Anda di halaman 1dari 6

Iskandar Putong (2013), Economics, Pengantar Mikro dan Makro. Edisi 5.

Penerbit Mitra
Wacana Media. Jakarta.
Menurut Iskandar Putong (2013 : 315) kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah
dalam bidang anggaran dan belanja negara dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya
perekonomian. Sebagaimana juga layaknya suatu rumah tangga individu, maka pemerintah
sebagai suatu rumah tangga nasional juga memerlukan pendapatan untuk membiayai
operasionalnya sehari-hari, seperti misalnya menggaji pegawai negeri, mengatur dan mengurus
Negara dan pemerintahan. Adapun uang yang dijadikan pendapatan oleh pemerintah yang
terutama dalam suatu negara adalah Pajak yang dipungut dari masyarakatnya, selain itu tentu
saja dapat berupa pinjaman luar negeri, pendapatan dari perusahaan negara dan lain sebagainya.
Berdasarkan jenisnya, kebijakan fiskal terdiri atas 2 macam kebijakan yaitu:
1) Kebijakan fiskal deskresioner yaitu kebijakan fiskal yang diambil oleh pemerintah
berdasarkan situasi dan kondisi ekonomi. Pemerintah akan melakukan kebijakan belanja
surplus (kebijakan expansif) bila mengetahui perekonomian dalam kondisi pengangguran
yang tinggi, tingkat suku bunga yang tinggi dan tingkat inflasi yang juga tinggi, sebaliknya
pemerintah akan melakukan kebijakan belanja defisit (kabijakan kontraktif) apabila
menganggap bahwa tingkat pengangguran dalam kondisi yang Wajar, suku bunga terlalu
rendah, dan tingkat harga terlalu lambat berubah.
2) Kebijakan fiskal dengan penstabil otomatis yaitu kebijakan yang langsung berhubungan
dengan pajak, asuransi pengangguran dan kebijakan harga minimum. Adapun latar belakang
diterapkanya kebijakan fiskal oleh pemerintah diantaranya adalah :
a) Sebagaimana yang dikehendaki oleh Keynes bahwa dalam perekonomian pemerintah
harus dilibatkan karena mekanisme pasar sebagaimana yang dikehendaki oleh kaum
kapitalis tidak bisa bekerja sendiri

b) Adanya kegagalan dari kebijakan moneter yang berasal dari mashab klasik untuk
menangani ketidak stabilan ekonomi terutama untuk mengatasi pengangguran (kegagalan
hukum Say)
Sedangkan fungsi utama dari kebijakan fiskal di atas di antaranya adalah :
1) Fungsi alokasi, yaitu untuk mengalokasikan faktor-faktor produksi yang tersedia dalam
masyarakat sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat berupa Public goods seperti
jalan, jembatan, pendidikan dan tempat ibadah dapat terpenuhi secara layak dan dapat
dinikmati oleh seluruh masyarakat.
2) Fungsi distribusi, yaitu fungsi yang mempunyai tujuan agar pembagian pendapatan nasional
dapat lebih merata untuk semua kalangan dan tingkat kehidupan.
3) Fungsi stabilitasi, agar terpeliharanya keseimbangan ekonomi terutama berupa kesempatan
kerja yang tinggi, tingkat harga-harga umum yang relatif stabil dan tingkat pertumbuhan
ekonomi yang memadai.
Lebih lanjut menurut Iskandar Putong (2013 : 315) berdasarkan ide awal dari latar
belakang penerapan kebijakan fiskal, maka dapat diketahui bahwa tujuan dari Kebijakan Fiskal
adalah :
a) Mencegah Pengangguran dan Meningkatkan kesempatan keria. Karena kebijakan moneter
tidaklah selalu baik dan berhasil dalam menangani masalah perekonomian terutama untuk
pengangguran, maka perlu dilakukan kebijakan ekonomi yang berasal dari pemerintah dalam
bentuk kebijakan dalam bidang penganggaran dan belanja negara. Melalui kebijakan belanja
negara pemerintah dapat menetapkan program pembangunan untuk menanggulangi dengan
cara memberikan membuka lapangan pekerjaan yang bersifat padat karya. Dana dapat
diambil dari peningkatan pungutan pajak, pencetakan uang terbatas dan penggunaan

anggaran sisa hasil pembangunan atau pemanfaatan dana non anggaran dari badan usaha
milik Negara dan lain sebagainya.
b) Untuk stabilitas Harga. Mekanisme pasar memberikan kebebasan sepenuhnya para individu
dan pengusaha untuk berusaha (dalam upayanya mendapatkan keuntungan yang semaximal
mungkin), sehingga kecenderungannya adalah pemanfaatan dari momentum hukum dan teori
permintaan dan penawaran sangat besar. Sesuai kaidahnya bila harga suatu produk rendah
maka jumlah penawarannya akan rendah pula, dalam hal ini yang dirugikan adalah
konsumen karena akan terjadi kekurangan dalam pemenuhan permintaan. Bila jumlah
produksi terlalu banyak maka sesuai dengan teori harganya akan jatuh, dalam hal ini
produsen relatif akan mengalami kerugian. Agar tidak terjadi permainan harga dan jumlah
produksi di pasar maka pemerintah dapat campur tangan melalui kebijakan pasar atau
kebijakan harga, yaitu bila jumlah produksi terlalu banyak maka pemerintah dapat membeli
kelebihan produksi agar harga tetap stabil pada kisaran semula, sebalikya bila jumlah
produksi kurang maka pemerintah menjual stoknya. Bila produk yang dijual di pasar terlalu
banyak karena banyaknya produsen yang menjual produk yang sama maka pemerintah dapat
menentukan kebijakan harga terendah (floor price policy) dalam rangka rnelindungi para
produsen, sebaliknya bila di pasar ada kecenderungan harga dimonopoli maka untuk
melindungi konsumen pemerintah menentukan kebijakan harga tertinggi (ceiling price
policy). Dengan demikian maka dalam jangka pendek perekonomian akan tetap berjalan
dalam kerangka ekonomi yang telah ditetapkan sesuai dengan asumsi anggaran belanja
negara.
c) Untuk mengatur laju investasi. kebijakan ini bertujuan untuk memacu laju investasi swasta
dan negara dengan Cara mengendalikan konsumsi baik yang aktual maupun yang potensial
menerapkan investasi terencana disektor publik. lnvestasi disektor publik akan mendorong

