Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN

PENGANTAR USAHA TANI

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 5:
Rivaldi Akbar P

135040207111003

Hayyuna Khairina A

135040201111324

Fetty Laila I

135040207111012

Irma Noviana

135040207111049

Prabowo Pangestu

135040207113003

KELAS : N

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR...............................................................................................3
DAFTAR TABEL....................................................................................................4
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................5
1.1.

Latar Belakang..........................................................................................5

1.2.

Tujuan........................................................................................................5

1.3.

Manfaat......................................................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................7


2.1.

Pengertian Sejarah Usaha Tani..................................................................7

2.2.

Pengertian Transek Desa...........................................................................7

2.3.

Profil Usaha Tani.......................................................................................7

2.3.1.

Karakteristik Usahatani Dan Petani Indonesia...................................7

2.3.2.

Tinjauan Tentang Komoditas Pertanian.............................................9

2.4.

Analisis Biaya, Penerimaan dan Keutungan...........................................10

2.5.

KelayakanUsahatani................................................................................16

2.5.1.

R/C Ratio..........................................................................................16

2.5.2.

BEP (Break Event Point)..................................................................17

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................18


3.1.

SejarahUsahatani.....................................................................................18

3.2.

Transek Desa...........................................................................................18

3.3.

Profil Petani dan Usahatani.........................................................................19


3.3.1.

Profil Petani......................................................................................19

3.3.2.

Usahatani (Kegiatan Bercocok Tanam)...........................................20

3.4.

Analisis Biaya, Penerimaan, dan Keuntungan (Pendapatan) Usahatani.....21

3.5.

Analisis Kelayakan Usahatani.................................................................24

3.5.1.

R/C Ratio..........................................................................................24

3.5.2.

BEP (Break Even Point)...................................................................25

3.6.

Pemasaran Hasil Pertanian......................................................................25

3.7.

Kelembagaan Petani................................................................................26

3.8.

Permasalahan Dalam Usahatani..............................................................26

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................28

4.1.

Kesimpulan..............................................................................................28

4.2.

Saran........................................................................................................28

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................29

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan usahatani merupakan kegiatan yang mengupayakan pengelolaan
unsur-unsur produksi baik SDA, SDM, maupun modal dengan tujuan berproduksi
untuk menghasilkan sesuatu di lapangan pertanian. Pertanian merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Awalnya pertanian dilakukan hanya
semata untuk dapat bertahan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan hidup,
masyarakat menanam apa saja yang diperlukan, awalnya adalah umbi-umbian.
Masyarakat berfikir sederhana bagaimana mempersiapkan lahan, alat-alat, hewan
dan sebagainya. Namun saat ini dunia pertanian memberikan peluang besar bagi
orang-orang yang bergerak dalam bidang agribisnis dan agroekoteknologi.
Sebagai mahasisiwa agroekoteknologi yang nantinya akan mempelajari
materi yang berhubungan dengan maasalah sosial selain itu perlu adanya
pengalaman tentang kegiatan berusahatani mulai dari budidaya hingga pemasaran
dengan memperhitungkan biaya serta pendapatannya. Pengamatan atau survei
dilakukan secara langsung dengan mengunjungi rumah kelompok tani atau
keluarga tani agar menambah wawasan serta pengetahuan tentang bagaimana
berusahatani sehingga mampu penjadi petani yang sukses di bidangnya serta
mengetahui kendala-kendala apa saja yang menghambat berlangsungnya usaha
tani tersebut.
Untuk memenuhi hal tersebut diadakan fieldtrip usahatani yang tempatnya
terletak di Desa Junrejo Kabupaten Batu. Dengan diadakannya fieldtrip ini
diharapkan mahasiswa mampu mengamati dan memperoleh pengalaman dari
kelompok atau keluarga tani yang telah sukses dalam menjalankan usahataninya.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui karakteristik rumah tangga petani
2. Mengetahaui bagaimana cara petani berbudidaya di desa Junrejo
Kabupaten Batu
3. Mengetahui analisis data dan menghitung pendapatan usahatani serta
kelayakan usahatani selama 1 tahun terakhir.
4. Mengerti dan memahami kendala-kendala yang dihadapi petani dalam
berusahatani.

5. Mengerti dan memahami kehidupan para petani di desa dengan keragaan


usaha tani yang benar-benar di lakukan oleh petani
1.3 Manfaat
Mahasiswa mampu menganalisis usahatani dan kendala sehingga dapat
menemukan solusi serta dapat memilah bagaimana cara berbudidaya yang
baik dan benar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Sejarah Usaha Tani
Menurut Adiwilaga (1992), Usahatani adalah kegiatan usaha manusia
untuk mengusahakan tanahnya dengan maksud untuk memperoleh hasil tanaman
atau hewan tanpa

mengakibatkan berkurangnya kemampuan tanah yang

bersangkutan untuk memperoleh hasil selanjutnya.


