Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN FIELDTRIP

PERTANIAN BERLANJUT ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI

Oleh :
Kelompok 3
Ayesha Chairunnisa

135040201111414

Rivaldi Akbar Pahlevi

135040207111003

Komang Riska Wardani

135040207111006

Prasidya Perwitasari

135040207111007

Fetty Laila Idafitria

135040207111012

Firda Inayati Harista

135040207111015

Fauzan Nurachman

135040207111016

Febrian Ari Nugroho

135040207111019

Hanning Susilo Habibulloh

135040207111020

Dedi Horasio Hutabalian

135040207111121

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada dasarnya pertanian berkelanjutan merupakan upaya pemanfaatan
sumber daya yang dapat diperbaharui dan sumberdaya tidak dapat
diperbaharui untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak
negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin.
Keberlanjutan yang dimaksud meliputi: penggunaan sumberdaya,
kualitas dan kuantitas produksi, serta kualitas lingkungannya. Proses
produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan
produk hayati yang ramah terhadap lingkungan sehingga dalam
pelaksanaannya akan mengarah kepada upaya memperoleh hasil produksi
atau produktifitas yang optimal dan tetap memprioritaskan kelestarian
lingkungan.
Jadi secara umum, sistem pertanian berlanjut merupakan sistem pertanian
yang layak secara ekonomi dan ramah lingkungan. Pada tingkat bentang
lahan upaya pengelolaannya diarahkan pada upaya menjaga kondisi biofisik
yang bagus yaitu dengan pemanfaatan biodiversitas tanaman pertanian untuk
mempertahankan keberadaan pollinator, untuk pengendalian gulma,
pengendalian hama dan penyakit dan mengupayakan kondisi hidrologi
(kuantitas dan kualitas air) menjadi baik serta mengurangi emisi karbon.
Didalam ruang perkuliahan, mahasiswa mempelajari tentang beberapa
indikator kegagalan Pertanian berlanjut baik dari segi biofisik (ekologi),
ekonomi dan sosial. Dalam konteks tersebut perlu adanya pengenalan
pengelolaan bentang lahan yang terpadu di bentang lahan sangat perlu
dilakukan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa
terhadap konsep dasar Pertanian Berlanjut di daerah Tropis dan
pelaksanaannya di tingkat lanskap.
1.2 Tujuan
1.2.1

Mengetahui aspek-aspek social dan ekonomi pada tingkat petani dan


tingkat desa yang dapat mempengaruhi perkembangan budidaya lahan
dan kemajuan usaha pertanian.

1.2.2

Mengetahui analisis usaha tani hasil komoditas pertanian anggota


kelompok tani yang ada di desa.

1.2.3

Mengetahui kondisi pertanian yang ada di desa Tulungrejo menurut


keterangan dari masyarakat.

1.2.4

mengetahui perkembangan pertanian, seperti cara bercocok tanam


petani desa Tulungrejo di sawah.

1.2.5

Mengetahui lembaga atau pranata sosial yang terkait dengan usaha tani
di desa Tulungrejo.

1.2.6

Mengetahui perubahan social masyarakat dalam lembaga yang terkait


dalam usaha tani di desa Tulungrejo.

1.3 Manfaat
1.3.1 Dapat memahami aspek-aspek social dan ekonomi pada tingkat petani
dan tingkat desa yang dapat mempengaruhi kemajuan usaha pertanian.
1.3.2 Dapat mengalisis usaha tani hasil komoditas pertanian anggota
kelompok tani yang ada di desa Tulungrejo.
1.3.3 Dapat menganalisi kondisi pertanian yang ada di desa Tulungrejo
menurut keterangan dari masyarakat.
1.3.4 Dapat memahami perkembangan pertanian, seperti cara bercocok
tanam petani desa Tulungrejo di sawah.
1.3.5 Dapat memahami lembaga atau pranata sosial yang terkait dengan
usaha tani di desa Tulungrejo.
1.3.6 Dapat memahami perubahan sosial masyarakat dalam lembaga yang
terkait dalam usaha tani di desa Tulungrejo.
1.4

