Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Luthfi Hawari

1206217780
KAJIAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NO. 57
TAHUN 2014
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 57 Tahun 2014,
tentang larangan transhipment (alih muatan) dari kapal ke kapal. Alasan
Susi Pudjiastuti untuk melarang adanya transhipment ditengah laut antara
lain :
1. Mencegah penjualan ikan secara langsung dengan harga yang
sangat murah ke luar negeri, kapal ikan asing penampung asal
Tiongkok, Thailand, dan Filipina hanya menunggu kapal-kapal
nelayan kecil Indonesia membawa hasil tangkapan. hal ini tentunya
sangat merugikan negara maupun nelayan itu sendiri karena harga
ikan jauh lebih murah dibandingkan.
2. Menghidupkan kembali pelabuhan perikanan di setiap daerah,
dengan adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.57
Tahun 2014 yang melarang adanya transhipment, akan berdampak
langsung terhadap kapal nelayan kecil yang tidak dapat menjual
hasil tangkapannya ke kapal-kapal pengumpul, kapal-kapal nelayan
dipaksa membawa ikan hasil tangkapannya kembali ke daerahnya
masing-masing untuk dijual di pelabuhan ikan tempat asalnya.
Jumlah ikan yang dikonsumsi oleh warga pesisir akan meningkat, hal
ini membuat daerah-daerah pesisir lebih berkembang.
3. Mencegah adanya penjualan solar secara illegal yang dilakukan
nelayan ditengah laut. Menurut Susi Pudjiastuti pemberian solar
subsidi sebanyak 25 kilo liter per kapal sering terjadi
penyelewengan, nelayan melaut tidak untuk mencari ikan
melainkan menjual solar bersubsidi ditengah laut. Dari selisih solar
tersebut mereka tidak usah mencari ikan lagi. Selain itu banyak
kasus Anak Buah Kapal (ABK) yang mencuri solar dari pemilik kapal
dan menjualnya dengan system ship to ship/transhipment ditengah
laut, tentunya pada owner kapal merasa diuntungkan dengan

keluarnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.57 Tahun


2014 ini.
Perkumpulan pengusaha perikanan di Indonesia merasa Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan No. 57 Tahun 2014 ini harus ditambahkan
catatan bahwa kapal lokal yang melayani angkutan hasil tangkapan ikan
ke dalam negeri dikecualikan dari aturan tersebut, apabila memang
peraturan ini difokuskan untuk mencegah pencurian ikan oleh kapal-kapal
pengumpul ikan asing.
Ketua Asosiasi Kapal Perikanan Nasional Sulawesi Utara Rudi
Waluko mengatakan perusahaan perikanan di Bitung, Sulawesi Utara
banyak yang sudah berstatus mati suri. Rudi menuturkan kini banyak Unit
Pengelolaan Ikan (UPI) yang masih beroperasi tanpa ada pasokan ikan
sebagai bahan baku. Akibatnya banyak perusahaan yang terancam
gulung tikar. (http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/2015060413480892-57669/asosiasi-kapal-minta-menteri-susi-cabut-larangantranshipment/)
Dilihat dari sisi nelayan kecil adanya Peraturan Menteri Kelautan dan
Perikanan No. 57 Tahun 2014 ini dirasa merugikan mereka, jika tanpa
transhipment dapat diasumsikan ongkos bahan bakar disbanding muatan
hasil tangkapan adalah 1 : 1. Artinya bahwa ketika kapal kembali ke
pangkalan, maka kapal tersebut hanya dapat membawa satu palkah
penuh muatan. Sementara apabila mereka menjual ke kapal-kapal
pengumpul ikan, dengan asumsi bahan bakar yang sama mereka akan
mendapatkan muatan 2-3 kali lipat muatan. Dapat dibayangkan, berapa
pada nelayan dapat menghemat bahan bakar melalui metode
transhipment.
Dari sisi operasi teknis penangkapan, transhipment memungkin kan
kapal untuk tidak mengalami kehilangan kesempatan untuk menguasai
fishing ground atau area dimana terdapat ikan yang banyak, tentunya
apabila tidak diperbolehkannya transhipment, nelayan harus kembali ke
pelabuhan ikan dan beresiko kehilangan fishing ground tersebut.
Kesegaran ikan juga menjadi pertimbangan nelayan kecil untuk

melakukan transhipment , kapal-kapal nelayan kayu kecil tentunya tidak


memiliki system referigrasi yang memadai untuk menyimpan ikan untuk
menjaga kesegarannya dalam waktu yang cukup lama.
Pelarangan transhipment memang membangun Indonesia ke arah
yang jauh lebih baik, tetapi apabila pengambilan keputusan ini secara
mendadak tentunya membuat nelayan-nelayan kecil kesulitan untuk
mencari ikan disebabkan ketidaksiapan sarana dan prasarana.
Kesimpulannya dari kajian Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
No. 57 Tahun 2014 ini yaitu :
1. Membuat catatan bahwa kapal lokal yang melayani angkutan
hasil tangkapan ikan ke dalam negeri dikecualikan dari aturan
tersebut.
2. Membuat kapal ikan yang mudah dioperasikan oleh nelayannelayan Indonesia.
3. Mempersiapkan nelayan-nelayan Indonesia untuk lebih siap
untuk mengoperasikan kapal modern.
4. Membangun sarana dan prasarana yang memadai pada
pelabuhan ikan daerah.