Soeharjo dan Patong (1973) dan Mubyarto (1986) mengatakan bahwa
berusahatani sebagai suatu kegiatan untuk memperoleh produksi di lapangan akan
dinilai dari penerimaan yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan. Selisih antara
penerimaan yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan merupakan pendapatan
usahatani.

2.2 Pengertian Transek Desa


Menurut Adiwilaga (1992), arti harfiah (terjemahan lurus) dari Transek
itu sendiri adalah gambar irisan muka bumi. Pada awalnya, transek dipergunakan
oleh para ahli lingkungan untuk mengenali dan mengamati wilayah-wilayah
Ekologi (pembagian wilayah lingkungan alam berdasarkan sifat khusus
keadaannya). Pengertian sebagai teknik PRA. Teknik Penelusuran Lokasi
(Transek) adalah teknik PRA untuk melakukan pengamatan langsung lingkungan
dan sumber daya masyarakat, dengan cara berjalan menelusuri wilayah desa
mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati. Hasil pengamatan dan lintasan
tersebut, kemudian dituangkan ke dalam bagan atau gambar irisan muka bumi
untuk didiskusikan lebih lanjut.
Soekartawi (1986) mengatakan bahwa, transek (Penelusuran Desa)
merupakan teknik untuk memfasilitasi masyarakat dalam pengamatan langsung
lingkungan dan keadaan sumber-sumberdaya dengan cara berjalan menelusuri
wilayah desa mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati. Dengan teknik
transek, diperoleh gambaran keadaan sumber daya alam masyarakat beserta
masalah-masalah, perubahan-perubahan keadaan dan potensi-potensi yang ada.
Hasilnya digambar dalam diagram transek atau 'gambaran irisan muka bumi.
Jenis-jenis transek meliputi 'Transek sumber daya desa umum, Transek sumber
daya alam, Transek Topik Tertentu, misalnya 'transek mengamati sumber pakan
ternak' atau transek pengelolaan tanah.
2.3 Profil Usaha Tani
2.3.1 Karakteristik Usahatani Dan Petani Indonesia
Di Indonesia, usahatani dikategorikan sebagai usahatani kecil karena mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut :
a. Berusahatani dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang
meningkat
b. Mempunyai sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat
hidup yang rendah
c. Bergantung seluruhnya atau sebagian kepada produksi yang
subsisten

d. Kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan dan


pelayanan lainnya
Soekartawi, 1986 pada seminar petani kecil di Jakarta pada
tahun 1979, menetapkan bahwa petani kecil adalah :
a. Petani yang pendapatannya rendah, yaitu kurang dari setara 240 kg
beras per kapita per tahun.
b. Petani yang memiliki lahan sempit, yaitu lebih kecil dari 0,25 ha
lahan sawah di Jawa atau 0,5 ha di luar Jawa. Bila petani tersebut
juga memiliki lahan tegal maka luasnya 0,5 ha di Jawa dan 1,0 ha
di luar Jawa.
c. Petani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan yang
terbatas.
d. Petani yang memiliki pengetahuan terbatas dan kurang dinamis.
Menurut

Tohir

(1983)

,Tingkat

pertumbuhan

dan

perkembangan usaha tani dapat diukur dari berbagai aspek. Ciri-ciri


daerah pertumbuhan dan perkembangan usaha tani, yaitu:
A. Usaha pertanian atas dasar tujuan dan prinsip sosial ekonomi yang
melekat padanya, usaha tani digolongkan menjadi 3 (tiga)
golongan, yaitu:
a. Usaha tani yang memiliki ciri-ciri ekonomis kapitalis
b. Usaha tani yang memiliki dasar ekonomis-sosialiskomunistis
c. Usaha tani yang memiliki ciri-ciri ekonomis
B. Tingkat pertumbuhan usaha tani berdasarkan teknik atau alat
pengelolaan tanah:
a. Tingkat pertanian yang ditandai dengan pengelolaan tanah
secara dicangkul (dipacul).
b. Tingkat pertanian yang ditandai dengan pengelolaan tanah
secara membajak
C. Berdasarkan kekuasaan badan-badan usaha tani dalam masyarkat
atas besar kecilnya kekuasaan, maka usaha tani dapat kita
golongkan sebagai berikut:
a. Suku sebagai pengusaha atau yang berkuasa dalam pengelolaan
usaha tani

b. Suku sudah banyak kehilangan kekuasaannya dan perseorangan


nampak mulai memegang peranan dalam pengelolan usaha
taninya.
c. Desa, marga, atau negari sebagai pengusaha usaha tani atau
masih memiliki pengaruh dalam pengelolaan usaha tani.
d. Famili sebagai pengusaha atau masih memiliki pengaruh dalam
pengelolaan usaha tani.
e. Perseorangan sebagai pengusaha tani
f. Persekutuan adat sebagai pengusaha atau sebagai pembina
usaha tani
D. Tingkat pertumbuhan dan perkembangan usaha tani dapat dilihat
dari (a) kedudukan struktural atau fungsi dari petani dalam usaha
tani dan (b) kedudukan sosial ekonomi dari petani dalam
masyarakat
2.3.2