BAB II
INDIKATOR KEBERHASILAN PERTANIAN BERLANJUT

2.1 Economically Viable (Keberlangsungan secara ekonomi)


Konsep keberlanjutan dimulai dari ketersediaan stok yang terdiri dari
sumber daya alam, manusia, dan kapital fisik yang tidak menurun sepanjang
waktu (non-declining). Pengukuran keberlanjutan lemah atau weak
sustainability bisa dilakukan manakala tersedia substitusi antara man-made
capital dan human capital serta sumber daya alam tidak terlalu dianggap
esensial.
Menurut Heal (1998), konsep keberlanjutan ini paling tidak mengandung
dua dimensi, yaitu Pertama adalah dimensi waktu karena keberlanjutan tidak
lain menyangkut apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kedua adalah
dimensi interaksi antara system ekonomi dan system sumber daya alam dan
lingkungan.
Pezzey dalam Heal 1998 melihat aspek keberlanjutan dari sis yang
berbeda. Dia melihat bahwa keberlanjutan memiliki pengertian statik dan
dinamik. Keberlanjutan statik diartikan sebagai pemanfaatan sumber daya
alam terbarukan dengan laju teknologi yang konstan, sementara keberlanjutan
dinamik diartikan sebagai pemanfaat sumber daya yang tidak terbarukan
dengan tingkat teknologi yang terus berubah.
Dari hasil wawancara dengan bapak Suin dapat di indikasikan usaha
pertanian tersebut berlangsung secara ekonomi. Karena sebagaian besar input
yang di gunakan di dapatkan sendiri seprti pupuk dan modal. Dari hasil
produksi tersebut bapak Suin mampu mencukupi kebutuhan keluarganya.
Selain itu indicator keberlangsungan secara ekonomi dapat di lihat dari
penghasilan yang mencukupi untuk mengembalikan input produksi tenaga,
kerja, bibit, pupuk.
Untuk menunjang kebutuhan ekonomi, bapak Suin memiliki hewan
ternak berupa sapi. Yang mana nanti kotoran hewan ternak tersebut di
gunakan untuk pupuk oraganik. Bapak Suin juga menggunakan pupuk kimia
tetapi dengan jumlah yang tidak banyak karena sudah di tambahkan dengan
pupuk organic dari kotoran sapi.
Selain mengolala pertanian dan pertenakan, bapak Suin juga mengelola
lahan milik perhutani. Sehingga dari kegiatan tersebut dapat menghasilkan
biaya tambahan dan modal untuk musim tanam yang akan datang.
Konsep keberlanjutan dimulai dari ketersediaan stok yang terdiri dari
sumber daya alam, manusia, dan kapital fisik yang tidak menurun sepanjang
waktu
(non-declining). Pengukuran keberlanjutan lemah atau weak
sustainability bisa dilakukan manakala tersedia substitusi antara man-made

capital dan human capital serta sumber daya alam tidak terlalu dianggap
esensial.
Tiga elemen utama untuk keberlanjutan ekonomi makro yaitu efisiensi
ekonomi, kesejahteraan ekonomi yang berkesinambungan, dan meningkatkan
pemerataan dan distribusi kemakmuran. Hal tersebut diatas dapat dicapai
melalui kebijaksanaan makro ekonomi mencakup reformasi fiskal,
meningkatkan efisiensi sektor publik, mobilisasi tabungan domestik,
pengelolaan nilai tukar, reformasi kelembagaan, kekuatan pasar yang tepat
guna, ukuran sosial untuk pengembangan sumberdaya manusia dan
peningkatan distribusi pendapatan dan aset.
2.2 Ecologically Sound (Ramah Lingkungan)
Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup mulai mendapat
perhatian yang serius sejak dicanangkannya Deklarasi Stockholm pada
Tanggal 5 Juli 1972. Sejak dicanangkan deklarasi tersebut, seluruh negara di
dunia, mulai memberikan perhatian yang serius pada masalah lingkungan
hidup (Salim,1993).
Salah satu azas pengelolaan sumberdaya alam yang diatur dalam
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009, adalah Azas Berkelanjutan, dimana
kemampuan sumberdaya alam Pdan lingkungan harus dilestarikan untuk
kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang. Azas tersebut sejalan
dengan konsep pertanian ramah lingkungan, yang sejak beberapa tahun ini
mulai dilaksanakan di negara kita.
Perdefinisi, pertanian ramah lingkungan adalah aktivitas pertanian yang
secara ekologis sesuai, secara ekonomis menguntungkan, secara sosial
diterima dan mampu menjaga kelestarian sumberdaya alam lingkungan
(Susanto,2002).
Sistem budidaya pertanian tidak boleh menyimpang dari sistem ekologis
yang ada. Keseimbangan adalah indikator adanya harmonisasi dari sistem
ekologis yang mekanismenya dikendalikan oleh hukum alam. Demikian juga
penggunaan obat-obatan kimia (pestisida, insektisida, fungisida, rodentisida
dan sebagainya) pada sistem ekologi akan mengakibatkan terganggunya
keseimbangan lingkungan karena terbunuhnya organisme non-hama yang
sebenarnya bermanfaat (Salikin, 2003).
Dimensi lingkungan alam menekankan kebutuhan akan stabilitas
ekosistem alam yang mencakup sistem kehidupan biologis dan materi alam.
Termasuk dalam hal ini ialah terpeliharanya keragaman hayati dan daya
lentur biologis, sumberdaya tanah, air dan agroklimat serta kesehatan dan
kenyamanan lingkungan. Penekanan dilakukan pada preservasi daya lentur
dan dinamika ekosistem untuk beradaptasi terhadap perubahan, bukan apada
konservasi suatu kondisi ideal statis yang mustahil dapat diwujudkan.
(Munasinghe, 1993).

