Anda di halaman 1dari 8

Jerami

Nangka

Latar Belakang
Penelitian
Limbah komersial yang menghasilkan limbah berupa
jerami dalam jumlah yang relatif banyak, masih
hanya dibuang ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA).
Menurut Siregar (1996) jerami nangka mengandung
protein sebanyak 1,30% dan karbohidrat mencapai
15,87%. Berdasarkan kandungan karbohidrat jerami
nangka tersusun atas glukosa, fruktosa, sukrosa,
pati, serat dan pektin dalam jumlah yang tinggi
dapat dijadikan peluang sebagai bahan untuk
pembuatan bioetanol.
Melimpahnya bahan baku dan mudahnya proses
pembuatan bahan bakar tersebut, menjadikan
bioetanol jerami nangka sebagai alternatif tepat
bagi masyarakat.

Kandungan Buah
Nangka
Buah nangka mengandung vitamin

A, B, dan C
dalam bentuk senyawa Thiamin, Riboflavin, dan
Niacin.
Mineral-mineral
seperti Calcium, Potassium,
Ferrum (zat besi), Magnesium, dalam jumlah yang
cukup banyak.
Dalam 100 gram buah nangka memiliki 106 kalori;
27,6 gram karbohidrat; dan 1,2 gram protein.
Dalam jerami nangka karbohidrat terdiri dari
glukosa, fruktosa, sukrosa, pati, serat dan pectin
yang jumlahnya mencapai 15,87%.

Kandungan gizi buah nangka dan jeraminya tidak


jauh berbeda.

No.

Komponen

Daging

Jerami

buah
80,29

65,12

2. Protein (%bk)

1,91

1,95

3. Lemak (%bk)

1,86

10,00

4. Karbohidrat

9,85

9,30

5. (%bk)

1,58

1,94

6. Serat kasar (%bk)

0,69

1,11

1. Air (%bb)

Sumber:
1981 diacu dalam Risanti 1992
AbuMuchtadi
(%bk)

Jerami Nangka
Kandungan karbohidrat dalam jerami nangka
yang terdiri dari glukosa, fruktosa, sukrosa,
pati, serat dan pectin dapat dimanfaatkan.
Potensi kandungan pati dalam jerami nangka
dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan
bakar, yaitu bioetanol.
Pati adalah salah satu jenis polisakarida,
yang merupakan polimer dari glukosa atau
maltosa. Tersusun atas ikatan -Dglikosida.

Bioetanol
Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari
proses fermentasi gula dari sumber hayati atau
tanaman yang mengandung komponen pati, gula,
atau
selulosa
menggunakan
bantuan
mikroorganisme (Anonim, 2007).
Dapat juga diartikan sebagai bahan kimia yang
diproduksi dari bahan pangan yang mengandung
pati, seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, dan
sagu. Bioetanol merupakan bahan bakar dari
minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai
minyak premium (Khairani, 2007).

Cara Pembuatan
1. Jerami nangka dihaluskan terlebih dahulu. Setelah
itu direndam untuk diambil patinya.
2. Merebus
pati
dan
ditambahkan
cendawan
Aspergillus sp. yang akan menghasilkan enzim
alfamilase dan glikoamilase.
3. Glukosa difermentasikan selama 3 hari dan
menjadi tiga lapisan.
4. Hasil fermentasi yang diperoleh kemudian direbus
pada suhu 78C.
5. Menyuling (hasil penyulingan normal akan
menghasilkan
etanol
dengan
kadar
60%,
sedangkan untuk penyulingan yang dilakukan dua
kali akan menghasilkan etanol dengan kadar
96%).

Pemanfaatan
Bioetanol
Secara umum dapat digunakan

sebagai bahan baku


industri turunan alkohol, campuran bahan bakar untuk
kendaraan.
Bioetanol yang digunakan sebagai bahan bakar
mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya lebih
ramah lingkungan.
Bioetanol dapat menggantikan fungsi zat aditif yang
sering ditambahkan untuk memperbesar nilai oktan
(niali oktan bioetanol mencapai 92).
Merupakan bahan bakar yang tidak mengakumulasi gas
karbon dioksida (CO 2) dan relatif kompatibel dengan
mesin mobil berbahan bakar bensin (Mursyidin, 2007).