Tinjauan Tentang Komoditas Pertanian


Menurut Cahyono (1998), tanaman tomat berasal dari daerah Peru

dan Ekuador, kemudian menyebar ke seluruh Amerika, terutama ke wilayah


yang beriklim tropik. Bangsa Eropa dan Asia mengenal tanaman tomat pada
tahun 1523. Namun pada waktu itu tanaman tomat dianggap sebagai tanaman
beracun. dan hanya ditanam sebagai tanaman hias dan obat kanker. Tanaman
tomat di tanam di Indonesia sesudah kedatangan orang Belanda, hal ini
menandakan bahwa tanaman tomat sudah tersebar di seluruh dunia, baik di
daerah tropik maupun subtropik.
Tanaman tomat termasuk tanaman semusim yang berumur pendek,
artinya umur tanaman berkonsekuensi pada produksi yang di hasilkan setelah
itu mati. Tomat sangat bermanfaat bagi tubuh manusia, karena mengandung
vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan.
Dalam buah tomat juga terdapat zat pembangun jaringan tubuh dan zat yang
dapat meningkatkan energi. Tanaman tomat sangat dikenal masyarakat dan
digemari karena rasanya yang manis-manis asam dapat memberikan
kesegaran pada tubuh dan cita rasanya yang berbeda dengan buah-buahan
lainnya. Bahkan kelezatan rasa buah tomat juga dapat menambah cita rasa
dan kelezatan berbagai macam masakan. Kegunaannya sebagai penyedap

masakan hanya sedikit, namun ketersediaannya tetap di dambakan sepanjang


masa.
2.4 Analisis Biaya, Penerimaan dan Keutungan
Analisis finansial usaha dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Menetapkan rencana atau skala produksi;
2. Menghitung biaya (cost) usaha;
3. Menghitung penerimaan (revenue) usaha;
4. Menghitung pendapatan (income) usaha;
5. Menghitung kelayakan usaha.
1. Rencana produksi
Yang dimaksudkan dengan rencana produksi dalam hal ini adalah skala
(volume) usaha dan jenis usaha yang akan dikerjakan. Hal ini penting untuk
dasar dalam perhitungan finansial lebih lanjut, semakin besar skala (volume)
usaha akan semakin besar pula kebutuhan modal dan biaya usaha serta
semakin komplek pengelolaan usaha dan resiko kecenderungan semakin
besar. Oleh karena itu penetapan rencana skala usaha dibutuhkan banyak
pertimbangan baik secara teknis maupun ekonomis.
2. Biaya usaha
Biaya usaha adalah seluruh pengeluaran dana (korbanan ekonomis) yang
diperhitungkan untuk keperluan usaha. Dalam praktek di agribisnis oleh
masyarakat, yang dimaksud dengan biaya usaha hanyalah biaya yang secara
riel atau cash dikeluarkan oleh pelaku usaha, sedangkan biaya yang tidak
riel/cash dikeluarkan seperti biaya tenaga kerja rumah tangga, gaji petani
selaku pengelola usaha, nilai sewa lahan usaha, dll tidak dihitung sebagai
biaya usaha.
Cara pandang seperti tersebut adalah tidak tepat karena akan
mengakibatkan laba atau keuntungan usaha yang didapat oleh pelaku usaha
hanyalah laba kotor. Demikian juga akan mengakibatkan hasil analisis
kelayakan usaha (secar financial) menjadi tidak benar. Oleh karena itu dalam
analisis finansial dalam rangka kelayakan usaha, biaya usaha haruslah
dihitung seluruhnya, baik yang riel (cash/kontan) maupun yang tidak
dikeluarkan petani,
Biaya usaha secara terinci meliputi :

a. Investasi harta tetap.


b. Biaya operasional usaha :
Biaya Usaha (= Biaya Tetap).
Biaya Pokok Produksi (= Biaya Tidak Tetap).
a. Investasi Harta Tetap
Yaitu seluruh biaya yang digunakan untuk investasi harta tetap. Harta tetap
adalah sarana prasarana usaha yang mempunyai jangka usia ekonomi atau usia
pemakaian yang panjang atau berumur tahunan.
Misalnya : biaya pembangunan kandang, biaya peralatan, biaya sarana
penunjang (seperti: sumur, drainase, pemasangan listrik, dll).
Di dalam analisis (perhitungan) biaya, investasi harta tetap dihitung nilai atau
biaya penyusutan.
b. Biaya Operasional Usaha
Yaitu seluruh biaya yang digunakan untuk pelaksanaan proses produksi
suatu usaha. Biaya operasional usaha dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Biaya Usaha atau Biaya Tetap (Fixed Cost/FC)
Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya relatif tetap, dan secara
tetap dikeluarkan meskipun jumlah produksi banyak atau sedikit.
Sehingga besarnya biaya tetap tidak terpengaruh oleh besar kecilnya
produksi yang dijalankan.