Indikator Keberhasilan Pertanian Berlanjut Aspek Ekologis/Ecologically


sound (ramah lingkungan):
a. Kualitas dan kemampuan agroekosistem (manusia, tanaman, hewan dan
organisme tanah) dipertahankan dan ditingkatkan.
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan oleh Bapak Suwono
sebagai narasumber yang bekerja sebagai petani di Dusun Wonoasri,
Ngantang cenderung berlanjut. Jika dilihat dari segi ekologis tanah mampu
mendukung tanaman diatasnya, hal tersebut diketahui dari pertumbuhan
tanaman yang ada disekitar yang cukup baik dan ketersediaan air yang
sudah tercukupi.
Pemberian pupuk kandang oleh petani juga mampu meningkatkan
kualitas tanah yang kemudian mendukung perkembangan organisme dalam
tanah untuk membantu dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
b. Sistem pertanian berorientasi pada ramah lingkungan dan keragaman
hayati (biodiversitas)
Pada dasarnya petani di Dusun Wonoasri, Ngantang secara tidak
langsung telah menjaga kelestarian lingkungan dan keragaman hayati. Hal
ini dapat dilihat dari sistem usahatani yang masih menggunakan tanaman
tahunan. Dimana terdapat empat tipe, yaitu: tipe A : pinus, tipe B: mahoni,
C: hutan lindung, dan D: jabon. Dengan sistem yang demikian maka
kelestarian hutan dapat terlindungi. Selain itu menjaga kelestarian hutan
merupakan keharusan bagi seluruh warga di desa Wonoasri, karena
tindakan yang dapat menyebabkan kerusakan hutan dikenakan hukuman
pidana.
Namun ada beberapa hal yang juga dapat menurunkan
keanekaragaman spesies yakni penggunaan pestisida untuk membasmi
hama dan penyakit. Dimana pestisida digunakan saat hama dan penyakit
ditemukan. Penggunaan pestisida yang berlebih akan menyebabkan
matinya organisme yang menguntungkan. Dengan demikian menyebabkan
ekosistem tidak seimbang karena pada siklus rantai makanan ada salah
satu komponen yang berkurang.
c. Pelestarian sumberdaya alam
Jika dilihat pada lahan di Dusun Wonoasri, Ngantang transek lahan
berturut-turut dari atas ke bawah adalah sebagai berikut: sistem hutan,
agroforestry, dan kemudian dilanjutkan dengan lahan pertanian. Sistem
tersebut baik digunakan untuk mendukung pertanian berlanjut. Dengan
lereng berombak dilahan tersebut dan masih banyaknya tanaman tahunan,
sehingga tidak memiliki resiko yang besar terhadap adanya erosi, maka
pertanian dapat berlanjut.
d. Minimalisasi resiko-resiko alamiah yang mungkin terjadi
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh seorang narasumber
yakni Bapak Suwono sebagai petani yang memiliki lahan di Dusun
5

