi. Penentuan derajat disosiasi atau harga pKa dari zat obat
merupakan suatu karakteristik fisika-kimia yang relatif penting terhadap evaluasi
dari efek-efek yang mungkin pada absorbsi dari berbagai tempat pemberian
(Ansel,2005).
Koefisien partisi minyak-air adalah suatu petunjuk sifat lipofilik atau hidrofobik
dari molekul obat. Lewatnya obat melalui membran lemak dan interaksi dengan
makro molekul pada reseptor kadang-kadang berhubungan baik dengan koefisien
partisi oktanol/air dari obat (Martin, 1999).
Secara kuantitatif kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai konsentrasi zat
terlarut di dalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu, kelarutan
dinyatakan dalam mililiter pelarut yang dapat melarutkan suatu gram zat, pelepasan
zat dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat fisika dan kimia zatzat tersebut serta formulasinya. Pada prinsipnya obat diabsorbsi setelah zat aktifnya
larut

dalam

cairan

tubuh

sehingga

salah

satu

usaha

mempertinggi

efek

farmakologinya dari sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya


(Martin, 1999).
Faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena distribusi adalah pengaruh sifat
kelarutan bahan obat terhadap distribusi menunjukkan antara lain bahwa senyawa
yang

larut

baik

dalam

bentuk

lamak

terkonsentrasi

dalam

jaringan

yang

mengandung banyak lemak sedangkan sebaliknya zat hidrofil hampir tidak diambil
oleh jaringan lemak karena itu ditentukan terutama dalam ekstrasel (Ernest, 1999).
Pengaruh distribusi telah disebut pengaruh obat artinya membawa bahan
obat terarah kepada tempat kerja yang diinginkan dari segi terapeutik kita
mengharapkan distribusi dapat diatur artinya konsentrasi obat pada tempat kerja
lebih besar dari pada konsentrasi di tempat lain pada organisme, walaupun demikian
kemungkinan untuk mempengaruhi pada distribusi dalam bentuk hal kecil, pada

kemoterapi tumor ganas sebagian dicoba melalui penyuntikan atau infus sitostatika
ke dalam arteri memasok tumor untuk memperoleh kerja yang terarah (Ernest,
1999).
Begitu pula kelarutan asam organic lain dapat mempunyai keadaan demikian,
yaitu dapat larut dalam air ataupun dapat larut dalam lemak. Aplikasi di bidang
Farmasi adalah apabila ada zat pengawet untuk senyawa organic berada dalam
emulsi, maka pengawet ini sebagian larut dalam minyak. Ini berarti kadar pengawet
akan meninggikan air menuju ke minyak. Padahal zat pengawet bekerja dalam
media air. Perlu diketahui bahwa perbandingan kelarutan ini dipegaruhi oleh
beberapa faktor antara lain yang berpengaruh pada pH larutan (Efendi, 2003).

laporan fenomena distribusi


8 JANUARI 2014WIRNAWATI24 TINGGALKAN KOMENTAR
BAB I
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang

Ahli Farmasi mengetahui bahwa air adalah pelarut yang baik untuk garam,
gula dan senyawa sejenis, sedang minyak mineral dan benzene biasanya merupakan
pelarut untuk zat yang biasanya hanya sedikit larut dalam air. Penemuan empiris ini
disimpulkan dalam pernyataan like dissolve like. Kelarutan bergantung pada pengaruh
kimia, listrik, struktur yang menyebabkan interaksi timbal balik zat pelarut dan zat
terlarut
Satu hal penting dari fenomena distribusi adalah sifat senyawa obat itu agar
dapat melalui membran sel yang terdiri dari lipoprotein atau suatu lapisan hidrofil dan
hidrofob.
Koefisien partisi merupakan bagian yang sangat penting dalam pembuatan
obat. Khusunya untuk membuat obat dalam. Obat yang kita ciptakan harus tepat sasaran
dan dengan mengetahui koefisien partisi dapat ditetapkan cara obat masuk ke dalam
liposom. Obat supaya mudah larut dalam lipid harus bersifat non polar atau lipofilik.
Koefisien partisi tidak hanya perlu diperhatikan dalam pembuatan obat dalam. Dalam
pembuatan obat luar atau topikal, koefisien partisi juga merupakan hal yang sangat
penting dan perlu diperhatikan.
Pada percobaan ini dilakukan penentuan koefisien partisi dengan cara mencampurkan
dua zat yang tidak larut apabila di campurkan yaitu minyak dan air serta penambahan
zat yang akan di uji koefisien partisinya yaitu asam borat dan asam benzoat