Keterangan:
TFC = total biaya tetap (Rp)
Xi
= jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap
Pxi
= harga input (Rp)
n
= jumlah atau banyaknya input
Kurva biaya tetap atau biaya yang tidak berubah walaupun volume
produksi atau penjualan berubah dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Kurva Total Fixed Cost

2. Biaya Pokok Produksi (Variable Cost/VC)


Untuk tujuan perencanaan dan pengawasan, biaya variabel
dibedakan menjadi :
Engineered variabel cost
Engineered variabel cost adalah biaya yang memiliki
hubungan fisik tertentu dengan ukuran kegiatan tertentu
atau biaya yang antara masukan dan keluarannya
mempunyai hubungan yang erat dan nyata. Contohnya :

biaya bahan baku.


Discretionary cost
Discretionary variabel cost adalah biaya-biaya yang

jumlah totalnya sebanding dengan perubahan volume kegiatan


sebagai akibat kebijakan manajemen.
Misalnya adalah pengeluaran untuk pembelian bahan
baku. Semakin banyak barang yang dihasilkan, maka semakin
besar pula pengeluaran untuk pembelian bahan baku. Namun
demikian laju peningkatan biaya tersebut berbeda-beda (tidak
konstan ) . Laju peningkatan mula-mula dari titik asal adalah
menurun hingga titik A. Pada titik A ini tidak terjadi
peningkatan sama sekali. Kemudian sesudah titik A laju
kenaikannya terus menerus naik.
Kesimpulannya ialah Jika jumlah produksinya sedikit,
maka nilai biaya yang diperlukan rendah. Sehingga dalam hal
ini, antara biaya variabel dan jumlah produksi merupakan
suatu hubungan yang sifatnya searah. Dalam usahatani, yang
termasuk biaya variabel adalah pengeluaran untuk pembelian
pupuk, bibit, benih, pestisida, biaya persiapan dan persewaan

lahan, serta biaya pengolahan lahan. Biaya variabel total dapat


dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan:
VC
= variable cost/ biaya variabel (Rp)
TVC = total variable cost/ jumlah dari biaya variabel (Rp)
Kurva biaya variabel atau biaya yang berubah-ubah sesuai dengan
kapasitas produksi dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Kurva Total Variable Cost


3. Biaya Total
Biaya total (total cost) dapat diperoleh dari penjumlahan biaya tetap
dan biaya variabel, dapat dirumuskan sebagai berikut :
TC = TFC + TVC
Keterangan:
TC
= Total Cost (Biaya total (Rp))
TFC = Total Fixed Cost (Biaya tetap total (Rp))
TVC = Total Variable Cost (Biaya variabel total (Rp))
Q
= Quantitas Produk
Kurva biaya total atau Total cost untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar 3.

Gambar 3. Kurva Total Cost


4. Penerimaan
Kadarsan (1993) menyatajan bahwa usahatani pada akhirnya akan
menghasilkan produk atau output yang merupakan penerimaan bagi petani
jika dikalikan dengan harga produk. Kelebihan penerimaan dari total biaya
merupakan keuntungan usahatani. Besar kecilnya keuntungan yang
diperoleh tergantung pada tinggi rendahnya biaya produksi, harga
komoditas, dan jumlah produk yang dihasilkan. Menurut Soekartiwi
(1995), penerimaan merupakan perkalian antara produksi yang dihasilkan
dengan harga jual, dapat dirumuskan sebagai berikut :
TR = P x Q
Keterangan :
TR = Penerimaan Total (Rp)
P = Harga Produk (Rp/unit)
Q = Jumlah Produksi (unit)

Kurva penerimaan (D) dan Kurva Penerimaan Marjinal (MR)

5. Keuntungan/Pendapatan
Keuntungan

atau

pendapatan

usahatani merupakan selisih antara


penerimaan dengan total biaya yang
digunakan. Semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka dapat dikatakan
bahwa perusahaan terus berkembang dengan baik karena ada prinsipnya,
tujuan perusahaan secara umum adalah mencari laba maksimal. Faktor-faktor
yang mempengaruhi pendapatan usahatani, antara lain: luas lahan, tingkat
produksi, pilihan dan kombinasi cabang usaha, intensitas pengusaha
pertanaman dan efisiensi tenaga kerja (Hernanto, 1991). Sedangkan menurut
Mulyadi (1992), pendapatan merupakan keuntungan yang diperoleh para
pengusaha sebagai pembayaran dari melakukan kegiatan sebagai berikut:
a. Menghadapi resiko ketidakpastian dimasa yang akan datang
b. Melakukan inovasi/pembaharuan didalam kegiatan ekonomi
c. Mewujudkan kekuasaan monopoli di dalam pasar
=TRTC

Keterangan :
TR = Total Revenue (Penerimaan total (Rp))
TC = Total Cost (Biaya Total(Rp))
Kurva keuntungan
1. Pendekatan Total

2.