Wonoasri diketahui bahwa lahan yang dikelola merupakan lahan milik


perhutani dengan luas lebih dari 60 Ha, kemudian diberlakukan sistem
bagi hasil 70% untuk pengelola (petani) dan 30% untuk perhutani.
Menurut narasumber pada aspek lingkungan dikatakan bahwa lahan
tersebut ramah lingkungan, sebab tata letak lahan pertanian berada jauh
dari pemukiman. Sehingga kerusakan akibat aktivitas manusia dapat
diminimalisir. Sebaliknya manusia yang berada dipemukiman tidak akan
terganggu dengan adanya penyemprotan pestisida secara langsung.
Dengan demikian petanian dapat dikatakan berlanjut karena mampu
meminimalisir resiko baik pada manusia ataupun pada lahan pertanian.
Sehingga dapat disimpulkan pada aspek ekologi sudah memenuhi
pertanian berlanjut, sebab dalam penggunaan lahan yang cukup sesuai
walaupun aplikasi pestisida yang dapat mencemari lingkungan yang dapat
menurunkan tingkat produksi.
2.3 Socially Just ( Berkeadilan : Mengurai azas keadilan)
2.3.1 Kebutuhan Dasar sebagai Pengelolaan Pertanian (hak-hak)
- Penggunaan Fungsi Lahan Pertanian
Kondisi penggunaan fungsi lahan disana sesuai untuk
penanaman tanaman semusim. Meskipun para petani menanam
tanaman semusim, akan tetapi masih banyaknya lahan agroforestri
sampai hutan di sekitar lahan petani tersebut. Hal ini
mengakibatkan peminimalisirannya erosi di lahan para petani
tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya keberadaan air sungai
yang tergolong masih jernih. Selain itu kesadaran petani akan
pentingnya peran lingkungan dengan membatasi pupuk kimia dan
lebih condong terhadap pemakaian pupuk organik buatan mereka
sendiri.
- Keanekaragaman, kepemilikan dan melestarikan keanekaragaman
hayati
Keanekaragaman hayati masih kurang baik karana dalam
satu lahan terdapat hanya satu macam tanaman sehingga masih
tingginya angka ledakan hama oleh tanaman yang ditanaman
secara monolkultur.
- Pemuliaan dan Pengembangan
- Saling Menukar dan Menjual Benih di Masyarakat
Tidak terjadinya penjualan atau tukar benih kesesama
masnyarakat petani karena petani langsung menjual atau membeli
ketengkulak dari kota ataupun dari agen benih.
- Memperoleh Informasi Pasar
Para petani di sana mengetahui harga atau informasi pasar hanya
dari tengkulak yang akan membeli tanaman hasil panen mereka.
2.3.2 Memiliki karakter yang humanistik (manusiawi)