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum fenomena distribusi ini yakni untuk menentukan
koefisien partisi suatu zat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1 Dasar Teori
Fenomena distribusi adalah suatu fenomena dimana distribusi suatu senyawa antara
dua fase cair yang tidak saling bercampur, tergantung pada interaksi fisik dan kimia
antara pelarut dan senyawa terlarut dalam dua fase yaitu struktur molekul. (Anonim,
2013)
Faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena distribusi adalah pengaruh sifat
kelarutan bahan obat terhadap distribusi menunjukkan antara lain bahwa senyawa yang
larut baik dalam bentuk lamak terkonsentrasi dalam jaringan yang mengandung banyak
lemak sedangkan sebaliknya zat hidrofil hampir tidak diambil oleh jaringan lemak karena
itu ditentukan terutama dalam ekstrasel (Ernest, 1999 ).
Pengaruh distribusi telah disebut pengaruh obat artinya membawa bahan
obat terarah kepada tempat kerja yang diinginkan dari segi terapeutik kita
mengharapkan distribusi dapat diatur artinya konsentrasi obat pada tempat kerja lebih
besar dari pada konsentrasi di tempat lain pada organisme, walaupun demikian
kemungkinan untuk mempengaruhi pada distribusi dalam bentuk hal kecil, pada
kemoterapi tumor ganas sebagian dicoba melalui penyuntikan atau infus sitostatika ke
dalam arteri memasok tumor untuk memperoleh kerja yang terarah (Ernest, 1999).
Koefisien partisi minyak-air adalah suatu petunjuk sifat lipofilik atau
hidrofobik dari molekul obat. Lewatnya obat melalui membran lemak dan interaksi
dengan makro molekul pada reseptor kadang-kadang berhubungan baik dengan
koefisien partisi oktanol/air dari obat (Martin, 1999)
Koefisien partisi (P) menggambarkan rasio pendistribusian obat kedalam
pelarut sistem dua fase, yaitu pelarut organik dan air. Bila molekul semakin larut lemak,
maka koefisien partisinya semakin besar dan difusi trans membran terjadi lebih mudah.
Tidak boleh dilupakan bahwa organisme terdiri dari fase lemak dan air, sehingga bila
koefisien partisi sangat tinggi ataupun sangat rendah maka hal tersebut merupakan
hambatan pada proses difusi zat aktif (Ansel, 1989)
Suatu pengukuran lipofilisitas obat dari suatu indikasi dari kemampuannya
untuk melewati membran sel adalah koefisien partisi minyak/air dalam sistem-sistem
seperti oktanol/air dan kloroform/air. Koefisien partisi didefinisikan sebagai perbandingan
obat yang tidak terion antar fase organik dan fase air pada kesetimbangan.
(Lachman,L.,1986)
Koefisien partisi tergantung pada suhu, bukan merupakan fungsi konsentrasi
absolute zat atau volume kedua fase tersebut (Martin, 1990)