Pendekata
n
Marginal

2.5. Kelayakan Usahatani


2.5.1. R/C Ratio
Menurut Soekartawi (1995), R/C Ratio (Return Cost Ratio)
merupakan perbandingan antara penerimaan dan biaya dalam sebuah usaha
tani, yang dapat dinyatakan sebagai :
R / C = PQ . Q / (TFC+TVC)
Keterangan :
R
= penerimaan
C
= biaya
PQ
= harga output
Q
= output
TFC
= biaya tetap (fixed cost)
TVC
= biaya variable (variable cost)
Ada tiga kriteria dalam R/C ratio, yaitu :
R/C rasio > 1 , maka usaha tersebut efisien dan menguntungkan
R/C rasio = 1 , maka usahatani disebut BEP
R/C rasio < 1 , maka tidak efisien atau merugikan
2.5.2. BEP (Break Event Point)
Menurut Harahap (2004), Break Event Point adalah suatu keadaan
dimana perusahaan tidak mengalami laba dan tidak mengalami kerugian,
artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi dapat
ditutupi dengan hasil dari penjualan. Total biaya (biaya tetap dan variable)
sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba maupun rugi.

BAB III
HASIL

DAN
PEMBAHASAN

3.1. Sejarah Usahatani


Dari hasil wawancara yang kami lakukan dengan narasumber Bapak Tanu,
beliau sudah tinggal di Desa Junrejo sudah sejak lahir. Dari jaman Orde Baru
hingga akhir tahun 1998, komoditas yang ditanam di desa tersebut adalah padi.
Varietas yang digunakan dalam usahatani masih adalah varietas local dengan
umur tanaman 6 bulan. Kemudian dengan berkembangnya ilmu teknologi dalam
bidang pertanian, mulai pada awal Revolusi Hijau di Indonesia, petani mulai
menggunakan padi dengan varietas dengan umur 3 bulan. Hasil dari usahatani
yang dilakukan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Benih padi di
subsidi dari pemerintah dalam upaya peningkatan swasembada beras di Indonesia,
begitu pula dengan pestisida dan pupuk.
Perubahan usaha tani mulai berubah pada akhir tahun 1998 hingga saat ini.
Petani di Desa Junrejo mulai menanam komoditas hortikultura di lahan mereka.
Padi hanya ditanam pada awal musim penghujan. Pada awal musim hujan, Pak
Tanu menanam komoditas padi untuk konsumsi sendiri. Hal tersebut dikarenakan
jumlah luas lahan yang berkurang setiap tahunnya. Setelah padi, ditanam selama
tiga bulan, petani mulai menanam komoditas tomat hingga memasuki musim
kemarau. Penanaman komoditas brongkol ditanam satu minggu setelah masa
tanam komoditas tomat berakhir. Hasil panen dari komoditas tomat dan brongkol
dijual pada pengepul
3.2 Transek Desa
Lokasi tempat tinggal Pak Tanu berada Desa Junrejo dan lokasi lahan
beliau tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dari rumah Pak Tanu menuju lahan
sawah dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor atau dengan berjalan kaki.
Lokasi lahan Pak Tanu berada diantara pemukiman, berada dari arah tenggara
SMU 02 Kota Batu dan Polres Batu, dan berada diarah timur kantor DPRD Kota
Batu. Pengairan untuk sawah beliau berasal dari aliran sungai yang berada tepat
disebelah timur lahan sawah. Disekitar lahan Bapak Tanu juga terdapat sawah
milik petani lain yang ditanami denga tanaman hortikultura seperti bawang merah,
dan bunga kol. Namun, dilahan sekitar juga terdapat tanaman jagung milik petani
lain.

3.3 Profil Petani dan Usahatani


3.3.1 Profil Petani
1. Nama

: Bapak Tanu

2. Umur

: 64 tahun

3. Pendidikan terakhir

: SD

4. Pekerjaan Utama

: Petani

5. Pekerjaan Sampingan

: Peternak

6. Jumlah anggota keluarga

: 7 jiwa

7. Keterangan anggota keluarga


Tabel Data anggota keluarga (dalam 1 Rumah tangga Petani)
NO

Nama

Hub. dg
KK

Umur

Pendidik
an

Pekerjaan
Utama

Sampinga
n

Keteranga
n

1.

Tanu

Kepala
keluarga

64 thn

SD

Petani

Peternak

2.

Caryati

Istri

58 thn

SMP

Petani

3.

Rian

Menant
u

S2

Kulia
h

4.

Anindit
a

Anak

31 thn

S1

Guru

5.

Onsa

Cucu

3 thn

TK

6.

Sofya

Cucu

2 thn

7.

Sarah

Cucu

6 bulan

8. Penguasaan Lahan Garapan Petani


Tabel Data Luas Penguasaan Lahan Pertanian
No.

Keterangan

Jenis Lahan (Ha)


Sawah

1.

Jumlah

Tegal/Kebun

Pekarangan

1500m

Jumlah (b)

Jumlah (a+b)

1500m

1500

Milik Sendiri
-Di garap sendiri

1500m

-disewakan
-dibagi-hasilkan
Jumlah (a)
2.