Artinya semua bentuk kehidupan baik tanaman, hewan dan


manusia dihargai secara proporsional. Mereka sudah memperhatikan
sistem pertanian yang tidak hanya berbasis pada keuntungan
ekonomi
dan
kurang
memperhatikan
tentang
kesehatan
lingkungan.
Akan tetapi mereka sudah sangat memperhatikan
kepentingan lingkungan dengan membatasi penggunaan pupuk kimia.
Dan menggunakan pupuk kandang yang berasal dari kotoran kambing
yang diolah sebelumnya.
2.3.3 Martabat dasar semua mahluk hidup dihormati
Dalam suatu ekosistem yang ada, seluruh makhluk hidup yang
terdapat dalam ekosistem tersebut memiliki peran dan fungsi masingmasing, yang semuanya akan menjadi penting dalam suatu rantai
kehidupan. Oleh karena itu keberadaannya perlu dilestarikan dan
dijaga sehingga semua makhluk hidup memiliki hak untuk dihormati
untuk menjalankan peran dan fungsinya sehingga menciptakan suatu
keseimbangan yang ada dala suatu ekosistem tersebut.
2.4 Culturally Acceptable (Berakar pada Budaya Setempat)
Culturally acceptable biasanya selaras atau sesuai dengan sistem budaya
setempat. Di Desa Tulungrejo I, petani di sana memakai sistem pranoto
mongso, yaitu menggunakan tanda-tanda alam untuk melakukan aktivitas
pertanian.
Pranata Mangsa dibutuhkan pada saat itu sebagai penentuan atau patokan
bila akan mengerjakan sesuatu pekerjaan. Contohnya melaksanakan usaha
tani seperti bercocok tanam atau melaut sebagai nelayan, merantau mungkin
juga berperang. Sehingga mereka dapat mengurangi risiko dan mencegah
biaya produksi tinggi.
Dari Pranata Mangsa itu diketahui bahwa pada bulan Desember-JanuariPebruari adalah musimnya badai, hujan, banjir, dan longsor. Mendekati
kecocokan dengan situasi alam sekarang. Selanjutnya pada musim berikut
yaitu Kawolu antara 2/3 Pebruari-1/2 Maret, bersiap-siaga waspada
menghadapi penyakit tanaman maupun wabah bagi manusia dan hewan,
mungkin akibat dari banjir, badai dan longsor tersebut akan berdampak
menyebarnya penyakit, kelaparan dan sebagainya. Hal tersebut masuk akal
karena manusia atau binatang bahkan tanamanpun belum siap
mempertahankan diri dari serangan hama penyakit. Dalam keadaan lemah
tersebut dengan mudah penyakit menyerang kita (Wiriadiwangsa, 2005).
Selain selaras atau sesuai dengan sistem budaya setempat, culturally
acceptable biasanya ada hubungan serta institusi yang ada mampu
menggabungkan nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti kepercayaan, kejujuran,
harga diri, kerja sama, dan rasa kasih sayang. Berdasarkan hasil wawancara
dengan petani, di sana biasanya ada gotong royong secara bergantian. Apabila
ada tetangga yang membutuhkan bantuan, yang lainnya akan membantu. Di

sana terdapat kelompok tani yang bernama Rukun Makmur, kegiatannya


seperti adanya sosialisasi penggunaan bibit baru.

BAB III
Kesimpulan dan Saran

3.1 Kesimpulan
Dari keempat aspek tersebut dapat disimpulkan bahwasanya pertanian di
desa Tulungrejo terkategori berlanjut karena kesesuaian keempat aspek
tersebut dengan keberlangsungan daya dukung lahan. Secara ekonomi, karena
sebagaian besar input yang di gunakan di dapatkan sendiri seperti pupuk dan
modal. Dari hasil produksi tersebut mampu untuk mencukupi kebutuhan
keluarganya dan cukup untuk mengembalikan input produksi tenaga, kerja,
bibit, pupuk. Dari aspek ramah lingkungan, mampu meminimalisir resiko
baik pada manusia ataupun pada lahan pertanian. Dari akar budaya setempat
penggunaan pranata mongso menjadi kegiatan yang menguntungkan karena
dapat meminimalisir adanya gangguan dan permasalahan dalam kegiatan
budidaya.
3.2 Saran
Kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan oleh masyarakat petani disana
sebenarnya sudah cukup baik dan mendukung keberlanjutan dari
agroekosistem dari suatu landskap. Dan semoga kegiatan-kegiatan tersebut
tetap dapat dilakukan secara berlanjut dan berkesinambungan.

DAFTAR PUSTAKA
Munasinghe, Mohan. 1993. Environmental Economics and Sustainable
Development. World Bank Publications.
Salikin, Karwan A. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Yogyakarta: Kanisius.
Heal,G.1998 Valuing the Future : Economic Theory and Sustainability. Columbia
University Press.New York.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009