Koefisien partisi dari obat juga tergantung pada polaritas dan ukuran dari
molekul. Obat dengan momen dipol yang tinggi, walaupun tidak terionisasi, mempunyai
kelarutan dalam lemak rendah, dan oleh karena itu sedikit terpenetrasi. Ionisasi bukan
saja mengurangi kelarutan dalam lemak sangat besar tetapi juga menghalangi
perlintasan melewati membran yang bermuatan Umumnya koefisien partisi lemak / air
dari suatu molekul merupakan indeks yang berguna dalam kecenderungan untuk
absorpsi oleh difusi pasif (Gandjar, 2007).
Pelarut secara umum dibedakan atas dua pelarut, yaitu pelarut air dan bukan
air. Salah satu ciri penting dari pelarut tetapan dielektriknya (E), yaitu gaya yang bekerja
antara dua muatan itu dalam ruang hampa dengan gaya yang bekerja pada muatan itu
dalam dua pelarut. Tetapan ini menunjukkan sampai sejauh mana tingkat kemampuan
melarutkan pelarut tersebut. Misalnya air dengan tetapan dielektriknya yang tinggi (E =
78,5) pada suhu 25oC, merupakan pelarut yang baik untuk zat-zat yang bersifat polar,
tetapi juga merupakan pelarut yang kurang baik untuk zat-zat non polar. Sebaliknya,
pelarut yang mempunyai tetapan dielektrik yang rendah merupakan pelarut yang baik
untuk zat non polar dan merupakan pelarut yang kurang baik untuk zat berpolar (Rifai,
1995).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi distribusi zat dalam larutan, yaitu :
1. Temperatur, kecepatan berbagai reaksi bertambah kira-kira 2 atau 3 tiap
kenaikan suhu 10oC.
2. Kekuatan Ion, semakin kecil konsentrasi suatu larutan maka laju distribusi
makin kecil.
3. Konstanta Dielektrik, efek konstanta dielektrik terhadap konstanta laju reaksi
ionik diekstrapolarkan sampai pengenceran tak terbatas, yang pengaruh
kekuatan ionnya 0. Untuk reaktan ion yang kekuatannya bermuatan
berlawanan maka laju distribusi reaktan tersebut adalah positif dan untuk
reaktan yang muatannya sama maka laju distribusinya negatif.
4. Katalisis, katalisis dapat menurunkan laju laju distribusi (Katalis negatif).
Katalis dapat juga menurunkan energi aktivitas denganss mengubah
mekanisme reaksi sehingga kecepatan bertambah.
5. Katalis Asam Basa Spesifik, laju distribusi dapat dipercepat dengan
penambahan asam atau basa. Jika laju peruraian ini terdapat bagian yang
mengandung konsentrasi ion hidrogen atau hidroksi.
6. Cahaya Energi, cahaya seperti panas dapat memberikan keaktifan yang
diperlukan untuk terjadi reaksi. Radisi dengan frekuensi yang sesuai dengan
energi yang cukup akan diabsorbsi untuk mengaktifkan molekul molekul
(Cammarata, 1995).
Beberapa pengukuran koefisien partisi dilakukan dengan menggunakan partisi
air dan n-oktanol, karena n-oktanol dalam banyak hal menyerupai membrane biologis
dna juga merupakan model yang baik pada kromatografi fase terbalik. Beberapa obat
mengandung gugus-gugus yang mudah mengalami ionisasi. Oleh Karen itu koefisien
partisi obat-obat ini pada pH tertentu sulit diprediksi terlebih jika melibatkan lebih dari 1
gugus yang mengalami ionisasi. Meskipun demikian, sering kali, salah satu gugus dalam
satu molekul obat lebih mudah mengalami ionisasi daripada gugus yang lain pada pH
tertentu (Gholib, ibnu, 2007)
Pada umumnya obat-obat bersifat asam lemah atau basa lemah. Jika obat
tersebut dilarutkan dalam air sebagian akan terionisasi. Besarnya fraksi obat yang
terionkan tergantung pada pH larutannya. Obat-obat yang tidak terionkan lebih mudah
larut dalam lipida, sebaliknya yang dalam bentuk ion kelarutannya kecil atau bahkan
praktis tidak larut. Dengan demikian pengaruh pH sangat besar terhadap kecepatan
absorpsi obat yang bersifat asam lemah atau basa lemah (Sardjoko, 1987).

Stabilitas Obat (Farmasi Fisika)


BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang


Penyebab ketidakstabilan sediaan obat ada dua watak, pertama
kali adalah labilitas dari bahan obat dan bahan pembantu sendiri.
Yang terakhir dihasilkan dari bahan kimia dan kimia fisika, untuk
lainnya adalah faktor luar seperti suhu, kelembapan, udara, dan
cahaya, menginduksi atau mempercepat reaksi yang yang berkurang
nilainya.
dalam

Faktor-faktor

skala tinggi

yang

telah

disebutkan

adalah bergantung

menjadi

dari jenis

efektif

galenik dari

sediaan dalam obat padat, seperti serbuk, bubuk, dan tablet.