Milik orang lain


-disewa
-dibagi-hasilkan

9. Kepemilikan Ternak
Tabel Data Kepemilikan Ternak
No.

Jenis Ternak

Jumlah

1.

Sapi

1 ekor

2.

Kambing

3.

Ayam

3.3.2 Usahatani (Kegiatan Bercocok Tanam)


1. Komoditas : Tomat
2. Pola Tanam : Monokultur
3. Kegiatan Bercocok Tanam

Tabel Kegiatan Bercocok Tanam


No.

Waktu Tanam

Jenis Kegiatan

Uraian

1.

September

Olah lahan

Pengolahan lahan
dilakukan selama 2-3
hari dengan
menggunakan
cangkul. Pengolahan
sekaligus membuat
bedengan.

Persemaian

Persemaian bibit
tomat dilakukan di
pekarangan rumah.
Persemaian dilakukan
bersamaan dengan
pengolahan lahan

Penanaman

Penaman dilakukan di
lahan

Panen

Panen dilakukan

Minggu pertama

2.

September
Minggu pertama-minggu kedua

3.

September
Minggu ketiga

4.

Desember minggu terakhir

Jika menggunakan pupuk organik :


a. Milik sendiri
Dari peternakan yang dimiliki pak Tanu, beliau mengambil kotoran
ternak dari kandang sapi yang dimilikinya kemudian diolah serta
ditambah EM4 kemudian dijadikan biogas.
b. Beli
Pupuk yang dibeli pak Tanu adalah jenis pupuk urea dan pupuk
NPK untuk lahan pertaniannya.

Cara pengendalian/pemberantasan hama/penyakit yang dilakukan petani:

a. Menggunakan pestisida kimia


Pengendalian dengan kimiawi yaitu menggunakan fungisida Amate
dan Regen untuk memberantas OPT di lahan pertaniannya.
b.Menggunakan pestisida organik
Pak Tanu tidak menggunakan pestisida organik, beliau lebih efektif
menggunakan pestisida kimia.
c. Secara mekanis
Untuk pengendalian secara mekanis juga tidak diterapkan oleh pak
Tanu dalam mengendalikan OPT di lahan pertaniannya.
d. Secara biologis
Dalam pengendalian secara biologis juga tidak diterapkan oleh pak
Tanu dalam mengendalikan OPT di lahan pertaniannya.
3.4. Analisis Biaya, Penerimaan, dan Keuntungan (Pendapatan)
Usahatani
1) Analisis usahatani (satu kali musim tanam) tanaman tomat
a) Biaya Tetap/TFC (Total Fixed Cost)
Tabel 1. Biaya tetap/TFC (Total Fixed Cost)
Jumla
No
1
2

Uraian

h
(Unit)
3000 M2

Harga (Rp)
Awal

Akhir

Sewa lahan
Rp 2.000.000,00
Penyusutan alat
- Cangkul
2
Rp 25.000,00 Rp 15.000,00
- Snapsack sprayer
2
Rp 450.000,00 Rp 300.000,00
Total Biaya Tetap (Total Fixed Cost)
Perhitungan biaya penyusutan
1. Cangkul 2 buah
biaya peyusutan/tahun =

Biaya (Rp)
Rp 2.000.000,00
Rp 2.000,00
Rp 200.000,00
Rp 2.220.000,00

Rp 25.000,00 - Rp15.000,00
= Rp 1.000,00
10 tahun

biaya penyusutan/tahun (2 cangkul) = Rp 1.000,00 2 = Rp 2.000,00

2. Snapsack Sprayer 2 buah


biaya peyusutan/tahun =

Rp 450.000,00 Rp300.000,00
= Rp 10.000,00
10 tahun

biaya penyusutan/tahun (2 snapsack sprayer ) = Rp 10.000,00 2 = Rp 20. 000,00

Total Biaya Tetap (Total Fixed Cost)


TFC = biaya sewa + biaya penyusutan
= Rp 2.000.000,00+ (Rp 2.000,00 + Rp 20.000,00)
= Rp 2.020.000,00
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, didapatkan nilai penyusutan
untuk cangkul pertahunnya adalah Rp 1.000,00 dengan biaya penyusutan pertahun
untuk 2 buah cangkul sebesar Rp 2.000,00. Sendangkan untuk biaya penyusutan
snapsack sprayer tiap tahunnya adalah sebesar Rp 10.000,00 dengan biaya
penyusutan tiap tahunnya untuk 2 buah snapsack sprayer adalah sebesar Rp
20.000,00. Sehingga diperoleh total biaya tetap pertahunnya sebesar Rp
2.020.000,00.
b) Total Biaya Variabel/TVC (Total Variable Cost)
Tabel 2. Total Biaya Variabel/TVC (Total Variable Cost)
No Uraian
1 Benih/bibit
- Padi
- Tomat
2 Pupuk
- NPK
- Urea
3 Obat-obatan
Amate
Regen
4 Tenaga kerja
Laki-laki
Perempuan
Total

jumlah (unit)

harga (Rp)

Biaya (Rp)