10

LAMPIRAN
Dalam mengevaluasi keberlanjutan dari aspek sosial ekonomi dilakukan
dengan menggunakan indikator-indikator sebagai berikut (dengan melakukan
wawancara terhadap petani).
1. Macam/jenis komoditas yang ditanam (semakin beragam jenis tanaman,
semakin berkelanjutan).
Tanaman apa saja yang Bapak/Ibu budidayakan?
Lahan sawah
:Jenis tanaman
: Kubis (Rotasi tanaman : padi, kentang, kubis)
Lahan tegal:
:Jenis tanaman: : Selanjutnya lakukan penilaian jenis tanaman tersebut dengan skor dibawah
ini.
Jenis tanaman untuk lahan sawah:
5 jenis atau lebih : Skor 5
4 jenis
Skor 4
3 jenis
Skor 3
2 jenis
Skor 2
1 jenis
Skor 1
Jenis tanaman untuk lahan tegal:
5 jenis atau lebih : Skor 5
4 jenis
Skor 4
3 jenis
Skor 3
2 jenis
Skor 2
1 jenis
Skor 1
2. Akses terhadap sumber daya pertanian:
Berapakah luas lahan yang Bapak/ibu kuasai?
Jenis
Tanah Milik
Sewa
Lahan

Sawah (ha)
Tegal (ha)

Sakap(bagi
hasil)

Jumlah (ha)
0,5
0,25

Pekaranga
n (ha)
Jumlah
(ha)

11

Selanjutnya lakukan penilaian penguasaan lahan tersebut dengan skor di bawah


ini (lingkari yang sesuai).
(1) Penguasaan lahan sawah :
Milik sendiri 100%
Skor: 5
Milik sendiri sebagian
Skor: 4
Sewa > 50%
Skor: 3
Sakap > 50%
Skor 2
Buruh tani (tanpa lahan)
Skor 1
(2) Penguasaan lahan tegal :
Milik sendiri 100%
Skor: 5
Milik sendiri sebagian
Skor: 4
Sewa > 50%
Skor: 3
Sakap > 50%
Skor 2
Buruh tani (tanpa lahan)
Skor 1
(3) Bibit untuk tanaman di lahan sawah: membuat sendiri atau membeli, berapa
persen? :
100 % membuat sendiri Skor 5
75% membuat sendiri Skor 4
50% membuat sendiri Skor 3
25% membuat sendiri Skor 2
0%
membuat sendiri Skor 1
(4) Bibit untuk tanaman di lahan tegal: membuat sendiri atau membeli, berapa
persen? :
100 % membuat sendiri
Skor
5
75% membuat sendiri
Skor 4
50% membuat sendiri
Skor 3
25% membuat sendiri
Skor 2
0%
membuat sendiri
Skor 1
(5) Pupuk: membuat sendiri/ membeli, berapa persen?
100 % membuat sendiri
Skor 5
75% membuat sendiri
Skor 4
50% membuat sendiri
Skor 3
25% membuat sendiri
Skor 2
0%
membuat sendiri
Skor 1
(6) Modal:
100 % milik sendiri
Skor 5
75% milik sendiri
Skor 4
50% milik sendiri
Skor 3
25% milik sendiri
Skor 2
0%
milik sendiri
Skor 1

12

3. Apakah produksi pertanian (tanaman semusim: padi / agung / sayuran) dapat


memenuhi kebutuhan konsumsi?
100 % terpenuhi Skor 5
75% terpenuhi Skor 4
50% terpenuhi Skor 3
25% terpenuhi Skor 2
0%
terpenuhi Skor 1
4. Akses pasar: tersedia pasar apa tidak akan komoditas yang Bapak/Ibu
budidayakan?
(a) Jenis tanaman : kubis
Tersedia dengan harga wajar
Skor 5
Tersedia harga dibawah standar
Skor 3
Tidak tersedia
Skor 1
(b) Jenis tanaman :
Tersedia dengan harga wajar
Skor 5
Tersedia harga dibawah standar
Skor 3
Tidak tersedia
Skor 1
(c) Jenis tanaman : .
Tersedia dengan harga wajar
Skor 5
Tersedia harga dibawah standar
Skor 3
Tidak tersedia
Skor 1
(d) Jenis tanaman : ..
Tersedia dengan harga wajar
Skor 5
Tersedia harga dibawah standar
Skor 3
Tidak tersedia
Skor 1
5. Apakah petani mengetahui usahatani yang dilakukan ramah terhadap
lingkungan apa tidak.
Pertanyaan: Bagaimanakah menurut Bapak/Ibu usahatani yang Bapak/Ibu lakukan
apakah sudah memperhatikan aspek lingkungan (ramah lingkungan)?
Sebutkan alasannya.
Jawab:
(a) Ya, alasannya:
Petani mengetahui usahatani yang dilakukan ramah lingkungan dan
memperhatikan aspek lingkungan. Petani mulai mengimbangi penggunaan
pupuk anorganik dengan pupuk organik. Pupuk organik yang digunakan
adalah pupuk organik buatan petani sendiri dari kotoran kambing yang
sudah diolah terlebih dahulu kemudian diaplikasikan.
(b) Tidak, alasannya:

13

..
.........
6. Diversifikasi sumber-sumber pendapatan (semakin banyak sumber pendapatan
semakin berkelanjutan).
Apa saja sumber-sumber penghasilan keluarga Bapak/Ibu:
Pertanian
: ( ya / tidak)
Peternakan : (ya / tidak)
Lainnya
: mengelola lahan perhutani
Lakukan penilaian dengan skor dibawah ini.
3 jenis sumber penghasilan atau lebih :
Skor 5
2 jenis sumber penghasilan
Skor 3
1 jenis sumber penghasilan
Skor 1
7. Kepemilikan ternak:
Memiliki ternak (sapi/kambing)
Menggaduh ternak (sapi/kambing)
Tidak punya ternak

Skor 5
Skor 3
Skor` 1

8. Pengelolaan produk sampingan: kotoran ternak


Kotoran ternak yang dihasilkan, digunakan untuk pupuk organik di lahan
petani sendiri. Cara pengelolaannya digemburkan, didinginkan hingga
tidak berbau kemudian baru diapilkasikan.
Kotoran ternak dikelola terlebih dahulu sebelum diaplikasikan di lahan
(diproses menjadi kompos)
Skor 5
Kotoran ternak langsung diaplikasikan untuk pupuk
Skor 3
Kotoran ternak dibuang
Skor 1
9. Kearifan lokal:
Identifikasi kearifan lokal yang ada di masyarakat
(a) Kepercayaan/adat istiadat:
Terdapat punden yang dihormati dan dipercaya sebagai makam manusia
pertama yang tinggal di desa tersebut. Diadakan acara selametan
menggunakan tumpeng sebelum suro. Terdapat kegiatan bersih desa dan
juga karnaval
(b) Pranoto mongso (menggunakan tanda-tanda alam untuk melakukan aktivitas
pertanian):

14

Menggunakan pranoto mongso, melihat bulan untuk memulai aktivitas


tanam padi.
(c) Penggunaan bahan-bahan alami setempat untuk pupuk atau pengendalian
hama/penyakit :
Menggunakan pupuk organik
(d) Apakah ada kegiatan-kegiatan pertanian yang menciptakan keguyuban,
kebersamaan, kerjasama (misalkan gotong royong, tolong ,menolong, dsb).
Sebutkan dan jelaskan.
Ada kelompok tani Rukun Makmur yang biasanya mengadakan gotong
royong bersama
10. Kelembagaan
Sebutkan kelembagaan apa saja yang ada di masyarakat (yang terkait dengan
pertanian), misalkan: kelompok tani, koperasi, lembaga keuangan dsb.
Kelompok tani Rukun Makmur , Koprasi KUD susu Sumber Makmur
11. Tokoh masyarakat: ada / tidak tokoh panutan dalam pengelolaan usahatani,
sebutkan.
Pihak perhutani dan perangkat desa
12. Analisis usahatani dan kelayakan usaha
(a) Lakukan wawancara kepada petani tentang komoditas yang ditanam, berapa
jumlah produksi dan harga jualnya, penggunaan input dan harga masing-masing
input. Hasil wawancara tersebut isikan dalam Tabel 8. Jika dalam satu lahan
ditanami lebih dari satu macam komoditas (tumpang sari), tanyakan semua
produksi tanaman dan penggunaan inputnya. Hindari perhitungan ganda;
(b) Hitung berapa nilai produksi dan biayanya;
(c) Hitung pendapatan kotor usahatani (Gross Farm Family Income);
(d) Hitung kelayakan usaha dengan rumus R/C rasio.
Apabila usahatani tersebut layak secara finansial maka akan lebih
berkelanjutan dari aspek finansial. Dalam arti usahatani tersebut mampu
membiaya biaya-biaya yang harus dikeluarkan sehingga akan lebih berlanjut jika
dibandingkan dengan usahatani yang tidak layak secara finansial.
Tabel Produksi, Nilai Produksi, Penggunaaan Input dan Biaya Usahatani
Jenis
Luas Tanam Jumlah
Harga/ unit
Nilai Produksi
Tanaman
(ha)
Produksi (kg)
(kg)
Kubis
ha
8 ton (8000 Rp
Rp 8.000.000, 00
kg)
1.000.00/kg
Tabel Penggunaan Input dan Biaya Usahatani Tanaman
Jenis Tanaman
Unit
Harga / unit