dan meningkat volume investasi komersial dari pihak swasta maupun pemerintah. Misalkan
saja pemerintah membangun jalan tran antar provinsi maka diharapkan sektor swasta tertarik
mengembangkan potensi daerah yang dilewati jalan trans tersebut. Di satu sisi pemerintah
harus menghambat investasi dibidang produksi konsumtif, sedikit nilai tambahnya dan hanya
untuk kalangan tertentu saja, misalakan investasi lapangan golf, apartemen dan sejenisnya.
d) Untuk mendorong investasi sosial secara optimal. Kebijakan ini mendorong pemerintah
untuk berinvestasi kebidang yang diinginkan oleh masyarakat seperti investasi dibidang
transportasi, perhubungan, konservasi lahan dan investasi overhead ekonomi lainnya,
Diharapkan investasi ini akan memberikan ekternalitas positif, memperluas pasar,
meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya produksi.
e) Untuk menanggulangi inflasi. Adanya ketidak seimbangan antara permintaan dan penawaran
sumber riel akan menyebabkan adanya gap inflasi. Bertambahnya permintaan sementara
penawaran tetap akan menyebabkan naiknya harga-harga yang akan mendorong inflasi
secara umum. Untuk itu maka pemerintah dapat melakukan kebijakan pajak progresif
mengendalikan ekspansi kredit, menyerap daya beli tambahan dan merangsang tabungan
sukarela.
f) Meningkatkan stabilitas ekonomi ditengah ketidakstabilan internasional. Dalam jangka
pendek perekonomian internasional selalu mengalami fluktuasi siklis yang tidak moderat
sehingga akan memperburuk nilai tukar (term of trade), pendapatan devisa merosot dan
pendapatan nasional akan turun. Pada masa booming, pemerintah dapat mengenakan pajak
impor dan ekspor. Pajak impor yang besar atas barang mewah tujuannnya adalah untuk
menghambat konsumsi barang mewah yang belebihan, sementara pajak ekspor atas barang
mewah berguna untuk menghambat daya beli tambahan sebagai akibat dari boomingnya
perekonomian. Pada masa defisit pemerintah melakukan kebijakan sebaliknya dan
pemerintah harus banyak membuka pekerjaan yang padat karya.

g) Untuk meningkatkan dan meredistribusikan Pendapatan Nasional. Tujuan kebijakan ini


adalah untuk meniadakan ketimpangan ekstrim antara masyarakat yang berpendapatan
rendah dengan yang berpendapatan tinggi. Meratanya pendapatan akan meningkatkan
kemampuan daya beli yang juga relatif merata sehingga setiap kebijakan pemerintah yang
harus dijalankan dapat dilaksanakan dengan baik.
Berdasarkan penerapanya, maka kebijakan fiskal dapat dibagi menjadi Empai (4) macam
yaitu :
a) Pembiayaan fungsional. Beberapa hal yang penting dari macam kebijakan ini diantaranya
adalah:
1) Pajak dipakai untuk mengatur pengeluaran swasta, bukan untuk penerimaan pemerintah.
Jadi apabila dalam perekonomian masih ada pengangguran maka pajak tidak diperlukan
2) Apabila terjadi inflasi yang berlebihan maka pemerintah melakukan pinjaman luar negeri
untuk mendanai penarikan dana yang tersedia dalam masyarakat
3) Apabila pajak dan pinjaman dirasa tidak tepat maka pemerintah melakukan pinjaman
dalam negeri dalam bentuk pencetakan uang.
b) Pengelolaan Anggaran. Menurut kebijakan ini yang terpenting adalah :
1) Terdapat hubungan langsung antara belanja pemerintah dengan penerimaan pajak dengan
penyesuaian anggaran untuk memperkecil ketidak stabilan ekonomi.
2) Dalam masa depresi di mana banyak pengangguran maka belanja pemerintah adalah
merupakan satu-satunya jalan terbaik untuk mengatasinya.
c) Stabilisasi Anggaran Otomatis. Dalam kebijakan ini yang diterapkan adalah :
1) Dalam periode kesempatan kerja penuh (full employment) pajak akan di usahakan surplus
2) Apabila dalam perekonomian terjadi kemunduran ekonomi maka program pajak tidak
diubah, akan tetapi konsekwensinya penerimaan pajak menurun, dan pengeluaran
pemerintah semakin besar.
3) Karena pengeluaran pemerintah bertambah besar dalam masa kemunduran ekonomi
maka tejadi defisit anggaran, dan ini akan mendorong sektor swasta terpacu untuk maju.

4) Dalam masa inflasi terjadi kenaikan pendapatan pemerintah yang berasal dari pajak
(pendapatan), anggaran belanja surplus sementara tunjangan bagi penganggur tidak perlu
terlalu banyak.
d) Anggaran Belanja Seimbang. Dalam kebijakan ini yang dilakukan oleh pemerintah adalah :
1) Menerapkan anggaran belanja defisit pada masa krisis ekonomi (depresi)
2) Menerapkan anggaran surplus pada masa inflasi. Akan tetapi dalam jangka panjang
anggaran belanja diusahakan seimbang.