10 kg
4 cepet

Rp 10.000,00
Rp 60.000,00

Rp 100.000,00
Rp 240.000,00

8 karung
8 karung

Rp 430.00,00
Rp 90.000,00

Rp 3.440.000,00
Rp 720.000,00

4
4

Rp 50.000,00
Rp 80.000,00

Rp 200.000,00
Rp 320.000,00

3 orang (12 hari)


2 orang (12 hari)

Rp 30.000,00
Rp 25.000,00

Rp 1.080.000,00
Rp 600.000,00
Rp 6.520.000,00

Perhitungan Harian Orang Kerja (HOK)


a) Laki-laki

HOK =

3125
=36
5

b) Perempuan
2125
HOK =
=24
5

Total Upah
a) Laki-laki
3630.000=Rp 1.080.000,00
b) Perempuan
2425.000=Rp 600.000,00
c) Total Biaya/TC (Total Cost)
Tabel 3. Total Biaya/TC (Total Cost)
No Biaya
Total biaya (Rp)
1 Total biaya tetap (Total Fixed Cost)
Rp 2.020.000,00
2 Total biaya variabel (Total Variable Cost) Rp 6.520.000,00
total biaya (Total Cost)
Rp 8.540.000,00
Dari perhitungan yang telah dilakukan diperoleh total biaya tetap sebesar Rp
2.020.000,00 dan total biaya variable sebesar Rp 6.520.000,00. Dari perhitungan
tersebut diperoleh total biaya (total cost) sebesar Rp 8.540.000,00. Total biaya
tersebut merupakan total biaya yang dikeluarkan oleh Pak Tanu selama satu tahun.

2) Penerimaan usaha tani


Tabel 4. Penerimaan usaha tani
No Uraian
Nlai
jumlah (Rp)
1 produksi (unit)
5000 kg
2 harga (persatuan unit) Rp 3000,-/kg
Rp 15.000.000,00
penerimaan usahatani (total recenue)
Rp 15.000.000,00
Selama satu musim tanam produksi tomat Pak Tanu mencapai 5 ton atau
setara dengan 5000 kg dengan total pendapatan mencapai Rp 15.000.000,permusim tanamnya. Dengan demikian dapat diperkirakan harga perkilogram
untuk penjualan tomat ini adalah sebesar Rp 3.000,00

3) Keuntungan usahatani
Tabel 5. Keuntungan usahatani
n
o

Uraian
1 Total biaya (total cost)
2 Penerimaan (total revenue)
Keuntungan
Keuntungan = TR - TC

Jumlah
Rp 8.540.000,00
Rp 15.000.000,00
Rp 6.460.000,00

= Rp 15.000.000,00 Rp 8.540.000,00
=Rp 6.460.000,00
Dari total pengeluaran yang dikeluarkan oleh Pak Tanu selama sau musim tanam
yaitu sekitar Rp 8.540.000,00 dan total pemasukan sebesar Rp 15.000.000,00
maka diperoleh keuntungan sebesar Rp 6.460.000,00 permusim tanam.
3.1. Analisis Kelayakan Usahatani
3.1.1. R/C Ratio
R/C

= TR/TC
= 15.000.000/8.540.000
= 1,75

Dilihat dari segi efisiensi ekonomiternyata usahatani tomat menguntungkan petani


terutama dilihatdari nilai R/C ratio yang nilainya >1, yaitu 1,75. Artinya setiap
pengeluaran input sebanyak 1 rupiah akan menghasilkan output sebesar 1,75
rupiah sehingga usahatani tersebut efisien dan menguntungkan atau layak untuk
dijalankan.
3.1.2. BEP (Break Even Point)
BEP unit

= TFC / (P-TVC/Q)
= 2.020.000 / (3.000-(6.520.000/5000))
= 1191,04

BEP Rupiah = BEP Unit x Harga Satuan


= 1191,04 x 3.000
= Rp 3.573.120,00

BEP unit
Berdasarkan perhitungan diatas dapat diketahui untuk BEP produksi adalah
1191,04 kg, artinya hasil produksi tomat baru dapat mencapai titik impas apabila
hasil panen yang didapatkan sebanyak 1191,04 kg setiap musim.BEP hargaDari
hasil perhitungan, diketahui bahwa nilai.
BEP rupiah
BEP rupiah yaitu Rp 3.573.120,00artinya hasil produksi tomat baru
mencapai titik impasnya apabila mendapatkan keuntungan sebesar Rp
3.573.120,00. Sedangkan keuntungan yang diterima Bapak Tanu dari budidaya
tomat yaitu Rp. 6.460.000,00 yang melebihi nilai BEP harga (rupiah). Sehingga
Bapak Tanu tidak mendapatkan kerugian dari keuntungan yang diterima pada
budidaya tomat.
3.6 Pemasaran Hasil Pertanian
Pemasaran Hasil Pertanian atau Tata niaga Pertanian merupakan
serangkaian kegiatan ekonomi berturut-turut yang terjadi selama perjalanan
komoditas hasil-hasil pertanian mulai dari produsen primer sampai ke tangan
konsumen
Dari hasil wawancara dengan Bapak Tanu, beliau menyebutkan bahwa
komoditas yang di konsumsi sendiri hanya padi, untuk komoditas tomat dan
brungkul di jual ke pemborong yang biasanya mendatangi langsung ke lahan
Bapak Tanu. Bapak tanu langsung menjual ke tengkulak karena di sana tidak ada
lembaga yang menampung seperti koperasi unt desa yang menampung hasil
pertanian. Dalam 1 kali panen Pak Tanu bisa mendapatkan rata rata hasil panen
sebanyak 5 on Di desa tersebut hanya ada KUD (Koperasi Unit Desa) yang
menampung susu hasil sapi perah.
Solusi yang harus di lakukan adalah harus ada pembangunan KUD untuk
komoditas petani di desa atau kecamatan tersebut. Hal ini di perlukan agar harga
yang di dapat petani tidak terlalu rendah dan harga yang di dapat konsumen tidak
terlalu tinggi. Hal ini bisa terjadi karena dengan adanya koperasi dapat memutus
rantai pemasaran.