Penjelasan

di

atas

menjelaskan

kepada

kita

bahwa

betapa

pentingnya kita mengetahui pada keadaan yang bagaimana suatu obat


tersebut aman dan dapat bertahan lama, sehingga obat tersebut
dapat

disimpan dalam

jangka waktu

yang lama

tanpa menurunkan

khasiat obat tersebut.


Stabilitas

obat

mencakup

masalah

kadar

obat

yang

berkhasiat. Bila suatu obat stabil artinya dalam waktu relatif


lama

obat

perubahan

akan
atau

berada
jika

dalam

keadaan

berubah

masih

semula,
dalam

tidak

batas

mengalami

yang

sesuai

persyaratan.
Semua
mengalami

sediaan

obat

penguraian

memiliki

karena

proses

batas

usia

oksidasi

simpan

yangdapat

reduksi.

Sehingga

menyebabkan obat tersebut tidak berkhasiat bahkan memiliki sifat


yang

toksik.

Oleh karenaitu, pengetahuan

mengenai

kestabilan

suatu sediaan obat dapat diketahui. kestabilan fisika-kimia obat


sangat

penting

dilakukan

menentukan dengan

oleh

seorang

farmasist

agar

dapat

tepat, kapan suatu obat dapat digunakan dan

kapan sudah rusak. mulai dari pengusaha obat sampai ke pasien.


Pengusaha obat harus dengan jelas menunjukkan bahwa bentuk obat
harus

dengan

sediaan

yang

dihasilkan

cukup

tabil

dalam

penyimpanan
tidak

yang cukup

berkhasiat

atau

lama dimana
racun,

ahli

tidak berubah
farmasi

menjadi zat

harus

mengetahui

ketidakstabilan potensial dari obat yang dibuatnya. Dokter dan


penderita

harus

diyakinkan

bahwa

obat

yang

ditulis

atau

digunakannya akan sampai pada tempat pengobatan dalam konsentrasi


yang cukup untuk mencapai efek pengobatan yang diinginkan.
I.2 Tujuan

Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk :

1.

Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu


zat.

2.

Menentukan Ea (Energi aktifasi) dari reaksi penguraian suatu


zat.

3.

Menentukan usia simpan suatu zat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori umum
Kestabilan

suatu

zat

merupakan

faktor

yang

harus

diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal


ini penting mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi dalam
jumlah yang besar dan memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke
tangan

pasien

jangka

waktu

mengakibatkan

yang
yang
hasil

membutuhkannya.
cukup

lama

urai

dapat

dari

zat

Obat

yang

mengalami
tersebut

disimpan

dalam

penguraian
bersifat

dan

toksik

sehingga dapat membahayakan jiwa pasien. Oleh karena itu perlu


diketahui

faktor-faktor

apa

saja

yang

mempengaruhi

kestabilan

suatu zat sehingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan


obat tersebut optimum (Anonim : 2005).
Stabilitas suatu obat adalah suatu pengertian yang mencakup
masalah kadar obat yang berkhasiat. Bila suau obat stabil artinya
dalam waktu relative lama, obat akan berada dalam keadaan semula,
tidak

berubah

atau

bila

berubah

masuh

dalam

batas

yang

diperbolehkan oleh peryaratan tertentu. Batas kadar obat masih


bersisa

90% keatas

masih bias

digunakan, tetapi

bila kadarny

kurang dari 90% tidak dapat digunakan lagi atau disebut sebagai
sub standar waktu diperlukan sehingga obat tinggal 90% disebut
umur obat (Anonim : 2005).
Apabila bentuk sediaan dari suatu obat diubah, (misalnya
dengan

dilarutkan

ditambahkan
modifikasi

dalam

bahan-bahan
terhadap

suatu

cairan,

penolong

kondisi

lain),

lingkungan

diserbuk
atau

dari

atau

juga

obat

pun

dilakukan

itu

sendiri

yaitu misalnya dengan mengubah-ubah kondisi penyimpanannya dan


lain

sebagainya,

maka

dengan

demikian

stabilitas

obat

yang

bersangkutan mungkijn juga akan terpengaruh (Howard : 1989).


Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan suatu zat
antara

lain

adalah

panas,

dan

lain-lain,

mikroorganisme

cahaya,

kelembaban,

digunakan

dalam

oksigen,

formula

pH,

sediaan

obat tersebut. Sebagai contoh : senyawa-senyawa ester dan amida


seperti amil ntrat dan kloramfenikol adalah merupakan suatu zatzat

yang

mudah

terhidrolisa

dengan

adanya

lembab,

sedangkan

vitamin C mudah sekali mengalami oksidasi (Anonim : 2005).


Penerapan prinsip fisika kimia tertentu pada pelaksanaan
pengkajian

stabilitas

pengambangan
memungkinkan
dalam

sediaan
pemamfaatan

kondisi

memadai,
normal
produsen

untuk
selama
dari

penyimpanan

yang

telah

terbukti

sangat

stabil.

Hanya

pendekatan

data

melebihi

maksud

waktu
baru

dipercepat,

diperoleh

keadaan

meramalkan

jangka
produk

yang

stablitas

yang
pada

normal

lama.

dikarenakan

dari
secara
pada

Sangat

penyimpanan

mengntungkan
yang

penyimpanan
tepat

dan

penyimpanan
penting

normal

keuntungan

itu

dari

ekonomis

bagi
data
besar

yang diperoleh dari pemasaran produk baru secepat mungkin setelah


formulasinya selesai (Connors : 1994).

Pada masa lalu banyak perusahaan farmai mengadakan evaluasi


mengenai kestabilan sediaan farmasi dengan pengamatan selama 1
tahun

atau lebih,

sesuai dengan

dalam

penyimpanan

dan

dalam

waktu normal

penggunaan.

yang diperlukan

Metode

seperti

itu

memakan waktu dan tidak ekonomis. Penelitian yang dipercepat pada


temperature tinggijuga banyak dilakukan oleh banyak perusahaan,
tetapi

kriterianya

sering

merupakan

criteria

yang

tidak

didasarkan pada prinsip-prinsip dasar kinetik. Contohnya beberapa


perusahaan menggunakan aturan bahwa penyimpanan cairan pada 37C
mempercepat
sementara

penguraian

perusahaan

2x

lain

lajunya

pada

menggunakan

temperature

bahwa

kondisi

normal,
tersebut

mempercepat penguraian dengan 20x laju normal (Alfred Martin :


1993).
Telah dilaporkan hasil pengamatan terhadap ketergantungan
hidrolisis
dalam

ampisilin terhadap

bentuk

plot.

suhu dan

Ampisilin

juga

terlihat pada

telah

pH 4,93

menunjukkan

dapat

mengalami hidrolisis terkatalisis asam umum dan basa umum. Pada


suhu 35C dan pH 1,2

efek garam atas hidrolisis ampisilin yang

diamati adalah positif sedikit lurus. Tidak ada efek garam


yang dapat diamati pada ph 4,49. pada pH 1,2 penambahan alkohol
pada larutan akan menghasilkan penurunan laju hidrolisis, kali
ini berkaitan dengan pengurangan tetapan dielektrikum pelarut.
Ampisilin dalam larutan alcohol 50% memiliki waktu paruh 2 kali
disbanding dalam pelarut yang semata-mata air (Gennaro, Alfonso :
2000).
Untuk menghindari

terjadinya hidrolisis

pada cincin.

laktan, keberadaan air harus dihindarkan terutama jangan sampai


kontak dengan bentuk pada padatan ampisilin. Suhu juga memainkan
peranan penting dalam laju degradasi padatan dan larutan. Karena
terbatasnya

waktu

paruh

sediaan

ampisilin

yang

berada

dalam

bentuk larutan dan suspensi, amka bentuk sediaan padat merupakan


satu-satunya formulasi stabil untuk waktu yang lebih lama. Dengan
menurunkan tetapan dielektrikum larutan ampisilin dengan alcohol
akan menghasilkan stabilitas yang lebih baik dibanding bentuk
larutan yang semata-mata air pada pH rendah. Pemakaian larutan
dapar paa laju pH minimum dan penyimpanan pada konsentrasi yang
relatif

rendah

merupakan

salah

satu

alternatif

dalam

memperpanjang stabilitas bentuk cairan (Schunack, Walter : 1990).

Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan


dengan cara kinetika kimia. Cara ini memerlukan waktu yang ama
sehingga praktis digunakan dalam bidang farmasi. Hal-hal yang
penting

diperhatikan

dalam

penentuan

kestabilan

suatu

zat

kinetika kimia adalah:


1.

Kecepatan reaksi
Kecepatan

atau

laju

suatu

reaksi

diberikan

sebagai

dC/dt.

Artinya terjadi penambahan (+) atau pengurangan (-) konsentrasi C


dalam

selang

waktu

dt.

Menurut

hokum

aksi

massa,

laju

suatu

reaksi kimia sebanding hasil kali dari konsentrasi molar reaktan


yang

masing-masing

dipangkatkan

dengan

angka

yang

menunjukkan

jumlah molekul dari zat-zatyang ikut serta dalam reaksi. Dalam


reaksi :
aA + bB + .. = Produk
laju reaksinya adalah :
Laju = - 1/a d(A)/dt
= -1/b d(B)/dt = = k(A)a(B)b
k adalah konsentrasi laju. Laju berkurang masing-masing komponen
reaksi diberikan dalam bentuk jumlah mol ekuivalen masing-masing
komponen yang ikut serta dalam reaksi.
2.

Orde reaksi
Dari hukum aksi massa, suatu garis lurus di dapat bila laju
reaksi

diplot

sebagai

fungsi

dari

konsentrasi

reaktan

dipangkatkan dengan bilangan tertentu. Orde reaksi keseluruhan


adalah jumlah pangkat konsentrasi-konsentrasi yang menghasilkan
seluruh garis lurus. Orde bagi tiap reaktan adalah pangkat dari
tiap konsentrasi reaktan.
3.

Temperatur
Sejumlah
kecepatan

faktor

lain,

reaksi.

selain

Diantaranya

konsentrasi
adalah

dapat

mempengaruhi

temperature,

pelarut,

katalis dan sinar. Kecepatan berbagai reaksi bertambah kira-kira


dua atau tiga kalinya tiap kenaikan 10C. Pengaruh temperature

terhadap laju ini diberikan dengan persamaan yang pertama kali


dikemukakan oleh Arrhineus.
k = Ae-Ea/RT
atau
log k = log A

Ea

2,303

Dimana laju spesifik,


frejuensi,
1,987

Es asalah

A adalah konstanta yang disebut factor


energi aktifasi

kalori/derajat

Konstanta

itu dapat

RT

mol,

dan

R adalah

adalah

dicari dengan

konstanta gas,

temperature

menentukan k

absolute.

pada berbagai

temperature dan memplot 1/T terhadap log k.


4.

Kekuatan ion
Pengaruh kekuatan ion terhadap kecepatan reaksi dapat dilihat
dari persamaan berikut :
Log K = log ko + 1,02 zAzB
Dimana :
K

5.

= Konstanta kecepatan penguraian pada kekuatan ion tertentu

ko

= Konatanta kecepatan penguraian pada kekuatan ion = 0

= Muatan ion

= Kekuatan ion
Pengaruh pH

Reaksi penguraian beberapa larutan obat dapat dipercepat dengan


penambahan asam (H+) atau basa (OH-). Katalisator ini disebut
katalisator

asam

basa

khusus.

Misalnya

ester (S) dalam air (R).


S + R
S + H+
SH+ + R

----------

P
SH+

---------======

pada

reaksi

hidrolisa

Skema reaksi umum ini menganggap bahwa hasil reaksi P pada reaksi
hidrolisis ini tidak bergantung kembali membentuk ester.
Untuk

reaksi ini

pada umumnya,

laju pembentukan

hasil reaksi

dinyatakan dengan :
= k (SH+)

dP

(S)(H+)

dt

konsentrasi asam konjugat SH+ merupakan jumlah yang dapat


diukur, karena pra-kesetimbangan membutuhkan :
(SH+)

K =

(S)(H+)
Sehingga :
(SH+) = K (S)(H+)
Dan :
dP

= kK(S)(H+)

dt
( Connors : 1994).