Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehidupan mikroorganisme, seperti ikan dan hewan air lainnya, tidak terlepas
dari kandungan oksigen yang terlarut di dalam air. Tidak berbeda dengan manusia dan
mahluk hidup lainnya yang ada di darat, yang juga memerlukan oksigen dari udara agar
tetap dapat bertahan. Air yang tidak mengandung oksigen tidak dapat memberikan
kehidupan bagi mikroorganisme, ikan dan hewan air lainnya. Oksigen yang terlarut di
dalam air sangat penting artinya bagi kehidupan di perairan tersebut (Salmin, 2005).
Tanaman yang ada di dalam air, dengan bantuan sinar matahari, melakukan
fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Oksigen yang dihasilkan dari fotosintesis ini
akan larut di dalam air. Selain dari itu, oksigen yang ada di udara dapat juga masuk ke
dalam air melalui proses difusi yag secara lambat menembus permukaan air. Selain
dari itu, suhu air juga mempengaruhi konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air.
Tekanan udara dapat pula mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air ( Tjatoer
Welasih,2008).
Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar, kandungan oksigennya
sangat rendah. Hal itu karena oksigen yang terlarut di dalam air diserap oleh
mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi bahan buangan organik sehingga
menjadi bahan yang mudah menguap . Selain dari itu, bahan buangan organik juga
dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air organik yang ada di dalam
air, makin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya (Agnes Anita,
2005).
Untuk mengetahui tingkat pencemaran yang terjadi di perairan maka dilakukan
penelitian dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air. Cara yang

dapat dilakukan yaitu dengan menguji BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan DO
(Dissolved Oxygen) yang ada dalam perairan tersebut.
1.2 Tujuan Praktikum
1. Mengetahui kualitas air dari nilai Biochemical Oxygen Demand dan Dissolved
Oxygen.
2. Mengetahui perubahan kandungan BOD/DO pada daerah tercemar dan tidak
tercemar.
3. Memahami hubungan antara musim dan kandungan BOD/DO.

BAB II
DASAR TEORI
Sungai secara tradisional telah digunakan sebagai tempat buangan limbah
rumah tangga dan industri. Hal ini mengakibatkan perubahan dalam struktur kimia dan
kehidupan aquatik. Dalam menghadapi masalah mutu air, permasalahannya dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Pencemaran sumber tersebar
2. Hujan asam
3. Pencemaran air tanah
4. Pengendalian mutu air
5. Penyediaan air minum
Biochemical Oxygen Demand (BOD) adalah salah satu parameter yang
digunakan di dalam menentukan karakteristik air buangan atau tingkat pencemaran
yang terjadi pada suatu badan perairan penerima (sungai, danau, muara). BOD adalah
kebutuhan oksigen yang diperlukan oleh bakteri untuk menguraikan zat organik di
dalam air. Ambang batas kandungan BOD/DO bergantung juga kepada penggunaan air
tersebut. Penggunaan air dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Air minum
2. Bahan baku air minum
3. Perikanan, pertanian
4. Industri
2.1 Persamaan model
Model kualitas air uji BOD/DO ddasarkan pada persamaan difusi dan adveksi
material organic non konservatif. Persamaan ini diberikan oleh Dobbins yang
merupakan modifikasi persamaan difusi adveksi material organik yang konservatif.

Persamaan Dobbins yang digunakan untuk menghitung distribusi longitudinal


(sepanjang badan perairan) dari BOD adalah :
1

=
( )
(1 + 3 ) +

(1)

Dimana :
L = konsentrasi BOD (mg/l)
1 = Konstanta laju berkurangnya BOD karena oksidasi biokimia
3 = Konstanta laju berkurangnya BOD karena sedimentasi dan absorpsi materi organik
di dasar sungai.
= Laju pertambahan BOD karena run off lokal
A = Penampang sungai
E = Koefisien disperse
u = Kecepatan aliran sungai
t = waktu kecepatan
x = jarak dalam arah longitudinal
persamaan yang digunakan dalam menentukan distribusi longitudinal dari DO
adalah :
1

=
( )
1 + 2 ( ) +

(2)

Dimana :
= Konsentrasi oksigen terlarut (mg/l)
2 = Konstanta laju pertambahan oksigen oleh proses re-aerasi melalui permukaan air
sungai

= Konsentrasi oksigen jenuh yang bergantung pada suhu air sungai


L= Konsentrasi BOD
A= Penampang sungai
B= Suhu penambahan atau pengurangan
(pada sistem sungai, suku ini pada umumnya dapat berupa berkurangnya
oksigen karena pertumbuhan ganggang (algae) atau bertambahnya oksigen oleh
fotosintesa atau keduanya.
Persamaan (1) dan (2) dapat di selesaikan dengan metode analitik atau dengan
pemodelan analitik. Dalam model analitik ini sistem sungai dipandang mempunyai
kondisi tunak (steady state) dimana distribusi longitudinal dari parameter air, dalam
hal ini BOD dan DO tidak berubah dengan waktu.
2.2 Solusi analitik
Model steady state satu dimensi umumnya diterapkan pada sistem sungai atau
estuari yang mendapat aliran air tawar secara kontinu. Sistem sungai dianggap
mempunyai luas penampang konstan dan model umumnya dapat mendekati keadaan
sebenarnya bila diterapkan pada sistem sungai yang panjang dan tidak terlalu lebar.
Solusi analitik persamaan (1) dan (2) adalah :
() =

[(1 1 )]
1

() = ()

[(1 2 )]
2

Dimana :
()= Konsentrasi BOD pada lokasi x
()= Konsentrasi oksigen terlarut pada lokasi x

(3)

(4)

= Konsentrasi awal
+
+

(5)

= Debit limbah
= Konsentrasi BOD limbah
= Debit sungai di hulu outfall
= Konsentrasi BOD air sungai di hulu outfall
1 = [1 +

4(1 + 3 )
]
2

(6)

2 = [1 +

4 2 1/2
]
2

(7)

= 2

=kecepatan aliran sungai rata-rata

x = Jarak dari outfall


distribusi longitudinal dari BOD dan DO ditentukan dari persamaan (3) dan (4) dengan
menggunakan konstanta :
1 () = 1 (20 ) (1.047)20

(8)

= 1 (20 ) = 0.23/hari
2 () = 2 (20 ) (1.016)20

(9)

= 1 (20 ) = 3/hari
3 =
=

127(4954.828811)
32

1 + 2
3 (1 + 2 )

(10)
(11)

Koefisien dispersi E ditentukan dari hubungan


=

0.0012 2

2 /

= kecepatan geser (shear velocity) ()1/2


s= slope kemiringan
g= gravitasi 9.81 m/ 2
w= lebar sungai
D= kedalaman sungai

(12)