Gambar skema pemasaran

3.7 Kelembagaan Petani


Di desa Junrejo menurut perkataan bapak tanu tidak ada koperasi unit desa
(KUD) yang menampung hasil pertanian setempat. Sehinga kondisi ini
menyebabkan para petani khusunya pak tanu langsung menjualnya ke tengkulak.
Menurut bapak tanu disana hanya di temukan Kopreasi Unit Desa (KUD) untuk
hasil sapi perah saja, dan itu pun berada di Batu.
3.8 Permasalahan Dalam Usahatani
Permasalahan atau kendala yang di hadapi Bapak Tanu dalam usaha tani
yang pertama adalah soal hama. Masalah hama adalah masalah yang tidak bisa di
pisahkan dari suatu kegiatan budidaya. Hama yang paling meresahkan bapak tanu
adalah hama ulat, yang mana akibat dari yang di timbulkan dari masalah ini

menurunkan kuantitas produksi serta kualitas. Sehingga berdampak terhadap


harga jual. Untuk mengatasi permasalahan ini beliau biasanya masih
menggunakan cara konvensional yaitu dengan menyemprot secara masiv.
Permasalah yang kedua mengenai harga. Harga yang fluktuatif terkadang
menjadi hambatan dalam penerimaan hasil usahatani. Dalam mengatasi fluktuasi
harga, beliau tidak dapat berbuat apa apa dan cendrung pasrah. Seharusnya jika
adanya koperasi yang menaungi petani di desa tersebut dapat melindungi petani
dalam hal harga penjualan.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari hasil wawancara yang didapat dengan bapak Tanu sebagai
narasumber, dapat disimpulkan bahwa pertanian yang ada di Desa Junrejo
mengalami perubahan dari masa Orde Baru yang hanya menanam komuditas padi
local dengan umur tanam 6 bulan hingga awal tahun 1998 sampai saat ini petani
sudah banyak menanam komoditas hortikultura. Komoditas yang ditanam saat ini
adalah tomat dengan system tanam monokultur, hasil panen dari usahatani yang
dilakukan dijual ke pengepul. Usahatani yang dilakukan oleh bapak Tanu
terbilang layak dilakukan karena memiliki nilai R/C ratio sebesar 1,71, artinya

setiap Rp 1,- yang dikeluarkan dalam usahatani ini akan membari keunungan bagi
peani sebesar Rp 1,71,-. Permasalahan yang dapat menurunkan kualitas maupun
kuantitas [roduk pertanian di Desa tersebut adalah serangan hama.
4.2. Saran
Kami menyarankan agar petani di Desa Junrejo mengadaptasi dan
menerapkan system Pengendalian Hama Terpadu dalam usahatani yang
dilaksanakan. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi kerugian yang
disebabkan oleh hama pada lahan pertanian. Selain itu, dengan penerapan system
ini akan mengurangi penggunaan pestisida sehingga dapat menekan biaya
pengeluaran dari usahatani yang dilakukan. Untuk mengatasi harga jual tomat
yang fluktuatif, petani diharapkan tidak latah terhadap harga yang ada di pasar.
Diperlukan penentuan waktu tanam tidak bersamaan dengan petani pada
umumnya agar harga penjualan tomat tetap stabil.

DAFTAR PUSTAKA
Adiwilaga, A. 1992. Ilmu usahatani. Bandung: Alumni
Kadarsan. 1993. Keuangan Pertanian dan Pembiayaan Perusahaan Agribisnis.
Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.
Soekartawi, et al. 1984. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan
Petani Kecil. Jakarta : UI Press.
Hernanto F. 1989. Ilmu Usahatani. Jakarta : Penebar Swadaya

Mulyadi, 1992, Akuntansi Biaya, Edisi kelima, Yogyakarta: Bagian Penerbitan


Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
Soeharjo, A dan D. Patong. 1973. Sendi-sendi Pokok Ilmu Usahatani. Bogor.
Institut Pertanian Bogor.