Jumlah Biaya

15

Luas Lahan (ha)


Sewa lahan (jika
menyewa) (Rp)
Bibit
Pupuk
Urea
ZA
Phonska
SP36
Pestisida Kimia
Prematon
Endure
Pestisida organik
Tenaga Kerja
Biaya lain-lain
Jumlah

0,5 ha

2.000.000/tahun

Rp 2.000.000,00

150 Kg

10000/Kg

Rp 150.000, 00

2 sak
2 sak
2 sak
2 sak

180.000
150.000
240.000
210.000

Rp 360.000, 00
Rp 300.000, 00
Rp 480.000, 00
Rp 420.000 ,00

1
1

140.000
165.000

Rp 140.000, 00
Rp 165.000, 00

3 orang
(borongan)

150.000

Rp 150.000, 00

Rp 4.165.000, 00

Kuisioner Sejarah Lahan Pada Lansekap Pertanian


1. Sejak kapan desa dibuka untuk pemukiman? Dari mana saja asal para
penduduk desa?
Sejak bapak lahir pada 1960 desa sudah dibuka untuk pemukiman.
Penduduk di desa Tulungrejo adalah penduduk asli.
2. Apakah ada rencana untuk pengalihan fungsi lahan pertanian di desa ini?
(1) Bila tidak, apa alasannya?
Tidak, karena lahan pertanian di desa tersebut adalah lahan untuk bekerja
dan ladang penghasilan petani di desa tersebut.
(2) Bila ya, digunakan untuk apa dan berapa luasannya?
....................................................................................................................................
..................
3. Apakah ada pembukaan areal hutan untuk pertanian 2 tahun terakhir ini? Bila
ya, digunakan untuk apa dan siapa yang membuka (penduduk desa setempat/ dari
luar desa)
Ada, perhutani memberikan wewenang beberapa lahan hutan kepada
warga untuk ditanami kopi,durian, dll, namun tanaman yang ditanam
haruslah tanaman tahunan.
4.
Apakah ada perubahan luasan hutan yang dikelola Perhutani yang
dimanfaatkan masyarakat di desa?
(1) Bertambah, digunakan untuk apa?
.......................................................................................

16

(2) Berkurang digunakan untuk apa?


Untuk ditanami tanaman tahunan yang memiliki nilai produksi.
(3) Tidak ada perubahan
.......................................................................................
5. Apakah ada peraturan di desa tentang pemanfaatan lahan?
(1) Bila ada sebutkan! Siapa yang membuat peraturan tersebut? Panduan Fieldtrip
Pertanian
Ada, pihak perhutani yang mengelola lahan hutan memberikan wewenang
hak mengelola sebagian lahan hutan bagi masyarakat desa untuk ditanami
tanaman tahunan, sebagai gantinya, masyarakat membayar pajak berupa
10% dari hasil panen dan masyarakat wajib menjaga keseimbangan
ekosistem di hutan.
(2) Apa ada sangsi bila tidak mematuhi peraturan tersebut? Bila ya, sebutkan
sangsinya dan siapa yang akan memberi sangsi
Ada, bagi masyarakat yang membuka lahan hutan untuk ditanami tanaman
semusim dan tidak mematuhi aturan yang diberikan oleh perhutani maka
akan dicabut haknya untuk mengelola lahan hutan.
6. Apa ada tempat tertentu yang secara adat atau kesepakatan masyarakat
dilindungi? Bila ya, apa saja dan dimana tempatnya?
Ada, terdapat punden di depan desa Tulungrejo
7. Mengapa tempat tersebut dilindungi?
Punden tersebut dihormati dan dipercaya sebagai makam orang pertama yang
tinggal di desa tersebut.

17